Forum Absensi dan Analisis

Forum Absensi dan Analisis

Number of replies: 31

Lampirkan analisis anda mengenai jurnal dan video, sekaligus melakukan absensi dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM. 

In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by NOVI PUSPITA ANGGREINI -

Nama: Novi Puspita Anggreini

NPM: 2513053093


1. Analisis Jurnal

Jurnal ini membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan di Aceh yang memiliki kekhususan dalam penerapan syariat Islam. Pendidikan di Aceh tidak hanya mengikuti sistem pendidikan nasional, tetapi juga berpedoman pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 sebagai perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Melalui kebijakan tersebut, pendidikan diarahkan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga akhlak dan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Menurut saya, hal yang menarik dari jurnal ini adalah pendidikan nilai dan moral tidak ditempatkan hanya sebagai materi pelajaran agama. Nilai-nilai tersebut perlu diterapkan dalam berbagai kegiatan pendidikan, baik melalui pembelajaran, aturan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, maupun interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah. Dengan demikian, nilai seperti religius, disiplin, tanggung jawab, toleransi, kejujuran, dan kepedulian sosial dapat menjadi bagian dari kebiasaan peserta didik.

Dalam penerapannya, kurikulum Aceh juga mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan berbagai mata pelajaran serta memuat unsur lokal seperti bahasa daerah, sejarah Aceh, adat, budaya, dan kearifan lokal. Budaya Islami juga diterapkan melalui kedisiplinan, komunikasi yang sopan, keteladanan, dan penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan moral tidak cukup dilakukan melalui teori, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku nyata peserta didik dan seluruh warga sekolah.

Namun, jurnal ini juga menunjukkan bahwa penerapan kurikulum Islami di Aceh masih menghadapi beberapa kendala. Sebagian sekolah belum memiliki pemahaman dan pola penerapan yang sama, sementara guru juga masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan kurikulum saja belum cukup tanpa adanya kesiapan guru, sekolah, serta pemahaman yang baik dalam penerapannya.

Berdasarkan pembahasan tersebut, saya melihat bahwa keberadaan kurikulum yang berorientasi pada nilai dan moral merupakan langkah yang baik dalam membentuk karakter peserta didik. Akan tetapi, keberhasilan pendidikan nilai tidak hanya bergantung pada adanya aturan atau kurikulum, melainkan juga pada kesiapan guru, sekolah, sarana pendukung, serta penerapannya secara konsisten. Menurut saya, penerapan nilai moral akan lebih efektif jika peserta didik tidak hanya diberikan pemahaman, tetapi juga melihat contoh nyata dan dibiasakan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

2. Analisis Video

Video tersebut membahas kasus meninggalnya Ahmad Budi Cahyono, guru honorer SMAN 1 Torjun, akibat kekerasan yang dilakukan oleh siswanya. Kasus ini menunjukkan bahwa kekerasan di lingkungan pendidikan tidak dapat dianggap sebagai masalah sederhana karena berkaitan dengan pembentukan karakter, pola pengasuhan, lingkungan pergaulan, serta kemampuan anak dalam mengendalikan emosi.

Dalam video dijelaskan bahwa perilaku anak tidak terbentuk secara tiba-tiba. Pola pengasuhan di rumah dan cara guru mengelola kelas turut memengaruhi sikap siswa. Selain itu, anak yang belum mampu mengelola kemarahan dan frustrasi dapat bertindak secara impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh banyaknya informasi, penggunaan teknologi, serta tuntutan akademik yang semakin besar.

Dari sisi guru, video tersebut menekankan bahwa seorang pendidik tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga harus memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian agar mampu mengelola kelas serta menghadapi karakter siswa yang beragam. Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan guru perlu memperhatikan kemampuan tersebut secara menyeluruh, bukan hanya pengetahuan akademik.

Menurut saya, kasus ini tidak seharusnya hanya dipandang sebagai bukti bahwa moral pelajar semakin menurun. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter dan kemampuan mengelola emosi perlu diperkuat melalui kerja sama antara keluarga, sekolah, guru, dan siswa. Pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga tentang membentuk peserta didik yang mampu mengendalikan diri, menghargai orang lain, bertanggung jawab, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakannya.

In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Kaneza Fa'aqurata Ayun -
Nama: Kaneza Fa'aqurata Ayun
NPM: 2513053095

Hasil analisis dari jurnal dan video youtube:
1. Kasus Video vs Landasan Teoretis Krisis Moral
Video: Video memaparkan potret ekstrem degradasi moral melalui peristiwa nyata, seperti penganiayaan fatal oleh seorang siswa terhadap guru honorer (Ahmad Budi Cahyono) di Sampang hingga tewas, serta tindakan arogan murid SMP yang menantang kepala sekolahnya berduel.
Jurnal: Jurnal memberikan konfirmasi akademis bahwa masalah moralitas remaja dalam satu dekade terakhir memang berada pada kondisi yang memprihatinkan. Perubahan kehidupan sosial yang sangat cepat telah menyeret remaja ke dalam perilaku menyimpang yang kerap kali dikaitkan dengan kegagalan institusi pendidikan.

2. Akar Penyebab: Arus Informasi dan Ketidakmampuan Mengelola Emosi
Video: Menjelaskan bahwa anak-anak zaman sekarang memiliki tingkat toleransi stres dan frustrasi yang sangat rendah karena dibombardir oleh stimulus informasi yang masif (gadget, grup WhatsApp, berita bohong) di tengah beban akademis yang berat. Akibatnya, ketika emosi marah atau benci muncul, penalaran logis (kognisi) mereka tidak berfungsi, sehingga mereka bertindak secara impulsif dan reaktif tanpa memikirkan konsekuensi fatalnya. Hal ini diperparah oleh lemahnya fondasi pola pengasuhan anak di lingkungan rumah.
Jurnal: Mendukung pandangan dengan menyatakan bahwa perkembangan IPTEK yang luar biasa melahirkan interaksi kultural terbuka yang memengaruhi gaya hidup remaja secara ekstrem. Perubahan sosial yang cepat ini berdampak serius pada perkembangan kognitif serta emosi anak, yang jika tidak diimbangi dengan filter moral, akan merusak tatanan sosial.

3. Kelemahan Guru dan Kurikulum yang "Tersandera" Kognitif
Video: Mengkritik sistem pendidikan nasional yang masih "tersandera" oleh urusan transfer pengetahuan akademis (knowledge) semata. Pelatihan guru dan penilaian kompetensi (seperti UKG) baru berfokus pada ranah profesional dan pedagogi. Akibatnya, guru tidak dibekali kemampuan praktis untuk membenahi kepribadian mereka sendiri serta mengelola kelas yang berkarakter di tengah keberagaman perilaku murid yang bermasalah.
Jurnal: Secara teori mengamini kelemahan tersebut. Dituliskan bahwa salah satu faktor utama kegagalan implementasi pendidikan nilai di sekolah adalah karena guru belum memiliki keterampilan yang cukup untuk mengintegrasikan nilai-nilai moral ke dalam pembelajaran di kelas. Padahal, peran guru tidak hanya sekadar mengajar materi pelajaran, melainkan bertindak sebagai panutan (role model) perilaku bagi siswanya.

4. Solusi yang Saling Melengkapi (Pembenahan Karakter secara Nyata)
Video: Mengusulkan pembenahan dari hulu, seperti menerapkan psychological screening (tes psikologis) bagi calon guru sebelum memasuki sekolah keguruan agar mereka benar-benar siap menjadi pendidik yang matang secara mental. Selain itu, sekolah juga dituntut melatih murid secara aktif dalam kemampuan mengelola emosi dan mengelola stres di samping mengejar target akademis.
Jurnal: Menawarkan contoh konkret penanganan sistemis melalui Kurikulum Islami di Aceh (berdasarkan Qanun). Di sini, pendidikan nilai tidak dijadikan sebagai mata pelajaran hafalan yang berdiri sendiri. Sebaliknya, nilai-nilai moral diserapkan secara menyeluruh ke dalam setiap mata pelajaran, visi sekolah, aturan sekolah, hingga pembiasaan sehari-hari (seperti disiplin, komunikasi sopan, dan seragam yang sesuai standar).
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by FELA CANTIKA SARI -
Nama : Fela Cantika Sari
NPM : 2513053094

1. Analisis Jurnal

Jurnal tersebut membahas tentang pentingnya pendidikan moral dalam membentuk karakter peserta didik. Penulis menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga harus membentuk sikap dan perilaku yang baik. Pendidikan moral menjadi penting karena perkembangan zaman dan modernisasi dapat memengaruhi nilai serta perilaku generasi muda. Oleh karena itu, pendidikan moral tidak cukup hanya diberikan melalui teori atau materi di kelas, tetapi juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, isi jurnal ini cukup relevan dengan kondisi pendidikan saat ini. Siswa tidak hanya perlu mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga harus mampu menerapkan nilai moral tersebut dalam kehidupan nyata. Dalam jurnal dijelaskan bahwa karakter yang baik berkaitan dengan knowing the good, loving the good, dan acting the good, yaitu mengetahui kebaikan, mencintai atau menghargai kebaikan, dan melakukan kebaikan. Ketiga hal tersebut saling berhubungan dalam proses pembentukan karakter siswa.

Pendidikan moral juga tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan guru. Keluarga dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk karakter anak. Keluarga menjadi lingkungan awal bagi anak untuk mengenal nilai dan perilaku, sedangkan sekolah membantu mengembangkan nilai tersebut melalui proses pembelajaran. Guru juga memiliki peran penting karena dapat menjadi contoh atau teladan bagi peserta didik. Jadi, pembentukan karakter membutuhkan dukungan dari berbagai lingkungan agar nilai moral yang diberikan kepada siswa dapat diterapkan secara konsisten.

Dalam jurnal ini pendidikan karakter tidak seharusnya hanya diberikan melalui mata pelajaran tertentu seperti Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran dan kegiatan di sekolah. Misalnya, sikap tanggung jawab dapat dibentuk melalui tugas, kerja sama dapat dikembangkan melalui kegiatan kelompok, sedangkan toleransi dapat diterapkan dengan menghargai pendapat teman. Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya memahami nilai karakter secara teori, tetapi juga belajar mempraktikkannya dalam kegiatan sehari-hari.

Jurnal ini juga menjelaskan bahwa pendidikan karakter berkaitan dengan moral knowing, moral feeling, dan moral action. Moral knowing berkaitan dengan pengetahuan tentang nilai moral, moral feeling berkaitan dengan perasaan atau kesadaran terhadap nilai tersebut, sedangkan moral action merupakan penerapan nilai melalui tindakan. Menurut saya, ketiga aspek ini penting karena mengetahui bahwa suatu tindakan itu baik belum tentu membuat siswa langsung melakukannya. Siswa perlu memiliki kesadaran dan kebiasaan untuk menerapkan nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Jurnal juga membahas berbagai nilai karakter yang perlu dikembangkan pada peserta didik, seperti religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta tanah air, peduli sosial, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi dasar bagi siswa dalam bersikap dan berinteraksi dengan orang lain.
Dalam penerapannya, pendidikan moral membutuhkan proses yang panjang. Karakter tidak dapat terbentuk hanya dalam waktu singkat, tetapi membutuhkan pembiasaan, pengulangan, dan keteladanan. Guru, orang tua, dan lingkungan sekitar harus memberikan contoh yang baik agar siswa dapat melihat dan meniru perilaku tersebut. Dengan begitu, nilai moral tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi dapat menjadi bagian dari kebiasaan dan kepribadian siswa.

2. Analisis Video

Video tersebut membahas kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan, yaitu seorang siswa yang melakukan tindakan kekerasan terhadap gurunya hingga menyebabkan korban meninggal dunia. Kasus tersebut kemudian dikaitkan dengan munculnya pertanyaan mengenai kondisi moral peserta didik saat ini. Selain kasus tersebut, video juga memperlihatkan perilaku seorang siswa yang berani menantang kepala sekolahnya. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat permasalahan dalam sikap, sopan santun, pengendalian diri, dan rasa hormat siswa terhadap guru.

Menurut saya, kasus yang dibahas dalam video tidak bisa hanya dilihat dari sisi kesalahan siswa saja. Perilaku seorang anak biasanya terbentuk melalui proses yang panjang dan dipengaruhi oleh berbagai lingkungan, seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan masyarakat. Seperti yang dijelaskan dalam video, pola pengasuhan di rumah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sikap dan karakter anak. Jika sejak kecil anak tidak mendapatkan contoh yang baik dalam mengendalikan emosi, menghargai orang lain, atau menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat, hal tersebut dapat memengaruhi perilakunya ketika berada di lingkungan sekolah.

Video tersebut juga sangat berkaitan dengan konsep pendidikan nilai dan moral. Pendidikan moral bukan hanya tentang mengajarkan kepada siswa bahwa memukul, menghina, atau melawan orang lain merupakan tindakan yang salah. Lebih dari itu, siswa harus dibimbing agar mampu memahami nilai tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika sedang marah atau kecewa, siswa harus mampu mengendalikan emosinya dan tidak langsung melakukan tindakan yang dapat merugikan orang lain.

Menurut saya, salah satu hal yang cukup penting dalam video adalah pembahasan mengenai kemampuan anak dalam mengelola emosi. Seorang anak mungkin sudah mengetahui bahwa suatu tindakan itu salah, tetapi ketika emosinya tidak terkendali, ia bisa saja bertindak secara spontan tanpa memikirkan akibatnya. Oleh karena itu, pendidikan moral seharusnya juga mengajarkan keterampilan sosial dan emosional, seperti mengontrol emosi, menghargai perbedaan, menyelesaikan konflik, memiliki empati, dan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

Selain siswa, guru juga memiliki peran penting dalam membentuk moral peserta didik. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi contoh bagi siswa. Guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kelas dan menghadapi berbagai karakter siswa. Setiap siswa memiliki kondisi dan karakter yang berbeda sehingga cara menghadapi mereka juga tidak bisa disamakan. Dalam video dijelaskan bahwa seorang guru membutuhkan kompetensi kepribadian, sosial, profesional, dan pedagogik.

