Posts made by Aufa Nabila

Nama : Aufa Fitria Nabila
Kelas : 25 (C)
NPM : 2553032007

Menurut saya, pandangan Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pendidikan adalah untuk memerdekakan manusia seutuhnya, yaitu agar peserta didik dapat menjadi pribadi yang berkarakter, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab. Pendidikan menurut beliau bukan sekadar mengisi otak dengan pengetahuan, tetapi menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak agar mereka dapat hidup selaras dengan alam dan masyarakatnya.

Apabila saya menjadi seorang guru, saya akan berusaha menjadi teladan yang baik bagi murid, membimbing dengan penuh kasih, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta menghargai perbedaan setiap anak. Saya juga akan menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan semangat kebangsaan, agar murid tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia dan siap berkontribusi bagi bangsa.

1. Tujuan Pendidikan

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan memiliki tujuan utama untuk memerdekakan manusia, baik secara lahir maupun batin.

Artinya, pendidikan harus membantu manusia mencapai dua hal penting:
• Selamat raganya, yaitu memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan sejahtera secara fisik sehingga mampu menjalani kehidupan dengan baik.
• Bahagia jiwanya, yaitu memiliki ketenangan batin, kebebasan berpikir, dan rasa hidup yang bermakna.

Jadi, pendidikan bukan hanya tentang membuat seseorang pintar atau berilmu, tetapi juga membentuk manusia yang berkepribadian merdeka, yang mampu berpikir dan bertindak dengan tanggung jawab, serta dapat menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa tergantung pada orang lain.

Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara harus menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

2. Tiga Peran Penting Pendidikan (Filosofi Rahayu)

Ki Hajar Dewantara melihat bahwa pendidikan memiliki tiga peran besar yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan:
1. Memajukan dan menjaga diri : Pendidikan harus membantu seseorang untuk mengenali potensinya, mengembangkan bakat, dan menjadi pribadi yang mandiri. Dengan begitu, ia dapat hidup bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
2. Memelihara dan menjaga bangsa : Pendidikan harus membentuk karakter kebangsaan, cinta tanah air, dan tanggung jawab sosial. Dengan pendidikan yang baik, masyarakat menjadi kuat, berakhlak, dan mampu mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa.
3. Memelihara dan menjaga dunia : Pendidikan juga memiliki peran global, yaitu menumbuhkan kesadaran untuk hidup damai dan saling menghormati antar manusia di seluruh dunia. Pengetahuan dan kebijaksanaan digunakan untuk menciptakan kedamaian dan keseimbangan.

Konsep tiga peran ini disebut “Filosofi Rahayu”, yaitu pandangan bahwa pendidikan harus membawa kebaikan, keselamatan, dan keseimbangan bagi diri, bangsa, dan dunia.

3. Prinsip Pendidikan: Kontinue, Konvergen, dan Konsentris

1. Kontinue (berkelanjutan) : Proses pendidikan tidak berhenti di sekolah. Belajar adalah proses seumur hidup. Segala hal yang kita pelajari hari ini adalah hasil dari pembelajaran masa lalu, dan akan menjadi dasar bagi masa depan.
Makna: pendidikan harus terus berlanjut dari lahir sampai akhir hayat.
2. Konvergen (dari berbagai sumber) : Ilmu dan pengetahuan bisa diperoleh dari mana saja: keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan pengalaman hidup. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu.
Makna: pendidikan harus terbuka terhadap segala sumber pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat.
3. Konsentris (berpusat pada diri dan konteks) : Walaupun kita belajar dari banyak sumber, nilai-nilai yang diterapkan harus disesuaikan dengan jati diri, budaya, dan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Makna: pendidikan harus sesuai dengan karakter bangsa sendiri agar tidak kehilangan identitas.

4. Pesan Penting dari Ki Hajar Dewantara
1. Belajarlah untuk bahagia, bukan hanya untuk nilai : Nilai akademik tidak menentukan kualitas hidup seseorang. Yang lebih penting adalah proses pembelajaran yang membawa kebahagiaan dan makna hidup.
2. Dengan memperbaiki diri, kita memperbaiki lingkungan sekitar : Pendidikan dimulai dari diri sendiri. Jika setiap individu menjadi lebih baik, maka masyarakat dan bangsa juga akan menjadi lebih baik.
3. Teruslah belajar seumur hidup, dari mana saja, tapi tetap berpijak pada jati diri kita : Pembelajaran harus terus dilakukan sepanjang hayat, namun nilai-nilai bangsa dan budaya sendiri jangan sampai hilang.
4. Guru dan orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak : Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan masyarakat. Guru, orang tua, dan orang dewasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh dalam perilaku, tutur kata, dan sikap hidup.
Dalam ajarannya yang terkenal:
“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.”
Artinya:

