Posts made by YENI AGUSTIN

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by YENI AGUSTIN -
1. Perspektif Biologis – Temperamen
Teori perkembangan biologis tentang temperamen adalah pandangan yang mengaitkan karakteristik temperamen individu dengan faktor-faktor biologis. Salah satu teori yang terkait dengan hal ini adalah teori temperamen oleh Alexander Thomas dan Stella Chess.

Teori ini menekankan bahwa temperamen memiliki akar biologis dan dapat memengaruhi bagaimana anak-anak berinteraksi dengan dunia sekitar mereka. Namun, peran pengasuhan dan lingkungan sosial juga dapat berdampak pada perkembangan temperamen anak. Teori temperamen Thomas dan Chess menjadi dasar bagi penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara faktor-faktor biologis dan perkembangan temperamen.

2. Perspektif Psikoanalisis - Teori psikoseksual dari Freud - Teori psikososial dari Erikson
Teori perkembangan psikoseksual Sigmund Freud
Sigmund Freud mengembangkan Teori Psikoseksual yang mengeksplorasi perkembangan individu melalui tahap-tahap psikoseksual.
Pendekatan Freud terhadap perkembangan psikoseksual menyoroti pentingnya pengalaman awal dalam membentuk kepribadian individu. Meskipun banyak aspek teorinya telah dikritik dan diperdebatkan, pendekatannya terhadap tahap-tahap perkembangan masih memengaruhi pemahaman psikologi perkembangan.

3. Perspektif Pembelajaran Teori Skinner, Watson dan Bandura
Perspektif pembelajaran dalam psikologi perkembangan melibatkan berbagai teori yang dikeluarkan oleh para ahli seperti B.F. Skinner, John B. Watson, dan Albert Bandura. Mereka berfokus pada pengaruh lingkungan, penghargaan, hukuman, dan interaksi sosial dalam pembentukan perkembangan anak.
Teori Skinner: B.F. Skinner mengembangkan teori pembelajaran operant yang menekankan peran penghargaan (reward) dan hukuman dalam pembentukan perilaku individu. Skinner percaya bahwa perilaku yang diperkuat akan muncul kembali, sementara perilaku yang dihukum akan menghilang. Dalam konteks psikologi perkembangan, teori Skinner menggarisbawahi peran penguatan positif dalam membentuk perilaku anak. Contohnya, memberikan pujian atau penghargaan kepada anak ketika dia melakukan perilaku yang diinginkan dapat menguatkan perilaku tersebut.
Teori Watson: John B. Watson, seorang pendukung behaviorisme, memandang perilaku sebagai respons terhadap rangsangan lingkungan. Teori Watson menekankan bahwa anak-anak belajar melalui asosiasi dan pengondisian klasik. Watson menekankan pentingnya pengalaman awal dalam membentuk kepribadian anak. Dia juga menekankan pentingnya pengendalian lingkungan untuk membentuk perilaku yang diinginkan dan menghindari perilaku yang tidak diinginkan.
Teori Bandura: Albert Bandura mengembangkan Teori Pembelajaran Sosial atau Teori Kognitif Sosial. Teori Bandura menyoroti pentingnya observasi dan model dalam pembelajaran. Dia berpendapat bahwa anak-anak belajar melalui mengamati perilaku orang lain dan meniru mereka. Konsep utama dalam teori Bandura adalah "model", yaitu individu yang berperan sebagai contoh bagi orang lain. Bandura juga memperkenalkan konsep efikasi diri (self-efficacy), yang mengacu pada keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengatasi tugas-tugas tertentu

