གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Yuda Kristian Lumban Raja

Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM: 2213053260

Judul Jurnal:-
Judul:Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Din
Penulis: Lia Yuliana, M.Pd

Pengertian:
Menurut Sjarkawi, (2006: 28), mengemukakan bahwa moral merupakan
pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat
dilakukan. Selain itu moral juga merupakan seperangkat keyakinan dalam suatu
masyarakat berkenaan dengan karakter atau kelakuan dan apa yang seharusnya
dilakukan oleh manusia.
Jamie, 2003: 24 merumuskan pengertian
moral secara lebih komprehensif rumusan formalnya sebagai berikut:
1. Moral sebagai seperangkat ide-ide tentang tingkah laku dengan warna dasar
tertentu yang dipegang oleh sekelompok manusia dalam lingkungan hidup
tertentu.
2. Moral adalah ajaran tentang tingkah laku hidup yang berdasarkan pandangan
hidup atau agama tertentu.
3. Moral sebagai tingkah laku hidup manusia yang mendasarkan pada kesadaran
bahwa ia terikat oleh keharusan untuk mencapai yang baik, sesuai dengan nilai
dan norma yang berlaku dalam lingkungannya.

Nilai-Nilai Moral
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2000: 52-55) nilai moral memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
a. Berkaitan dengan tanggung jawab kita
b. Berkaitan dengan hati nurani
c. Mewajibkan
d. Bersifat formal

Pengertian Anak Usia Dini
A. Usia 0-1 tahun
Pada masa bayi perkembangan fisik mengalami kecepatan luar biasa, paling
cepat disbanding usia selanjutnya. Berbagai karakteristik usia bayi diantaranya:
1). Mempelajari keterampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk,
berdiri, dan berjalan
2). Mempelajari menggunakan panca indera.
3).Mempelajari komunikasi sosial.
B. Usia 2-3 tahun
Pada usia ini memiliki karakteristik yang sama pada usia selanjutnya, secara fisik
mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Karakteristik khusus pada usia ini
antara lain;
1). Anak sangat aktif mengeksplorasi benda-benda yang ada
disekitarnya.
2). Mulai mengembangkan kemampuan berbahasa.
3). Mulai
mengembangkan emosi.
C. Usia 4-6 tahun
Karakteristik usia ini antara lain:
1) Berkaitan dengan perkembangan fisik, anak sangat aktif melakukan kegiatan.
2). Perkembangan bahasa semakin baik.
3). Perkembangan kognitif sangat pesat.
4). Bentuk permainan anak masih bersifat individu.

Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini
1. Metode Bermain
2. Metode Bercerita
3. Metode Pemberian Tugas
4. Metode Bercakap-cakap

Cara Pelaksanaan Penanaman Nilai-Nilai Moral Pada Anak Usia Dini
1. Persiapan Kegiatan Pembelajaran
2. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
a. Penataan lingkungan bermain
b. Kegiatan Inti Pembelajaran
c. Kegiatan Penutup
Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM: 2213053260

