ANALISIS KASUS

ANALISIS KASUS

Number of replies: 2

GLOBALISASI IPTEK

Globalisasi tercipta setelah era perang dingin dimulai. Saat perang dingin, negara berlomba-lomba menciptakan suatu hal yang semakin memudahkan kehidupan dan semakin mutakhir seperti contohnya terlihat dari kemajuan sistem komunikasi dan teknologi yang pada akhirnya digunakan untuk menyebarkan segala sesuatu supaya mendunia dimulai dari media cetak sampai nirkabel. Globalisasi lalu menimbulkan banyak dampak karena perkembangannya yang semakin pesat lewat kemajuan teknologi dan komunikasi.

Pengaruh globalisasi pada identitas nasional ini meliputi 2 sisi, pengaruh positif dan negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain-lain. Hal ini mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia. Globalisasi pun telah merambah masuk dalam kehidupan bangsa Indonesia di segala sektor, yang nantinya berdampak pada budaya berpikir masyarakat Indonesia. Dampak dari globalisasi adalah terciptanya pasar internasional yang mampu meningkatkan kesempatan kerja dan peluang untuk mendirikan usaha. Dengan hal ini, kehidupan ekonomi masyarakat akan menjadi lebih baik dan lebih sejahtera.

Selain itu, dampak lainnya adalah semakin majunya ilmu pengetahuan di Indonesia lewat banyak sumber-sumber yang dapat diakses melalui internet dengan mudah, karena itu kita semakin mudah mendapatkan informasi dari luar negeri dan mampu ikut bersaing dengan negara lain.Mengikuti budaya kebarat-baratan yang cenderung menekankan etos kerja dan menekankan pada kedisiplinan juga menjadi dampak dari globalisasi yang menguntungkan.

Pengaruh lainnya yaitu batas-batas wilayah negara menjadi tidak terlihat. Batas-batas wilayah negara yang semula merupakan pedoman penting dalam perkembangan masyarakat kini menjadi kurang perhatian dan bahkan bisa saja tidak relevan. Kecenderungan ini menimbulkan peruhahan-perubahan didalam sikap serta perilaku sesuatu masyarakat atau bangsa. Perubahan tersebut terjadi karena orang atau masyarakat tersebut tidak mampu membendung pengaruh yang berasal dari kemajuan teknologi dan komunikasi.

Namun ternyata realita tidak seindah apa yang kita inginkan. Menurut saya penggambaran identitas nasional Indonesia sekarang tidak sama lagi seiring dengan berjalannya zaman. Pola pikir masyarakat sudah banyak berubah dan menurut saya sudah banyak terjadi penyimpangan terhadap identitas kita. Salah satunya adalah terhadap dasar negara kita, Pancasila.

Pada sila ke-1 terjadi kelemahan sistem pendidikan agama di negara ini yang terkadang mengunggulkan agamanya sendiri.Pada sila ke-2 sekarang ini banyak moral pemuda yang tidak memanusiakan manusia lain. Banyak sekali terjadi kasus penganiyayaan junior oleh senior, perkelahian antar teman yang berakibat kematian.Pada sila ke-3 sekarang semakin memudar. Karena oknum-oknum tertentu yang menginginkan haknya dipenuhi, mereka rela melakukan protes untuk menciptkakan negara baru dan lain sebagainya.Pada sila ke-4 yaitu mengenai kepemimpinan yang sekarang tidak demokratis. Pada sila ke-5 Selanjutnya mengenai keadilan, semakin tidak adilnya orang-orang beruang dengan rakyat miskin. Hal ini karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi.

Hal ini terjadi karena kita belum menanamkan jati diri kita atau identitas kita pada diri kita sendiri. Masyarakat Indonesia cenderung sering kehilangan arah dan sering "ikut-ikutan" saja. Namun apabila kita lihat tetangga kita, Jepang, yang sejak zaman restorasi --jauh sebelum globalisasi- selalu menanamkan pada diri mereka bahwa mereka adalah orang Jepang, mereka harus melakukan sesuatu untuk Jepang, mereka harus mejunjung tinggi nama Jepang, Jepang adalah tanah airku. Lain halnya dengan masyarakat Indonesia yang kebanyakan masih tidak paham akan keberadaan Indonesia sebagai tanah air yang seharusnya dijunjung tinggi. Hanya nyanyian "Tanah Airku" saja yang bisa dinyanyikan tapi tidak ada pemaknaan di dalam itu.

TULIS NAMA, NPM, KELAS, PRODI, JURUSAN DAN FAKULTAS NYA BARU SILAHKAN JAWAB TUGAS DIBAWAH INI

Analisis Soal

  1. Bagaimana pendapat dan sikap Anda terhadap sejumlah masalah dan tantangan yang saat ini sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia? Apakah hal itu dapat menyebabkan disintegrasi bangsa Indonesia? Mengapa hal ini terjadi?
  2. Apa yang perlu dilakukan agar kebudayaan Indonesia sebagai pemersatu dibalik keberagaman dan pluralnya bangsa Indonesia?


