Fitriya sari_2213033005
Posts made by Fitriya Sari
Folklor lisan terdiri dari bahasa rakyat, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, dan puisi rakyat. Bahasa rakyat adalah bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ungkapan tradisional adalah kata-kata atau frasa yang digunakan secara turun-temurun dalam suatu masyarakat. Pertanyaan tradisional adalah pertanyaan yang sering diajukan dalam suatu masyarakat dan memiliki makna yang mendalam. Puisi rakyat adalah puisi yang berasal dari masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun. Folklor lisan memiliki peran penting dalam menjaga dan mengembangkan budaya tradisional serta memberikan konteks tentang latar belakang dan cara hidup masyarakat dalam waktu terakhir. Oleh karena itu, folklor lisan perlu dilestarikan dan dijadikan sebagai sumber sejarah yang harus dijaga keberadaannya
Foklor lisan, yang juga dikenal sebagai folklor tradisional atau folklor unggul, adalah jenis folklor yang berbentuk lisan atau kata-kata. Folklor lisan mencakup cerita, naskah, pantun, dan lagu yang menggambarkan kebudayaan, tradisi, dan latar belakang suku atau komunitas.
Berikut adalah beberapa karakteristik dari folklor lisan:
Berasal dari kebudayaan tradisional: Folklor lisan menggambarkan kebudayaan, tradisi, dan latar belakang suku atau komunitas
Berbentuk lisan: Folklor lisan terdiri dari kata-kata atau lisan, seperti cerita, naskah, pantun, dan lagu
Tidak resmi: Folklor lisan umumnya bukan yang resmi atau officiel, melainkan sering disampaikan secara rahasia dan anonim.
Dikirimkan secara warisan: Folklor lisan dikirimkan melalui ucapan, pidato, nyanyian, dan perilaku fisik, serta didasarkan pada kekuatan lisan.
Menggambarkan kepercayaan rakyat: Folklor lisan sering menjadi kendaraan untuk kepercayaan dan agama masyarakat, seperti takhayul dan percayaan tentang bawang putih dan batu-batu permata.
Folklor lisan memiliki pentingnya dalam menjaga dan mengembangkan budaya tradisional, serta memberikan konteks tentang latar belakang dan cara hidup masyarakat dalam waktu terakhir
Berikut adalah beberapa karakteristik dari folklor lisan:
Berasal dari kebudayaan tradisional: Folklor lisan menggambarkan kebudayaan, tradisi, dan latar belakang suku atau komunitas
Berbentuk lisan: Folklor lisan terdiri dari kata-kata atau lisan, seperti cerita, naskah, pantun, dan lagu
Tidak resmi: Folklor lisan umumnya bukan yang resmi atau officiel, melainkan sering disampaikan secara rahasia dan anonim.
Dikirimkan secara warisan: Folklor lisan dikirimkan melalui ucapan, pidato, nyanyian, dan perilaku fisik, serta didasarkan pada kekuatan lisan.
Menggambarkan kepercayaan rakyat: Folklor lisan sering menjadi kendaraan untuk kepercayaan dan agama masyarakat, seperti takhayul dan percayaan tentang bawang putih dan batu-batu permata.
Folklor lisan memiliki pentingnya dalam menjaga dan mengembangkan budaya tradisional, serta memberikan konteks tentang latar belakang dan cara hidup masyarakat dalam waktu terakhir
Folklor adalah bagian dari kebudayaan yang disebarkan dan diwariskan secara tradisional, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat.
Ciri-ciri folklor:
- Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum.
- Menjadi milik bersama (kolektif) dari masyarakat tertentu.
- Umumnya bersifat lugu atau polos sehingga seringkali kelihatan kasar atau terlalu sopan.
- Rentan terhadap perubahan karena penyebarannya secara lisan.
Jenis-jenis folklor:
- Ungkapan tradisional, seperti pribahasa dan sindiran.
- Pertanyaan tradisional yang dikenal sebagai teka-teki.
- Sajak dan puisi rakyat, seperti pantun dan syair.
- Cerita prosa rakyat, seperti dongeng, mite, legenda, dan nyanyian rakyat
- Permainan tradisional, seperti congklak, egrang, dan gasing.
Ciri-ciri folklor:
- Bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum.
- Menjadi milik bersama (kolektif) dari masyarakat tertentu.
- Umumnya bersifat lugu atau polos sehingga seringkali kelihatan kasar atau terlalu sopan.
- Rentan terhadap perubahan karena penyebarannya secara lisan.
Jenis-jenis folklor:
- Ungkapan tradisional, seperti pribahasa dan sindiran.
- Pertanyaan tradisional yang dikenal sebagai teka-teki.
- Sajak dan puisi rakyat, seperti pantun dan syair.
