Masalah, Ancaman, dan Tantangan Konservasi di Indonesia

Pertemuan IV. Masalah, Ancaman, dan Tantangan Konservasi di Indonesia

A. Deskripsi Modul

Indonesia merupakan salah satu negara megabiodiversitas dunia dengan kekayaan ekosistem, spesies, dan sumber daya genetik yang sangat tinggi. Keanekaragaman tersebut sekaligus menghadapi tekanan yang kompleks, mulai dari perubahan penggunaan lahan, deforestasi dan fragmentasi habitat, eksploitasi berlebihan, perdagangan satwa liar, spesies asing invasif, pencemaran, perubahan iklim, hingga konflik manusia–satwa liar.

Masalah konservasi di Indonesia tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan ekologis. Ancaman terhadap keanekaragaman hayati merupakan hasil interaksi antara faktor ekologis, ekonomi, sosial, budaya, politik, teknologi, kelembagaan, dan tata kelola.

Dokumen Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 menempatkan konservasi dalam kerangka yang lebih luas, yaitu kelestarian ekosistem, spesies dan genetik, pemanfaatan berkelanjutan, serta penguatan tata kelola dan implementasi. (Perpustakaan Bappenas)

Dengan demikian, mahasiswa Biokonservasi diharapkan tidak hanya mampu mengidentifikasi ancaman, tetapi juga menganalisis akar masalah dan merancang respons konservasi yang berbasis bukti (evidence-based conservation).


B. Capaian Pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu:

1.   Menjelaskan berbagai masalah dan ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati Indonesia.

2.   Membedakan antara masalah, ancaman, penyebab langsung, dan penyebab tidak langsung dalam konservasi.

3.   Menganalisis hubungan antara perubahan penggunaan lahan, fragmentasi habitat, eksploitasi, pencemaran, perubahan iklim, dan kehilangan biodiversitas.

4.   Menganalisis kasus konservasi Indonesia menggunakan pendekatan DPSIR.

5.   Mengevaluasi efektivitas pendekatan konservasi in situ, ex situ, restorasi, perlindungan habitat, dan konservasi berbasis masyarakat.

6.   Mengevaluasi tantangan tata kelola konservasi, termasuk konflik kepentingan, penegakan hukum, pendanaan, data, dan partisipasi masyarakat.

7.   Merumuskan alternatif strategi konservasi yang ekologis, sosial, ekonomi, dan kelembagaan secara terintegrasi.

 

 

C. Peta Konsep

KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA

TEKANAN TERHADAP BIODIVERSITAS

┌─────────────────────┼─────────────────────┐

▼                     ▼                     ▼

Faktor langsung      Faktor tidak langsung   Faktor global

│                     │                     │

▼                     ▼                     ▼

Habitat loss           Ekonomi                Perubahan iklim

Fragmentasi            Demografi              Globalisasi

Eksploitasi            Kebijakan              Perdagangan

Perdagangan            Tata kelola            Konsumsi

Pencemaran             Budaya

Invasif                Teknologi

PERUBAHAN KONDISI EKOSISTEM

PENURUNAN POPULASI/SPESIES

HILANGNYA BIODIVERSITAS

DAMPAK TERHADAP MANUSIA

RESPONS KONSERVASI

┌───────────────┼────────────────┐

▼               ▼                ▼

Perlindungan       Restorasi       Pemanfaatan

habitat            ekosistem       berkelanjutan

│               │                │

└───────────────┼────────────────┘

TATA KELOLA ADAPTIF

 

 

 

 

 

D. Konsep Dasar: Masalah, Ancaman, dan Tantangan

Ketiga istilah tersebut sering digunakan secara bergantian, padahal secara analitis berbeda.

