Kiriman dibuat oleh F. Riska Elisa 2213053249

Nama : F. Riska Elisa
NPM : 2213053249


Dari video diatas , telah di tampilkan tentang siswa yang memiliki sikap yang kurang sopan dan kurang beretika terhadap guru yaitu

1. Peristiwa siswa yang bermain lempar kertas di kelas ketika sedang mengajar di kelas. Akibatnya guru tersebut memberikan hukuman kepada siswa tersebut dengan menyuruh untuk keluar dari kelas saat jam belajar sedang berlangsung. Hukuman ini bertujuan untuk memberikan efek jera serta pembelajaran pada siswa tersebut.

2. Peristiwa siswa yang menabrak guru tanpa meminta maaf, hal ini merupakan contoh perilaku kasar dan tidak menghormati otoritas. Guru dapat mengkomunikasi dengan siswa tersebut dan mengajarkan pentingnya meminta maaf.

3. Siswa yang melanggar aturan sekolah dengan mengeluarkan seragamnya, hal ini menunjukkan ketidakdisiplinan dan rasa hormat terhadap peraturan sekolah. Guru dapat memperingatkan dan mengajarkan tentang pentingnya mengenakan seragam sesuai peraturan sekolah serta hukuman yang dapat memberikan efek jera kepada siswa.

4. Peristiwa dimana terdapat dua murid yang merokok dan meminum-minuman keras. Sang guru pun mengetahui perbuatan mereka dan kemudian menasehati mereka.

Maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan nilai dan moral adalah pendidikan yang sangat penting untuk di ajarkan sedini mungkin untuk membentuk etika dan moral peserta didik. Sehingga generasi muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, beretika, dan memiliki rasa cinta terhadap negaranya. Sehingga, pembentukan karakter bangsa yang baik dan moral yang utuh dapat terwujud.
Nama : F. Riska Elisa
NPM : 2213053249

Pada lingkungan keluarga anak-anak pertama kali menerima pendidikan yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya.Maka dari itu lingkungan keluarga berperan penting dalam pendidikan nilai moral dan keagamaan.

Beberapa faktor yang menyebabkan
timbulnya kemerosotan moral pada anak, di antaranya yaitu
1. Kurang tertanamnya nilai-nilai keimanan pada anak-anak,
2. Lingkungan masyarakat yang kurang baik,
3. Pendidikan moral tidak berjalan menurut semestinya, baik di keluarga, sekolah dan masyarakat,
4. Suasana rumah tangga yag kurang baik,
5. Banyak diperkenalkannya obat-obat terlarang dan alatalat anti hamil,
6. Banyak tulisan-tulisan, gambar-gambar, saran-siaran yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral,
7. Kurang adanya bimbingan dalam mengisi waktu luang dengan cara yang baik yang membawa kepada pembinaan nilai moral,
8. Kurangnya markas-markas bimbingan da penyuluhan bagi anak-anak.

Maka dari itu supaya anak-anak memiliki moral yang baik dan terhindar dari pelanggaran-pelanggaran moral, maka perlu adanya pembinaan sejak dini kepada anak-anak dalam keluarga dan adanya kerjasama antara keluarga, sekolah dan masyarakat. Sebaik apa pun pendidikan moral dalam keluarga tanpa adanya dukungan dari sekolah dan masyarakat, sulit bagi anak-anak untuk memiliki moral yang baik.
Nama : F. Riska Elisa
NPM : 2213053249

Hard skill adalah keahlian yang bisa diukur dan dikuantifikasi. Sementara soft skill adalah keahlian yang bersifat subjektif.

