Posts made by MEIZA GAUTAMI DAS’AD

Landasan Pendidikan PPKn 2025B -> Penugasan

by MEIZA GAUTAMI DAS’AD -
Nama: Meiza Gautami Das’ad
NPM: 25130302069

Dari materi yang di sampaikan yaitu mengkaji tiga kasus utama di bidang pendidikan, yaitu: kasus guru yang diadukan ke polisi, perilaku asusila di kalangan pelajar, dan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar/mahasiswa.

Kasus pertama yang menjadi sorotan adalah meningkatnya jumlah guru yang dilaporkan atau diadukan ke polisi oleh orang tua siswa. Fenomena ini telah menimbulkan keresahan di kalangan guru, di mana banyak yang merasa takut untuk menegur atau mendisiplinkan murid. Permasalahan ini dianalisis sebagai cerminan dari lemahnya ikatan emosional antara sekolah dan orang tua, serta adanya mispersepsi terhadap hukuman yang diberikan guru. Orang tua cenderung melihat hukuman sebagai tindakan menyakiti, padahal hukuman yang bersifat edukatif merupakan bagian integral dan keniscayaan dalam proses pendidikan untuk membentuk kedisiplinan dan menyadarkan anak ketika berbuat salah. Solusinya, guru disarankan untuk mengedepankan pendekatan preventif melalui nasihat dan arahan. Jika hukuman harus diberikan, hukuman tersebut harus bersifat sangat edukatif dan non-fisik, misalnya dengan melibatkan orang tua secara langsung dalam proses peneguran agar anak memiliki efek jera.


Kasus kedua membahas tingginya tingkat perilaku asusila, termasuk praktik seks bebas, di kalangan pelajar yang dianggap sebagai "Sisi Gelap" dunia pendidikan saat ini. Penyebab utama dari kasus ini di antaranya adalah kurangnya pemahaman dan pengamalan ajaran agama, yang menyebabkan siswa kehilangan kendali diri karena tidak takut akan dosa. Selain itu, mudahnya akses terhadap pornografi juga menjadi faktor pendorong yang signifikan. Untuk mengatasinya, diperlukan penguatan pemahaman dan keyakinan agama yang menjadi tugas bersama seluruh guru, bukan hanya guru agama. Selain itu, penting adanya kerja sama yang solid antara pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk mengawal perilaku anak di mana pun mereka berada. Sekolah juga memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dengan memfasilitasi penyaluran bakat dan minat siswa, sehingga waktu mereka tersibukkan oleh aktivitas positif dan terhindar dari perbuatan negatif.


Kasus terakhir yang diangkat adalah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa, yang juga menunjukkan tren peningkatan signifikan dari tahun ke tahun, menjadikannya ancaman serius bagi masa depan bangsa. Data statistik menunjukkan adanya kenaikan drastis jumlah pelajar dan mahasiswa yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, yang mengindikasikan bahwa upaya penanganan yang ada belum menunjukkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, sekolah, orang tua, dan masyarakat dituntut untuk lebih waspada dan peduli terhadap isu ini. Langkah pencegahan yang harus dilakukan adalah mencanangkan program sekolah anti-narkoba, mengenali jenis-jenis narkoba dan ciri-ciri penggunaannya secara dini, serta mengambil tindakan preventif untuk menyelamatkan generasi muda dari kerusakan kepribadian dan masa depan yang disebabkan oleh narkoba.

DKPM PPKn 2025B -> Penugasan

by MEIZA GAUTAMI DAS’AD -
NAMA: Meiza Gautami Das’ad
NPM: 2513032069
KELAS: 25 B

1. Keluarga Cemara Episode 15 "Jika Agil Ingin"
Tautan Video: https://youtu.be/pRNGp95HwV4?si=Aq7oPhoiKZXyHW6d
Episode 15 dari serial Keluarga Cemara, berjudul "Jika Agil Ingin," mengangkat cerita sederhana yang penuh pelajaran moral di tengah keterbatasan ekonomi. Dalam episode ini, keinginan Agil untuk memiliki atau setidaknya melihat akuarium hias menjadi masalah utama. Cerita berfokus pada upaya Abah dan Emak untuk mengajari anak-anak mereka yakni Ara dan Agil untuk mengendalikan keinginan dan menghadapi kenyataan hidup dengan jujur dan sabar. Pesan moral utama film ini adalah tentang bagaimana keluarga harus menyikapi harapan, usaha, dan kejujuran.

2. Mengidentifikasi Dua Dilema Moral dalam Film
Dua masalah moral utama yang muncul di film ini adalah:

1. Dilema antara Memberi Harapan atau Mendidik tentang Kenyataan Ekonomi.
•Emak khawatir jika Abah terus memberi harapan, Agil akan menjadi penuntut dan keinginannya harus selalu dipenuhi. Ini sulit bagi kondisi ekonomi mereka.
•Pilihan Moral: Abah memilih untuk mempertahankan harapan Agil, karena ia percaya bahwa harapan adalah pendorong hidup. Namun, ia menyertai harapan itu dengan syarat: harus ada usaha.

2. Dilema antara Jujur dalam Tindakan Tujuan Akhir yang Baik.
•Abah membuat "akal-akalan" agar anak-anaknya bisa melihat akuarium tanpa mengeluarkan uang. Ia meminta Agil dan Ara mengumpulkan jentik nyamuk untuk dijadikan hadiah bagi Pipin agar mereka diizinkan masuk dan melihat akuariumnya.
•Pilihan Moral: Abah menggunakan cara yang kurang jujur (trik) demi mencapai tujuan yang baik: membuat anak senang dan mengajari mereka berinisiatif. Dilema ini mempertanyakan: apakah niat baik membenarkan cara yang tidak sepenuhnya jujur? Kegagalan rencana ini menjadi pelajaran bahwa hasil yang baik sebaiknya dicapai dengan cara yang jujur juga.

