Lampirkan analisis anda mengenai jurnal diatas, dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM.
Forum Analisis Jurnal 1
Nama : Icha Kurnia Putri
NPM : 2113053052
Kelas : 3C
ANALISIS JURNAL 1
Pendidikan moral di sekolah Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidik utama di sekolah adalah guru. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
Materi Pendidikan moral, Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945).
Metode Pendidikan moral, Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. ada metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
1. Inkulkasi nilai, Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga dengan berbagai cara.
2. Metode keteladanan, Keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
3. Metode klarifikasi nilai, Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
4. Metode fasilitasi nilai, Guru dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok.
5. Metode keterampilan nilai moral, Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaan.
Evaluasi Pendidikan Moral, Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
NPM : 2113053052
Kelas : 3C
ANALISIS JURNAL 1
Pendidikan moral di sekolah Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidik utama di sekolah adalah guru. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
Materi Pendidikan moral, Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa (pasal 29 UUD 1945).
Metode Pendidikan moral, Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. ada metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
1. Inkulkasi nilai, Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga dengan berbagai cara.
2. Metode keteladanan, Keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
3. Metode klarifikasi nilai, Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
4. Metode fasilitasi nilai, Guru dan pihak sekolah memberikan berbagai fasilitas yang dapat digunakan siswa agar dapat merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya baik secara individu maupun berkelompok.
5. Metode keterampilan nilai moral, Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan pembiasaan.
Evaluasi Pendidikan Moral, Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
Nama : Dhea Ajeng Pradana
NPM : 2113053277
Izin memberikan analisis terkait dengan jurnal yang berjudul Pendidikan Moral di Sekolah.
Kita tahu bahwa guru adalah orang yang berperan penting dalam membntuk karakter serta moral peserta didik di sekolah.. Di sekolah peserta didik dapat mengembangkan pola pikirnya untuk lebih berfikir kritis dalam mengajukan pertanyaan, menghargai dialog yang bermaknna dan menjadi agensi kemanusiaan. Sekolah tidak hanya sebagai tempat perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis dalam pertemupran pasar internasional, tetapi lebih dari itu. Di sekolah inilah peran guru dibutuhkan untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi lebih aktif dalam kehidupan bermasyarakat, tidak hanya itu tetapi juga sebagai ujung tombak dalam mewujudkan nilai-nilai moral dalam diri poeserta didik karena guru lah yang menjadi tauladan bagi peserta didik.
Dalam membntuk moral siswa tentunya tidak hanya guru yang dibutuhkan tetapi juga terdapat komponen lain seperti cakupan materi yang diajarkan, variasi metode pembelajaran yang digunakan serta evaluasi secara menyeluruh. Dengan adanya komponen-komponen tersebut, maka pendidikan moral yang diterapkan akan lebih komporehensif sehingga hasil yang didapatkan juga akan optimal.
NPM : 2113053277
Izin memberikan analisis terkait dengan jurnal yang berjudul Pendidikan Moral di Sekolah.
Kita tahu bahwa guru adalah orang yang berperan penting dalam membntuk karakter serta moral peserta didik di sekolah.. Di sekolah peserta didik dapat mengembangkan pola pikirnya untuk lebih berfikir kritis dalam mengajukan pertanyaan, menghargai dialog yang bermaknna dan menjadi agensi kemanusiaan. Sekolah tidak hanya sebagai tempat perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis dalam pertemupran pasar internasional, tetapi lebih dari itu. Di sekolah inilah peran guru dibutuhkan untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi lebih aktif dalam kehidupan bermasyarakat, tidak hanya itu tetapi juga sebagai ujung tombak dalam mewujudkan nilai-nilai moral dalam diri poeserta didik karena guru lah yang menjadi tauladan bagi peserta didik.
Dalam membntuk moral siswa tentunya tidak hanya guru yang dibutuhkan tetapi juga terdapat komponen lain seperti cakupan materi yang diajarkan, variasi metode pembelajaran yang digunakan serta evaluasi secara menyeluruh. Dengan adanya komponen-komponen tersebut, maka pendidikan moral yang diterapkan akan lebih komporehensif sehingga hasil yang didapatkan juga akan optimal.
Nama : Miftahu Rahman
NPM : 2113053092
izin memberikan analisis terkait jurnal artikel yang berujudul "PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH"
pendidikan moral di sekolah harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas Meskipun peran utama pendidikan moral siswa ada di tangan orang tua mereka, guru sekolah juga memainkan peran utama dalam mencapai moralitas siswa yang seharusnya menjadi milik dalam rangka menciptakan generasi muda yang unggul, dapat dikatakan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan seluruh komponen warga sekolah dalam rangka untuk mencapai suatu pendidikan, komponen pendidikan moral lainnya di sekolah yang tidak kalah pentingnya adalah cakupan materi, variasi metode, dan penilaian komprehensif. Dengan memperhatikan komponen tersebut sekolah dengan guru peran utama dapat merancang pendidikan moral yang komprehensif sehingga dapat dicapai hasil yang optimal yaitu pengembangan nilai moral pada siswa sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
NPM : 2113053092
izin memberikan analisis terkait jurnal artikel yang berujudul "PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH"
pendidikan moral di sekolah harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas Meskipun peran utama pendidikan moral siswa ada di tangan orang tua mereka, guru sekolah juga memainkan peran utama dalam mencapai moralitas siswa yang seharusnya menjadi milik dalam rangka menciptakan generasi muda yang unggul, dapat dikatakan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan seluruh komponen warga sekolah dalam rangka untuk mencapai suatu pendidikan, komponen pendidikan moral lainnya di sekolah yang tidak kalah pentingnya adalah cakupan materi, variasi metode, dan penilaian komprehensif. Dengan memperhatikan komponen tersebut sekolah dengan guru peran utama dapat merancang pendidikan moral yang komprehensif sehingga dapat dicapai hasil yang optimal yaitu pengembangan nilai moral pada siswa sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
nama : winda eriska
npm : 2113053079
Analisis jurnal 1
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal. Seorang ahli Henry Giroux (1988: xxxiv) mengemukakan bahwa sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi.
Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi.
Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya.
jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif
npm : 2113053079
Analisis jurnal 1
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal. Seorang ahli Henry Giroux (1988: xxxiv) mengemukakan bahwa sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi.
Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi.
Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya.
jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif
Nama : Resti Umi Melinda
NPM : 2113053058
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Terlebih pada zaman ini orangtua banyak menaruh harapan pada guru dan sekolah untuk mendidik anak mereka menjadi anak yang bermoral. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana pengembangan manusia (human development).
- Pendidian moral di sekolah. Henry Giroux (1988: xxxiv) menyatakan sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
- materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
- Metode. Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
- Evaluasi Pendidikan nilai dan moral. Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut: a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya. b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal. c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral. d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal. e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi. f. Integritous: memiliki integritas, mampu mengontrol diri secara sadar.
NPM : 2113053058
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu menghabiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Sebagai sebuah mikrosistem, sekolah diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik. Terlebih pada zaman ini orangtua banyak menaruh harapan pada guru dan sekolah untuk mendidik anak mereka menjadi anak yang bermoral. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Amstrong (2006: 17) mengemukakan teorinya tentang sekolah sebagai wahana pengembangan manusia (human development).
- Pendidian moral di sekolah. Henry Giroux (1988: xxxiv) menyatakan sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
- materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
- Metode. Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi atau penanaman nilai.
a. Inkulkasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
- Evaluasi Pendidikan nilai dan moral. Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut: a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya. b. Heteronomous: berstruktur unilateral, vertikal. c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral. d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal. e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi. f. Integritous: memiliki integritas, mampu mengontrol diri secara sadar.
Yuninda Putri
2113053045
3C
Dari jurnal artikel tersebut yang berjudul " Pendidikan Moral di sekolah " dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponenkomponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
2113053045
3C
Dari jurnal artikel tersebut yang berjudul " Pendidikan Moral di sekolah " dapat disimpulkan bahwa pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponenkomponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama: Farhan Iqbal Pratama
NPM: 2113053196
Kelas: 3C
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat siang Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tugas mengenai analisis jurnal 1 yang berjudul “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH. Jurnal Humanika, Th. XVII, No. 1. Maret 2017. Oleh Rukiyati.”