4. Perspektif Kognitif - Teori Piaget and Vigotsky
Perspektif kognitif dalam psikologi perkembangan melibatkan dua teori utama yang dikeluarkan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Kedua teori ini berfokus pada perkembangan kognitif anak, termasuk proses berpikir, pemahaman, dan perkembangan intelektual.
Teori Piaget: Jean Piaget mengembangkan Teori Perkembangan Kognitif yang mengidentifikasi empat tahap perkembangan kognitif yang berbeda pada anak. Tahap-tahap tersebut meliputi tahap sensorimotor (0-2 tahun), tahap praoperasional (2-7 tahun), tahap operasional konkret (7-11 tahun), dan tahap operasional formal (12 tahun dan seterusnya). Piaget percaya bahwa anak-anak mengalami tahap-tahap perkembangan ini secara berurutan. Teori Piaget menekankan peran penting konstruksi pengetahuan anak melalui eksplorasi aktif dan interaksi dengan lingkungan. Dia juga mengidentifikasi konsep "skema," yaitu struktur mental yang digunakan anak untuk memahami dunia, serta konsep asimilasi dan akomodasi, di mana anak mengintegrasikan pengetahuan baru ke dalam skema yang ada atau mengubah skema untuk mengakomodasi pengetahuan baru.
5. Perspektif Kontekstual - Teori ekologi Bronfrenbrenner
Urie Bronfenbrenner adalah seorang psikolog yang mengembangkan Teori Ekologi dalam pembelajaran dan perkembangan manusia. Teori ini menekankan peran penting lingkungan dalam memahami perkembangan individu.
Teori Ekologi Bronfenbrenner menggambarkan kompleksitas pengaruh lingkungan pada perkembangan individu, dan menekankan pentingnya memahami konteks sosial dan budaya dalam pemahaman tentang pembelajaran dan perkembangan manusia.

6. Perspektif Evolusionari/ Sosio-biologik -Teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth
Teori John Bowlby dan Mary Ainsworth dalam konteks perkembangan anak adalah sering disebut sebagai Teori Kepeliharaan (Attachment Theory) dan memiliki perspektif evolusioner yang kuat.
Pendekatan evolusioner dari teori kepeliharaan ini menyoroti pentingnya attachment sebagai strategi adaptasi untuk manusia dalam konteks evolusi. Attachment membantu memastikan kelangsungan spesies manusia dengan memberikan perlindungan, dukungan emosional, dan keamanan bagi anak-anak, yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup dan reproduksi

7.Teori perkembangan moral Kohlberg adalah salah satu perspektif moral dalam psikologi perkembangan. Teori ini menekankan bahwa penalaran moral merupakan dasar dari perilaku etis. Kohlberg mengidentifikasi enam tahapan perkembangan moral yang dapat teridentifikasi. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai tahapan perkembangan moral Kohlberg:
- Tahap Pra-Konvensional: Pada tahap ini, individu menilai moralitas dari tingkah laku yang ada dan dibuat berdasarkan konsekuensinya langsung. Terdapat dua tahap awal pada tahap pra-konvensional, yaitu tahap awal dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris.
- Tahap Konvensional: Pada tahap ini, individu menilai moralitas dari perspektif norma sosial dan otoritas. Terdapat dua tahap pada tahap konvensional, yaitu tahap orientasi pada hubungan interpersonal dan tahap orientasi pada norma sosial.
- Tahap Pasca-Konvensional: Pada tahap ini, individu menilai moralitas dari perspektif prinsip moral universal Terdapat dua tahap pada tahap pasca-konvensional, yaitu tahap orientasi pada kontrak sosial dan tahap orientasi pada prinsip moral universal
Tahapan perkembangan moral Kohlberg merupakan ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya. Meskipun demikian, terdapat kritik terhadap teori Kohlberg, yaitu bahwa teori tersebut terlalu menekankan pada keadilan dan mengabaikan norma yang lainnya Konsekuensinya, teori ini tidak akan menilai secara adekuat orang yang menggunakan aspek moral lainnya dalam.

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by YENI AGUSTIN -
1. KARAKTERISTIK-KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN AUD  Adapun karakteristik perkembangan anak usia dini dapat dilihat sebagai berikut:
●Perkembangan Fisik-Motorik
Pertumbuhan fisik pada setiap anak tidak selalu sama. Ada yang mengalami pertumbuhan secara cepat, ada pula yang lambat. Pada masa kanak-kanak pertambahan tinggi dan pertambahan berat badan relatif seimbang. Perkembangan motorik anak terdiri dari dua, ada yang kasar dan ada yang halus.