Menurut saya, keempat kompetensi tersebut memang penting karena guru bukan hanya dituntut untuk pintar dalam bidang akademik, tetapi juga harus mampu menjadi pendidik dan teladan bagi siswanya.
Namun, pendidikan moral juga tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada guru dan sekolah. Keluarga memiliki peran yang sangat besar karena keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar mengenai nilai dan perilaku. Jika sekolah mengajarkan sopan santun, tetapi di rumah anak justru melihat contoh perilaku yang bertentangan, maka proses pembentukan moral anak menjadi kurang maksimal. Begitu juga dengan lingkungan pertemanan dan media sosial yang saat ini sangat mudah diakses oleh anak-anak. 

Mereka dapat melihat berbagai macam perilaku yang belum tentu sesuai dengan nilai dan norma yang diajarkan di sekolah.
Oleh karena itu, menurut saya pendidikan nilai dan moral di sekolah saja belum cukup untuk membentuk karakter anak. Pendidikan moral harus dilakukan secara bersama-sama antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Sekolah dapat memberikan pembelajaran dan pembiasaan yang positif, sedangkan keluarga perlu memberikan contoh dan pengawasan dalam kehidupan sehari-hari. Anak juga perlu dibimbing agar mampu menyaring berbagai informasi dan perilaku yang mereka lihat di lingkungan maupun media sosial.

Dari video tersebut dapat disimpulkan bahwa permasalahan moral pada anak merupakan persoalan yang cukup kompleks. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa anak zaman sekarang tidak bermoral hanya berdasarkan satu kasus. Perlu dilihat berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan anak, mulai dari pola asuh, lingkungan sekolah, pergaulan, kemampuan mengendalikan emosi, hingga pengaruh media. Karena itu, pendidikan nilai dan moral perlu dilakukan secara terus-menerus melalui pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama antara keluarga dan sekolah. Dengan begitu, pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter, tanggung jawab, rasa hormat, dan mampu berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Sri Wulandari -
Nama: Sri Wulandari
NPM: 2513053105

Hasil analisis artikel jurnal dan video:

Menurut saya sebagai calon guru, kasus guru yang meninggal karena dianiaya murid menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik. Sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yaitu membentuk karakter, moral, serta kemampuan peserta didik dalam mengendalikan emosi dan menyelesaikan konflik dengan cara yang baik. Prestasi akademik memang penting, tetapi tanpa dibarengi pembentukan karakter yang kuat, peserta didik akan kesulitan mengontrol perilakunya ketika menghadapi tekanan atau konflik di lingkungan sekolah.

Sebagai guru nantinya, saya harus mampu menerapkan empat kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik diperlukan agar guru mampu memahami karakteristik peserta didik dan memilih pendekatan pembelajaran yang sesuai. Kompetensi kepribadian menjadikan guru sebagai teladan dalam bersikap, sedangkan kompetensi sosial membantu guru membangun komunikasi yang baik dengan peserta didik, orang tua, dan warga sekolah. Sementara itu, kompetensi profesional memastikan guru memiliki kemampuan mengajar yang berkualitas. Keempat kompetensi tersebut saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan penuh rasa saling menghargai.

Pendapat tersebut sejalan dengan penelitian Fajri dkk. (2021) yang menjelaskan bahwa perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat telah memengaruhi perkembangan moral remaja. Perubahan gaya hidup, lingkungan sosial, dan berbagai tantangan zaman dapat berdampak pada perilaku peserta didik sehingga sekolah memiliki peran penting dalam membentuk akhlak dan karakter mereka melalui sistem pendidikan.

Hal ini menunjukkan bahwa sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi lingkungan yang membangun kebiasaan dan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, menurut saya kemampuan mengelola emosi juga perlu diajarkan sejak dini. Banyak faktor yang dapat memengaruhi kondisi emosional peserta didik, seperti tekanan akademik, masalah keluarga, pergaulan, maupun pengaruh media sosial. Apabila kemampuan mengelola emosi tidak dibangun sejak awal, peserta didik dapat kesulitan mengendalikan diri ketika menghadapi konflik sehingga berpotensi melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, sekolah perlu memberikan pembelajaran mengenai pengelolaan emosi, penyelesaian konflik tanpa kekerasan, serta memperkuat layanan bimbingan dan konseling sebagai wadah bagi peserta didik untuk mendapatkan pendampingan.

Temuan dalam jurnal Fajri dkk. (2021) memperkuat pandangan tersebut. Penelitian ini menjelaskan bahwa pendidikan nilai tidak boleh berhenti pada penyampaian materi di kelas, tetapi harus diwujudkan melalui budaya sekolah yang mendukung. Nilai-nilai karakter perlu diintegrasikan ke dalam seluruh mata pelajaran, kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, serta aturan sekolah sehingga peserta didik terbiasa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian tersebut juga mengutip Sankar (2004) yang menyatakan bahwa pembentukan nilai di sekolah dapat menciptakan komunikasi yang jujur, hubungan yang saling percaya, kemampuan mengekspresikan emosi secara sehat, serta meningkatkan rasa percaya diri peserta didik. Bahkan, pendidikan nilai juga dapat mengurangi kecenderungan perilaku kekerasan seperti bullying.
Jurnal ini juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada peran guru sebagai teladan. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi contoh nyata dalam menerapkan nilai-nilai moral melalui sikap, perilaku, dan interaksi sehari-hari dengan peserta didik. Selain itu, pembiasaan perilaku positif, lingkungan sekolah yang kondusif, serta dukungan layanan bimbingan dan konseling menjadi faktor penting dalam membantu perkembangan karakter peserta didik secara menyeluruh.

Berdasarkan analisis tersebut, saya berpendapat bahwa kasus kekerasan terhadap guru menjadi bukti bahwa pendidikan karakter harus diterapkan secara konsisten dalam seluruh aktivitas sekolah. Pembentukan karakter tidak dapat dibebankan kepada satu mata pelajaran saja, tetapi harus menjadi budaya yang hidup melalui keteladanan guru, pembiasaan perilaku positif, layanan bimbingan dan konseling, serta kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan ini, peserta didik diharapkan tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang berakhlak, mampu mengendalikan emosi, menghormati orang lain, dan menyelesaikan konflik tanpa menggunakan kekerasan.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Vania Ika Dianti -
Nama : Vania Ika Dianti
NPM : 2513053090

1. Analisis Jurnal

Jurnal ini membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam sistem pendidikan di Aceh yang memiliki kekhususan dalam penerapan syariat Islam. Pendidikan di Aceh tidak hanya mengikuti sistem pendidikan nasional, tetapi juga berpedoman pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 sebagai perubahan atas Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Melalui kebijakan tersebut, pendidikan diarahkan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga akhlak dan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Menurut saya, hal yang menarik dari jurnal ini adalah pendidikan nilai dan moral tidak ditempatkan hanya sebagai materi pelajaran agama. Nilai-nilai tersebut perlu diterapkan dalam berbagai kegiatan pendidikan, baik melalui pembelajaran, aturan sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, maupun interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah. Dengan demikian, nilai seperti religius, disiplin, tanggung jawab, toleransi, kejujuran, dan kepedulian sosial dapat menjadi bagian dari kebiasaan peserta didik.

Dalam penerapannya, kurikulum Aceh juga mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan berbagai mata pelajaran serta memuat unsur lokal seperti bahasa daerah, sejarah Aceh, adat, budaya, dan kearifan lokal. Budaya Islami juga diterapkan melalui kedisiplinan, komunikasi yang sopan, keteladanan, dan penciptaan lingkungan sekolah yang kondusif. Hal ini menunjukkan bahwa pembentukan moral tidak cukup dilakukan melalui teori, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku nyata peserta didik dan seluruh warga sekolah.

Namun, jurnal ini juga menunjukkan bahwa penerapan kurikulum Islami di Aceh masih menghadapi beberapa kendala. Sebagian sekolah belum memiliki pemahaman dan pola penerapan yang sama, sementara guru juga masih mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan kurikulum saja belum cukup tanpa adanya kesiapan guru, sekolah, serta pemahaman yang baik dalam penerapannya.

Berdasarkan pembahasan tersebut, saya melihat bahwa keberadaan kurikulum yang berorientasi pada nilai dan moral merupakan langkah yang baik dalam membentuk karakter peserta didik. Akan tetapi, keberhasilan pendidikan nilai tidak hanya bergantung pada adanya aturan atau kurikulum, melainkan juga pada kesiapan guru, sekolah, sarana pendukung, serta penerapannya secara konsisten. 

Menurut saya, penerapan nilai moral akan lebih efektif jika peserta didik tidak hanya diberikan pemahaman, tetapi juga melihat contoh nyata dan dibiasakan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.


2. Analisis Video

Video tersebut membahas kasus meninggalnya Ahmad Budi Cahyono, guru honorer SMAN 1 Torjun akibat kekerasan yang dilakukan oleh siswanya menunjukkan bahwa masalah perilaku di lingkungan sekolah tidak bisa dianggap sepele. Kejadian ini bukan hanya tentang tindakan kekerasan, tetapi juga menunjukkan adanya masalah dalam pengendalian emosi dan cara siswa menghadapi suatu masalah. Hal seperti ini tentunya sangat disayangkan karena sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi guru dan siswa.

Dari video tersebut, saya memahami bahwa perilaku seorang anak dapat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Cara orang tua mendidik, pergaulan dengan teman, kondisi di sekolah, sampai penggunaan teknologi dapat ikut membentuk sikap seorang siswa. Jika sejak kecil anak tidak terbiasa mengontrol emosi atau menyelesaikan masalah dengan cara yang baik, kemungkinan untuk melakukan tindakan secara spontan dan tanpa memikirkan akibatnya bisa lebih besar.

Menurut saya, guru juga mempunyai peran penting dalam membentuk sikap siswa. Guru tidak hanya bertugas menjelaskan pelajaran, tetapi juga harus bisa menghadapi berbagai karakter siswa yang berbeda. Namun, menurut saya guru juga tidak seharusnya dibebani semuanya, karena pendidikan karakter tidak akan berjalan jika hanya mengandalkan sekolah. Orang tua juga perlu ikut memperhatikan perkembangan sikap dan perilaku anak di rumah.

Kasus ini seharusnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak bisa hanya dilihat dari nilai atau prestasi siswa. Siswa juga perlu belajar bagaimana menghargai guru dan orang lain, mengontrol emosi, serta memahami bahwa setiap tindakan pasti memiliki akibat.
kalau pendidikan karakter dan pengendalian emosi lebih sering dibiasakan sejak awal, baik di rumah maupun di sekolah, kemungkinan terjadinya tindakan kekerasan seperti ini bisa lebih diminimalisir.

In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Ayla Azzura -
Nama : Ayla Azzura
NPM : 2513053089

1. Analisis Jurnal
Artikel ini membahas bagaimana Provinsi Aceh, dengan status otonomi khususnya (UU No. 44/1999 dan UU No. 18/2001), menyelenggarakan pendidikan berbasis syariat Islam sebagai respons atas kekhawatiran krisis moral remaja. Landasan hukumnya adalah Qanun Aceh No. 9/2015 (perubahan Qanun No. 11/2014) tentang Penyelenggaraan Pendidikan.

Secara konseptual, penulis memadukan teori pendidikan nilai umum (Lickona, Print, dkk.) dengan kerangka akhlak Islam empat pilar dari Al-Ghazali yaitu hikmah, keberanian, kesederhanaan, dan keadilan.

Kurikulum Aceh disebut sebagai "kurikulum nasional plus" tetap mengikuti Kurikulum 2013, ditambah muatan pendidikan Islam dan muatan lokal (bahasa daerah, sejarah Aceh, adat istiadat). Integrasi nilai Islam diterapkan lewat tiga aspek manajemen sekolah yaitu kedisiplinan, komunikasi santun, dan lingkungan madrasah yang kondusif, termasuk aturan seragam dan tata krama.

Namun temuan paling kritis adalah kesenjangan implementasi hanya sekitar 7% sekolah (SMK/SMA) yang mencoba menerapkan kurikulum ini, dan bahkan itu pun belum substantif atau belum ada pola baku, pemahaman guru masih parsial, dan sarana pendukung minim. Banyak guru hanya menyisipkan nilai religius di awal RPP tanpa integrasi menyeluruh.

Kesimpulan jurnal ini menyatakan pendidikan di Aceh secara keseluruhan sudah Islami dari sisi regulasi dan prinsip (transparansi, akuntabilitas, keteladanan), tapi ini terasa kontras dengan data implementasi lapangan yang mereka paparkan sendiri.


2. Analisis Video
Pada video tersebut terdapat kasus berupa pembunuhan yg dilakukan oleh palajar terhadap seorang guru

pada wawancara di acara OPINI terdapat 3 narasumber,

yaitu Komisioner KPAI Bidang Kependidikan mengatakan sejak tahun 2014 terdapat peningkatan kekerasan cukup tinggi lalu ditahun 2017 mengalami penurunan angka kekerasan dan beliau mengatakan apa yang dilakukan seorang anak tentu tidak berdiri sendiri bisa dilihat dari pola asuh anak tersebut di rumah , yang kedua adalah beliau mengatakan kejadian ini ada kaitan nya dengan pengelolaan guru di dalam kelas.

Lalu seorang praktisi pendidikan mengatakan seorang guru memiliki 4 standar kompetensi utama yaitu :
kompetensi kepribadian, kompetensi sosial , kompetensi nasional dan kompetensi pedagogi beliau mengatakan bahwa ke 4 kompetensi ini sekarang belum dilaksanakan secara holistik contohnya adalah ketika calon guru masuk ke sekolah guru maka perlu dilakukan tes berupa tes psikologi.