Sekolah adalah lingkungan mikrosistem yang mencakup pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang melalui interaksi antara keluarga, teman sebaya dan guru, serta orang lain. Sekolah menjadi tempat tumbu berkembang tentunya perlu melaksanakan suatu pendidikan yang membawa peseta didiknya ke arah yang lebih baik dengan pembentukan karakter yang baik pula. Hal ini sejalan dengan adanya pendidikan moral yang harus diterapkan dengan sungguh-sungguh agar menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Oleh karena itu, perencanaan terkait pendidikan moral di sekolah yang bersifat komprehensif, yang melibatkan berbagai komponen, seperti pendidik, materi, metode, dan evaluasinya agar pendidikan moral dapat berjalan secara optimal.
a. Pendidik Moral di Sekolah
Guru memiliki peran sebagai pendidik utama yang secara langsung berinteraksi dengan siswanya setiap hari di kelas. Perlu disadari bahwa guru juga sebagai pendidik moral utama meskipun pendidik moral di sekolah juga bukan hanya guru yang harus menerapkannya. Guru harus menerapkan strategi pembelajaran yang menarik dan bermakna sehingga akan terbentuk karakteristik dan moral siswa yang baik pula. Sejalan dengan tujuan pendidikan yang termuat dalam UU No. 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam peserta didik. Oleh karena itu, guru merupakan ujung tommbak dalam pembentukan moral siswa yang baik.
b. Materi Pendidikan Moral
Materi yang termuat dalam pendidikan moral adalah pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta, serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral juga dapat diajarkan melalui materi yang termuat dalam mata pelajaran Pendidikan Agama.
c. Metode Pendidikan Moral
Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran moral di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa cara mengingat masa sekarang pendidikan sudah lebih mengalami kemajuan dengan keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Anak-anak yang hidup sekarang ini hidup di zaman modern akhir yang sangat jauh berbeda cara berpikir dan perilakunya dengan anak-anak di masa lalu. Metode yang sesuai adalah sebagai berikut.
1. Metode inkulkasi atau penanaman nilai dimulai dengan mengidentifikasi secara jelas nilai-nilai apa yang diharapkan akan tertanam dalam diri subjek didik.
2. Metode keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masarakat tradisional yang dapat juga dilakukan pada masa sekarang dengan prinsip meniru moral yang baik.
3. Metode klarifikasi nilai dilakukan mencoba untuk membantu anak-anak muda menjawab beberapa pertanyaan dan membangun sistem nilai sendiri.
4. Metode fasilitasi nilai yaitu guru memberikan berbagai fasilitas yang mendukung tumbuhnya moral yang baik sehingga siswa mampu merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya secara individu maupun berkelompok.
5. Metode keterampilan nilai moral yaitu metode yang dapat diwujudkan melalui sebuah pembiasaan sebagai komitmen diri, action plan agar hidup lebih bermakna.
d. Evaluasi Pendidikan Moral
Evaluasi pendidikan moral mencakup tiga ranah, yaitu evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku. Cara mengevaluasi capaian belajar dalam ranah afektif dapat dilakukan dengan mengukur afek atau perasaan seseorang secara tidak langsung, yaitu dengan menafsirkan ada atau tidaknya afek positif (atau negatif) yang muncul dan intensitas kemunculan afek dari tindakan atau pendapat seseorang. Selanjutnya, yang lebih penting dari evaluasi pendidikan moral dilihat dari observasi mengenai perubahan perilaku seseorang ke arah yang lebih baik.
Pendidikan moral di sekolah menjadi hal penting untuk diterapkan mengingat kehidupan semakin modern dengan berbagai kecanggihan yang ditawarkan sehingga dapat membuat kondisi moralitas seseorang semakin tergerus dengan keterbukaan informasi. Hal ini perlu diterapkan dengan optimal sehingga mampu menjadi solusi terhadap kemerosotan moral.
Sekian anilisis jurnal dari saya.
Terima kasih
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
NPM: 2113053196
Kelas: 3C
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabaraktuh.
Selamat siang Bapak Roy Kembar Habibie, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Nilai dan Moral Kelas 3C PGSD. Saya Farhan Iqbal Pratama ingin mengirim tugas mengenai analisis jurnal 1 yang berjudul “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH. Jurnal Humanika, Th. XVII, No. 1. Maret 2017. Oleh Rukiyati.”
Sekolah adalah lingkungan mikrosistem yang mencakup pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang melalui interaksi antara keluarga, teman sebaya dan guru, serta orang lain. Sekolah menjadi tempat tumbu berkembang tentunya perlu melaksanakan suatu pendidikan yang membawa peseta didiknya ke arah yang lebih baik dengan pembentukan karakter yang baik pula. Hal ini sejalan dengan adanya pendidikan moral yang harus diterapkan dengan sungguh-sungguh agar menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Oleh karena itu, perencanaan terkait pendidikan moral di sekolah yang bersifat komprehensif, yang melibatkan berbagai komponen, seperti pendidik, materi, metode, dan evaluasinya agar pendidikan moral dapat berjalan secara optimal.
a. Pendidik Moral di Sekolah
Guru memiliki peran sebagai pendidik utama yang secara langsung berinteraksi dengan siswanya setiap hari di kelas. Perlu disadari bahwa guru juga sebagai pendidik moral utama meskipun pendidik moral di sekolah juga bukan hanya guru yang harus menerapkannya. Guru harus menerapkan strategi pembelajaran yang menarik dan bermakna sehingga akan terbentuk karakteristik dan moral siswa yang baik pula. Sejalan dengan tujuan pendidikan yang termuat dalam UU No. 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam peserta didik. Oleh karena itu, guru merupakan ujung tommbak dalam pembentukan moral siswa yang baik.
b. Materi Pendidikan Moral
Materi yang termuat dalam pendidikan moral adalah pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta, serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Pendidikan moral juga dapat diajarkan melalui materi yang termuat dalam mata pelajaran Pendidikan Agama.
c. Metode Pendidikan Moral
Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran moral di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa cara mengingat masa sekarang pendidikan sudah lebih mengalami kemajuan dengan keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Anak-anak yang hidup sekarang ini hidup di zaman modern akhir yang sangat jauh berbeda cara berpikir dan perilakunya dengan anak-anak di masa lalu. Metode yang sesuai adalah sebagai berikut.
1. Metode inkulkasi atau penanaman nilai dimulai dengan mengidentifikasi secara jelas nilai-nilai apa yang diharapkan akan tertanam dalam diri subjek didik.
2. Metode keteladanan merupakan bentuk mengestafetkan moral yang digunakan oleh masarakat tradisional yang dapat juga dilakukan pada masa sekarang dengan prinsip meniru moral yang baik.
3. Metode klarifikasi nilai dilakukan mencoba untuk membantu anak-anak muda menjawab beberapa pertanyaan dan membangun sistem nilai sendiri.
4. Metode fasilitasi nilai yaitu guru memberikan berbagai fasilitas yang mendukung tumbuhnya moral yang baik sehingga siswa mampu merealisasikan nilai-nilai moral dalam dirinya secara individu maupun berkelompok.
5. Metode keterampilan nilai moral yaitu metode yang dapat diwujudkan melalui sebuah pembiasaan sebagai komitmen diri, action plan agar hidup lebih bermakna.
d. Evaluasi Pendidikan Moral
Evaluasi pendidikan moral mencakup tiga ranah, yaitu evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku. Cara mengevaluasi capaian belajar dalam ranah afektif dapat dilakukan dengan mengukur afek atau perasaan seseorang secara tidak langsung, yaitu dengan menafsirkan ada atau tidaknya afek positif (atau negatif) yang muncul dan intensitas kemunculan afek dari tindakan atau pendapat seseorang. Selanjutnya, yang lebih penting dari evaluasi pendidikan moral dilihat dari observasi mengenai perubahan perilaku seseorang ke arah yang lebih baik.
Pendidikan moral di sekolah menjadi hal penting untuk diterapkan mengingat kehidupan semakin modern dengan berbagai kecanggihan yang ditawarkan sehingga dapat membuat kondisi moralitas seseorang semakin tergerus dengan keterbukaan informasi. Hal ini perlu diterapkan dengan optimal sehingga mampu menjadi solusi terhadap kemerosotan moral.
Sekian anilisis jurnal dari saya.
Terima kasih
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.
Nama: Diah Widianingsih
NPM: 2113053171
kelas:3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Sekolah merupakan tempat dimana peserta didik memperoleh ilmu baik dalam aspek pengetahuan,sosial atau keterampilan.
pendidik utama di sekolah bukan lah hanya guru saja melainkan seluruh kompenen yang terlibat di sekolah tersebut. Pendidikan moral di sekolah sangat perlu diterapkan. Dalam penerapannya tidak terbatas pada guru semata semua subjek tersebut berperan penting dalam mewujudkan peserta didik yang bermoral.