moral adalah usaha yang dilakukan secara terencana untuk mengubah Sikap perilaku tindakan kelakuan yang dilakukan peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan masyarakatnya sesuai dengan nilai moral dan kebudayaan masyarakat setempat selanjutnya joget aku atau menjelaskan tentang tahap-tahap perkembangan moral yang pertama pada usia 6-12 bulan orang tua akan memandu mengendalikan dan melindungi bayi yang kedua usia 12-18 bulan membuat komitmen dan patuh sesuai dengan keadaan merupakan awal tanda hati nurani perhatian terhadap objek yang cacat atau rusak mencerminkan cemasan diri dalam melakukan hal yang salah yang ketiga pada usia 18-30 bulan anak mungkin menunjukkan perilaku menolong rasa bersalah malu dan empati mendorong perkembangan moral akurasi terkait mainin dan ruang muncul yang keempat pada usia 30 sampai 36 bulan atau fisik berkurang lebih banyak verbal yang kelima pada usia 3-4 tahun perilaku menolong yang lain menjadi lebih lazim tipsnya untuk menelpon pujian dan menarik penolakan rasa bersalah dan kepedulian mengenai berbuat salah memuncak yang keenam pada usia 4-6 tahun penalaran moral makin fleksibel yang ketujuh pada usia 7-8 tahun penalaran moral makin fleksibel 4i dan perilaku prososial meningkat agresi terutama jenis permusuhan berkurang yang ke-8 pada usia 9-11 tahun penalaran moral makin dipandu oleh rasa keadilan anak ingin menjadi baik untuk memelihara tatanan sosial agresif beralif ke hubungan yang kesembilan pada usia 12-15 tahun namun moral mencerminkan peningkatan kesadaran akan keadilan dan pembuat aturan yang kooperatif yang ke-10 pada usia udah sampai 20 tahun relativisme um mainkan peran penting dalam penalaran moral yang ke-11 dewasa muda pada usia 20-40 tahun penilaian moral bisa menjadi lebih rumit yang ke-12 dewasa tengah pada usia 40 sampai 65 tahun penilaian moral bisa membeli lebih milik yang ke-13 dewasa tua pada usia enam puluh lima tahun penilaian moral bisa menjadi lebih murid selanjutnya implikasi perkembangan sosial dan pribadi anak dalam KBM di sekolah dasar pada implikasi dalam KBM perkembangan pribadi dan sosial sangat diperlukan dalam belajar anak kadang memerlukan teman untuk membantu proses belajar tapi anak bisa melakukannya sendiri atau Mandiri selanjutnya saya akan menjelaskan tentang rindu krisis identitas gender dalam perkembangan moral anak sekolah dasar yaitu guru sebaiknya mengajarkan murid mengenai identitas gender supaya mengontrol atau perilaku mereka Sesuai dengan Winner nya Sebenarnya bukan hanya guru saja tetapi orang tua juga memiliki peranan yang sangat penting tetap ah enggak jelas ini tentang pendidikan moral sekarang kakak Mbak makalah ngasi tau ke kalian tentang permasalahan serta solusi perkembangan warna anak SD yang pertama hilangnya kejujuran hai ketika anak sudah terbiasa bersikap bohong itu akan membuang anak menjadi pribadi yang pembohong dan akan ketakutan ketika bersikap jujur masalah ini sering terjadi di sekolah ataupun di tempat lainnya misalnya ketika sedang lafalkan ujian sekarang ada selesai siswa yang mencontek atau bakal bekerjasama dengan temannya solusi atau untuk mengatasinya yaitu dengan mengajarkan anak untuk lebih percaya diri akan jawabannya mengajarkan anak untuk bersikap jujur ketika anak lebih caranya cukup Jangan memarahinya karena jika anak dimarahi maka ia akan takut ketika berbicara jujur dan memilih untuk penuh bicara bohong yang kedua hilangnya rasa tanggung jawab Hai guru dihaluskan untuk membimbing anak didiknya dan mengajarkan anaknya untuk memiliki rasa tanggungjawab misalnya ketika anak diberikan Tugas atau pekerjaan rumah ada saja siswa yang tidak mengerjakan tugasnya padahal tuh selama saja bahwa siswa itu tidak memiliki rasa tanggungjawab solusi dari hilangnya rasa tanggung jawab yaitu mengajarkan anak untuk bersikap tanggungjawab halte kecil yang bisa guru lakukan yaitu ketika ada sesuai adegan mengerjakan Tugasmu apa tekan diminta untuk maju kedepan dan mengerjakan soal yang akan diberikan oleh gurunya yang ketiga rendahnya disiplin misalnya masih saja ada siswa yang tidak tepat waktu untuk datang ke sekolah Jika ada siswa yang sedang terlambat ke sekolah sebaiknya guru dan kepala sekolah bersikap tegas jika guru tanpa prasekolah tidak bersifat tegas akan membuat tersebut menjadi terbiasa dan mampu data waktu yang keempat kurang bisa bekerjasama misalnya tapi kerja kelompok solusinya yaitu membiasakan anak untuk lebih banyak dalam seja sama Jangan biarkan kesel tidak aktif ketika kerjasama yang kelima mengambil hak orang lain misalnya mencuri solusinya yaitu membiasakan anak untuk menerima apa ya dia miliki Dan tidak boleh mengambil hak milik orang lain
Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM: 2213053260

