Posts made by Dita Nurhidayah

KP AUD kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by Dita Nurhidayah -
1.Cara Menyampaikan Pesan secara Tertulis dengan Sistematis:
- Perencanaan: Pertama-tama, rencanakan pesan Anda dengan baik. Tentukan tujuan komunikasi Anda, siapa audiens Anda, dan apa yang ingin Anda sampaikan. Merencanakan adalah kunci dalam menyusun pesan yang efektif.
- Struktur Pesan: Pesan seharusnya memiliki struktur yang jelas. Gunakan pengantar untuk memperkenalkan topik, isi untuk mengembangkan ide-ide utama, dan penutup untuk merangkum poin-poin kunci atau memberikan langkah selanjutnya. Pastikan ada alur logis dalam pesan Anda.
- Gunakan Bahasa yang Jelas: Hindari penggunaan bahasa yang ambigu, jargon yang tidak dimengerti, atau frasa yang membingungkan. Gunakan bahasa yang jelas, sederhana, dan sesuai dengan audiens Anda.
- Tata Bahasa dan Ejaan yang Benar: Pastikan tata bahasa dan ejaan dalam pesan Anda benar. Kesalahan tata bahasa dan ejaan dapat mengganggu pemahaman dan mengurangi profesionalisme.
- Pemformatan yang Tepat: Format pesan Anda agar terlihat rapi. Gunakan paragraf yang teratur, tanda baca yang benar, dan huruf kapital yang sesuai. Gunakan judul atau subjudul jika pesan memiliki bagian yang berbeda.
- Ringkas dan Fokus: Usahakan untuk tetap ringkas dan fokus. Sisipkan informasi yang relevan dan hilangkan yang tidak perlu. Pesan yang terlalu panjang dapat mengganggu pemahaman.
- Revisi dan Koreksi: Setelah menulis pesan, luangkan waktu untuk merevisi dan mengoreksi. Periksa tata bahasa, ejaan, dan kesalahan lainnya. Jika memungkinkan, minta orang lain untuk membaca pesan Anda dan memberikan umpan balik.

2. Cara Menerima Pesan secara Tertulis dengan Sistematis:
- Baca dengan Penuh Perhatian: Saat menerima pesan tertulis, berikan perhatian penuh ketika membaca. Hindari mengabaikan pesan atau membaca dengan terburu-buru.
-. Pahami Konteks: Pastikan Anda memahami konteks pesan. Apa tujuan pesan ini? Siapa pengirimnya? Apa yang ingin disampaikan? Pahami konteks sebelum Anda merespons atau merespon.
- Buat Catatan Jika Diperlukan: Jika pesan memiliki informasi yang penting atau instruksi, buat catatan untuk memastikan Anda tidak melewatkan hal-hal kunci.
- Evaluasi Isi Pesan: Evaluasi isi pesan dengan kritis. Apakah pesan tersebut relevan dengan Anda? Apakah ada hal yang tidak jelas atau perlu klarifikasi? Pertimbangkan isi pesan secara kritis sebelum Anda merespon.

Mengapa itu perlu kita lakukan?
1. Kesalahan Minim: Menyampaikan dan menerima pesan tertulis dengan sistematis mengurangi risiko kesalahan atau ketidakpahaman dalam komunikasi.
2. Pemahaman yang Lebih Baik: Pesan yang ditulis dengan jelas dan sistematis memungkinkan penerima memahami isi pesan dengan lebih baik.
3. Kesinambungan Komunikasi: Pesan tertulis yang sistematis memastikan bahwa informasi dapat dengan mudah digunakan kembali atau dibagi kepada pihak lain yang relevan.
4. Peningkatan Profesionalisme: Kemampuan untuk berkomunikasi secara tertulis dengan sistematis meningkatkan profesionalisme dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi.
5. Pencegahan Miskomunikasi: Dengan komunikasi tertulis yang sistematis, miskomunikasi dapat diminimalkan, mengurangi risiko konflik atau kebingungan.