In reply to First post

Re: ANALISIS KASUS

by Ahmad Alfian Nufus Ahmad Alfian Nufus -
Nama: Ahmad Alfian Nufus
NPM: 2405101009
Kelas: D3 Teknik Mesin 

1. Pendapat dan Sikap Terhadap Masalah serta Tantangan Bangsa Indonesia

Masalah dan Tantangan:
Bangsa Indonesia saat ini menghadapi tantangan multidimensional akibat globalisasi, termasuk pelemahan nilai-nilai Pancasila, kesenjangan ekonomi, degradasi moral generasi muda, politik yang kurang demokratis, dan ancaman disintegrasi akibat konflik horizontal atau separatisme. Contoh konkret dari kasus ini adalah:
- Sila ke-1 (Ketuhanan): Intoleransi dan fanatisme agama yang mengancam kerukunan.
- Sila ke-2 (Kemanusiaan): Kasus perundungan, kekerasan antarkelompok, dan individualisme.
- Sila ke-3 (Persatuan): Gerakan separatisme dan politik identitas yang memecah belah.
- Sila ke-4 (Demokrasi): Sentralisasi kekuasaan dan praktik oligarki.
- Sila ke-5 (Keadilan): Kesenjangan ekonomi yang tajam antara kelompok elit dan masyarakat biasa.

Potensi Disintegrasi:
Masalah-masalah ini berpotensi menyebabkan disintegrasi bangsa jika tidak diatasi. Penyebab utamanya adalah:
- Krisis Identitas Nasional: Masyarakat kehilangan pegangan terhadap Pancasila sebagai fondasi bersama, sehingga mudah terpapar nilai asing yang tidak selaras dengan budaya lokal.
- Ketimpangan Ekonomi: Globalisasi ekonomi memperparah kesenjangan, memicu kecemburuan sosial dan konflik antarkelompok.
- Politik Identitas: Ego sektoral (agama, suku, atau kepentingan kelompok) dimanfaatkan untuk memecah persatuan.
- Lemahnya Ketahanan Budaya: Arus globalisasi menggerus nilai-nilai lokal, sementara masyarakat belum siap menyaringnya secara kritis.

Mengapa Terjadi?
- Pendidikan yang Tidak Membumi: Kurikulum pendidikan kurang menekankan internalisasi Pancasila dan kearifan lokal.
- Pemerintah yang Tidak Inklusif: Kebijakan pembangunan sering terpusat di Jawa dan mengabaikan daerah lain, memicu kekecewaan.
- Pengaruh Teknologi Tanpa Filter: Media sosial menjadi alat penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan propaganda yang merusak kohesi sosial.


2. Langkah Memperkuat Kebudayaan sebagai Pemersatu Bangsa

Strategi yang Perlu Dilakukan:
- Revolusi Pendidikan:
- Integrasikan Pancasila, kearifan lokal, dan sejarah perjuangan bangsa dalam kurikulum dengan pendekatan praktis (proyek kebudayaan, pertukaran pelajar antardaerah).
- Contoh: Program "Budaya Masuk Sekolah" di Bali yang mengajarkan tradisi lokal melalui seni dan kriya.

- Penguatan Bhinneka Tunggal Ika:
- Dorong dialog antaragama dan antaretnis melalui forum budaya (festival multikultural, seminar kebangsaan).
- Contoh: Festival Pesona Danau Toba yang melibatkan semua suku di Sumatera Utara.

- Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Budaya:
- Kembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya (batik, tenun, kuliner) untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus melestarikan warisan.
- Contoh: Kampung Batik Laweyan di Solo yang sukses menjadi destinasi wisata dan pusat ekonomi.

- Regulasi dan Kebijakan Pro-Kebudayaan:
- Perkuat UU No. 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dengan anggaran memadai untuk pelestarian bahasa, tradisi, dan seni.
- Berikan insentif kepada daerah yang menjaga budaya lokal, seperti penghargaan "Desa Budaya".

- Media dan Teknologi untuk Persatuan:
- Manfaatkan platform digital untuk promosi konten kebudayaan (e.g., video TikTok tentang tari tradisional, podcast sejarah lokal).
- Bentuk tim siber yang memantau dan melaporkan konten provokatif di media sosial.

- Keteladanan Elite Politik dan Publik Figur:
- Pemimpin dan selebritas harus menjadi contoh dalam menghargai kebhinekaan, misalnya dengan menolak kampanye berbasis SARA.

Inspirasi dari Jepang:
Seperti Jepang yang menjaga identitas melalui Nihonjinron (konsep "ke-Jepang-an"), Indonesia perlu menciptakan narasi kebangsaan yang membanggakan, seperti:
- Kampanye "Cinta Produk Indonesia" untuk membangun kebanggaan nasional.
- Memperkuat simbol-simbol pemersatu (lagu kebangsaan, bendera, bahasa Indonesia) melalui acara publik.

