silahkan bagi kelompok yang bertugas Upload PPT, Makalah juga Notulensi diskusi terimakasih
Sebagai balasan muhisom M.Pd.I
Re: Upload PPT, Makalah juga Notulensi diskusi terimakasih
oleh Qorina Sholehati Amri -
Sebagai balasan muhisom M.Pd.I
Re: Upload PPT, Makalah juga Notulensi diskusi terimakasih
oleh Qorina Sholehati Amri -
Notulensi
1. Isna Afifatus Syifa: Di dalam PPT sudah di jelaskan bahwa perkembangan peserta didik dipengaruhi aspek fisik dan motorik. menurut kalian, apa yang bisa terjadi pada proses belajar jika guru tidak memperhatikan dua aspek ini di kelas?
Jawab:
Jika guru tidak memperhatikan aspek fisik dan motorik siswa, proses belajar bisa terganggu karena kondisi tubuh dan kemampuan gerak sangat memengaruhi konsentrasi dan keaktifan siswa. Siswa yang lelah atau kurang sehat akan sulit fokus, dan jika kegiatan belajar tidak sesuai dengan kemampuan gerak mereka, siswa bisa kesulitan mengikuti pelajaran. Akibatnya, pembelajaran menjadi kurang efektif dan siswa bisa tertinggal.
2. Mecha Adelia Safitri: Jika ada anak yang pertumbuhan fisiknya lebih lambat dari teman-temannya, apa dampaknya terhadap perkembangan sosial dan emosionalnya?
Jawab:
Jika seorang anak memiliki pertumbuhan fisik yang lebih lambat dibandingkan teman sebayanya, hal ini dapat berdampak pada perkembangan sosial dan emosionalnya. Anak mungkin menjadi kurang percaya diri, cenderung menarik diri dari pergaulan, atau merasa minder karena merasa berbeda. Secara emosional, anak juga bisa menjadi lebih sensitif dan mudah sedih. Namun, dampak tersebut dapat diminimalkan jika anak mendapatkan dukungan dari orang tua, guru, serta lingkungan yang positif dan tidak membanding-bandingkan.
3. Laudya Azhari: Jika guru tidak menyesuaikan strategi pembelajaran dengan tahap perkembangan siswa, apa dampak yang mungkin terjadi?
Jawab:
Dampak keterlambatan pertumbuhan fisik terhadap sosial-emosional:
Anak bisa merasa minder, kurang percaya diri, atau menarik diri dari pergaulan karena merasa berbeda. Ia juga berisiko menjadi bahan ejekan teman. Namun dampaknya tidak selalu negatif—jika lingkungan suportif, anak tetap bisa berkembang sosial-emosionalnya dengan baik.
Dampak guru tidak menyesuaikan strategi dengan tahap perkembangan:
Siswa bisa kesulitan memahami materi, cepat bosan, atau justru tertekan karena tuntutan tidak sesuai kemampuan. Akibatnya motivasi belajar menurun dan perkembangan akademik maupun emosional bisa terhambat.
4. Nia Nabila: Apa hubungan antara perkembangan emosional dengan keberhasilan peserta didik dalam bekerja sama di kelas?
Jawab:
Perkembangan emosional berpengaruh pada kemampuan siswa bekerja sama di kelas. Siswa yang bisa mengatur emosinya akan lebih sabar, mau mendengar pendapat teman, dan tidak mudah marah, sehingga kerja kelompok berjalan lancar. Sebaliknya, jika emosinya belum terkontrol, kerja sama bisa menjadi kurang efektif.
5. M. Daffa Fikriansyah: tak jarang pertumbuhan tinggi dan berat badan menjadi permasalahan pada setiap perkembangan anak, menurut kalian apa penyebab dari permasalahan tersebut lalu bagaimana cara agar permasalahan tersebut tidak terjadi?
Jawab:
penyebab
1. Asupan gizi tidak seimbang (kurang protein, zat besi, kalsium, dll.)
2. Kurang aktivitas fisik.
3. Faktor genetik.
4. Gangguan kesehatan (infeksi berulang, gangguan hormon).
pencegahan
1. Berikan makanan bergizi seimbang (karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral).
2. Biasakan aktivitas fisik rutin.
3. Pantau pertumbuhan secara berkala (misalnya di posyandu).
6. Aura Kharisma: Apakah benar tahapan perkembangan anak sesuai dengan fase-fade tadi? Karena ada anak yang kognitifnya tinggi tapi emosionalnya kurang.
Jawab:
Secara teori memang ada tahapan perkembangan anak yang sudah dibagi ke dalam fase-fase. Fase fase ini dibuat dari rata-rata perkembangan anak pada usia tertentu. Namun, dalam kenyataannya, perkembangan anak tidak selalu berjalan seimbang di semua aspek.