Kemudian menurut seorang psikolog yg mendasari siswa tersebut berbuat kejahatan padahal umur nya yang masih sangat muda adalah seseorang bertumbuh memiliki level tingkat kognisi tetapi pada kasus anak yang tidak dapat mengelola emosi ketika ia marah atau ketika ia benci itu muncul rangsangan yang mendorong ia untuk bereaksi seketika atau disebut implusif ketika itu sudah muncul maka ia tidak akan berfikir akibat dari perbuatan nya itu jadi langsung dilampiaskan perasaan emosi atau benci tersebut, kemampuan mengelola emosi ini yang harusnya di latihkan ke anak anak.
In reply to Ayla Azzura

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Dela Antriana -
Nama : Dela Antriana
Npm : 2513053098

“Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh”

A. Identitas 
Judul: Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh
Penulis: Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, dan Mohd Zailani Mohd Yusoff
Nama Jurnal: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Volume: 9
Nomor: 3
Tahun Terbit: 2021
Halaman: 710–724
DOI: 10.23887/jpku.v9i3.38525

B. Latar Belakang

Jurnal ini membahas mengenai pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam proses pendidikan, khususnya dalam sistem pendidikan yang diterapkan di Aceh. Pendidikan pada dasarnya tidak hanya bertujuan membuat peserta didik memiliki pengetahuan dan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk sikap, karakter, moral, dan perilaku yang baik.

Perkembangan teknologi dan perubahan kehidupan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap peserta didik. Kemudahan memperoleh informasi dapat memberikan dampak positif, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai permasalahan apabila tidak disertai dengan kemampuan memilih dan menyaring informasi. Oleh karena itu, pendidikan nilai dan moral menjadi bagian penting dalam membentuk peserta didik agar mampu bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.

Aceh memiliki karakteristik tersendiri dalam bidang pendidikan karena adanya penerapan nilai-nilai Islam yang berkaitan dengan kekhususan daerah tersebut. Kondisi tersebut membuat pendidikan di Aceh tidak hanya berpedoman pada sistem pendidikan nasional, tetapi juga memberikan ruang yang lebih besar terhadap nilai-nilai keislaman dalam proses pendidikan.

C. Tujuan Penulisan Jurnal

Jurnal ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Penulis menjelaskan bagaimana nilai dan moral ditempatkan dalam pendidikan serta bagaimana karakteristik pendidikan Aceh memengaruhi proses penanaman nilai kepada peserta didik.

Pembahasan juga diarahkan untuk melihat hubungan antara pendidikan, kurikulum, nilai keislaman, dan pembentukan karakter peserta didik. Dengan demikian, pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki kecerdasan secara akademik, tetapi juga memiliki sikap dan perilaku yang baik.

D. Metode Penelitian

Penelitian dalam jurnal ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research). Penulis mengumpulkan dan mengkaji berbagai sumber yang berkaitan dengan pendidikan nilai, pendidikan moral, kurikulum, pendidikan karakter, serta sistem pendidikan di Aceh.

Sumber-sumber yang digunakan kemudian dianalisis untuk memperoleh pemahaman mengenai penerapan pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Metode ini sesuai dengan tujuan penelitian karena pembahasannya lebih berfokus pada kajian konsep, kebijakan, dan berbagai literatur yang berkaitan dengan topik penelitian.

E. Isi dan Hasil Pembahasan

Salah satu gagasan penting dalam jurnal ini adalah bahwa pendidikan nilai dan moral mempunyai kedudukan penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Nilai tidak seharusnya hanya dipahami sebagai suatu teori yang disampaikan guru kepada siswa, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Proses pendidikan nilai dapat dilakukan melalui berbagai lingkungan. Keluarga menjadi tempat pertama bagi seseorang dalam mengenal nilai dan norma. Setelah itu, sekolah memiliki peran untuk memperkuat nilai tersebut melalui pembelajaran, budaya sekolah, pembiasaan, serta keteladanan guru. Masyarakat juga memberikan pengaruh karena peserta didik berinteraksi dan belajar dari lingkungan sosialnya.

Dalam konteks Aceh, pendidikan nilai dan moral memiliki hubungan yang kuat dengan nilai-nilai Islam. Sistem pendidikan di Aceh memiliki kekhususan karena adanya aturan daerah yang mengatur penyelenggaraan pendidikan. Nilai-nilai agama kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik.

Penanaman nilai tidak hanya dilakukan melalui mata pelajaran tertentu. Nilai dapat dimasukkan ke dalam berbagai kegiatan pendidikan, seperti pembiasaan sikap disiplin, tanggung jawab, kejujuran, sopan santun, kepedulian, serta penghormatan terhadap orang lain.

Menurut saya, hal yang menarik dari jurnal ini adalah adanya penekanan bahwa keteladanan mempunyai peran yang sangat penting dalam pendidikan moral. Guru tidak cukup hanya menjelaskan bahwa siswa harus jujur, disiplin, atau bertanggung jawab. Guru juga perlu menunjukkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dengan melihat contoh secara langsung, peserta didik akan lebih mudah memahami bagaimana sebuah nilai diterapkan.

F. Analisis Kritis

Jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan yang hanya berorientasi pada kemampuan akademik dapat menghasilkan peserta didik yang pintar secara pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki karakter yang baik.

Jika dikaitkan dengan kondisi pendidikan saat ini, pembahasan jurnal masih sangat relevan. Peserta didik hidup dalam lingkungan yang semakin dekat dengan teknologi dan media digital. Mereka dapat memperoleh berbagai informasi dengan cepat. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan membedakan informasi yang baik dan buruk serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan nilai moral menjadi semakin penting.

Menurut saya, pendidikan nilai juga tidak dapat diberikan hanya melalui ceramah. Misalnya, guru menjelaskan pentingnya kejujuran, tetapi tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkannya. Hasilnya, siswa mungkin mengetahui pengertian kejujuran, tetapi belum tentu menjadikannya sebagai kebiasaan.

Oleh karena itu, pendidikan nilai sebaiknya dilakukan melalui pemahaman, pembiasaan, keteladanan, dan pengalaman langsung. Peserta didik perlu diberikan kesempatan untuk mempraktikkan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks pendidikan dasar, hal ini menjadi semakin penting karena siswa SD masih berada dalam tahap perkembangan karakter. Guru SD tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga menjadi salah satu contoh yang dapat ditiru oleh peserta didik.

G. Kelebihan Jurnal

Menurut saya, jurnal ini memiliki beberapa kelebihan.

  1. Topik yang dibahas relevan dengan pendidikan. Pendidikan nilai dan moral merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik.
  2. Pembahasannya memiliki konteks yang jelas. Penelitian tidak hanya membahas pendidikan moral secara umum, tetapi mengaitkannya dengan sistem pendidikan di Aceh.
  3. Menghubungkan pendidikan dengan pembentukan karakter. Jurnal menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari kemampuan akademik peserta didik.
  4. Menjelaskan pentingnya lingkungan pendidikan. Pembentukan nilai tidak hanya menjadi tugas sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga dan masyarakat.
  5. Memperhatikan peran keteladanan. Guru dan lingkungan sekolah perlu memberikan contoh nyata agar nilai yang diajarkan dapat diterapkan oleh peserta didik.
H. Kekurangan Jurnal

Selain memiliki kelebihan, jurnal ini juga memiliki beberapa hal yang menurut saya masih dapat dikembangkan.
  1.  Pembahasannya lebih banyak menggunakan kajian pustaka sehingga contoh berdasarkan kondisi langsung di sekolah masih dapat diperbanyak.
  2. Jurnal akan lebih kuat apabila dilengkapi dengan data hasil observasi atau wawancara dengan guru dan peserta didik.
  3. Penelitian dapat dikembangkan dengan membandingkan penerapan pendidikan nilai di beberapa sekolah dengan kondisi yang berbeda.
  4. Dampak penerapan pendidikan nilai terhadap perubahan perilaku peserta didik juga dapat diteliti secara lebih mendalam.
I. Relevansi Jurnal dengan Pendidikan Sekolah Dasar

Jurnal ini sangat berkaitan dengan pendidikan sekolah dasar karena pembentukan karakter sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Anak-anak perlu dibiasakan untuk mengenal dan menerapkan nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kerja sama, menghormati orang lain, dan peduli terhadap lingkungan.

Guru SD dapat menerapkan pendidikan nilai melalui kegiatan sederhana. Contohnya, siswa dibiasakan mengembalikan barang yang bukan miliknya, melaksanakan piket kelas, mengerjakan tugas secara mandiri, menghargai pendapat teman, dan membantu teman yang mengalami kesulitan.

Dengan cara tersebut, nilai tidak berhenti sebagai materi pembelajaran. Nilai mulai menjadi kebiasaan yang kemudian dapat berkembang menjadi karakter.

J. Kesimpulan
Menurut saya, inti yang dapat diambil dari jurnal ini adalah bahwa nilai dan moral tidak cukup hanya diberikan sebagai pengetahuan, tetapi harus dibiasakan dan dicontohkan dalam kehidupan nyata. Seorang siswa mungkin dapat menjelaskan arti kejujuran, tetapi pendidikan nilai baru dapat dikatakan berhasil apabila siswa mampu menerapkan kejujuran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, guru memiliki peran besar sebagai pendidik sekaligus teladan bagi peserta didik.

K. Daftar Pustaka

Fajri, I., Rahmat, R., Sundawa, D., & Yusoff, M. Z. M. (2021). Pendidikan nilai dan moral dalam sistem kurikulum pendidikan di Aceh. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha, 9(3), 710–724. https://doi.org/10.23887/jpku.v9i3.38525

Identitas Video
Judul: Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern – Opini
Channel: KompasTV
Tanggal tayang: 13 Februari 2018
Topik: Kekerasan pelajar terhadap guru dan degradasi moral dalam dunia pendidikan.

Video ini membahas kasus kekerasan yang dilakukan oleh siswa terhadap gurunya, Ahmad Budi Cahyono, guru honorer SMAN 1 Torjun, Sampang, Jawa Timur. Dalam video tersebut hadir beberapa narasumber, yaitu Retno Listyarti selaku Komisioner KPAI bidang pendidikan, Dr. Itje Chodidjah, M.A. selaku praktisi pendidikan, dan Vero Andesla selaku psikolog.

Menurut Retno Listyarti, perilaku anak tidak terbentuk secara tiba-tiba, tetapi dipengaruhi oleh pola asuh keluarga dan lingkungan sekolah. Dr. Itje Chodidjah menekankan pentingnya kompetensi guru, terutama kompetensi kepribadian dan sosial. Sementara itu, Vero Andesla menjelaskan bahwa kekerasan dapat terjadi ketika anak tidak mampu mengendalikan emosi dan bertindak secara impulsif tanpa memikirkan akibatnya.

Pandangan saya, kasus tersebut menunjukkan bahwa pendidikan moral dan karakter sangat penting bagi peserta didik. Menurut saya, siswa perlu diajarkan bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang menghormati guru, mengendalikan emosi, bertanggung jawab, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan. Di sisi lain, guru juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami karakter siswa yang berbeda-beda. Jadi, pembentukan moral anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, guru, dan lingkungan.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Laili Sabrina -
Nama: Laili Sabrina
Npm: 2553053029

1. Analisis jurnal
Jurnal ini membahas pendidikan nilai dan moral di Aceh melalui sistem kurikulum islami. Karena status otonomi khusus, Aceh tidak hanya mengikuti kurikulum nasional tetapi juga menerapkan Qanun No. 9 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Pendidikan di Aceh berorientasi pada ajaran Islam dengan indikator: transparansi, akuntabilitas, keteladanan, budaya sekolah islami, dan penerapan kurikulum "nasional plus" yang memuat mata pelajaran inti agama, PKn, sains, bahasa, serta muatan lokal seperti sejarah Aceh dan adat. Tujuannya membentuk generasi muda Aceh yang berakhlak mulia sesuai syariat Islam dan budaya lokal.
Implementasinya dilakukan melalui integrasi nilai-nilai Islam ke dalam visi sekolah, RPP, kegiatan ekstrakurikuler, dan manajemen sekolah. Namun di lapangan masih ada kendala: penerapan kurikulum islami dianggap tergesa-gesa, pemahaman guru belum utuh, sarana pendukung kurang, dan pelaksanaan di tiap sekolah belum seragam. Secara konsep, pendidikan nilai dan moral di Aceh menekankan hubungan vertikal ke Tuhan dan horizontal ke sesama, dengan sumber utama Al-Qur’an dan Hadis. Kesimpulannya, pendidikan di Aceh sudah berjalan islami secara kebijakan, tetapi butuh penguatan konsep, pelatihan guru, dan konsistensi agar nilai islami benar-benar hidup dalam proses pembelajaran sehari-hari.
2. Analisis video
Video tersebut membahas kasus kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan, yaitu seorang siswa yang melakukan tindakan kekerasan terhadap gurunya hingga menyebabkan korban meninggal dunia. Kasus tersebut kemudian dikaitkan dengan munculnya pertanyaan mengenai kondisi moral peserta didik saat ini. Selain kasus tersebut, video juga memperlihatkan perilaku seorang siswa yang berani menantang kepala sekolahnya. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat permasalahan dalam sikap, sopan santun, pengendalian diri, dan rasa hormat siswa terhadap guru
Menurut saya, kasus yang dibahas dalam video tidak bisa hanya dilihat dari sisi kesalahan siswa saja. Perilaku seorang anak biasanya terbentuk melalui proses yang panjang dan dipengaruhi oleh berbagai lingkungan, seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan masyarakat. Seperti yang dijelaskan dalam video, pola pengasuhan di rumah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sikap dan karakter anak. Jika sejak kecil anak tidak mendapatkan contoh yang baik dalam mengendalikan emosi, menghargai orang lain, atau menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat, hal tersebut dapat memengaruhi perilakunya ketika berada di lingkungan sekolah.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Yolanda Patrisia -
Nama: Yolanda Patrisia
NPM: 2513053100

Analisis video dan jurnal

Video dan jurnal ini membahas perubahan dalam sikap, cara berbicara, dan tindakan para pelajar dan remaja di masa kini. Fenomena turunnya moral ini terlihat dari banyaknya kasus kekerasan antar pelajar seperti tawuran atau perundungan, hilangnya rasa hormat kepada guru dan orang tua, penggunaan teknologi dan media sosial yang tidak semestinya, hingga tidak mematuhi aturan hukum dan norma sosial.