●Perkembangan Kognitif
mengacu pada teori yang dikemukakan Peaget, seorang pakar psikologi kognitif dan psikologi anak, dapat disimpulkan 4 tahap perkembangan kognitif , yaitu:
• Tahap sensori motor, terjadi pada usia 0-2 tahun
• Tahap pra operasional, terjadi pada usia 2-7 tahun
• Tahap konkrit operasional, terjadi pada usia 7-11 tahun
• Tahap formal operasional, terjadi pada usia 11-15 tahun

●Perkembangan Sosio Emosional
Para psikolog mengemukakan bahwa terdapat tiga tipe temperamen anak, yaitu: Pertama, anak yang mudah diatur, mudah beradaptasi dengan penga-laman baru, senang bermain dengan mainan baru, tidur dan makan secara teratur dan dapat meyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya. Kedua, anak yang sulit diatur seperti sering menolak rutinitas sehari-hari, sering menangis, butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan dan gelisah saat tidur. Ketiga, anak yang membutuhkan waktu pemanasan yang lama, umumnya terlihat agak malas dan pasif, jarang berpartisipasi secara aktif dan seringkali menunggu semua hal diserahkan kepadanya.

●Perkembangan Bahasa
Kemampuan setiap orang dalam berbahasa berbeda-beda. Ada yang berkualitas baik dan ada yang rendah. Perkembangan ini mulai sejak awal kehidupan. Sampai anak berusia 5 bulan (0-1 tahun), seorang anak akan mengoceh seperti orang yang sedang berbicara dengan rangkaian suara yang teratur, walaupun suara dikeluarkan ketika berusia 2 bulan. Di sini terjadi penerimaan percakapan dan diskriminasi suara percakapan. Ocehan dimulai untuk menyusun dasar bahasa.

2. Ciri perkembangan AUD
Terjadinya perubahan dalam aspek fisik (perubahan tinggi dan berat badan serta organ- organ tubuh lainnya). Perubahan aspek psikis (semakin bertambahnya kosa kata dan kematangan dalam hal kognitif, mengingat dan imajinasnya).Perubahan pada proporsi aspek fisik. Yaitu proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangan dan pada usia remaja tubuh anak mendekati proporsi tubuh usia remaja. Pada aspek psikis (perubahan imajinasi ke realistis dan perubahan perhatian dari yang egosentris perlahan- lahan kepada kelompok teman sebaya). Hilangnya tanda- tanda pada aspek fisik (hilangnya kelenjar thymus yang ada pada bagian dada, kelenjar pineal pada bagian bawah otak, rambut- rambut halus dan gigi susu). Sedangkan pada aspek psikis (hilangnya masa- masa mengoceh, merangkak, dan perilaku impulsive yaitu dorongan untuk bertindak sebelum berpikir).Didapatkannya tanda- tanda baru pada aspek fisik yakni pergantian gigi dan ciri- ciri seks pada usia remaja. Primer (menstruasi pada wanita dan mimpi basah pada lelaki). Sekunder (perubahan pada anggota tubuh pinggul dan buah dada pada wanita sedangkan tumbuh kumis, jakun dan suara pada pria). Tanda- tanda baru pada aspek psikis meliputi keingintahuan yang besar yang berkaitan dengan seks, ilmu pengetahuan, dan nilai agama moral.
Pranatal – Dimulai dari pembuahan sampai lahir
Bayi – Lahir sampai usia 24 bulan
Kanak- Kanak – Usia 2 tahun sampai 10 tahun
Remaja – Usia 10 tahun sampai 20 tahun
Dewasa Awal- Usia 20 tahun sampai 40 tahun
Dewasa Pertengahan – Usia 40 tahun sampai 60 tahun
Lanjut Usia – Usia tahap akhir Usia 60 tahun ke atas

3. Menurut Santrock (2002) pada prinsipnya perkembangan adalah seumur hidup atau life-long, perkembangan terdiri atas dimensi biologis, kognitif dan sosial, di dalam perkembangan beberapa dimensi mengalami peningkatan kuantitas sedangkan komponen yang lain mengalami penurunan dalam waktu yang hampir bersamaan, perkembangan sifatnya lentur tergantung pada kondisi kehidupan individu sendiri, perkembangan melekat secara kesejarahan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat anak lahir dan berkembang. Individu secara terus menerus merespons dan bertindak berdasarkan konteks yang
meliputi biologis, lingkungan fisik, konteks sosial, kesejarahan, dan kebudayaan.

4. Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral
Aspek perkembangan pertama dan yang paling utama untuk diajarkan kepada anak adalah nilai agama dan moral. Hal ini berfokus dalam menanamkan nilai-nilai dasar, norma-norma yang berlaku hingga kesadaran. Si Kecil perlu mengenal agama dan menjalankan ibadah agar lebih memahami arah hingga tujuan mereka dengan baik sejak dini.

Aspek Perkembangan Fisik-Motorik
Sesuai dengan namanya, aspek fisik motorik ini merupakan segala sesuatu yang langsung berhubungan dengan perkembangan tubuh anak
• Perkembangan fisik dan perilaku keselamatan. Hal ini meliputi tinggi badan, lingkar kepala, dan berat badan yang sesuai dengan ukuran anak seumuran. 
• Anak juga memiliki motorik halus baik yang meliputi kemampuan mereka dalam menggunakan alat untuk ekspresi diri dan juga eksplorasi. Contohnya yaitu menggunakan pensil, bermain dengan boneka dan lain sebagainya.
• Tidak hanya itu, anak juga perlu memiliki motorik kasar yang baik. Hal ini meliputi kemampuan tubuh dalam berkoordinasi antar anggota tubuh. Contohnya yaitu menjaga keseimbangan, lincah, dan juga lentur sesuai peraturan. Bunda dapat melatih motorik kasar anak dengan mengajak mereka berolahraga.

Aspek Perkembangan Kognitif
• Mampu berpikir logis dengan mengenal perbedaan, klasifikasi, perencanaan, pola, sebab akibat dan inisiatif
• Anak dapat menyebutkan, mengenal, dan juga menggunakan lambang-lambang seperti abjad dan angka. Tidak hanya itu, tahap ini juga akan membantu anak untuk menggambarkan ulang banyak hal yang pernah mereka lihat.
• Pembelajaran yang paling penting adalah anak dapat belajar memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari dengan fleksibel, praktis, dan juga diterima secara sosial. Anak juga dapat menerapkan pengetahuan dan pengalaman baru yang mereka dapatkan baik di sekolah maupun rumah.

Aspek Perkembangan Bahasa
Bahasa menjadi aspek perkembangan anak yang bisa orang tua amati dan latih sejak dini. Anak dapat mengerti berbagai hal yang dimaksud oleh orang tua seperti cerita, aturan, perintah dan juga menghargai bacaan. Tidak sampai di situ, bahasa juga meliputi bagaimana cara anak berbahasa dengan baik seperti tanya jawab, memahami bentuk dan juga bunyi dari masing-masing huruf juga angka. 

Aspek Perkembangan Sosial-Emosional
• Anak akan lebih senang jika bermain dengan teman sebayanya, memahami perasaan, merespon pembicaraan, berbagai mainan dengannya, mendengarkan ucapannya, hingga belajar menghargai hak dan pendapat orang lain sehingga anak akan tetap berlaku sopan.
• Tidak hanya itu, aspek ini juga mengajarkan anak arti dari tanggung jawab, hak-hak, hingga aturan bagi mereka dan orang lain. 
• Selain hubungan dengan orang lain maupun teman sebayanya, hal ini akan membantu anak untuk memperlihatkan kemampuan diri, mengenal perasaan mereka, mengendalikan diri, hingga menyesuaik

Aspek Perkembangan Seni
Aspek terakhir pada perkembangan anak adalah seni. Setiap anak yang terlahir bersifat imajinatif dan memiliki sisi seni mereka sendiri. Anak akan tertarik untuk mengekspresikan diri dan juga mulai mengeksplorasi diri dalam banyak hal dari sisi kesenian. Contohnya yaitu musik, lukisan, kerajinan, drama dan masih banyak lagi yang lainnya.


5. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
Perkembangan anak dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang kompleks. Beberapa faktor utama yang memengaruhi perkembangan anak termasuk:
Faktor Genetik: Warisan genetik dari orang tua memainkan peran penting dalam menentukan ciri fisik dan sifat-sifat anak.
Faktor Lingkungan: Lingkungan tempat anak tinggal, belajar, dan berinteraksi memiliki dampak signifikan pada perkembangan mereka.
Nutrisi: Gizi yang baik sangat penting untuk perkembangan fisik dan kognitif anak.
Stimulasi Kognitif: Interaksi dengan lingkungan, seperti bermain, membaca, dan belajar, berperan dalam perkembangan kognitif anak.
Kesehatan dan Akses Ke Perawatan Kesehatan: Kesehatan fisik anak serta akses ke perawatan kesehatan yang baik memengaruhi perkembangan mereka.
Interaksi Sosial: Hubungan dengan teman sebaya, anggota keluarga, dan orang dewasa lainnya memainkan peran penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak.
Faktor Psikologis: Faktor seperti temperamen, motivasi, dan emosi anak juga mempengaruhi perkembangan mereka.
Pendidikan: Kualitas pendidikan yang diterima anak memengaruhi perkembangan intelektual dan keterampilan mereka.

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by YENI AGUSTIN -
1. Pengertian Bimbingan dan Konseling
Konsep bimbingan dan konseling mengandung dua
komponen istilah yang berkaitan, yaitu istilah bimbingan dan istilah konseling. Istilah bimbingan pada dekade awal perkembangannya dapat dikatakan lebih dikenal keberadaannya, yang selanjutnya disusul oleh istilah konseling yang dimaknai sebagai suatu proses untuk membantu dan memahami individu melalui keterampilan dan komunikasi. Bimbingan dan konseling merupakan sebuah profesi menolong yang dilakukan oleh konselor kepada konseli (individu yang memiliki masalah) dengan memahami konsep teori psikologi, sosiologi, dan perkembangan individu (Schmidt, 2008). Bimbingan dan konseling melaksanakan layanan unik secara profesional dengan mempertimbangkan beberapa hal dari konseli, yaitu (a) semua konseli sejak lahir memiliki potensi untuk membedakan karakteristik masing-masing individu, (b) kondisi lingkungan yang dirasakan oleh setiap individu sejak lahir dapat mendukung atau menghambat realisasi diri, dan (c) bimbingan dan konseling berlandaskan pada kemampuan pembedaan karakteristik setiap konseli dan berusaha membantu konseli mencapai realisasi diri dan aktualisasi diri (Gibson, 2008).

2. tujuan bimbingan dan konseling adalah membantu individu dalam mencapai
(a) kebahagiaan hidup pribadi sebagai makhluk Tuhan,
(b) kehidupan yang produktif dan efektif dalam masyarakat, (c) hidup bersama denganindividu-individu lain,
(d) harmoni antara cita-cita mereka dengan kemampuan
yang dimilikinya. Dengan demikian peserta didik dapat menikmati kebahagiaan hidupnya dan dapat memberi sumbangan yang berarti dalam kehidupan masyarakat.