Guru juga mengajarkan peserta didik untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.
Oleh karena guru merupakan sarana mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, Oleh Karena itu guru terlebih dahulu harus mempunyai moral yang baik. berkaitan dengan nilai-
Materi pendidikan moral tidak terlepas dari individu agar mempunyai moral yang baik. Nilai moral yang diajarkan kepada peserta didik misalnya Nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Metode pendidikan
moral dapat diterapkan dengan cara:
a. Inkulkasi nilai
Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga yaitu dengan Membaca buku-buku sastra (novel, cerpen, dsb) dan non-fiksi (biografi, kisah perjalanan/petualangan, dsb). Dapag juga melaluibercerita (story telling).
b. Metode keteladanan Keteladanan adalah bentuk
mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
C. Metode klarifikasi nilai
Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
d. Metode fasilitasi nilai
Metode ini dapat diterapkan dengan cara komponen sekolah fasilitas beribadah berupa mesjid dan mushola, fasilitas membuat kompos dari sampah sekolah, fasilitas berupa ruang diskusi.
e. Metode keterampilan nilai moral
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan cara membiasakan peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan mereka sendiri sebagai wujud realisasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna.
Pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
kesimpulannya pendidikan nilai dan moral sangat penting diterapkan karena Anak zaman sekarang dengan anak zaman dahulu sangat berbeda cara berpikir dan berperilakunya.
Terdapat berbagai metode penerapan pendidikan nilai dan moral dan penerapan ini dapat dilaksanan dimulai dari guru dan komponen sekolah.
NPM: 2113053171
kelas:3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah”
Sekolah merupakan tempat dimana peserta didik memperoleh ilmu baik dalam aspek pengetahuan,sosial atau keterampilan.
pendidik utama di sekolah bukan lah hanya guru saja melainkan seluruh kompenen yang terlibat di sekolah tersebut. Pendidikan moral di sekolah sangat perlu diterapkan. Dalam penerapannya tidak terbatas pada guru semata semua subjek tersebut berperan penting dalam mewujudkan peserta didik yang bermoral.
Guru juga mengajarkan peserta didik untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.
Oleh karena guru merupakan sarana mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, Oleh Karena itu guru terlebih dahulu harus mempunyai moral yang baik. berkaitan dengan nilai-
Materi pendidikan moral tidak terlepas dari individu agar mempunyai moral yang baik. Nilai moral yang diajarkan kepada peserta didik misalnya Nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Metode pendidikan
moral dapat diterapkan dengan cara:
a. Inkulkasi nilai
Metode ini dapat dilaksanakan dalam pembelajaran moral di sekolah maupun di dalam keluarga yaitu dengan Membaca buku-buku sastra (novel, cerpen, dsb) dan non-fiksi (biografi, kisah perjalanan/petualangan, dsb). Dapag juga melaluibercerita (story telling).
b. Metode keteladanan Keteladanan adalah bentuk
mengestafetkan moral yang digunakan oleh masyarakat religius tradisional, dan digunakan pula oleh masyarakat modern sekarang ini.
C. Metode klarifikasi nilai
Dalam masyarakat liberal, moral diperkenalkan lewat proses klarifikasi, penjelasan agar terjadi pencerahan pada subjek didik.
d. Metode fasilitasi nilai
Metode ini dapat diterapkan dengan cara komponen sekolah fasilitas beribadah berupa mesjid dan mushola, fasilitas membuat kompos dari sampah sekolah, fasilitas berupa ruang diskusi.
e. Metode keterampilan nilai moral
Keterampilan moral dalam diri peserta didik dapat diwujudkan dimulai dengan cara membiasakan peserta didik merancang sendiri berbagai tindakan moral yang akan diwujudkan sebagai suatu komitmen diri, action plan mereka sendiri sebagai wujud realisasi diri menjadi orang yang baik dan memperoleh hidup yang bermakna.
Pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
kesimpulannya pendidikan nilai dan moral sangat penting diterapkan karena Anak zaman sekarang dengan anak zaman dahulu sangat berbeda cara berpikir dan berperilakunya.
Terdapat berbagai metode penerapan pendidikan nilai dan moral dan penerapan ini dapat dilaksanan dimulai dari guru dan komponen sekolah.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi bapak roy kembar habibie, M.Pd.
Izin menyampaikan analisis terkait jurnal 1 mengenai "PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH."
Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Kelas : 3C
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu
dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu meng- habiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.
1. Pendidikan moral di sekolah, yakni pendidik utama di sekolah adalah guru. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa pendidik moral di sekolah tidak terbatas pada guru semata. Di sekolah ada pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah. Semua subjek tersebut berperan untuk bersama-sama membangun moral siswa agar menjadi orang yang baik lalu guru yang baik tentu sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam Jurnal Humanika, Th. XVII, No. 1. Maret 2003 tujuan pendidikan berdasarkan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.
2. Materi pendidikan moral, yakni materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
3. Metode pendidikan moral, yakni Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai- nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
4. Evaluasi pendidikan moral, yakni Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51). Agar tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Izin menyampaikan analisis terkait jurnal 1 mengenai "PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH."
Nama : Annisa Salsabina Rahmadhani
NPM : 2113053014
Kelas : 3C
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu
dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu meng- habiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.
1. Pendidikan moral di sekolah, yakni pendidik utama di sekolah adalah guru. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa pendidik moral di sekolah tidak terbatas pada guru semata. Di sekolah ada pegawai tata usaha, pramu kantor, tukang kebun, dan komite sekolah. Semua subjek tersebut berperan untuk bersama-sama membangun moral siswa agar menjadi orang yang baik lalu guru yang baik tentu sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam Jurnal Humanika, Th. XVII, No. 1. Maret 2003 tujuan pendidikan berdasarkan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.
2. Materi pendidikan moral, yakni materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
3. Metode pendidikan moral, yakni Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai- nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
4. Evaluasi pendidikan moral, yakni Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51). Agar tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Nama : Wahana Tri Adhasari
NPM : 2113053209
Kelas : 3C
Izin mengirimkan hasil analisis jurnal yang berjudul
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh oleh guru dan seluruh warga sekolah, untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas dan beradap. Dalam melakukan pendidikan moral disekolah pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah mencakup materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.Dengan adanya komponen-komponen tersebut akan mempermudan dan memberikan pandangan guru dalam menanamkan niali moral pada peserta didik dengan baik dan terarah dan tidak ada yang terlupakan, sehingga mampu membentuk peserta didik menajdi lebih bermoral agar dapat terbentuknya generasi bangsa yang bermoral dan bermartabat.
NPM : 2113053209
Kelas : 3C
Izin mengirimkan hasil analisis jurnal yang berjudul
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh oleh guru dan seluruh warga sekolah, untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas dan beradap. Dalam melakukan pendidikan moral disekolah pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah mencakup materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.Dengan adanya komponen-komponen tersebut akan mempermudan dan memberikan pandangan guru dalam menanamkan niali moral pada peserta didik dengan baik dan terarah dan tidak ada yang terlupakan, sehingga mampu membentuk peserta didik menajdi lebih bermoral agar dapat terbentuknya generasi bangsa yang bermoral dan bermartabat.
Assalamualaikum warahmatulahi wabarokatuh
Nama : Negi titin widyaningtius
NPM: 2113053167
Kelas: 3C
Hasil analisis jurnal 1 yang berjudul Pendidikan Moral di sekolahyaitu
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya.
1. Pendidikan moral di sekolah
Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial.
2. Materi pendidikan moral
materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
3. Metode pendidikan moral
a. Inkulsasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
4. Evaluasi pendidikan moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.
terimakasih
waassalamualaikumwarahmatulahi wabarokatuh
Nama : Negi titin widyaningtius
NPM: 2113053167
Kelas: 3C
Hasil analisis jurnal 1 yang berjudul Pendidikan Moral di sekolahyaitu
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya.
1. Pendidikan moral di sekolah
Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial.
2. Materi pendidikan moral
materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
3. Metode pendidikan moral
a. Inkulsasi nilai
b. Metode keteladanan
c. Metode klarifikasi nilai
d. Metode fasilitasi nilai
e. Metode keterampilan nilai moral
4. Evaluasi pendidikan moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.
terimakasih
waassalamualaikumwarahmatulahi wabarokatuh
Annisa Nathania
2153053040
Izin memberikan hasil analisis jurnal 1 berjudul:
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di l dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan.
