Kiriman dibuat oleh Azzahra Rindra Tiara 2213053117

Nama : Azzahra Rindra Tiara
NPM : 2213053117
Kelas : 3/I

Analisis Jurnal 2

A. Identitas Jurnal
- Judul : PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR BERDASARKAN TEORI KOHLBERG
- Nama Penulis: Enung Hasanah
- Nama Jurnal: JIPSINDO
- Volume : 6
- Nomor : 2
- Halaman : -
- Tahun Terbit : September 2019

B. Isi Jurnal
- Pembahasan/Hasil Penelitian
Berdasarkan jurnal tersebut saya dapat menarik kesimpulan bahwa jurnal tersebut membahas perkembangan moral yang sudah dipengaruhi oleh pendekatan perkembangan kognitif Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg. Teori Kohlberg mengenai perkembangan moral secara formal berakar pada karya Piaget. Teori (Kohlberg; L., Hersh, R.H. 1977) tentang Perkembangan Moral dibagi menjadi tiga level yang masing-masing level dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut.
1. Level 1 (Moralitas Pra-Konvensional)
- Tahap 1 Ketaatan dan Hukuman
Pada tahap ini anak-anak melihat aturan sebagai hal yang tetap dan absolut. Peraturan sangat penting untuk dipatuhi karena merupakan sarana untuk menghindari hukuman.
- Tahap 2 Individualisme dan Pertukaran
Pada tahap ini anak-anak menjelaskan sudut pandang individu dan menilai tindakan berdasarkan cara mereka melayani kebutuhan individu. Dalam dilema Heinz anak-anak berpendapat bahwa tindakan terbaik adalah pilihan yang paling baik untuk memenuhi kebutuhan Heinz. Timbal balik adalah mungkin tetapi hanya jika melayani kepentingan diri sendiri.

2. Level 2 (Moralitas Konvensional)
- Tahap 3 Hubungan Interpersonal
Tahap ini difokuskan untuk memenuhi harapan dan peran sosial dengan penekanan pada konformitas, bersikap baik, dan mempertimbangkan bagaimana pilihan mempengaruhi hubungan.
- Tahap 4 Menjaga Ketertiban Sosial
Pada tahap ini lebih fokus pada menjaga hukum dan ketertiban dengan mengikuti aturan, melakukan tugas seseorang, dan menghormati otoritas.

3. Level 3 (Moralitas Pasca-Konvensional)
- Tahap 5 Kontrak Sosial dan Hak Perorangan
Pada tahap ini seseorang memperhitungkan perbedaan nilai, pendapat, dan kepercayaan orang lain untuk mempertahankan masyarakat tetapi anggota masyarakat harus menyetujui standar ini.
- Tahap 6 Prinsip Universal
Tahap ini didasarkan pada prinsip etika universal dan penalaran abstrak. Pada tahap ini seseorang mengikuti prinsip keadilan yang di internalisasi, bahkan apabila mereka bertentangan dengan hukum dan peraturan.

Hasil analisis data Dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg menunjukkan bahwa anak-anak usia 11 sampai 12 tahun masih berada pada tahap pra konvensional tahap 1/2 yang dominan diikuti tahap 2 dan 2/3, yang cenderung mereka ingin melakukan sesuatu karena takut dihukum. Pada usia 11 sampai 12 tahun tersebut cenderung baru memasuki tingkat 1 tahap 1, meskipun pada kasus tertentu bisa saja berada pada tingkat perkembangan moral yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.

C. Kelebihan dan Kekurangan
- Kelebihan
Kelebihan dari jurnal di atas yaitu pada abstrak dan kata kunci menggunakan bahasa Inggris dan terdapat terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Sehingga dapat memudahkan pembaca yang kurang mengerti dalam berbahasa Inggris.
- Kekurangan
Kekurangan dari jurnal tersebut yaitu terdapat istilah-istilah yang menggunakan bahasa Inggris namun tidak ada artinya dalam bahasa Indonesia sehingga pembaca sulit untuk memahami artinya.
Nama : Azzahra Rindra Tiara
NPM : 2213053117
Kelas : 3/I

Analisis jurnal 1

A. IDENTITAS JURNAL
Judul Jurnal : "PENDIDIKAN NILAI MORAL DITINJAU DARI PERSPEKTIF GLOBAL"
Nama Penulis: Sudiati
Nama Jurnal : Cakrawala Pendidikan
Volume, No, dan Halaman: Th. XXVIII, No.2
Tahun : 2009

