Posts made by Iftah Farida Reza Nur 2213053184

Nam : Iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Dalam video di sajikan sebuah film pendek yang berjudul ( menjadi lebih baik )

Seorang anak SMA bernama Hanafi yang menuliskan kisah nya. Bermula ketika Hanafi di tugas kan untuk memfotocopy dokumen kelas nya yg di hargai 5 ribu tetapi ia menuliskan 10 ribu di nota kelas nya, dari situlah ia mulai melakukan kegiatan tecela nya yaitu korupsi uang kas kelas nya.
Suatu hari Hanafi merasa tidak enak badan dan temen nya bercerita tentang korupsi.
Dari situ Hanafi mulai sadar bahwa sikap nya tersebut adayhal yg salah dan perlu bertanggung jawab atas apa yg ia perbuat. Akhirnya Hanafi pun mengaku kepada teman nya jika selama ini ia korupsi uang fotocopy yang di tugas nya padanya. Semenjak itu Hanafi tidak pernah lagi melakukan hal tercela tersebut.

Dari cerita tersebut kita dapat mengambil nilai bahwa perbuatan tidak terpuji atau perbuatan tercela seperti korupsi bukan kan hal yg baik dan tidak layak di lakukan. Setiap apa yg kita lakukan semua pasti mendapatkan balasan nya, kita juga sebagai seorang manusia ketika di beri amanah dan kepercayaan harus menjaga kepercayaan tersebut dan bertanggung jawab atas apa yang akan dan sudah kita perbuat, jika bukan kita yg menyadari lalu siapa lagi? apalagi kita adalah pelajar yang merupakan faktor penting untuk kemajuan negara. Generasi muda yang akan membawa perubahan perubahan baik nntinya
Nama : Iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Dalam video membahas mengenai perbedaan pendidikan dasar Jepang dan Indonesia.

1. Kebersihan sejak dini
Ternyata Indonesia adalah salah satu negara yg mempunyai populasi sampah yg bisa di bilang besar di dunia. Kebiasaan menyampah ini dikarenakan tidak di ajarkan nya dalam kurikulum pembelajaran di Indonesia. Berbeda dengan jepang, di Jepang bahkan tidak memiliki petugas kebersihan karena dalam kurikulum pembelajaran jepang, semua siswa di haruskan dan di ajarkan bertanggung jawab atas kebersihan kelas mereka masing masing. Hal ini bertujuan agar siswa bisa oeka terhadap kondisi lingkungan nya yg kotor.

2. Makan bareng
Di Indonesia masih terdapat kantin yg bisa di temui di tiap sekolah nya, belum lagi di luar sekolah, masih banyak pedagang pedagang jajan yg bisa kita temui. Sedangkan di negara Jepang, proses makan pun di anggap penting untuk pendidikan dasar di sana, sehingga untuk makanan di atur dalam sekolah, mulai dari menu, gizi dan cara makannya. Proses makan di sana di lakukan secara bersama sama bahkan di ikuti juga oleh semua guru di sekolah. Tujuan nya agar membangun hubungan positif antar siswa dan para guru.

3. Mata pelajaran Sedikit
Di Indonesia terkenal dengan mata pelajaran yg sangat banyak di sekolah, berbeda dengan jepang, di negara tersebut jumlah pelajaran nya tergolong sedikit dan di ajarkan di hari tertentu sehingga tidak ada mata pelajaran yg berulang di dalam satu Minggu.

4. Pendidikan karakter
Di Indonesia pendidikan nya di warnai dengan banyak nya ujian, mulai dari ujian tulis, membaca dll. Hingga menjadi faktor untuk kenaikan kelas nantinya. Sedangkan di jepang, semua ujian itu tidak ada untuk 3 tahun pendidikan dasar mereka. Tujuannya supaya fokus dalam pendidikan karakter, seperti sopan santun, tolong menolong, bersikap di publik dsb. Karena pemerintah di sana percaya bahwa pendidikan karakter penting untuk pendidikan dasar dan membantu untuk pendidikan mereka nantinya.

5. Membaca dulu
Indonesia adalah negara urutan paling bawah doal minta baca, hal ini karena kurang nya minat baca orang Indonesia. Berbeda dengan jepang, di sana siswa di biasakan membaca selama 10 menit sebelum masuk pelajaran.

Berikut perbedaan pendidikan dasar di jepang dan masih banyak lagi perbedaan perbedaan lain nya. Meski sistem pendidikan Jepang punya banyak kelebihan di banding Indonesia, tetapi pendidikan Jepang juga mempunyai kekurangan. Tekanan belajar yg riuh dan kasus kematian ( bunuh diri ) yang tinggi
Nama : Iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Dalam video membahas mengenai Potret pendidikan di dusun terpencil yakni sikka, NTT. Sekolah yang terpencil ini membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah, karena proses belajar mengajar yg di lakukan di teras kelas alasan nya karena kurang nya jumlah kelas di SD tersebut.