Di depan memberi teladan,
Di tengah memberi semangat,
Di belakang memberi dorongan.
Prinsip ini menunjukkan bahwa pendidik sejati bukan hanya mengajar, tapi menuntun, membimbing, dan menginspirasi peserta didik agar tumbuh sesuai kodratnya

DKPM PPKn 2025C -> Analisis Video

by Aufa Nabila -
Nama : Aufa Fitria Nabila
NPM : 2553032007
Kelas : 25 C

Tahapan Perkembangan Moral Menurut Lawrence Kohlberg

Lawrence Kohlberg adalah seorang ahli psikologi yang menjelaskan bagaimana seseorang belajar membedakan mana yang benar dan mana yang salah seiring bertambahnya usia. Ia membagi perkembangan moral menjadi tiga tingkat besar dengan beberapa tahap di dalamnya. Setiap tahap menunjukkan cara seseorang berpikir dan bertindak berdasarkan moral.

1. Tahap Prakonvensional (Biasanya pada anak-anak)

Di tahap ini, anak-anak menilai baik dan buruk hanya dari akibat langsung yang mereka terima. Kalau perbuatannya membuat mereka dihukum, berarti itu salah. Kalau perbuatannya mendapat hadiah, berarti itu benar.

a. Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Anak berbuat baik hanya karena takut dihukum.
Contohnya: Anak tidak mencuri karena takut dimarahi atau dihukum, bukan karena tahu mencuri itu salah.

b. Orientasi Relativis Instrumental (Tukar-menukar)

Anak berbuat baik karena berharap mendapatkan sesuatu sebagai balasan.
Contohnya: Anak membantu temannya agar nanti kalau butuh bantuan, temannya mau menolong juga. Jadi, di tahap ini anak belum benar-benar tahu nilai moral, mereka hanya melihat akibat dari perbuatannya.

2. Tahap Konvensional (Biasanya pada remaja dan orang dewasa awal)

Pada tahap ini, seseorang mulai menyadari bahwa hidup bermasyarakat perlu aturan dan saling menghormati. Mereka ingin diterima oleh orang lain dan berperilaku baik agar dianggap sebagai orang baik.

a. Orientasi Anak Manis (Good Boy / Nice Girl)

Seseorang berbuat baik agar disukai, dihargai, dan dianggap sopan. Contohnya: Tidak menyontek karena tidak ingin membuat guru kecewa atau tidak mau disebut curang oleh teman.

b. Orientasi Hukum dan Ketertiban

Seseorang mematuhi aturan bukan hanya untuk dirinya, tapi karena sadar aturan itu penting bagi masyarakat. Contohnya: Patuh pada peraturan lalu lintas karena tahu itu demi keselamatan semua orang, bukan sekadar takut ditilang. Di tahap ini, orang mulai mengerti pentingnya aturan, tanggung jawab, dan menjaga hubungan baik dengan orang lain.

3. Tahap Pasca-Konvensional (Biasanya pada orang dewasa yang matang)

Tahap ini menunjukkan tingkat moral tertinggi. Orang tidak hanya mengikuti aturan, tapi berpikir apakah aturan itu adil atau tidak. Mereka bertindak sesuai hati nurani dan prinsip kebaikan universal, meskipun kadang berbeda dengan pendapat orang banyak.

a. Kontrak Sosial Legalistis

Seseorang sadar bahwa hukum dibuat oleh manusia, dan bisa diubah kalau tidak adil.
Contohnya: Mendukung perubahan undang-undang yang diskriminatif agar semua orang diperlakukan sama.

b. Prinsip Etika Universal

Orang menentukan benar dan salah berdasarkan nilai-nilai universal seperti keadilan, kejujuran, dan kemanusiaan.
Contohnya: Menolong orang meskipun peraturan tidak mengharuskannya, karena sadar bahwa menolong sesama itu benar.

c. Prinsip Hati Nurani Universal

Tindakan seseorang dipandu oleh suara hatinya sendiri. Ia tahu mana yang baik dan buruk tanpa perlu disuruh atau diatur.
Contohnya: Menolong korban kecelakaan tanpa melihat suku, agama, atau asalnya.

d. Menjunjung Nilai-Nilai Kemanusiaan

Orang menghormati setiap manusia tanpa membeda-bedakan.
Contohnya: Menghargai semua orang, baik kaya maupun miskin, karena semua punya nilai yang sama.

e. Prinsip Keadilan

Keadilan berarti memperlakukan orang lain dengan setara dan sesuai haknya. Contohnya: Guru memberikan nilai berdasarkan kemampuan siswa, bukan karena suka atau tidak suka.

f. Hak Asasi Manusia (HAM)

HAM adalah hak dasar yang dimiliki setiap orang sejak lahir, seperti hak untuk hidup, berpendapat, belajar, dan bekerja. Hak ini tidak bisa diambil oleh siapa pun.
Contohnya: Semua orang berhak mendapatkan pendidikan dan diperlakukan adil di depan hukum. Di tahap ini, seseorang berpikir dengan hati nurani dan prinsip kemanusiaan. Ia melakukan hal benar karena sadar itu adalah kewajiban moralnya, bukan karena takut atau ingin dipuji.

DKPM PPKn 2025C -> Penugasan

by Aufa Nabila -
Kelompok 4
Kelas : 25 (C)
Nama Anggota Kelompok dan NPM :
1. Keysa Aulian As’ya Putri 2513023073
2. Nadifah Andresta Asmoro 2513032076
3. Asep Nurman 2513032086
4. Nadin Nurul Azizah 2553032001
5. Octa Villanza Ramadhany 2553032006
6. Aufa Fitria Nabila 2553032007

tautan
⁠https://drive.google.com/drive/folders/13sQcbKlyJnJJyKX9eUEDjBSVKUuPppUk

Landasan Pendidikan PPKn 2025C -> Analisis Video

by Aufa Nabila -
Nama : Aufa Fitria Nabila
Kelas : 25 C
NPM : 2553032007
Mata Kuliah : Landasan Kependidikan

Aliran Konvensional

Aliran konvensional berfokus pada faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan manusia dan kepribadiannya.

• Empirisme berpendapat bahwa manusia lahir tanpa membawa sifat bawaan, ibarat kertas kosong (tabula rasa), dan perkembangan sepenuhnya ditentukan oleh pengalaman serta lingkungan.

• Nativisme berlawanan dengan empirisme. Menurut aliran ini, setiap manusia sudah memiliki pembawaan sejak lahir—baik atau buruk—yang tidak dapat diubah oleh pendidikan atau lingkungan. Pandangan ini bersifat pesimis karena menganggap pendidikan tidak mampu memperbaiki watak bawaan.

• Naturalisme beranggapan bahwa setiap anak dilahirkan dengan sifat baik, namun lingkungan dan intervensi orang dewasa justru bisa merusak kebaikan alami tersebut. Rousseau sebagai tokoh utama aliran ini menilai bahwa pendidikan terbaik adalah membiarkan anak belajar melalui pengalaman alamiah tanpa terlalu banyak campur tangan.

• Konvergensi berusaha menggabungkan kedua pandangan sebelumnya dengan menyatakan bahwa perkembangan manusia merupakan hasil interaksi antara faktor bawaan (hereditas) dan lingkungan (pendidikan). Tokohnya, William Stern, menekankan bahwa pendidikan tetap memiliki peran penting dalam mengembangkan potensi anak.


2. Gerakan atau Aliran Baru dalam Pendidikan

Aliran baru muncul sebagai bentuk pembaruan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran agar lebih bermakna dan sesuai dengan kehidupan nyata peserta didik.

• Pengajaran Alam Sekitar menekankan pentingnya pembelajaran yang berhubungan langsung dengan pengalaman dan lingkungan anak. Pembelajaran harus konkret, kontekstual, dan menyentuh aspek emosional peserta didik agar lebih mudah dipahami.

• Pengajaran Pusat Perhatian menempatkan minat dan kebutuhan anak sebagai pusat kegiatan belajar. Decroly mengusulkan pendekatan global (melihat sesuatu secara menyeluruh) dan pusat minat (menyesuaikan pembelajaran dengan minat spontan anak).

• Sekolah Kerja berorientasi pada pembentukan pribadi yang berguna bagi diri dan masyarakat. G. Kerschenteiner menekankan pentingnya kegiatan praktis yang menumbuhkan tanggung jawab sosial, keterampilan, serta kerja sama.

• Pengajaran Proyek memberi kebebasan penuh kepada peserta didik untuk memilih, merancang, dan melaksanakan proyek sesuai minatnya. Tujuannya adalah menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, mandiri, dan kreatif dalam memecahkan masalah nyata.


Kesimpulan : Menurut saya vidio ini menegaskan bahwa tidak ada satu aliran pun yang sepenuhnya benar atau salah, karena setiap aliran memiliki kelebihan dan keterbatasannya masing-masing. Bagi seorang guru, terutama di era pendidikan modern, memahami berbagai aliran pendidikan membantu dalam merancang metode belajar yang fleksibel, humanis, dan sesuai dengan karakteristik siswa. Pendekatan pendidikan yang ideal adalah yang mampu memadukan teori klasik dan modern agar peserta didik tumbuh menjadi individu yang cerdas, mandiri, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan zaman.