TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

Number of replies: 29


Silakan dikaji artikel ilmiah mengenai model pembelajaran berikut. Selanjutnya lakukan  critical review model pembelajaran dengan mengacu kepada sumber bacaan mutakhir.

Redhana, I. W. (2013).
“Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa.”
Jurnal Cakrawala Pendidikan, No. 3.

DOI: 10.21831/cp.v0i3.1136


View of MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN PERTANYAAN SOCRATIK UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA

In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Nadia Sifa Fauziah -
Critical Riview

1. Isi Artikel
Artikel Redhana (2013) membahas model Problem Based Learning (PBL) yang digabungkan dengan pertanyaan Socratik. Dalam model ini, siswa diberikan masalah untuk diselesaikan dan guru memberikan pertanyaan yang membuat siswa berpikir lebih dalam. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

2. Kelebihan
Menurut saya, model ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
  • Siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. 
  • Siswa dilatih untuk berpikir kritis.
  • Siswa belajar memecahkan masalah.
  • Pertanyaan dari guru membantu siswa memberikan alasan dan mencari solusi.
  • Materi dapat dikaitkan dengan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
3. Kekurangan
Menurut saya, model ini juga memiliki beberapa kekurangan. Pembelajaran membutuhkan waktu yang cukup lama karena siswa harus memahami masalah, berdiskusi, dan mencari solusi. Guru juga harus mampu membuat pertanyaan yang tepat agar siswa tidak bingung.
Selain itu, artikel Redhana dilakukan pada siswa SMP dan mata pelajaran IPA. Oleh karena itu, jika digunakan dalam pembelajaran ekonomi, model ini perlu disesuaikan dengan materi dan kondisi siswa.

4. Penerapan dalam Pembelajaran Ekonomi
Model ini dapat diterapkan dalam pembelajaran ekonomi dengan memberikan masalah yang dekat dengan kehidupan siswa. Contohnya pada materi inflasi, guru dapat memberikan pertanyaan:
  • Mengapa harga barang naik?
  • Apa penyebab inflasi?
  • Bagaimana inflasi memengaruhi masyarakat?
  • Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi inflasi?
Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya menghafal pengertian inflasi, tetapi juga belajar menganalisis masalah dan mencari solusi.

5. Kesimpulan
Menurut saya, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik masih relevan digunakan dalam pembelajaran saat ini. Model ini dapat membuat siswa lebih aktif dan melatih kemampuan berpikir kritis. Namun, guru harus menyesuaikan model dengan materi, kemampuan siswa, dan waktu yang tersedia.

Daftar Pustaka

Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3). 
In reply to Nadia Sifa Fauziah

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Junia Angraini 2513031042 -
Nama:Junia Angraini
NPM: 2513031042

Artikel yang dikaji berjudul “Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa” karya I Wayan Redhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMP. Penelitian dilakukan terhadap 273 siswa dari empat SMP di Buleleng, Bali.

Model pembelajaran ini dimulai dengan memberikan masalah yang bersifat ill-structured, yaitu masalah yang tidak memiliki satu jawaban pasti. Siswa kemudian bekerja dalam kelompok untuk mencari informasi dan menemukan solusi. Guru memberikan pertanyaan konseptual untuk membantu siswa memahami materi, kemudian menggunakan pertanyaan Socratik untuk menggali alasan, bukti, pendapat, dan kesimpulan siswa.

Kelebihan model ini adalah siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi juga mencari informasi, berdiskusi, memecahkan masalah, dan menyampaikan alasan atas jawabannya. Pertanyaan Socratik juga membantu siswa berpikir lebih mendalam sebelum mengambil kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini lebih efektif dibandingkan pembelajaran langsung. Rata-rata nilai postes kelompok yang menggunakan MPBM-PS adalah 24,93, sedangkan kelompok pembelajaran langsung sebesar 20,38. Hasil uji ANCOVA juga menunjukkan nilai signifikansi 0,000, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok.

Namun, model ini juga memiliki kekurangan. Pelaksanaannya membutuhkan waktu yang cukup banyak karena siswa harus memahami masalah, mencari informasi, berdiskusi, dan mempresentasikan hasilnya. Guru juga harus mampu membuat masalah dan pertanyaan yang sesuai dengan kemampuan siswa. Artikel tersebut menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis masalah tanpa bimbingan dapat menyulitkan siswa SMP, sehingga diperlukan pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik sebagai bantuan bagi siswa.

Menurut hasil kajian, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik cukup baik untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Model ini membuat siswa lebih aktif dalam mencari solusi dan mendorong mereka untuk memberikan alasan terhadap pendapatnya. Namun, keberhasilan model sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memberikan bimbingan dan pertanyaan yang tepat.

Secara keseluruhan, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik masih layak digunakan dalam pembelajaran karena dapat membantu siswa menjadi lebih aktif, mampu memecahkan masalah, dan berpikir kritis. Akan tetapi, guru perlu menyesuaikan tingkat kesulitan masalah dan pertanyaan dengan kemampuan siswa agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik.


Referensi:
Redhana, I. W. (2012). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Cakrawala Pendidikan, 31(3), 351–365.
In reply to Nadia Sifa Fauziah

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Lyta Indre -
1. Isi Artikel
Tulisan karya Redhana (2013) mengulas penerapan model Problem Based Learning atau PBL yang dikolaborasikan bersama teknik tanya jawab Sokratik. Lewat pendekatan ini, peserta didik dihadapkan pada suatu persoalan untuk dipecahkan, sementara pendidik melemparkan pertanyaan pancingan guna merangsang penalaran tingkat tinggi. Tujuan utamanya tentu untuk mendongkrak daya pikir kritis siswa.
2.Kelebihan
Pandangan saya menilai pendekatan ini mempunyai beberapa sisi unggul. Pertama, peserta didik didorong untuk berperan lebih aktif selama kegiatan belajar berlangsung. Kedua, metode ini mampu melatih kepekaan dan ketajaman berpikir secara analitis. Ketiga, siswa jadi terbiasa mencari jalan keluar atas suatu masalah secara mandiri. Keempat, pertanyaan penuntun dari guru memudahkan mereka dalam merumuskan alasan serta solusi yang logis. Kelima, topik bahasan jadi jauh lebih mudah dihubungkan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
3. Kekurangan
Kendati demikian, saya melihat metode ini juga menyimpan sejumlah hambatan. Proses kegiatan belajar biasanya memakan durasi yang relatif panjang karena anak-anak harus mencerna masalah, berembuk dalam kelompok, dan merumuskan jawaban. Di samping itu, pengajar dituntut memiliki keahlian dalam merangkai pertanyaan yang pas agar murid tidak malah kebingungan di tengah jalan. Catatan penting lainnya, riset milik Redhana tersebut mengambil objek siswa jenjang SMP pada bidang studi IPA. Oleh sebab itu, implementasinya pada mata pelajaran ekonomi tentu wajib disesuaikan kembali dengan karakteristik materi serta kondisi nyata peserta didik di kelas.
4. Penerapan dalam Pembelajaran Ekonomi
Konsep tersebut sangat bisa diadaptasi ke dalam kelas ekonomi dengan cara menyodorkan kasus yang relevan dengan keseharian siswa. Ambil contoh pada bab inflasi, pengajar dapat melemparkan beberapa pertanyaan pemicu seperti apa yang memicu lonjakan harga barang di pasaran, faktor apa saja yang melatarbelakangi terjadinya inflasi, sejauh mana dampak inflasi dirasakan oleh masyarakat luas, serta langkah preventif apa yang dapat ditempuh untuk meredam inflasi tersebut. Melalui pola semacam ini, anak didik tidak sekadar menghafal definisi inflasi di buku, melainkan terlatih membedah persoalan sekaligus mencari alternatif solusinya.
5. Kesimpulan
Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa penggabungan model pemecahan masalah dan metode tanya Sokratik masih sangat relevan diterapkan pada sistem pendidikan kini. Pendekatan ini terbukti efektif menghidupkan suasana kelas serta mengasah kemampuan berpikir kritis anak. Meski begitu, guru harus tetap cermat dalam menyesuaikan teknis pelaksanaannya dengan materi ajar, kapasitas siswa, serta ketersediaan waktu yang ada.

Daftar Pustaka
Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3).
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Dinda cahaya br Girsang -
Nama : Dinda Cahaya Br Girsang
Npm : 2553031005

