Nama: Citra Aurora
NPM: 2513053196
Penelitian ini mengeksplorasi cara perkembangan moral anak-anak sekolah dasar berusia 11 hingga 12 tahun berdasarkan teori Kohlberg. Teori ini membagi kemajuan moral menjadi tiga tahap: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Perbedaan di antara level seseorang tidak terletak pada tindakan yang diambil, melainkan motivasi di balik tindakan tersebut.
Studi ini melibatkan sepuluh siswa kelas VI dan memberikan mereka sebuah dilema moral — yaitu situasi Ardi yang bingung antara memenuhi janji ke rumah teman atau menjaga adik di rumah. Temuan menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh siswa memilih untuk pergi ke teman, dengan alasan mereka takut dianggap berbohong, khawatir tertinggal pelajaran, atau takut dimarahi. Ini menunjukkan bahwa mereka masih berada pada tahap pra-konvensional — berbuat baik bukan karena memahami apa itu kebaikan, melainkan untuk menghindari konsekuensi negatif.
Hanya satu siswa, Khansa, memiliki alasan yang berbeda. Dia memilih pergi ke rumah temannya sambil membawa adiknya, karena merasa kasihan pada temannya yang menunggu dan pada adiknya yang tidak ada yang menjaga. Ini menandakan bahwa dia telah mencapai tahap konvensional, yang mencerminkan pemikirannya terhadap perasaan orang lain dan pentingnya mempertahankan hubungan baik.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar anak SD berusia 11 sampai 12 tahun masih berada pada fase awal dalam pemikiran moral mereka. Mereka masih belum sepenuhnya memahami nilai kebaikan itu sendiri dan masih mengikuti norma yang benar demi menghindari sanksi. Oleh karena itu, peranan guru dan orang tua sangat vital untuk membantu mereka dengan membimbing agar secara bertahap memahami nilai kebaikan sebenarnya, bukan hanya sekadar takut akan hukuman.
NPM: 2513053196
Penelitian ini mengeksplorasi cara perkembangan moral anak-anak sekolah dasar berusia 11 hingga 12 tahun berdasarkan teori Kohlberg. Teori ini membagi kemajuan moral menjadi tiga tahap: pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Perbedaan di antara level seseorang tidak terletak pada tindakan yang diambil, melainkan motivasi di balik tindakan tersebut.
Studi ini melibatkan sepuluh siswa kelas VI dan memberikan mereka sebuah dilema moral — yaitu situasi Ardi yang bingung antara memenuhi janji ke rumah teman atau menjaga adik di rumah. Temuan menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh siswa memilih untuk pergi ke teman, dengan alasan mereka takut dianggap berbohong, khawatir tertinggal pelajaran, atau takut dimarahi. Ini menunjukkan bahwa mereka masih berada pada tahap pra-konvensional — berbuat baik bukan karena memahami apa itu kebaikan, melainkan untuk menghindari konsekuensi negatif.
Hanya satu siswa, Khansa, memiliki alasan yang berbeda. Dia memilih pergi ke rumah temannya sambil membawa adiknya, karena merasa kasihan pada temannya yang menunggu dan pada adiknya yang tidak ada yang menjaga. Ini menandakan bahwa dia telah mencapai tahap konvensional, yang mencerminkan pemikirannya terhadap perasaan orang lain dan pentingnya mempertahankan hubungan baik.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar anak SD berusia 11 sampai 12 tahun masih berada pada fase awal dalam pemikiran moral mereka. Mereka masih belum sepenuhnya memahami nilai kebaikan itu sendiri dan masih mengikuti norma yang benar demi menghindari sanksi. Oleh karena itu, peranan guru dan orang tua sangat vital untuk membantu mereka dengan membimbing agar secara bertahap memahami nilai kebaikan sebenarnya, bukan hanya sekadar takut akan hukuman.