KP AUD kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by Dita Nurhidayah -
Untuk dapat menyampaikan dan mendengarkan pesan secara lisan dengan lancar, terdapat beberapa praktik yang sangat penting. Pertama, untuk menyampaikan pesan dengan lancar, persiapkan pesan Anda terlebih dahulu, memahami tujuan komunikasi Anda, struktur pesan, dan konteksnya. Berbicaralah dengan jelas dan menggunakan bahasa yang sesuai dengan audiens Anda. Berlatih berbicara di depan cermin atau dengan teman sebelum presentasi penting bisa membantu Anda merasa lebih percaya diri.

Untuk mendengarkan dengan lancar, berikan perhatian penuh kepada pembicara dan hindari distraksi. Jangan bersiap untuk merespons segera, tapi biarkan pembicara menyelesaikan poin-poinnya. Jika ada hal yang tidak jelas, tanyakan pertanyaan atau minta klarifikasi. Gunakan kontak mata untuk menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan dan tertarik. Praktik mendengarkan yang baik melibatkan menghormati sudut pandang pembicara, bahkan jika Anda tidak sepakat.

Mengapa penting menyampaikan dan mendengarkan pesan dengan lancar?
1. Pemahaman: Kemampuan menyampaikan pesan dengan jelas meningkatkan pemahaman audiens terhadap informasi yang disampaikan.
2. Pemecahan Masalah: Komunikasi yang baik memungkinkan orang untuk membicarakan dan memecahkan masalah dengan efektif.
3. Hubungan Sosial: Komunikasi yang lancar mendukung hubungan sosial yang kuat dan positif dengan orang lain.
4. Kesuksesan dalam Pekerjaan: Kemampuan berkomunikasi dengan lancar adalah aset berharga di tempat kerja, membantu dalam presentasi, negosiasi, dan kolaborasi.
5. Kepuasan Diri: Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif juga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis.

KP AUD kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by Dita Nurhidayah -
1. Model Linear (Model Shannon-Weaver):
Model ini menekankan aliran satu arah dari pengirim ke penerima.
Komponen utama meliputi pengirim, pesan, media, dan penerima.
Tidak memperhatikan banyak faktor seperti feedback atau konteks.

2. Model Interaksional (Model Schramm):
Lebih menekankan saling pengaruh antara pengirim dan penerima.
Menyertakan faktor-faktor seperti feedback, interpretasi, dan umpan balik dari penerima.

3. Model Transaksional (Model Osgood-Schramm):
Mengakui bahwa komunikasi adalah proses timbal balik yang kompleks.
Menganggap bahwa komunikasi terjadi ketika pengirim dan penerima memiliki pemahaman yang saling berbagi.

4. Model Berorientasi Penerima (Model Berlo):
Menekankan peran penerima dalam proses komunikasi.
Memperhatikan faktor-faktor psikologis dan sosial penerima yang mempengaruhi pemahaman pesan.

5. Model Berorientasi Konteks (Model Dance):
Mengakui pentingnya konteks dalam memahami komunikasi.
Konteks dapat mencakup budaya, latar belakang sosial, dan situasi komunikasi.

6. Model Komunikasi Organisasi (Model Lasswell):
Menekankan pertanyaan-pertanyaan kunci seperti "Siapa, mengatakan apa, melalui saluran apa, kepada siapa, dengan efek apa?"
Digunakan khususnya dalam konteks komunikasi dalam organisasi.

KP AUD kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by Dita Nurhidayah -
1. Komunikasi adalah proses pertukaran informasi, gagasan, pikiran, atau perasaan antara individu atau kelompok melalui berbagai media atau saluran komunikasi. Proses ini melibatkan pengiriman pesan dari pengirim kepada penerima, dengan tujuan untuk memahami dan dipahami. Komunikasi merupakan cara utama di mana manusia berinteraksi, berbagi pengetahuan, menyampaikan pesan, dan membangun hubungan. Ini adalah elemen kunci dalam kehidupan sehari-hari dan berperan penting dalam berbagai konteks, seperti pribadi, bisnis, sosial, politik, dan budaya. Komunikasi dapat terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk komunikasi lisan, tertulis, visual, atau non-verbal, dan melibatkan berbagai unsur seperti pengirim, pesan, saluran, penerima, umpan balik, dan konteks.