B. ISI JURNAL
- Hasil Penelitian
Berdasarkan jurnal tersebut saya dapat menarik kesimpulan bahwa pendidikan nilai moral merupakan pendidikan yang berusaha untuk mengembangkan komponen integrasi pribadi. Terdapat 17 model pendidikan nilai yang dapat dipertimbangkan oleh guru dengan masing-masing model tersebut mempunyai tujuan yang berbeda. 17 model tersebut dikelompokkan menjadi 4 buah rumpun penggolongan yaitu:
1. Model-model perkembangan (developmental models)
2. Model-model pengenalan diri (self-conceps models)
3. Model-model kepekaan dan kecenderungan kelompok (sensitivity and group-orientation models)
4. Model-model perluasan kesadaran (consciousness-ecpansion models)

Dalam memilih model pendidikan tersebut guru harus memperhatikan dua hal yaitu harus memenuhi tujuan dan kepentingan guru serta disesuaikan dengan keadaan struktur yang dapat dihadapi oleh peserta didik.
Menurut Muhadjir 1988:161, pendidikan nilai moral dapat diselenggarakan dengan menggunakan (i) metode dogmatis, (ii) metode deduktif, (iii) metode induktif, atau (iv) metode reflektif. Metode-metode tersebut harus dikembangkan secara rinci ke dalam teknik pembelajaran.
Pendidikan nilai moral ini dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pemecahan masalah yang bersifat lokal, regional, nasional, maupun internasional.

C. Kelebihan dan Kekurangan
- Kelebihan :
Penulisan dan pembahasan dalam jurnal sudah bagus di mana pembahasan sudah jelas dan menggunakan dari berbagai sumber yang dapat dipahami dengan baik. Pada pembahasan juga terdapat istilah yang menggunakan bahasa Inggris namun dilengkapi dengan artinya dalam bahasa Indonesia.
- Kekurangan :
Dari kelebihan yang ada pada jurnal tersebut, terdapat juga kekurangan yang mengurangi nilai kesempurnaan pada jurnal tersebut yaitu pada abstrak dan kata kunci yang ditulis hanya menggunakan bahasa Inggris saja. Sehingga pembaca yang kurang bisa dalam berbahasa Inggris sulit untuk memahami artinya.
Nama : Azzahra Rindra Tiara
NPM : 2213053117
Kelas : 3/I

Analisis video 2 dengan judul "Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern"

Berdasarkan video tersebut saya dapat mengambil kesimpulan bahwa video tersebut berisi tentang kejadian tragis yang terjadi di sekolah di mana siswa menganiaya gurunya hingga meninggal dunia. Kejadian tersebut sangat disayangkan dan sangat memprihatinkan bagi dunia pendidikan di Indonesia karena melanggar moral anak bangsa sebagai generasi penerus bangsa.
Dengan adanya kejadian tersebut maka guru di kelas diharapkan dapat melakukan pengelolaan kelas untuk menghadapi peserta didik tertentu. Misalnya seperti kasus ini yang pasti terjadi di banyak sekolah walaupun tidak banyak jumlah anak yang melakukan kasus seperti ini. Kasus seperti ini sangat tidak dibenarkan apalagi sampai adanya kekerasan yang dilakukan. Baik guru maupun siswa tidak boleh melakukan kekerasan seperti memukul. Dalam Undang-undang sudah diatur bahwa seorang guru memiliki 4 standar kompetensi utama yaitu kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, kompetensi profesional dan kompetensi pedagogik.

Latar belakang seorang peserta didik melakukan tindakan kekerasan tersebut yaitu dilihat pada tingkat kognisi atau kemampuan peserta didik untuk menalar dan berpikir apakah aksi tersebut berlanjut pada konsekuensi tertentu. Pada kasus ini anak tersebut tidak dapat mengontrol emosinya sehingga ia akan bereaksi seketika melakukan kekerasan dan tidak memikirkan bagaimana dampak yang akan terjadi kedepannya. Kemampuan untuk mengontrol emosi tersebut yang harus dilatih kepada anak tersebut.
Serta adapun latar belakangnya yaitu pada level toleransi terhadap stress atau frustasi. Dimana anak tersebut mudah stress, mudah tertekan, serta depresi karena pengaruh zaman dimana informasi mudah diserap. Dan juga tuntutan pembelajaran pada saat ini semakin berat yang harus dipelajari sehingga level stress pada peserta didik semakin meningkat dan tidak diimbangi dengan kemampuan untuk mengontrol diri mereka sendiri.