Istilah

Pengertian

Contoh

Masalah konservasi

Kondisi yang menunjukkan adanya penurunan atau gangguan terhadap biodiversitas

Populasi harimau menurun

Ancaman

Faktor yang secara langsung meningkatkan risiko terhadap biodiversitas

Perburuan, kehilangan habitat

Driver

Faktor yang mendorong munculnya ancaman

Ekspansi perkebunan

Tekanan/pressure

Bentuk tekanan yang bekerja pada ekosistem atau populasi

Deforestasi, fragmentasi

Dampak

Konsekuensi ekologis dan sosial dari perubahan tersebut

Penurunan populasi, konflik satwa

Tantangan konservasi

Hambatan dalam merancang dan melaksanakan solusi

Konflik kepentingan, keterbatasan dana, lemahnya koordinasi

Contoh

Misalnya terjadi penurunan populasi tapir Asia (Tapirus indicus):

Driver:
ekspansi perkebunan + pembangunan jalan

Ancaman:
kehilangan dan fragmentasi habitat

Dampak ekologis:
isolasi populasi + penurunan konektivitas

Masalah konservasi:
populasi menjadi lebih kecil dan terfragmentasi

Tantangan:
bagaimana menghubungkan kawasan habitat tanpa menghambat aktivitas ekonomi masyarakat?

Kerangka seperti ini jauh lebih kuat dibandingkan sekadar menyatakan bahwa "pembangunan merupakan ancaman terhadap tapir."

E. Ancaman Utama terhadap Konservasi di Indonesia

1. Kehilangan dan Perubahan Habitat

Kehilangan habitat merupakan salah satu ancaman fundamental bagi biodiversitas Indonesia.

Perubahan tutupan hutan dapat terjadi akibat:

·     ekspansi perkebunan;

·     pertanian;

·     pertambangan;

·     pembangunan jalan;

·     permukiman;

·     bendungan dan infrastruktur;

·     pembangunan kawasan industri;

·     kebakaran;

·     konversi ekosistem pesisir;

·     pembangunan pariwisata.

Data Global Forest Watch menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan sekitar 300 ribu ha hutan alam pada 2025; dalam periode 2002–2025, kehilangan hutan primer basah mencapai sekitar 11 juta ha. Data tersebut menggunakan metodologi penginderaan jauh dan perlu dibedakan dari statistik deforestasi resmi pemerintah. (Global Forest Watch)

Dampak ekologis

Kehilangan habitat menyebabkan:

  • berkurangnya luas habitat;
  • penurunan daya dukung;
  • hilangnya sumber pakan;
  • perubahan mikroklimat;
  • penurunan populasi;
  • hilangnya spesies lokal;
  • perubahan interaksi antarspesies.

F. Fragmentasi Habitat

Kehilangan habitat sering diikuti oleh fragmentasi, yaitu terpecahnya habitat yang sebelumnya kontinu menjadi fragmen-fragmen yang lebih kecil.

Fragmentasi dapat menyebabkan:

Hutan kontinu

████████████████████

 

↓ fragmentasi

 

███     █████     ██

███   ████    ███

███      ███

Dampaknya meliputi:

  1. meningkatnya edge effect;
  2. berkurangnya habitat interior;
  3. terisolasinya populasi;
  4. menurunnya dispersal;
  5. meningkatnya inbreeding;
  6. meningkatnya risiko kepunahan lokal;
  7. meningkatnya interaksi manusia–satwa.

Kajian tahun 2024 mengenai fragmentasi hutan Indonesia menekankan bahwa perubahan penggunaan lahan, ekspansi pertanian, dan pembangunan infrastruktur merupakan tekanan penting yang menghasilkan fragmentasi serta konsekuensi seperti perubahan perilaku satwa dan konflik manusia–satwa. (ScienceDirect)

Konsep penting

Mahasiswa perlu membedakan:

Habitat loss ≠ habitat fragmentation

Habitat loss = habitat berkurang sedangkan  Fragmentation = habitat menjadi terpecah-pecah. Keduanya dapat terjadi secara bersamaan tetapi mempunyai mekanisme ekologis yang berbeda.