1. Kajian Artikel Ilmiah
Penelitian oleh I Wayan Redhana (2013) ini berangkat dari kegelisahan terkait masih rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa SMP pada mata pelajaran IPA. Di kelas, pembelajaran IPA umumnya masih berfokus pada hafalan dan pemahaman dasar (LOTS) lewat metode ceramah atau pembelajaran langsung. Untuk mengatasi hal ini, Redhana menguji efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Masalah yang dikombinasikan dengan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS).
Metode yang digunakan adalah kuasi-eksperimen (nonequivalent control group design) dengan melibatkan 273 siswa kelas VIII dari empat SMP di Buleleng, Bali. Sampel dibagi menjadi dua: kelas eksperimen yang mendapat perlakuan MPBM-PS dan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran langsung. Data kemampuan berpikir kritis siswa kemudian dianalisis menggunakan ANCOVA satu jalur dengan mengontrol nilai pretest sebagai kovariat.
Model MPBM-PS ini dirancang untuk memberikan bimbingan (scaffolding) bagi siswa SMP. Pasalnya, apabila siswa SMP langsung dihadapkan pada Problem-Based Learning (PBL) murni tanpa bimbingan, mereka cenderung mengalami kesulitan. Sintaks model ini dimulai dari penyajian masalah ill-structured yang kontekstual. Kemudian, siswa dibimbing lewat pertanyaan konseptual di LKS agar pemahaman dasar IPA-nya terbentuk. Saat diskusi kelas, guru mengajukan 6 tipe pertanyaan Socratik (seperti meminta klarifikasi, mengecek asumsi, hingga membedah bukti dan implikasi) untuk memicu pemikiran mendalam siswa sebelum akhirnya mereka menyelesaikan masalah secara berkelompok.
Hasil akhirnya menunjukkan bahwa rata-rata skor posttest kelas eksperimen (24,93) lebih tinggi dibanding kelas kontrol (20,38). Hasil uji ANCOVA (F = 75{,}728; p = 0{,}000) secara signifikan membuktikan bahwa MPBM-PS jauh lebih ampuh meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa ketimbang model pembelajaran langsung.
2. Critical Review
Jika ditelaah, keunggulan utama dari model MPBM-PS ini terletak pada keberhasilannya memberikan bimbingan bertahap. Penggunaan masalah yang rumit (ill-structured) sering kali membuat siswa merasa kewalahan. Dengan menyelipkan pertanyaan konseptual dan dialog Socratik, Redhana berhasil membuat proses penalaran siswa jadi lebih terarah tanpa menggantikan peran siswa sebagai penemu jawaban. Dari segi analisis data, penggunaan uji ANCOVA juga sudah sangat tepat karena mampu menetralkan perbedaan kemampuan awal siswa (pretest).
Meski begitu, ada beberapa catatan penting yang perlu dikritis dari model ini:
• Sangat Tergantung pada Keterampilan Guru: Dialog Socratik itu sifatnya dinamis dan butuh respons cepat. Jika gurunya kurang berpengalaman atau belum terlatih melempar pertanyaan pemantik secara spontan, diskusi kelas berisiko berubah menjadi sesi tanya-jawab biasa yang pasif.
• Pengukuran Berpikir Kritis Masalah Terbatas: Penelitian ini baru mengukur berpikir kritis dari sisi kemampuan kognitif materi pelajaran saja. Padahal, berpikir kritis juga mencakup aspek disposition atau sikap—seperti rasa penasaran, keterbukaan pikiran, dan kebiasaan tidak gampang percaya informasi sebelum mengecek kebenarannya.
• Keterbatasan Alokasi Waktu: Menggabungkan pengerjaan LKS, diskusi kelompok, pemecahan masalah, serta dialog Socratik membutuhkan alokasi waktu yang lumayan panjang. Di lapangan, kondisi ini berpotensi membuat penyampaian materi kurikulum lainnya jadi terhambat.
Untuk pengembangan ke depan, model MPBM-PS ini akan lebih efisien jika dipadukan dengan pembelajaran berbasis teknologi (blended learning). Sebagian sesi tanya-jawab atau dialog Socratik bisa digeser ke forum diskusi online sebelum kelas dimulai agar alokasi waktu di kelas tidak habis. Selain itu, penelitian berikutnya sebaiknya memakai instrumen tes berpikir kritis yang standar (seperti Ennis-Weir Critical Thinking Test) agar perubahan sikap dan pola pikir siswa bisa terpantau secara lebih utuh.

Daftar Pustaka
Redhana, I. W. (2013). Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3), 351-365.
In reply to Dinda cahaya br Girsang

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Fabianus Reno Darmawan 2513031047 -
Fabianus Reno Darmawan
2513031047

Critical Review Model Pembelajaran
Menurut saya, penelitian ini menguji efektivitas model pembelajaran berbasis masalah yang dikombinasikan dengan pertanyaan Sokratik dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa SMP pada mata pelajaran IPA. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental kelompok kontrol non-ekuivalen dengan melibatkan 273 siswa dari empat SMP di Buleleng, Bali. Kelompok eksperimen menggunakan pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Sokratik, sedangkan kelompok kontrol menggunakan pembelajaran langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kedua pendekatan tersebut lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.
Kekuatan utama model ini terletak pada penggabungan dua pendekatan yang saling melengkapi. Pembelajaran berbasis masalah mendorong siswa untuk menganalisis masalah, mencari informasi, berdiskusi, dan menemukan solusi. Sementara itu, pertanyaan Sokratik membantu siswa berpikir lebih mendalam dengan memberikan alasan, bukti, serta mempertimbangkan berbagai sudut pandang. Kombinasi tersebut membuat siswa lebih aktif dalam membangun pemahamannya dan tidak hanya menerima informasi secara pasif dari guru.
Model ini juga mengubah peran guru dari sumber utama informasi menjadi fasilitator. Guru membimbing siswa melalui pertanyaan sehingga dapat meningkatkan kemandirian belajar, keberanian berpendapat, kemampuan berargumentasi, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.
Namun, terdapat beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental sehingga masih terdapat kemungkinan perbedaan karakteristik awal antara kelompok eksperimen dan kontrol. Kedua, karena model menggabungkan PBL dan pertanyaan Sokratik, sulit mengetahui pengaruh masing-masing strategi secara terpisah. Ketiga, keberhasilan penerapan model sangat bergantung pada kemampuan guru dalam merancang masalah dan mengajukan pertanyaan yang mampu mendorong pemikiran kritis siswa. Selain itu, penelitian hanya dilakukan pada siswa SMP mata pelajaran IPA di Buleleng, sehingga hasilnya perlu diterapkan secara hati-hati pada kondisi yang berbeda.
Secara keseluruhan, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Sokratik merupakan pendekatan yang relevan dan efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Model ini mendorong siswa untuk aktif menganalisis masalah, mengevaluasi informasi, memberikan alasan, dan menarik kesimpulan. Meskipun memiliki beberapa keterbatasan, model ini layak diterapkan dalam pembelajaran dengan memperhatikan karakteristik siswa, materi, waktu, serta kesiapan guru.

Daftar Pustaka
Redhana, I. W. (2013). Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3), 351-365.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Hany Nabila Sari -
Menurut saya, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik yang dikemukakan Redhana cukup efektif untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Model ini menggabungkan masalah ill-structured, pertanyaan konseptual, dan pertanyaan Socratik sehingga siswa tidak hanya mencari solusi, tetapi juga belajar menguji asumsi, alasan, bukti, dan dampak dari suatu pendapat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan model tersebut memiliki kemampuan berpikir kritis lebih tinggi dibandingkan kelompok yang menggunakan pembelajaran langsung, dengan hasil uji ANCOVA yang signifikan. Namun, model ini memiliki keterbatasan karena penelitian dilakukan pada siswa SMP dalam mata pelajaran IPA, sehingga penerapannya pada mata pelajaran lain perlu disesuaikan.

Menurut saya, model ini relevan diterapkan dalam pembelajaran ekonomi, misalnya melalui kasus inflasi, kenaikan harga, atau pengangguran. Guru dapat memberikan masalah nyata dan menggunakan pertanyaan Socratik untuk mendorong siswa menganalisis penyebab, bukti, serta dampaknya. Dengan demikian, pembelajaran ekonomi menjadi lebih kontekstual dan mampu melatih kemampuan berpikir kritis siswa.

Redhana, I. W. (2013).
“Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa.”
Jurnal Cakrawala Pendidikan, No. 3.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Rinda Sundari -
Artikel Redhana (2013) membahas model pembelajaran berbasis masalah (PBL) yang digabungkan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini lebih baik dibandingkan pembelajaran langsung dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Kelebihan model ini adalah siswa tidak hanya mencari solusi dari suatu masalah, tetapi juga diajak untuk berpikir lebih dalam melalui pertanyaan seperti “mengapa?”, “apa alasannya?”, dan “apa buktinya?”. Dengan begitu, siswa menjadi lebih aktif dalam berdiskusi dan menyampaikan pendapat.

kekurangannya adalah penelitian ini dilakukan hanya pada siswa SMP dalam pembelajaran IPA, sehingga hasilnya belum tentu sama jika diterapkan pada jenjang atau mata pelajaran lain. Selain itu, penelitian belum menunjukkan apakah peningkatan berpikir kritis lebih banyak disebabkan oleh PBL atau pertanyaan Socratik.
Berdasarkan penelitian yang lebih baru, PBL masih dianggap efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada cara masalah dan kegiatan pembelajaran dirancang. Jadi, model PBL dengan pertanyaan Socratik masih relevan digunakan saat ini, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi siswa, materi, dan perkembangan pembelajaran.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Nabila Nahesi putri -
CRITICAL REVIEW

1. Isi Artikel
Artikel ini membahas pembelajaran berbasis masalah yang digabungkan dengan pertanyaan Socratik. Siswa diberikan suatu masalah, kemudian diarahkan untuk mencari solusi dan menjawab pertanyaan yang membuat mereka berpikir lebih dalam. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

2. Kelebihan
Kelebihannya, siswa menjadi lebih aktif dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru. Siswa juga terbiasa menganalisis masalah, memberikan alasan, dan menyampaikan pendapat. Model ini juga membuat pembelajaran lebih menarik karena siswa ikut terlibat dalam proses mencari solusi.

3. Kekurangan
Kekurangannya adalah model ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, guru harus bisa membuat masalah dan pertanyaan yang sesuai. Siswa yang belum terbiasa berdiskusi juga mungkin masih pasif dalam mengikuti pembelajaran.

4. Penerapan dalam Pembelajaran Ekonomi
Dalam pembelajaran ekonomi, model ini bisa digunakan misalnya pada materi inflasi. Guru memberikan kasus tentang kenaikan harga bahan pokok, kemudian siswa mencari penyebab, dampak, dan solusi dari masalah tersebut. Guru bisa memberikan pertanyaan seperti, “Mengapa harga barang bisa naik?” atau “Apa dampaknya bagi masyarakat?”

5. Kesimpulan
Menurut saya, model ini cocok untuk pembelajaran ekonomi karena ekonomi banyak membahas masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan model ini, siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga belajar menganalisis masalah dan mencari solusinya. Namun, guru harus bisa mengatur waktu dan diskusi dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 32(3), 351–365.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Nadia Fransiska -
Nama : Nadia Fransiska
Npm : 2513031004

Critical Review

1. Isi Artikel

Artikel Redhana membahas penggabungan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) dengan pertanyaan Socratik sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Pembelajaran dimulai dengan masalah yang tidak memiliki satu jawaban pasti. Siswa kemudian mencari informasi dan memahami konsep yang berkaitan dengan masalah tersebut. Dalam prosesnya, guru menggunakan pertanyaan Socratik untuk menguji pemikiran siswa, seperti meminta alasan, bukti, asumsi, maupun dampak dari suatu pendapat. Penelitian ini menunjukkan bahwa model tersebut lebih efektif dalam meningkatkan berpikir kritis dibandingkan pembelajaran langsung.

