Nama : Rika Triana
Npm : 2621011042
1. faktor paling berpengaruh pada MSDM internasional:
-Analisis lingkungan eksternal: PESTEL (politik, ekonomi, sosial-budaya, teknologi, lingkungan, hukum), termasuk hukum ketenagakerjaan, upah minimum, dan stabilitas politik.
-Dimensi budaya: kerangka Hofstede (jarak kekuasaan, individualisme, penghindaran ketidakpastian) dan GLOBE untuk memahami nilai kerja setempat.
-Kondisi pasar tenaga kerja: ketersediaan talenta, tingkat pendidikan, biaya tenaga kerja, serikat pekerja.
-Strategi perusahaan: apakah pendekatan etnosentris, polisentris, regiosentris, atau geosentris.
-Cara menentukan yang paling berpengaruh: survei dan wawancara manajer, benchmarking, analisis data kinerja unit lokal, serta penilaian risiko per negara.
2. Pengaruh perbedaan antarnegara terhadap perencanaan SDM
Perbedaan antarnegara memengaruhi perencanaan SDM dalam beberapa hal. Hukum yang berbeda, seperti aturan pemutusan hubungan kerja, jam kerja, cuti, dan perizinan kerja, menentukan jumlah dan jenis tenaga kerja yang bisa direncanakan. Perbedaan budaya memengaruhi gaya kepemimpinan, sikap terhadap hierarki, dan motivasi, sehingga kebijakan SDM tidak dapat diseragamkan begitu saja. Perbedaan tingkat upah, inflasi, dan nilai tukar memengaruhi anggaran serta struktur kompensasi. Kelangkaan keahlian di suatu negara juga dapat mendorong perusahaan mengirim ekspatriat atau memindahkan pekerjaan ke negara lain. Karena itu, perencanaan SDM perlu menyeimbangkan standar global dengan fleksibilitas lokal, atau yang sering disebut "think global, act local".
3. Seleksi dan pelatihan SDM di pasar tenaga kerja global:
Dalam memilih SDM, perusahaan pertama-tama menentukan sumber stafnya, yaitu warga negara asal perusahaan (ekspatriat), warga negara tuan rumah, atau warga negara ketiga. Seleksi tidak hanya menilai kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan budaya baru, kemampuan bahasa, kecerdasan emosional, dan kesiapan keluarga untuk pindah. Metode yang digunakan meliputi wawancara, asesmen kompetensi, tes psikometrik, dan assessment center yang disesuaikan dengan budaya setempat. Setelah dipilih, karyawan dilatih melalui pelatihan lintas budaya, kursus bahasa, orientasi tentang negara tujuan, pelatihan teknis, dan pengembangan kepemimpinan global. Karyawan lokal juga dilatih agar memahami standar kerja dan budaya perusahaan.
4. Tantangan manajemen kinerja dan kompensasi karyawan dari negara lain
Dalam manajemen kinerja, tantangan utamanya adalah bias budaya dan jarak. Kriteria penilaian yang cocok di satu negara bisa tidak sesuai di negara lain, misalnya umpan balik langsung yang kurang diterima dalam budaya yang menjunjung harmoni. Atasan di kantor pusat juga sulit mengamati kinerja secara langsung dan sering kurang memahami konteks lokal. Solusinya adalah memadukan indikator global yang objektif dengan indikator lokal, memakai penilaian dari banyak pihak, dan melatih para penilai. Dalam kompensasi, perusahaan harus menjaga keadilan antarnegara sambil tetap kompetitif di pasar lokal. Untuk ekspatriat, pendekatan yang umum adalah balance sheet, yaitu gaji pokok ditambah tunjangan tempat tinggal, biaya hidup, pendidikan anak, dan insentif penugasan. Pendekatan lainnya adalah going rate yang mengikuti standar pasar setempat. Masalah lain yang muncul adalah pajak ganda, fluktuasi kurs, perbedaan tunjangan wajib, dan kecemburuan antara ekspatriat dan karyawan lokal.
5. Persiapan manajer untuk tugas internasional dan kepulangan mereka:
Sebelum berangkat, manajer dibekali pelatihan lintas budaya dan bahasa, kunjungan pendahuluan ke negara tujuan, bantuan relokasi, serta dukungan bagi pasangan dan keluarga. Tujuan penugasan juga ditetapkan dengan jelas sejak awal. Selama penugasan, perusahaan menyediakan mentor di kantor pusat, komunikasi yang rutin, dan dukungan adaptasi. Menjelang kepulangan (repatriasi), perusahaan perlu merencanakan karier manajer agar posisi setelah kembali jelas, memberikan program orientasi ulang untuk mengatasi reverse culture shock, serta menghargai dan memanfaatkan pengalaman internasional yang diperoleh. Langkah ini penting untuk mencegah turnover, karena banyak repatriat keluar dari perusahaan ketika merasa pengalamannya tidak dihargai.