G. Eksploitasi Sumber Daya Hayati

Eksploitasi dapat berupa:

·     perburuan;

·     penangkapan ikan;

·     penebangan;

·     pengumpulan tumbuhan;

·     pengambilan telur;

·     perdagangan satwa;

·     perdagangan tumbuhan;

·     pemanenan hasil hutan bukan kayu.

Masalah utamanya bukan semata-mata apakah pemanfaatan tersebut legal atau ilegal, tetapi apakah tingkat pemanfaatannya berkelanjutan secara ekologis.

Kajian mengenai perdagangan satwa liar menunjukkan bahwa perdagangan legal sekalipun tidak otomatis berarti berkelanjutan. Banyak perdagangan belum didukung data populasi dan bukti ilmiah yang cukup untuk menentukan tingkat pemanenan yang aman. (ScienceDirect)

Prinsip penting: Legal ≠ sustainable dan Illegal ≠ satu-satunya masalah eksploitasi.

H. Perdagangan Satwa Liar

Perdagangan satwa liar dapat menjadi ancaman melalui:

·     pengambilan langsung dari alam;

·     mortalitas selama transportasi;

·     penurunan ukuran populasi;

·     seleksi terhadap individu tertentu;

·     hilangnya fungsi ekologis;

·     penyebaran penyakit;

·     introduksi spesies ke lokasi baru.

Perdagangan burung, misalnya, telah menjadi perhatian penting di Indonesia. Penelitian menunjukkan bahwa data pasar dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies yang mengalami tekanan eksploitasi meskipun status konservasinya belum selalu tercermin dalam daftar merah. (ScienceDirect)

I. Konflik Manusia–Satwa Liar

Konflik manusia–satwa liar merupakan konsekuensi dari meningkatnya tumpang tindih ruang antara manusia dan satwa.

Contoh:

  • gajah memasuki perkebunan;
  • harimau memangsa ternak;
  • orangutan memasuki perkebunan;
  • buaya menyerang manusia;
  • monyet merusak tanaman;
  • tapir masuk ke lahan pertanian.

Namun, mahasiswa perlu memahami bahwa konflik tidak hanya merupakan "masalah satwa."

Konflik merupakan hasil interaksi:

perubahan habitat + aktivitas manusia + perilaku satwa + tata ruang + persepsi masyarakat + nilai ekonomi.

Karena itu, pendekatan konservasi perlu bergeser dari: "mengendalikan satwa" menjadi: "mengelola interaksi manusia–satwa."

Hal ini sejalan dengan Target 4 Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (GBF), yang menekankan pemulihan spesies terancam sekaligus pengelolaan interaksi manusia–satwa untuk meminimalkan konflik. (Convention on Biological Diversity)

J. Spesies Asing Invasif

Spesies asing invasif (invasive alien species) dapat menyebabkan:

  • kompetisi;
  • predasi;
  • perubahan struktur komunitas;
  • transmisi penyakit;
  • perubahan proses ekosistem;
  • kepunahan lokal.

Contoh yang relevan untuk Indonesia antara lain:

  • Mikania micrantha;
  • Acacia nilotica;
  • Eichhornia crassipes;
  • ikan introduksi tertentu;
  • predator introduksi pada ekosistem pulau.

Masalah utama adalah prevention is better than eradication.

Begitu spesies invasif telah tersebar luas, biaya pengendalian biasanya jauh lebih besar dan peluang eradikasinya semakin kecil.

Target 6 GBF secara khusus menetapkan pengurangan dampak spesies asing invasif dan pengelolaan jalur introduksinya. (Convention on Biological Diversity)

K. Pencemaran

Pencemaran dapat berasal dari:

  • limbah domestik;
  • industri;
  • pertanian;
  • pertambangan;
  • plastik;
  • pestisida;
  • logam berat;
  • nutrien berlebih.