2. Kelebihan

Menurut saya, kelebihan utama model ini adalah siswa tidak langsung diberikan jawaban oleh guru. Siswa justru diarahkan untuk menemukan dan mempertahankan pemikirannya sendiri.

Beberapa kelebihannya yaitu:

- Membiasakan siswa untuk tidak mudah menerima suatu informasi tanpa mempertanyakan alasannya.
- Melatih siswa menyampaikan pendapat berdasarkan alasan dan bukti.
- Membuat proses diskusi lebih bermakna karena guru tidak hanya bertanya tentang “apa jawabannya”, tetapi juga “mengapa jawabannya seperti itu”.
- Masalah yang digunakan dapat mendorong rasa ingin tahu siswa sehingga mereka terdorong untuk mencari informasi yang dibutuhkan.
- Siswa tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga belajar menggunakan pengetahuannya untuk menghadapi suatu permasalahan.

3. Kekurangan

Menurut saya, kelemahan model ini terletak pada ketergantungannya terhadap kemampuan guru dan kesiapan siswa. Pertanyaan Socratik tidak bisa dibuat secara asal karena pertanyaan berikutnya perlu menyesuaikan dengan jawaban dan pemikiran siswa. Artinya, guru harus mampu mengikuti arah diskusi sekaligus tetap menjaga agar pembelajaran tidak keluar dari tujuan.

Selain itu, tidak semua siswa mungkin langsung terbiasa mengemukakan pendapat atau mempertahankan argumennya. Jika kemampuan dasar siswa berbeda-beda, guru perlu memberikan bimbingan yang cukup agar siswa tidak justru merasa kesulitan ketika menghadapi masalah yang terbuka.

4. Penerapan dalam Pembelajaran Ekonomi

Menurut saya, model ini cukup menarik jika diterapkan pada materi ekonomi yang memiliki banyak permasalahan dalam kehidupan nyata. Misalnya pada materi pengangguran, guru dapat memberikan kasus tentang banyaknya lulusan sekolah yang belum mendapatkan pekerjaan.

Guru tidak langsung menjelaskan penyebab dan solusi pengangguran, tetapi mengajak siswa berpikir melalui pertanyaan seperti:

- Mengapa seseorang yang sudah memiliki pendidikan masih bisa menganggur?
- Apakah pengangguran selalu disebabkan oleh kurangnya kemampuan seseorang?
- Bukti apa yang dapat menunjukkan bahwa suatu daerah memiliki tingkat pengangguran yang tinggi?
- Jika pemerintah memberikan pelatihan kerja, apakah masalah pengangguran pasti selesai?
- Apa dampaknya jika masalah pengangguran terus meningkat?

Menurut saya, pertanyaan seperti ini lebih sesuai dengan karakter pembelajaran ekonomi karena siswa dapat menghubungkan teori dengan kondisi yang mereka temui di masyarakat. Siswa juga belajar bahwa suatu masalah ekonomi tidak selalu memiliki satu penyebab atau satu solusi.

5. Critical Review

Menurut saya, penelitian Redhana memiliki hasil yang cukup meyakinkan karena menggunakan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol serta melakukan analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara model MPBM-PS dan pembelajaran langsung.

Namun, saya melihat bahwa hasil tersebut belum cukup untuk mengatakan bahwa model ini pasti cocok untuk semua mata pelajaran dan semua peserta didik. Penelitian dilakukan pada siswa SMP dan materi IPA, sehingga penerapannya pada ekonomi membutuhkan penyesuaian. Menurut saya, keberhasilan model ini bukan hanya karena PBL atau pertanyaan Socratiknya, tetapi juga karena bagaimana guru memilih masalah, memberikan bimbingan, dan mengarahkan proses berpikir siswa.

6. Kesimpulan

Menurut saya, model PBL yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik merupakan model yang layak digunakan untuk pembelajaran yang ingin mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Hal yang paling menarik dari model ini adalah siswa tidak hanya dituntut menemukan jawaban, tetapi juga mempertanyakan dan mempertanggungjawabkan cara mereka mendapatkan jawaban tersebut.

Namun, model ini tidak seharusnya digunakan hanya karena terlihat menarik atau populer. Guru tetap harus melihat kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, karakteristik materi, kesiapan siswa, serta kemampuan guru dalam mengelola diskusi. Jadi, model ini akan lebih efektif jika digunakan secara selektif dan disesuaikan dengan kondisi pembelajaran.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Valizha Aulia Putri -
1. Isi Artikel
Artikel ini membahas mengenai model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Dalam model pembelajaran ini, siswa diberikan suatu permasalahan yang kemudian harus mereka pahami dan cari solusinya. Guru tidak hanya memberikan materi dan jawaban, tetapi memberikan pertanyaan yang dapat membantu siswa berpikir lebih dalam mengenai masalah tersebut. Melalui pertanyaan Socratik, siswa diarahkan untuk memberikan alasan dari setiap jawaban yang mereka sampaikan. Jadi, siswa tidak hanya menjawab berdasarkan apa yang mereka ketahui, tetapi juga belajar mempertimbangkan alasan, bukti, dan sudut pandang lain. Dengan cara tersebut, siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran dan kemampuan berpikir kritisnya dapat berkembang.

2. Kelebihan
Menurut saya, model pembelajaran ini memiliki beberapa kelebihan. Siswa menjadi lebih aktif karena mereka terlibat langsung dalam proses mencari dan menyelesaikan masalah. Selain itu, model ini dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis karena siswa dituntut untuk menganalisis masalah dan memberikan alasan dari pendapat yang mereka sampaikan. Penggunaan pertanyaan Socratik juga membuat siswa tidak hanya menerima informasi dari guru. Siswa didorong untuk bertanya, menjelaskan, dan mempertimbangkan jawaban yang mereka miliki. Hal ini membuat pembelajaran menjadi lebih aktif dan tidak hanya berpusat pada guru.

3. Kekurangan
Walaupun memiliki kelebihan, model pembelajaran ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah membutuhkan waktu yang cukup lama karena siswa harus memahami masalah, berdiskusi, mencari informasi, dan menentukan solusi. Selain itu, tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam menyampaikan pendapat. Siswa yang masih terbiasa pasif mungkin akan merasa kesulitan ketika harus aktif berdiskusi dan menjawab pertanyaan. Guru juga harus mampu memberikan pertanyaan yang sesuai. Jika pertanyaan yang diberikan terlalu sulit atau kurang jelas, siswa justru dapat mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran.

4. Penerapan dalam Pembelajaran
Menurut saya, model pembelajaran ini dapat diterapkan dalam pembelajaran ekonomi karena banyak materi ekonomi yang berhubungan dengan masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, guru memberikan permasalahan mengenai kenaikan harga bahan pokok. Dari permasalahan tersebut, siswa dapat diberikan pertanyaan seperti, “Apa yang menyebabkan harga bahan pokok naik?”, “Siapa yang paling terdampak dari kenaikan harga tersebut?”, dan “Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut?” Dengan begitu, siswa tidak hanya mempelajari teori ekonomi, tetapi juga belajar menghubungkan materi dengan kondisi yang terjadi di lingkungan sekitar. Penerapan model ini juga dapat membuat siswa lebih terbiasa untuk menyampaikan pendapat berdasarkan alasan yang jelas. Hal tersebut penting karena dalam pembelajaran ekonomi siswa tidak hanya perlu memahami konsep, tetapi juga mampu menganalisis berbagai masalah ekonomi yang terjadi.

5. Kesimpulan
Berdasarkan artikel yang dikaji, model pembelajaran berbasis masalah dengan pertanyaan Socratik dapat digunakan untuk membantu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Model ini membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran dan mendorong mereka untuk berpikir sebelum memberikan suatu jawaban. Namun, penerapannya membutuhkan waktu yang cukup dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta memberikan pertanyaan yang sesuai. Menurut saya, model ini tetap relevan digunakan saat ini, terutama jika permasalahan yang diberikan disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya membuat siswa memahami materi, tetapi juga melatih mereka untuk berpikir kritis dalam menghadapi suatu masalah.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Rizkia Wulandari -
Rizkia utami wulandari
2513031032
Critical Review Singkat

Artikel Redhana (2013) membahas model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning/PBL) yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tersebut lebih efektif dibandingkan pembelajaran langsung dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Kelebihan model ini adalah peserta didik aktif menghadapi masalah, mencari informasi, berdiskusi, memberikan alasan, serta mengevaluasi jawabannya melalui pertanyaan Socratik. Model ini juga relevan dengan pembelajaran saat ini karena dapat melatih kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Kekurangannya, penelitian Redhana dilakukan pada konteks pembelajaran IPA tingkat SMP sehingga penerapannya pada mata pelajaran dan jenjang lain perlu disesuaikan. Penelitian mutakhir juga menunjukkan bahwa PBL tidak otomatis meningkatkan berpikir kritis; keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas masalah, pertanyaan guru, dan bimbingan selama pembelajaran.

Kesimpulannya, model PBL dengan pertanyaan Socratik masih relevan untuk digunakan, termasuk dalam pembelajaran ekonomi. Guru dapat menggunakannya pada materi seperti inflasi, pengangguran, kemiskinan, atau pajak dengan memberikan masalah nyata dan pertanyaan yang mendorong siswa menganalisis bukti serta menemukan solusi.