Pendidik Moral di Sekolah
Pendidik utama di sekolah adalah guru. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa pendidik moral di sekolah tidak terbatas pada guru semata.
Sekolah sebagal tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri
dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.
Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
Materi Pendidikan Moral
Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial.
Nilai-nilai moral yang diajarkan di dalam aiaran agama meniadi sumber nilai bagi kehidupan masyarakat Indonesia sehingga di sekolah pun nilai-nilai moral agama tetap diberi tempat Khusus sebagaimana telah dimasukkan dalam kurikulum, baik intra maupun ekstra kurikuler.
Metode Pendidikan Moral
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai rintangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi.
Anak-anak yang hidup sekarang ini hidup di zaman modern akhir yang sangat jauh berbeda cara berpikir dan perilakunya dengan anak-anak di masa lalu. Indoktrinasi dipandang para ahli sebagai metode yang sudah usang dan tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. Maka, ada metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi penanaman nilai.
- Inkulkasi nilai
- Metode keteladanan
- Metode klarifikasi nilai
- Metode fasilitasi nilai
- Metode keterampilan nilai moral
Evaluasi Pendidikan Moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
- Impersonal, egocentric
- Heteronomous
- Antarpribadi
- Psychological-personal
- Autonomous
- Integritous
Terimakasih...
2153053040
Izin memberikan hasil analisis jurnal 1 berjudul:
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di l dalam setting tertentu dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan.
Pendidik Moral di Sekolah
Pendidik utama di sekolah adalah guru. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa pendidik moral di sekolah tidak terbatas pada guru semata.
Sekolah sebagal tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri
dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.
Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula.
Materi Pendidikan Moral
Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial.
Nilai-nilai moral yang diajarkan di dalam aiaran agama meniadi sumber nilai bagi kehidupan masyarakat Indonesia sehingga di sekolah pun nilai-nilai moral agama tetap diberi tempat Khusus sebagaimana telah dimasukkan dalam kurikulum, baik intra maupun ekstra kurikuler.
Metode Pendidikan Moral
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai rintangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi.
Anak-anak yang hidup sekarang ini hidup di zaman modern akhir yang sangat jauh berbeda cara berpikir dan perilakunya dengan anak-anak di masa lalu. Indoktrinasi dipandang para ahli sebagai metode yang sudah usang dan tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. Maka, ada metode lain yang lebih sesuai yaitu inkulkasi penanaman nilai.
- Inkulkasi nilai
- Metode keteladanan
- Metode klarifikasi nilai
- Metode fasilitasi nilai
- Metode keterampilan nilai moral
Evaluasi Pendidikan Moral
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
- Impersonal, egocentric
- Heteronomous
- Antarpribadi
- Psychological-personal
- Autonomous
- Integritous
Terimakasih...
Nama: Dwi Oktavianingsih
NPM: 2113053208
Analisis Jurnal 1 "Pendidikan Moral Di Sekolah"
Dari jurnal tersebut dapat kita ketahui bahwa pendidikan moral di sekolah ini perlu dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh dan maksimal guna membangun generasi bangsa yang berkualitas. Sebenarnya peran utama untuk mendidik moral anak adalah orang tua namun guru di sekolah juga memiliki peranan besar dalam mewujudkan dan membentuk moral peserta didik. Keluarga sekolah dan masyarakat bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda atau generasi bangsa agar memiliki moral yang baik dan pintar secara intelektual sehingga terwujudlah generasi muda yang unggul dan cerdas.
Pendidikan moral di sekolah ini penting dilakukan oleh pendidik dan segenap komponen warga sekolah guna tercapainya pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendukung pendidikan moral yaitu materi, variasi metode dan evaluasi yang menyeluruh. Guru sebagai pemeran utama dalam merancang pendidikan moral peserta didik secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal yaitu seperti mengembangkan nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga peserta didik menjadi generasi muda yang berkualitas dan ungul.
NPM: 2113053208
Analisis Jurnal 1 "Pendidikan Moral Di Sekolah"
Dari jurnal tersebut dapat kita ketahui bahwa pendidikan moral di sekolah ini perlu dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh dan maksimal guna membangun generasi bangsa yang berkualitas. Sebenarnya peran utama untuk mendidik moral anak adalah orang tua namun guru di sekolah juga memiliki peranan besar dalam mewujudkan dan membentuk moral peserta didik. Keluarga sekolah dan masyarakat bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda atau generasi bangsa agar memiliki moral yang baik dan pintar secara intelektual sehingga terwujudlah generasi muda yang unggul dan cerdas.
Pendidikan moral di sekolah ini penting dilakukan oleh pendidik dan segenap komponen warga sekolah guna tercapainya pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendukung pendidikan moral yaitu materi, variasi metode dan evaluasi yang menyeluruh. Guru sebagai pemeran utama dalam merancang pendidikan moral peserta didik secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal yaitu seperti mengembangkan nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga peserta didik menjadi generasi muda yang berkualitas dan ungul.
Nama: Erma Titis Nikmah
Npm: 2153053014
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1
Hasil analisis dari jurnal yang berjudul "PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH" Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Oleh karena guru merupakan ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, sehingga guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa.
Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Npm: 2153053014
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1
Hasil analisis dari jurnal yang berjudul "PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH" Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Oleh karena guru merupakan ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, sehingga guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Pendidikan moral terhadap diri sendiri yang penting diberikan kepada peserta didik berkaitan dengan nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, keuletan, disiplin waktu. Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan menguatkan nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru. Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan Sang Khalik penting dilaksanakan terlebih Indonesia adalah negara yang berketuhanan Yang Maha Esa.
Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Niken Azzahra
Npm : 2153053032
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis jurnal 1
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya.
Evaluasi Pendidikan Moral
Di samping keempat aspek , pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
Evaluasi pendidikan moral sebenarnya yang terakhir dan sangat penting adalah perilaku. Perilaku moral hanya mungkin dievaluasi secara akurat dengan melakukan observasi dalam jangka waktu yang relatif lama dan secara terus-menerus.
Dari pengamatan tersebut dapat ditarik kesimpulan apakah perilaku orang yang diamati telah menunjukkan watak atau kualitas akhlak yang akan dievaluasi. Pengamat harus orang yang sudah mengenal orang-orang yang diobservasi agar penafsirannya terhadap perilaku yang muncul tidak salah . Bagaimana peserta didik memandang dirinya sendiri sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan masyarakat yang beraneka ragam budaya, suku dan agama.
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Niken Azzahra
Npm : 2153053032
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis jurnal 1
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya.
Evaluasi Pendidikan Moral
Di samping keempat aspek , pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
Evaluasi pendidikan moral sebenarnya yang terakhir dan sangat penting adalah perilaku. Perilaku moral hanya mungkin dievaluasi secara akurat dengan melakukan observasi dalam jangka waktu yang relatif lama dan secara terus-menerus.
Dari pengamatan tersebut dapat ditarik kesimpulan apakah perilaku orang yang diamati telah menunjukkan watak atau kualitas akhlak yang akan dievaluasi. Pengamat harus orang yang sudah mengenal orang-orang yang diobservasi agar penafsirannya terhadap perilaku yang muncul tidak salah . Bagaimana peserta didik memandang dirinya sendiri sebagai hamba Allah dalam menghadapi kenyataan masyarakat yang beraneka ragam budaya, suku dan agama.
Nama : Wahyu Ringgit Kuncoro
Npm : 2113053254
Izin memberikan analisis saya terkait Jurnal yang berjudul “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH”
Berdasarkan jurnal yang saya baca bahwa sekolah sebagai sebuah mikrosistem diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri peserta didik. Pada zaman sekarrang ini orang tua banyak menaruh harapan pada sekolah untuk menjadikan anak – anaknya pintar dan berakhlak mulia. Sekolah yang baik tidak hanya sekolah yang mampu membuat siswanya menjadi pintar, namun sekolah yang dapat membuat peserta didiknya memiliki akhlak yang baik, untuk apa jika memiliki ilmu yang baik tetapi tidak memiliki akhlak yang baik.