PENDIDIKAN MORAL TANGGUNG JAWAB DIRI DALAM KELUARGA
ada tanggung jawab yang kita laksanakan di dalam keluarga yaitu:
1. Kita sebagai anak harus mendengarkan tanggung jawab ayah
2. Kita sebagai anak harus mempunyai tanggung jawab membantu ibu, misalnya membersihkan jendela
3. Jika kita memiliki seorang kakak, sebaiknya kita harus menemaninya saat keluar rumah sehingga aman dari marabahaya
4. Jika kita memiliki adik, kita harus menjaganya, melindunginya

KEPENTINGAN TANGGUNGJAWAB DALAM KELUARGA
Hubungan keluarga yang erat, maksudnya ialah dengan keluarga yang erat maka akan harmonis dan menyenangkan
Saling tolong menolong, sehingga meringankan tugas keluarga
Sebagai anak harus bertanggung jawab membanggakan keluarga
Kita harus melaksanakan tanggungjawab terhadap keluarga sehingga keharmonisan dan keeratan keluarga
Dapat disimpulkan ialah kewajiban tugas yang kita laksanakan, dengan melaksanakannya maka akan berdampak positif bagi keluarga itu sendiri
Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM: 2213053260

Judul: Jurnal Pengabdian
Dharma Laksana Mengabdi Untuk Negeri
Penulis: Ahmad Yani Nasution, Moh Jazuli
Judul Jurnal: MENANGKAL DEGRADASI MORAL DI ERA DIGITAL BAGI
KALANGAN MILLENIAL

Dari pelatihan menangkal degradasi moral dalam rangka kegiatan PKM ini adalah hendaknya tim dosen ataupun berbagai pihak lainnya serta dalam mendukung program untuk membuat para generasi muda, termasuk pemuda agar mempunyai bekal moral yang baik yang berguna bagi mereka. Tidak hanya itu, siswa harus diarahkan dan dibantu agar tidak hanya cerdas dalam akademis tetapi juga memiliki kemampuan softskill yang baik, terutama bagi siswa yang sedang mencari jati diri. Harapannya pelatihan-pelatihan semacam ini dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu kewajiban dosen untuk memenuhi kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menjadi aksi dari keterlibatan perguruan tinggi dalam pembangunan nasional. Dari kegiatan ini, masyarakat juga akan mendapatkan bekal untuk menyelesaikan permasalahan dan menjawab tantangan dalam kehidupannya. Masyarakat juga nantinya akan memberikan pembelajaran bagi perguruan tinggi tentang realitas kehidupan.

Metode pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dilakukan melalui sesi pelatihan dan diskusi. Sesi pelatihan meliputi presentasi dan diskusi antara pembicara dan peserta. Kegiatan PKM dilaksanakan di Mts Insan Madani Kp. Rahong Desa Tegallega Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor pada tanggal 17 s/d 19 Desember 2019 pukul 13.30 s/d 17.00 WIB. Sebelum kunjungan dilakukan tahap persiapan yang meliputi survei awal dan wawancara kepada kepala sekolah untuk menentukan prosedur PKM. Materi pelatihan disiapkan dan dipaparkan pada saat kegiatan PKM.

Sesi pelatihan tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai fenomena degradasi moral di kalangan generasi milenial di era digital dan memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sesi pelatihan dilakukan oleh tim dosen Universitas Pamulang bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Yayasan Sasmita Jaya dan program studi manajemen. Pelatihan tersebut berhasil memberikan soft skill kepada para peserta remaja di Mts Insan Madani. Disarankan agar keterlibatan dosen dan pihak lain terus dilanjutkan untuk mendukung program yang membekali generasi muda, termasuk remaja, dengan nilai-nilai moral yang baik. Selain itu, mahasiswa juga harus dibimbing dan dibantu untuk mengembangkan tidak hanya kecerdasan akademik namun juga soft skill yang baik, khususnya yang sedang dalam proses penemuan jati diri. Kegiatan pelatihan serupa diharapkan dapat terus dilaksanakan dan ditingkatkan di seluruh jenjang pendidikan.