Refrensi:
Redhana, I. W. (2012). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Cakrawala Pendidikan, 31(3), 351–365.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Duwi Sri Lestari -
Model yang digunakan dalam artikel adalah Pembelajaran Berbasis Masalah dengan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS). Menurut saya, model ini efektif melatih berpikir kritis, tetapi masih memiliki beberapa kekurangan.
Pertama, model ini terlalu bergantung pada LKS dan pertanyaan yang telah disiapkan guru. Akibatnya, arah berpikir siswa cenderung mengikuti panduan yang sudah dibuat sehingga kesempatan menemukan masalah atau pertanyaan sendiri menjadi lebih terbatas.
Kedua, guru memiliki peran yang sangat dominan dalam membimbing setiap tahap diskusi melalui pertanyaan konseptual dan Socratik. Hal ini membuat pembelajaran kurang optimal jika kemampuan guru dalam memfasilitasi diskusi belum memadai.
Ketiga, model ini menuntut proses yang cukup panjang, mulai dari memahami masalah, diskusi kelompok, presentasi, hingga postes. Dalam kondisi jam pelajaran terbatas, seluruh tahapan tersebut berpotensi tidak terlaksana secara maksimal.
Jadi, kelemahan utama MPBM-PS bukan pada konsepnya, tetapi pada penerapannya yang memerlukan waktu, perencanaan, dan keterampilan guru yang tinggi.

Daftar Pustaka
Redhana, I. W. (2013). Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3), 351-365.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Zulfa Nurulaini -
Artikel I Wayan Redhana membahas Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) yang bertujuan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Model ini dimulai dengan pemberian masalah yang bersifat terbuka dan kontekstual, kemudian siswa mencari informasi, berdiskusi, dan memecahkan masalah. Guru memberikan pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik untuk membantu siswa memperdalam pemahaman dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Menurut saya, kelebihan model ini adalah siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran karena mereka dituntut untuk mencari informasi, berdiskusi, memberikan alasan, dan mempertahankan pendapat. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa MPBM-PS lebih efektif dibandingkan pembelajaran langsung dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa.

Namun, model ini juga memiliki kekurangan. Penerapannya membutuhkan kemampuan guru dalam memberikan bimbingan dan menyusun pertanyaan yang tepat. Siswa juga dapat mengalami kesulitan apabila langsung diberikan masalah terbuka tanpa arahan yang cukup. Selain itu, penelitian dalam artikel dilakukan pada mata pelajaran IPA SMP, sehingga penerapannya dalam pembelajaran ekonomi perlu disesuaikan dengan materi dan karakteristik siswa.

Secara keseluruhan, MPBM-PS layak digunakan untuk pembelajaran ekonomi, terutama pada materi yang berkaitan dengan masalah nyata. Model ini dapat membantu siswa tidak hanya memahami konsep ekonomi, tetapi juga melatih kemampuan menganalisis masalah, berpikir kritis, dan mengambil keputusan. Namun, guru tetap perlu menyesuaikan model dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Novicha Aulia -
Artikel ini membahas penerapan model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam model ini, siswa diberikan suatu masalah untuk dianalisis dan diselesaikan, sedangkan guru menggunakan pertanyaan Socratik untuk mendorong siswa memberikan alasan dan berpikir lebih mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tersebut lebih efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis dibandingkan pembelajaran langsung (Redhana, 2013).

Menurut saya, kelebihan model ini adalah siswa menjadi lebih aktif karena tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi ikut mencari informasi, berdiskusi, dan memecahkan masalah. Pertanyaan Socratik juga membantu siswa untuk tidak asal memberikan jawaban, tetapi mempertimbangkan alasan dari jawabannya. Hal ini masih sesuai dengan penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa PBL dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Namun, model ini juga memiliki kekurangan. PBL membutuhkan waktu yang cukup panjang karena siswa perlu memahami masalah, mencari informasi, berdiskusi, dan menentukan solusi. Selain itu, keberhasilan pertanyaan Socratik sangat bergantung pada kemampuan guru dalam membuat pertanyaan yang sesuai. Jika pertanyaannya terlalu sulit atau kurang terarah, siswa dapat mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran. Model ini juga kurang efektif jika siswa belum terbiasa belajar secara aktif dan mandiri.

kesimpulannya, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik masih relevan digunakan saat ini, terutama untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Akan tetapi, penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi siswa, materi, waktu, dan kemampuan guru agar hasilnya lebih maksimal.

Referensi :
Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3), 351–365.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by NAILA PUTRI AZ-ZAHRA -
Critical Review Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik

1. Isi Model Pembelajaran
Model pembelajaran yang dikembangkan Redhana merupakan perpaduan antara Problem Based Learning (PBL) dengan pertanyaan Socratik. Pembelajaran dimulai dengan pemberian suatu masalah yang mendorong peserta didik untuk mencari informasi, berdiskusi, menganalisis masalah, dan menemukan solusi. Dalam proses pembelajaran, guru tidak langsung memberikan jawaban, tetapi menggunakan pertanyaan Socratik untuk mengarahkan peserta didik agar mampu memberikan alasan, memeriksa bukti, mempertanyakan asumsi, dan menarik kesimpulan.
Model ini menempatkan peserta didik sebagai pihak yang aktif dalam proses pembelajaran, sedangkan guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan proses berpikir melalui pertanyaan. Tujuan utamanya adalah agar peserta didik tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

2. Kelebihan Model Pembelajaran
Kelebihan utama model ini adalah peserta didik menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. PBL memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar melalui masalah, sehingga mereka tidak hanya menerima materi dari guru. Sementara itu, pertanyaan Socratik membuat peserta didik berpikir lebih mendalam karena mereka harus menjelaskan alasan dari jawaban yang diberikan.
Model ini juga dapat membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna karena masalah yang diberikan dapat dikaitkan dengan kehidupan nyata. Peserta didik tidak hanya dituntut untuk menemukan jawaban, tetapi juga memahami proses dan alasan di balik jawaban tersebut. Menurut Redhana, penerapan model ini dapat membantu meningkatkan keterampilan berpikir kritis peserta didik.

3. Kekurangan Model Pembelajaran
Model ini juga memiliki beberapa kekurangan. PBL membutuhkan waktu yang cukup banyak karena peserta didik harus memahami masalah, mencari informasi, berdiskusi, dan menyusun solusi. Hal ini dapat menjadi kendala apabila waktu pembelajaran terbatas.
Selain itu, keberhasilan model sangat bergantung pada kemampuan guru dalam merancang masalah dan memberikan pertanyaan Socratik. Guru harus mampu memberikan pertanyaan yang sesuai agar peserta didik benar-benar terdorong untuk berpikir kritis. Jika pertanyaan yang diberikan terlalu sederhana, proses berpikir peserta didik dapat menjadi kurang mendalam.

Model ini juga membutuhkan peserta didik yang aktif dalam berdiskusi dan mampu bekerja sama. Peserta didik yang belum terbiasa belajar secara mandiri mungkin membutuhkan bimbingan lebih banyak dari guru.

4. Kesimpulan Review
Menurut saya, model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik merupakan model yang cukup baik untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis. PBL memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk memecahkan masalah, sedangkan pertanyaan Socratik membantu memperdalam proses berpikir mereka.
Namun, model ini tidak dapat diterapkan begitu saja tanpa menyesuaikan kondisi kelas. Guru perlu memilih masalah yang sesuai dengan materi dan kehidupan peserta didik serta menyiapkan pertanyaan yang dapat mendorong mereka untuk berpikir lebih kritis. Dengan penerapan yang tepat, model ini dapat membuat pembelajaran lebih aktif dan tidak hanya berorientasi pada hafalan.

Referensi
Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3). https://doi.org/10.21831/cp.v0i3.1136
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Rima Diantisa -
Nama: Rima Diantisa
NPM: 2513031034
Critical Review Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik

Artikel yang saya kaji berjudul “Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa” karya I Wayan Redhana. Artikel ini membahas penerapan model pembelajaran berbasis masalah yang dikombinasikan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian dilakukan pada siswa SMP dengan menggunakan metode kuasi eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik dibandingkan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung.

Menurut saya, salah satu kelebihan model ini adalah siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi ikut terlibat dalam mencari dan menemukan solusi dari suatu permasalahan. Masalah yang diberikan juga dibuat dalam bentuk masalah yang tidak memiliki satu jawaban pasti. Kondisi tersebut membuat siswa harus berdiskusi, mencari informasi, menyampaikan pendapat, dan memberikan alasan atas jawaban yang mereka pilih.

Penggunaan pertanyaan Socratik juga menjadi bagian yang menarik dari model ini. Guru tidak langsung memberikan jawaban ketika siswa mengalami kesulitan, tetapi memberikan pertanyaan yang dapat membantu siswa menemukan dan memperbaiki pemikirannya sendiri. Pertanyaan tersebut dapat mengarahkan siswa untuk menjelaskan pendapat, mencari bukti, melihat sudut pandang lain, serta mempertimbangkan akibat dari suatu keputusan. Dengan cara seperti ini, siswa menjadi lebih terbiasa untuk tidak menerima suatu informasi begitu saja.

Hal tersebut masih relevan dengan penelitian yang lebih baru. Hasil kajian mengenai Problem-Based Learning menunjukkan bahwa PBL memiliki pengaruh positif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Namun, keberhasilan PBL juga dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti karakteristik siswa, ukuran kelompok, lama pembelajaran, dan bagaimana pembelajaran tersebut dirancang. Artinya, penggunaan PBL saja belum tentu langsung membuat kemampuan berpikir kritis siswa meningkat.

Meskipun memiliki beberapa kelebihan, menurut saya model ini juga mempunyai kekurangan. Penerapannya membutuhkan waktu yang cukup banyak karena siswa harus memahami masalah, berdiskusi, mencari informasi, sampai menyampaikan hasil pemikirannya. Guru juga harus memiliki kemampuan dalam memberikan pertanyaan yang sesuai. Pertanyaan Socratik tidak dapat dibuat secara sembarangan karena harus menyesuaikan dengan jawaban dan pemikiran siswa selama proses pembelajaran. Artikel tersebut juga menjelaskan bahwa pertanyaan Socratik yang diberikan dapat berkembang sesuai dengan respons siswa.

