Posts made by Dela Antriana

KDM23D -> Diskusi 2

by Dela Antriana -

Nama : Dela Antriana 

Npm : 2513053098


Segitiga dapat dibedakan berdasarkan panjang sisi dan besar sudutnya.

1. Berdasarkan panjang sisi

- Segitiga sama sisi adalah segitiga yang memiliki tiga sisi sama panjang. Ketiga sudutnya juga sama besar, yaitu 60°.

- Segitiga sama kaki adalah segitiga yang memiliki dua sisi sama panjang. Dua sudut yang berhadapan dengan sisi yang sama panjang juga memiliki ukuran yang sama.

- Segitiga sembarang adalah segitiga yang ketiga sisinya memiliki panjang yang berbeda, sehingga besar ketiga sudutnya juga dapat berbeda.


2. Berdasarkan besar sudut

- Segitiga lancip adalah segitiga yang ketiga sudutnya kurang dari 90°.

- Segitiga siku-siku adalah segitiga yang salah satu sudutnya tepat 90°, sedangkan dua sudut lainnya kurang dari 90°.

- Segitiga tumpul adalah segitiga yang salah satu sudutnya lebih dari 90°, sedangkan dua sudut lainnya kurang dari 90°.

Dengan demikian, perbedaan berdasarkan panjang sisi dilihat dari kesamaan atau perbedaan ukuran ketiga sisinya, sedangkan berdasarkan besar sudut dilihat dari ukuran sudut-sudut yang dimiliki segitiga.

KDM23D -> Diskusi 1

by Dela Antriana -

Nama : Dela Antriana 

Npm : 2513053098


Segitiga siku-siku pada umumnya tidak mempunyai sumbu simetri karena bentuknya tidak dapat dibagi menjadi dua bagian yang sama persis. Namun, jika segitiga siku-siku tersebut merupakan segitiga siku-siku sama kaki, maka terdapat satu sumbu simetri yang membagi segitiga menjadi dua bagian yang sama besar. Jadi, jumlah sumbu simetri pada segitiga siku-siku bergantung pada bentuknya, yaitu 0 untuk segitiga siku-siku sembarang dan 1 untuk segitiga siku-siku sama kaki.

Pmnm2026 -> Forum Absensi dan Analisis

by Dela Antriana -
Nama : Dela Antriana
Npm : 2513053098

“Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh”

A. Identitas 
Judul: Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh
Penulis: Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, dan Mohd Zailani Mohd Yusoff
Nama Jurnal: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Volume: 9
Nomor: 3
Tahun Terbit: 2021
Halaman: 710–724
DOI: 10.23887/jpku.v9i3.38525

B. Latar Belakang

Jurnal ini membahas mengenai pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam proses pendidikan, khususnya dalam sistem pendidikan yang diterapkan di Aceh. Pendidikan pada dasarnya tidak hanya bertujuan membuat peserta didik memiliki pengetahuan dan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk sikap, karakter, moral, dan perilaku yang baik.

Perkembangan teknologi dan perubahan kehidupan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap peserta didik. Kemudahan memperoleh informasi dapat memberikan dampak positif, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai permasalahan apabila tidak disertai dengan kemampuan memilih dan menyaring informasi. Oleh karena itu, pendidikan nilai dan moral menjadi bagian penting dalam membentuk peserta didik agar mampu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.

Aceh memiliki karakteristik tersendiri dalam bidang pendidikan karena adanya penerapan nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan kekhususan daerah tersebut. Kondisi tersebut membuat pendidikan di Aceh tidak hanya berpedoman pada sistem pendidikan nasional, tetapi juga memberikan ruang yang lebih besar terhadap nilai-nilai keislaman dalam proses pendidikan.

C. Tujuan Penulisan Jurnal

Jurnal ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Penulis menjelaskan bagaimana nilai dan moral ditempatkan dalam pendidikan serta bagaimana karakteristik pendidikan Aceh memengaruhi proses penanaman nilai kepada peserta didik.

Pembahasan juga diarahkan untuk melihat hubungan antara pendidikan, kurikulum, nilai keislaman, dan pembentukan karakter peserta didik. Dengan demikian, pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki kecerdasan secara akademik, tetapi juga memiliki sikap dan perilaku yang baik.

