Posts made by Yeni Septiyani

DKPM PPKn 2025B -> Penugasan

by Yeni Septiyani -
Nama : Yeni Septiyani
NPM : 2513032046

jawaban
- dari sumber literatur yang saya baca, pendekatan pendidikan moral terbagi menjadi beberapa bentuk yaitu: pendekatan penanaman nilai , pendekatan perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, pendekatan klarifikasi nilai dan pendekatan pembelajaran berbuat. kelimanya memiliki kelebihanya sendiri sendiri, tapi dalam konteks indonesia pendekatan yang paling relevan dan efektif untuk diterapkan adalah pendekatan pembelajaran berbuat.

- alasan
karena pendekatan pembelajaran berbuat memungkinkan siswa untuk terjun langsung atau mengalami langsung nilai moral seperti kerja bakti, gotong royong,kegiatan sosial dan lain lain. tidak hanya itu pendekatan pembelajaran berbuat ini juga cocok untuk berbagai jenjang mulai dari SD hingga SMA, siswa lebih mudah memahami nilai nilai moral melalui praktik, simulasi, kolaborasi, dan juga proyek ini membuat pendekatan pembelajaran berbuat lebih fleksibel dan dapat diterapkan di seluruh jenjang pendidikan, selain itu pendekatan ini juga mendorong pembentukan karakter yang lebih kuat dan jangka panjang karena pembelajaran tidak berhenti pada rasa ingin tau tetapi berlanjut kepada tindakan (melakukan), ini membuat pembentukan karakter lebih efektif dan berkelanjutan.

- contoh kegiatan pembelajaran berbasis pemdekatan pembelajaran berbuat
yang pertama yaitu program jumat saber (sampah bersih), kegiatan ini bertujuan agar siswa lebih peduli terhadap lingkungan, dengan cara membersihkan lingkungan sekolah dari berbagai jenis sampah mulai dari sampah organik dan non organik, untuk melatih siswa agar membuang sampah pada tempatnya, membuat siswa tau dampak dari lingkungan yang kotor akibat sampah dan mulai peduli terhadap limhkungan.
kemudian yang kedua yaitu program kegiatann karya ecobrick, ecobrick yaitu pemanfaatan plastik kering yang tidak dapat terurai, kegiatan ini dilakukan dengan memasukan sampah plastik kering ke dalam botol sampai padat setelah itu bisa digunakan untuk membuat kerajinan seperti hiasan, meja dan lain lain. kegiatan ini tidak hanya melatih moral siswa terhadap lingkungan tetapin juga melatih kreatifitas dan tanggung jawab siswa.

sumber literatur
Sumber: Eprints UNY https://share.google/yL09aw1EohoQHn4dR
Sumber: Scribd https://share.google/8ptAUtLJ7eyNXxpzH

Landasan Pendidikan PPKn 2025B -> Penugasan

by Yeni Septiyani -
Nama : Yeni Septiyani
NPM : 2513032046

Kajian Kasus di bidang Pendidikan
Banyaknya guru dipolisikan
Beberapa tanggapan
1. Lemahnya ikatan emotional antara sekolah dan orang tua.
2. Terjadi mispersepsi antara pihak sekolah dengan orang tua
3. Guru harus mendahulukan upaya preventif dalam membina karakter siswa
4. Jika memerlukan hukuman, harus tetap menggunakan pendekatan edukatif.

