Forum Diskusi

Forum Diskusi

Number of replies: 3

Menurut anda bagaimana mengembangkan  ecopedagogy dalam pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal?Adakah kearifan lokal di daerah anda yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran IPS di sekolah/PT? Berikan penjelasan anda.

In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Menurut saya, pengembangan ecopedagogy dalam pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal dapat dilakukan dengan menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan sosial dan lingkungan nyata di sekitar peserta didik. Pengembangannya dapat dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, mengidentifikasi kearifan lokal yang masih dijalankan oleh masyarakat, seperti gotong royong, musyawarah, dan kebiasaan menjaga lingkungan. Kedua, mengaitkannya dengan materi IPS, misalnya interaksi manusia dengan lingkungan, interaksi sosial, kegiatan ekonomi, dan perubahan sosial. Ketiga, melibatkan peserta didik dalam pembelajaran kontekstual, seperti observasi lingkungan, wawancara dengan tokoh masyarakat, diskusi mengenai masalah lingkungan, dan pemetaan potensi lokal. Keempat, melaksanakan proyek atau aksi nyata, misalnya kegiatan membersihkan lingkungan, merawat tanaman, mengelola sampah, atau membuat poster edukasi lingkungan. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami konsep IPS, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai sosial dan ekologis dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, kearifan lokal masyarakat Lampung, seperti Piil Pesenggiri, dapat menjadi sumber pembelajaran nilai sosial, terutama dalam membangun sikap saling menghormati, menjaga martabat, dan hidup berdampingan secara harmonis. Nilai tersebut dapat dikaitkan dengan materi IPS tentang keberagaman sosial dan budaya, hubungan antarkelompok masyarakat, serta tanggung jawab warga dalam kehidupan bersama.
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Indri Mutiara -
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Menurut saya, ecopedagogy dalam pembelajaran IPS dapat dikembangkan dengan menjadikan nilai-nilai yang hidup di masyarakat sebagai fondasinya. Ecopedagogy adalah pendekatan pendidikan kritis yang menumbuhkan kesadaran ekologis, keadilan sosial-lingkungan, dan tanggung jawab etis terhadap keberlanjutan hidup. IPS sangat cocok untuk pendekatan ini karena ia mengkaji hubungan manusia dengan ruang, masyarakat, ekonomi, dan budayanya. Lingkungan tidak lagi dipandang sebagai objek yang boleh dieksploitasi, melainkan bagian dari relasi sosial yang harus dijaga. Ecopedagogy akan lebih bermakna bila siswa tidak hanya diajari “peduli lingkungan” secara abstrak, tetapi juga diajak menyadari bahwa leluhur mereka sudah memiliki sistem nilai yang mengatur hubungan antara manusia, sesama, dan alam.

Di Lampung, kearifan lokal yang paling relevan adalah Piil Pesenggiri, yaitu falsafah hidup yang bermakna harga diri, kehormatan, dan jati diri masyarakat Lampung. Falsafah ini bertumpu pada empat unsur. Pertama, Juluk-Adok, yaitu gelar atau nama kehormatan yang selalu disertai tanggung jawab sosial, sehingga kehormatan seseorang diukur dari kontribusinya bagi masyarakat dan lingkungan. Kedua, Nemui-Nyimah, yaitu keramahan, keterbukaan, dan sikap saling memuliakan, yang dapat menjadi dasar dialog dan penyelesaian konflik lingkungan secara damai. Ketiga, Nengah-Nyappur, yaitu sikap aktif berbaur, bermusyawarah, dan berpengetahuan luas, yang sejalan dengan partisipasi warga dalam pengambilan keputusan dan literasi lingkungan. Keempat, Sakai-Sambayan, yaitu gotong royong dan tolong-menolong, yang dapat diwujudkan dalam aksi kolektif menjaga sungai, hutan, kebun, dan lingkungan desa. Selain itu, Lampung memiliki praktik ekologis lokal, seperti pengelolaan repong damar di Pesisir Barat sebagai agroforestri tradisional, tradisi berkebun secara komunal, serta pengelolaan sumber air dan hutan adat di sejumlah marga. Semua ini dapat menjadi konteks nyata dalam pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai Piil Pesenggiri dapat diintegrasikan ke dalam tujuan dan materi pembelajaran IPS. Materi interaksi manusia dengan lingkungan dalam Geografi dapat dihubungkan dengan Sakai-Sambayan, materi perubahan sosial dan ekonomi dengan Nengah-Nyappur, dan materi identitas budaya dengan Juluk-Adok. Model pembelajaran berbasis masalah dan proyek sangat cocok digunakan, sebab siswa dapat menelaah isu lokal seperti sampah di sekitar sekolah, alih fungsi lahan, banjir, pencemaran sungai, atau deforestasi, lalu merancang solusi dengan semangat gotong royong. Sebagai contoh, proyek “Sakai-Sambayan Bersih Sungai” dapat meliputi pemetaan titik sampah, wawancara dengan tokoh adat dan warga, aksi bersih bersama, kampanye, serta penyusunan laporan hasil. Pembelajaran juga dapat dibawa keluar kelas, misalnya dengan mengunjungi kebun masyarakat atau kawasan agroforestri dan mewawancarai tetua adat (punyimbang) tentang aturan adat dalam menjaga alam. Dengan begitu, siswa memahami bahwa pengetahuan ekologis tersimpan dalam tradisi lisan dan praktik hidup sehari-hari.

