Posts made by Delia Puspita

Landasan Pendidikan PPKn 2025B -> Penugasan

by Delia Puspita -
Nama : Delia Puspita
NPM : 2513032053

KAJIAN KASUS-KASUS DIBIDANG PENDIDIKAN

1. BANYAK GURU DIPOLISIKAN
Akhir-akhir ini kita sering mendengar banyak guru yang dipolisikan oleh orang tua siswa. Sebenarnya tindakan yang dilakukan oleh guru adalah untuk mendisiplinkan siswa dengan cara memberi teguran agar siswa dapat tertib. Sebenarnya kasus seperti ini sudah pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Kasus ini terjadi akibat tidak terimanya orang tua siswa terhadap teguran atau tindakan untuk mendisiplinkan yang dilakukan oleh guru. Miris sekali, padahal guru adalah orang tua siswa di sekolah dan memiliki kualifikasi untuk melakukan pendidikan terhadap siswanya. Seharusnya sebagai orang tua, mendukung tindakan pendisiplinan yang dilakukan oleh guru. Kasus seperti ini dapat terjadi diantaranya karena lemahnya ikatan emosional antara sekolah dan orang tua, dan terjadi mispersepsi antara pihak sekolah dengan orang tua. Sebenarnya hukuman adalah bagian yang integral dari pendidikan. Dengan adanya hukuman maka siswa akan mengerti bahwa perbuatan yang dilakukannya tidak benar. Ketika guru memberi hukuman, tujuannya adalah agar siswa mengetahui dan tidak mengulangi kesalahannya. Namun, dari sudut pandang orang tua, mereka menganggap guru tidak suka ataupun tidak sayang pada muridnya karena memberi hukuman sehingga terjadilah misspersepsi antara guru dengan orang tua siswa. Dengan banyaknya fenomena-fenomena yang terjadi, hendaknya guru mengedepankan upaya preventif dalam membina karakter siswa, tidak semata-mata menghukum saja. Jika memang memerlukan hukuman, harus tetap menggunakan pendekatan edukatif

2. TINDAKAN ASUSILA DIKALANGAN PELAJAR
Banyaknya tindakan-tindakan yang melanggar norma asusila dan norma agama yang dilakukan oleh pelajar indonesia saat ini merupakan bagian dari sisi gelap pendidikan di indonesia. Pergaulan bebas, seks bebas dan mudahnya akses terhadap video porno di warnet merupakan bentuk kasus yang terjadi didunia pendidikan indonesia. Tindakan asusila dikalangan pelajar terjadi diantaranya karena kurangnya penanaman dan pemahaman agama pada anak, sehingga anak tidak memiliki kontrol. Kasus seperti ini dapat diatasi atau dicegah dengan cara penguatan kerja sama sekolah, orang tua dan masyarakat dalam mengawasi anak, memperkuat peran keluarga, menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung bakat dan minat siswa sehingga diharapkan anak akan lebih fokus pada kegiatan positif di sekolah dibandingkan dengan kegiatan negatif diluar sekolah.

3. PENYALAHGUNAAN NARKOBA DIKALANGAN PELAJAR DAN MAHASISWA
Kasus ini sangat merugikan masyarakat dan generasi Indonesia. Menggunakan obat terlarang tidak hanya akan merusak masa depan siswa melainkan juga masa depan negara. Karena mereka kelaklah yang akan menjadi generasi negara kita. Data menunjukkan peningkatan penggunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa dari tahun ke tahun. Pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat harus waspada dan jeli melihat persoalan ini. Untuk mengatasinya, sekolah perlu mencanangkan program anti narkoba.
Penting untuk mengenali jenis-jenis narkoba dan ciri-ciri orang yang terkena penyalahgunaan narkoba, agar bisa dilakukan tindakan antisipasi dan penanganan secara dini.
Secara umum, hasil dari materi ini menunjukkan bahwa sektor pendidikan kini sedang berhadapan dengan berbagai kesulitan yang membutuhkan perhatian mendalam, kolaborasi antar sektor, dan metode yang edukatif, dan tindakan preventif untuk mencegah kasus-kasus didunia pendidikan tersebut agar tidak terulang lagi.

DKPM PPKn 2025B -> Penugasan

by Delia Puspita -
Nama : Delia Puspita
NPM : 2513032053

Mengidentifikasi dilema moral
( konteks film Keluarga Cemara )

1. Saya telah menonton film keluarga cemara pada episode “Pulang Sekolah” berikut adalah link video yang saya tonton https://youtu.be/g-Bn3N0iifQ?si=aswLDkEmcHYINy3C

2. Pada episode “Pulang Sekolah” saya menemukan dua dilema moral yang terjadi
a. Dilema moral pertama terjadi pada abah, terlihat pada scene abah hendak membelikan baju sekolah untuk ara namun uangg yang abah miliki belum cukup. Pada akhirnya abah tidak membelikan ara baju sekolah meski ia tahu anaknya pasti akan sedih karena itu merupakan hari pertama ara masuk sekolah.
b. Dilema moral kedua terjadi pada tokoh euis, karena abah tidak membelikan baju sekolah untuk adiknya ara, euis menyarankan emak untuk memotong baju lamanya agar bisa dipakai adiknya. Namun sebenarnya euis memiliki dilema, apakah harus merelakan baju masa kecilnya untuk dipotong agar bisa dipakai adiknya bersekolah atau tidak. Karena baju tersebut memiliki kenangan semasa keluarganya masih berjaya di Jakarta. Namun akhirnya euis memilih untuk memberikan baju tersebut pada adiknya karena dia tidak ingin adiknya sedih dihari pertamanya sekolah.