2. Fungsi-fungsi komunikasi, informasi adalah salah satu aspek utama yang melibatkan penyampaian fakta, data, atau pengetahuan kepada orang lain. Selain itu, komunikasi juga digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan, emosi, atau sikap kepada orang lain, yang dikenal sebagai ekspresi emosi. Komunikasi juga memiliki fungsi kontrol sosial, yang mengatur perilaku individu atau kelompok dalam masyarakat, serta fungsi hiburan, yang memberikan hiburan dan kesenangan kepada orang-orang melalui media seperti film, musik, dan seni.

3. Unsur-unsur komunikasi mencakup bahasa, yang merupakan sistem simbolis yang digunakan untuk menyampaikan pesan secara lisan atau tertulis. Selain itu, unsur non-verbal seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, kontak mata, dan bahasa tubuh juga digunakan untuk menyampaikan pesan tanpa kata-kata. Budaya, yaitu nilai, norma, dan keyakinan yang mempengaruhi cara orang berkomunikasi dalam suatu kelompok sosial, juga memainkan peran penting. Ketepatan pesan, yaitu keterbacaan dan kejelasan pesan yang disampaikan, serta keterbukaan dalam menyampaikan ide, pendapat, dan perasaan kepada orang lain, juga merupakan unsur-unsur vital dalam komunikasi.
2.

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

by Dita Nurhidayah -
1. Perspektif Biologis – Temperamen
Perspektif biologis mengenai temperamen menekankan dasar biologis yang kuat dari ciri-ciri temperamen individu. Genetika, sistem saraf, aspek fisiologis, dan faktor lingkungan semuanya berkontribusi pada pembentukan temperamen seseorang. Ciri-ciri seperti tingkat kecemasan, ekstrovertisme, dan impulsivitas dapat diwarisi melalui faktor genetik, sementara aktivitas sistem saraf memengaruhi reaktifitas individu terhadap rangsangan lingkungan. Aspek fisiologis, seperti tingkat hormon, juga memainkan peran dalam respons emosional dan perilaku. Meskipun faktor-faktor biologis memberikan dasar, interaksi dengan lingkungan dan pengalaman selama masa perkembangan anak juga membentuk dan mengubah temperamen seseorang. Oleh karena itu, pemahaman temperamen harus mencakup perspektif yang menggabungkan faktor biologis dan lingkungan untuk memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang karakteristik individu.

2. Perspektif Psikoanalisis - Teori psikoseksual dari Freud - Teori psikososial dari Erikson
Perspektif psikoanalisis dalam psikologi melibatkan dua teori utama yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan Erik Erikson. Teori psikoseksual dari Freud menggambarkan perkembangan kepribadian sebagai hasil dari tahapan-tahapan seksual yang terjadi selama masa kanak-kanak. Freud mengidentifikasi lima tahapan psikoseksual, mulai dari tahap oral hingga tahap genital, dan mengklaim bahwa pengalaman dan konflik pada tahap-tahap ini dapat memengaruhi struktur kepribadian individu. Freud juga menyoroti peran konsep ketidaksadaran, seperti id, ego, dan superego, dalam mengatur perilaku manusia.
Sementara itu, teori psikososial dari Erikson memperluas pandangan perkembangan kepribadian dengan menekankan tahapan perkembangan sosial sepanjang seluruh siklus kehidupan. Erikson mengidentifikasi delapan tahapan perkembangan yang terjadi dari masa bayi hingga usia dewasa, yang menggambarkan konflik dan tugas perkembangan yang harus diatasi pada setiap tahap. Teori ini mengakui peran sosial dan lingkungan dalam membentuk kepribadian, serta fokus pada konsep identitas dan konflik psikososial yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan manusia.
Kedua teori ini menyoroti peran konflik, pengalaman masa kanak-kanak, dan perkembangan kepribadian dalam cara yang mendalam, dan mereka telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman tentang bagaimana individu membentuk identitas dan berinteraksi dengan lingkungannya sepanjang kehidupan. Meskipun pendekatan ini telah diterima dengan kritik dan modifikasi seiring berjalannya waktu, teori-teori ini masih menjadi landasan penting dalam psikologi perkembangan.

