Nama: Alya Niza Silvia
NPM: 2513032078
Kelas: 25 C
Tahap-Tahap Perkembangan Moral (Moral Stages)
Lawrence Kohlberg meraih gelar Doctor Psikologi pada tahun 1958. Beliau pernah menjadi Profesor Psikologi di universitas ternama, yakni Yale University, Chicago University, dan Harvard University. Beliau wafat di Boston, 19 Januari 1987.
Tahap-tahap moral menurut Lawrence Kohlberg.
Menurut Kohlberg, kesadaran seseorang berkembang dalam tiga level, yaitu pre-conventional, conventional, dan post-conventional. Konvensional berasal dari bahasa Latin (convenire), yang berarti menyesuaikan.
1. Pra Konvensional
Dalam level ini, seseorang menilai prihal yg baik dan buruk berdasarkan faktor-faktor diluar dirinya, seperti hubungan sebab-akibat, ganjaran-hukuman, dan menyenangkan-tidak menyenangkan. Level prakonvensional dibagi menjadi dua tahap, yakni orientasi hukuman dan kepatuhan, dan orientasi relativis instrumental.
a. Hukuman dan Kepatuhan
Seseorang menilai baik-buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman. Misalnya, seorang anak merasa dirinya sudah benar jika ia patuh terhadap orang tuanya, dan merasa sangat bersalah apabila melanggar perintah dari orang tua. Penalaran moral seperti itu pertama-tama didasari oleh kesadaran, bahwa ketika ia tidak patuh, ia akan mendapat hukuman yang menimbulkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman. Disana tampak bahwa egosentrisme sangat menonjol. Seseorang pertama-tama melakukan kebaikan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari sakitnya hukuman, ia belum sampai pada pemahaman bahwa berbuat baik itu akan memberi manfaat positif untuk diri sendiri dan orang lain.
b. Relativis Instrumental
Seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan. Ia sudah mulai menyadari bahwa orang-orang baik juga punya kepentingan dan keinginan yang sama dengan dirinya. Oleh karena itu, perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain.
2. Konvensional
Seseorang mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang-orang tertib yang berlaku dalam masyarakat tertentu. Ia mulai keluar dari sikap egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, serta sadar akan pentingnya loyalitas tertib sosial. Level ini dibagi dalam dua tahap, yakni orientasi anak manis, orientasi hukuman dan ketertiban.
a. Orientasi Anak Manis
Seseorang menganut prinsip, bahwa saya adalah anak manis. Perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain. Oleh karena itu, ia akan berusaha untuk mematuhi norma-norma yang berlaku agar tidak merasa malu dan bersalah.
b. Hukum dan Ketertiban
Seseorang mulai menyadari bahwa diluar kelompok lokal, seperti keluarga, teman sebaya, dan lain-lain, ia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat, yang demikian memiliki kewajiban untuk mentaati hukum yang berlaku. Penekanannya adalah mematuhi hukum secara mutlak akan ketertiban sosial akan berjalan.
3. Pasca Konvensional
Dalam level ini, hidup baik mulai dipandang sebagai tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip yang dianut dalam batin. Disini seseorang mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu dapat diterima secara mentah-mentah. Hukum bukanlah sesuatu yang harus dituruti secara mutlak melainkan sesuatu yang terlebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul dalam hati nurani. Level ini dibagi menjadi dua tahap, yakni kontrak sosial legalistis dan prinsip etika universal
a. Kontrak Sosial Legalistis
Segi hukum masih ditetapkan. Namun, seseorang mulai menyadari bahwa suatu hukum tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia. Disini orang mulai berpikir bahwa hukum dapat diubah disesuaikan dengan konteks atau dengan situasi yang ada.
b. Prinsip Etika Universal
Seseorang mulai menyadari bahwa didalam lubuk hatinya sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku universal yakni, prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, seperti bersikap adil, membantu dengan ikhlas terhadap orang lain, dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan. Prinsip tersebut disebut universal karena berlaku dimanapun dan kapanpun. Dapat disimpulkan bahwa, bagi Kohlberg, hukum tertinggi adalah prinsip hati nurani yang berlaku universal. Sayangnya, prinsip-prinsip itu tidak selalu memiliki rumusan yang kongkret. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kepekaan hati nurani yang sangat besar ketika menghadapi suatu realitas atau persoalan.
