NAMA : Wildan Wahyu Zanjabilla
NPM : 2513032037
1.Saya udah menonton film keluarga cemara yang adaa di youtube dari link ini. https://youtu.be/8pFhg1L2EM0?si=1vSO0sXL23_yCRub
2. Mengidentifikasi minimal dua dilema moral yang muncul dalam film.
Setelah saya menonton filmkeluarga cemara eps 28 dengan judul “Ujian Ara" saya mendapatkan beberapa dilemma moral dari film ini.di antara yaitu
Pertama, dilema yang dihadapi Abah adalah apakah dia harus menjual aset keluarga yang berharga, yaitu sebuah ranjang, hanya untuk membayar "uang ujian sekolah" anaknya. Ini adalah konflik moral antara kewajiban sebagai orang tua untuk memastikan anaknya bisa bersekolah dan keharusan mengorbankan barang-barang berharga yang mungkin memiliki kenangan atau menjadi bagian dari kenyamanan hidup keluarga..
Kedua,keputusan Abah menjual ranjang untuk membayar uang ujian sekolah Euis. Euis merasa sangat bersalah karna ini membuat keluarganya kesusahan. karena ini. Abah secara sabar menenangkannya dengan berkata, "Euis usah merasa bersalah seperti itu ya... bukan kamu bukan Euis yang menyebabkan Abah menjual ranjang itu". Dilema Euis adalah: Ia membutuhkan biaya itu untuk pendidikannya, tetapi ia menderita secara moral karena melihat pengorbanan keluarganya untuk memenuhi biaya pendidikannya atau biaya untukujian.
3. Menganalisis karakter utama berdasarkan teori perkembangan moral.
Berdasarkan dialog dan tindakannya dalam episode ini, karakter euis paling sesuai ditempatkan pada Tahap 3: Orientasi "Anak Manis" Atau (Good Boy-nice girl Orientation), yang berada di bawah Level Konvensional dari teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg.Alasannya ialah Fokus utamanya bukanlah pada pelanggaran aturan, melainkan murni pada hubungan interpersonal. Reaksi emosional utamanya adalah rasa bersalah, yang berakar dari pemahamannya bahwa kebutuhannya telah membebani keluarga nya.
4. ulasan tertulis tentang pesan moral film.
Dalam film keluarga cemara Eps 28”Ujian Ara”,Menceritakan isi euis yang tak ingin lemari lamanya di jual.Nah dalam eps ini Episode ini bukan sekadar tentang kesulitan membayar biaya sekolah,ini adalah sebuah studi karakter yang mendalam tentang bagaimana sebuah keluarga mendefinisikan "harta" melalui tiga pilar moral yang fundamental.
pilar pertama adalah integritas sebagai fondasi yang tidak bisa ditawar. Jauh sebelum konflik utama memuncak, Abah telah menanamkan standar moral keluarga. Saat menasihati anaknya, ia menekankan pentingnya menjadi orang yang jujur dan sabar serta tidak bicara kasar. Ini adalah modal sosial mereka. Integritas ini diuji ketika Abah, meski membutuhkan uang, dengan tegas menolak menjual lemari pusaka. Pesannya jelas: ada hal-hal yang tidak untuk dijual, dan martabat keluarga lebih berharga daripada uang.
Lalu yang Kedua, Pilar kedua adalah pendidikan sebagai pengorbanan tertinggi. Dilema sentral meledak ketika Abah memutuskan harus menjual ranjang untuk membayar uang ujian sekolah Euis. Bagi Abah dan Emak, pendidikan adalah satu-satunya "bekal" yang bisa mereka wariskan kepada anak-anaknya. Mereka rela berkurban apapun untuk itu. Ini adalah pesan moral yang kuat di mana masa depan intelektual anak diprioritaskan di atas kenyamanan material. Film ini menggambarkan pengorbanan bukan sebagai beban, melainkan sebagai investasi cinta yang paling tulus.
Pilar ketiga, dan yang paling kompleks, adalah solidaritas kolektif dan manajemen rasa bersalah. Di sinilah peran Euis menjadi krusial. Euis, sebagai anak tertua, menanggung beban moral yang berat. Ia merasa bersalah,melihat dirinya sebagai penyebab Abah harus menjual ranjang. Ini adalah dilema Tahap 3 Kohlberg yang klasik. rasa sakit karena merasa mengecewakan orang yang dicintai.
Nah Namun, Abah merespons ini dengan bijak. Ia tidak membiarkan Euis terlarut dalam rasa bersalah. Ia meyakinkannya bahwa ini bukan salah Euis, melainkan tanggung jawab kita semua. Abah mengubah beban pribadi menjadi tanggung jawab kolektif. Dan di sinilah Ara, yang juga mendapat surat tagihan dari sekolahnya, mengambil peran. Ara tidak terjebak dalam dilema internal seperti kakaknya; ia melompat ke tindakan. Inisiatifnya untuk jualan pisang adalah respons yang baik.
Episode ini secara brilian menunjukkan dua sisi dari empati, Euis yang merasakannya secara mendalam (guilt) dan Ara yang mengekspresikannya secara praktis (action). "Ujian Ara’ pada akhirnya adalah ujian bagi seluruh keluarga: ujian integritas Abah, ujian kesabaran Emak, ujian rasa bersalah Euis, dan ujian inisiatif Ara. Mereka semua lulus, membuktikan sekali lagi bahwa harta mereka bukanlah ranjang atau lemari, melainkan karakter dan kebersamaan.
5. perbandingan nilai keluarga dalam film dan kehidupan nyata.
Dalam film keluarga cemara ini mengandung banyak sekali Pelajaran yang bisa di ambil.Film ini menonjolkan komunikasi yang terbuka dari Abah yang secara jujur membahas kesulitan keuangan, namun pada saat yang sama, ia memvalidasi emosi anaknya, Euis, untuk menghilangkan rasa bersalah,sebuah pendekatan ideal yang jarang ditemukan dalam kehidupan nyata.Di dalam kehidupan nyata banyak sekali keluaga yang cenderung menyalahkan anak nya dengan apayang terjadi.