Anak – anak pada zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu mulai dari cara berfikir, cara berprilaku, cara berbicara, cara menghormati orang lain, dll. Membaca buku-buku sastra (novel, cerpen, dsb) dan non-fiksi ,biografi, kisah perjalanan/petualangan, dsb) dapat menjadi salah satu cara ampuh untuk menanamkan nilai-nilai dan moralitas dalam diri subjek didik. Memberikan buku-buku yang bermutu, buku cerita dan artikel untuk dibaca para siswa adalah cara yang mudah dan penting untuk membangun nilai moral dalam diri siswa, disamping juga akan meningkatkan tujuan pembelajaran secara akademik. Selain dengan cara itu, dapat bercerita dengan kandungan nilai moral yang baik didalamnya.
terima kasih
Npm : 2113053254
Izin memberikan analisis saya terkait Jurnal yang berjudul “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH”
Berdasarkan jurnal yang saya baca bahwa sekolah sebagai sebuah mikrosistem diperkirakan mempunyai pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri peserta didik. Pada zaman sekarrang ini orang tua banyak menaruh harapan pada sekolah untuk menjadikan anak – anaknya pintar dan berakhlak mulia. Sekolah yang baik tidak hanya sekolah yang mampu membuat siswanya menjadi pintar, namun sekolah yang dapat membuat peserta didiknya memiliki akhlak yang baik, untuk apa jika memiliki ilmu yang baik tetapi tidak memiliki akhlak yang baik.
Anak – anak pada zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu mulai dari cara berfikir, cara berprilaku, cara berbicara, cara menghormati orang lain, dll. Membaca buku-buku sastra (novel, cerpen, dsb) dan non-fiksi ,biografi, kisah perjalanan/petualangan, dsb) dapat menjadi salah satu cara ampuh untuk menanamkan nilai-nilai dan moralitas dalam diri subjek didik. Memberikan buku-buku yang bermutu, buku cerita dan artikel untuk dibaca para siswa adalah cara yang mudah dan penting untuk membangun nilai moral dalam diri siswa, disamping juga akan meningkatkan tujuan pembelajaran secara akademik. Selain dengan cara itu, dapat bercerita dengan kandungan nilai moral yang baik didalamnya.
terima kasih
Nama: Zahara Ameliani Putri
Npm: 2113053197
Kelas: 3C
Analisis jurnal Pendidikan moral disekolah
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.
Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Npm: 2113053197
Kelas: 3C
Analisis jurnal Pendidikan moral disekolah
pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.
Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama : Farida Julia Saputri
NPM : 2113053073
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1
Berdasarkan hasil analisis menurut saya mengenai jurnal berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah” yaitu tidak dapat dipungkiri bahwa pendidik utama di sekolah adalah guru. Guru adalah ujung
tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya. Materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
Berikut ini lima metode pendidikan moral yaitu:
1. Inkulkasi nilai,
2. Metode keteladanan,
3. Metode klarifikasi nilai,
4. Metode fasilitasi nilai, dan
5. Metode keterampilan nilai moral.
Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah yaitu evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku. Terkait dengan evaluasi pendidikan moral, dalam teori pendidikan Islam juga menitikberatkan pada evaluasi sikap dan perilaku. Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan subjek didik yang meliputi empat hal, yaitu:
1. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya;
2. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat;
3. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya;
4. Sikap dan pandangan peserta didik terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah SWT.
NPM : 2113053073
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1
Berdasarkan hasil analisis menurut saya mengenai jurnal berjudul “Pendidikan Moral di Sekolah” yaitu tidak dapat dipungkiri bahwa pendidik utama di sekolah adalah guru. Guru adalah ujung
tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya. Materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
Berikut ini lima metode pendidikan moral yaitu:
1. Inkulkasi nilai,
2. Metode keteladanan,
3. Metode klarifikasi nilai,
4. Metode fasilitasi nilai, dan
5. Metode keterampilan nilai moral.
Di samping keempat aspek (isi, metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah yaitu evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku. Terkait dengan evaluasi pendidikan moral, dalam teori pendidikan Islam juga menitikberatkan pada evaluasi sikap dan perilaku. Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan subjek didik yang meliputi empat hal, yaitu:
1. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya;
2. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat;
3. Sikap dan pengalaman peserta didik terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya;
4. Sikap dan pandangan peserta didik terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah SWT.
Nama: Adelbertus Gading Ananta Putra
Npm: 2113053023
Izin memberikan analisis jurnal mengenai “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH”
Pada hakekatnya materi pendidikan moral meliputi pengajaran dan pengalaman belajar bermoral terhadap diri sendiri, beretika terhadap sesama dan alam semesta, beretika terhadap Tuhan Yang Maha Esa. (Zuriah, 2010). Pendidikan moral bagi diri sendiri sangat penting bagi siswa mengenai nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, ketekunan, disiplin waktu. Pendidikan moral bagi sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, rasa hormat, keadilan, kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab dan kepedulian. Pendidikan moral hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan memperkuat nilai-nilai keseimbangan alam, melestarikan alam, tidak merusak alam, menghemat uang dan mendidik untuk penggunaan kembali (recycle) barang bekas menjadi bentuk baru. Pendidikan akhlak dalam hubungan manusia dengan Sang Pencipta menjadi penting, apalagi karena Indonesia adalah bangsa yang bertakwa (Pasal 29 UUD 1945).
Pendidikan moral dewasa ini menghadapi berbagai tantangan seiring dengan berkembangnya era keterbukaan dan kecanggihan teknologi. Tentu sangat berbeda dengan masa lalu. Dalam masyarakat religius tradisional, moralitas diturunkan kepada generasi berikutnya dengan cara tertentu, yaitu melalui transmisi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena selama ini diajarkan seperti itu. Kemudian pengajaran dilakukan. Peran nalar terbatas pada upaya memahami alasannya dan konsekuensi.
Pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan seluruh warga sekolah agar tercapai pendidikan akhlak yang utuh. Komponen pendidikan moral lainnya di sekolah yang tidak kalah pentingnya adalah cakupan materi, metode yang beragam, dan penilaian yang komprehensif.
Npm: 2113053023
Izin memberikan analisis jurnal mengenai “PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH”
Pada hakekatnya materi pendidikan moral meliputi pengajaran dan pengalaman belajar bermoral terhadap diri sendiri, beretika terhadap sesama dan alam semesta, beretika terhadap Tuhan Yang Maha Esa. (Zuriah, 2010). Pendidikan moral bagi diri sendiri sangat penting bagi siswa mengenai nilai-nilai kebersihan diri, kerajinan dalam belajar/bekerja, ketekunan, disiplin waktu. Pendidikan moral bagi sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, rasa hormat, keadilan, kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab dan kepedulian. Pendidikan moral hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan memperkuat nilai-nilai keseimbangan alam, melestarikan alam, tidak merusak alam, menghemat uang dan mendidik untuk penggunaan kembali (recycle) barang bekas menjadi bentuk baru. Pendidikan akhlak dalam hubungan manusia dengan Sang Pencipta menjadi penting, apalagi karena Indonesia adalah bangsa yang bertakwa (Pasal 29 UUD 1945).
Pendidikan moral dewasa ini menghadapi berbagai tantangan seiring dengan berkembangnya era keterbukaan dan kecanggihan teknologi. Tentu sangat berbeda dengan masa lalu. Dalam masyarakat religius tradisional, moralitas diturunkan kepada generasi berikutnya dengan cara tertentu, yaitu melalui transmisi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena selama ini diajarkan seperti itu. Kemudian pengajaran dilakukan. Peran nalar terbatas pada upaya memahami alasannya dan konsekuensi.
Pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan seluruh warga sekolah agar tercapai pendidikan akhlak yang utuh. Komponen pendidikan moral lainnya di sekolah yang tidak kalah pentingnya adalah cakupan materi, metode yang beragam, dan penilaian yang komprehensif.
Assalamu'alaikum warahmatullahi warahmatullahi
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul Pendidikan Moral di sekolah
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu
dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu meng- habiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik.
Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
Kirschenbaum (1995: 31)
mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai- nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
Di samping keempat aspek (isi,
metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya.
b. Heteronomous: berstruktur uni- lateral, vertikal.
c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral.
d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal.
e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi.
f. Integritous: memiliki integritas, mampu mengontrol diri secara sadar.