Ada anak yang perkembangan kognitifnya sangat cepat, misalnya kemampuan berpikir, memahami konsep, atau akademiknya melampaui usianya. Tetapi di sisi lain, perkembangan emosionalnya belum seimbang, misalnya mudah marah, sulit mengelola perasaan, atau kurang matang secara sosial.
Hal ini sebenarnya wajar. Perkembangan anak bersifat multidimensional dan tidak selalu sinkron. Otak bagian kognitif bisa berkembang lebih cepat, sementara kemampuan regulasi emosi yang berkaitan dengan kematangan psikologis berkembang dengan tempo berbeda. Kondisi seperti ini sering disebut perkembangan yang tidak selaras atau asynchronous development.
Lalu bagaimana menyikapinya?
Anak seperti ini tetap perlu distimulasi sesuai kemampuan kognitifnya agar tidak bosan, tetapi juga perlu pendampingan dalam aspek emosional. Guru dan orang tua perlu membantu anak belajar mengenali emosi, mengelola frustrasi, serta melatih empati dan keterampilan sosial. Tugas kita adalah menyesuaikan pendekatan agar semua aspek perkembangan dapat tumbuh secara lebih seimbang.
7. Irin Ratih Indriyani: Peserta didik usia 11-12 tahun sudah dibilang siap dalam diberikan tugas kelompok. Kaitkan dengan motorik!
Jawab:
Peserta didik usia 11 - 12 thn sudah di bilang siap dalam diberikan tugas kelompok. Kaitkan dengan motorik
Jawaban : Peserta didik usia 11–12 tahun sudah memiliki perkembangan motorik kasar dan halus yang cukup matang, sehingga siap diberi tugas kelompok. Mereka mampu bergerak dan berkoordinasi dengan baik (motorik kasar) serta sudah terampil menulis, menyusun tugas, atau membuat karya bersama (motorik halus). Kematangan ini membantu mereka bekerja sama dan berkontribusi aktif dalam kelompok.
8. Natasya Khodijah Setiawan: Apakah perkembangan aspek kognitif mempengaruhi kemampuan berfikir dan pemecahan masalah anak?
Jawab:
Semakin matang kognitifnya, semakin mampu berpikir logis dan sistematis. Daya ingat dan perhatian meningkat maka lebih mudah menganalisis masalah. Mampu melihat sebab akibat maka solusi lebih tepat. Bisa mempertimbangkan beberapa alternatif sebelum mengambil keputusan.
Jika perkembangan kognitif belum optimal, anak cenderung:
1. Berpikir konkret dan terbatas.
2. Sulit memahami konsep abstrak.
3. Kesulitan menyusun strategi saat menghadapi masalah.
Intinya, kematangan kognitif menentukan kualitas cara anak berpikir dan menyelesaikan masalah.
9. Chyka Audea: Dalam aspek motorik ada motorik kasar dan halus. Bagaimana indikator konten untuk menilai bahwa perkembangan motorik pada anak sudah sesuai?
Jawab:
Dimana aspek motorik ada kasar dan halus. Bagaimana indikator konten untuk menilai bahwa perkembangan motorik pada anak sudah sesuai?
Jawab:
Indikator perkembangan motorik anak dilihat dari motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar ditandai dengan kemampuan berlari, melompat, menjaga keseimbangan, serta menangkap atau melempar bola dengan baik sesuai usia. Motorik halus ditandai dengan kemampuan memegang pensil dengan benar, menulis atau menggambar rapi, menggunting mengikuti garis, dan melakukan aktivitas kecil seperti mengancingkan baju. Jika kemampuan tersebut sesuai tahap usianya, maka perkembangan motorik anak dapat dikatakan baik.
10. Lidwina Erica: Jika guru tidak menyesuaikan metode pembelajaran dengan tahapan perkembangan usia 9-12 tahun, dampak apa yang mungkin terjadi terhadap proses belajar siswa?
Jawab:
Jika guru tidak menyesuaikan metode pembelajaran dengan tahap perkembangan usia 9-12 tahun dampak apa yang mungkin terjadi pada proses belajar siswa. Jika guru tidak menyesuaikan metode dengan tahap perkembangan usia 9–12 tahun, dampaknya bisa:
1. Siswa cepat bosan atau kehilangan minat belajar.
2. Sulit memahami materi karena tidak sesuai kemampuan berpikirnya (usia ini mulai berpikir logis konkret).
3. Partisipasi rendah dan kurang aktif berdiskusi.
4. Kepercayaan diri menurun jika materi terlalu sulit atau terlalu mudah.
5. Hasil belajar tidak optimal.
Intinya, ketidaksesuaian metode membuat proses belajar kurang efektif dan tidak sesuai kebutuhan perkembangan siswa.
