གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ ALYA RIFA DWI PANGESTU 2213053152

Nama : Alya Rifa Dwi Pangestu
Npm : 2213053152
Kelas : 3/I

6 tahap perkembangan moral menurut Kohlberg
• Pra-konvensional
1. Menghindari hukuman
Setiap orang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak sesuatu karena untuk menghindari hukuman.
2. Keuntungan dan minat pribadi
Tindakan dilakukan dengan memperhitungkan apa yg didapatkan.
• Konvensional
1. Menjaga sikap orang baik
Memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadapnya.
2. Mmemlihara peraturan
Peraturan harus dipatuhi.
• Pasca-konvensional
1. Orientasi kontrak sosial
Setiap orang memiliki hak dan latar belakang yang berbeda
2. Prinsip etika universal
Menggambarkan prinsip internal sesorang
Nama : Alya Rifa Dwi Pangestu
Npm: 2213053152
Kelas : 3/I

Banyak faktor-faktor yang menjadi penyebabnhya salah satunya ialah faktor lingkungan,kekerasan tersebut bisa terjadi karena kurangnya pendidikan moral yang ditanamkan pada dirinya.Sebisa mungkin pendidikan moral ditanamkan sejak dini agar menjadi kebiasaan yang baik setelah dewasa.Pendidikan moral sangat perlu bagi kita, karena melalui pendidikan, perkembangan moral diharapkan mampu berjalan dengan baik, serasi dan sesuai dengan norma demi harkat dan martabat manusia itu sendiri.Tindak kekerasan dalam dunia pendidikan bukanlah hal yang kita inginkan, karena itu diharapkan dunia pendidikan dapat mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat dengan cara yang membangun.Menanamkan Nilai-Nilai Positif dalam Pembelajaran,melibatkan Orang tua dalam Proses Pembelajaran,dan Melakukan Pendekatan Individual dengan Siswa yang Memiliki Potensi untuk Melakukan Kekerasan.
Nama : Alya Rfa Dwi Pangestu
Npm; 2213053152
Kelas : 3/I

The Trolly problem membuat kita berfikir lebih jauh tentang konsekuensi dari sebuah pilihan.Sepanjang hidup kita pembelajaran moral seperti ini sudah seperti doktrin bagi kita bahwa harus ada yang dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar.Maka tidak heran jika moral sering digunakan untuk membenrakan perang,memberangus etnis tertentu,genocide,deskriminasi minoritas,pengrusakan lingkungan hanya demi alasan yang tidak masuk akal seperti demi kepentingan umum dan demi masa depan yang lebh cerah.
Nama: Alya Rifa Dwi Pangestu
Npm: 2213053152
Kelas: 3/I

Pendidikan nilai merupakan bagian integral kegiatan pendidikan,karena pada dasarnya pendidikan melibatkan pembentukan sikap,watak,dan kepribadian peserta didik.Era globalisasi telah membuat kehidupan mengalami perubahan yang signifikan,bahkan terjadi degradasi moral dan sosial budaya yang cenderung kepada pola-pola perilaku menyimpang.Dunia pendidikan telah kehilangan nilai-nilai moral,ini bisa dilihat dari kenyataan banyaknya praktik dalam dunia pwndidikan yang justru membuat anak belajar tidak jujur,curang,dan malas.Pendidikan nilai akan berhasil jika peserta didik ada diposisi batin yang benar,anatara lain sikap terbuka dan percaya,jujur,rendah hati,bertanggung jawab,berniat baik,dan taat melaksanakan nilai-nilai.Pendidikan nilai sebenarnyan dapat terlaksana melalui segala macam kegiatan yang memenuhi seluruh ruang dan waktu dimana saja,misalnya dilingkungan keluarga,sekolah,dan masyarakat.Disanalah nilai-nilai ditangkap,dalam proses pengamalan nilai diperlukan “penyadaran nilai” atau “pemahaman nilai”.
Nama: Alya Rifa Dwi Pangestu
Npm: 2213053152
Kelas:3/I

Di Indonesia, pendidikan nilai telah diatur dalam sistem pendidikan nasional. Ada delapan belas nilai yang perlu diintegrasikan guru dalam pembelajaran. Nilai-nilai tersebut dipupuk dengan memadukan nilai dengan isi kurikulum tertulis, kurikulum tidak tertulis (hidden curriculum), serta kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Artinya nilai yang akan dikembangkan harus diwujudkan dalam isi setiap mata pelajaran melalui proses pembelajaran di kelas, tugas di luar kelas, dan juga terwujud dalam aturan sekolah. Penanaman nilai kepada siswa di sekolah dapat dicapai melalui berbagai cara. Maragustam (2014) menemukan bahwa ada enam strategi dalam pembentukan nilai yang membutuhkan proses keberlanjutan seperti pembiasaan nilai, nilai budaya, pengetahuan moral, perasaan dan cinta yang baik, akting moral, dan nilai keteladanan. Oleh karena itu, para guru perlu mempelajari strategi yang digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai baik kepada siswa baik melalui pendidikan formal maupun nonformal.