Ecopedagogy tidak boleh berhenti pada kegiatan bersih-bersih semata, tetapi perlu mengajak siswa berpikir kritis. Mereka dapat diajak bertanya siapa yang diuntungkan dan dirugikan oleh kerusakan lingkungan, serta bagaimana kebijakan, ekonomi, dan gaya hidup konsumtif ikut berperan. Nilai Nengah-Nyappur mendorong siswa untuk berani berdiskusi, bermusyawarah, dan menyuarakan pendapat, sedangkan nilai Nemui-Nyimah dipraktikkan dalam diskusi yang santun dan menghargai perbedaan, termasuk ketika berhadapan dengan pihak yang memiliki kepentingan berbeda. Penilaian pun sebaiknya bersifat autentik, melalui portofolio proyek, jurnal refleksi, observasi sikap, presentasi, dan kampanye nyata, bukan hanya tes kognitif.

Sebagai gambaran, pembelajaran dengan topik interaksi manusia dan lingkungan serta keberlanjutan dapat dimulai dengan mengamati foto atau video lingkungan yang tercemar dan yang masih lestari, lalu mendiskusikan makna Piil Pesenggiri. Pada kegiatan inti, setiap kelompok memilih satu unsur Piil Pesenggiri dan mengaitkannya dengan masalah lingkungan lokal, kemudian melakukan observasi atau wawancara dan menyusun rencana aksi. Pembelajaran ditutup dengan presentasi, refleksi, dan komitmen tindak lanjut, misalnya melalui pertanyaan reflektif apakah tindakan saya sudah mencerminkan harga diri sebagai orang Lampung yang menjaga alam.

Tentu ada beberapa tantangan dalam penerapannya. Guru mungkin kurang memahami kearifan lokal, sehingga perlu pelatihan dan kolaborasi dengan tokoh adat serta budayawan. Bahan ajar yang terbatas dapat diatasi dengan menyusun modul kontekstual berdasarkan hasil riset lokal. Siswa yang beragam latar belakang suku dapat dilibatkan dengan menekankan nilai universal seperti gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati, sambil menghargai kearifan lokal dari daerah asal mereka. Adapun padatnya kurikulum dapat disiasati dengan mengintegrasikan pembelajaran ini ke dalam proyek penguatan profil pelajar Pancasila atau modul ajar yang sudah ada.

Pada akhirnya, Piil Pesenggiri sangat potensial menjadi fondasi ecopedagogy dalam pembelajaran IPS karena nilainya bersifat sosial sekaligus etis. Kehormatan (piil) seseorang tidak hanya diukur dari status, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap sesama dan lingkungan. Jika nilai ini dihidupkan dalam proses belajar, siswa akan tumbuh sebagai warga yang kritis, bertanggung jawab, dan bangga pada budayanya, sekaligus peduli pada keberlanjutan bumi.
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama: Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM: 2523031009

Menurut saya, pengembangan ecopedagogy dalam pembelajaran IPS berbasis kearifan lokal harus diarahkan pada pembentukan kesadaran kritis peserta didik mengenai hubungan antara manusia, masyarakat, dan lingkungan. Pembelajaran IPS tidak cukup hanya menjelaskan kerusakan lingkungan dan cara mengatasinya, tetapi perlu mengajak peserta didik menganalisis akar persoalannya, seperti pola konsumsi, kepentingan ekonomi, perilaku masyarakat, dan kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi individu yang mengetahui pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga mampu memahami penyebab masalah dan terlibat dalam mencari solusi melalui observasi lapangan, diskusi kritis, serta proyek aksi lingkungan.

Salah satu kearifan lokal di Provinsi Lampung yang dapat diintegrasikan adalah Sakai Sambayan, yaitu nilai gotong royong dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai ini relevan dengan ecopedagogy karena persoalan lingkungan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan persoalan bersama yang membutuhkan partisipasi kolektif. Dalam pembelajaran IPS di sekolah, misalnya, peserta didik dapat melakukan proyek pengelolaan sampah dan pemeliharaan lingkungan sekolah dengan menerapkan prinsip kerja sama. Di perguruan tinggi, mahasiswa dapat mengkaji bagaimana nilai Sakai Sambayan berperan dalam pengelolaan lingkungan masyarakat sekaligus menganalisis tantangan penerapannya di tengah perubahan sosial dan menguatnya kepentingan individual.

Namun, kearifan lokal tidak boleh hanya diposisikan sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, tetapi perlu diuji relevansi dan penerapannya dalam menghadapi persoalan ekologis masa kini. Nilai gotong royong, misalnya, tidak akan memberikan dampak berarti apabila hanya dipahami secara konseptual tanpa diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena itu, keberhasilan ecopedagogy bukan sekadar terlihat dari pengetahuan peserta didik tentang lingkungan dan budaya lokal, melainkan dari kemampuan mereka berpikir kritis, membangun tanggung jawab kolektif, dan mengambil tindakan untuk mengatasi persoalan lingkungan. Dengan pendekatan ini, pembelajaran IPS dapat menjadi sarana untuk menghubungkan identitas budaya lokal dengan kesadaran ekologis dan pembangunan berkelanjutan.