Hard skill biasanya dipelajari melalui pengajaran di sekolah, pelatihan, buku, dan lain-lain. Skill ini dapat dinilai oleh perekrut dengan aplikasi dan instrumen tertentu. Nilai, ijazah dan sertifikat juga merupakan bukti yang nyata kalau kamu memang benar-benar menguasai hard skill tersebut. Adapun beberapa contoh hard skill yaitu. bahasa pemrograman (C++, Java, JavaScript, Phyton), UI/UX Design, keamanan jaringan, kemampuan berbahasa asing (bilingual/multilingual) dan SEO/SEM marketing.

Sedangkan Soft skill di sisi yang lain identik dengan kecerdasan emosional atau EQ seseorang. Selain itu skill ini juga identik dengan empati dan kemampuan interpersonal. Soft skill adalah kemampuan yang dibutuhkan oleh pekerjaan apapun. Cara terbaik untuk meningkatkan soft skill adalah dengan banyak berinteraksi dengan orang lain dan mengamati lingkungan
Adapun beberapa contoh soft skill yaitu berpikir kreatif, berpikir kritis, kolaborasi dan kerja sama tim, komunikasi, negosiasi, presentasi, empati dan kepemimpinan.
Nama : F. Riska Elisa
NPM : 2213053249

Pendidikan moral di sekolah harus mendapat perhatian serius untuk membangun generasi berkualitas bagi negara.

Meskipun peran utama pendidikan moral anak terletak di tangan orang tua, namun guru di sekolah juga memegang peranan penting dalam pendidikan moral yang dibutuhkan siswa. 

Keluarga, sekolah dan masyarakat mempunyai tanggung jawab bersama untuk mendidik generasi muda yang berakhlak mulia dan cerdas sehingga melahirkan generasi muda yang unggul.
Itulah tujuan utama pendidikan yang dikemukakan oleh Aristoteles.Pendidikan moral di sekolah perlu dirancang secara komprehensif mencakup banyak aspek, khususnya: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.
Nama : F. Riska Elisa
NPM : 2213053249


Di zaman modernisasi dan globalisasi melalui sosial media berbagai macam informasi yang kita temui menjadikan tolak ukur dalam pemikiran dan perilaku kita. Ada informasi positif dan informasi negatif, sebagai generasi muda kita dituntut untuk mengikuti zaman tapi disisi lain kita harus mampu melihat mana yang baik dan buruk untuk kita, karena kita generasi muda yang akan meneruskan bangsa ini.

Maraknya kasus-kasus yang kita lihat di media sosial dan televisi, menggambarkan perilaku manusia saat ini dan juga menggambarkan perilaku generasi muda saat ini. Permasalahan-permasalahan sosial seperti pembunuhan, pembullyan, pelecehan seksual, narkoba, penistaan agama, tawuran bahkan pembunuhan terhadap orang tua ini merupakan polemik yang memprihatinkan. Etika dan moral merupakan pedoman bagi setiap manusia.

Secara etimologi berasal dari bahasa latin yaitu "Mos" secara jamak yaitu "Mores" yang artinya kebiasaan atau adat.
Kemudian dalam kamus bahasa Indonesia moral diterjemahkan sebagai aturan kesusilaan mengenai baik-buruk, salah maupun benar. Sedangkan etika menurut Drs. H. Burhanuddin Salam menyatakan bahwasanya etika cabang ilmu filsafat yang membicarakan tentang nilai dan norma membentuk perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu etika dan moral sangat berkesinambungan.

Adapun terdapat 3 persamaan etika dan moral yaitu
1. Etika dan moral mengacu pada ajaran tentang perbuatan tingkah laku dan sifat seseorang.
2. Etika dan moral merupakan prinsip atau aturan hidup manusia.
3. Etika dan moral bukan faktor keturunan tetapi potensi positif yang dilakukan setiap orang untuk mengembangkan potensi tersebut perlu adanya pendidikan pembiasaan dan keteladanan serta dukungan lingkungan dari keluarga sekolah dan masyarakat.