1. Isna Afifatus Syifa: Di dalam PPT sudah di jelaskan bahwa perkembangan peserta didik dipengaruhi aspek fisik dan motorik. menurut kalian, apa yang bisa terjadi pada proses belajar jika guru tidak memperhatikan dua aspek ini di kelas?
Jawab:
Jika guru tidak memperhatikan aspek fisik dan motorik siswa, proses belajar bisa terganggu karena kondisi tubuh dan kemampuan gerak sangat memengaruhi konsentrasi dan keaktifan siswa. Siswa yang lelah atau kurang sehat akan sulit fokus, dan jika kegiatan belajar tidak sesuai dengan kemampuan gerak mereka, siswa bisa kesulitan mengikuti pelajaran. Akibatnya, pembelajaran menjadi kurang efektif dan siswa bisa tertinggal.
2. Mecha Adelia Safitri: Jika ada anak yang pertumbuhan fisiknya lebih lambat dari teman-temannya, apa dampaknya terhadap perkembangan sosial dan emosionalnya?
Jawab:
Jika seorang anak memiliki pertumbuhan fisik yang lebih lambat dibandingkan teman sebayanya, hal ini dapat berdampak pada perkembangan sosial dan emosionalnya. Anak mungkin menjadi kurang percaya diri, cenderung menarik diri dari pergaulan, atau merasa minder karena merasa berbeda. Secara emosional, anak juga bisa menjadi lebih sensitif dan mudah sedih. Namun, dampak tersebut dapat diminimalkan jika anak mendapatkan dukungan dari orang tua, guru, serta lingkungan yang positif dan tidak membanding-bandingkan.
3. Laudya Azhari: Jika guru tidak menyesuaikan strategi pembelajaran dengan tahap perkembangan siswa, apa dampak yang mungkin terjadi?
Jawab:
Dampak keterlambatan pertumbuhan fisik terhadap sosial-emosional:
Anak bisa merasa minder, kurang percaya diri, atau menarik diri dari pergaulan karena merasa berbeda. Ia juga berisiko menjadi bahan ejekan teman. Namun dampaknya tidak selalu negatif—jika lingkungan suportif, anak tetap bisa berkembang sosial-emosionalnya dengan baik.
Dampak guru tidak menyesuaikan strategi dengan tahap perkembangan:
Siswa bisa kesulitan memahami materi, cepat bosan, atau justru tertekan karena tuntutan tidak sesuai kemampuan. Akibatnya motivasi belajar menurun dan perkembangan akademik maupun emosional bisa terhambat.
4. Nia Nabila: Apa hubungan antara perkembangan emosional dengan keberhasilan peserta didik dalam bekerja sama di kelas?
Jawab:
Perkembangan emosional berpengaruh pada kemampuan siswa bekerja sama di kelas. Siswa yang bisa mengatur emosinya akan lebih sabar, mau mendengar pendapat teman, dan tidak mudah marah, sehingga kerja kelompok berjalan lancar. Sebaliknya, jika emosinya belum terkontrol, kerja sama bisa menjadi kurang efektif.
5. M. Daffa Fikriansyah: tak jarang pertumbuhan tinggi dan berat badan menjadi permasalahan pada setiap perkembangan anak, menurut kalian apa penyebab dari permasalahan tersebut lalu bagaimana cara agar permasalahan tersebut tidak terjadi?
Jawab:
penyebab
1. Asupan gizi tidak seimbang (kurang protein, zat besi, kalsium, dll.)
2. Kurang aktivitas fisik.
3. Faktor genetik.
4. Gangguan kesehatan (infeksi berulang, gangguan hormon).
pencegahan
1. Berikan makanan bergizi seimbang (karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral).
2. Biasakan aktivitas fisik rutin.
3. Pantau pertumbuhan secara berkala (misalnya di posyandu).
6. Aura Kharisma: Apakah benar tahapan perkembangan anak sesuai dengan fase-fade tadi? Karena ada anak yang kognitifnya tinggi tapi emosionalnya kurang.
Jawab:
Secara teori memang ada tahapan perkembangan anak yang sudah dibagi ke dalam fase-fase. Fase fase ini dibuat dari rata-rata perkembangan anak pada usia tertentu. Namun, dalam kenyataannya, perkembangan anak tidak selalu berjalan seimbang di semua aspek.
Ada anak yang perkembangan kognitifnya sangat cepat, misalnya kemampuan berpikir, memahami konsep, atau akademiknya melampaui usianya. Tetapi di sisi lain, perkembangan emosionalnya belum seimbang, misalnya mudah marah, sulit mengelola perasaan, atau kurang matang secara sosial.
