Assalamualaikum wr.wb selamat pagi ibu saya ina yaturrohmah npm 2623031011 izin menjawab pertanyaan diatas:
1. Akar permasalahan dalam kasus tersebut bukan terletak pada kurangnya fasilitas teknologi, melainkan pada cara teknologi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran. Sekolah sebenarnya telah memiliki LMS, proyektor interaktif, perangkat mobile siswa, dan jaringan internet, tetapi pembelajaran masih didominasi metode ceramah, siswa kurang dilibatkan secara aktif, materi hanya bersumber dari buku teks, dan
penilaian masih berfokus pada hafalan. Dari perspektif desain pembelajaran berbasis teknologi, teknologi seharusnya tidak hanya menjadi alat bantu penyampaian materi, tetapi harus dirancang untuk mendukung aktivitas belajar yang aktif, kolaboratif, kontekstual, dan berorientasi pada pemecahan masalah. Oleh karena itu, keberadaan teknologi tidak otomatis meningkatkan kualitas pembelajaran apabila tidak diikuti
strategi pembelajaran yang tepat, tujuan yang jelas, aktivitas yang melibatkan siswa, serta bentuk
penilaian yang mengukur kemampuan berpikir kritis, empati sosial, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
2. Model ASSURE dapat digunakan untuk merancang ulang pembelajaran IPS pada tema “Konflik Global dan Upaya Perdamaian” melalui enam tahap. Tahap pertama, Analyze Learners, dilakukan dengan menganalisis karakteristik siswa, kemampuan awal, gaya belajar, kemampuan menggunakan teknologi, serta tingkat kemampuan berpikir kritis mereka. Tahap kedua, State Objectives, yaitu merumuskan tujuan pembelajaran yang tidak hanya menekankan pengetahuan, tetapi juga kemampuan menganalisis penyebab konflik, memahami berbagai sudut pandang, menunjukkan empati, dan mengusulkan alternatif penyelesaian konflik. Tahap ketiga, Select Methods, Media, and Materials, dilakukan dengan memilih metode seperti problem based learning, diskusi kelompok, studi kasus, dan simulasi, serta memanfaatkan video berita, peta digital, LMS, infografis, dan sumber daring yang relevan. Tahap keempat, Utilize Media and Materials, guru memastikan media telah diperiksa dan menyiapkan kegiatan pembelajaran, misalnya menayangkan video tentang konflik global kemudian meminta siswa mengidentifikasi penyebab serta dampaknya. Tahap kelima, Require Learner Participation, siswa dilibatkan secara aktif melalui diskusi, debat terarah, analisis sumber, simulasi perundingan perdamaian, dan penyusunan solusi secara berkelompok. Tahap keenam, Evaluate and Revise, guru menilai hasil belajar melalui rubrik presentasi, argumentasi, proyek, refleksi, dan
penilaian antarteman, kemudian memperbaiki pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi. Dengan penerapan tersebut, ASSURE dapat mengubah pembelajaran IPS dari pembelajaran pasif menjadi lebih aktif, kontekstual, dan bermakna.
3. Model ASSURE memiliki kelebihan karena memberikan perhatian besar pada karakteristik siswa, pemilihan media yang sesuai, keterlibatan aktif siswa, serta evaluasi dan perbaikan pembelajaran. Dalam pembelajaran IPS kontekstual, model ini dapat mendukung aspek kognitif melalui kegiatan menganalisis fakta, hubungan sebab-akibat, dan berbagai perspektif terhadap masalah sosial. Aspek afektif dapat dikembangkan melalui refleksi, pembahasan nilai kemanusiaan, toleransi, perdamaian, dan empati terhadap masyarakat yang terdampak konflik. Sementara itu, aspek sosial dikembangkan melalui diskusi kelompok, kerja sama, negosiasi, simulasi, dan komunikasi antarsiswa. Namun, ASSURE juga memiliki keterbatasan karena penerapannya membutuhkan kesiapan guru dalam memilih media, merancang aktivitas, mengelola teknologi, dan melakukan evaluasi yang beragam. Selain itu, penggunaan teknologi yang terlalu dominan tanpa pengelolaan yang baik dapat mengalihkan perhatian siswa dari tujuan belajar. Oleh sebab itu, teknologi dalam model ASSURE harus tetap ditempatkan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pendidikan, bukan sebagai tujuan pembelajaran itu sendiri.
4. Desain pembelajaran berbasis ASSURE pada topik “Konflik Global dan Upaya Perdamaian” dapat dimulai dengan menganalisis karakteristik peserta didik, yaitu siswa SMA yang terbiasa menggunakan perangkat digital, memiliki kemampuan akademik yang beragam, serta memiliki potensi berpikir analitis tetapi belum banyak dilibatkan dalam pembelajaran aktif. Tujuan pembelajarannya adalah agar siswa mampu menjelaskan penyebab dan dampak konflik global, membandingkan berbagai perspektif pihak yang terlibat, menunjukkan sikap empati dan toleransi, serta menyusun alternatif upaya perdamaian berdasarkan argumentasi yang logis. Metode yang digunakan dapat berupa problem based learning, diskusi kelompok, studi kasus, simulasi, dan presentasi, sedangkan medianya berupa LMS, video dokumenter atau berita, peta digital, artikel, infografis, dan proyektor interaktif. Keterlibatan siswa dilakukan dengan membagi siswa ke dalam kelompok untuk menganalisis suatu kasus konflik, mencari informasi dari beberapa sumber, mengidentifikasi kepentingan masing-masing pihak, kemudian melakukan simulasi perundingan dan mempresentasikan solusi perdamaian.
Penilaian dilakukan tidak hanya melalui tes pengetahuan, tetapi juga melalui
penilaian proses diskusi, kemampuan berpikir kritis, kualitas argumentasi, kerja sama, empati, presentasi, dan refleksi individu. Guru kemudian memberikan umpan balik terhadap hasil kerja siswa dan menggunakan hasil evaluasi tersebut untuk memperbaiki metode, media, maupun aktivitas pada pembelajaran berikutnya.