3. Bimbingan dan konseling dalam setting pendidikan formal, memiliki beberapa fungsi layanan bimbingan dan konseling yang ditetapkan dalam Permendikbud No. 111 tahun 2014, yaitu;
a. Pemahaman yaitu membantu konseli agar memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, budaya, dan norma agama).
b. Fasilitasi yaitu memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang seluruh aspek pribadinya.
c. Penyesuaian yaitu membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan diri sendiri dan dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
d. Penyaluran yaitu membantu konseli merencanakan pendidikan, pekerjaan dan karir masa depan, termasuk juga memilih program peminatan, yang sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, keahlian, dan ciri-ciri kepribadiannya.
e. Adaptasi yaitu membantu para pelaksana pendidikan termasuk kepala satuan pendidikan, staf administrasi, dan guru mata pelajaran atau guru kelas untuk menyesuaikan program dan aktivitas pendidikan dengan latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik/konseli.

f. Pencegahan yaitu membantu peserta didik/konseli dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan timbulnya masalah dan berupaya untuk mencegahnya, supaya peserta didik/konseli tidak mengalami masalah dalam kehidupannya.
g. Perbaikan dan penyembuhan yaitu membantu peserta didik/konseli yang bermasalah agar dapat memperbaiki kekeliruan berfikir, berperasaan, berkehendak, dan bertindak. Konselor atau guru bimbingan dan konseling memberikan perlakuan terhadap konseli supaya memiliki pola fikir yang rasional dan memiliki perasaan yang tepat, sehingga konseli berkehendak merencanakan dan melaksanakan tindakan yang produktif dan normatif.
h. Pemeliharaan yaitu membantu peserta didik/konseli supaya dapat menjaga kondisi pribadi yang sehat-normal dan mempertahankan situasi kondusif yang ada dalam dirinya.
i. Pengembangan yaitu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan peserta didik/konseli melalui pembangunan jejaring yang bersifat kolaboratif.
j. Advokasi yaitu membantu peserta didik/konseli berupa pembelaan terhadap hak-hak konseli yang mengalami perlakuan diskriminatif.

4. Prinsip-prinsip bimbingan dan konseling di sekolah yang perlu dipahami oleh konselor ialah:
a. Bimbingan dan konseling diperuntukkan bagi semua peserta didik/konseli dan tidak diskriminatif. Prinsip ini berarti bahwa bimbingan diberikan kepada semua peserta didik/konseli, baik yang tidak bermasalah maupun yang bermasalah; baik pria maupun wanita baik anak-anak, remaja, maupun dewasa tanpa diskriminatif.
b. Bimbingan dan konseling sebagai proses individuasi. Setiap peserta didik bersifat unik (berbeda satu sama lainnya) dan dinamis, dan melalui bimbingan peserta didik/konseli dibantu untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh.
c. Bimbingan dan konseling menekankan nilai-nilai positif. Bimbingan dan konseling merupakan upaya memberikan bantuan kepada konseli untuk membangun pandangan positif dan mengembangkan nilai-nilai positif yang ada pada dirinya dan lingkungannya.
d. Bimbingan dan konseling merupakan tanggung jawab bersama. Bimbingan dan konseling bukan hanya tanggung jawab konselor atau guru bimbingan dan konseling, tetapi tanggung jawab guru dan pimpinan satuan pendidikan sesuai dengan tugas dan kewenangan serta peran masing-masing.


5. Agar konseling dapat berjalan kondusif sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka lingkungan tempat dilaksanakannya konseling hendaknya juga diperhatikan. Karakteristik anak usia dini yang identik dengan bermain, membutuhkan tempat konseling yang dikondisikan sesuai dengan karakteristik anak. Geldard (2012) menemukan bahwa konseling anak akan berjalan lebih mudah dan lebih efektif jika dilaksanakan di ruang yang ditata khusus untuk penggunaan media dan terapi bermain. Ruang konseling anak sebaiknya dibuat kedap suara agar tidak ada suara-suara lain dari luar yang mengalihkan perhatian anak. Hal itu juga membantu anak untuk percaya bahwa apa yang mereka katakan tidak dapat didengar orang lain. Meskipun demikian, ruangan sebaiknya memiliki jendela; ruang tertutup dapat mengganggu anak yang merasa terjebak dan klaustrofobia.