Dampaknya dapat terjadi pada:

Tingkat individu

  • gangguan fisiologi;
  • toksisitas;
  • gangguan reproduksi.

Tingkat populasi

  • penurunan survival;
  • penurunan recruitment.

Tingkat ekosistem

  • eutrofikasi;
  • perubahan struktur komunitas;
  • penurunan kualitas habitat.

GBF memasukkan pencemaran sebagai salah satu ancaman utama biodiversitas melalui Target 7, termasuk pengurangan risiko pestisida, nutrien berlebih dan polusi plastik. (Convention on Biological Diversity)

L. Perubahan Iklim

Perubahan iklim semakin penting dalam konservasi karena bekerja melalui berbagai mekanisme:

  • peningkatan temperatur;
  • perubahan curah hujan;
  • perubahan musim;
  • peningkatan kejadian ekstrem;
  • kenaikan muka laut;
  • kekeringan;
  • banjir;
  • perubahan fenologi;
  • perubahan distribusi spesies.

Perubahan iklim juga dapat berinteraksi dengan ancaman lain.

Contoh

Perubahan iklim

+

Fragmentasi habitat

Kemampuan spesies berpindah menurun

Distribusi tidak dapat mengikuti perubahan iklim

Risiko kepunahan meningkat

Kajian terbaru menekankan bahwa perubahan iklim dapat memperburuk tekanan biodiversitas melalui perubahan fenologi, dinamika spesies invasif dan tekanan antropogenik, sehingga konservasi membutuhkan penguatan konektivitas lanskap dan restorasi habitat. (ScienceDirect)

M. Degradasi Ekosistem Laut dan Pesisir

Indonesia memiliki ekosistem laut dan pesisir yang sangat penting, termasuk:

  • terumbu karang;
  • mangrove;
  • lamun;
  • estuari;
  • rawa pesisir.

Ancaman antara lain:

  • reklamasi;
  • sedimentasi;
  • pencemaran;
  • penangkapan ikan destruktif;
  • pembangunan pesisir;
  • perubahan iklim;
  • kenaikan muka laut.

Mangrove Indonesia memiliki arti penting secara global, baik untuk biodiversitas maupun perlindungan pesisir, tetapi mengalami degradasi akibat berbagai aktivitas antropogenik. (ScienceDirect)

N. Tantangan Utama Konservasi di Indonesia

1. Konflik antara konservasi dan pembangunan

Salah satu tantangan terbesar adalah mencari keseimbangan antara:

konservasi – ekonomi – kebutuhan masyarakat.

Contohnya:

Kawasan hutan

Konservasi biodiversitas

Perkebunan

Pertambangan

Infrastruktur

Permukiman

Pertumbuhan ekonomi

Persoalan konservasi tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan biologis.

O. Fragmentasi Tata Kelola

Konservasi melibatkan banyak aktor:

  • pemerintah pusat;
  • pemerintah daerah;
  • kementerian/lembaga;
  • perguruan tinggi;
  • BRIN;
  • pengelola kawasan;
  • masyarakat adat;
  • masyarakat lokal;
  • LSM;
  • perusahaan;
  • donor;
  • organisasi internasional.

Tantangannya adalah koordinasi lintas sektor dan lintas wilayah.

Karena ekosistem tidak mengikuti batas administrasi, konservasi harus menggunakan pendekatan landscape/seascape.

P. Keterbatasan Data dan Monitoring

Konservasi yang baik membutuhkan:

data → analisis → keputusan → tindakan → monitoring → evaluasi.

Masalah yang sering muncul:

  • data populasi tidak kontinu;
  • data distribusi tidak lengkap;
  • monitoring terlalu pendek;
  • metode berbeda antarpenelitian;
  • kurangnya long-term monitoring;
  • data tidak terintegrasi;
  • hasil penelitian tidak diterjemahkan menjadi kebijakan.

Karena itu, monitoring jangka panjang menjadi sangat penting.