Dan berdasarkan video tersebut terdapat pertanyaan yaitu "Sebetulnya anak itu lebih penting dibekali kemampuan mengelola emosi atau pelajaran-pelajaran sekolah?"
Menurut saya keduanya sangat penting untuk diajarkan kepada anak di mana anak di sekolah diberikan pendidikan mengenai mata pelajaran di sekolah serta diimbangi dengan pembekalan kemampuan dalam mengelola emosi. Pentingnya dibekali kemampuan mengelola emosi tersebut yaitu karena anak dapat mengekspresikan diri mereka dengan tepat sesuai dengan emosi yang dirasakannya sehingga anak dapat memahami emosi orang lain dan memiliki sikap empati. Serta pembekalan pelajaran-pelajaran di sekolah bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anak dan dapat mengubah mereka menjadi lebih baik.
Nama : Azzahra Rindra Tiara
NPM : 2213053117
Kelas : 3/I

Analisis video 1 dengan judul "6 Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg"

Berdasarkan video tersebut saya dapat mengambil kesimpulan bahwa terdapat tiga level dengan dua tahap setiap levelnya pada tahap perkembangan moral menurut Kohlberg. Sehingga secara keseluruhan terdapat 6 tahap perkembangan moral menurutnya. Berikut ini merupakan level dan tahap-tahap perkembangannya:
1. Level 1 yaitu Pra-Konvensional. Dengan dua tahap yaitu:
1) Tahap 1: Menghindari hukuman
Pada tahap 1 (menghindari hukuman) ini seseorang memiliki alasan untuk bertindak atau tidak bertindak melakukan sesuatu dengan tujuan untuk menghindari suatu hukuman. Contohnya yaitu ketika seseorang tidak menerobos lampu merah semata-mata karena orang tersebut takut ditilang oleh polisi dan mendapatkan hukuman atas perbuatan pelanggaran tersebut.
2) Tahap 2: Keuntungan dan minat pribadi
Pada tahap 2 ( Keuntungan dan minat pribadi) ini memperhitungkan apa yang akan didapatkan oleh dirinya atas tindakan atau perbuatan yang telah dilakukan. Misalnya seperti apa keuntungannya bagi diri sendiri, membantunya karena suatu hari orang tersebut akan membalas untuk membantu saya.

2. Level 2 yaitu Konvensional. Dengan dua tahap yaitu:
3) Tahap 3: Menjaga sikap orang baik
Pada tahap 3 (menjaga sikap orang baik) ini seseorang menghindari suatu keributan atau pertengkaran karena orang tersebut memikirkan bagaimana kesepakatan sosial yang ada dan pendapat orang lain terhadap dirinya. Orang tersebut tidak bertengkar karena pertengkaran itu tidak baik dan orang baik tidak melakukan pertengkaran. Sehingga seseorang lebih memilih untuk menjaga sikap baik.
4) Tahap 4: Memelihara peraturan
Pada tahap 4 ( memelihara peraturan) ini seseorang harus mematuhi peraturan yang ada, karena apabila peraturan tersebut tidak dipatuhi maka keadaan akan menjadi kacau.

3. Level 3 yaitu Pasca-Konvensional. Dengan dua tahap yaitu:
5) Tahap 5: Orientasi kontrak sosial
Pada tahap 5 (orientasi kontrak sosial) ini seseorang menyadari bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan situasi yang berbeda. Ketika melihat sebuah kasus maka tidak ada yang absolut atau pasti, sehingga hak-hak individu harus dilihat bersamaan dengan hukum yang ada. Contohnya yaitu seperti pada kasus mencuri supaya tidak mati kelaparan berbeda dengan mencuri supaya menjadi kaya.
6) Tahap 6: Prinsip etika universal
Pada tahap 6 ( Prinsip etika universal) ini menggambarkan prinsip internal seseorang. Di mana seseorang tersebut melakukan hal yang dianggapnya benar, meskipun hal tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku.

Berdasarkan video tersebut yang berisi mengenai cerita dilema Heinz, maka yang harus dilakukan Heinz adalah saya memilih tahap 6 (prinsip etika universal yang menggambarkan prinsip internal seseorang) karena keadaan tersebut terjadi pada kondisi darurat dimana Heinz sangat memerlukan obat tersebut untuk istrinya yang sedang sekarang tetapi uang ia kurang untuk membayar obat tersebut dan dokter tersebut menolak untuk dibayar 1000 dollar terlebih dahulu yang kurangnya nantinya akan dibayar kemudian hari.