Terima kasih
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Sebelumnya izin memperkenalkan diri
Nama : Irmanda Frahani
Npm : 2113053124
Kelas : 3C
Izin memberikan analisis mengenai artikel yang berjudul Pendidikan Moral di sekolah
Sekolah merupakan lingkungan mikrosistem. Bronfenbrenner (1979: 22) mengatakan bahwa mikrosistem adalah sebuah pola dari aktivitas, peran dan relasi interpersonal yang dialami oleh seseorang yang sedang tumbuh berkembang di dalam setting tertentu
dengan karakteristik fisik khusus, yaitu suatu lingkungan kehidupan yang di dalamnya seorang individu meng- habiskan sebagian besar waktunya, seperti keluarga, teman sebaya, sekolah dan lingkungan tetangga. Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik.
Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010).
Kirschenbaum (1995: 31)
mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai- nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
Di samping keempat aspek (isi,
metode, proses dan pendidik), pendidikan nilai juga memerlukan evaluasi yang komprehensif. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral. Maka, evaluasi pendidikan nilai juga mencakup tiga ranah tersebut. berupa evaluasi penalaran moral, evaluasi karakteristik afektif, dan evaluasi perilaku (Darmiyati, 2009: 51).
Dalam hal evaluasi afektif, Dupon (Darmiyati, 2009: 54) telah menemukan tahap-tahap perkembangan afektif sebagai berikut:
a. Impersonal, egocentric: tidak jelas strukturnya.
b. Heteronomous: berstruktur uni- lateral, vertikal.
c. Antarpribadi: berstruktur horizontal, bilateral.
d. Psychological-personal: menjadi dasar keterlibatan orang lain atau komitmen pada sesuatu yang ideal.
e. Autonomous: didominasi oleh sifat otonomi.
f. Integritous: memiliki integritas, mampu mengontrol diri secara sadar.
Terima kasih
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama: Rafitri Prihatini
Npm: 2113053133
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 " Pendidikan Moral di Sekolah"
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Pendidikan moral harus diselenggarakan disetiap sekolah, karena pada dasarnya sekolah berfungsi untuk menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Dalam melakukan pendidikan moral disekolah tidak hanya dilakukan oleh pendidik saja, akan tetapi dilakukan oleh seluruh komponen sekolah seperti materi, metode dan evaluasi nya agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif.
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Metode dalam pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, serta pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
Agar pendidikan moral dapat tercapai secara optimal yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas. Maka sekolah dan pendidik juga harus melakukan evaluasi untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Dalam menerapkan pendidikan nilai moral disekolah dengan memperhatikan komponen-komponen tersebut, maka diharapkan guru dapat merancang pendidikan moral lebih komprehensif sehingga nilai-nilai moral peserta didik berkembang dan nantinya menjadikan mereka generasi muda yang berkualitas.
Npm: 2113053133
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 " Pendidikan Moral di Sekolah"
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Pendidikan moral harus diselenggarakan disetiap sekolah, karena pada dasarnya sekolah berfungsi untuk menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius. Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu. Dalam melakukan pendidikan moral disekolah tidak hanya dilakukan oleh pendidik saja, akan tetapi dilakukan oleh seluruh komponen sekolah seperti materi, metode dan evaluasi nya agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif.
Pada intinya materi pendidikan moral mencakup ajaran dan pengalaman belajar untuk menjadi orang bermoral dalam kaitan dengan diri sendiri, moral terhadap sesama manusia dan alam semesta serta moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Zuriah, 2010). Metode dalam pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilai-nilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, serta pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
Agar pendidikan moral dapat tercapai secara optimal yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas. Maka sekolah dan pendidik juga harus melakukan evaluasi untuk mengetahui ketercapaian tujuan. Tujuan pendidikan nilai meliputi tiga kawasan, yakni penalaran nilai/moral, perasaan nilai/moral dan perilaku nilai/moral.
Dalam menerapkan pendidikan nilai moral disekolah dengan memperhatikan komponen-komponen tersebut, maka diharapkan guru dapat merancang pendidikan moral lebih komprehensif sehingga nilai-nilai moral peserta didik berkembang dan nantinya menjadikan mereka generasi muda yang berkualitas.
Nama : Laela nur vazriyah
NPM : 2113053186
Kelas : 3C
Analisis jurnal yang berjudul “ Pendidikan Moral di Sekolah“.
Henry Giroux (1988: xxxiv)
menyatakan bahwa Sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam
tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan
lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya. Anak-anak yang hidup sekarang ini hidup di zaman modern akhir yang sangat jauh berbeda cara berpikir dan perilakunya dengan anak-anak di masa lalu. Indoktrinasi dipandang para ahli sebagai metode yang sudah usang dan tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. Maka, ada metode lain yang lebih sesuai yaitu :
1. Inkulkasi nilai
2. Metode keteladanan
3. Metode klarifikasi nilai
4. Metode fasilitasi nilai
5. Metode keterampilan nilai moral.
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat
bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.
NPM : 2113053186
Kelas : 3C
Analisis jurnal yang berjudul “ Pendidikan Moral di Sekolah“.
Henry Giroux (1988: xxxiv)
menyatakan bahwa Sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Sekolah bukan sebagai perluasan tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan. Peserta didik belajar wacana tentang organisasi umum dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks inilah, guru berfungsi untuk mewujudkan peserta didik agar menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis. Hal tersebut juga diamanatkan di dalam
tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik. Oleh karena guru adalah ujung tombak untuk mewujudkan moral yang baik dalam diri peserta didik, maka guru terlebih dahulu harus bermoral baik pula. Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan
lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.
Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekali dengan masa lalu. Di lingkungan masyarakat religius tradisional, moral diwariskan kepada generasi berikutnya secara given yaitu indoktrinasi. Artinya suatu ajaran moral harus diterima karena memang sejak dahulu diajarkan demikian. Setelah itu, ajaran tersebut dilaksanakan. Peran akal sebatas berupaya memahami alasannya dan konsekuensinya. Anak-anak yang hidup sekarang ini hidup di zaman modern akhir yang sangat jauh berbeda cara berpikir dan perilakunya dengan anak-anak di masa lalu. Indoktrinasi dipandang para ahli sebagai metode yang sudah usang dan tidak sejalan dengan semangat modern tersebut. Maka, ada metode lain yang lebih sesuai yaitu :
1. Inkulkasi nilai
2. Metode keteladanan
3. Metode klarifikasi nilai
4. Metode fasilitasi nilai
5. Metode keterampilan nilai moral.
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat
bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.
Nama: Mutia Rahma Aulia
NPM: 2113053136
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 dengan judul "Pendidikan Moral di Sekolah"
Pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan ada 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekalilalu dengan masa lalu.
Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
NPM: 2113053136
Kelas: 3C
Analisis jurnal 1 dengan judul "Pendidikan Moral di Sekolah"
Pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan ada 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas, modeling nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, kecakapan untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah. Pendidikan moral pada masa sekarang menghadapi berbagai tantangan seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai oleh keterbukaan informasi dan kecanggihan teknologi. Hal ini tentu berbeda sekalilalu dengan masa lalu.
Supaya tujuan pendidikan nilai yang berwujud perilaku yang diharapkan dapat tercapai, subjek didik harus sudah memiliki kemampuan berpikir/bernalar dalam permasalahan nilai/moral sampai dapat membuat keputusan secara mandiri dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.
Nama: Fitri Cahya Karnain
NPM: 2153053034
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul "Pendidikan Moral Di Sekolah" Pendidikan moral di sekolah ini perlu dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh dan maksimal guna membangun generasi bangsa yang berkualitas. Sebenarnya peran utama untuk mendidik moral anak adalah orang tua namun guru di sekolah juga memiliki peranan besar dalam mewujudkan dan membentuk moral peserta didik. Keluarga sekolah dan masyarakat bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda atau generasi bangsa agar memiliki moral yang baik dan pintar secara intelektual sehingga terwujudlah generasi muda yang unggul dan cerdas.
NPM: 2153053034
Kelas : 3C
Analisis Jurnal 1 yang berjudul "Pendidikan Moral Di Sekolah" Pendidikan moral di sekolah ini perlu dilaksanakan dengan bersungguh-sungguh dan maksimal guna membangun generasi bangsa yang berkualitas. Sebenarnya peran utama untuk mendidik moral anak adalah orang tua namun guru di sekolah juga memiliki peranan besar dalam mewujudkan dan membentuk moral peserta didik. Keluarga sekolah dan masyarakat bersama-sama memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda atau generasi bangsa agar memiliki moral yang baik dan pintar secara intelektual sehingga terwujudlah generasi muda yang unggul dan cerdas.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya izin memperkenalkan diri,
Nama: Sherlita Nur Azizah
NPM: 2113053232
Kelas: 3C
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1,
Generasi bangsa yang berkualitas dapat dibangun melalui pendidikan moral diskolah. Guru merupakan seseorang yang berperan penting untuk mewujudkan moral peserta didik yang baik. Selain itu keluarga, sekolah, dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal. Dengan memperhatikan komponen-komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas. Oleh karena itu, penting sekali menerapkan pendidikan moral di sekolah.