Q. Kesenjangan antara Penelitian dan Praktik Konservasi

Indonesia menghasilkan banyak penelitian biodiversitas, tetapi tidak semua hasil penelitian diterjemahkan menjadi tindakan konservasi.

Tantangannya:

Research

Knowledge

Policy

Management

Tidak selalu berjalan mulus. Dalam konservasi modern, mahasiswa perlu memahami konsep:

Evidence-based conservation yaitu pengambilan keputusan konservasi berdasarkan bukti ilmiah terbaik yang tersedia, tetapi tetap mempertimbangkan:

  • konteks sosial;
  • ekonomi;
  • budaya;
  • politik;
  • kelembagaan.

R. Pendanaan Konservasi

Konservasi memerlukan pembiayaan jangka panjang untuk:

  • patroli;
  • monitoring;
  • restorasi;
  • penelitian;
  • pemberdayaan masyarakat;
  • pengelolaan kawasan;
  • penegakan hukum.

Salah satu tantangan global adalah biodiversity finance gap. GBF Target 19 menekankan peningkatan mobilisasi sumber daya untuk konservasi, termasuk sumber pendanaan domestik dan internasional serta keterlibatan sektor swasta. (Convention on Biological Diversity)

S. Partisipasi Masyarakat

Konservasi yang hanya berbasis top-down berpotensi menghadapi masalah keberlanjutan.

Pendekatan modern menempatkan masyarakat sebagai: subjek konservasi, bukan hanya objek konservasi. Pendekatan dapat berupa:

  • community-based conservation;
  • co-management;
  • insentif ekonomi;
  • ekowisata;
  • pembayaran jasa lingkungan;
  • agroforestri;
  • pemanfaatan hasil hutan non-kayu;
  • pendidikan konservasi.

GBF juga menekankan partisipasi dan hak masyarakat adat serta masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan konservasi. (Convention on Biological Diversity)

T. Konservasi dan Perubahan Sosial-Ekonomi

Mahasiswa perlu memahami bahwa kemiskinan tidak boleh secara sederhana diposisikan sebagai "penyebab kerusakan lingkungan".

Hubungannya lebih kompleks:

Kemiskinan

Ketergantungan terhadap sumber daya alam

Tekanan terhadap sumber daya

Degradasi

Produktivitas sumber daya menurun

Ketergantungan semakin tinggi

Hal ini dapat membentuk poverty–environment trap. Karena itu, konservasi membutuhkan alternatif mata pencaharian yang benar-benar layak.

U. Pendekatan DPSIR dalam Analisis Masalah Konservasi

Salah satu metode analisis yang sangat baik digunakan mahasiswa adalah:

DPSIR

D – Driving Forces
P – Pressures
S – State
I – Impacts
R – Responses

Contoh: Fragmentasi hutan

Komponen

Contoh

Driving Force

Pertumbuhan ekonomi, kebutuhan lahan

Pressure

Pembukaan perkebunan dan pembangunan jalan

State

Hutan terfragmentasi

Impact

Populasi satwa menurun

Response

Koridor satwa, restorasi, tata ruang

Pendekatan DPSIR telah digunakan dalam kajian fragmentasi hutan Indonesia untuk menghubungkan penyebab, tekanan, kondisi lingkungan, dampak, dan respons konservasi. (ScienceDirect)

V. Studi Kasus untuk Diskusi Kelas

Kasus 1 – Harimau Sumatra

Sebuah lanskap mengalami peningkatan perkebunan dan pembangunan jalan. Data kamera trap menunjukkan bahwa keberadaan harimau semakin terkonsentrasi pada fragmen hutan yang tersisa.

Pertanyaan

  1. Apa driving force utama?
  2. Apa tekanan langsung?
  3. Bagaimana perubahan habitat memengaruhi populasi harimau?
  4. Apakah pembangunan koridor merupakan solusi yang cukup?
  5. Data apa yang diperlukan untuk membuktikan efektivitas koridor?