A. Faktor-Faktor Penyebab Utama:
1. Pertumbuhan Cepat Teknologi dan Media Sosial (Digital Native)

Akses informasi tanpa batasan membuat remaja terkena pengaruh konten kekerasan, tindakan menyenangkan diri, dan gaya hidup yang berorientasi pada keuntungan secara terus-menerus. Media sosial sering kali melahirkan budaya bullying secara daring dan mendorong orang untuk mencari pengakuan cepat (viral) tanpa memperhatikan akibatnya secara moral.

2. Pergeseran Pola Asuh & Peran Keluarga

Kerja keras orang tua dan kurangnya komunikasi yang baik di rumah membuat kekurangan dalam pemenuhan figur teladan bagi anak-anak. Pengawasan yang tidak baik membuat anak lebih mudah menerima nilai-nilai dari lingkungan di luar rumah atau dunia di sekitarnya.

3. Dinamika Lingkungan Sekolah & Sistem Pendidikan

Pendidikan sering kali lebih memperhatikan hasil belajar seperti nilai dan ujian daripada membentuk karakter dan mengajarkan kebaikan budi pekerti. Guru seringkali merasa bingung dalam menjaga ketertiban karena takut jika tindakannya melanggar hukum atau norma perlindungan anak.

4. Tekanan Lingkungan Sebaya (Peer Pressure)

Keinginan untuk diterima oleh teman sebaya membuat pelajar kadang mengabaikan aturan atau norma demi mendapatkan "solidaritas" yang salah, seperti ikut bertengkar atau merendahkan teman lain.

B. Implikasi & Dampak Sosial

1. Terhadap Karakter Individu Pelajar

Menurunnya kemampuan merasakan perasaan orang lain, sikap tidak suka mendengar kritik, dan melemahnya kemampuan untuk bertahan dalam situasi sulit.

2. Terhadap Lingkungan Sekolah & Belajar

Suasana belajar semakin tidak nyaman dan hubungan antara guru dan murid terasa jauh serta kurang hangat.

3. Terhadap Masa Depan Bangsa

Ancaman dari krisis kepemimpinan serta hilangnya nilai-nilai ketimuran seperti sopan santun, gotong royong, dan tata krama terjadi ketika para pelajar mulai masuk ke dunia kerja dan berinteraksi dalam masyarakat.

C. Solusi & Komitmen Bersama
1. Keluarga (Benteng Utama)
Memperkuat pendidikan agama, nilai moral, dan hubungan emosional di rumah, serta melakukan pengawasan terhadap penggunaan perangkat digital oleh anak-anak.

2. Sekolah & Tenaga Pendidik
Menggabungkan pendidikan karakter ke dalam semua aktivitas belajar mengajar, bukan hanya mengajar teori di dalam kelas.
Menerapkan aturan sekolah yang tegas namun humanis.

3. Masyarakat & Pemerintah
Membuat lingkungan sekitar yang nyaman dan saling mendukung.
Menyediakan aturan digital dan mengawasi isi konten media secara konsisten untuk melindungi remaja dari pengaruh yang tidak baik.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Endang Aulia Rahma -
Nama : Endang Aulia Rahma
NPM : 2513053107


1. Analisis Jurnal

Jurnal ini membahas tentang pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter peserta didik di Aceh melalui penerapan kurikulum Islami. Perubahan sosial dan perkembangan teknologi dapat memengaruhi perilaku dan moral siswa, sehingga pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga harus membentuk karakter dan akhlak.

Pemerintah Aceh menerapkan pendidikan yang berpedoman pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan pendidikan. Nilai-nilai Islam diterapkan dalam proses pembelajaran, budaya sekolah, kegiatan siswa, serta melalui keteladanan guru. Guru memiliki peran penting karena tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga menjadi contoh dan membimbing siswa dalam membentuk perilaku yang baik.

Namun, penerapan kurikulum Islami masih memiliki kendala. Beberapa sekolah dan guru belum memahami penerapannya secara menyeluruh, serta masih terdapat keterbatasan sarana, metode, dan kesiapan dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, diperlukan persiapan dan pelatihan yang lebih baik agar pendidikan nilai dan moral dapat diterapkan secara nyata dalam kehidupan sekolah.

2. Analisis Video

Video “Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern” membahas permasalahan menurunnya moral pelajar yang ditunjukkan melalui kasus kekerasan terhadap guru dan perilaku siswa yang kurang menghormati guru. Berdasarkan pembahasan dalam video, perilaku siswa tidak terbentuk secara tiba-tiba. Ada berbagai faktor yang memengaruhinya, seperti pola asuh keluarga, lingkungan sekolah, pergaulan, perkembangan teknologi, tekanan pendidikan, serta kemampuan siswa dalam mengendalikan emosi. Di video juga menekankan bahwa guru harus memiliki empat kompetensi, yaitu pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu memahami karakter siswa, mengelola kelas, dan memberikan contoh perilaku yang baik.

Menurut saya, permasalahan moral pelajar tidak dapat hanya menyalahkan siswa. Pembentukan karakter membutuhkan peran keluarga, guru, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Pendidikan juga perlu memberikan perhatian terhadap pendidikan karakter dan kemampuan mengelola emosi, bukan hanya mengejar prestasi akademik. Dengan demikian, siswa diharapkan tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga memiliki sikap, moral, dan tanggung jawab sosial yang baik.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Rahma Dhiya Az-Zahra -
Nama: Rahma Dhiya Az-Zahra
NPM: 2513053087

Hasil analisis jurnal dan video:

Pendidikan nilai dan moral merupakan hal yang penting dalam membentuk karakter siswa. Dalam artikel dijelaskan bahwa perkembangan zaman dan perubahan sosial dapat memengaruhi perilaku serta moral remaja. Hal ini juga berkaitan dengan video tentang degradasi moral pelajar di zaman modern, di mana perubahan lingkungan dan perkembangan zaman dapat menjadi tantangan dalam mempertahankan sikap dan perilaku yang baik.

Menurut saya, masalah yang dibahas dalam artikel dan video saling berkaitan karena keduanya menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa. Di Aceh, salah satu upayanya dilakukan melalui penerapan kurikulum Islami yang memasukkan nilai-nilai agama, budaya, dan moral ke dalam proses pembelajaran. Nilai tersebut juga diterapkan melalui kebiasaan di sekolah dan keteladanan guru.

Namun, penerapannya masih memiliki kendala. Dalam artikel disebutkan bahwa masih banyak guru yang kesulitan memahami cara mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran, sehingga terkadang hanya dicantumkan dalam perangkat pembelajaran tanpa penerapan yang benar-benar terlihat. Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa untuk mengatasi degradasi moral pelajar, tidak cukup hanya dengan membuat kurikulum atau aturan. Nilai moral harus benar-benar dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui contoh dari guru, lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Jadi, artikel dan video sama-sama menunjukkan bahwa pembentukan moral pelajar membutuhkan proses yang terus-menerus. Jika nilai-nilai yang baik hanya disampaikan sebagai teori, kemungkinan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari akan lebih kecil. Karena itu, pendidikan seharusnya membantu siswa memahami nilai, membiasakannya, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Amellia Saputri -
Nama : Amellia Saputri
NPM : 2513053102

Menurut saya sebagai calon pendidik, artikel “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter peserta didik. Pendidikan di Aceh memiliki ciri khas karena selain mengikuti sistem pendidikan nasional, juga menerapkan kurikulum yang berlandaskan nilai-nilai Islam sesuai dengan Qanun Aceh.

Hal yang menarik menurut saya adalah pendidikan nilai tidak hanya diberikan melalui mata pelajaran agama, tetapi juga diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan sekolah, aturan, dan keteladanan guru. Dengan begitu, siswa tidak hanya memahami nilai secara teori, tetapi juga diharapkan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selain artikel, video yang diberikan juga dapat digunakan sebagai media pendukung untuk memahami materi pendidikan nilai dan moral. Penggunaan video membuat pembahasan lebih mudah dipahami karena materi tidak hanya disampaikan melalui tulisan, tetapi juga secara audio-visual.

Namun, berdasarkan artikel, penerapan kurikulum Islami di Aceh masih memiliki kendala, seperti kurangnya pemahaman guru dan belum meratanya pola penerapan kurikulum di setiap sekolah.

Kesimpulannya, menurut saya artikel dan video tersebut sama-sama dapat membantu memahami pentingnya pendidikan nilai dan moral. Pendidikan karakter tidak cukup hanya diajarkan sebagai teori, tetapi harus diterapkan melalui pembelajaran, kebiasaan, lingkungan sekolah, dan keteladanan guru agar benar-benar membentuk karakter peserta didik.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Mufida Mufida -
Nama: Mufida
NPM: 2513053083


Jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter siswa. Perubahan zaman dan perkembangan teknologi dapat mempengaruhi cara berpikir dan perilaku remaja. Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, moral, dan karakter siswa.

Di Aceh, pendidikan berpedoman pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan. Nilai-nilai Islam diterapkan dalam kegiatan pembelajaran, budaya sekolah, kegiatan siswa, dan keteladanan guru. Dalam hal ini, guru memiliki peran yang penting karena guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi contoh bagi siswa dalam berperilaku.

Namun penerapan nilai pendidikan dan moral masih menghadapi beberapa kendala. Masih ada guru yang mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran. Nilai moral terkadang hanya dicantumkan dalam perangkat pembelajaran, namun belum diterapkan secara nyata dalam kegiatan sehari-hari. Menurut saya, hal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral tidak cukup hanya dibuat dalam bentuk kurikulum atau aturan. Nilai-nilai tersebut harus dibiasakan agar dapat menjadi bagian dari perilaku siswa.

Menurut saya, guru juga perlu memberikan contoh yang baik kepada siswa. Siswa akan lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai moral jika mereka melihat contoh langsung dari guru dan lingkungan sekolah. Dengan demikian, pendidikan nilai dan moral tidak hanya dipahami sebagai materi pelajaran, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


Video tersebut mengangkat kasus Ahmad Budi Cahyono, seorang guru honorer di SMAN 1 Torjun yang meninggal setelah mengalami kekerasan dari siswanya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa tindakan kekerasan dalam dunia pendidikan merupakan persoalan serius yang tidak hanya berkaitan dengan perilaku siswa, tetapi juga dengan pembentukan karakter dan lingkungan tempat siswa tumbuh.

Salah satu hal yang dapat dipelajari dari kasus tersebut adalah pentingnya peran keluarga dan sekolah dalam membentuk sikap peserta didik. Kurangnya kemampuan dalam mengendalikan emosi dapat membuat seseorang mengambil tindakan secara spontan tanpa mempertimbangkan akibatnya. Pergaulan, perkembangan teknologi, serta tekanan dalam kegiatan belajar juga dapat mempengaruhi perilaku siswa.

Guru juga memiliki peranan penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan kondusif. Selain menguasai materi, guru perlu mampu memahami karakter peserta didik, berkomunikasi dengan baik, serta menangani berbagai permasalahan yang muncul di kelas.

Menurut saya, kasus ini menjadi pelajaran bagi semua pihak bahwa karakter pendidikan harus mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan pendidikan akademik. Orang tua, guru, sekolah, dan siswa perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang saling menghormati.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Mayla Amrina Zahra 2513053097 -
Mayla Amrina Zahra
2513053097

Analisis Jurnal
"Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh”

1. Latar belakang masalah

Jurnal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi dan perubahan sosial telah menyebabkan pergeseran dalam cara berinteraksi dan gaya hidup remaja. Situasi ini berhubungan dengan isu moral dan perilaku siswa. Oleh karena itu, sekolah dianggap sangat penting dalam membentuk karakter dan moralitas siswa.

Menarik untuk dicatat bahwa Aceh memiliki kekhususan dalam sistem pendidikannya karena otonomi yang dimiliki serta penerapan pendidikan yang berdasarkan syariat Islam. Dengan demikian, pendidikan di Aceh tidak hanya mengikuti pola nasional, tetapi juga disesuaikan dengan budaya dan nilai-nilai Islam yamg hidup di Aceh.

2. Konsep pendidikan nilai dan moral

Jurnal tersebut menyatakan bahwa nilai-nilai tidak hanya merupakan konsep, tetapi harus dapat terlihat dalam perilaku sehari-hari. Pendidikan nilai berkaitan erat dengan pikiran, emosi, sikap, dan tindakan individu. Oleh karena itu, nilai-nilai seharusnya diajarkan tidak hanya melalui satu mata pelajaran, melainkan diintegrasikan ke dalam seluruh aspek pendidikan.

Dalam pandangan saya, poin ini menjadi aspek penting dalam jurnal. Siswa tidak cukup hanya mengetahui pentingnya kejujuran, disiplin, toleransi, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut harus diterapkan melalui aktivitas sehari-hari di sekolah.

3. Pendidikan nilai dalam kurikulum Aceh

Kurikulum di Aceh memiliki ciri khas karena mengombinasikan kurikulum nasional dengan pendidikan Islam dan muatan lokal. Jurnal tersebut menyebutnya sebagai semacam "kurikulum nasional tambahan. " Materi tentang pendidikan Islam serta budaya lokal juga diterapkan di berbagai tingkat dan mata pelajaran.

Oleh karena itu, nilai-nilai Islam diharapkan tidak hanya muncul dalam pelajaran agama, tetapi juga meresap dalam semua kegiatan pembelajaran, budaya sekolah, aktivitas ekstrakurikuler, dan kehidupan sehari-hari siswa.