- Cerita prosa rakyat, seperti dongeng, mite, legenda, dan nyanyian rakyat
- Permainan tradisional, seperti congklak, egrang, dan gasing.
1. Tentukan tujuan wawancara: tentukan tujuan wawancara Anda terlebih dahulu, apakah untuk mengumpulkan informasi, mengajak audience untuk bertindak, atau memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada. Hal ini akan membantu Anda menentukan pertanyaan yang tepat.
2. Pilih topik wawancara: pilih topik yang relevan dan sesuai dengan tujuan wawancara Anda. Pilih topik yang aktual dan sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat.
3. Mempelajari masalah yang terkait dengan topik wawancara: lakukan riset tentang topik wawancara Anda dan pelajari masalah yang terkait dengan topik tersebut.
4. Menentukan narasumber: tentukan narasumber yang memiliki keahlian dan sesuai dengan kualifikasi dari penelitian yang akan dilakukan.
5. Membuat daftar pertanyaan: buat daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber, sesuai dengan tujuan wawancara Anda. Susun pertanyaan dari yang umum ke yang spesifik.
6. Susun pertanyaan dengan baik: susun pertanyaan dengan baik dan jelas. Gunakan pertanyaan terbuka yang memungkinkan narasumber memberikan jawaban yang lebih terperinci dan tidak terbatas pada jawaban “ya” atau “tidak”.
Jangan terlalu banyak mengajukan pertanyaan: jangan terlalu banyak mengajukan pertanyaan sehingga narasumber merasa tertekan atau tidak nyaman. Ajukan pertanyaan yang sesuai dengan tujuan wawancara Anda saja.
7. Sesuaikan pertanyaan dengan narasumber: sesuaikan pertanyaan yang akan Anda ajukan dengan narasumber yang Anda wawancarai. Ini akan membantu Anda mendapatkan jawaban yang lebih relevan dan bermanfaat.
8. Gunakan bahasa yang sopan dan santun: gunakan bahasa yang sopan dan santun dalam menyusun draf wawancara. Hindari penggunaan bahasa yang kasar atau tidak pantas.
Periksa kembali draf wawancara:
9. periksa kembali draf wawancara Anda sebelum melakukan wawancara. 10. Pastikan pertanyaan yang diajukan sudah sesuai dengan tujuan wawancara dan narasumber yang akan diwawancarai.
Inilah beberapa teknik dalam menyusun draf wawancara sebenarnya tergantung teknik pertanyaannya itu seperti apa atau struktur dari pertanyaan itu seperti apa menyesuaikan.
2. Pilih topik wawancara: pilih topik yang relevan dan sesuai dengan tujuan wawancara Anda. Pilih topik yang aktual dan sedang hangat dibicarakan oleh masyarakat.
3. Mempelajari masalah yang terkait dengan topik wawancara: lakukan riset tentang topik wawancara Anda dan pelajari masalah yang terkait dengan topik tersebut.
4. Menentukan narasumber: tentukan narasumber yang memiliki keahlian dan sesuai dengan kualifikasi dari penelitian yang akan dilakukan.
5. Membuat daftar pertanyaan: buat daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber, sesuai dengan tujuan wawancara Anda. Susun pertanyaan dari yang umum ke yang spesifik.
6. Susun pertanyaan dengan baik: susun pertanyaan dengan baik dan jelas. Gunakan pertanyaan terbuka yang memungkinkan narasumber memberikan jawaban yang lebih terperinci dan tidak terbatas pada jawaban “ya” atau “tidak”.
Jangan terlalu banyak mengajukan pertanyaan: jangan terlalu banyak mengajukan pertanyaan sehingga narasumber merasa tertekan atau tidak nyaman. Ajukan pertanyaan yang sesuai dengan tujuan wawancara Anda saja.
7. Sesuaikan pertanyaan dengan narasumber: sesuaikan pertanyaan yang akan Anda ajukan dengan narasumber yang Anda wawancarai. Ini akan membantu Anda mendapatkan jawaban yang lebih relevan dan bermanfaat.
8. Gunakan bahasa yang sopan dan santun: gunakan bahasa yang sopan dan santun dalam menyusun draf wawancara. Hindari penggunaan bahasa yang kasar atau tidak pantas.
Periksa kembali draf wawancara:
9. periksa kembali draf wawancara Anda sebelum melakukan wawancara. 10. Pastikan pertanyaan yang diajukan sudah sesuai dengan tujuan wawancara dan narasumber yang akan diwawancarai.
Inilah beberapa teknik dalam menyusun draf wawancara sebenarnya tergantung teknik pertanyaannya itu seperti apa atau struktur dari pertanyaan itu seperti apa menyesuaikan.