གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Evi Nur Rahma Wati

Nama : Evi Nur Rahma Wati
NPM : 2217051010
Kelas : B

Berikut analisis saya dari jurnal yang berjudul "DEMOKRASI SEBAGAI WUJUD NILAI-NILAI SILA KEEMPAT PANCASILA DALAM PEMILIHAN UMUM DAERAH DI INDONESIA"

Pancasila mengandung nilai-nilai yang menjadi landasan fundamental dalam penyelenggaraan negara. Salah satu landasan pokok sebagai cerminan penyelenggaraan negara berupa pemilu terdapat pada sila keempat yang merupakan bentuk dari Demokrasi. Penerapan nilai-nilai pancasila sila keempat untuk kehidupan demokrasi dalam pilkada di Indonesia dapat digunakan dengan mengutamakan musyawarah dan mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

Pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah secara langsung merupakan salah satu implementasi dari sistem demokrasi dalam rangka menciptakan pemerintahan yang lebih demokratis. Masyarakat
Indonesia secara luas memahami demokrasi sebagai bentuk pemilihan secara langsung untuk mengisi kekosongan jabatan pemerintahan dan politik. Oleh karena itu penerapan nilai demokrasi sila keempat Pancasila digunakan untuk mengurangi gesekan sosial yang terjadi akibat kampanye oleh partai politik. Partai politik masyarakat dapat menyalurkan proses demokrasi seperti apa yang diamanatkan dalam Pancasila dan Peraturan perundang-undangan yang ada. Namun, perkembangan saat ini partai politik banyak yang tidak mencerminkan dari nilai demokrasi. Contohnya dari sisi internal partai politik itu sendiri, dimana pemilihan oleh partai politik hanya berdasakan intruksi ketua umum partai politik dengan penunjukan secara langsung.

Sementara pengaturan mengenai pemilihan kepala daerah yang terdapat dalam Undang-Undang kurang jelas dan multi tafsir. Oleh karena itu perlu dilakukan kepastian dalam meneggakkan peraturan pemilihan umum yang sekiranya menimbulkan kekacauan dan disintegrasi bangsa.
Nama : Evi Nur Rahma Wati
NPM : 2217051010
Kelas : B

Berikut analisis saya mengenai video yang berjudul "Perkembangan Demokrasi di Indonesia"

1. Perkembangan Demokrasi Masa Revolusi Kemerdekaan
Demokrasi pada masa pemerintahan revolusi kemerdekaan sangat terbatas. Media pers yang mendukung revolusi kemerdekaan seperti majalah dan koran.

2. Perkembangan Demokrasi parlementer (1945-1959)
Masa demokrasi parlementer adalah masa kejayaan demokrasi di Indonesia, karena hampir semua elemen demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudan kehidupan politik di Indonesia. Tetapi demokrasi parlementer mengalami kegagalan yang disebabkan oleh ;
a. Dominannya politik aliran, sehingga membawa konsekuensi terhadap pengelola konflik.
b. Basis sosial ekonomi yang masih sangat lemah.
c. Persamaan kepentingan antara presiden Soekarno dengan kalangan Angkatan Darat, yang sama-sama tidak senang dengan proses politik yang berjalan.

3. Perkembangan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)
Politik pada masa ini diwarnai oleh tolak ukur yang sangat kuat antara ketiga kekuatan politik yang utama pada waktu itu yaitu ABRI, Soekarno, dan PKI.

4. Perkembangan Demokrasi dalam Pemerintahan Orde Baru
Pada masa orde baru, sistem demokrasi yang diterapkan disebut dengan demokrasi pancasila. Pada tiga tahun awal, kekuasaan seolah-olah akan didistribusikan kepada kekuatan kemasyarakatan. Namun, setelah tiga tahun terjadinya dominan peranan ABRI, biroktrasisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan politik, pembuatan peran dan fungsi partai politik, campur tangan pemerintah dalam persoalan partai politik dan publik, masa mengambang, monolitisasi ideologi negara, dan inkorporasi lembaga non pemerintah.

5. Perkembangan Demokrasi Pada Masa Reformasi (1998 - Sekarang)
Demokrasi yang diterapkan negara kita pada era reformasi ini adalah demokrasi Pancasila, tentu saja dengan karakteristik yang berbeda dengan orde baru dan sedikit mirip dengan demokrasi parlementer tahun 1950-1959.