Penutup:
Kebudayaan Indonesia hanya akan menjadi pemersatu jika diiringi dengan keadilan ekonomi, pendidikan yang memberdayakan, dan kepemimpinan yang visioner. Tanpa itu, keberagaman justru berpotensi menjadi bom waktu disintegrasi.
In reply to First post

Re: ANALISIS KASUS

by Sandhika Nandha Prasetya -
NAMA:SANDHIKA NANDHA PRASETYA
NPM:2405101011
KELAS:D3 TEKNIK MESIN

1.Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi integritas nasional, seperti ketimpangan ekonomi, polarisasi politik, separatisme, serta konflik sosial berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Jika tidak ditangani dengan baik, masalah-masalah ini berpotensi menyebabkan disintegrasi bangsa.

Tantangan yang Dihadapi dan Dampaknya terhadap Disintegrasi

1. Ketimpangan Ekonomi dan Sosial

Ketimpangan antara daerah maju dan tertinggal memicu ketidakpuasan di daerah tertentu, seperti Papua dan beberapa wilayah luar Jawa.

Rasa ketidakadilan ekonomi dapat memperkuat sentimen separatisme dan memperlemah rasa persatuan nasional.



2. Polarisasi Politik dan Konflik Identitas

Persaingan politik yang semakin tajam, terutama sejak pemilu 2014 dan 2019, menyebabkan polarisasi yang berlanjut hingga saat ini.

Narasi identitas yang dipolitisasi dapat memperkuat sekat-sekat sosial dan mengurangi rasa kebersamaan sebagai satu bangsa.



3. Gerakan Separatisme

Beberapa kelompok di Papua dan Maluku masih menyuarakan keinginan untuk memisahkan diri dari Indonesia.

Jika tuntutan mereka tidak direspons dengan pendekatan yang bijak dan adil, maka potensi disintegrasi bisa meningkat.



4. Konflik SARA dan Radikalisme

Perbedaan suku, agama, dan budaya yang seharusnya menjadi kekayaan bangsa justru sering menjadi sumber konflik.

Munculnya kelompok radikal yang menolak Pancasila sebagai ideologi negara juga menjadi ancaman serius.




Mengapa Hal Ini Terjadi?

Kurangnya pemerataan pembangunan yang menyebabkan kesenjangan antarwilayah.

Manipulasi politik identitas oleh elite politik untuk kepentingan elektoral.

Minimnya pemahaman terhadap Bhinneka Tunggal Ika, terutama di kalangan generasi muda.

Kurangnya penegakan hukum yang adil, yang membuat kepercayaan terhadap negara melemah.


Sikap dan Solusi

Memperkuat implementasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meningkatkan pemerataan pembangunan, terutama di daerah tertinggal.

Menanamkan pendidikan kebangsaan untuk meningkatkan rasa nasionalisme.

Memperkuat dialog lintas budaya dan agama untuk meredam konflik sosial.

Mendorong kebijakan politik yang inklusif dan tidak eksploitatif.
2.Agar kebudayaan Indonesia dapat berperan sebagai pemersatu di tengah keberagaman dan pluralitas bangsa, diperlukan langkah-langkah strategis yang melibatkan berbagai elemen masyarakat dan pemerintah. Berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan:

1. Memperkuat Pendidikan Multikultural

Mengajarkan nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan saling menghormati sejak dini melalui kurikulum sekolah.

Mengadakan program pertukaran budaya antar daerah agar generasi muda lebih memahami keberagaman budaya Indonesia.


2. Meningkatkan Akses dan Pelestarian Budaya Lokal

Mendukung komunitas adat dan seniman lokal dalam melestarikan budaya mereka.

Mempromosikan kebudayaan daerah melalui festival, pameran, dan media digital.

Mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya, seperti batik, tenun, kuliner, dan seni pertunjukan.


3. Menguatkan Peran Media dalam Memperkenalkan Keberagaman Budaya

Mendorong produksi konten yang menampilkan budaya Indonesia secara positif di media massa dan media sosial.

Mengurangi eksposur konten yang berpotensi memecah belah atau menimbulkan stereotip antar kelompok etnis.


4. Menggunakan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Panduan

Mendorong kebijakan yang menghormati keberagaman budaya tanpa menghilangkan identitas nasional.

Menjaga keseimbangan antara modernisasi dan kearifan lokal agar budaya tidak tergerus globalisasi.


5. Mendorong Interaksi Sosial dan Budaya yang Inklusif

Mengadakan kegiatan gotong royong, musyawarah, dan perayaan budaya bersama untuk memperkuat persaudaraan.

Meningkatkan kerja sama antar daerah dalam bidang seni dan kebudayaan.