Hal ini sebenarnya wajar. Perkembangan anak bersifat multidimensional dan tidak selalu sinkron. Otak bagian kognitif bisa berkembang lebih cepat, sementara kemampuan regulasi emosi yang berkaitan dengan kematangan psikologis berkembang dengan tempo berbeda. Kondisi seperti ini sering disebut perkembangan yang tidak selaras atau asynchronous development.
Lalu bagaimana menyikapinya?
Anak seperti ini tetap perlu distimulasi sesuai kemampuan kognitifnya agar tidak bosan, tetapi juga perlu pendampingan dalam aspek emosional. Guru dan orang tua perlu membantu anak belajar mengenali emosi, mengelola frustrasi, serta melatih empati dan keterampilan sosial. Tugas kita adalah menyesuaikan pendekatan agar semua aspek perkembangan dapat tumbuh secara lebih seimbang.
7. Irin Ratih Indriyani: Peserta didik usia 11-12 tahun sudah dibilang siap dalam diberikan tugas kelompok. Kaitkan dengan motorik!
Jawab:
Peserta didik usia 11 - 12 thn sudah di bilang siap dalam diberikan tugas kelompok. Kaitkan dengan motorik
Jawaban : Peserta didik usia 11–12 tahun sudah memiliki perkembangan motorik kasar dan halus yang cukup matang, sehingga siap diberi tugas kelompok. Mereka mampu bergerak dan berkoordinasi dengan baik (motorik kasar) serta sudah terampil menulis, menyusun tugas, atau membuat karya bersama (motorik halus). Kematangan ini membantu mereka bekerja sama dan berkontribusi aktif dalam kelompok.
8. Natasya Khodijah Setiawan: Apakah perkembangan aspek kognitif mempengaruhi kemampuan berfikir dan pemecahan masalah anak?
Jawab:
Semakin matang kognitifnya, semakin mampu berpikir logis dan sistematis. Daya ingat dan perhatian meningkat maka lebih mudah menganalisis masalah. Mampu melihat sebab akibat maka solusi lebih tepat. Bisa mempertimbangkan beberapa alternatif sebelum mengambil keputusan.
Jika perkembangan kognitif belum optimal, anak cenderung:
1. Berpikir konkret dan terbatas.
2. Sulit memahami konsep abstrak.
3. Kesulitan menyusun strategi saat menghadapi masalah.
Intinya, kematangan kognitif menentukan kualitas cara anak berpikir dan menyelesaikan masalah.
9. Chyka Audea: Dalam aspek motorik ada motorik kasar dan halus. Bagaimana indikator konten untuk menilai bahwa perkembangan motorik pada anak sudah sesuai?
Jawab:
Dimana aspek motorik ada kasar dan halus. Bagaimana indikator konten untuk menilai bahwa perkembangan motorik pada anak sudah sesuai?
Jawab:
Indikator perkembangan motorik anak dilihat dari motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar ditandai dengan kemampuan berlari, melompat, menjaga keseimbangan, serta menangkap atau melempar bola dengan baik sesuai usia. Motorik halus ditandai dengan kemampuan memegang pensil dengan benar, menulis atau menggambar rapi, menggunting mengikuti garis, dan melakukan aktivitas kecil seperti mengancingkan baju. Jika kemampuan tersebut sesuai tahap usianya, maka perkembangan motorik anak dapat dikatakan baik.
10. Lidwina Erica: Jika guru tidak menyesuaikan metode pembelajaran dengan tahapan perkembangan usia 9-12 tahun, dampak apa yang mungkin terjadi terhadap proses belajar siswa?
Jawab:
Jika guru tidak menyesuaikan metode pembelajaran dengan tahap perkembangan usia 9-12 tahun dampak apa yang mungkin terjadi pada proses belajar siswa. Jika guru tidak menyesuaikan metode dengan tahap perkembangan usia 9–12 tahun, dampaknya bisa:
1. Siswa cepat bosan atau kehilangan minat belajar.
2. Sulit memahami materi karena tidak sesuai kemampuan berpikirnya (usia ini mulai berpikir logis konkret).
3. Partisipasi rendah dan kurang aktif berdiskusi.
4. Kepercayaan diri menurun jika materi terlalu sulit atau terlalu mudah.
5. Hasil belajar tidak optimal.
Intinya, ketidaksesuaian metode membuat proses belajar kurang efektif dan tidak sesuai kebutuhan perkembangan siswa.
Sebagai balasan muhisom M.Pd.I
Re: Upload PPT, Makalah juga Notulensi diskusi terimakasih
oleh Qorina Sholehati Amri -