Tindakan asusila di kalangan pelajar
Banyaknya persoalan terkait dengan perilaku siswa yang bertentangan dengan nilai nilai etika dan bertentangan dengan nilai nilai moral yang ada di Tengah Tengah Masyarakat, baik yang berasal dari agama maupun budaya dan adat istiadat yang ada di Masyarakat. Persoalan ini sangat memprihatinkan bukan hanya memiliki efek negatif pada anak tetapi juga dapat membahayakan Masyarakat secara luas. Hal ini terjadi karena kurangnya penanaman dan lemahnya pemahaman agama pada anak, Karena kurangnya pemahaman agama ini akhirnya anak tidak memiliki kontrol akan apa yang ia perbuat. Lalu bagaimana cara memperkuat pemahaman anak terhadap agama yang ini merupakan salah satu cara menjauhkan mereka dari perbuatan asusila yang melanda dunia Pendidikan kita, beberapa Upayanya yaitu dengan penguatan Kerjasama sekolah, orang tua, dan Masyarakat dalam mengawasi anak, penguatan peran keluarga, dan ciptakan lingkungan sekolah yang mendukung bakat dan minat siswa. Jadi pada intinya salah satu cara untuk mengurangi ataupun mengeliminasi Tindakan asusila di kalangan pelajar Adalah dengan mengfasilitasi mereka agar dapat menyalurkan minat dan bakat mereka baik dalam bidang olahraga, seni, keagamaan, skil skil tertentu dan lain lain, sehingga waktu yang mereka miliki disibukan dengan pengembangan bakat dan minat dan tidak punya waktu untuk melakukan hal hal yang negatif.

Penyalah gunaan narkobaa di kalangan pelajar dan mahasiswa
Sekarang ini kita sedang berperang dengan suatu Tindakan yang sangat merugikan bangsa dan negara yaitu Tindakan banyaknya penyalahgunaan narkoba narkotika dan obat obat terlarang. Di Indonesia sendiri sudah banyak kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Menurut data pada tahun 2020 terdapat 831 kasus narkoba dan 17 diantaranya Adalah mahasiswa dan pelajar, pada tahun 2021 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari 17 orang menjadi 154 orang, kemudian pada tahun 2022 juga mengalami peningkatan dari 154 orang menjadi 204 orang, lalu berlanjut lagi di tahun 2023 dari 204 orang menjadi 219 orang. Dari data tersebut kasus penyalahgunaan narkoba terus meningkat yang artinya kita belum berhasil menangani persoalan ini. Pada data yang lain dari kepolisian juga dapat dilihat bahwa pada priode sampai 21 januari 2023, dari 2.650 orang yang melakukan penyalahgunaan narkoba 8,3% nya addalah pelajar dan mahasiswa. Ini merupakan persoalan serius yang tidak hanya di hadapi oleh dunia Pendidikan kita melainkan juga bangsa dan negara. Oleh karena itu sekolah dan orang tua perlu memperhatikan anak, salah satu Upaya nya sekolah perlu mencanangkan program sekolah anti narkoba, tapi tidak hanya itu perlu juga pengetahuan tentaang jenis jenis narkoba dan ciri ciri orang yang terjangkit penyalahgunaan narkoba agar sekolah bisa mencegah penyebaran narkoba dan obat obatan terlarang.

DKPM PPKn 2025B -> Penugasan

by Yeni Septiyani -
Nama : Yeni Septiyani
NPM : 2513032046

1. saya sudah menonton film keluarga cemara yang ada pada youtube https://youtu.be/_it9Kgr8m3U?si=Bziz5QiwWx_cAoMK

2. dua dilema yang muncul dalam film
Dilema moral pertama muncul pada Abah dan Emak, yaitu konflik Prioritas Keuangan antara Utang dan Kebutuhan Anak. Abah mendapat uang dari pekerjaannya (memperbaiki piano), dan ia harus memilih apakah uang tersebut harus segera digunakan untuk membayar utang berbunga tinggi kepada Ceh Salmah (demi menjaga komitmen dan menghindari jeratan bunga) atau digunakan untuk memenuhi kebutuhan sekolah atau keinginan Ara (seperti tempat minum), yang dapat menjaga kebahagiaan anak.
Dilema moral kedua muncul pada Euis, yaitu konflik Prinsip Keluarga vs. Keinginan Adiknya. Saat Ara merengek ingin tempat minum dan Bang Miun menawarkan barang bekas dengan sistem utang atau cicilan yang tidak jelas, Euis dihadapkan pada pilihan: apakah ia harus melanggar prinsip keluarga untuk tidak berutang demi menyenangkan adiknya, ataukah ia harus tetap teguh pada prinsip tersebut, meskipun Ara menjadi kecewa.