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> TOPIK DISKUSI -> Re: TOPIK DISKUSI

by YENI AGUSTIN -
Struktur program bimbingan diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan yaitu:
•Layanan dasar bimbingan. Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai proses pemberian bantuan kepada semua sisa (for all) melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu perkembangan dirinya secara optimal.
•Layanan responsif. Layanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada siswa yang memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera.
•Layanan perencanaan individual. Layanan ini diartikan” proses bantuan kepada siswa agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa depannya
•Layanan dukungan sistem. Dukungan sistem merupakan komponen layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa.
Evaluasi program bimbingan adalah upaya dalam meningkatkan mutu program bimbingan melalui penilaian efisiensi dan efektivitas pelayanan bimbingan itu sendiri dan membantu menentukan keputusan tentang program konseling yang akan dilakukan. Hasil evaluasi akan memberikan manfaat dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling selanjutnya. Pelaksanaan evaluasi program dan bimbingan melalui empat fase, yakni:
•fase persiapan,
•fase persiapan alat atau instrumen persiapan
•fase menganalisis hasil evaluasi,
•fase penafsiran atau Interpretasi dan pelaporan hasil evaluasi.

KP AUD kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> TOPIK DISKUSI -> Re: TOPIK DISKUSI

by YENI AGUSTIN -
1. Komunikasi nonverbal melibatkan berbagai elemen, termasuk postur tubuh dan ekspresi wajah. Postur tubuh dapat memberikan informasi tentang sikap, kekuasaan, atau emosi seseorang, sementara ekspresi wajah dan perilaku mata dapat mengungkapkan perasaan dan intensi yang mungkin sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

2.Penggunaan bahasa non verbal peserta didik PAUD dalam pembelajaran di kelas sangat bervariasi. Variasi
tersebut muncul atas faktor lawan bicara atau mitra tutur dari penutur tersebut. Bahasa non verbal yang digunakan
peserta didik ketika berkomunikasi dengan sesama temannya, akan berbeda ketika peserta didik berkomunikasi
dengan gurunya. Peserta didik senantiasa memiliki bahasa-bahasa non verbal yang hanya dipahami oleh temanteman sebaya atau teman-teman dekatnya saja.
Bahasa non verbal yang menjadi perhatian khusus adalah bahasa non verbal yang muncul atau terjadi ketika
peserta didik dan guru berinteraksi dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil pengamatan melalui rekaman
video dan catatan pada lembar observasi, bahasa non verbal yang dominan digunakan peserta didik untuk
berkomunikasi dengan guru dalam proses pembelajaran adalah kinesik. Kinesik yang digunakan peserta didik kelas
1 dalam komunikasi dengan guru dominan dengan penggunaan gestur atau gerak tubuh. Berdasarkan hasil
pengamatan, gestur yang digunakan oleh peserta didik kelas 1 dalam berkomunikasi dengan guru antara lain, 1)menggelengkan kepala, 2) menganggukkan kepala, 3) menolehkan kepala, 4) menunjuk menggunakan jari telunjuk,
dan 5) lambaian tangan.
-Kontak Mata
Bahasa non verbal seringkali menyebut kontak mata dengan istilah gaze. Kontak mata mengkaji tentang
cara menatap seseorang pada saat berinteraksi dengan mitra tutur. Seiring berkembangnya zaman, kontak mata
dapat berfungsi sama halnya dengan ekspresi wajah yakni mengungkapkan ekspresi atau perasaan (Wulandari
2017). Dalam konteks pembelajaran di kelas, guru PAUD menggunakan kontak mata kepada peserta didiknya
sebagai pengingat atau larangan. Guru tidak perlu melarang atau mengingatkan peserta didik menggunakan verbal
atau kata-kata, melainkan cukup menggunakan kontak mata. Salah satu kontak mata yang sering digunakan dalam
pembelajaran di kelas 1 adalah ketika guru menatap salah seorang peseta didik yang berjalan-jalan di kelas. Setelah
peserta didik tersebut sadar jika sedang diamati oleh gurunya, tidak lama setelah itu peserta didik duduk ke
bangkunya kembali. Hal tersebut menunjukkan bahwa kontak mata mampu menjadi media penyampaian perintah
tanpa perlu diungkapkan dalam kata atau bahasa verbal.