D. Metode Penelitian

Penelitian dalam jurnal ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research). Penulis mengumpulkan dan mengkaji berbagai sumber yang berkaitan dengan pendidikan nilai, pendidikan moral, kurikulum, pendidikan karakter, serta sistem pendidikan di Aceh.

Sumber-sumber yang digunakan kemudian dianalisis untuk memperoleh pemahaman mengenai penerapan pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Metode ini sesuai dengan tujuan penelitian karena pembahasannya lebih berfokus pada kajian konsep, kebijakan, dan berbagai literatur yang berkaitan dengan topik penelitian.

E. Isi dan Hasil Pembahasan

Salah satu gagasan penting dalam jurnal ini adalah bahwa pendidikan nilai dan moral mempunyai kedudukan penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Nilai tidak seharusnya hanya dipahami sebagai suatu teori yang disampaikan guru kepada siswa, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Proses pendidikan nilai dapat dilakukan melalui berbagai lingkungan. Keluarga menjadi tempat pertama bagi seseorang dalam mengenal nilai dan norma. Setelah itu, sekolah memiliki peran untuk memperkuat nilai tersebut melalui pembelajaran, budaya sekolah, pembiasaan, serta keteladanan guru. Masyarakat juga memberikan pengaruh karena peserta didik berinteraksi dan belajar dari lingkungan sosialnya.

Dalam konteks Aceh, pendidikan nilai dan moral memiliki hubungan yang kuat dengan nilai-nilai Islam. Sistem pendidikan di Aceh memiliki kekhususan karena adanya aturan daerah yang mengatur penyelenggaraan pendidikan. Nilai-nilai agama kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik.

Penanaman nilai tidak hanya dilakukan melalui mata pelajaran tertentu. Nilai dapat dimasukkan ke dalam berbagai kegiatan pendidikan, seperti pembiasaan sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, sopan santun, kepedulian, serta penghormatan terhadap orang lain.

Menurut saya, hal yang menarik dari jurnal ini adalah adanya penekanan bahwa keteladanan mempunyai peran yang sangat penting dalam pendidikan moral. Guru tidak cukup hanya menjelaskan bahwa siswa harus jujur, disiplin, atau bertanggung jawab. Guru juga perlu menunjukkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melihat contoh secara langsung, peserta didik akan lebih mudah memahami bagaimana sebuah nilai diterapkan.

F. Analisis Kritis

Jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan yang hanya berorientasi pada kemampuan akademik dapat menghasilkan peserta didik yang pintar secara pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki karakter yang baik.

Jika dikaitkan dengan kondisi pendidikan saat ini, pembahasan jurnal masih sangat relevan. Peserta didik hidup dalam lingkungan yang semakin dekat dengan teknologi dan media digital. Mereka dapat memperoleh berbagai informasi dengan cepat. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan membedakan informasi yang baik dan buruk serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan nilai moral menjadi semakin penting.

Menurut saya, pendidikan nilai juga tidak dapat diberikan hanya melalui ceramah. Misalnya, guru menjelaskan pentingnya kejujuran, tetapi tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkannya. Hasilnya, siswa mungkin mengetahui pengertian kejujuran, tetapi belum tentu menjadikannya sebagai kebiasaan.

Oleh karena itu, pendidikan nilai sebaiknya dilakukan melalui pemahaman, pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman langsung. Peserta didik perlu diberikan kesempatan untuk mempraktikkan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks pendidikan dasar, hal ini menjadi semakin penting karena siswa SD masih berada dalam tahap perkembangan karakter. Guru SD tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga menjadi salah satu contoh yang dapat ditiru oleh peserta didik.

G. Kelebihan Jurnal

Menurut saya, jurnal ini memiliki beberapa kelebihan.