Selain itu, hasil penelitian dalam artikel belum tentu dapat diterapkan dengan hasil yang sama pada semua kondisi. Penelitian dilakukan pada siswa SMP dalam pembelajaran IPA, sehingga belum dapat langsung disimpulkan bahwa model tersebut akan memberikan hasil yang sama jika digunakan pada jenjang atau mata pelajaran yang berbeda. Menurut saya, guru perlu menyesuaikan masalah dan pertanyaan dengan kemampuan siswa serta materi yang sedang dipelajari.

Jika diterapkan dalam pembelajaran ekonomi, model ini sebenarnya cukup sesuai. Guru dapat memberikan permasalahan yang dekat dengan kehidupan siswa, misalnya mengenai kenaikan harga barang, inflasi, pengangguran, perilaku konsumtif, atau pengelolaan uang. Siswa kemudian dapat diminta mencari penyebab masalah, mencari informasi pendukung, memberikan pendapat, dan menentukan solusi. Guru dapat menggunakan pertanyaan Socratik untuk menggali alasan siswa, misalnya “Apa yang menjadi dasar pendapat tersebut?”, “Apakah ada bukti yang mendukung?”, atau “Apa dampaknya jika solusi tersebut diterapkan?”. Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami konsep ekonomi, tetapi juga belajar menggunakannya untuk menganalisis masalah yang ada di kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hasil kajian, saya menilai bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik cukup baik digunakan untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa. Kelebihannya terletak pada keterlibatan siswa dalam memecahkan masalah dan adanya pertanyaan yang mendorong siswa untuk berpikir lebih mendalam. Namun, model ini membutuhkan persiapan yang baik, waktu yang cukup, dan guru yang mampu mengarahkan diskusi. Jadi, model pembelajaran ini tidak bisa dikatakan paling baik untuk semua keadaan. Penggunaannya tetap harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi, kondisi siswa, dan kemampuan guru.

Daftar Pustaka

Redhana, I. W. (2012). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Cakrawala Pendidikan, 31(3), 351–365.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Putu Nerina Sekaryani -
Critical Review dari hasil analisis dengan membaca artikel tersebut yaitu menurut saya, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik cukup menarik karena siswa tidak hanya menerima materi dari guru. Siswa terlebih dahulu diberikan suatu masalah, kemudian mencari informasi dan berdiskusi untuk menemukan solusi. Dalam prosesnya, guru memberikan pertanyaan untuk membantu siswa memahami masalah dan berpikir lebih dalam.
Kelebihan dari model ini adalah siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. Siswa juga tidak hanya dituntut untuk memberikan jawaban, tetapi harus bisa menjelaskan alasan dan bukti dari pendapatnya. Dari hasil penelitian, model ini terbukti lebih baik dibandingkan pembelajaran langsung dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
Namun, menurut saya model ini juga memiliki kekurangan. Proses pembelajarannya membutuhkan waktu yang lebih lama karena siswa harus memahami masalah, mencari informasi, berdiskusi, dan menyampaikan hasilnya. Selain itu, guru juga harus mampu memberikan pertanyaan yang sesuai agar diskusi tidak keluar dari tujuan pembelajaran. Jadi, menurut saya model MPBM-PS cocok digunakan untuk melatih siswa agar lebih aktif dan terbiasa berpikir kritis. Akan tetapi, penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi kelas dan kemampuan siswa agar pembelajaran tetap berjalan dengan baik.

Referensi
Redhana, I. W. (2012). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Cakrawala Pendidikan, 31(3).
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Shelomita Nabila Fitri -
Nama : Shelomita Nabila Fitri
NPM : 2513031035

Artikel Redhana (2013) membahas model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Dalam model ini, siswa diberikan suatu permasalahan yang berkaitan dengan materi pembelajaran, kemudian diarahkan untuk mencari solusi melalui proses berpikir dan diskusi. Pertanyaan Socratik digunakan untuk mendorong siswa memberikan alasan, mengklarifikasi pendapat, mencari bukti, serta mengevaluasi jawaban yang mereka berikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran ini lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dibandingkan dengan pembelajaran langsung.

Model ini memiliki kelebihan karena menempatkan siswa sebagai pihak yang aktif dalam proses pembelajaran. Siswa tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga dituntut untuk menganalisis masalah, mengemukakan pendapat, dan mempertanggungjawabkan jawabannya. Hal tersebut membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dapat melatih kemampuan berpikir kritis. Namun, model ini juga memiliki beberapa keterbatasan. Penerapannya membutuhkan waktu yang cukup panjang dan kemampuan guru dalam menyusun masalah serta pertanyaan yang dapat mengarahkan siswa untuk berpikir lebih mendalam. Selain itu, tidak semua siswa terbiasa aktif bertanya atau menyampaikan pendapat.

Jika dikaitkan dengan pembelajaran saat ini, model tersebut masih relevan karena keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan penting yang perlu dimiliki siswa. Model ini juga dapat dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi dan permasalahan yang dekat dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik masih layak diterapkan, tetapi perlu disesuaikan dengan kondisi siswa, materi, waktu, dan perkembangan teknologi dalam pembelajaran.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Wulan Tria Rahmayanti_2513031036 -
1. Ringkasan Artikel
Artikel yang ditulis oleh Redhana (2013) membahas tentang model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam model ini, siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi diberikan suatu masalah yang harus dipahami dan diselesaikan. Guru kemudian memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu siswa berpikir lebih mendalam.
Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dan melibatkan 273 siswa SMP di Buleleng, Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang belajar menggunakan pembelajaran langsung.

2. Kelebihan Model Pembelajaran 
Menurut saya, kelebihan dari model ini adalah siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. Siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi ikut mencari informasi, berdiskusi, menganalisis masalah, dan memberikan pendapat.
Pertanyaan Socratik juga cukup menarik karena dapat membuat siswa berpikir lebih kritis. Misalnya, guru tidak langsung memberikan jawaban, tetapi bertanya “Mengapa kamu berpikir seperti itu?” atau “Apa alasan yang mendukung jawabanmu?”. Dengan begitu, siswa terbiasa memberikan alasan dan tidak asal menjawab.
Model ini juga dapat membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari karena masalah yang diberikan dapat diambil dari keadaan nyata yang ada di sekitar siswa.

3. Kekurangan dan Kritik
Walaupun memiliki kelebihan, menurut saya model ini juga memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya adalah membutuhkan waktu yang cukup lama karena siswa harus memahami masalah, mencari informasi, berdiskusi, dan mempresentasikan hasilnya.
Selain itu, guru harus mampu memberikan pertanyaan yang tepat. Kalau pertanyaannya terlalu mudah, siswa mungkin hanya menjawab secara singkat dan tidak benar-benar berpikir kritis. Jadi, kemampuan guru dalam membimbing dan mengajukan pertanyaan sangat penting dalam model ini.
Penelitian Redhana juga dilakukan pada mata pelajaran IPA di tingkat SMP. Oleh karena itu, hasilnya tidak bisa langsung disamakan untuk semua mata pelajaran. Jika digunakan dalam pembelajaran ekonomi, guru tetap perlu menyesuaikan masalah dan pertanyaannya dengan materi yang sedang dipelajari.

4. Penerapan dalam Pembelajaran Ekonomi
Menurut saya, model ini cocok digunakan dalam pembelajaran ekonomi karena banyak materi ekonomi yang berhubungan dengan masalah yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Contohnya pada materi pengangguran.
Guru dapat memberikan masalah tentang tingginya angka pengangguran di suatu daerah. Kemudian siswa diminta berdiskusi untuk mencari penyebab, dampak, dan solusi dari masalah tersebut.
Guru bisa memberikan pertanyaan seperti:
  1. Mengapa pengangguran bisa terjadi?
  2. Apa penyebab utama masalah tersebut?
  3. Apa dampaknya bagi masyarakat?
  4. Menurut kalian, solusi apa yang paling tepat?
  5. Mengapa kalian memilih solusi tersebut?
Setelah berdiskusi, siswa dapat mempresentasikan hasilnya dan kelompok lain memberikan tanggapan. Dengan kegiatan seperti ini, siswa tidak hanya menghafal pengertian pengangguran, tetapi juga belajar menganalisis masalah dan mencari solusi.

5. Tinjauan Kritis
Menurut saya, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik yang dikembangkan Redhana cukup baik untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Siswa diberikan kesempatan untuk mencari jawaban sendiri dan mempertanggungjawabkan pendapatnya.
Namun, model ini tidak berarti selalu cocok untuk semua materi. Guru tetap harus melihat tujuan pembelajaran, karakteristik materi, kondisi siswa, waktu, dan fasilitas yang tersedia. Jadi, model pembelajaran sebaiknya dipilih sesuai kebutuhan pembelajaran, bukan hanya karena model tersebut dianggap lebih bagus.

6. Kesimpulan
Secara keseluruhan, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik memiliki kelebihan dalam membuat siswa lebih aktif dan melatih mereka untuk berpikir kritis. Model ini juga cukup cocok diterapkan dalam pembelajaran ekonomi, terutama pada materi yang berhubungan dengan masalah kehidupan nyata seperti pengangguran, inflasi, dan kemiskinan.
Menurut saya, model ini akan berjalan dengan baik jika guru mampu memberikan masalah yang sesuai dan pertanyaan yang dapat membuat siswa berpikir lebih dalam. Jadi, yang paling penting bukan hanya modelnya, tetapi bagaimana guru menerapkannya sesuai dengan kebutuhan siswa dan tujuan pembelajaran.

Daftar Pustaka
Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3), 351–365.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Rina Agustina -
Redhana, I. W. (2013).
Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa.