PERBANDINGAN Teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg memiliki dasar dari pemikiran Jean Piaget, namun keduanya memiliki perbedaan dalam ruang lingkup dan tingkat kedalaman kajiannya. Piaget berfokus pada perkembangan moral anak sebagai bagian dari perkembangan kognitif, yakni bagaimana anak memahami aturan melalui interaksi sosial. Ia membagi perkembangan moral menjadi dua tahap, yaitu tahap moralitas heteronom dan tahap moralitas otonom. Pada tahap moralitas heteronom, anak memandang aturan sebagai sesuatu yang tetap dan berasal dari otoritas orang dewasa, sehingga kepatuhan dilakukan karena takut hukuman. Sedangkan pada tahap moralitas otonom, anak mulai memahami bahwa aturan dapat diubah berdasarkan kesepakatan bersama dan keadilan dipahami secara timbal balik antarindividu. Sementara itu, Kohlberg mengembangkan teori Piaget menjadi lebih luas dan mendetail, dengan menekankan bahwa perkembangan moral berlangsung sepanjang kehidupan manusia, tidak berhenti pada masa anak-anak saja. Ia membagi perkembangan moral menjadi tiga level, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional, yang masing-masing terdiri dari dua tahap. Dalam pandangan Kohlberg, penilaian moral seseorang berkembang dari sekadar kepatuhan karena takut hukuman atau mengharap imbalan (pra-konvensional), menuju kesadaran untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial dan menjaga ketertiban (konvensional), hingga akhirnya mencapai tahap menilai benar dan salah berdasarkan prinsip keadilan serta hati nurani universal (pasca-konvensional).
KESIMPULAN Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Piaget menitikberatkan pada bagaimana anak memahami dan mematuhi aturan melalui pengalaman sosial, sedangkan Kohlberg menekankan pada bagaimana seseorang menalar dan menilai moralitas berdasarkan logika serta prinsip etis yang lebih tinggi. Kohlberg memperluas teori Piaget dengan menunjukkan bahwa perkembangan moral tidak berhenti di masa kanak-kanak, tetapi terus berkembang seiring dengan kematangan berpikir dan pengalaman hidup seseorang.
NPM: 2513032078
Kelas: 25 C
Tahap-Tahap Perkembangan Moral (Moral Stages)
Lawrence Kohlberg meraih gelar Doctor Psikologi pada tahun 1958. Beliau pernah menjadi Profesor Psikologi di universitas ternama, yakni Yale University, Chicago University, dan Harvard University. Beliau wafat di Boston, 19 Januari 1987.
Tahap-tahap moral menurut Lawrence Kohlberg.
Menurut Kohlberg, kesadaran seseorang berkembang dalam tiga level, yaitu pre-conventional, conventional, dan post-conventional. Konvensional berasal dari bahasa Latin (convenire), yang berarti menyesuaikan.
1. Pra Konvensional
Dalam level ini, seseorang menilai prihal yg baik dan buruk berdasarkan faktor-faktor diluar dirinya, seperti hubungan sebab-akibat, ganjaran-hukuman, dan menyenangkan-tidak menyenangkan. Level prakonvensional dibagi menjadi dua tahap, yakni orientasi hukuman dan kepatuhan, dan orientasi relativis instrumental.
a. Hukuman dan Kepatuhan
Seseorang menilai baik-buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut terhadap hukuman. Misalnya, seorang anak merasa dirinya sudah benar jika ia patuh terhadap orang tuanya, dan merasa sangat bersalah apabila melanggar perintah dari orang tua. Penalaran moral seperti itu pertama-tama didasari oleh kesadaran, bahwa ketika ia tidak patuh, ia akan mendapat hukuman yang menimbulkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman. Disana tampak bahwa egosentrisme sangat menonjol. Seseorang pertama-tama melakukan kebaikan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari sakitnya hukuman, ia belum sampai pada pemahaman bahwa berbuat baik itu akan memberi manfaat positif untuk diri sendiri dan orang lain.
b. Relativis Instrumental
Seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan. Ia sudah mulai menyadari bahwa orang-orang baik juga punya kepentingan dan keinginan yang sama dengan dirinya. Oleh karena itu, perbuatan baik dapat digunakan sebagai instrumen atau alat untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain.