4. Peran guru

Guru memainkan peran yang sangat penting dalam keberhasilan pendidikan nilai. Mereka bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga berfungsi sebagai teladan bagi siswa. Jurnal ini menggarisbawahi bahwa pembentukan karakter memerlukan pembiasaan, keteladanan, penguatan, dan keterlibatan berbagai pihak.

Saya rasa, ini sangat logis. Akan sulit bagi guru untuk mengajarkan disiplin atau sopan santun jika perilakunya sendiri tidak mencerminkan hal tersebut. Jadi, pendidikan karakter seharusnya tidak hanya bergantung pada materi atau peraturan sekolah, tetapi juga melalui contoh yang nyata.

5. Bentuk penerapan di sekolah

Di Aceh, pendidikan Islam diterapkan melalui berbagai aspek, seperti: budaya disiplin, komunikasi yag sopan, lingkungan sekolah yang mendukung dan Islami, aturan sekolah,
pembiasaan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, kegiatan ekstrakurikkuler yang berhubungan dengan budaya Aceh dan syariat Islam.

Ini berarti bahwa pendidikan nilai menurut jurnal ini tidak hanya berlangsung saat guru mengajar di kelas, tetapi juga melalui keseluruhan budaya di sekolah.

7. Permasalahan dalam penerapannya

Meskipun konsep kurikulum Islami di Aceh sudah memilki dasar hukum yang kuat, saya berpendapat bahwa pelaksanaannya masih menghadapi berbagai tantangan. Jurnal ini menyebutkan bahwa implementasi kurikulum Islami dianggap dilakukn terburu-buru karena persiapannya belum optimal. Bahkan, menurut hasil monitoring yang dicantumkan dalam tulisan ini, hanya sekitar 7% dari sekolah yang diteliti telah mencoba menerapkan Kuikulum Aceh. Pelaksanaannya pun belum terstruktur dengan baik.

Guru juga masih kesulitan mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pelajaran. Dlam beberapa situasi, nilai keislaman hanya dicantumkan di awal pembelajaran atau dalam renccana pelaksanaan pembelajaran, namun belum tampak dalam keseluruhan proses belajar mengajar.
Menurut saya, permasalahan ini mengindikasikan bahwa sekadar merumuskan kebijakan tidaklh cukup. Pemerintah juga harus menyediakan panduan yang jelas, memberikan pelatihan untuk guru, menyediakan fasilitas yang memadai, serta melakukan evailuasi secara terus-menerus.

8. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal

Beberapa keuntungan dari jurnal ini menurut pandangan saya adalah:

Pertama, tema yang diangkat sangat jelas dan relevan dengan isu pendidikan karakter serta moral.

Kedua, pembahasan yang dihadirkan tidak hanya terbatas pada satu perspektif pendidikan nilai, tetapi juga mengaitkannya dengan pendidikan nasional, budaya Aceh, syariat Islam, kurikulum, peran sekolah, dan guru.

Ketiga, jurnal ini memberikan pemahaman tentang dasar hukum pendidikan Islam di Aceh, khususnya pada Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015 yang merupakan perubahan dari Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2014.

Keempat, jurnal ini tidak hanya fokus pada keberhasilan konsep, tetapi juga menyoroti tantangan yang ada dalam pelaksanaannya, sehingga analisis yang diberikan terasa lebih realistis.

Namun, menurut saya, jurnal ini masih memiliki beberapa kekurangan.

• Penjelasannya cukup panjang dan beberapa bagian terasa berulang-ulang.

• Ada beberapa bagian yang kurang jelas dalam penggunaan bahasa, sehingga cukup sulit untuk dipahami.

• Pembahasan tentang tantangan penerapan kurikulum sebenarnya menarik, namun bisa diperluas dengan memberikan lebih banyak contoh nyata dari sekolah.

Jurnal ini lebih banyak menyoroti gambaran umum pola kebijakan dan penerapan, sehingga pembaca mungkin masih ingin memahami lebih lanjut tentang dampaknya terhadap perubahan perilaku siswa.

10. Kesimpulan Analisis

Secara keseluruhan, jurnal ini menunjukkan bahwa pendiidikan nilai dan moral adalah komponen penting dalam membentuk karakter para siswa. Di Aceh, pendidikan nilai tersebut didukung oleh penerapan kurikulum Islami yang sesuai dengan syariat Islam, budaya, serta karakter masyarakat Aceh. Diharapkan nilai-nilai tersebut tidak hanya diterapkan dalam bentuk teori, tetapi juga diwujudkan melalui proses pembelajaran, keteladan guru, regulaasi sekolah, budaya dalam lingkungan sekolah, serta aktivitas siswa.

Menurut pendapat saya, gagasan utama dari jurnal ini sangat baik, karena pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada pencapaian nilai akademik. Namun, keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada implementasinya. Kurikulum yang baik tidak akan memberikan hasil maksimal jika guru belum paham cara menerapkannya, fasilitas belum mencukupi, dan nilai-nilai yang diajarkan belum menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

Analisis Video
“Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern”

Video ini membicarakan mengenai penurunan moral siswa yang terlihat dari tindakan keras dan sikap tidak sopan terhadap guru. Video tersebut membahas beberapa kasus di mana siswa melakukan kekerasan terhadap guru, lalu menanyakan mengapa anak bisa sampai melakukan perlakuan seperti itu.

Menurut sumber informasi, tindakan kekerasan terhadap anak tidak terjadi secara mendadak. Ada beberapa hal yang mempengaruhi hal itu, terutama cara orangtua mengasuh anak di rumah dan cara guru mengajar serta mengelola kelas. Guru juga harus diberi keterampilan yang lebih lengkap, bukan hanya ilmu tentang cara mengajar, tetapi juga kemampuan dalam hal kepribadian dan interaksi sosial agar bisa menghadapi berbagai jenis siswa.
Dari segi psikologis, video tersebut menjelaskan bahwa anak masih dalam tahap perkembangan kemampuan berpikir dan mengelola emosi. Ketika anak tidak bisa mengendalikan perasaan marah, benci, atau stres, mereka mungkin langsung bertindak tanpa memikirkan efeknya. Banyaknya informasi yang diterima anak dan tuntutan belajar yang semakin berat bisa jadi beban jika tidak bisa mengelola perasaan dengan baik.

Menurut saya, video ini menunjukkan bahwa soal perilaku moral siswa tidak bisa hanya dipandang dari kesalahan mereka saja. Pendidikan karakter harus melibatkan keluarga, guru, sekolah, serta lingkungan sekitar. Anak perlu diajarkan agar menghormati guru dan bisa mengendalikan diri sendiri, tetapi guru dan orang tua juga harus memberi contoh yang baik serta membimbing anak dengan cara yang benar.

Video ini juga sesuai dengan jurnal yang bahas sebelumnya, karena jurnal tersebut menekankan bahwa pendidikan nilai dan moral tidak cukup hanya diberikan dalam bentuk teori saja. Nilai harus dibentuk melalui kebiasaan, contoh dari guru, budaya sekolah, dan lingkungan belajar.

Secara keseluruhan, penurunan moral siswa adalah masalah yang cukup rumit. Solusinya bukan hanya memberi sanksi saat ada kesalahan, tetapi yang lebih penting adalah membentuk karakter, kemampuan mengatur perasaan, contoh yang baik, dan lingkungan belajar yang mendukung dari awal.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Sherana Qanita Aluna -
Nama : Sherana Qanita Aluna
NPM : 2513053092

Link video animasi kelompok 1 : https://drive.google.com/file/d/1FgW94qbDEWdICuUAWhA6PthqsMk7EnZ-/view?usp=drivesdk 

1. Analisis Jurnal

Jurnal Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter peserta didik. Menurut jurnal ini, pendidikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk sikap, perilaku, akhlak, serta karakter peserta didik. Perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat dapat memengaruhi perilaku remaja, sehingga pendidikan nilai dan moral perlu diterapkan dalam kehidupan sekolah secara berkelanjutan.

Dalam penerapannya, pendidikan di Aceh memiliki kekhasan karena selain mengikuti sistem pendidikan nasional, juga disesuaikan dengan nilai-nilai Islam, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Aceh. Hal tersebut diwujudkan melalui kurikulum Islami yang berlandaskan Qanun Aceh. Nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran agama, tetapi juga diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan sekolah. Misalnya, nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, sopan santun, kepedulian, dan kerja sama dapat diterapkan melalui proses pembelajaran maupun kegiatan sehari-hari di sekolah. Selain itu, adanya muatan lokal seperti sejarah Aceh, bahasa daerah, adat, budaya, dan kearifan lokal juga menunjukkan bahwa pendidikan di Aceh berusaha mempertahankan karakter budaya masyarakatnya.

Menurut saya, penerapan pendidikan nilai seperti yang dijelaskan dalam jurnal ini sangat penting karena nilai moral tidak cukup hanya dipahami sebagai teori, tetapi harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Guru memiliki peran yang sangat besar karena peserta didik dapat belajar melalui contoh yang diberikan oleh guru. Namun, jurnal juga menunjukkan bahwa penerapan kurikulum Islami di Aceh masih memiliki beberapa kendala. Sebagian guru belum sepenuhnya memahami cara mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran, sementara sarana dan prasarana pendukung juga masih terbatas. Akibatnya, penerapan kurikulum belum berjalan secara maksimal dan setiap sekolah dapat memiliki cara penerapan yang berbeda.

Kelebihan jurnal ini adalah pembahasannya cukup lengkap karena tidak hanya menjelaskan konsep pendidikan nilai dan moral, tetapi juga menghubungkannya dengan kondisi pendidikan di Aceh. Jurnal juga menggunakan berbagai referensi untuk memperkuat pembahasannya. Namun, kekurangannya adalah terdapat beberapa bagian dengan kalimat yang panjang dan kurang efektif sehingga cukup sulit dipahami. Selain itu, pembahasan mengenai solusi terhadap kendala penerapan kurikulum Islami masih belum terlalu mendalam.

Secara keseluruhan, jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral harus menjadi bagian dari seluruh proses pendidikan, bukan hanya materi yang disampaikan di dalam kelas. Keberhasilannya juga tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi membutuhkan keteladanan guru serta dukungan dari sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga memiliki karakter, sikap, dan moral yang baik.

2. Analisis Video

Video “Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern” membahas mengenai permasalahan moral yang terjadi pada pelajar di tengah perkembangan zaman yang semakin modern. Perubahan zaman dan perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan bagi kehidupan pelajar, terutama dalam memperoleh informasi dan berkomunikasi. Namun, perkembangan tersebut juga dapat memberikan pengaruh terhadap sikap dan perilaku apabila tidak digunakan dengan bijak. Kondisi ini menjadi perhatian karena pelajar merupakan generasi yang sedang berada dalam proses pembentukan karakter dan masih membutuhkan bimbingan dari lingkungan sekitarnya.

Menurut saya, degradasi moral pada pelajar tidak dapat disebabkan oleh satu faktor saja. Lingkungan pergaulan, keluarga, sekolah, penggunaan media sosial, serta perkembangan teknologi dapat saling memengaruhi. Kurangnya pengawasan dan pendidikan moral juga dapat membuat pelajar lebih mudah mengikuti perilaku yang kurang baik dari lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, pelajar perlu mendapatkan pemahaman mengenai nilai, norma, tanggung jawab, dan sikap yang baik agar dapat menentukan perilakunya dengan tepat.

Video ini juga menunjukkan bahwa perkembangan teknologi sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya negatif. Teknologi dapat memberikan manfaat yang besar apabila digunakan untuk kegiatan yang positif, seperti belajar, mencari informasi, mengembangkan kreativitas, dan berkomunikasi. Permasalahannya terletak pada bagaimana teknologi tersebut digunakan. Pelajar perlu memiliki kemampuan untuk menyaring informasi dan tidak mudah mengikuti berbagai hal yang sedang populer tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Menurut saya, upaya mengatasi degradasi moral pelajar membutuhkan peran dari berbagai pihak. Orang tua perlu memberikan perhatian, pengawasan, dan contoh yang baik di lingkungan keluarga. Guru dan sekolah juga perlu memberikan pembinaan karakter serta menciptakan lingkungan pendidikan yang positif. Sementara itu, pelajar sendiri harus memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap tindakan dan menggunakan teknologi secara bijak.

Secara keseluruhan, video ini memberikan gambaran bahwa perkembangan zaman harus diimbangi dengan pendidikan moral dan pembentukan karakter. Kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat pelajar meninggalkan nilai-nilai kesopanan, tanggung jawab, kejujuran, dan kepedulian terhadap orang lain. Oleh karena itu, pendidikan dan pembinaan moral perlu dilakukan secara terus-menerus agar pelajar dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan karakter yang baik.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Cinta Adelia Dewantari -

Nama : Cinta Adelia Dewantari 

NPM   : 2513053108


1. Analisis Jurnal


Jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas penerapan pendidikan nilai dan moral melalui kurikulum Islami di Aceh. Pendidikan di Aceh tetap mengikuti sistem nasional, tetapi juga disesuaikan dengan Qanun Aceh dan nilai-nilai Islam. 


Kelebihan: pembahasannya relevan, memiliki dasar kebijakan yang jelas, dan mengaitkan pendidikan dengan budaya serta karakter masyarakat Aceh.


Kekurangan: penerapan kurikulum Islami masih belum maksimal. Banyak guru belum memahami cara mengintegrasikan nilai Islam secara konkret dalam pembelajaran, dan beberapa sekolah masih kekurangan sarana pendukung.


Kesimpulan: jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai dan moral di Aceh sudah memiliki landasan yang kuat, tetapi masih membutuhkan perbaikan dalam pelaksanaannya agar nilai-nilai Islam benar-benar diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dan kehidupan sekolah.



2. Analisis Video


Video tentang kasus meninggalnya Ahmad Budi Cahyono menunjukkan bahwa kekerasan di lingkungan sekolah tidak hanya disebabkan oleh perilaku siswa, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan karakter, pola pengasuhan, lingkungan sosial, dan kemampuan mengendalikan emosi. Hal ini sejalan dengan jurnal yang menjelaskan bahwa pendidikan nilai dan moral harus membentuk perilaku siswa, bukan hanya memberikan pengetahuan tentang nilai.