Menurut saya, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratic dalam artikel tersebut cukup baik untuk melatih siswa berpikir kritis. Siswa tidak hanya menerima penjelasan dari guru, tetapi diajak menghadapi suatu masalah, mencari informasi, berdiskusi, dan memberikan alasan atas jawabannya. Pertanyaan Socratic juga dapat membantu siswa berpikir lebih mendalam dan tidak langsung menerima suatu jawaban.
Namun, model ini juga memiliki beberapa kekurangan. Tidak semua siswa langsung aktif dalam diskusi, sehingga guru perlu membimbing siswa dengan baik. Selain itu, penggunaan pertanyaan yang terlalu banyak atau sulit dapat membuat siswa bingung. Model ini juga membutuhkan waktu yang cukup lama dibandingkan pembelajaran biasa. Oleh karena itu, guru perlu memberikan masalah dan pertanyaan yang sesuai dengan kemampuan siswa agar model ini dapat berjalan dengan baik.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Kalyca Darellia Qanita . F -
Artikel tersebut menjelaskan tentang penggunaan model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa dihadapkan pada suatu persoalan, lalu mencari informasi, bertukar pendapat, dan mencoba menemukan penyelesaiannya. Guru berperan mengarahkan proses tersebut melalui pertanyaan yang membuat siswa lebih teliti dalam menjelaskan jawaban dan alasan yang mereka gunakan.

Menurut saya, model ini menarik karena pembelajaran tidak hanya berpusat pada penjelasan guru. Siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan mempertimbangkan alasan sebelum mengambil kesimpulan. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa penggunaan model ini memberikan hasil yang lebih baik terhadap kemampuan berpikir kritis dibandingkan pembelajaran langsung.

Kekurangannya, penerapan model ini cukup bergantung pada kemampuan guru dalam menyiapkan permasalahan dan pertanyaan yang tepat. Penelitian terbaru juga masih menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, tetapi penerapannya harus dirancang dengan baik.

Sebagai calon guru ekonomi, saya melihat model ini dapat digunakan untuk membahas permasalahan seperti kenaikan harga dan pengangguran. Siswa dapat mengamati permasalahan, mencari penyebabnya, kemudian membahas solusi berdasarkan informasi yang ditemukan. Menurut saya, cara ini dapat membuat pembelajaran ekonomi lebih aktif sekaligus melatih siswa untuk tidak langsung menerima suatu jawaban tanpa memahami alasannya.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Safira Chendikia Kasih -
Nama: Safira Chendikia Kasih
NPM: 2513031031

Critical Review Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik

Artikel karya I Wayan Redhana tersebut membahas tentang model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik (MPBM-PS) yang bertujuan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Model ini menggabungkan pemberian masalah yang bersifat terbuka dengan pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik. Melalui model tersebut, siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi dituntut untuk mencari informasi, berdiskusi, menganalisis masalah, serta memberikan alasan dan bukti atas pendapatnya.

Kelebihan model ini terlihat dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa MPBM-PS lebih efektif dibandingkan pembelajaran langsung dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal tersebut terlihat dari hasil uji penelitian yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua model pembelajaran. Selain itu, model ini mendorong siswa menjadi lebih aktif dan mampu mengembangkan kemampuan menganalisis, memberikan alasan, serta memecahkan masalah.

Namun, model ini juga memiliki kekurangan. Penerapan pembelajaran berbasis masalah tidak selalu mudah karena siswa dapat mengalami kesulitan ketika menghadapi masalah yang terbuka tanpa bimbingan yang cukup. Dalam artikel tersebut, peneliti bahkan memodifikasi model pembelajaran berbasis masalah dengan memberikan pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik agar siswa mendapatkan arahan selama proses pembelajaran. Artinya, keberhasilan model ini sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memberikan bimbingan dan mengarahkan diskusi.

Jika dikaitkan dengan pembelajaran saat ini, model pembelajaran berbasis masalah masih relevan karena pembelajaran tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga mendorong siswa untuk berpikir kritis dan menyelesaikan masalah. Namun, model tersebut sebaiknya tidak diterapkan secara kaku. Guru perlu menyesuaikan tingkat kesulitan masalah, karakteristik siswa, materi pelajaran, serta memberikan bimbingan yang cukup. Jadi, menurut saya, MPBM-PS merupakan model yang baik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada cara guru menyesuaikannya dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Jingga Nur Alita -
JINGGA NUR ALITA (2513031038)

Artikel I Wayan Redhana membahas Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) sebagai model yang digunakan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Model ini menggabungkan tiga komponen utama, yaitu masalah tidak terstruktur, pertanyaan kontekstual, dan pertanyaan Socratik. Siswa terlebih dahulu diberikan permasalahan yang terbuka dan berkaitan dengan situasi nyata. Selanjutnya, siswa dibimbing melalui pertanyaan konseptual untuk memahami konsep yang diperlukan dalam menyelesaikan masalah. Setelah itu, guru menggunakan pertanyaan Socratik untuk menggali alasan, asumsi, bukti, pendapat, serta hasil dari jawaban yang diberikan siswa.

Berdasarkan penelitian tersebut, MPBM-PS terbukti lebih efektif dibandingkan model pembelajaran langsung dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian dilakukan terhadap 273 siswa SMP dari empat sekolah di Buleleng, Bali, menggunakan desain kuasi eksperimen. Hasil uji ANCOVA menunjukkan nilai signifikansi 0,000 dengan parsial eta squared sebesar 0,220. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok yang menggunakan MPBM-PS dan kelompok yang menggunakan pembelajaran langsung.

Kelebihan utama model ini terletak pada proses pembelajarannya yang tidak hanya meminta siswa mencari jawaban, tetapi juga menuntut mereka menjelaskan alasan di balik penjelasannya. Masalah yang tidak terstruktur dapat mendorong rasa ingin tahu siswa dan membuat mereka terdorong untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Sementara itu, pertanyaan Socratik membuat siswa tidak bisa sekadar menerima suatu jawaban, tetapi harus mengklarifikasi dan mempertanggungjawabkan pemikirannya berdasarkan alasan dan bukti.

Temuan tersebut masih relevan dengan penelitian yang lebih baru. Tinjauan sistematis tahun 2023 terhadap penelitian PBL menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah secara umum dapat membantu meningkatkan keterampilan berpikir kritis karena siswa terlibat dalam pemecahan masalah, pencarian informasi, dan proses pengambilan keputusan. Namun penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa hasil PBL tidak selalu sama pada setiap kondisi karena dipengaruhi oleh konteks pembelajaran dan karakteristik peserta didik. Meta-analisis lain yang mencakup 50 penelitian dan 5.210 peserta didik juga menemukan bahwa PBL memiliki pengaruh positif yang cukup kuat terhadap keterampilan dan disposisi berpikir kritis, tetapi hasilnya memiliki heterogenitas yang tinggi. Artinya, efektivitas PBL tidak bisa dianggap otomatis sama pada semua kelas dan semua kondisi. 

Di sisi lain, MPBM-PS juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan. Model ini membutuhkan peran guru yang cukup aktif dalam memberikan bimbingan. Artikel yang dikaji sendiri menunjukkan bahwa PBL yang dilakukan secara murni dapat membuat siswa SMP mengalami kesulitan karena mereka belum tentu mampu menyelesaikan masalah tanpa bantuan. Oleh karena itu, MPBM-PS menambahkan pertanyaan kontekstual dan pertanyaan Socratik sebagai bentuk scaffolding atau bimbingan. Hal ini berarti keberhasilan model sangat bergantung pada kemampuan guru dalam menyusun masalah dan mengajukan pertanyaan yang tepat.

Kelemahan lainnya adalah pelaksanaannya relatif membutuhkan waktu dan persiapan lebih banyak dibandingkan pembelajaran langsung. Guru harus menyiapkan masalah yang sesuai, pertanyaan kontekstual, pertanyaan Socratik, LKS, sekaligus mengawasi diskusi setiap kelompok. Dalam penelitian tersebut, siswa bahkan dibagi ke dalam kelompok berisi 4–5 orang dengan pembagian peran tertentu. Jadi, model ini kurang tepat jika diterapkan hanya dengan memberikan masalah kemudian membiarkan siswa mencari solusi sendiri tanpa arahan.

Pertanyaan Socratik juga tidak bisa dipandang sebagai sekadar daftar pertanyaan yang sudah dibuat guru sejak awal. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa jenis pertanyaan Socratik yang digunakan sangat bergantung pada respon dan ide yang muncul dari siswa. Dengan demikian, guru harus mampu menyesuaikan pertanyaan berdasarkan jawaban siswa. Penelitian tahun 2023 mengenai penggunaan metode Socratic juga menunjukkan bahwa pertanyaan Socratik berpotensi mengembangkan keterampilan berpikir kritis melalui pemantauan proses berpikir atau pemantauan metakognitif.