Nama: Sherlita Nur Azizah
NPM: 2113053232
Kelas: 3C
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1,
Generasi bangsa yang berkualitas dapat dibangun melalui pendidikan moral diskolah. Guru merupakan seseorang yang berperan penting untuk mewujudkan moral peserta didik yang baik. Selain itu keluarga, sekolah, dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal. Dengan memperhatikan komponen-komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas. Oleh karena itu, penting sekali menerapkan pendidikan moral di sekolah.
Nama : Putri ristamarin
NPM : 2013053185
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik
moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untukmewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakatbersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baiksekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.
NPM : 2013053185
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik
moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untukmewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakatbersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baiksekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Nama : Hasni Septiani
NPM :2113053097
Kelas :3C
Izin memberikan hasil analisis jurnal 1
Walaupun peran untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya.Sebagai sebuah mikrosistem, diperkirakan memiliki pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik.Dengan kata lain, fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius.Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.Maka, pengembangan dalam pendidikan dapat didefinisikan menjadi "keseluruhan tindakan dan komunikasi dan tertulis yang melihat tujuan pendidikan lebih mengutamakan pada upaya membantu, mendorong, memfasilitasi pertumbuhan siswa sebagai manusia utuh, termasuk di dalamnya sisi kognitif, emosional, sosial, etik kreatif dan spiritualnya Berdasarkan pertimbangan di atas, perlu dilakukan perencanaan terkait pendidikan moral di sekolah yang komprehensif, yang melibatkan berbagai komponen: pendidik, materi,metode, dan evaluasinya.Rangkuman berbagai teori diambil dari hasil pemikiran dan penelitian para pakar pendidikan moral seperti Kirschenbaum, Thomas Lickona, Darmiyati Zuchdi dan Nurul Zuriah yang kemudian diinterpretasi dan disintesiskan oleh penulis sehingga diperoleh kesatuan gagasan tentang teori pendidikan moral di sekolah.Sekolah sebagai tempat demokratis yang dikembangkan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial.Dalam arti ini, sekolah adalah tempat bagi peserta didik untuk belajar pengetahuan publik dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.Sekolah bukan sebagai memperluas tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan.Dalam konteks inilah, guru bekerja untuk mewujudkan peserta didik menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan memperkuat nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru.Pendidikan agama yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai moral yang diberi tempat yang khusus dan penting. Nilai-nilai moral yang diajarkan dalam ajaran agama menjadi sumber nilai bagi kehidupan masyarakat Indonesia sehingga di sekolah pun nilai-nilai moral tetap diberikan tempat khusus sebagaimana telah dimasukkan dalam kurikulum, baik intra maupun ekstra kurikuler.
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH. Jurnal Humanika, Th.XVII, No. 1. Maret 2017 5 3. Metode Pendidikan Moral Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas , pemodelan nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, pembelajaran untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
Sekian dan Terimakasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh
Nama : Hasni Septiani
NPM :2113053097
Kelas :3C
Izin memberikan hasil analisis jurnal 1
Walaupun peran untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya.Sebagai sebuah mikrosistem, diperkirakan memiliki pengaruh yang kuat yang dapat dilihat secara langsung dalam diri subjek didik.Dengan kata lain, fungsi sekolah terkait dengan upaya menumbuhkan nilai-nilai akademik, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai religius.Sekolah yang baik adalah sekolah yang peduli dan fokus pada pendidikan moral atau pendidikan nilai di samping kegiatan pengajaran ilmu.Maka, pengembangan dalam pendidikan dapat didefinisikan menjadi "keseluruhan tindakan dan komunikasi dan tertulis yang melihat tujuan pendidikan lebih mengutamakan pada upaya membantu, mendorong, memfasilitasi pertumbuhan siswa sebagai manusia utuh, termasuk di dalamnya sisi kognitif, emosional, sosial, etik kreatif dan spiritualnya Berdasarkan pertimbangan di atas, perlu dilakukan perencanaan terkait pendidikan moral di sekolah yang komprehensif, yang melibatkan berbagai komponen: pendidik, materi,metode, dan evaluasinya.Rangkuman berbagai teori diambil dari hasil pemikiran dan penelitian para pakar pendidikan moral seperti Kirschenbaum, Thomas Lickona, Darmiyati Zuchdi dan Nurul Zuriah yang kemudian diinterpretasi dan disintesiskan oleh penulis sehingga diperoleh kesatuan gagasan tentang teori pendidikan moral di sekolah.Sekolah sebagai tempat demokratis yang dikembangkan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial.Dalam arti ini, sekolah adalah tempat bagi peserta didik untuk belajar pengetahuan publik dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.Sekolah bukan sebagai memperluas tempat kerja atau sebagai lembaga garis depan dalam pertempuran pasar internasional dan kompetisi asing, sekolah sebagai ruang publik yang demokratis dibangun untuk membentuk siswa dapat mengajukan pertanyaan kritis, menghargai dialog yang bermakna dan menjadi agensi kemanusiaan.Dalam konteks inilah, guru bekerja untuk mewujudkan peserta didik menjadi warga negara yang aktif dalam masyarakat yang demokratis.Dengan demikian, pendidikan moral yang dilaksanakan oleh guru akan lebih mudah diterima dan diteladani oleh para peserta didiknya.Pendidikan moral untuk sesama manusia mencakup nilai-nilai moral sosial seperti kerjasama, toleransi, respek, berlaku adil, jujur, rendah hati, tanggung jawab, dan peduli.Pendidikan moral untuk hubungan manusia dengan alam semesta dapat diberikan dengan memperkuat nilai-nilai keseimbangan alam, menjaga kelestarian alam, tidak merusak alam, hemat, dan mendidik untuk menggunakan kembali barang-barang bekas (daur ulang) dalam bentuk yang baru.Pendidikan agama yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai moral yang diberi tempat yang khusus dan penting. Nilai-nilai moral yang diajarkan dalam ajaran agama menjadi sumber nilai bagi kehidupan masyarakat Indonesia sehingga di sekolah pun nilai-nilai moral tetap diberikan tempat khusus sebagaimana telah dimasukkan dalam kurikulum, baik intra maupun ekstra kurikuler.
PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH. Jurnal Humanika, Th.XVII, No. 1. Maret 2017 5 3. Metode Pendidikan Moral Kirschenbaum (1995: 31) mengusulkan 100 cara atau metode pendidikan moral, yang dipayungi dalam lima kategori besar metode pendidikan moral yaitu penanaman (inkulkasi) nilai-nilai dan moralitas , pemodelan nilainilai dan moralitas, fasilitasi nilai-nilai dan moralitas, pembelajaran untuk mengembangkan nilai dan melek moral, pelaksanaan program pendidikan nilai di sekolah.
Sekian dan Terimakasih
Wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Wiranto Oktavian
NPM : 2153053012
Izin memberikan hasil analisi jurnal di atas pak terkait tentang pendidikan moral di sekolah
Berdasarkan jurnal di atas bahwa pendidikan moral di sekolah ini sangatlah penting karena pendidikan moral ini akan membekali moral anak sekolah dalam kehidupan berinteraksi dengan orang lain yang baik juga sopan. Oleh karena itu guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai
pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral
di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi
metode, dan evaluasi yang menyeluruh.
Dengan memperhatikan komponen-komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat
dicapai secara optimal, yaitu
berkembangnya nilai-nilai moral dalam
diri peserta didik sehingga mereka
menjadi generasi muda yang berkualitas.
Sekian terimakasih.
Nama : Wiranto Oktavian
NPM : 2153053012
Izin memberikan hasil analisi jurnal di atas pak terkait tentang pendidikan moral di sekolah
Berdasarkan jurnal di atas bahwa pendidikan moral di sekolah ini sangatlah penting karena pendidikan moral ini akan membekali moral anak sekolah dalam kehidupan berinteraksi dengan orang lain yang baik juga sopan. Oleh karena itu guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai
pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral
di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi
metode, dan evaluasi yang menyeluruh.
Dengan memperhatikan komponen-komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat
dicapai secara optimal, yaitu
berkembangnya nilai-nilai moral dalam
diri peserta didik sehingga mereka
menjadi generasi muda yang berkualitas.