Kasus 2 – Tapir Asia

Populasi tapir ditemukan di beberapa fragmen hutan yang dipisahkan oleh jalan dan perkebunan.

Mahasiswa diminta menganalisis:

Habitat → konektivitas → pergerakan → konflik → risiko populasi.

Kemudian mahasiswa menyusun:

Tapir Conservation Action Plan 2027–2035

yang minimal mencakup:

·     tujuan;

·     indikator;

·     metode monitoring;

·     strategi habitat;

·     strategi masyarakat;

·     strategi mitigasi konflik;

·     stakeholder;

·     indikator keberhasilan.

W. Aktivitas Pembelajaran

Aktivitas 1 – Identifikasi Ancaman

Mahasiswa bekerja dalam kelompok dan memilih satu spesies Indonesia:

  • harimau Sumatra;
  • badak Sumatra;
  • gajah Sumatra;
  • tapir Asia;
  • orangutan;
  • bekantan;
  • anoa;
  • jalak Bali;
  • penyu;
  • hiu.

Kemudian mengidentifikasi minimal 5 ancaman.

Aktivitas 2 – Analisis DPSIR

Setiap kelompok menyusun:

D

P

S

I

R

Driver

Pressure

State

Impact

Response

Mahasiswa harus membedakan penyebab dasar dari ancaman langsung.

X. Aktivitas 3 – Conservation Decision Making

Berikan skenario:

Pemerintah daerah merencanakan pembangunan jalan yang melewati habitat satwa terancam. Mahasiswa berperan sebagai:

  1. ahli konservasi;
  2. pemerintah daerah;
  3. masyarakat lokal;
  4. perusahaan;
  5. LSM;
  6. akademisi.

Setiap kelompok harus menjawab:

"Apakah pembangunan harus ditolak, diterima, atau dimodifikasi?"

Keputusan harus didukung oleh data ekologis dan sosial, bukan hanya opini.

Y. Tugas Individu

Analisis Masalah Konservasi Indonesia

Mahasiswa memilih satu kasus konservasi aktual di Indonesia dan membuat analisis 1.500–2.000 kata.

Struktur:

  1. Pendahuluan
  2. Deskripsi kasus
  3. Status biodiversitas
  4. Ancaman
  5. Driving forces
  6. Analisis DPSIR
  7. Dampak ekologis
  8. Dampak sosial-ekonomi
  9. Kebijakan yang sudah ada
  10. Kesenjangan pengelolaan
  11. Alternatif solusi
  12. Indikator keberhasilan
  13. Kesimpulan
  14. Referensi

Minimal 10 referensi ilmiah, dengan sekurang-kurangnya 70% terbit dalam 10 tahun terakhir.

Z. Pertanyaan HOTS

C4 – Analisis

Mengapa kehilangan habitat dan fragmentasi habitat tidak selalu menghasilkan dampak ekologis yang sama pada setiap spesies?

C4 – Analisis

Analisis hubungan antara pembangunan infrastruktur, fragmentasi habitat, dan konflik manusia–satwa liar.

C5 – Evaluasi

Apakah peningkatan luas kawasan konservasi selalu berarti keberhasilan konservasi? Jelaskan menggunakan indikator ekologis dan sosial.

C5 – Evaluasi

Evaluasi kelebihan dan kelemahan pendekatan community-based conservation dibandingkan pendekatan perlindungan kawasan secara ketat.

C6 – Kreasi

Rancang strategi konservasi lima tahun untuk satu spesies terancam di Indonesia dengan pendekatan species–habitat–community–governance.

AA. Konservasi Indonesia dalam Kerangka Global

Salah satu perubahan penting dalam konservasi modern adalah pergeseran dari:

protected area → effective conservation

Artinya, keberhasilan tidak cukup diukur berdasarkan berapa luas kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi.