Secara kritis, hasil penelitian Redhana tetap kuat, tetapi tidak berarti MPBM-PS selalu menjadi pilihan terbaik untuk semua kondisi pembelajaran. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penelitian tersebut dilakukan pada siswa SMP dalam mata pelajaran IPA, sehingga hasilnya tidak bisa langsung digeneralisasikan ke semua jenjang pendidikan dan semua mata pelajaran. Selain itu, penelitian tersebut membandingkan MPBM-PS dengan model pembelajaran langsung. Perbandingan tersebut memang menunjukkan bahwa MPBM-PS lebih unggul daripada pembelajaran langsung dalam konteks penelitian, tetapi belum cukup untuk membuktikan bahwa MPBM-PS selalu lebih efektif dibandingkan model pembelajaran aktif lainnya.
Dengan demikian, MPBM-PS dapat dinilai sebagai model pembelajaran yang kuat untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, terutama ketika masalah yang diberikan relevan dan guru mampu memberikan bimbingan yang tepat. Keunggulannya bukan hanya karena siswa belajar melalui masalah, tetapi karena proses pemecahan masalah tersebut dipadukan dengan pertanyaan konteks dan pertanyaan Socratik. Namun model ini memerlukan kesiapan guru, waktu yang cukup, kualitas masalah yang baik, serta kemampuan siswa untuk bekerja secara aktif dan kolaboratif. Jadi, model ini sebaiknya tidak diterapkan secara kaku, tetapi disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa, karakteristik materi, dan kondisi kelas. Temuan penelitian yang lebih baru juga mendukung bahwa PBL efektif untuk berpikir kritis, tetapi efektivitasnya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ukuran kelompok, tingkat kematangan siswa, durasi pembelajaran, dan bentuk pembelajaran yang digunakan.
Sains Langsung
Kesimpulannya, MPBM-PS bukan sekadar model “belajar dari masalah”, tetapi model yang mengarahkan siswa untuk memahami masalah, mencari informasi, membangun alasan, menguji bukti, menilai asumsi, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan. Justru bagian pertanyaan Socratik inilah yang menjadi pembeda penting dari PBL biasa. Namun, agar benar-benar efektif, guru harus mampu menjadi fasilitator yang aktif dalam memberikan scaffolding, bukan hanya menyerahkan masalah kepada siswa.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Ananda Sri Rejeki -
1. Identitas dan fokus artikel
Artikel yang dikaji adalah karya I Wayan Redhana berjudul “Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa” yang diterbitkan dalam Jurnal Cakrawala Pendidikan. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas kombinasi Problem-Based Learning (PBL) dan pertanyaan Socratik dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian menggunakan desain kuasi eksperimen nonequivalent control group dengan melibatkan 273 siswa dari empat SMP di Buleleng, Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik memiliki keterampilan berpikir kritis yang lebih baik dibandingkan kelompok yang memperoleh pembelajaran langsung.

2. Kekuatan model pembelajaran
Kekuatan utama model dalam artikel tersebut terletak pada kemampuannya mengubah pembelajaran dari sekadar menerima informasi menjadi proses menganalisis masalah, mencari bukti, mengemukakan alasan, dan mengambil keputusan. PBL memberikan siswa masalah yang perlu diselesaikan, sedangkan pertanyaan Socratik mendorong siswa untuk mempertanyakan asumsi, memberikan alasan, mengevaluasi bukti, dan mempertahankan pendapatnya.
Hal tersebut sangat relevan dengan tujuan pembelajaran abad ke-21 karena berpikir kritis tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengetahui jawaban, tetapi juga kemampuan menjelaskan mengapa jawaban tersebut dianggap benar. Penelitian Redhana juga memiliki kekuatan metodologis karena menggunakan kelompok eksperimen dan kontrol serta melibatkan jumlah peserta yang cukup besar untuk konteks penelitian sekolah.
Temuan tersebut juga masih relevan dengan penelitian mutakhir. Meta-analisis tahun 2022 yang mencakup 50 penelitian dengan 5.210 peserta dan 58 effect sizes menemukan bahwa PBL memberikan pengaruh positif terhadap keterampilan dan disposisi berpikir kritis, meskipun terdapat heterogenitas antarpenelitian. Penelitian tahun 2024 yang menganalisis 20 artikel juga menemukan bahwa PBL memberikan pengaruh signifikan terhadap keterampilan abad ke-21, termasuk critical thinking, creativity, collaboration, dan communication.

3. Kelemahan dan keterbatasan
Meskipun demikian, artikel Redhana memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, penelitian dilakukan pada mata pelajaran IPA di tingkat SMP, sehingga hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasikan pada semua mata pelajaran dan jenjang pendidikan. Model tersebut perlu disesuaikan kembali dengan karakteristik materi dan peserta didik.
Kedua, penelitian membandingkan PBL dan pertanyaan Socratik dengan pembelajaran langsung. Oleh karena itu, peningkatan keterampilan berpikir kritis belum sepenuhnya dapat menjelaskan seberapa besar kontribusi PBL dan seberapa besar kontribusi pertanyaan Socratik secara terpisah. Dengan kata lain, desain penelitian belum menunjukkan apakah PBL saja, pertanyaan Socratik saja, atau kombinasi keduanya yang paling memberikan pengaruh.
Ketiga, penerapan PBL membutuhkan kemampuan guru dalam memberikan scaffolding atau bimbingan. PBL tidak otomatis menghasilkan kemampuan berpikir kritis hanya karena siswa diberikan suatu masalah. Meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa efektivitas PBL sangat dipengaruhi oleh konteks dan kualitas implementasinya. Studi tahun 2026 terhadap 22 penelitian menemukan efek PBL yang besar, tetapi heterogenitasnya juga sangat tinggi (I² = 92,90%), sehingga kualitas pelaksanaan, scaffolding, fasilitasi guru, dan kesesuaian masalah dengan konteks menjadi faktor penting.

4. Relevansi dengan pembelajaran ekonomi
Menurut saya, model yang dikembangkan Redhana sangat relevan diterapkan dalam pembelajaran ekonomi. Banyak materi ekonomi sebenarnya berbentuk masalah nyata dan tidak memiliki satu jawaban sederhana. Misalnya, guru dapat memberikan masalah:
“Mengapa harga kebutuhan pokok meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak selalu meningkat?”
Siswa kemudian diminta mengidentifikasi penyebab inflasi, mencari data, membandingkan berbagai pendapat, menganalisis dampak terhadap masyarakat, dan menyusun solusi. Pada tahap tersebut guru dapat menggunakan pertanyaan Socratik seperti “Apa bukti yang mendukung pendapatmu?”, “Apakah ada faktor lain?”, “Siapa yang paling terdampak?”, dan “Apa konsekuensinya jika kebijakan tersebut diterapkan?”
Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal pengertian inflasi, tetapi belajar berpikir seperti seorang analis ekonomi.

5. Penilaian kritis terhadap model
Secara keseluruhan, saya menilai model PBL yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik merupakan model yang kuat untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis, tetapi keberhasilannya tidak boleh dianggap otomatis. Bukti penelitian terbaru secara umum masih mendukung efektivitas PBL, termasuk systematic review dan meta-analysis yang menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis dibandingkan pembelajaran konvensional. Namun, variasi hasil penelitian menunjukkan bahwa cara guru menerapkan model jauh lebih penting daripada sekadar menggunakan nama modelnya.
Oleh karena itu, inovasi yang lebih tepat bukan sekadar mengganti metode ceramah dengan PBL, tetapi merancang masalah yang autentik, pertanyaan Socratik yang mendalam, sumber data yang relevan, kerja kelompok yang terarah, serta refleksi dan evaluasi. Untuk pembelajaran ekonomi, model ini dapat dikembangkan melalui isu seperti inflasi, pengangguran, kemiskinan, ketimpangan pendapatan, UMKM, pajak, hingga kebijakan pemerintah.

6. Kesimpulan
Berdasarkan kajian terhadap artikel Redhana dan penelitian mutakhir, Problem-Based Learning yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik layak digunakan sebagai model pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Penelitian Redhana memberikan dasar empiris bahwa kombinasi tersebut lebih efektif dibandingkan pembelajaran langsung, sedangkan penelitian-penelitian terbaru memperkuat bahwa PBL secara umum memiliki dampak positif terhadap kemampuan berpikir kritis.
Namun, model ini harus diterapkan secara kontekstual dan tidak sekadar mengikuti tren. Kualitas masalah, kemampuan guru memberikan pertanyaan dan scaffolding, karakteristik siswa, serta kesesuaian dengan tujuan pembelajaran menjadi penentu keberhasilannya. Dalam pembelajaran ekonomi, model ini sangat potensial karena dapat menghubungkan konsep ekonomi dengan permasalahan nyata sehingga siswa mampu menganalisis, berargumentasi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah ekonomi secara kritis.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Erlin Nurul Azizah -
Nama: Erlin Nurul Azizah
NPM: 2553031002

1. Isi Artikel
Redhana (2013) membahas model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Siswa diberikan suatu masalah, kemudian diarahkan untuk mencari penyelesaian melalui diskusi dan pertanyaan dari guru.

2. Kelebihan
Menurut saya, model ini membuat siswa lebih terlibat dalam pembelajaran karena mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan guru. Siswa diajak menganalisis masalah, menyampaikan pendapat, memberikan alasan, dan mencari solusi. Pertanyaan Socratik juga membantu siswa berpikir lebih mendalam terhadap jawaban yang diberikan.

3. Kekurangan
Model ini membutuhkan waktu yang cukup karena siswa harus memahami masalah, berdiskusi, dan menemukan solusi. Selain itu, guru harus mampu memberikan pertanyaan yang sesuai agar siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

4. Penerapan dalam Pembelajaran Ekonomi
Model ini dapat diterapkan dalam pembelajaran ekonomi, misalnya pada materi inflasi. Guru dapat memberikan permasalahan mengenai kenaikan harga barang, kemudian meminta siswa mencari penyebab, dampak, dan solusi dari masalah tersebut. Guru dapat mengajukan pertanyaan seperti “Mengapa harga barang meningkat?” dan “Apa dampaknya bagi masyarakat?”

5. Critical Review
Menurut saya, keunggulan utama model ini terletak pada penggunaan pertanyaan Socratik yang membuat siswa tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga memikirkan alasan dari jawabannya. Namun, penerapannya tetap membutuhkan guru yang mampu mengarahkan siswa agar diskusi tidak keluar dari tujuan pembelajaran.

6. Kesimpulan
Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik dapat digunakan untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa. Model ini juga dapat diterapkan dalam pembelajaran ekonomi dengan menyesuaikan masalah yang diberikan dengan kehidupan sehari-hari dan materi yang dipelajari.

Daftar Pustaka

Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3).
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Liza Wahyu Utami -
CRITICAL REVIEW ARTIKEL
Redhana, I. W. (2013). “Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa.”
_Jurnal Cakrawala Pendidikan, No. 3._ DOI: 10.21831/cp.v0i3.1136

1. Ringkasan Isi Artikel
Artikel Redhana 2013 mengkaji kombinasi 2 model: Problem Based Learning / PBL+ Pertanyaan Socratik untuk melatih keterampilan berpikir kritis siswa.

