Nama: Salsabila Zidani Dhasilvi
NPM: 2217011008
Kelas: A
A. Bagaimanakah isi artikel tersebut dalam rangka penegakan Hak Asasi Manusia dan berikan analisismu secara jelas? Hal positif apa yang Anda dapatkan setelah membaca artikel tersebut?
Jawab:
Isi artikel menggambarkan bahwa kondisi HAM di Indonesia sepanjang 2019 mengalami banyak kemunduran. Penegakan hukum atas pelanggaran HAM berat masih macet, kebebasan sipil menyempit, diskriminasi terhadap kelompok rentan seperti perempuan dan masyarakat Papua meningkat, serta pengadilan HAM gagal menghadirkan keadilan.
•Analisis:
Artikel ini menunjukkan bahwa penegakan HAM masih lemah karena negara belum menunjukkan keberanian politik untuk menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu dan membenahi aparat keamanan. Pembungkaman kebebasan berekspresi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi.
• Hal positif yang didapat:
Masih ada harapan dari gerakan masyarakat sipil, seperti aksi mahasiswa dan komunitas lokal (seperti di Teluk Benoa dan Kendeng), serta pengakuan bahwa Indonesia terus meratifikasi perjanjian HAM internasional.
B. Berikan analisismu mengenai demokrasi Indonesia diambil dari nilai-nilai adat istiadat/budaya asli masyarakat Indonesia! Bagaimanakah pendapatmu mengenai prinsip demokrasi Indonesia yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa?
Jawab:
Analisis demokrasi dan budaya lokal:
Demokrasi Indonesia memiliki akar dalam nilai-nilai budaya lokal seperti musyawarah mufakat, gotong royong, dan hormat kepada orang tua dan pemimpin. Nilai-nilai ini mencerminkan partisipasi kolektif dan keputusan bersama tanpa pemaksaan, yang sangat sesuai dengan semangat demokrasi.
• Pendapat tentang demokrasi berke-Tuhanan:
Demokrasi Indonesia bukan demokrasi sekuler sepenuhnya, melainkan demokrasi yang diwarnai nilai-nilai ketuhanan. Demokrasi yang berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa mengarahkan kebebasan untuk tetap berada dalam koridor moral dan spiritual. Artinya, kebebasan berpendapat tetap harus menghormati nilai kemanusiaan, etika, dan tidak menindas pihak lain.
C. Bagaimanakah praktik demokrasi Indonesia saat ini, apakah telah sesuai dengan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia?
Jawab:
Secara konstitusional, demokrasi Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi HAM (Pasal 28 UUD 1945). Namun dalam praktiknya, masih banyak pelanggaran yang dilakukan, terutama oleh aparat negara, tanpa pertanggungjawaban hukum yang jelas. Kebebasan berpendapat, beragama, dan berkumpul sering dibatasi melalui regulasi atau tindakan represif.
Demokrasi Indonesia belum sepenuhnya sesuai dengan semangat Pancasila dan UUD 1945 karena pelaksanaan HAM masih lemah. Sila ke-2 dan ke-5 tentang kemanusiaan dan keadilan sosial belum terwujud secara merata.
D. Bagaimanakah sikap Anda mengenai kondisi di mana anggota parlemen yang mengatasnamakan suara rakyat tetapi melaksanakan agenda politik mereka sendiri dan berbeda dengan kepentingan nyata masyarakat?
Jawab:
• Sikap saya:
Saya sangat menolak tindakan seperti ini karena bertentangan dengan prinsip demokrasi perwakilan. Wakil rakyat seharusnya menjalankan mandat rakyat, bukan kepentingan pribadi atau partainya. Ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik dan bisa merusak legitimasi lembaga legislatif.
• Solusi:
Rakyat harus lebih aktif mengawasi parlemen melalui media, LSM, petisi, dan pemilu. Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi syarat mutlak dalam lembaga demokratis.
E. Bagaimanakah pendapatmu mengenai pihak-pihak yang memiliki kekuasaan kharismatik yang berakar dari tradisi maupun agama, tega menggerakkan loyalitas dan emosi rakyat yang bila perlu menjadi tumbal untuk tujuan yang tidak jelas dan bagaimanakah hubungannya dengan konsep hak asasi manusia pada era demokrasi dewasa saat ini?
Jawab:
• Pendapat saya:
Pemimpin karismatik yang memanfaatkan kekuasaan tradisi atau agama untuk mengorbankan rakyat demi tujuan politik pribadi sangat berbahaya. Ini adalah bentuk manipulasi emosional dan pelanggaran terhadap hak individu. Loyalitas rakyat tidak seharusnya diperalat untuk konflik atau kekerasan.
• Hubungan dengan HAM dan demokrasi:
Dalam era demokrasi modern, HAM menjadi batas moral kekuasaan. Tidak seorang pun, termasuk tokoh karismatik, boleh melanggar hak hidup, kebebasan berpikir, dan kebebasan beragama seseorang. Demokrasi sejati membatasi kekuasaan absolut dan menjamin kebebasan individu dari tekanan kekuasaan yang tidak adil.
