གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Rianti Maharani

Nama : Rianti Maharani
NPM : 2513032011

Contoh tentang upaya guru dalam memberikan rasa aman dan penghargaan selama kegiatan belajar di kelas

Rasa Aman

Dalam kegiatan belajar di kelas, untuk menciptakan rasa aman guru dapat menciptakan suasana yang membuat siswa tidak takut secara fisik maupun emosional. Misalnya, ketika ada siswa yang diejek karena tidak bisa menjawab pertanyaan, guru segera menenangkan situasi dengan mengatakan bahwa di kelas tidak boleh ada yang saling mengejek karena semua sedang dalam proses belajar. Guru kemudian mendekati siswa tersebut dan berbicara dengan lembut, meyakinkan bahwa tidak apa-apa jika belum paham dan akan dibantu. Sikap ini membuat siswa merasa dilindungi dan merasa aman di kelas

Contoh lain yaitu ketika hasil ulangan dibagikan, ada beberapa siswa yang mendapatkan nilai rendah dan tampak cemas. Guru tidak langsung mengumumkan nilai secara terbuka, melainkan membagikannya secara pribadi dan memberikan kesempatan untuk perbaikan. Tindakan ini membuat siswa tidak merasa dipermalukan di depan teman-temannya dan tetap memiliki rasa aman dalam belajar.


Penghargaan

Dalam kegiatan belajar di kelas, khususnya dalam aspek penghargaan, guru dapat memberikan apresiasi terhadap usaha dan keberanian siswa. Dalam proses pembelajaran di kelas. Misalnya, ketika seorang siswa mencoba menjawab pertanyaan tetapi jawabannya belum tepat, guru tetap memberikan respon positif dengan mengatakan bahwa jawabannya sudah mendekati dan usahanya sudah baik. Hal ini membuat siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk mencoba lagi.

Contoh lain yaitu ketika seorang siswa menunjukkan peningkatan meskipun tidak terlalu signifikan, misalnya dari sebelumnya tidak mengerjakan tugas menjadi mulai rutin mengumpulkan. Guru kemudian memberikan pengakuan atas perubahan tersebut dengan menyampaikan bahwa kemajuan sekecil apa pun tetap berarti. Hal ini membuat siswa merasa dihargai atas usahanya dan termotivasi untuk terus berkembang.

Landasan Pendidikan PPKn 2025A -> Penugasan

Rianti Maharani གིས-
Nama : Rianti Maharani
NPM : 2513032011
Kelas : 25 A

KAJIAN KASUS KASUS DI BIDANG PENDIDIKAN

Terdapat beberapa kasus yang sedang dihadapi di dunia pendidikan Indonesia saat ini terutama berkaitan dengan dinamika proses pembelajaran dan aktivitas yang ada di sekolah yaitu kasus guru yang dipolisikan, tindakan asusila di kalangan pelajar, serta penyalahgunaan narkoba di lingkungan pelajar dan mahasiswa. Kasus pertama mengenai banyaknya guru yang dilaporkan ke polisi oleh orang tua murid, hal ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan dan lemahnya komunikasi antara pihak sekolah dengan orang tua. Guru yang sejatinya memiliki wewenang untuk mendisiplinkan siswa kini seringkali dibatasi oleh rasa takut karena khawatir akan bermasalah pada hukum. Padahal, tindakan mendisiplinkan murid merupakan bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan perspektif antara guru dan siswa dalam memahami hukuman yang bersifat edukatif. Oleh karena itu, komunikasi antara guru dan siswa perlu ditingkatkan lagi. Guru sebaiknya mengedepankan pendekatan preventif dalam membina karakter siswa contohnya seperti memberikan nasihat serta penguatan peran guru agar dapat menegakkan disiplin dengan cara yang mendidik dan metode pengajaran harus bersifat edukatif dan membangun serta konsisten dengan etika mengajar tanpa menimbulkan kesalahpahaman.