Inti gagasannya:
- PBL digunakan untuk menyajikan masalah nyata sebagai pemicu belajar. Siswa belajar dengan memecahkan masalah, bukan hanya menerima materi.
- Pertanyaan Socratik digunakan guru saat proses PBL untuk memancing siswa berpikir lebih dalam: menganalisis, mengevaluasi argumen, dan mengambil keputusan.
- Tujuannya sejalan dengan tuntutan Kurikulum 2013 yaitu siswa harus aktif, menalar, mengolah, menyaji secara kritis dan kreatif. dd416a1397d3

2. Kekuatan / Kelebihan Model menurut Kajian Mutakhir
Berdasarkan literatur terbaru 2023-2025, kombinasi ini masih sangat relevan:

1. Sesuai tuntutan abad 21 & Kurikulum Merdeka
PBL terbukti efektif meningkatkan keterlibatan, pemahaman, dan kemampuan berpikir kritis karena siswa dihadapkan pada masalah nyata. Ini mendukung keterampilan 4C: _Critical thinking, Collaboration, Communication, Creativity_.

2. Pertanyaan Socratik menguatkan proses PBL
Penelitian 2025 menunjukkan _Socratic Method_ berbasis diskusi dan pertanyaan terbuka membantu siswa menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan menyelesaikan masalah secara rasional. Tanpa pertanyaan pemantik, PBL rawan jadi "cari jawaban" bukan "berpikir".

3. Meningkatkan kemandirian belajar
PBL mendorong siswa belajar mandiri, menyusun pengetahuan sendiri, dan mengembangkan inkuiri. Guru berperan sebagai fasilitator, bukan pemberi jawaban. dd416a13e045e375

3. Kritik dan Kelemahan
Meski bagus secara teori, ada beberapa catatan kritis berdasarkan kajian mutakhir:

1. Tuntutan Kompetensi Guru Tinggi
Guru harus mampu merancang masalah autentik DAN merumuskan pertanyaan Socratik yang tepat. Observasi 2025 di SMP menunjukkan banyak guru masih pakai metode ekspositori karena belum terbiasa membangun komunikasi 2 arah. Tanpa pelatihan, model ini bisa gagal.

2. Waktu dan Cakupan Materi
PBL + Socratik butuh waktu panjang: pengenalan masalah, riset mandiri, diskusi, evaluasi. Di sekolah dengan target kurikulum padat, guru sering tertekan dan kembali ke ceramah.

3. Kesiapan Siswa
Jika siswa terbiasa menghafal tanpa pemahaman mendalam, mereka akan kesulitan di awal. Model ini efektif jika dilakukan bertahap. Langsung loncat ke PBL bisa membuat siswa pasif dan takut.

4. Penilaian
Berpikir kritis sulit diukur hanya dengan tes. Padahal penilaian K13 harus menyeluruh: sikap, pengetahuan, keterampilan. Artikel Redhana belum banyak membahas instrumen penilaian berpikir kritis secara rinci.
Relevansi dengan Konteks Sekarang 2026
1. Sangat cocok untuk Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis proyek dan berpikir tingkat tinggi.
2. Bisa dikolaborasikan dengan teknologi: Pertanyaan Socratik sekarang bisa difasilitasi lewat platform seperti Padlet untuk diskusi asinkronus.
3. Kebutuhan guru: Perlu LKG/PMO khusus melatih guru membuat "pertanyaan level tinggi" bukan hanya "apa, kapan, siapa". 6a13

*5. Kesimpulan Critical Review*
Model PBL + Pertanyaan Socratik dari Redhana 2013 adalah model yang _visioner_ dan masih sangat relevan. Kekuatannya ada pada integrasi antara masalah kontekstual dan proses bertanya yang menggali.

Namun kelemahannya terletak pada implementasi: butuh guru yang terlatih, waktu, dan budaya kelas yang mendukung diskusi. Agar tidak jadi "jargon" saja, sekolah perlu memberi pendampingan dan contoh masalah ekonomi yang benar-benar dekat dengan siswa, misalnya: "Kenapa harga cabai di Bandar Lampung naik saat musim hujan?"

Rekomendasi: Model ini jangan dipaksa untuk semua materi. Pakai untuk materi isu/analisis. Untuk materi konsep dasar/hitungan, bisa dikombinasi dengan direct instruction dulu baru masuk PBL.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by PRIYO ASDY TIA -
Priyo Asdy Tia
2413031019

Artikel tentang Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) menunjukkan bahwa model ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa diajak menyelesaikan masalah, mencari informasi, berdiskusi, dan menjawab pertanyaan yang mendorong mereka untuk memberikan alasan dan bukti.

Kelebihannya, siswa menjadi lebih aktif, terbiasa berdiskusi, dan mampu berpikir lebih kritis. Hasil penelitian juga menunjukkan MPBM-PS lebih efektif dibandingkan pembelajaran langsung dalam meningkatkan berpikir kritis.

Kekurangannya, model ini membutuhkan waktu cukup banyak dan guru harus mampu membuat pertanyaan yang tepat. Siswa yang belum terbiasa belajar aktif juga membutuhkan bimbingan

Kesimpulannya, MPBM-PS bagus digunakan, terutama untuk materi yang membutuhkan pemecahan masalah. Namun, guru tetap harus menyesuaikannya dengan tujuan pembelajaran, materi, waktu, dan kemampuan siswa.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by M. Fadli Nahtiar -
Critical Review

1. Identitas dan Tujuan Artikel
Redhana (2013) membahas Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) yang bertujuan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian dilakukan pada 273 siswa SMP dalam pembelajaran IPA.

2. Deskripsi Model
MPBM-PS merupakan modifikasi dari Problem-Based Learning (PBL). Siswa diberikan masalah ill-structured, kemudian dibimbing melalui pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik. Pertanyaan Socratik mencakup klarifikasi, asumsi, alasan dan bukti, perspektif, implikasi, serta pertanyaan lanjutan.

3. Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata postes kelompok eksperimen sebesar 24,93, sedangkan kelompok kontrol sebesar 20,38. Hasil ANCOVA menunjukkan nilai signifikansi 0,000, sehingga MPBM-PS dinyatakan lebih efektif daripada pembelajaran langsung dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis.

4. Kelebihan
MPBM-PS mendorong siswa untuk aktif memecahkan masalah, mencari informasi, berdiskusi, memberikan alasan, dan mengevaluasi bukti. Pertanyaan Socratik juga membantu siswa memahami suatu masalah secara lebih mendalam.

5. Kelemahan
Penelitian hanya dilakukan pada mata pelajaran IPA tingkat SMP, sehingga hasilnya belum tentu sama jika diterapkan pada mata pelajaran dan jenjang lain. Model ini juga membutuhkan kemampuan guru dalam menyusun pertanyaan yang tepat serta waktu pembelajaran yang cukup.

6. Relevansi dengan Pembelajaran Saat Ini
Berdasarkan penelitian mutakhir, PBL masih relevan untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, materi, dan tujuan pembelajaran. Penggunaan strategi tambahan seperti pertanyaan Socratik dapat membantu mengarahkan siswa agar benar-benar melakukan proses berpikir kritis.

Daftar Pustaka
Redhana, I. W. (2013). Model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3), 351–365.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by ROHMA DWI SOPIYAH AL MU'IN -
• Critical Review

Artikel Redhana (2013) membahas Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) yang bertujuan meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Model ini menggabungkan pembelajaran berbasis masalah dengan pertanyaan Socratik yang digunakan guru untuk menggali alasan, bukti, asumsi, dan pemikiran siswa. Penelitian dilakukan pada 273 siswa SMP dan menunjukkan bahwa MPBM-PS lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis dibandingkan pembelajaran langsung.

Kelebihan utama model ini adalah siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi terlibat dalam menyelesaikan masalah dan mempertanggungjawabkan jawabannya. Pertanyaan Socratik juga membuat siswa lebih terbiasa memberikan alasan dan tidak sekadar menjawab benar atau salah. Hal ini masih sesuai dengan penelitian mutakhir yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis apabila kegiatan pembelajarannya memang dirancang untuk melatih kemampuan tersebut (Yu & Zin, 2023).

Namun, model ini juga memiliki beberapa kelemahan. Penerapannya membutuhkan waktu yang cukup karena siswa harus memahami masalah, berdiskusi, mencari informasi, dan menyampaikan hasilnya. Selain itu, keberhasilan pertanyaan Socratik sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memberikan pertanyaan yang sesuai dengan jawaban dan tingkat pemahaman siswa. Model yang sama juga tidak bisa langsung diterapkan pada semua mata pelajaran tanpa penyesuaian karena penelitian Redhana dilakukan pada konteks pembelajaran IPA tingkat SMP.

Jika diterapkan pada pembelajaran saat ini, model tersebut masih relevan tetapi dapat dikembangkan dengan teknologi digital dan sumber belajar yang lebih beragam. Misalnya dalam pembelajaran Ekonomi, guru dapat memberikan kasus kenaikan harga suatu barang kemudian meminta siswa menganalisis penyebab dan dampaknya. Guru dapat menggunakan pertanyaan seperti “Apa alasanmu?”, “Apa buktinya?”, dan “Apa yang terjadi jika kondisi tersebut berubah?”. Dengan demikian, teknologi digunakan sebagai sumber informasi, sedangkan proses berpikir dan pengambilan kesimpulan tetap dilakukan oleh siswa.

Kesimpulan :
Secara keseluruhan, MPBM-PS merupakan model yang cukup kuat untuk melatih berpikir kritis karena menggabungkan pemecahan masalah dengan pertanyaan yang mendorong siswa berpikir lebih mendalam. Walaupun artikel Redhana diterbitkan pada 2013, gagasan utamanya masih relevan. Hanya saja, penerapannya perlu disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, mata pelajaran, perkembangan teknologi, serta kebutuhan pembelajaran saat ini.