Meski begitu, para siswa di sana masih mempunyai semangat untuk pergi mencari ilmu ke sekolah, meski harus berjalan kaki hingga 2km jauh nya.

Dalam video kepala sekolah berharap kepada pemerintah agar di buatkan tiang kelas guna kegiatan belajar mengajar yang layak dan nyaman.
Nama : Iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Di awal video kita di kenalkan dengan seorang pengajar muda dari gerakan Indonesia mengajar yakni martencis Siregar. Dia di tempatkan di desa terpencil yaitu desa tanjung matoa, Kalimantan barat.

Yang mana di desa tersebut pendidikan masih sangat minim dan kurang, bahkan masih banyak budaya pernikahan dini pada perempuan. Para orang tua di sana masih kurang sadar akan penting nya pendidikan. tujuan Martencis sendiri sangat sederhana yakni agar anak anak mau pergi ke sekolah, belajar dan bisa mempunyai bekal yang lebih baik untuk masa depan.

Dalam kelas, Martencis banyak menggunakan metode metode yg menarik karena mengajar di kelas yg rendah, menurutnya metode seperti itulah yg di butuhkan anak anak kelas rendah agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Cara memotivasi murid murid agar punya semangat belajar yg tinggi pun cukup unikk yakni dengan memberikan sebuah perjalanan cuma cuma keluar tanjung matoa dengan begitu mereka menjadi semangat, rajin dan giat untuk belajar di sekolah.
Nama : Iftah Farida Reza Nur
Npm : 2213053184

Identitas Jurnal
Nama Jurnal : Jurnal Pendidikan Agama Islam
Volume : 12
Nomor : 1
Halaman : 41-54
Tahun Terbit : 2014
Judul Jurnal : PROSES PENDIDIKAN NILAI MORAL DI LINGKUNGAN KELUARGA SEBAGAI UPAYA MENGATASI KENAKALAN REMAJA

Dari apa yang telah dipaparkan di atas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan
sebagai berikut:
Lingkungan keluarga sangat besar peranannya dalam pendidikan nilai moral keagamaan, karena di lingkungan keluargalah anak-anak pertama kali menerima pendidikan yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemerosotan moral pada anak, di antaranya: (1) Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak, (2) lingkungan masyarakat yang kurang baik, (3) Pendidikan moral tidak berjalan menurut semestinya, baik di keluarga, sekolah dan masyarakat, (4) Suasana rumah tangga yag kurang baik, (5) Banyak diperkenalkannya obat-obat terlarang dan alat- alat anti hamil, (6) Banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, saran-siaran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral, (7) Kurang adanya bimbingan dalam mengisi waktu luang dengan cara yang baik yang membawa kepada pembinaan nilai moral, (8) Kurangnya markas-markas bimbingan da penyuluhan bagi anak-anak. Agar anak-anak memiliki moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran- pelanggaran moral, maka perlu adanya pembinaan sejak dini kepada anak-anak dalam keluarga dan adanya kerjasama antara keluarga, sekolah dan masyarakat. sebaik apa pun pendidikan moral dalam keluarga tanpa adanya dukungan dari sekolah dan masyarakat, sulit bagi anak-anak untuk memiliki moral yang baik. Begitu juga pendidikan moral di sekolah, tanpa adanya dukungan dari keluarga dan masyarakat sulit bagi anak untuk memiliki moral yang baik. Dengan demikian, ketiga jenis lembaga ini tidak bisa dipisahkan dan harus saling mendukung. Proses pembinaan nilai-nilai moral keagamaan yang harus ditanamkan kepada anak-anak, dapat dimulai sejak anak lahir sampai ia dewasa. Ketika lahir diperkenalkan dengan kaliamah thoyyobah, kemudian setelah mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak, maka yang pertama harus ditanamkan ialah nilai- nilai agama yang berkaitan dengan keimanan, sehingga anak meyakini adanya Allah dan dapat mengenal Allah dengan seyakin-yakinnya (ma’rifatullah.
Bersamaan dengan itu, anak-anak juga dibimbing mengenai nilai-nilai moral, seperti cara bertutur kata yang baik, berpakaian yang baik, bergaul dengan baik, dan lain-lainnya. Kepada anak-anak juga ditanamkan sifat-sifat yang baik, seperti nilai- nilai kejujuran, keadilan, hidup serderhana, sabar dan lain-lainnya. Selain itu, agar anak-anak memiliki nilai-nilai moral yang baik, juga di dalam keluarga, khususnya antara ibu dan bapak harus menjaga harmonisasi hubungan antara keduanya dan harus menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya