FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL

FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL

Number of replies: 2
In reply to First post

Re: FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL

by Ahmad Alfian Nufus Ahmad Alfian Nufus -
Nama: Ahmad Alfian Nufus
NPM: 2405101009
Kelas: D3 Teknik Mesin

Poin-Poin Inti dari jurnal integrasi nasional
1. Pendahuluan
Konteks Historis
- Transisi Orde Lama (Orla) ke Orde Baru (Orba) diwarnai konflik ideologis (PKI, PNI, Masyumi) dan kekerasan politik (G30S 1965).
- Orba (1966–1998) menekankan stabilitas melalui sentralisasi kekuasaan, represi terhadap identitas daerah, dan dominasi Golkar sebagai alat politik.
- Reformasi (1998–sekarang) membuka demokrasi dan desentralisasi, tetapi justru memicu anarkisme, kriminalitas, dan disintegrasi sosial akibat kurangnya platform kebangsaan yang jelas.

Masalah Utama
Sentralisasi Orba menekan pluralitas Indonesia (suku, agama, budaya) dan memicu ketidakpuasan daerah.
- Desentralisasi Reformasi gagal mengelola kebebasan, malah memperkuat politik identitas dan etnosentrisme.

2. Identitas dan Integrasi Nasional
- Dinamika Identitas:
- Identitas bukanlah entitas statis, tetapi dinamis, terbentuk dari interaksi antara pilihan individu dan tekanan objektif (ekonomi, politik, budaya).
- Contoh: Media massa (terutama televisi) membentuk identitas baru berbasis gaya hidup dan kepentingan, melampaui batas etnis/daerah.
- Peran Integrasi Nasional:
- Integrasi nasional memerlukan kesadaran pluralisme dan nasionalisme inklusif, bukan sekadar simbol fisik (bendera, lagu kebangsaan).
- Contoh: Bahasa Indonesia awalnya lingua franca Melayu Pasar, lalu berkembang menjadi simbol pemersatu bangsa.
- Fungsi Ganda Identitas:
- Di satu sisi, identitas lokal dapat menjadi penghambat integrasi.
- Di sisi lain, identitas bisa menjadi alat pemersatu jika kelompok bersedia "menerobos" identitasnya untuk kepentingan bersama (misalnya: pedagang kaki lima lintas etnis bersatu melawan kebijakan daerah).

3. Integrasi Nasional vs Otonomi Daerah
- Paradoks Otonomi Daerah:
- Otonomi daerah dan pemekaran wilayah justru memperkuat etnosentrisme (contoh: sekolah/universitas hanya melayani putra daerah, birokrasi didominasi kelompok lokal).
- Kebijakan ini berpotensi memicu konflik horizontal (etnis vs etnis, daerah vs pusat).
- Ancaman Etnosentrisme:
- Etnosentrisme (anggapan budaya sendiri lebih unggul) dipicu oleh sentimen "kami vs kalian" dan kebijakan yang mengutamakan kepentingan daerah.
- Contoh: Budaya Jawa "nanding sarira" (membandingkan diri) menjadi akar kesombongan kolektif.
- Solusi Integrasi:
- Strategi Kebudayaan Nasional: Mengelola pluralitas sebagai kekuatan, bukan ancaman.
- Integrasi harus dibangun melalui dialog lintas identitas, bukan represi atau sentralisasi.

4. Penutup
- Kesimpulan:
- Integrasi nasional adalah solusi untuk mengatasi konflik etnis, agama, dan politik di Indonesia.
- Pluralitas adalah takdir yang harus diakui, tetapi perlu dikelola dengan strategi kebudayaan yang inklusif.

- Rekomendasi:
- Mendorong masyarakat untuk "meninggalkan identitas sempit" demi kepentingan bersama.
- Menghindari kebijakan otonomi yang memperparah etnosentrisme.

Kritik & Analisis Kritis
1. Kontradiksi Kebijakan:
- Otonomi daerah yang dimaksudkan untuk keadilan justru memicu ego kedaerahan.
- Reformasi gagal menciptakan platform kebangsaan yang jelas, sehingga demokrasi hanya menghasilkan kekacauan.
2. Peran Media:
- Televisi dan teknologi komunikasi mempercepat homogenisasi budaya, tetapi juga berpotensi memperkuat identitas konsumeristik.
3. Tantangan Masa Depan:
- Integrasi nasional memerlukan rekonsiliasi antara sentralisasi (stabilitas) dan desentralisasi (keadilan).

Pesan Penulis juga menyampaikan sebuah pesan dimana Indonesia perlu mengembangkan strategi kebudayaan nasional yang mengakomodasi keragaman sebagai modal sosial, bukan sumber konflik. Integrasi harus dibangun melalui kesadaran kolektif, bukan paksaan politik.
In reply to First post

Re: FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL

by Sandhika Nandha Prasetya -
NAMA:SANDHIKA NANDHA PRASETYA
NPM:2405101011
KELAS:D3 TEKNIK MESIN

Integritas nasional berperan sebagai penangkal etnosentrisme di Indonesia dengan menekankan persatuan dalam keberagaman. Etnosentrisme, yaitu sikap menganggap budaya atau kelompok sendiri lebih unggul dari yang lain, bisa memicu konflik sosial dan perpecahan.

Beberapa cara integritas nasional menangkal etnosentrisme:

1. Pancasila sebagai Perekat – Nilai-nilai Pancasila, seperti persatuan dan keadilan sosial, menanamkan sikap saling menghormati antar suku dan budaya.


2. Bhinneka Tunggal Ika – Prinsip ini mengajarkan bahwa meskipun berbeda-beda, bangsa Indonesia tetap satu kesatuan.


3. Pendidikan Multikultural – Melalui pendidikan, masyarakat diajarkan untuk memahami dan menghargai keberagaman tanpa merasa superior.


4. Pemerataan Pembangunan – Dengan pemerataan ekonomi dan infrastruktur, ketimpangan antar daerah berkurang, sehingga rasa keadilan sosial meningkat.


5. Kebijakan Politik Inklusif – Pemerintah mendorong keterwakilan semua kelompok dalam berbagai bidang agar tidak ada dominasi satu etnis terhadap yang lain.



Dengan integritas nasional yang kuat, masyarakat lebih menghargai perbedaan dan mengutamakan persatuan, sehingga etnosentrisme dapat diminimalisir.