3. Perkembangan Moral dari karakter utama berdasarkan hasil analisis
Karakter utama, Euis, menunjukkan telah mencapai tingkat perkembangan moral konvensional menurut teori Kohlberg. Tindakannya tidak lagi didasarkan pada keuntungan pribadi (Prakonvensional), tetapi didasarkan pada aturan dan peran sosial.
Pada level konvensional, Euis menunjukkan dua tahapan. Tahap pertamanya adalah tahap "anak manis" (Tahap 3), di mana Euis berusaha menjadi kakak yang baik dengan menghibur dan mengalihkan perhatian Ara dari keinginan materi (tempat minum) dengan memberikan mainan masaknya yang lama . Hal ini dilakukan untuk menjaga keharmonisan keluarga. Tahap kedua adalah tahap "hukum dan ketertiban" (Tahap 4), di mana Euis menunjukkan kesadaran kuat akan peraturan atau prinsip keluarga. Hal ini tercermin ketika Euis secara tegas menolak tawaran utang dari Bang Miun ], mengatakan, "Kami tak boleh berhutang Bang Miun." Keputusan Euis ini didasarkan pada prinsip moral keluarga yang telah diinternalisasi sebagai "hukum" yang harus dipertahankan, menunjukkan perkembangan moral yang stabil.

4. pesan moral film
Episode Keluarga Cemara berjudul "Tempat Minum bagian 01" adalah sebuah karya yang sangat relevan dan kaya akan muatan etika. Episode ini berfungsi sebagai cermin moral bagi masyarakat yang cenderung mengukur kebahagiaan dari kepemilikan materi. Pesan moralnya yang paling mendalam adalah bahwa integritas finansial, disiplin diri, dan keteguhan prinsip adalah fondasi sejati dari keutuhan keluarga, bahkan di tengah himpitan kemiskinan yang mencekik.
Pesan moral pertama dan paling mendesak yang ditunjukkan oleh Abah dan Emak adalah prioritas etis dalam mengelola utang. Mereka dihadapkan pada dilema krusial: menggunakan uang hasil kerja keras Abah untuk melunasi utang berbunga kepada rentenir Ceh Salmah ataukah membelanjakannya untuk memenuhi keinginan Ara akan tempat minum baru. Keputusan Abah untuk mengutamakan pembayaran utang menunjukkan penalaran moral Pascakonvensional. Baginya, utang berbunga bukan hanya beban ekonomi, tetapi merupakan ancaman moral dan psikologis yang dapat merusak martabat dan ketenangan batin keluarga. Abah memilih untuk menjaga komitmen dan integritas di atas pemenuhan keinginan instan anak, sebuah pilihan yang memerlukan kekuatan moral yang luar biasa. Prinsip ini menegaskan bahwa kebebasan sejati keluarga terletak pada kebebasan dari ikatan finansial yang merusak. Mereka mengajarkan bahwa tanggung jawab dan kejujuran adalah aset yang harus dipertahankan mati-matian.
Nilai moral ini diperkuat oleh peran Euis sebagai penjaga prinsip keluarga generasi berikutnya. Euis, yang telah menginternalisasi ajaran orang tuanya, menghadapi godaan utang secara langsung dari Bang Miun, pedagang keliling. Dengan tegas, Euis menolak tawaran cicilan, menyatakan, "Kami tak boleh berhutang Bang Miun." Respon ini menunjukkan bahwa prinsip anti-utang telah menjadi hukum yang tak terlanggar (Moralitas Konvensional Tahap 4) dalam sistem nilai keluarga mereka. Euis bertindak bukan karena takut dihukum, tetapi karena ia memahami dan menjunjung tinggi norma komunitas keluarga. Ia menunjukkan kedewasaan moral dengan membedakan antara keinginan yang dapat ditunda dan prinsip yang tidak boleh dikompromikan. Perannya membuktikan bahwa warisan moral hanya akan lestari jika dipertahankan secara aktif oleh setiap anggota keluarga.
Di samping isu utang, episode ini juga mengajarkan tentang nilai kesederhanaan dan kreativitas sebagai pengganti konsumerisme. Keinginan Ara yang lugu terhadap tempat minum baru mewakili dorongan universal untuk memiliki barang. Namun, alih-alih menyerah pada tuntutan pasar, Emak dan Euis merespons dengan solusi etis. Euis mengalihkan perhatian Ara dengan memberikan mainan masaknya yang lama, mengajarkan Ara tentang nilai guna kembali dan kebahagiaan yang berasal dari rasa syukur dan kebersamaan, bukan dari kepemilikan benda baru yang mahal. Solusi kreatif ini adalah kritik terhadap budaya sekali pakai dan menggarisbawahi bahwa kekayaan emosional dan daya tahan mental adalah aset yang jauh lebih stabil dan berkelanjutan.
Dalam konteks sosiologis, pesan moral Keluarga Cemara menjadi sangat relevan sebagai kritik pedas terhadap tren sosial saat ini. Banyak keluarga di kehidupan nyata, meskipun secara finansial lebih mapan daripada Keluarga Cemara, justru terjerat dalam stres, konflik, dan kerapuhan emosional akibat utang konsumtif yang tidak terkendali demi mengejar status sosial. Film ini membalikkan logika tersebut. Ia menunjukkan bahwa kemiskinan adalah kondisi yang dapat diatasi, tetapi hilangnya integritas dan disiplin diri adalah kehancuran yang permanen. Keluarga Cemara berdiri sebagai model ideal, mengingatkan bahwa fondasi yang kuat adalah yang dibangun di atas kejujuran, tanggung jawab, dan kesederhanaan. Dengan memprioritaskan pelunasan utang dan menanamkan prinsip anti-utang pada anak, Abah dan Emak tidak hanya menyelamatkan keuangan mereka, tetapi juga menyelamatkan jiwa dan martabat keluarga mereka dari badai materialisme modern. Episode ini adalah sebuah deklarasi bahwa harta paling berharga di dunia adalah keluarga yang jujur dan bebas dari jeratan moral.

5. perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata
Perbandingan Nilai Keluarga yang ada di dalam film dengan kehidupan nyata.
Nilai keluarga yang digambarkan dalam episode ini sangat bertentangan dengan realitas kehidupan modern. Episode "Tempat Minum" menunjukkan keluarga yang sangat disiplin secara finansial, di mana utang berbunga tinggi (dari Ceh Salmah) adalah ancaman moral yang harus dihindari. Mereka memilih kesederhanaan dan memprioritaskan pembayaran utang daripada membelikan barang yang tidak perlu.
Sebaliknya, dalam kehidupan nyata, banyak keluarga yang terjebak dalam siklus utang konsumtif untuk mempertahankan gaya hidup atau memenuhi keinginan materi yang tidak penting. Film ini mengajarkan bahwa harta yang paling berharga adalah disiplin diri dan kekuatan moral untuk menolak godaan utang yang dapat merusak keutuhan keluarga. Keluarga Cemara adalah contoh ideal yang mengutamakan nilai-nilai non-material (kejujuran, integritas, dan pengorbanan) di atas kebutuhan instan.
Nama : Yeni Septiyani
NPM : 2513032046
Jawaban
Menurut KI Hajar Dewantara adalah untuk memerdekakan manusia, selain itu juga untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yaitu selamat raganya dan bahagia jiwanya simple Survive and happy. menurut saya pandangan KI Hajar Dewantara itu benar karna pada dasarnya manusia hidup di dunia ini untuk mencari keselamatan dan kebahagiaan. lalu bagaimana kita sebagai tenaga pendidik menerapkan keselamatan dan kebahagiaan tersebut? yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran yang membuat siswa merasa nyaman dengan menggunakan metode metode yang efektif agar peserta didik bahagia dalam belajar, kemudian membimbing peserta didik dalam melakukan sesuatu, kemudian memperhatikan kesehatan mental peserta didik dengan mengajarkan pola hidup sehat dan menjadi manusia yang bisa mengontrol diri.