  1. Topik yang dibahas relevan dengan pendidikan. Pendidikan nilai dan moral merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik.
  2. Pembahasannya memiliki konteks yang jelas. Penelitian tidak hanya membahas pendidikan moral secara umum, tetapi mengaitkannya dengan sistem pendidikan di Aceh.
  3. Menghubungkan pendidikan dengan pembentukan karakter. Jurnal menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari kemampuan akademik peserta didik.
  4. Menjelaskan pentingnya lingkungan pendidikan. Pembentukan nilai tidak hanya menjadi tugas sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga dan masyarakat.
  5. Memperhatikan peran keteladanan. Guru dan lingkungan sekolah perlu memberikan contoh nyata agar nilai yang diajarkan dapat diterapkan oleh peserta didik.
H. Kekurangan Jurnal

Selain memiliki kelebihan, jurnal ini juga memiliki beberapa hal yang menurut saya masih dapat dikembangkan.
  1.  Pembahasannya lebih banyak menggunakan kajian pustaka sehingga contoh berdasarkan kondisi langsung di sekolah masih dapat diperbanyak.
  2. Jurnal akan lebih kuat apabila dilengkapi dengan data hasil observasi atau wawancara dengan guru dan peserta didik.
  3. Penelitian dapat dikembangkan dengan membandingkan penerapan pendidikan nilai di beberapa sekolah dengan kondisi yang berbeda.
  4. Dampak penerapan pendidikan nilai terhadap perubahan perilaku peserta didik juga dapat diteliti secara lebih mendalam.
I. Relevansi Jurnal dengan Pendidikan Sekolah Dasar

Jurnal ini sangat berkaitan dengan pendidikan sekolah dasar karena pembentukan karakter sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Anak-anak perlu dibiasakan untuk mengenal dan menerapkan nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja sama, menghormati orang lain, dan peduli terhadap lingkungan.

Guru SD dapat menerapkan pendidikan nilai melalui kegiatan sederhana. Contohnya, siswa dibiasakan mengembalikan barang yang bukan miliknya, melaksanakan piket kelas, mengerjakan tugas secara mandiri, menghargai pendapat teman, dan membantu teman yang mengalami kesulitan.

Dengan cara tersebut, nilai tidak berhenti sebagai materi pembelajaran. Nilai mulai menjadi kebiasaan yang kemudian dapat berkembang menjadi karakter.

J. Kesimpulan
Menurut saya, inti yang dapat diambil dari jurnal ini adalah bahwa nilai dan moral tidak cukup hanya diberikan sebagai pengetahuan, tetapi harus dibiasakan dan dicontohkan dalam kehidupan nyata. Seorang siswa mungkin dapat menjelaskan arti kejujuran, tetapi pendidikan nilai baru dapat dikatakan berhasil apabila siswa mampu menerapkan kejujuran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, guru memiliki peran besar sebagai pendidik sekaligus teladan bagi peserta didik.

K. Daftar Pustaka

Fajri, I., Rahmat, R., Sundawa, D., & Yusoff, M. Z. M. (2021). Pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 9(3), 710–724. https://doi.org/10.23887/jpku.v9i3.38525

Identitas Video
Judul: Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern – Opini
Channel: KompasTV
Tanggal tayang: 13 Februari 2018
Topik: Kekerasan pelajar terhadap guru dan degradasi moral dalam dunia pendidikan.

Video ini membahas kasus kekerasan yang dilakukan oleh siswa terhadap gurunya, Ahmad Budi Cahyono, guru honorer SMAN 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur. Dalam video tersebut hadir beberapa narasumber, yaitu Retno Listyarti selaku Komisioner KPAI bidang pendidikan, Dr. Itje Chodidjah, M.A. selaku praktisi pendidikan, dan Vero Andesla selaku psikolog.

Menurut Retno Listyarti, perilaku anak tidak terbentuk secara tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh pola asuh keluarga dan lingkungan sekolah. Dr. Itje Chodidjah menekankan pentingnya kompetensi guru, terutama kompetensi kepribadian dan sosial. Sementara itu, Vero Andesla menjelaskan bahwa kekerasan dapat terjadi ketika anak tidak mampu mengendalikan emosi dan bertindak secara impulsif tanpa memikirkan akibatnya.

Pandangan saya, kasus tersebut menunjukkan bahwa pendidikan moral dan karakter sangat penting bagi peserta didik. Menurut saya, siswa perlu diajarkan bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang menghormati guru, mengendalikan emosi, bertanggung jawab, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Di sisi lain, guru juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami karakter siswa yang berbeda-beda. Jadi, pembentukan moral anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, guru, dan lingkungan.