Sekian terimakasih.
Nama : Grace Hanna
Kelas : 3C
Npm : 2113053287
Izin memberikan analisis jurnal tentang pendidikan moral di sekolah.
pendidikan moral adalah usaha nyata dalam membentuk moralitas anak didik menjadi generasi bangsa yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bermoral. Adanya pendidikan moral maka akan membentuk anak bangsa Indonesia menjadi individu yang beragama, memiliki rasa kemanusiaan/tenggang rasa demi persatuan menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah untuk kerakyatan serta keadilan hakiki.
Hal yang paling mudah mengajarkan pendidikan moral di sekolah dengan menjadi contoh. Kita sebagai calon guru harus belajar bagaimana moral yang baik agar kelak kita bisa mengajarkan kepada murid. Kita juga nanti harus mengajarkan moral kepada murid dengan cara yang menyenangkan agar murid tidak bosan dan berakhir tidak memperhatikan apa yang kita sampaikan.
Kelas : 3C
Npm : 2113053287
Izin memberikan analisis jurnal tentang pendidikan moral di sekolah.
pendidikan moral adalah usaha nyata dalam membentuk moralitas anak didik menjadi generasi bangsa yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bermoral. Adanya pendidikan moral maka akan membentuk anak bangsa Indonesia menjadi individu yang beragama, memiliki rasa kemanusiaan/tenggang rasa demi persatuan menjunjung tinggi nilai-nilai musyawarah untuk kerakyatan serta keadilan hakiki.
Hal yang paling mudah mengajarkan pendidikan moral di sekolah dengan menjadi contoh. Kita sebagai calon guru harus belajar bagaimana moral yang baik agar kelak kita bisa mengajarkan kepada murid. Kita juga nanti harus mengajarkan moral kepada murid dengan cara yang menyenangkan agar murid tidak bosan dan berakhir tidak memperhatikan apa yang kita sampaikan.
Nama : Kadek Eli
NPM : 2113053117
Kelas: 3C
Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul pendidikan moral disekolah , dari jurnal tersebut kita tahu bahwa pendidikan moral disekolah sangat penting untuk proses perkembangan sifat dan tingkah laku anak. Pendidikan moral perlu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar terwujud nya generasi muda yang berkualitas. Bukan hanya sekolah namun peran keluarga juga dibutuhkan dalam membangun moral yang baik bagi anak. Pendidikan moral disekolah dirancang sebaik mungkin sehingga hasilnya dapat
dicapai secara optimal, yaitu
berkembangnya nilai-nilai moral dalam
diri siswa.
NPM : 2113053117
Kelas: 3C
Izin memberikan analisis jurnal yang berjudul pendidikan moral disekolah , dari jurnal tersebut kita tahu bahwa pendidikan moral disekolah sangat penting untuk proses perkembangan sifat dan tingkah laku anak. Pendidikan moral perlu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar terwujud nya generasi muda yang berkualitas. Bukan hanya sekolah namun peran keluarga juga dibutuhkan dalam membangun moral yang baik bagi anak. Pendidikan moral disekolah dirancang sebaik mungkin sehingga hasilnya dapat
dicapai secara optimal, yaitu
berkembangnya nilai-nilai moral dalam
diri siswa.
Jessica Amelia Putri
2113053029
3C
Analisis Jurnal 1
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
2113053029
3C
Analisis Jurnal 1
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.pendidikan moral di sekolah penting dilakukan oleh guru dan segenap komponen warga sekolah agar tercapai pendidikan moral yang komprehensif. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh.Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama : Reza Fitriyani sari
Npm : 2113053094
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1
“ pendidikan moral di sekolah”
Generasi bangsa yang berkualitas tercipta dengan dilaksanakananya secara sungguh sungguh pendidikan moral di sekolah. Moral anak terbentuk di lingkungan keluarga sehingga menjadi tanggung jawab orang tua, namun ketika di sekolah guru adalah orang tua yang bertanggung jawab untuk mendidik moral anak agar mereka bermoral baik dan cerdas secara intelektual. Pendidikan moral di sekolah penting untuk dilakukan baik oleh guru maupun segenap komponen warga sekolah lainnya, hal ini dilakukan agar tercapainya pendidikan moral yang komprehensif yang mencakup berbagai aspek yaitu pendidik, materi, metode, dan evaluasi. Pendidikan moral yang komprehensif akan tercapai secara optimal dengan memperhatikan setiap komponen dan nilai nilai moral yang ada dalam diri anak dapat berkembang sehingga mereka dapat ,emjadi generasi muda yang berkulaitas dan bermoral.
Terima kasih
Npm : 2113053094
Izin menyampaikan hasil analisis jurnal 1
“ pendidikan moral di sekolah”
Generasi bangsa yang berkualitas tercipta dengan dilaksanakananya secara sungguh sungguh pendidikan moral di sekolah. Moral anak terbentuk di lingkungan keluarga sehingga menjadi tanggung jawab orang tua, namun ketika di sekolah guru adalah orang tua yang bertanggung jawab untuk mendidik moral anak agar mereka bermoral baik dan cerdas secara intelektual. Pendidikan moral di sekolah penting untuk dilakukan baik oleh guru maupun segenap komponen warga sekolah lainnya, hal ini dilakukan agar tercapainya pendidikan moral yang komprehensif yang mencakup berbagai aspek yaitu pendidik, materi, metode, dan evaluasi. Pendidikan moral yang komprehensif akan tercapai secara optimal dengan memperhatikan setiap komponen dan nilai nilai moral yang ada dalam diri anak dapat berkembang sehingga mereka dapat ,emjadi generasi muda yang berkulaitas dan bermoral.
Terima kasih
Nama: Ika Saefitri
Npm: 2113053099
Kelas: 3C
ANALISIS JURNAL 1
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di
sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.
Npm: 2113053099
Kelas: 3C
ANALISIS JURNAL 1
Pendidikan moral di sekolah perlu dilaksanakan secara bersungguh-sungguh untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Walaupun peran utama untuk mendidik moral anak adalah di tangan orang tua mereka, guru di sekolah juga berperan besar untuk mewujudkan moral peserta didik yang seharusnya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak muda agar bermoral baik sekaligus pintar secara intelektual sehingga terwujud generasi muda yang unggul. Itulah tujuan utama pendidikan sebagaimana dinyatakan oleh Aristoteles. Pendidikan moral di
sekolah harus dirancang komprehensif mencakup berbagai aspek, yaitu: pendidik, materi, metode, dan evaluasi sehingga hasilnya diharapkan akan optimal.
Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya.
Diamanatkan dalam tujuan pendidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu guru juga bertugas untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak yang mulia dalam diri peserta didik.
Komponen-komponen pendidikan moral
di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen-komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Nama : Kiki Lieoni Widodo
NPM : 2113053005
Izin memberikan analisis jurnal 1 yang berjudul "PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH"
Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
NPM : 2113053005
Izin memberikan analisis jurnal 1 yang berjudul "PENDIDIKAN MORAL DI SEKOLAH"
Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.
Noeng Muhadjir (2003: 16-18) mengatakan bahwa ditinjau dari segi antropologi kultural dan sosiologi, ada tiga fungsi utama pendidikan, yaitu menumbuhkan kreativitas subjek-didik, menumbuhkembangkan nilai-nilai insani dan Ilahi pada subjek didik dan satuan sosial masyarakat, dan meningkatkan kemampuan kerja produktif pada subjek didik. Guru yang baik tentu saja sangat strategis untuk terbentuknya moral siswa yang baik pula. Sebagaimana dinyatakan oleh Henry Giroux (1988: xxxiv) sekolah berfungsi sebagai ruang publik yang demokratis. Sekolah sebagai tempat demokratis yang didedikasikan untuk membentuk pemberdayaan diri dan sosial. Dalam arti ini, sekolah adalah tempat publik bagi peserta didik untuk dapat belajar pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi yang sesungguhnya. Komponen-komponen pendidikan moral di sekolah yang lain yang tidak kalah penting adalah cakupan materi, variasi metode, dan evaluasi yang menyeluruh. Dengan memperhatikan komponen- komponen tersebut, sekolah dengan guru sebagai peran utama dapat merancang pendidikan moral secara lebih komprehensif sehingga hasilnya dapat dicapai secara optimal, yaitu berkembangnya nilai-nilai moral dalam diri peserta didik sehingga mereka menjadi generasi muda yang berkualitas.