CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 11

Kementerian Pendidikan dan berbagai startup edtech meluncurkan aplikasi pembelajaran daring untuk siswa di seluruh Indonesia, termasuk daerah terpencil. Namun, banyak guru dan siswa di daerah seperti pedalaman Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara mengalami kendala. Bukan hanya soal akses internet, tetapi juga karena aplikasi dirasa tidak relevan dengan konteks budaya dan bahasa lokal. Guru juga kesulitan mengintegrasikan aplikasi ke dalam metode pembelajaran mereka.

 Pertanyaan:

  1. Gunakan pendekatan SCP untuk menganalisis mengapa aplikasi edukasi digital tersebut tidak efektif di daerah terpencil.
  2. Nilai peran faktor sosial, budaya, dan lokalitas dalam membentuk makna dan penerimaan teknologi pendidikan.
  3. Desain sebuah model aplikasi atau strategi penerapan yang mempertimbangkan prinsip SCP dan lokalitas untuk meningkatkan efektivitas edtech di Indonesia.

In reply to First post

Re: CASE STUDY

Nana Berliana གིས-
Nama:berliana
Npm:2253031004

1. Analisis Ketidakefektifan Aplikasi Edtech di Daerah Terpencil Berdasarkan Pendekatan SCP
Dalam perspektif SCP, teknologi tidak bersifat netral atau universal, melainkan dibentuk oleh interaksi sosial, nilai, dan konteks pengguna. Ketidakefektifan aplikasi pembelajaran daring di daerah terpencil dapat dijelaskan melalui beberapa aspek berikut:
Desain teknologi yang bersifat top-down
Aplikasi edtech dirancang berdasarkan asumsi konteks perkotaan, dengan bahasa Indonesia baku, gaya pembelajaran digital modern, dan ketersediaan internet stabil. Hal ini mengabaikan realitas sosial dan pendidikan di daerah terpencil.
Perbedaan interpretasi makna teknologi (interpretative flexibility)
Bagi pemerintah dan startup, aplikasi dipahami sebagai solusi pemerataan pendidikan. Namun, bagi guru dan siswa di daerah terpencil, aplikasi sering dimaknai sebagai beban tambahan yang sulit digunakan dan tidak selaras dengan praktik belajar mengajar setempat.
Ketiadaan proses stabilisasi sosial teknologi
Karena tidak adanya ruang negosiasi antara perancang aplikasi dan pengguna lokal, teknologi tidak pernah mencapai tahap stabilisasi (closure). Akibatnya, aplikasi tidak terintegrasi dalam praktik pendidikan sehari-hari.
2. Peran Faktor Sosial, Budaya, dan Lokalitas dalam Penerimaan Teknologi Pendidikan
Faktor sosial dan budaya memiliki pengaruh besar dalam membentuk penerimaan teknologi edtech:
Bahasa dan budaya lokal
Banyak siswa lebih familiar dengan bahasa daerah dibandingkan bahasa Indonesia formal. Ketika aplikasi tidak mencerminkan bahasa dan konteks budaya lokal, teknologi menjadi asing dan sulit dipahami.
Peran guru sebagai otoritas sosial
Guru di daerah terpencil memegang peran sentral sebagai sumber pengetahuan. Ketika aplikasi tidak mendukung metode mengajar guru atau bahkan menggantikannya, muncul resistensi sosial.
Praktik belajar berbasis komunitas
Pembelajaran di daerah terpencil sering bersifat kolektif dan kontekstual. Aplikasi edtech yang individualistik dan berbasis layar bertentangan dengan pola belajar ini.
Dengan demikian, penerimaan teknologi bukan hanya persoalan akses, tetapi juga kesesuaian sosial dan budaya.
3. Model Aplikasi dan Strategi Penerapan Edtech Berbasis SCP dan Lokalitas
Untuk meningkatkan efektivitas edtech di Indonesia, diperlukan desain dan strategi yang mempertimbangkan konstruksi sosial teknologi:
a. Model Aplikasi Edtech Berbasis Lokalitas
Multibahasa dan kontekstual
Menyediakan pilihan bahasa daerah dan konten yang relevan dengan kehidupan lokal (cerita rakyat, konteks alam setempat).
Mode offline dan teknologi ringan
Aplikasi dapat diunduh dan digunakan tanpa koneksi internet stabil.
Fleksibel terhadap metode guru
Aplikasi berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti guru.
b. Strategi Implementasi Berbasis SCP
Co-design dengan komunitas lokal
Guru, siswa, dan tokoh masyarakat dilibatkan sejak tahap perancangan.
Peran mediator sosial
Penyuluh pendidikan dan guru senior dilatih sebagai agen perubahan teknologi.
Uji coba berbasis komunitas (pilot project)
Evaluasi dilakukan berdasarkan umpan balik sosial, bukan hanya indikator teknis.
Kesimpulan
Dalam pendekatan SCP, kegagalan aplikasi edtech di daerah terpencil bukan disebabkan oleh keterbatasan teknologi semata, melainkan oleh ketidaksesuaian sosial, budaya, dan lokalitas. Teknologi pendidikan yang efektif harus dikonstruksi bersama pengguna, menghormati budaya lokal, dan memperkuat peran guru. Dengan pendekatan ini, edtech dapat benar-benar menjadi alat pemerataan pendidikan di Indonesia, bukan sekadar simbol modernisasi digital.