3. Perspektif Pembelajaran Teori Skinner, Watson dan Bandura
Perspektif pembelajaran dalam psikologi, yang dipengaruhi oleh teori-teori dari B.F. Skinner, John B. Watson, dan Albert Bandura, menekankan peran penting pengalaman dan pembelajaran dalam membentuk perilaku individu. Teori operant conditioning dari Skinner menggambarkan bagaimana perilaku dapat diperkuat atau dihukum sebagai hasil dari konsekuensi-konsekuensi perilaku tersebut. Skinner menganggap bahwa individu belajar melalui hubungan antara tindakan dan konsekuensi, yang dapat membentuk dan memodifikasi perilaku.
John B. Watson, dalam pendekatan behaviorisme, menekankan pentingnya pengamatan perilaku yang dapat diamati dan diukur sebagai fokus utama dalam studi psikologi. Dia menyatakan bahwa perilaku dapat dipelajari dan dimodifikasi melalui rangsangan eksternal yang diberikan dalam situasi belajar.
Sementara itu, Albert Bandura mengembangkan teori belajar sosial yang menyoroti pentingnya observasional learning (pembelajaran melalui pengamatan). Menurut Bandura, individu belajar melalui mengamati perilaku orang lain dan dampak konsekuensi perilaku mereka. Konsep self-efficacy, yang merujuk pada keyakinan individu tentang kemampuannya untuk mencapai tujuan, juga diperkenalkan oleh Bandura sebagai komponen penting dalam pembelajaran sosial.
Perspektif pembelajaran ini menekankan pentingnya lingkungan dan pengalaman dalam membentuk perilaku individu. Mereka telah memberikan landasan penting untuk pemahaman psikologi belajar dan aplikasinya dalam berbagai konteks, seperti pendidikan, psikoterapi, dan pengembangan keterampilan. Pendekatan ini juga telah menjadi dasar bagi pengembangan teknik-teknik pembelajaran dan intervensi perilaku yang efektif.

4. Perspektif Kognitif - Teori Piaget and Vigotsky
Perspektif kognitif dalam psikologi perkembangan melibatkan dua teori utama yang dikeluarkan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Kedua teori ini berfokus pada perkembangan kognitif anak, termasuk proses berpikir, pemahaman, dan perkembangan intelektual.

Teori Piaget: Jean Piaget mengembangkan Teori Perkembangan Kognitif yang mengidentifikasi empat tahap perkembangan kognitif yang berbeda pada anak. Tahap-tahap tersebut meliputi tahap sensorimotor (0-2 tahun), tahap praoperasional (2-7 tahun), tahap operasional konkret (7-11 tahun), dan tahap operasional formal (12 tahun dan seterusnya). Piaget percaya bahwa anak-anak mengalami tahap-tahap perkembangan ini secara berurutan. Teori Piaget menekankan peran penting konstruksi pengetahuan anak melalui eksplorasi aktif dan interaksi dengan lingkungan. Dia juga mengidentifikasi konsep "skema," yaitu struktur mental yang digunakan anak untuk memahami dunia, serta konsep asimilasi dan akomodasi, di mana anak mengintegrasikan pengetahuan baru ke dalam skema yang ada atau mengubah skema untuk mengakomodasi pengetahuan baru.

Teori Vygotsky: Lev Vygotsky mengembangkan Teori Pengembangan Kognitif Sosial yang menekankan peran lingkungan sosial dalam perkembangan kognitif anak. Vygotsky menganggap bahwa pembelajaran adalah hasil dari interaksi sosial, terutama dalam konteks hubungan anak dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Konsep sentral dalam teori Vygotsky adalah zona perkembangan nyata (Zone of Proximal Development, ZPD), yang merupakan rentang antara kemampuan saat ini seorang anak dan potensi maksimalnya. Vygotsky berpendapat bahwa pendidik dan orang dewasa harus membantu anak dalam mencapai potensi maksimal mereka melalui bimbingan dan kerja sama.