Pelatihan tersebut berhasil memberikan soft skill kepada para peserta remaja di Mts Insan Madani. Para peserta menunjukkan antusiasme dan aktif mengikuti kegiatan. Keterlibatan berbagai pihak, termasuk dosen dan pemangku kepentingan lainnya, sangat penting dalam mendukung program dan membekali generasi muda dengan nilai-nilai moral yang baik.

Disarankan agar kegiatan pelatihan serupa dilanjutkan dan ditingkatkan di semua jenjang pendidikan. Keterlibatan dosen dan pihak lain harus didorong untuk mendukung program yang mengedepankan nilai-nilai moral di kalangan generasi muda. Selain itu, mahasiswa hendaknya dibimbing dan dibantu tidak hanya dalam kecerdasan akademisnya saja, namun juga dalam mengembangkan soft skill yang baik, khususnya yang sedang dalam proses penemuan jati diri.

Secara keseluruhan, kegiatan PKM berhasil menjawab permasalahan degradasi moral di kalangan generasi milenial di era digital dan memberikan wawasan serta solusi berharga untuk mengatasi permasalahan tersebut"
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang bertemakan “Memerangi Degradasi Moral di Era Digital di Kalangan Milenial” berhasil dilaksanakan oleh tim dosen Program Studi Manajemen Universitas Pamulang. Sesi pelatihan memberikan pemahaman mengenai fenomena degradasi moral di kalangan milenial di era digital dan menawarkan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Para peserta menunjukkan antusiasme dan aktif mengikuti kegiatan. Keterlibatan berbagai pihak, termasuk dosen dan pemangku kepentingan lainnya, sangat penting dalam mendukung program dan membekali generasi muda dengan nilai-nilai moral yang baik. Disarankan agar kegiatan pelatihan serupa dilanjutkan dan ditingkatkan di semua jenjang pendidikan untuk meningkatkan nilai-nilai moral di kalangan generasi muda
Nama: Yuda Kristian Lumban Raja
NPM: 2213053260

Judul: Jurnal Pedagogik
Penulis: Ulil Hidayah
Judul Jurnal: REKONSTRUKSI EVALUASI PENDIDIKAN MORAL
MENUJU HARMONI SOSIAL

Tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk manusia yang memiliki adab dan berwatak luhur dalam segala aspek kehidupannya. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik secara holistik, baik secara intelektual, emosional, maupun spiritual. Selain itu, pendidikan juga bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup, keterampilan, dan pengetahuan yang diperlukan untuk berkontribusi dalam masyarakat dan bangsa. Pendidikan nasional juga bertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki semangat nasionalisme, menghargai keberagaman, dan menjunjung tinggi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
objek kajian pembelajaran moral yang membentuk kepribadian pesera didik yang bisa menjamin kebersatuan kebhinnekaan dengan memiliki sikap sebagai berikut: 1) Taat pada ajaran agama yang dianutnya serta tidak mudah terprovokasi oleh kelompok lain, 2) mengikuti teladan nabi Muhammad; melalui peristiwa hijrahnya ke Madinah, peserta didik dapat meneladani kisah Nabi Muhammad SAW yang mempersaudarakan kaum anshor dan kaum muhajirin dan menciptakan perdamaian antara kaum muslim dan kaum non muslim melalui piagam Madinah. Sehingga menumbuhkan sikap toleransi, 3 ) Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, 4) Menghargai hidup dalam perbedaan di lingkungan jangkauan pergaulan dan keberadaannya, 5) Mempunyai semangat belajar untuk mengetahui berbagai wawasan keilmuan dan pemahaman tentang fenomena dan kejadian yang nampakdi sekitar lingkungan, sehingga bisa berpkir dan bersikap bijak ketika dihadapkan dengan gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan, 6) Mampu menalar dan mengurai secara mandiri berbagai aspek permasalahan di sekitar lingkungan hidupnya secara objektif, 7) Mempunyai wawasan pendidikan politik; tentang ketatanegaraan sehingga dapat menempatkan diri sebagai bagian dari warga negara, 8) Tumbuhnya semangat nasionalisme yang turut serta menjunjung keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Fauzi, 2017)."
Tantangan yang dihadapi dalam mengajar mata pelajaran di sekolah adalah sebagai berikut:

Kurangnya penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah. Saat ini, nilai-nilai moral dan etika seringkali hanya diajarkan secara formatif dan belum menjadi bagian yang terintegrasi dalam indikator pencapaian belajar peserta didik.