Kasus kedua membahas tindakan asusila dan perilaku menyimpang di kalangan pelajar. Pergaulan bebas dan seks bebas semakin marak saat ini, ini disebabkan oleh nilai-nilai agama yang kurang tertanam dalam diri pelajar maupun mahasiswa, kurangnya kontrol sosial, dan mudahnya akses terhadap konten pornografi terutama melalui media digital saat ini. Dampak dari hal ini sangat luas dan tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga terhadap tatanan moral yang ada di masyarakat. Untuk mengatasi masalah ini, penguatan karakter dan pendidikan agama di sekolah dan keluarga sangatlah penting. Kerjasama antara guru, sekolah, dan masyarakat sangat penting untuk pengembangan siswa yang berkarakter, penguatan peran keluarga juga sangat penting, keluarga sebagai madrasah pertama memiliki peran penting dalam memberikan teladan, perhatian, serta pengawasan terhadap perilaku anak sejak dini. Lingkungan sekolah juga harus mampu menyediakan wadah positif bagi pengembangan minat dan bakat siswa agar potensi serta waktu mereka dapat tersalurkan pada kegiatan yang bermanfaat.

Kasus ketiga membahas penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa.
Data menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa dan pelajar yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba terus meningkat setiap tahunnya, hal ini mencerminkan lemahnya upaya pencegahan dan pengawasan serta menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa. Penyalahgunaan narkoba, narkotika dan obat-obat terlarang dan ini akan merusak mental, kepribadian, dan fisik seseorang serta dapat menghambat potensi generasi muda untuk berkembang. Oleh karena itu, setiap anggota masyarakat mulai dari sekolah, keluarga, hingga aparat pemerintah harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas narkoba. Sekolah perlu mengadakan program sosialisasi dan edukasi mengenai narkoba baik itu jenis jenisnya, ciri ciri orang yang memakai narkoba maupun dampak dari penggunaan narkoba, hal ini dilakukan sebagai upaya pencegahan narkoba. Keluarga harus meningkatkan komunikasi dan pengawasan pada anak-anak mereka.

Landasan Pendidikan PPKn 2025A -> Konsep Dasar Tripusat Pendidikan

Rianti Maharani གིས-
Nama : Rianti Maharani
NPM : 2513032011

Pandangan saya mengenai tujuan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yang mengatakan tujuan dari pendidikan itu untuk memerdekakan manusia yaitu selamat raganya dan bahagia jiwanya artinya pendidikan bukan hanya untuk membuat seseorang menjadi pintar secara akademik tetapi harus diimbangi dengan dengan tujuan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan, selamat mengacu pada kompetensi peserta didik seperti kemampuan berpikir kritis serta keterampilan kreativitas dan bahagia yaitu ketika seseorang merasa hidupnya bermakna, punya arah, dan bisa menjalani hidup sesuai dengan potensi dan keinginannya.

Ketika saya menjadi seorang guru hal yang saya lakukan yaitu menjadi seorang pembimbing dan pendengar yang baik bagi siswa. Saya akan berusaha menciptakan suasana kelas yang nyaman, menghargai setiap perbedaan pendapat siswa, dan mendorong siswa untuk bisa berpikir kritis dan kreatif. Saya ingin membantu siswa menjadi pribadi yang percaya diri dan bertanggung jawab. Selain itu saya ingin membentuk karakter siswa melalui pemahaman mengenai nilai nilai dan moral yang baik

DKPM PPKn 2025A -> Analisis Video

Rianti Maharani གིས-
Nama : Rianti Maharani
NPM : 2513032011

Analisis Video

Tahap Tahap Perkembangan Moral Menurut Teori Lawrence Kohlberg

1. Prakonvesional
Mengikuti aturan untuk menghindari hukuman. Bertindak demi kepentingan diri sendiri. Kepatuhan buta kepada otoritas demi kepentingan diri sendiri. Berkaitan dengan Hubungan sebab-akibat, ganjaran-hukuman, menyenangkan-tidak menyenangkan. Prakonvesional dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:

1). Orientasi Hukuman dan Kepatuhan
Pada tahap pertama seseorang menilai baik buruknya suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman misalnya seorang anak merasa benar apabila ia mematuhi perkataan orang tuanya dan rasa bersalah apabila melanggar, pemahaman moral itu didasarkan pada kesadaran bahwa ketika ia tidak patuh ia akan mendapatkan hukuman yang menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman disini tampak bahwasanya seseorang melakukannya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, ia baru sampai pada pemahaman bahwa berbuat baik akan memberi manfaat positif.
2). Orientasi Realitivis Instrumental
Pada tahap kedua seseorang melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan. contoh: anak kecil mau disuruh jika diiming imingin hadiah. Maka dari itu seseorang pada tahap ini terlihat sangat baik namun sebenarnya maksut utama dari perbuatannya itu adalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