NPM: 2217011008
Kelas: A
A. Bagaimanakah isi artikel tersebut dalam rangka penegakan Hak Asasi Manusia dan berikan analisismu secara jelas? Hal positif apa yang Anda dapatkan setelah membaca artikel tersebut?
Jawab:
Isi artikel menggambarkan bahwa kondisi HAM di Indonesia sepanjang 2019 mengalami banyak kemunduran. Penegakan hukum atas pelanggaran HAM berat masih macet, kebebasan sipil menyempit, diskriminasi terhadap kelompok rentan seperti perempuan dan masyarakat Papua meningkat, serta pengadilan HAM gagal menghadirkan keadilan.
•Analisis:
Artikel ini menunjukkan bahwa penegakan HAM masih lemah karena negara belum menunjukkan keberanian politik untuk menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu dan membenahi aparat keamanan. Pembungkaman kebebasan berekspresi juga bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi.
• Hal positif yang didapat:
Masih ada harapan dari gerakan masyarakat sipil, seperti aksi mahasiswa dan komunitas lokal (seperti di Teluk Benoa dan Kendeng), serta pengakuan bahwa Indonesia terus meratifikasi perjanjian HAM internasional.
B. Berikan analisismu mengenai demokrasi Indonesia diambil dari nilai-nilai adat istiadat/budaya asli masyarakat Indonesia! Bagaimanakah pendapatmu mengenai prinsip demokrasi Indonesia yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa?
Jawab:
Analisis demokrasi dan budaya lokal:
Demokrasi Indonesia memiliki akar dalam nilai-nilai budaya lokal seperti musyawarah mufakat, gotong royong, dan hormat kepada orang tua dan pemimpin. Nilai-nilai ini mencerminkan partisipasi kolektif dan keputusan bersama tanpa pemaksaan, yang sangat sesuai dengan semangat demokrasi.
• Pendapat tentang demokrasi berke-Tuhanan:
Demokrasi Indonesia bukan demokrasi sekuler sepenuhnya, melainkan demokrasi yang diwarnai nilai-nilai ketuhanan. Demokrasi yang berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa mengarahkan kebebasan untuk tetap berada dalam koridor moral dan spiritual. Artinya, kebebasan berpendapat tetap harus menghormati nilai kemanusiaan, etika, dan tidak menindas pihak lain.
C. Bagaimanakah praktik demokrasi Indonesia saat ini, apakah telah sesuai dengan Pancasila dan UUD NRI 1945 serta menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia?
Jawab:
Secara konstitusional, demokrasi Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi HAM (Pasal 28 UUD 1945). Namun dalam praktiknya, masih banyak pelanggaran yang dilakukan, terutama oleh aparat negara, tanpa pertanggungjawaban hukum yang jelas. Kebebasan berpendapat, beragama, dan berkumpul sering dibatasi melalui regulasi atau tindakan represif.
Demokrasi Indonesia belum sepenuhnya sesuai dengan semangat Pancasila dan UUD 1945 karena pelaksanaan HAM masih lemah. Sila ke-2 dan ke-5 tentang kemanusiaan dan keadilan sosial belum terwujud secara merata.
D. Bagaimanakah sikap Anda mengenai kondisi di mana anggota parlemen yang mengatasnamakan suara rakyat tetapi melaksanakan agenda politik mereka sendiri dan berbeda dengan kepentingan nyata masyarakat?
Jawab:
• Sikap saya:
Saya sangat menolak tindakan seperti ini karena bertentangan dengan prinsip demokrasi perwakilan. Wakil rakyat seharusnya menjalankan mandat rakyat, bukan kepentingan pribadi atau partainya. Ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik dan bisa merusak legitimasi lembaga legislatif.
• Solusi:
Rakyat harus lebih aktif mengawasi parlemen melalui media, LSM, petisi, dan pemilu. Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi syarat mutlak dalam lembaga demokratis.
E. Bagaimanakah pendapatmu mengenai pihak-pihak yang memiliki kekuasaan kharismatik yang berakar dari tradisi maupun agama, tega menggerakkan loyalitas dan emosi rakyat yang bila perlu menjadi tumbal untuk tujuan yang tidak jelas dan bagaimanakah hubungannya dengan konsep hak asasi manusia pada era demokrasi dewasa saat ini?
Jawab:
• Pendapat saya:
Pemimpin karismatik yang memanfaatkan kekuasaan tradisi atau agama untuk mengorbankan rakyat demi tujuan politik pribadi sangat berbahaya. Ini adalah bentuk manipulasi emosional dan pelanggaran terhadap hak individu. Loyalitas rakyat tidak seharusnya diperalat untuk konflik atau kekerasan.
• Hubungan dengan HAM dan demokrasi:
Dalam era demokrasi modern, HAM menjadi batas moral kekuasaan. Tidak seorang pun, termasuk tokoh karismatik, boleh melanggar hak hidup, kebebasan berpikir, dan kebebasan beragama seseorang. Demokrasi sejati membatasi kekuasaan absolut dan menjamin kebebasan individu dari tekanan kekuasaan yang tidak adil.