Tantangan ketika peserta didik sudah tidak berada di lingkungan sekolah. Materi pelajaran di sekolah harus mampu membentuk nilai-nilai yang diharapkan secara permanen dalam diri peserta didik, bahkan di luar lingkungan sekolah.

Materi pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dianggap bertanggung jawab atas kegelisahan dalam membangun relasi sosial. Namun, implementasi materi pelajaran ini masih perlu ditingkatkan agar peserta didik benar-benar memahami dan menghayati nilai-nilai agama dan kewarganegaraan.

Tidak adanya pendekatan yang dinamis dalam pembelajaran. Sistem pembelajaran yang kaku dan hanya mengharapkan peserta didik untuk patuh pada aturan-aturan belajar dapat menghambat perkembangan kreativitas dan kemampuan berpikir mandiri peserta didik.

Tidak adanya keterlibatan peserta didik secara aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik perlu diberikan ruang untuk mengeksplorasi pengetahuan mereka sendiri melalui sumber belajar yang tidak terbatas.
Tantangan yang dihadapi dalam persiapan, implementasi, dan evaluasi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di sekolah adalah sebagai berikut:

Persiapan Materi Pelajaran: Penanaman dan penghayatan sikap-sikap budi pekerti di sekolah masih bersifat formatif dan belum terwujud secara permanen dalam diri peserta didik. Materi pelajaran PAI dan PKn bertanggung jawab atas kegelisahan ini, namun tantangan muncul ketika peserta didik tidak berada di lingkungan sekolah.

Penghayatan Ajaran Agama: PAI bertujuan untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan ajaran agama Islam. Namun, penghayatan ini belum sepenuhnya tercapai dalam diri peserta didik.

Pendidikan Politik: PKn bertujuan untuk membantu peserta didik menjadi warga negara yang politik dewasa dan ikut serta membangun sistem politik demokratis. Namun, tantangan muncul dalam mengajarkan materi politik dan menumbuhkan semangat nasionalisme.
Toleransi dan Menghargai Perbedaan: Kedua mata pelajaran ini mencakup materi tentang menghargai perbedaan di tengah-tengah masyarakat. Namun, tantangan muncul dalam mengajarkan nilai-nilai toleransi dan mengatasi gesekan perbedaan dan perpecahan antar golongan.

Evaluasi Pendidikan Moral: Evaluasi pendidikan moral perlu direkonstruksi agar tidak hanya berfokus pada ranah kognitif, tetapi juga melibatkan aspek afektif dan psikomotorik peserta didik. Hal ini bertujuan untuk membentuk manusia yang beradab secara permanen.

Tujuan merekonstruksi evaluasi pendidikan moral adalah untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pendidikan moral guna mencapai keharmonisan sosial. Metode evaluasi yang ada saat ini mungkin tidak cukup menilai perkembangan moral dan perilaku siswa. Dengan mengevaluasi kembali dan merekonstruksi proses evaluasi, pendidik bertujuan untuk memastikan bahwa penilaian pendidikan moral melampaui aspek kognitif dan mencakup ranah afektif dan psikomotorik. Rekonstruksi ini diperlukan untuk menciptakan sistem evaluasi yang lebih komprehensif dan holistik yang dapat berkontribusi pada pembentukan individu yang bermoral tinggi dan mendorong keharmonisan sosial.

Hasil pendidikan yang diinginkan untuk mencapai masyarakat ideal adalah mengembangkan individu yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademis tetapi juga nilai-nilai moral dan karakter. Pendidikan bertujuan untuk mempersiapkan individu menjadi manusia utuh yang mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.