Video juga menekankan pentingnya peran guru dalam membentuk dan mengarahkan karakter siswa. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi teladan dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa. Hal ini sesuai dengan jurnal yang menempatkan guru sebagai salah satu faktor penting dalam keberhasilan pendidikan nilai.


Kesimpulan:

Video dan jurnal sama-sama menunjukkan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, moral, pengendalian emosi, dan perilaku siswa. Kasus kekerasan tersebut menjadi contoh bahwa pendidikan nilai perlu diterapkan secara nyata dalam kehidupan sekolah, bukan hanya dicantumkan dalam kurikulum.

In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Putri Putri -
Nama: Putri Nur Hasanah
NPM : 2553053008

1. Analisis jurnal
Menurut saya, jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan tidak seharusnya hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi juga harus membentuk siswa agar mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk serta menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan karakter membutuhkan proses yang panjang melalui pembiasaan, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung.

Sebagai mahasiswa PGSD, saya melihat isi jurnal ini sangat berkaitan dengan tugas seorang guru sekolah dasar. Guru bukan hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai contoh bagi siswa. Oleh karena itu, pendidikan moral sebaiknya tidak hanya diberikan melalui materi pelajaran, tetapi diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dan kehidupan sekolah sehari-hari. Menurut saya, karakter yang baik akan lebih mudah terbentuk apabila siswa melihat contoh, melakukan, dan membiasakan nilai-nilai moral tersebut, bukan hanya menghafalnya.

2. Analisis Video
Video tersebut membahas kasus kekerasan di lingkungan pendidikan, yaitu seorang siswa yang melakukan kekerasan terhadap gurunya hingga menyebabkan korban meninggal dunia. Video juga memperlihatkan perilaku siswa yang berani menentang kepala sekolah. Menurut saya, kasus tersebut menunjukkan masih adanya masalah dalam sikap, sopan santun, rasa hormat, dan kemampuan siswa dalam mengendalikan diri.

Menurut saya, permasalahan tersebut tidak bisa hanya dilihat dari kesalahan siswa. Perilaku anak terbentuk melalui proses yang dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan masyarakat. Keluarga memiliki peran penting karena menjadi tempat pertama anak belajar tentang sikap dan perilaku. Pola asuh serta contoh yang diberikan orang tua dapat memengaruhi cara anak menghadapi masalah dan mengendalikan emosinya.

Video ini juga berkaitan erat dengan pendidikan nilai dan moral. Pendidikan moral bukan hanya mengajarkan siswa mengenai perbuatan yang benar dan salah, tetapi juga membimbing mereka agar mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika menghadapi masalah atau merasa marah, siswa harus belajar mengendalikan emosi dan menyelesaikan masalah tanpa menggunakan kekerasan.

Menurut saya, kemampuan mengelola emosi merupakan salah satu hal yang penting dalam pembentukan moral. Siswa perlu diajarkan untuk memiliki empati, menghargai orang lain, mengontrol diri, menyelesaikan konflik dengan baik, dan bertanggung jawab terhadap tindakannya.

Guru juga memiliki peran penting karena tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi contoh bagi siswa. Guru perlu memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional agar mampu menghadapi berbagai karakter siswa. Namun, pendidikan moral tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada guru. Keluarga dan masyarakat juga harus ikut memberikan contoh dan lingkungan yang baik.

Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial juga perlu diperhatikan. Anak dapat dengan mudah melihat berbagai perilaku melalui media sosial yang belum tentu sesuai dengan nilai dan norma. Karena itu, anak perlu dibimbing agar mampu memilih dan menyaring informasi yang mereka dapatkan.

Berdasarkan video tersebut, saya menyimpulkan bahwa permasalahan moral peserta didik merupakan persoalan yang kompleks dan tidak dapat disebabkan oleh satu faktor saja. Pendidikan moral perlu dilakukan secara terus-menerus melalui pembelajaran, pembiasaan, keteladanan, dan kerja sama antara keluarga, sekolah, serta masyarakat. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, tanggung jawab, rasa hormat, dan mampu mengendalikan diri.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Een Bahriyah -
Nama : Een Bahriyah
Npm : 2513053104
Link Video: https://drive.google.com/file/d/1FgW94qbDEWdICuUAWhA6PthqsMk7EnZ-/view?usp=drivesdk

1.Analisis Jurnal
Peran lembaga pendidikan juga penting untuk memperkuat dengan perubahan sosial yang terjadi di Aceh. Perubahan sosial yang pesat dalam gaya hidup menyebabkan ketidak bercintaan dalam sosial budaya di kalangan remaja. Fenomena tersebut terlihat dari akhlak, gaya hidup, dan aktivitas sosial remaja dalam kehidupan sehari-hari (Nuriman & Fauzan, 2017).
Penyelenggaraan pendidikan di provinsi Aceh, Indonesia, pada dasarnya mengacu pada sistem pendidikan nasional, sama dengan provinsi lain di Indonesia. Tetapi, semenjak Aceh diberikan status khusus lewat Undang- Undang No 44 Tahun 1999 tentang Keistimewaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam serta Undang- Undang No 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus, Pemerintah Aceh mempunyai kewenangan otonom dalam melaksanakan pendidikan dengan keunikan serta otonomi khusus provinsi Aceh dengan hukum Islam (Ahamd, 2019; Bahri, 2013) Aceh memiliki ciri-ciri khusus dalam penyelenggaraan syariat Islam (Ulya, 2016) dan penerapan pendidikan Islam dalam rangka pembentukan generasi muda Aceh yang berakhlak mulia mengikuti budaya Aceh dan syariat Islam.
Di Indonesia, pendidikan nilai telah diatur dalam sistem pendidikan nasional. Ada delapan belas nilai yang perlu diintegrasikan guru dalam pembelajaran. Kedelapan belas nilai tersebut adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, pekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, ingin tahu, nasionalis, patriotik, menghargai prestasi, ramah dan komunikatif, cinta damai, gemar membaca, sadar lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab (Kemendiknas, 2010). Nilai-nilai tersebut dipupuk dengan memadukan nilai dengan isi kurikulum tertulis, kurikulum tidak tertulis (hidden curriculum), serta kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Artinya nilai yang akan dikembangkan harus diwujudkan dalam isi setiap mata pelajaran melalui proses pembelajaran di kelas, tugas di luar kelas, dan juga terwujud dalam aturan sekolah. Sebagaimana dijelaskan oleh Sutiyono (2013), desain pendidikan nilai hendaknya tidak berbentuk mata pelajaran tertentu, tetapi pengamalan nilai-nilai tersebut menyerap sebagai isi dalam setiap kegiatan pembelajaran di sekolah. Nilai-nilai moral dalam Islam bertujuan untuk menentukan aktivitas manusia dalam masyarakat Muslim, dan untuk mempromosikan dan mengontrol perilaku mereka untuk
kepentingan seluruh masyarakat dan individu, dan untuk membawa kesimpulan yang baik bagi semua individu di kehidupan lain.
Secara singkat, penerapan pendidikan nilai dan moral dalam pendidikan di Aceh melalui kurikulum islami sesuai dengan yang diamanatkan oleh qanun Aceh tentang pendidikan.
Kurikulum islami ini mengatur satuan pendidikan yang ada di Aceh melalui dinas pendidikan untuk diterapkan di sekolah. Proses penerapan ini melalui perumusan visi sekolah yang berdasarkan nilai-nilai islami, perumusan strategi pembelajaran berbasis nilai islami, integrasi dalam setiap mata pelajaran yang ada dan penambahan muatan lokal berbasis budaya syariat islam di Aceh melalui peraturan gubernur (Yusuf et al., 2019).

2.Analisis Video
di dalam video menunjukkan kekerasan murid terhadap guru yang dimana ini bukan masalah yang sepele, pola lingkungan di rumah dan di sekolah membentuk perilaku siswa, dan bagaimana guru dalam mengelola kelas.
Guru-guru di Indonesia belum mendapatkan pembekalan yang merata sebagai guru atau pelatihan setelah menjadi guru, dimana untuk menangani kasus murid yang berbeda wataknya pembekalan saja tidak cukup.
pembimbingan dalam anak perlu di perhatikan, perilaku terhadap orang yang lebih dewasa maupun orang yang lebih tua memperlakukan anak murid dengan baik.
Pengelolaan emosional juga penting dalam mengajar.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Vania Ika Dianti -
NAMA : VANIA IKA DIANTI

NPM : 2513053090

1. Analisis Jurnal

Jurnal ini membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter peserta didik. Penulis menjelaskan bahwa perkembangan sosial dan IPTEK dapat memengaruhi perilaku dan moral remaja, sehingga pendidikan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga perlu menanamkan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Di Aceh, pendidikan nilai dan moral diterapkan melalui kurikulum yang berorientasi pada nilai-nilai Islam serta didukung dengan budaya sekolah, keteladanan guru, dan pembiasaan.

Menurut saya, isi jurnal ini menunjukkan bahwa pendidikan moral akan lebih efektif jika tidak hanya disampaikan sebagai teori, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan siswa.

Beberapa hal pentingnya:
Nilai yang ditanamkan: religius, jujur, disiplin, toleransi, mandiri, cinta damai, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Peran guru: guru harus menjadi contoh atau teladan bagi siswa karena siswa juga belajar dari perilaku yang mereka lihat.

Cara penerapan: melalui pembiasaan, keteladanan, kegiatan pembelajaran, serta budaya sekolah.

Contohnya: siswa dibiasakan disiplin, menghargai guru dan teman, bertanggung jawab terhadap tugas, serta menerapkan sikap peduli dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, inti jurnal ini adalah pendidikan nilai dan moral harus dilakukan secara terus-menerus dan melibatkan semua pihak, bukan hanya guru. Jadi keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari nilai akademik siswa, tetapi juga dari bagaimana sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.


2. Analisis Video

Menurut saya, video ini menggambarkan adanya degradasi moral pada sebagian pelajar, terutama dalam hal menghormati guru, mengendalikan emosi, sopan santun, dan tanggung jawab.

Hal ini dapat dilihat dari beberapa contoh:
1. Kasus Ahmad Budi Cahyono
Seorang guru honorer di SMAN 1 Torjun, Sampang, yang mengalami kekerasan dari siswanya hingga meninggal dunia.
Nilai yang bermasalah: rasa hormat, pengendalian diri, empati, dan tanggung jawab.
Faktor yang mungkin memengaruhi: kurangnya pengendalian emosi, lingkungan pergaulan, pola asuh, serta kurangnya penanaman nilai moral sejak dini.

2. Siswa yang menantang kepala sekolah untuk berduel
Dalam video terlihat seorang siswa bersikap menantang dan seolah tidak takut kepada kepala sekolah.
Nilai yang bermasalah: sopan santun, rasa hormat, dan kedisiplinan.
Faktor yang mungkin memengaruhi: lingkungan pergaulan, pengaruh media sosial, kurangnya keteladanan, serta kurangnya pembiasaan sikap menghargai orang lain.
Dari kedua contoh tersebut, dapat dilihat bahwa pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan nilai dan moral.

Menurut saya, masalah ini tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan lingkungan. Pendidikan nilai dan moral harus dilakukan melalui contoh, pembiasaan, dan pengawasan, bukan hanya melalui nasihat. Jadi, tujuan pendidikan seharusnya bukan hanya membuat siswa pintar, tetapi juga membentuk siswa yang punya karakter, menghargai orang lain, dan mampu membedakan mana yang baik dan buruk.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Elsya Nei Sinta -
Nama : Elsya Nei Sinta
NPM : 2513053091

1. Analisis jurnal
Menurut saya, kekuatan utama jurnal ini terletak pada adanya perbedaan antara tujuan dan kenyataan implementasi. Secara konsep, kurikulum Islami di Aceh sudah cukup kuat karena memiliki dasar hukum, memasukkan nilai agama dan budaya lokal, serta mengharuskan nilai tersebut melekat dalam pendidikan.
Namun, keberadaan aturan belum otomatis membuat pendidikan nilai berhasil. Jurnal menunjukkan bahwa guru masih mengalami kesulitan dalam memahami bagaimana nilai Islam benar-benar diterapkan dalam pembelajaran. Apalagi sarana dan prasarana pendukung juga belum memadai. Artinya, keberhasilan pendidikan nilai tidak cukup hanya dengan membuat kurikulum atau peraturan, tetapi membutuhkan kebijakan yang jelas, pemahaman guru, perencanaan pembelajaran, praktik pembelajaran, keteladanan, budaya sekolah dan evaluasi. Hal ini juga menunjukkan bahwa guru perlu mendapatkan pelatihan dan pendampingan agar mampu menerjemahkan nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum ke dalam kegiatan pembelajaran yang nyata.
Dengan demikian, jurnal ini memperlihatkan bahwa pembentukan nilai dan moral peserta didik membutuhkan kurikulum yang jelas sekaligus kesiapan sumber daya manusia dan lingkungan sekolah yang mendukung.

2. Analisis Video
Dalam video tersebut menunjukkan bahwa permasalahan moral pelajar masih menjadi persoalan penting di dunia pendidikan. Kasus kekerasan terhadap guru menjadi salah satu gambaran bahwa kemampuan akademik saja belum cukup untuk membentuk peserta didik yang baik. Sikap menghormati guru, mengendalikan emosi, bertanggung jawab, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan juga harus menjadi bagian dari proses pendidikan.
Menurut saya, kondisi tersebut tidak dapat dilihat hanya dari kesalahan siswanya saja, karena perilaku peserta didik juga bisa dipengaruhi oleh faktor keluarga, pergaulan, lingkungan sekolah, perkembangan teknologi, serta cara guru membimbing dan berinteraksi dengan siswanya. Karena itu, guru perlu memiliki kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional agar mampu memahami kebutuhan siswa sekaligus menjadi contoh untuk murid-muridnya.
kasus degradasi moral menjadi pengingat bahwa pendidikan harus menyeimbangkan aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku. Peserta didik yang cerdas secara akademik juga perlu memiliki karakter yang baik agar mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Syafira Umi Faiza -
Nama = Syafura Umi Faiza
NPM = 2513053082

1. Analisis Jurnal
Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” membahas tentang pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk sikap serta karakter siswa. Materinya menjelaskan bahwa perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat bisa memengaruhi perilaku siswa. Karena itu, sekolah tidak hanya bertugas memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membantu siswa supaya memiliki sikap, akhlak, dan nilai yang baik. Pendidikan nilai bisa diterapkan dalam kegiatan belajar, kegiatan sekolah, aturan yang ada di sekolah, maupun kegiatan ekstrakurikuler.