Yang lebih penting adalah:

  • apakah kawasan efektif dikelola;
  • apakah biodiversitas meningkat/stabil;
  • apakah populasi spesies target pulih;
  • apakah konektivitas terjaga;
  • apakah masyarakat memperoleh manfaat;
  • apakah konflik menurun.

Kunming-Montreal GBF menetapkan target bahwa pada 2030 setidaknya 30% kawasan daratan, perairan darat, pesisir dan laut dikonservasi secara efektif dan terhubung, serta minimal 30% ekosistem terdegradasi berada dalam restorasi. (Convention on Biological Diversity)

Indonesia kemudian menerjemahkan arah global tersebut melalui IBSAP 2025–2045. Dokumen tersebut memiliki tiga tujuan utama: kelestarian ekosistem, spesies dan genetik; pemanfaatan berkelanjutan; serta implementasi yang mendukung kelestarian biodiversitas. (Bappenas)

AB. Kerangka Strategi Konservasi Indonesia

Untuk memudahkan mahasiswa memahami solusi, strategi dapat dikelompokkan menjadi:

Level

Strategi

Genetik

bank gen, captive breeding, genetic monitoring

Spesies

population monitoring, species recovery

Habitat

protected area, corridor, habitat restoration

Lanskap

landscape conservation, spatial planning

Masyarakat

livelihood, community conservation

Kelembagaan

governance, law enforcement

Kebijakan

mainstreaming biodiversity

Ekonomi

sustainable finance, green economy

Teknologi

camera trap, eDNA, GIS, remote sensing, AI

Pengetahuan

research, monitoring, data sharing


AC. Tantangan Masa Depan

Konservasi Indonesia ke depan menghadapi beberapa tantangan yang semakin kompleks:

1. Perubahan iklim

Konservasi harus mempertimbangkan perubahan distribusi spesies dan perubahan kondisi habitat.

2. Perubahan penggunaan lahan

Perlu mengintegrasikan biodiversitas dalam perencanaan tata ruang.

3. Urbanisasi

Biodiversitas tidak hanya menjadi persoalan kawasan hutan, tetapi juga kawasan perkotaan.

4. Ekonomi berbasis sumber daya alam

Konservasi harus berhadapan dengan kebutuhan pembangunan.

5. Teknologi baru

Teknologi seperti:

  • AI;
  • environmental DNA;
  • bioakustik;
  • remote sensing;
  • camera trap;
  • drone;
  • GIS;

membuka peluang besar tetapi juga membutuhkan SDM dan infrastruktur.

6. Biodiversity financing

Kebutuhan pembiayaan konservasi akan semakin besar.

7. Perubahan pola konsumsi

Permintaan konsumen dapat menjadi indirect driver kehilangan biodiversitas.

8. Tata kelola lintas sektor

Konservasi semakin membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat dan dunia usaha.

AD. Pesan Kunci Modul

Mahasiswa perlu mengingat lima pesan utama:

1.       Kehilangan biodiversitas bukan hanya masalah biologis.

2.       Ancaman langsung sering memiliki akar penyebab sosial-ekonomi dan kelembagaan.

3.       Kawasan konservasi tidak otomatis menghasilkan konservasi yang efektif.

4.       Konservasi harus berbasis data, masyarakat, dan tata kelola yang adaptif.

5.       Konservasi masa depan harus mengintegrasikan biodiversitas dengan pembangunan berkelanjutan.

AE. Referensi Utama 2016–2026

Berikut referensi yang saya rekomendasikan sebagai bacaan wajib dan pendukung. Diurutkan berdasarkan prioritas: dokumen pemerintah, organisasi internasional, dan artikel ilmiah peer-reviewed.