2. Konvensional
Seseorang mulai menyesuaikan sikapnya dengan harapan orang-orang tertib yang berlaku dalam masyarakat tertentu. Ia mulai keluar dari sikap egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, serta sadar akan pentingnya loyalitas tertib sosial. Level ini dibagi dalam dua tahap, yakni orientasi anak manis, orientasi hukuman dan ketertiban.
a. Orientasi Anak Manis
Seseorang menganut prinsip, bahwa saya adalah anak manis. Perilaku yang baik adalah perilaku yang menyenangkan orang lain. Oleh karena itu, ia akan berusaha untuk mematuhi norma-norma yang berlaku agar tidak merasa malu dan bersalah.
b. Hukum dan Ketertiban
Seseorang mulai menyadari bahwa diluar kelompok lokal, seperti keluarga, teman sebaya, dan lain-lain, ia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat, yang demikian memiliki kewajiban untuk mentaati hukum yang berlaku. Penekanannya adalah mematuhi hukum secara mutlak akan ketertiban sosial akan berjalan.
3. Pasca Konvensional
Dalam level ini, hidup baik mulai dipandang sebagai tanggung jawab pribadi atas dasar prinsip-prinsip yang dianut dalam batin. Disini seseorang mulai menyadari bahwa hukum tidak selalu dapat diterima secara mentah-mentah. Hukum bukanlah sesuatu yang harus dituruti secara mutlak melainkan sesuatu yang terlebih dahulu harus melalui proses penilaian berdasarkan prinsip-prinsip yang muncul dalam hati nurani. Level ini dibagi menjadi dua tahap, yakni kontrak sosial legalistis dan prinsip etika universal
a. Kontrak Sosial Legalistis
Segi hukum masih ditetapkan. Namun, seseorang mulai menyadari bahwa suatu hukum tertentu belum tentu bisa diterapkan dalam seluruh segi kehidupan manusia. Disini orang mulai berpikir bahwa hukum dapat diubah disesuaikan dengan konteks atau dengan situasi yang ada.
b. Prinsip Etika Universal
Seseorang mulai menyadari bahwa didalam lubuk hatinya sebenarnya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku universal yakni, prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, seperti bersikap adil, membantu dengan ikhlas terhadap orang lain, dan hormat terhadap nilai suatu kehidupan. Prinsip tersebut disebut universal karena berlaku dimanapun dan kapanpun. Dapat disimpulkan bahwa, bagi Kohlberg, hukum tertinggi adalah prinsip hati nurani yang berlaku universal. Sayangnya, prinsip-prinsip itu tidak selalu memiliki rumusan yang kongkret. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu kepekaan hati nurani yang sangat besar ketika menghadapi suatu realitas atau persoalan.
PERBANDINGAN Teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg memiliki dasar dari pemikiran Jean Piaget, namun keduanya memiliki perbedaan dalam ruang lingkup dan tingkat kedalaman kajiannya. Piaget berfokus pada perkembangan moral anak sebagai bagian dari perkembangan kognitif, yakni bagaimana anak memahami aturan melalui interaksi sosial. Ia membagi perkembangan moral menjadi dua tahap, yaitu tahap moralitas heteronom dan tahap moralitas otonom. Pada tahap moralitas heteronom, anak memandang aturan sebagai sesuatu yang tetap dan berasal dari otoritas orang dewasa, sehingga kepatuhan dilakukan karena takut hukuman. Sedangkan pada tahap moralitas otonom, anak mulai memahami bahwa aturan dapat diubah berdasarkan kesepakatan bersama dan keadilan dipahami secara timbal balik antarindividu. Sementara itu, Kohlberg mengembangkan teori Piaget menjadi lebih luas dan mendetail, dengan menekankan bahwa perkembangan moral berlangsung sepanjang kehidupan manusia, tidak berhenti pada masa anak-anak saja. Ia membagi perkembangan moral menjadi tiga level, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional, yang masing-masing terdiri dari dua tahap. Dalam pandangan Kohlberg, penilaian moral seseorang berkembang dari sekadar kepatuhan karena takut hukuman atau mengharap imbalan (pra-konvensional), menuju kesadaran untuk menyesuaikan diri dengan norma sosial dan menjaga ketertiban (konvensional), hingga akhirnya mencapai tahap menilai benar dan salah berdasarkan prinsip keadilan serta hati nurani universal (pasca-konvensional).
KESIMPULAN Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Piaget menitikberatkan pada bagaimana anak memahami dan mematuhi aturan melalui pengalaman sosial, sedangkan Kohlberg menekankan pada bagaimana seseorang menalar dan menilai moralitas berdasarkan logika serta prinsip etis yang lebih tinggi. Kohlberg memperluas teori Piaget dengan menunjukkan bahwa perkembangan moral tidak berhenti di masa kanak-kanak, tetapi terus berkembang seiring dengan kematangan berpikir dan pengalaman hidup seseorang.