Secara berkesinambungan dalam membahas etika dan moral yang paling dasar adalah keluarga karena keluarga merupakan kelompok yang paling utama bagi manusia. Pada kehidupan keluarga inti terdapat berbagai macam aturan yang terkandung didalamnya nilai-nilai itu seperti keagamaan sopan santun, kejujuran dan lain sebagainya. Meskipun kadangkala penerapan nilai itu mengalami kesulitan atau hambatan akan tetapi nilai-nilai itu kiranya sangat mendukung suatu keluarga dalam mempersiapkan dan mewujudkan sumberdaya yang berkualitas. Etika dan moral sering kita abaikan Contohnya seperti tidak pamit dan mencium tangan kepada orangtua sebelum pergi keluar rumah, tidak meminta maaf kepada orang tua bila melakukan kesalahan, tidak membantu ibu dalam melakukan pekerjaan rumah, tidak bertutur kata dengan lembut dan sopan kepada orang tua, membantah orangtua, tidak saling menghormati dan menghargai, berbohong kepada orang tua, tidak mendengarkan nasehat orang tua.

Dalam pengembangan etika dan moral perlu adanya dukungan dari pendidikan salah satunya sekolah. Sekolah merupakan aspek terpenting dalam menanamkan etika dan moral karena di sekolah ada tata tertib yang mengontrol siswa melihat kondisi sekolah saat ini dampak dari pandemi covert 19 pemerintah mengalihkan proses pembelajaran di rumah, bukan hal yang mudah melakukan pembelajaran di rumah tapi kita bisa mengantisipasi dan bisa mengurangi kesulitan itu dengan cara mengikuti aturan dalam proses pembelajaran daring. Tata cara melakukan pembelajaran daring sesuai dengan nilai dan norma yang paling utama yaitu sopan , banyak sekali siswa-siswi melupakan aturan berkomunikasi dengan baik saat pembelajaran daring misalkan lupa mengucapkan salam, lupa memperkenalkan diri, berkata seperti teman kepada guru, tidak mengikuti pembelajaran online. Hal ini banyak sekali ditemukan, seharusnya sebagai siswa lebih peka terhadap proses pembelajaran online, memiliki rasa tanggungjawab atas tugasnya sebagai siswa. Contoh etika berkomunikasi dengan baik dalam proses pembelajaran daring yaitu
1. Perhatikan waktu ketika ingin menghubungi bapak atau ibu guru. Pilihlah waktu saat pembelajaran daring hindari waktu ibadah istirahat dan tidak menghubungi terlalu sering .
2. Menggunakan bahasa yang baik dan sopan. Gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan mudah dimengerti oleh guru jadi jangan hubungi seperti teman walaupun kalian dekat dengan guru tersebut yang
3. Awali dengan salam-salam, hal ini merupakan bentuk menghormati orang lain dan ibadah. Contohnya bagi muslim Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh bagi non-muslim bisa menggunakan kata selamat pagi atau selamat siang dan contoh yang tidak baik hanya mengucapkan Halo pagi siang bahkan p.
4. Ucapkan kata maaf untuk menunjukkan sopan santun kita bisa mengucap kata-kata maaf karena kita tidak tahu Apa kesibukan bapak atau ibu guru. Contohnya Mohon maaf Bapak atau Ibu mengganggu waktunya.
5. Perkenalkan diri secara lengkap, perkenalkan diri kalian dengan menyebutkan nama lengkap dan kelas. Lalu gunakan nama asli dalam akun kalian hindari nama samaran untuk memudahkan bapak atau ibu guru dalam proses penilaiannya.
6. To the point , sampaikan tujuan kalian dengan jelas dan tidak bertele-tele.
7. Akhiri pesan dengan mengucapkan terima kasih. Etika berkomunikasi dalam satu grup chat atau video dengan sama gunakan nama asli di akun sosial media kalian, tampilkan foto asli di grup chat atau ampilkan wajah saat video, hindari pembicaraan diluar topik pembelajaran keempat bicara dan komentar yang baik dan sopan