Dokumen kebijakan dan sumber resmi

1.       Bappenas & BRIN. 2024/2025. Status Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2024. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas & BRIN. (Perpustakaan Bappenas)

2.       Bappenas. 2024. Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045. Kementerian PPN/Bappenas. Dokumen ini merupakan rujukan utama untuk arah konservasi biodiversitas Indonesia periode 2025–2045. (Perpustakaan Bappenas)

3.       Bappenas. 2025. Status Keanekaragaman Hayati Ekoregion Sumatra. Kementerian PPN/Bappenas. (Bappenas)

4.       Convention on Biological Diversity (CBD). 2022. Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework. CBD Secretariat. (Convention on Biological Diversity)

5.       Convention on Biological Diversity. 2024. 2030 Targets and Guidance Notes – Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework. (Convention on Biological Diversity)

Artikel ilmiah

6.       Lacher, T.E. Jr., et al. 2025. The status, threats and conservation of Critically Endangered species. Nature Reviews Biodiversity, 1, 421–438. (Nature)

7.       [Authors]. 2024. A review of forest fragmentation in Indonesia under the DPSIR framework for biodiversity conservation strategies. Global Ecology and Conservation, 51, e02918. (ScienceDirect)

8.       [Authors]. 2024. Biodiversity conservation in the context of climate change: Facing challenges and management strategies. Science of the Total Environment, 937, 173377. (ScienceDirect)

9.       [Authors]. 2024. A review of the mangrove ecosystem in Indonesia: Biodiversity, conservation, and challenges in sustainable management. Ecological Engineering? / Elsevier, 32, 100282. (ScienceDirect)

10.    [Authors]. 2023. Determining the sustainability of legal wildlife trade. Journal of Environmental Management, 341, 117987. (ScienceDirect)

11.    [Authors]. 2021. Biological diversity and climate change. Dalam Climate Change (Third Edition). Elsevier. (ScienceDirect)

12.    Harris, J.B.C., et al. 2015. Using market data and expert opinion to identify overexploited species in the wild bird trade. Biological Conservation, 187, 51–60. Catatan: artikel ini sedikit di luar batas 10 tahun jika batas dihitung ketat dari 2026, sehingga sebaiknya digunakan hanya sebagai bacaan tambahan historis. (ScienceDirect)

AF. Sumber Digital untuk Mahasiswa

Untuk memperbarui data kasus, mahasiswa dapat diarahkan menggunakan:

·     Bappenas – Status Keanekaragaman Hayati Indonesia untuk data nasional dan ekoregion. (Bappenas)

·     IBSAP 2025–2045 sebagai dokumen kebijakan utama Indonesia. (Perpustakaan Bappenas)

·     IUCN Red List untuk status keterancaman spesies.

·     Global Forest Watch untuk eksplorasi perubahan tutupan hutan dan kehilangan tutupan pohon Indonesia. (Global Forest Watch)

·     CBD – Kunming-Montreal GBF untuk memahami target konservasi global sampai 2030. (Convention on Biological Diversity)


 

AG. Rekomendasi Pengembangan Modul untuk Kelas Magister

Untuk Biokonservasi S2, saya menyarankan modul ini tidak berhenti pada materi kuliah. Modul dapat dikembangkan menjadi pembelajaran berbasis kasus (case-based learning) dengan alur:

Masalah konservasi IndonesiaIdentifikasi ancamanAnalisis DPSIRAnalisis stakeholderEvaluasi kebijakanAnalisis dataMerancang conservation action planMenentukan indikator keberhasilanMonitoring dan adaptive management

Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa bukan hanya mengetahui bahwa "deforestasi, perburuan, perubahan iklim, pencemaran dan fragmentasi merupakan ancaman", tetapi belajar menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting dalam Biokonservasi:

"Mengapa ancaman tersebut terjadi, siapa yang terdampak dan menjadi aktor, mengapa respons yang ada belum optimal, bukti apa yang diperlukan, dan intervensi konservasi seperti apa yang paling mungkin efektif?"

Ini akan sangat cocok untuk karakter Magister Biologi dan sekaligus dapat menjadi dasar untuk tugas mini-research/conservation project dalam RPS Biokonservasi.

 

Last modified: Tuesday, 15 September 2026, 12:44 PM