3. Berikut hasil analisis saya terhadap karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral
a. Karakter Ara berdasarkan teori perkembangan moral piaget, ara berada di tahap praoperasional. Pada tahap ini seorang anak menganggap sebuah aturan sebagai sesuatu yang suci dan tidak boleh dilanggar, terjadi pada usia 2-6 tahun. Dalam konteks yang terjadi pada ara, ara marah pada abah karena abah telah melanggar janjinya dimana abah berjanji pada ara akan membelikan baju sekolah baru. Ara berkata bahwa janji tidak boleh dilanggar.
b. Karakter Euis berdasarkan teori perkembangan Kohlberg, euis berada ditahap konvensional. Pada tahap ini seorang anak mulai keluar dari sifat egoisme pribadi dan menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain. Dalam hal ini euis sebagai anak yang masih sekolah rela berjualan sepulang sekolah karena sadar bahwa keluarganya tidak sekaya dulu. Bahkan euis rela memberikan baju masa kecilnya yang penuh kenangan kepada adiknya agar dia tidak merasa sedih karena abah belum membelikannya baju sekolah baru.
c. Karakter Abah & Emak berdasarkan teori perkembangan Kohlberg, abah & emak berada ditahap pasca konvensional. Pada tahap ini seseorang bertindak berdasarkan hati nuraninya. Karakter abah dan emak ditunjukkan dengan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya agar mereka bahagia.

4. Ulasan tentang pesan moral film
Film keluarga cemara merupakan film yang menceritakan tentang sebuah keluarga kaya raya yang kemudian jatuh miskin dan pindah ke sebuah desa. Dalam episode “Pulang Sekolah” pesan moral yang dapat saya ambil adalah ternyata meski kita hidup pas-pasan dan bahkan kekurangan, kita tetap bisa hidup dengan bahagia asalkan dalam keluarga tersebut saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Saya sangat terkesima dengan tokoh euis di episode ini, dimana dia merupakan seorang siswi SD namun sudah memiliki kesadaran untuk membantu keuangan keluarganya. Dia tidak malu untuk menitipkan dagangannya dan bahkan berjualan keliling sepulang sekolah. Padahal euis pernah merasakan masa kejayaan orang tuanya, namun dia tidak malu melakukan semua itu. Dia tetap menjadi anak yang ceria dan baik hati serta sangat menyayangi adik-adiknya. Terlihat saat scene dia melihat sebuah pasar malam akan dibuka, dia bermonolog dalam hati bahwa suatu saat dia akan mengajak adik-adiknya ke pasar malam agar mereka dapat bermain bersama.

5. Perbandingan nilai keluarga dalam film dan dan kehidupan nyata
Nilai keluarga yang terlihat dalam episode “Pulang Sekolah” diantaranya ada kasih sayang, kebersamaan, saling mengerti, kerjasama serta tanggung jawab. Terlihat dari scene bagaimana tokoh abah sangat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, kemudian tokoh emak yang selalu setia mendampingi abah dalam kondisi apapun. Terlihat juga tokoh euis yang sangat menyayangi adik-adiknya. Nilai kekeluargaan dalam film ini sangat terasa, jika dibandingkan dengan kehidupan nyata saya rasa nilai keluarga dalam film sangat relevan dengan kehidupan nyata. Saya masih banyak menemui keluarga-keluarga yang tetap bahagia meski hidup dengan sederhana. karena mereka saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain.
Nama : Delia Puspita
NPM : 2513032053
KELAS : 25B

PANDANGAN SAYA TERKAIT TUJUAN PENDIDIKAN MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

Ki hajar dewantara menyampaikan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memerdekakan manusia. Merdeka disini adalah dalam arti selamat raganya dan bahagia jiwanya. Saya sangat setuju dengan pandangan beliau, karena dalam dunia pendidikan peserta didik akan dibekali dengan ilmu pengetahuan serta keterampilan yang diharapkan agar peserta didik mampu survive atau bertahan dikehidupan nyata dengan bekal ilmu tersebut. Kemudian selain selamat raganya, peserta didik juga diharapkan bahagia dalam menjalani proses pendidikan, tidak tertekan jiwanya atau enjoy dalam menjalani proses pembelajaran.

Sebagai calon guru dimasa depan, yang akan saya lakukan untuk mencapai tujuan pendidikan seperti pandangan ki hajar dewantara adalah pastinya dengan memberi bekal ilmu pengetahuan serta keterampilan kepada peserta didik sesuai dengan capaian pembelajaran kurikulum. Namun sebelum memulai pembelajaran sesuai dengan CP, saya akan menyempatkan waktu untuk memberi ilmu-ilmu lain yang tidak termuat dalam buku. Seperti terkait dengan kesehatan mental, bullying, serta insight lainnya yang akan membantu peserta didik untuk survive dikehidupan nyata. Kemudian untuk mencapai tujuan bahagia jiwanya, saya akan berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Hal yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan ice breaking disaat peserta didik mulai jenuh dalam belajar.