Nama : Muhammad Wildan Ghani
NPM : 2353031002
peningkatan anggaran pendidikan tidak otomatis meningkatkan kualitas SDM. Anggaran memang penting, karena tanpa dana yang cukup sekolah sulit memperbaiki fasilitas, meningkatkan kesejahteraan guru, menyediakan teknologi, dan memperluas akses pendidikan. Pemerintah sendiri menjaga anggaran pendidikan 20% dari APBN, bahkan anggaran pendidikan 2026 direncanakan Rp757,8 triliun. Namun, uang yang besar belum tentu menghasilkan SDM berkualitas kalau penggunaannya tidak tepat sasaran.
Yang lebih penting adalah bagaimana anggaran itu dikelola. Misalnya, apakah benar-benar dipakai untuk meningkatkan mutu guru, memperbaiki kurikulum, memperkuat pendidikan vokasi, menyediakan pelatihan digital, dan membantu siswa dari keluarga kurang mampu. Kalau anggaran hanya habis untuk administrasi atau program yang tidak menyentuh kualitas pembelajaran, maka dampaknya terhadap SDM bisa kecil.
Terkait pengangguran sarjana dan teori human capital, menurut teori human capital, pendidikan dianggap sebagai investasi yang dapat meningkatkan keterampilan, produktivitas, dan peluang kerja seseorang. Tetapi kenyataannya, masih ada sarjana yang menganggur. Data BPS menunjukkan TPT Indonesia pada Februari 2025 sebesar 4,76%, sedangkan TPT lulusan universitas pada 2025 tercatat 5,39%.
Artinya, pendidikan tinggi saja belum cukup kalau tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Sarjana bisa menganggur bukan karena pendidikan tidak penting, tetapi karena ada mismatch antara jurusan, keterampilan, pengalaman, dan kebutuhan industri. Banyak lulusan punya ijazah, tetapi belum tentu memiliki kemampuan praktis seperti komunikasi, problem solving, literasi digital, bahasa asing, kerja tim, atau kemampuan teknis sesuai bidangnya.
Menurut saya, Indonesia tidak bisa memilih salah satu antara perluasan akses atau peningkatan kualitas, karena keduanya tetap dibutuhkan. Namun, jika harus menentukan prioritas, Indonesia saat ini lebih mendesak meningkatkan kualitas pendidikan. Akses pendidikan memang harus terus diperluas, terutama di daerah tertinggal, tetapi kualitasnya jangan dibiarkan timpang.
Kesimpulannya, anggaran pendidikan perlu naik, tetapi harus diikuti tata kelola yang baik. Sarjana menganggur menunjukkan bahwa pendidikan harus lebih relevan dengan dunia kerja. Jadi, pengembangan SDM Indonesia harus diarahkan bukan hanya agar masyarakat bisa sekolah, tetapi agar mereka benar-benar memiliki keterampilan, karakter, dan daya saing di era modern.