5. .Perspektif Kontekstual
Pendekatan Luas terhadap PembangunanPerspektif kontekstual mempertimbangkan hubungan antara individu dan dunia fisik, kognitif, dan sosial mereka. Mereka juga mengkaji pengaruh sosio-kultural dan lingkungan terhadap pembangunan. Kita akan fokus pada dua ahli teori besar yang memelopori perspektif ini: Lev Vygotsky dan Urie Bronfenbrenner. Lev Vygotsky adalah seorang psikolog Rusia yang terkenal karena teori sosiokulturalnya. Ia percaya bahwa interaksi sosial memainkan peran penting dalam pembelajaran anak-anak; melalui interaksi sosial seperti itu, anak-anak melalui proses pembelajaran scaffolded yang berkesinambungan. Urie Bronfenbrenner mengembangkan teori sistem ekologi untuk menjelaskan bagaimana segala sesuatu pada anak dan lingkungan anak mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia memberi label berbagai aspek atau tingkat lingkungan yang mempengaruhi perkembangan anak.
Perspektif kontekstual teori ekologi
Model ekologi Bronfenbrenner tingkat ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana berbagai sistem mikro bekerja sama untuk mempengaruhi perkembangan individu.
Misalnya, hubungan antara orang tua anak dan gurunya dapat berdampak pada prestasi akademik anak tersebut, sedangkan interaksi antara kelompok teman sebaya anak dan keluarganya dapat mempengaruhi perkembangan keterampilan dan nilai-nilai sosial.

6. . Perspektif Evolusionari/ Sosio-biologis -Teori attachment dari Bowlby dan Ainsworth
Perspektif evolusioner atau sosio-biologis dalam psikologi menekankan peran penting adaptasi dan melestarikan spesies dalam perkembangan manusia. Teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby dan Mary Ainsworth mencerminkan pandangan ini. Teori attachment tersebut menyatakan bahwa hubungan antara bayi dan figur perhatian utama mereka memiliki akar biologis dan penting untuk kelangsungan hidup dan perkembangan individu. Bowlby mengemukakan bahwa bayi memiliki kecenderungan alami untuk membentuk ikatan emosional yang kuat dengan figur perhatian utama mereka sebagai respons terhadap kebutuhan dasar seperti makanan dan perlindungan. Mary Ainsworth mengembangkan konsep pola attachment, seperti attachment aman dan insecure, dan mengidentifikasi observasi perilaku spesifik yang menggambarkan kualitas attachment. Penelitian attachment telah menunjukkan bahwa kualitas ikatan bayi dengan figur perhatian utama dapat memengaruhi perkembangan emosional dan sosial mereka. Perspektif evolusioner dalam teori attachment menekankan bahwa mekanisme ini telah berkembang dalam evolusi sebagai strategi untuk menjaga kelangsungan hidup dan keberhasilan reproduksi manusia. Seiring waktu, teori attachment ini telah menjadi dasar bagi pemahaman tentang hubungan interpersonal dan pengembangan individu, dengan penekanan pada pentingnya kualitas hubungan awal dalam perkembangan manusia.

7. Perspektif Moral – Teori Kohlberg
Perspektif moral dalam psikologi, khususnya dalam kerangka kerja teori Lawrence Kohlberg, berfokus pada perkembangan moral individu. Teori Kohlberg menggambarkan perkembangan moral sebagai serangkaian tahap yang individu alami sepanjang hidup mereka. Ia mengidentifikasi tiga tingkat utama dengan dua tahap moral di setiap tingkat. Tingkat pertama adalah tahap pramoral, di mana individu terutama mengikuti norma-norma sosial tanpa pemahaman moral yang mendalam. Tingkat kedua adalah tahap moral konvensional, di mana individu memahami pentingnya memenuhi harapan sosial dan hukum. Pada tingkat ini, moralitas seringkali ditentukan oleh norma sosial dan ekspektasi dari orang lain. Tingkat terakhir adalah tahap moral postkonvensional, di mana individu mengembangkan prinsip moral yang lebih abstrak dan berlandaskan pada prinsip moral yang mendasarinya. Mereka dapat menilai tindakan berdasarkan prinsip-prinsip moral yang lebih luas dan independen. Teori Kohlberg menekankan pentingnya proses pemikiran moral yang berkembang seiring berjalannya waktu dan pengalaman individu dalam menghadapi dilema moral. Teori ini telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman perkembangan moral dan etika, serta digunakan sebagai dasar untuk penelitian dalam etika terapan, psikologi moral, dan pendidikan karakter.