Npm : 2621011042
1. faktor paling berpengaruh pada MSDM internasional:
-Analisis lingkungan eksternal: PESTEL (politik, ekonomi, sosial-budaya, teknologi, lingkungan, hukum), termasuk hukum ketenagakerjaan, upah minimum, dan stabilitas politik.
-Dimensi budaya: kerangka Hofstede (jarak kekuasaan, individualisme, penghindaran ketidakpastian) dan GLOBE untuk memahami nilai kerja setempat.
-Kondisi pasar tenaga kerja: ketersediaan talenta, tingkat pendidikan, biaya tenaga kerja, serikat pekerja.
-Strategi perusahaan: apakah pendekatan etnosentris, polisentris, regiosentris, atau geosentris.
-Cara menentukan yang paling berpengaruh: survei dan wawancara manajer, benchmarking, analisis data kinerja unit lokal, serta penilaian risiko per negara.
2. Pengaruh perbedaan antarnegara terhadap perencanaan SDM
Perbedaan antarnegara memengaruhi perencanaan SDM dalam beberapa hal. Hukum yang berbeda, seperti aturan pemutusan hubungan kerja, jam kerja, cuti, dan perizinan kerja, menentukan jumlah dan jenis tenaga kerja yang bisa direncanakan. Perbedaan budaya memengaruhi gaya kepemimpinan, sikap terhadap hierarki, dan motivasi, sehingga kebijakan SDM tidak dapat diseragamkan begitu saja. Perbedaan tingkat upah, inflasi, dan nilai tukar memengaruhi anggaran serta struktur kompensasi. Kelangkaan keahlian di suatu negara juga dapat mendorong perusahaan mengirim ekspatriat atau memindahkan pekerjaan ke negara lain. Karena itu, perencanaan SDM perlu menyeimbangkan standar global dengan fleksibilitas lokal, atau yang sering disebut "think global, act local".
3. Seleksi dan pelatihan SDM di pasar tenaga kerja global:
Dalam memilih SDM, perusahaan pertama-tama menentukan sumber stafnya, yaitu warga negara asal perusahaan (ekspatriat), warga negara tuan rumah, atau warga negara ketiga. Seleksi tidak hanya menilai kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan beradaptasi dengan budaya baru, kemampuan bahasa, kecerdasan emosional, dan kesiapan keluarga untuk pindah. Metode yang digunakan meliputi wawancara, asesmen kompetensi, tes psikometrik, dan assessment center yang disesuaikan dengan budaya setempat. Setelah dipilih, karyawan dilatih melalui pelatihan lintas budaya, kursus bahasa, orientasi tentang negara tujuan, pelatihan teknis, dan pengembangan kepemimpinan global. Karyawan lokal juga dilatih agar memahami standar kerja dan budaya perusahaan.
4. Tantangan manajemen kinerja dan kompensasi karyawan dari negara lain
Dalam manajemen kinerja, tantangan utamanya adalah bias budaya dan jarak. Kriteria penilaian yang cocok di satu negara bisa tidak sesuai di negara lain, misalnya umpan balik langsung yang kurang diterima dalam budaya yang menjunjung harmoni. Atasan di kantor pusat juga sulit mengamati kinerja secara langsung dan sering kurang memahami konteks lokal. Solusinya adalah memadukan indikator global yang objektif dengan indikator lokal, memakai penilaian dari banyak pihak, dan melatih para penilai. Dalam kompensasi, perusahaan harus menjaga keadilan antarnegara sambil tetap kompetitif di pasar lokal. Untuk ekspatriat, pendekatan yang umum adalah balance sheet, yaitu gaji pokok ditambah tunjangan tempat tinggal, biaya hidup, pendidikan anak, dan insentif penugasan. Pendekatan lainnya adalah going rate yang mengikuti standar pasar setempat. Masalah lain yang muncul adalah pajak ganda, fluktuasi kurs, perbedaan tunjangan wajib, dan kecemburuan antara ekspatriat dan karyawan lokal.
5. Persiapan manajer untuk tugas internasional dan kepulangan mereka:
Sebelum berangkat, manajer dibekali pelatihan lintas budaya dan bahasa, kunjungan pendahuluan ke negara tujuan, bantuan relokasi, serta dukungan bagi pasangan dan keluarga. Tujuan penugasan juga ditetapkan dengan jelas sejak awal. Selama penugasan, perusahaan menyediakan mentor di kantor pusat, komunikasi yang rutin, dan dukungan adaptasi. Menjelang kepulangan (repatriasi), perusahaan perlu merencanakan karier manajer agar posisi setelah kembali jelas, memberikan program orientasi ulang untuk mengatasi reverse culture shock, serta menghargai dan memanfaatkan pengalaman internasional yang diperoleh. Langkah ini penting untuk mencegah turnover, karena banyak repatriat keluar dari perusahaan ketika merasa pengalamannya tidak dihargai.