3. Menganalisis Karakter Utama Berdasarkan Teori Perkembangan Moral
Karakter utama ialah Abah yang dimana abah adalah pusat moral dalam cerita ini. Tindakannya sesuai dengan Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg .
Abah berada di Tingkat Konvensional, antara Tahap 3 dan Tahap 4:

•Tahap 3: Orientasi Hubungan Interpersonal yang Baik (“Good Boys/Good Girl”): Abah ingin dilihat sebagai "ayah yang baik" oleh keluarganya. Keputusannya memberi harapan adalah upaya menjaga keharmonisan dan citra dirinya yang penuh kasih sayang di mata Emak dan anak-anak.

•Tahap 4: Orientasi Hukum dan Ketertiban (Law and Order Orientation): Keputusan Abah membuat rencana agar anak melihat akuarium tanpa biaya adalah caranya menyeimbangkan tugas sebagai ayah (mengajari usaha) dengan tanggung jawab ekonominya (menghemat uang). Abah bertindak bukan karena takut hukuman, tetapi karena perannya sebagai teladan dan penanggung jawab moral keluarga.


4. Ulasan Pesan Moral Film Keluarga Cemara Episode 15 "Jika Agil Ingin"
Keluarga Cemara episode "Jika Agil Ingin" kembali membuktikan bahwa cerita sederhana dapat membawa pelajaran etika yang kuat. Melalui masalah keinginan Agil yang sederhana, film ini memberikan pesan moral utama yaitu kekayaan sejati keluarga adalah integritas, daya juang, dan makna yang ditemukan dalam proses, bukan pada pemenuhan keinginan sesaat.
Pendidikan moral dalam episode ini terlihat jelas dari dialog Abah dan Emak. Emak melihat harapan sebagai sumber masalah jika tidak disertai kemampuan untuk memenuhinya. Namun, Abah berpegang teguh pada keyakinan bahwa harapan adalah pendorong utama kehidupan. Pilihan Abah untuk menyuburkan harapan menunjukkan kematangan moralnya di Tingkat Konvensional. Ia mengajari anak-anaknya bahwa harapan harus diwujudkan melalui inisiatif dan usaha.
Film ini juga menguji batas kejujuran melalui 'trik' Abah. Idenya mengumpulkan jentik nyamuk sebagai "hadiah" untuk Pipin adalah upaya mendidik inisiatif, tetapi metodenya sedikit menyimpang dari kejujuran mutlak. Hal ini menunjukkan dilema orang tua miskin yang terpaksa berkompromi demi tujuan baik. Meskipun Abah ingin membuat anak senang tanpa biaya, kegagalan trik ini menjadi pelajaran bahwa hasil yang baik idealnya harus dicapai melalui cara yang sepenuhnya jujur dan tulus.
Pesan moral tentang integritas diperkuat oleh Emak di warung. Dengan hati-hati dan jujur, Emak mengoreksi catatan utang yang ternyata salah, menunjukkan bahwa keluarga ini memprioritaskan kejujuran di atas kebutuhan ekonomi mendesak. Pada bagian ini menjadi pengingat tegas bahwa kejujuran adalah prinsip, bukan pilihan yang tergantung kondisi. Emak memberikan teladan nyata kepada anak-anaknya tentang pentingnya integritas dalam setiap interaksi.
Pada akhirnya, film ini mengajarkan bahwa keinginan Agil harus diatasi dengan usaha, bukan larangan. Pelajaran moral terbesar yang didapat anak-anak bukanlah akuarium, melainkan nilai dari upaya kolektif, kerja keras mengumpulkan jentik-jentik, dan menghadapi rasa kecewa ketika usaha tidak berhasil. Film Keluarga Cemara pada episode ini menegaskan bahwa proses dan perjuangan adalah harta paling berharga, dan kegagalan adalah bagian dari proses pembentukan karakter. Keluarga Cemara juga mengingatkan kita untuk menghindari rasa iri dan berhenti membandingkan diri. Keluarga harus fokus pada nilai-nilai yang mereka miliki bersama, bukan pada kemewahan orang lain.
Episode 15 ini menjadi refleksi moral tentang cara hidup bermartabat dalam keterbatasan. Film ini menegaskan bahwa kebahagiaan dan harga diri keluarga tidak ditentukan oleh harta, melainkan oleh nilai-nilai moral yang mereka pertahankan. Pengorbanan, kejujuran, dan ketulusan niat Abah dan Emak adalah "Harta yang paling berharga" yang sesungguhnya.
Nama: Meiza Gautami Das’ad
NPM: 2513032069

Apa yang kamu lakukan ketika kamu jadi guru untuk mewujudkan tujuan pendidikan ki hajar dewantara?

yang akan saya lakukan sebagai guru untuk mewujudkan tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara “memerdekakan manusia” agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan adalah:

1. Fokus pada Keterampilan Hidup yang dimana menekankan Budi Pekerti sebagai fondasi utama pendidikan.
2. Mendorong siswa untuk memerdekakan diri sendiri (menjadi orang yang bahagia dan selamat), karena dengan memerdekakan diri sendiri adalah langkah awal untuk memajukan lingkungan, bangsa, dan dunia.
3. Melaksanakan peran sebagai guru melalui semboyan yang berfokus pada pendidik: Ingarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tutwuri Handayani.