Karakteristik demokrasi era reformasi adalah
Pertama, pemilu yang dilakukan(1999-2004) jauh lebih demokratis dari yang sebelumnya.
Kedua, rotasi kekuasaan dilaksanakan dari mulai pemerintahan pusat sampai pada tingkat desa.
Ketiga, pola rekruitmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara terbuka.
Keempat, sebagian besar hak dasar bisa terjamin seperti adanya kebebasan menyatakan pendapat.
Nama : Evi Nur Rahma Wati
NPM : 2217051010
Kelas : B

Berikut analisis saya berdasarkan jurnal yang berjudul "Dinamika Sosial Politik Menjelang Pemilu Serentak 2019"

Sejak era Reformasi, Indonesia sudah menggelar empat kali pemilu. Tetapi, pemilu ke lima tahun 2019, khususnya, pemilu presiden (pilpres) memiliki konstelasi politik yang lebih menyita perhatian publik. Pilpres pun cenderung semakin mempertajam timbulnya
pembelahan sosial dalam masyarakat. Melihat demokrasi Indonesia melalui fenomena pilpres 2019 merupakan salah satu sarana untuk memilih pemimpin secara demokratis. Demokrasi secara sederhana dapat dimaknai sebagai ‘pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat’. Namun, untuk mewujudkan makna tersebut tidaklah mudah karena demokrasi memerlukan proses panjang dan tahapan-tahapan penting yang harus dilalui, seperti proses konsolidasi demokrasi. Konsolidasi demokrasi merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan secara prinsip komitmen seluruh lapisan masyarakat pada aturan main demokrasi. Tidak hanya merupakan proses politik yang terjadi pada level prosedural lembaga-lembaga
politik, tetapi juga pada level masyarakat. Demokrasi akan terkonsolidasi bila aktor-aktor politik, ekonomi, negara, masyarakat sipil mampu mengedepankan tindakan demokratis sebagai alternatif utama untuk meraih kekuasaan.

Dalam konteks Indonesia, proses demokrasi yang berlangsung dipengaruhi beberapa faktor, misalnya budaya politik, perilaku aktor dan kekuatan-kekuatan politik. Demokrasi yang berlangsung di daerah-daerah merupakan landasan utama bagi berkembangnya demokrasi di tingkat nasional. Pemilihan kepala daerah secara langsung merupakan terobosan penting yang dimaksudkan sebagai upaya pendalaman demokrasi yakni suatu upaya untuk mengatasi kelemahan praktek demokrasi substantif, khususnya dalam merespon tuntutan-tuntutan
masyarakat lokal. Sementara itu, proses demokrasi yang berlangsung di tingkat nasional menunjukkan arah yang tak mudah, khususnya dalam hal membangun kualitas pilpres dan pendalaman demokrasi atau konsolidasi demokrasi.
Nama : Evi Nur Rahma Wati
NPM : 2217051010
Kelas : B

Dalam video yang berjudul "Demokrasi Itu Gaduh, tapi Kenapa Bertahan dan Dianut Banyak Negara?" Oleh Narasi Newsroom, dijelaskan bahwa sistem demokrasi pada dasarnya memang memberikan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat. Oleh karena itu, demokrasi disebut sebagai sistem yang berisik. Alasan demokrasi menjadi pilihan banyak negara adalah karena dengan sistem demokrasi yang baik lebih mampu mempertahankan keamanan dan kemakmuran. Demokrasi juga dipandang sebagai alat yang paling efektif. Dikarenakan demokrasi dapat mewujudkan kesetaraan, mengurangi konflik, dan meningkatkan partisipasi publik. Dari segi penegakan HAM, negara yang menganut demokrasi memiliki skor penegakan HAM yang lebih tinggi.

Berdasarkan pernyataan Alex Tan, perbandingan antara negara demokrasi dengan non-demokrasi adalah secara umum negara demokrasi lebih kaya, mempunyai tingkat perkembangan manusia yang lebih tinggi, mempunyai angka korupsi rendah, dan warga negara demokrasi menikmati lebih banyak jaminan atas HAM.
Sejak akhir 1980-an negara yang menganut demokrasi meningkat pesat. Namun, bukan berarti demokrasi adalah sistem pemerintahan yang sempurna. Para kritikus demokrasi kerap mempertanyakan apakah memberi hak kepada warga atas persoalan yang mereka kuasai adalah pilihan yang tepat? pertanyaan ini terasa relevan ketika demokrasi menghasilkan pemimpin yang anti-sains, juga para politikus yang menolak dikritik dan menampik kebebasan berpendapat. Kini, beberapa analisis mengatakan demokrasi berada dalam fase krisis. Ada beberapa alasan mengapa demokrasi dilanda krisis yaitu mulai dari rendahnya kepercayaan terhadap pemerintah dan politikus, penurunan jumlah keanggotaan partai politik, hingga regulasi pemerintah yang dianggap tidak transparan. Berdasarkan pernyataan Alex Tan demokrasi bukanlah tujuan, demokrasi adalah perjalanan yang kita tempuh bersama sebagai warga, bangsa, dan negara.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, izin memperkenalkan diri
Nama : Evi Nur Rahma Wati
NPM : 2217051010

Berdasarkan video presentasi dari kelompok 7, saya ingin bertanya pada bagian jenis paragraf berdasarkan letak gagasan utama. Pertanyaan saya adalah bagaimana contoh dari paragraf ineratif?

Terima kasih