Menurut saya, materi PPT ini cukup lengkap karena tidak hanya membahas pengertian nilai dan moral, tetapi juga menjelaskan penerapannya dalam pendidikan di Aceh. Pendidikan di Aceh memiliki ciri tersendiri karena memasukkan nilai-nilai Islam, budaya, dan kearifan lokal ke dalam kurikulum. Selain itu, guru juga mempunyai peran penting karena sikap dan perilaku guru dapat menjadi contoh bagi siswa. Namun, dalam penerapannya masih ada kendala karena beberapa sekolah dan guru belum sepenuhnya memahami bagaimana cara memasukkan nilai-nilai tersebut ke dalam pembelajaran secara nyata.


2. Analisis Video
Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern” lebih membahas tentang masalah moral yang terjadi pada pelajar di tengah perkembangan zaman. Dari video tersebut dapat dilihat bahwa perubahan zaman membawa banyak pengaruh terhadap kehidupan pelajar, termasuk dalam sikap dan perilaku. Menurut saya, hal ini menjadi perhatian karena pelajar merupakan generasi yang nantinya akan terjun langsung ke masyarakat. Kalau nilai dan moral tidak ditanamkan dengan baik sejak sekarang, perubahan lingkungan dan perkembangan teknologi bisa memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap perilaku mereka.

Menurut saya, inti dari video tersebut adalah pentingnya menjaga moral pelajar di tengah perkembangan zaman yang semakin maju. Masalah seperti ini tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah, tetapi juga membutuhkan perhatian dari guru, orang tua, dan lingkungan sekitar. Video lebih menampilkan masalah atau kondisi yang terjadi pada moral pelajar, sedangkan PPT lebih menjelaskan pendidikan nilai dan moral sebagai salah satu cara untuk membentuk karakter siswa. Jadi, walaupun pembahasannya berbeda, keduanya masih berkaitan karena sama-sama membahas pentingnya moral dan karakter dalam kehidupan pelajar.

In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Desva Adelia Noty -
Nama: Desva Adelia Noty
NPM: 2513053106

Hasil analisis mengenai jurnal dan video:
Menurut pemahaman saya terhadap jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" serta kasus dalam video mengenai meninggalnya Bapak Ahmad Budi Cahyono, dapat saya sampaikan bahwa keduanya sebenarnya membahas persoalan yang sama, yaitu kegagalan implementasi pendidikan nilai dan moral di lapangan, meskipun dari konteks yang berbeda.

Jurnal ini menjelaskan bagaimana Aceh, dengan status otonomi khususnya, berupaya mengintegrasikan nilai-nilai keislaman ke dalam kurikulum pendidikan melalui Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2015. Secara regulasi, upaya ini terlihat cukup komprehensif, mulai dari penambahan mata pelajaran seperti Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab, hingga pembentukan budaya sekolah yang berlandaskan nilai islami seperti kedisiplinan dan cara berkomunikasi yang sopan. Namun, yang menarik untuk dicermati, penulis jurnal sendiri mengungkapkan bahwa implementasinya di lapangan masih jauh dari harapan. Disebutkan hanya sekitar 7 persen sekolah yang benar-benar mencoba menerapkan kurikulum tersebut, dan pelaksanaannya bahkan digambarkan belum memiliki konsep serta pola yang jelas. Banyak guru mengaku kesulitan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam proses pembelajaran, sehingga pada praktiknya nilai-nilai islami hanya dicantumkan secara formalitas di bagian awal RPP tanpa benar-benar diterapkan secara substantif.

Kondisi ini kemudian relevan jika dikaitkan dengan kasus dalam video. Peristiwa yang menimpa Bapak Ahmad Budi Cahyono terjadi di lingkungan sekolah yang menerapkan kurikulum nasional, yang sebenarnya juga telah memuat delapan belas nilai karakter sebagaimana diatur oleh Kemendiknas, termasuk nilai toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian sosial. Namun pada kenyataannya, seorang siswa tetap dapat melakukan tindakan kekerasan yang berujung fatal terhadap gurunya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan terletak pada ketiadaan nilai dalam kurikulum, melainkan pada bagaimana nilai tersebut sampai dan benar-benar terinternalisasi dalam diri siswa. Pola ini sejalan dengan temuan dalam jurnal, di mana kurikulum yang secara konsep sudah dirancang dengan baik ternyata tidak menjamin keberhasilan penerapan nilai secara nyata di lapangan.

Selain itu, faktor lingkungan yang saya kemukakan sebelumnya, seperti pola asuh orang tua, pergaulan, dan pengaruh teknologi, juga sejalan dengan teori yang dikutip dalam jurnal, yaitu enam strategi pembentukan nilai menurut Maragustam (2014): pembiasaan nilai, nilai budaya, pengetahuan moral, penanaman perasaan dan kasih sayang yang baik, praktik moral secara langsung, serta keteladanan. Keenam strategi tersebut menegaskan bahwa pembentukan karakter memerlukan proses yang berkesinambungan dan tidak dapat dicapai hanya melalui satu mata pelajaran atau satu pihak saja. Apabila sejak kecil seorang anak tidak dibiasakan mengelola emosi dan menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat, maka kecenderungan untuk bertindak secara impulsif ketika menghadapi tekanan akan menjadi lebih besar.

Terkait peran guru, jurnal turut mengutip pandangan Lovat dan Clement (2008) yang menyatakan bahwa tugas guru pada dasarnya terfokus pada pendidikan nilai. Hal ini menegaskan posisi guru sebagai pihak yang sangat berperan dalam pembentukan karakter siswa. Akan tetapi, jurnal juga mengungkap temuan Hadi (2015) yang menyebutkan bahwa sebagian guru belum memiliki keterampilan yang memadai untuk mengintegrasikan nilai secara efektif dalam pembelajaran. Kondisi ini memperlihatkan adanya beban yang cukup besar pada guru, sementara dukungan mendasar untuk membekali mereka masih terbatas. Kasus dalam video bahkan menunjukkan situasi yang lebih ironis, di mana guru yang seharusnya menjadi pembentuk karakter siswa justru menjadi korban dari kekerasan yang dilakukan oleh siswanya sendiri. Oleh karena itu, pendidikan karakter idealnya tidak dibebankan sepenuhnya kepada sekolah dan guru, melainkan perlu melibatkan peran aktif orang tua dalam mengawasi dan membimbing perkembangan sikap anak di rumah.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa baik jurnal maupun kasus dalam video sama-sama menegaskan satu hal penting, yaitu keberhasilan pendidikan nilai dan moral tidak cukup hanya ditentukan oleh kekuatan regulasi atau kelengkapan kurikulum, melainkan sangat bergantung pada konsistensi implementasinya melalui pembiasaan, keteladanan, dan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Kasus yang menimpa Bapak Ahmad Budi Cahyono menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur hanya dari capaian akademik semata, tetapi juga dari kemampuan siswa dalam mengelola emosi dan menghargai orang lain, yang hanya dapat terbentuk melalui proses pembiasaan yang berkelanjutan, bukan sekadar pemahaman teoretis di dalam kelas.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by CICI RAHMAWATI -
Nama : Cici Rahmawati
NPM : 2513053088

1. Analisis Jurnal

Menurut saya, artikel ini menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar meningkatkan kemampuan akademik siswa. Pendidikan juga menjadi proses penting dalam membentuk moral dan karakter agar siswa mampu membedakan tindakan yang baik dan buruk serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pembentukan karakter tidak akan efektif jika hanya dilakukan melalui penyampaian teori atau nasihat. Nilai-nilai moral perlu ditanamkan melalui keteladanan dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Dalam hal ini, guru memiliki peran penting karena perilaku guru dapat menjadi contoh yang secara langsung diamati dan ditiru oleh siswa. Keluarga dan lingkungan juga turut menentukan apakah nilai yang diberikan di sekolah dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, pendidikan karakter akan lebih bermakna apabila diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran dan kehidupan sekolah, bukan hanya diberikan sebagai materi tertentu. Dengan demikian, siswa tidak hanya memahami konsep tentang moral, tetapi juga belajar menerapkannya melalui kebiasaan seperti disiplin, jujur, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan seharusnya tidak hanya dilihat dari prestasi akademik, tetapi juga dari perkembangan sikap dan karakter siswa.

2. Analisis Video

Video tersebut membahas fenomena degradasi moral pelajar yang semakin menjadi perhatian di tengah perkembangan teknologi dan perubahan kehidupan sosial. Teknologi memberikan berbagai kemudahan bagi pelajar, tetapi penggunaan yang tidak tepat dapat memengaruhi cara berpikir, berkomunikasi, dan berperilaku.

Menurut saya, degradasi moral tidak tepat jika hanya dikaitkan dengan perkembangan teknologi. Teknologi lebih tepat dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat memperkuat pengaruh dari lingkungan keluarga, pergaulan, sekolah, dan media sosial. Kurangnya pengawasan serta kemampuan pelajar dalam menyaring informasi dapat membuat mereka mudah mengikuti perilaku yang sedang populer tanpa mempertimbangkan apakah perilaku tersebut sesuai dengan nilai dan norma.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pelajar membutuhkan kemampuan untuk berpikir kritis dan mengendalikan diri dalam menggunakan teknologi. Upaya mengatasinya juga tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Keluarga perlu memberikan teladan dan pengawasan, sekolah perlu membangun lingkungan yang mendukung pembentukan karakter, sedangkan pelajar perlu memiliki kesadaran untuk bertanggung jawab atas pilihan dan perilakunya.

Secara keseluruhan, video ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan pendidikan moral dan karakter. Teknologi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana untuk berkembang dan belajar, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan nilai kesopanan, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Deva Noptalia Inora -
Nama : Deva Noptalia Inora
NPM : 2553053030

1. Analisis Jurnal
Jurnal ini membahas bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik. Menurut saya, pendidikan moral penting karena siswa perlu mengetahui mana yang baik dan buruk serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari hari. Pembentukan karakter tidak cukup hanya melalui teori, Siswa juga membutuhkan pembiasaan dan contoh dari lingkungan sekitar. Keluarga, sekolah, guru, dan masyarakat memiliki peran dalam proses tersebut. Guru juga harus memberikan teladan melalui sikap dan perilakunya. Nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan kerja sama dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Jadi, pendidikan karakter sebaiknya tidak hanya diajarkan sebagai materi, tetapi juga dibiasakan dalam kehidupan sehari hari. Menurut saya, proses ini membutuhkan waktu dan dilakukan secara terus-menerus agar menjadi kebiasaan siswa.

2. Analisis Video
Video tersebut membahas permasalahan moral peserta didik, salah satunya kasus kekerasan terhadap guru dan sikap siswa yang kurang menghargai pihak sekolah. Menurut saya, masalah seperti ini tidak bisa hanya dilihat dari kesalahan siswa, karena perilaku anak dapat dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, teman, dan lingkungan sekitar. Pendidikan moral juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan emosi. Siswa perlu diajarkan bagaimana menghadapi kemarahan, menyelesaikan masalah, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas tindakannya. Guru memiliki peran penting sebagai pendidik sekaligus contoh bagi siswa. Namun, pembentukan karakter bukan hanya tugas guru. Keluarga juga harus memberikan contoh yang baik karena pendidikan pertama anak berasal dari lingkungan keluarga.

Menurut saya, pendidikan moral perlu dilakukan secara bersama sama melalui pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan. Dengan begitu, siswa tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mempunyai sikap dan karakter yang baik.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Gaviota Puspasari -

Nama: Gaviota Puspasari 

NPM: 2513053099

Analisis Jurnal 

Jurnal “Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh” karya Iwan Fajri, Rahmat, Dadang Sundawa, dan Mohd Zailani Mohd Yusoff, menurut saya jurnal ini membahas hal yang penting dalam pendidikan, yaitu bagaimana sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk nilai dan moral peserta didik. Perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat dapat mempengaruhi perilaku siswa, sehingga pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter mereka.

Hal yang menarik bagi saya adalah pendidikan di Aceh mempunyai ciri khas tersendiri karena dipengaruhi oleh budaya dan syariat Islam. Pendidikan di Aceh tetap mengikuti sistem pendidikan nasional, tetapi juga memiliki aturan khusus melalui Qanun Aceh. Nilai-nilai Islam kemudian diterapkan dalam sistem pendidikan dan tidak hanya diberikan melalui mata pelajaran agama, tetapi juga diintegrasikan dalam berbagai mata pelajaran dan kegiatan sekolah.

Menurut saya, penerapan pendidikan nilai seperti ini cukup baik karena siswa tidak hanya mempelajari teori tentang nilai dan moral, tetapi juga dibiasakan untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya melalui sikap disiplin, bertanggung jawab, berbicara dengan sopan, menghargai orang lain, dan mengikuti aturan sekolah. Guru juga memiliki peran penting karena guru dapat menjadi contoh langsung bagi siswa dalam menerapkan nilai-nilai tersebut.

Namun, dari jurnal ini saya juga melihat bahwa penerapan kurikulum Islam di Aceh masih memiliki beberapa kendala. Tidak semua sekolah sudah menerapkannya dengan baik dan masih ada guru yang mengalami kesulitan dalam memahami cara mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran. Bahkan ada beberapa guru yang hanya mencantumkan nilai-nilai keagamaan dalam RPP tanpa benar-benar menerapkannya dalam proses pembelajaran.

Sebagai mahasiswa semester 3 PGSD, saya merasa tulisan jurnal ini cukup berkaitan dengan calon guru sekolah dasar. Guru SD tidak hanya bertugas membuat siswa memahami materi, tetapi juga membantu membentuk kebiasaan dan karakter siswa sejak dini. Menurut saya, pendidikan karakter akan lebih efektif jika dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan, bukan hanya melalui teori.

Secara keseluruhan, saya berpendapat bahwa jurnal ini memberikan pemahaman bahwa pendidikan nilai dan moral harus menjadi bagian dari proses pendidikan. Kurikulum, guru, lingkungan sekolah, dan kebiasaan siswa harus saling mendukung agar nilai yang diajarkan benar-benar dapat diterapkan. Hal paling saya dapat dari jurnal ini adalah siswa tidak cukup hanya menjadi pintar secara akademik, tetapi juga harus memiliki sikap dan karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Analisis Video 

Menurut saya, video “Degradasi Moral Pelajar Zaman Modern” membahas tentang semakin berkurangnya nilai moral pada sebagian pelajar di tengah perkembangan zaman. Perubahan teknologi dan pergaulan yang semakin luas membuat pelajar semakin mudah mendapatkan berbagai informasi dan mengikuti hal-hal yang sedang berkembang. Namun jika tidak disertai dengan pengawasan dan pendidikan moral yang baik, perkembangan tersebut juga dapat memberikan pengaruh negatif terhadap sikap dan perilaku pelajar.

Menurut saya, masalah degradasi moral tidak hanya disebabkan oleh pelajar itu sendiri. Lingkungan keluarga, sekolah, teman sebaya, dan penggunaan media sosial juga memiliki pengaruh. Pelajar masih berada dalam tahap perkembangan sehingga mereka membutuhkan arahan dan contoh yang baik dari orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk sikap, tanggung jawab, kedisiplinan, dan cara siswa berinteraksi dengan orang lain.

Sebagai mahasiswa semester 3 PGSD, saya melihat permasalahan ini cukup berkaitan dengan peran guru sekolah dasar. Pendidikan moral sebaiknya mulai ditanamkan sejak dini melalui kebiasaan sederhana, seperti bersikap jujur, menghargai teman, bertanggung jawab, disiplin, dan menggunakan teknologi dengan bijak. Guru juga harus memberikan contoh secara langsung karena siswa lebih mudah mengikuti perilaku yang mereka lihat daripada hanya mendengarkan nasihat.

Secara keseluruhan, menurut saya video ini menunjukkan bahwa perkembangan zaman sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi harus diikuti dengan kemampuan untuk menggunakannya secara bijak. Pendidikan moral, peran keluarga, dan lingkungan sekolah perlu berjalan bersama agar perkembangan teknologi tidak membuat pelajar kehilangan nilai dan karakter yang baik.

In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by NAJWA ZAKIYA SALSABILA -
nama: najwa zakiya salsabila
npm: 2553053007

inti artikel ini adalah pendidikan moral menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter peserta didik. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang memiliki pengetahuan tinggi, tetapi juga harus menghasilkan manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya secara benar dan bertanggung jawab.
Hal yang paling penting dari artikel ini adalah bahwa karakter tidak terbentuk secara instan. Karakter membutuhkan proses, pembiasaan, perubahan, keteladanan, serta dukungan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kesimpulan artikel ini juga menegaskan bahwa pembentukan karakter merupakan keseluruhan proses pendidikan yang membuat seseorang memahami dan mengalami nilai-nilai moral dalam kehidupannya.
Kalau dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari: orang yang berkarakter bukan hanya orang yang tahu bahwa kejujuran, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian itu penting, tetapi orang yang membiasakan nilai-nilai tersebut dalam perilakunya sehari-hari.

Berdasarkan rekaman tersebut, dapat disimpulkan bahwa kasus kekerasan antara siswa dan guru merupakan masalah pendidikan yang kompleks. Permasalahan tersebut tidak hanya dapat dilihat sebagai akibat dari buruknya moral siswa, tetapi juga perlu dikaji dari aspek keluarga, psikologi anak, lingkungan sekolah, kompetensi guru, dan lingkungan sosial.
Nilai yang paling menonjol dalam rekaman adalah nilai moral, tanggung jawab, pengendalian diri, kepedulian, penghormatan, dan keadilan. Sementara itu, pesan moral yang paling penting adalah bahwa setiap masalah seharusnya diselesaikan dengan cara yang baik dan tanpa kekerasan.
Dengan demikian, pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada kemampuan siswa dalam memperoleh pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan moral siswa agar mampu menjadi manusia yang bertanggung jawab, menghargai orang lain, mengendalikan emosi, serta mampu hidup berdampingan secara baik dalam masyarakat.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by RIZKY OKTA FITRALLAH -
Nama: Rizky Okta Fitrallah
Kelas: 3D
NPM: 2513053096
Kelompok 1
Link Pengumpulan Video Tugas Presentasi: https://drive.google.com/file/d/1FgW94qbDEWdICuUAWhA6PthqsMk7EnZ-/view?usp=drivesdk

1. Analisis Jurnal

Jurnal Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh mengulas betapa pentingnya pembelajaran moral dalam membentuk kepribadian siswa. Pendidikan tidak hanya tentang kemampuan belajar di sekolah, tetapi juga tentang membentuk sikap, perilaku, dan mengajarkan nilai-nilai baik kepada anak. Perkembangan teknologi dan perubahan masyarakat membuat pendidikan nilai menjadi lebih penting agar para siswa bisa menghadapi berbagai pengaruh yang tidak baik.

Pendidikan di Aceh punya ciri khas karena menggabungkan sistem pendidikan nasional dengan nilai-nilai Islam, budaya, dan kearifan lokal daerah. Nilai seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, dan sopan santun diterapkan melalui proses belajar serta kegiatan yang dilakukan setiap hari. Menurut saya, nilai moral tidak cukup hanya diajarkan melalui teori saja, tetapi harus dijalankan secara terus-menerus dan dicontohkan oleh guru.

Keunggulan jurnal ini adalah isinya cukup rinci dan didukung oleh berbagai sumber rujukan. Kelemahannya, beberapa kalimat terlalu panjang sehingga kurang mudah dipahami, dan solusi untuk masalah penerapan kurikulum masih kurang mendalam. Secara umum, jurnal ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter siswa memerlukan kerja sama dari sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat.

2. Analisis Video

Video dengan judul "Degradasi Moral Pelajar Jaman Modern” ini membahas tentang penurunan moral yang dialami para pelajar, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor perkembangan zaman dan penggunaan teknologi. Teknologi memang membawa banyak keuntungan, tetapi jika digunakan secara sembarangan, bisa memengaruhi cara berpikir dan tingkah laku para pelajar.

Menurut saya, penurunan nilai moral tidak hanya karena penggunaan teknologi, tetapi juga dipengaruhi oleh keluarga, teman-teman, sekolah, dan lingkungan sekitar orang. Oleh karena itu, para pelajar harus memperoleh pendidikan tentang nilai-nilai baik dan bimbingan dari orang dewasa agar bisa memisahkan tindakan yang benar dari yang salah.

Teknologi bisa digunakan untuk hal-hal yang baik, misalnya belajar, mencari tahu hal baru, dan merangsang ide-ide kreatif. Oleh karena itu, semua pihak seperti orang tua, guru, sekolah, dan pelajar perlu bekerja sama dalam membentuk karakter yang baik. Secara keseluruhan, video ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi sebaiknya dikombinasikan dengan pendidikan moral agar para pelajar tetap menjaga sikap jujur, sopan, bertanggung jawab, dan peduli terhadap orang lain.
In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Muhammad Zaki Anwar -

Nama : Muhammad Zaki Anwar

NPM : 2513053086


Analisis Jurnal 

Jurnal "Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh" menjelaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan karakter siswa secara baik. Pendidikan di Aceh memiliki ciri khas karena menggabungkan sistem pendidikan nasional dengan budaya serta nilai-nilai Islam melalui peraturan daerah Aceh atau Qanun Aceh. 

Menurut saya, mengajarkan nilai moral dengan cara terus-menerus melatih, contoh dari guru, disiplin diri, bertanggung jawab, serta sikap saling hormat sangat penting. Namun, masih ada masalah, seperti kurangnya pemahaman para guru dalam menggabungkan nilai-nilai Islam ke dalam proses belajar, sehingga seringkali hanya tertulis dalam RPP tanpa diterapkan secara langsung. 

Sebagai mahasiswa semester ketiga program PGSD, jurnal ini penting karena guru SD memiliki peran besar dalam membentuk sikap dan karakter siswa sejak awal. Jadi, pendidikan tidak hanya membuat siswa cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk sikap, nilai, dan karakter yang baik melalui kebiasaan dan contoh yang diberikan. 


Analisis Video 

Video "Degradasi Moral Pelajar Zaman Modern" membahas tentang penurunan nilai moral yang dialami sebagian pelajar, yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan lingkungan pergaulan mereka. Teknologi memberikan banyak keuntungan, tetapi jika tidak diawasi dan diberi pendidikan yang memadai, bisa mengubah cara siswa berperilaku. 

Menurut saya, perubahan nilai moral tidak hanya jadi tanggung jawab siswa saja, tetapi juga dipengaruhi oleh keluarga, sekolah, teman-teman sebaya, dan media sosial. Oleh karena itu, pendidikan perlu menggabungkan prestasi belajar dengan membentuk karakter, seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, dan menghormati orang lain. 

Sebagai mahasiswa program PGSD, saya merasa bahwa pendidikan nilai moral harus diperkenalkan sejak awal melalui kebiasaan baik dan teladan yang ditunjukkan oleh guru. Perkembangan teknologi tidak bisa dihindari, tetapi kita harus menggunakan teknologi dengan bijak agar tidak mengurangi nilai dan karakter positif para siswa.

In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Rama Irawan -

Rama irawan

2513053084

1 analisis jurnal

Menurut saya, jurnal “Pengaruh Media Pembelajaran Digital terhadap Hasil Belajar Mahasiswa” merupakan jurnal yang cukup relevan dengan kondisi pembelajaran saat ini. Perkembangan teknologi membuat proses pembelajaran tidak lagi hanya bergantung pada metode konvensional seperti ceramah, mencatat, dan membaca buku. Penggunaan media digital dapat menjadi salah satu alternatif untuk membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami.

Menurut pemahaman saya, tujuan utama penelitian dalam jurnal ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan media pembelajaran digital benar-benar memberikan pengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa. Penelitian dilakukan pada mahasiswa semester 2 program studi akuntansi dengan jumlah 60 orang yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen mendapatkan pembelajaran menggunakan media digital, sedangkan kelompok kontrol menggunakan metode pembelajaran konvensional. Data hasil belajar kemudian dibandingkan melalui pre-test dan post-test, serta dianalisis menggunakan independent sample t-test.

Dan Menurut saya, penggunaan metode tersebut sudah cukup tepat karena peneliti tidak hanya melihat pendapat mahasiswa mengenai pembelajaran digital, tetapi juga melihat hasil belajar secara langsung. Dengan adanya kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, peneliti dapat mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara mahasiswa yang menggunakan media digital dan mahasiswa yang belajar menggunakan metode konvensional.

2 analisis video

Menurut saya, moral pelajar pada zaman modern merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam dunia pendidikan. Kemajuan zaman memberikan banyak manfaat bagi pelajar, terutama dalam memperoleh informasi dan menggunakan teknologi. Namun, perkembangan tersebut juga dapat memberikan pengaruh terhadap sikap, perilaku, dan moral pelajar apabila tidak disertai dengan pendidikan karakter dan pengawasan yang baik.

Menurut saya, seorang pelajar tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik atau mendapatkan nilai yang tinggi. Pelajar juga harus mempunyai sikap yang baik, seperti jujur, disiplin, bertanggung jawab, menghormati guru, menghargai teman, memiliki sopan santun, serta mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk. Pendidikan seharusnya tidak hanya membuat seseorang menjadi pintar, tetapi juga membentuk manusia yang mempunyai moral dan karakter yang baik.

Hal ini sesuai dengan pembahasan dalam jurnal bahwa pendidikan memiliki peranan penting dalam pembentukan akhlak peserta didik. Jurnal juga menjelaskan bahwa pendidikan nilai dan moral perlu diterapkan dalam berbagai kegiatan pendidikan di sekolah, bukan hanya diberikan sebagai materi secara teori.

In reply to First post

Re: Forum Absensi dan Analisis

by Yulius Alan Pramudita 2513053085 -
Nama : Yulius Alan Pramudita
NPM : 2513053085

1. Analisis Jurnal
Jurnal Pendidikan Nilai dan Moral dalam Sistem Kurikulum Pendidikan di Aceh membahas pentingnya pendidikan nilai dan moral dalam membentuk karakter peserta didik. Pendidikan moral di Aceh tidak hanya diberikan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pembiasaan, keteladanan guru, budaya sekolah, dan penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, pendekatan ini cukup baik karena siswa tidak hanya memahami moral secara teori, tetapi juga belajar menerapkannya dalam kehidupan. Namun, penerapannya masih memiliki beberapa kendala, seperti kesiapan guru dan sekolah dalam menjalankan kurikulum tersebut.

2. Analisis Video
Video tersebut membahas tentang degradasi moral yang terjadi pada pelajar di zaman modern. Menurut saya, penurunan moral dapat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan, keluarga, serta perkembangan teknologi dan media sosial yang tidak digunakan secara bijak. Pelajar tidak hanya membutuhkan pendidikan akademik, tetapi juga pendidikan karakter agar memiliki sikap sopan, bertanggung jawab, menghargai orang lain, dan mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk. Oleh karena itu, peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat penting dalam membentuk moral pelajar.