2. Konvesional
Pada tahap ini seseorang mulai keluar dari egoisme pribadi, menyesuaikan sikap demi kesenangan dan kenyamanan orang lain, sadar akan pentingnya loyalitas. Memenuhi tugas dan kewajiban sistem sosial. Menjunjung tinggi hukum. Konvesional dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:
 
1). Tahap Anak Manis
Pada tahap ini seseorang menganut prinsip anak manis dimana seseorang menganut perilaku yang baik yaitu berupa perilaku yang menyenangkan orang lain seperti membantu orang lain dan oleh karena itu ia akan selalu berusaha untuk mematuhi norma-norma dalam kelompoknya agar tidak merasa malu dan bersalah. 
2). Hukum dan Ketertiban pada tahap ini sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat, memiliki kewajiban untuk menaati hukum yang berlaku. Mematuhi hukum agar ketertiban bisa terjamin, kebanyakan orang dewasa susah berada pada tahap ini. Setiap orang patut tunduk kepada aturan hukum yang mengaturnya.

3. Pascakonvensional
Hidup baik adalah tanggung jawab masing-masing pribadi, penekanan pada prinsip yang muncul dalam batin. Mengikuti prinsip-prinsip universal keadilan dan kebenaran yang telah tertanam dalam diri. Menyeimbangkan kepedulian terhadap diri sendiri dengan kepedulian terhadap sesama dan kebaikan bersama. Pascakonvensional dibagi menjadi dua tahap yaitu sebagai berikut:

1). Kontrak sosial legalistis
Segi hukum masih diterapkan namun, seseorang mulai menyadari bahwa suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sosial, selalu terbuka kemungkinan untuk memperbarui dan mengaktualkan suatu hukum melalui persetujuan demokratis. Hukum dapat diubah sesuai konteks dan situasi yang ada selama memberi manfaat sosial atau demi kepentingan dan kesejahteraan umum. Oleh karena itu, dapat diselenggarakan kontrak sosial agar mencapai kesepakatan yang baru.
2). Prinsip etika universal
Prinsip ini bersifat universal karena bisa berlaku dimanapun dan kapanpun, dapat dilakukan diberbagai tempat, situasi, dan segala aspek kehidupan manusia. Prinsip hati universal seseorang mulai menyadari didalam hatinya terdapat prinsip-prinsip yang berlaku yaitu berupa prinsip yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan seperti keadilan, ketulusan membantu orang lain dan hormat terhadap suatu nilai kehidupan

Membandingkan Teori Piaget dan Kohlberg

Persamaan Teori Piaget dan Kohlberg
Kedua teori ini sama-sama menjelaskan perkembangan anak secara bertahap, dimana proses perkembangan anak berlangsung melalui beberapa tahap, tidak terjadi sekaligus. Tetapi, bertahap sesuai usia dan pengalaman anak. Dimana proses perkembangan anak akan semakin kompleks seiring dengan bertambahnya usia dan tahapan perkembangan yang dilaluinya. Selain itu, keduanya sama-sama menekankan pentingnya interaksi sosial dengan lingkungan sekitar sebagai faktor utama dalam proses perkembangan anak.

Perbedaan Teori Piaget dan Kohlberg
Piaget lebih berfokus pada perkembangan kognitif yaitu kemampuan berpikir dan memahami dunia berkembang, sejak masa kanak-kanak hingga remaja. Sementara itu, Teori Kohlberg lebih berfokus pada perkembangan moral, bagaimana seseorang memahami konsep benar dan salah serta membentuk penalaran moralnya. Piaget mengemukakan empat tahap perkembangan kognitif, sedangkan Kohlberg mengidentifikasi enam tahap perkembangan moral yang dikelompokkan ke dalam tiga tingkat. Selain itu, Kohlberg mengembangkan tahap moral yang lebih kompleks, bahkan sampai tahap dewasa, sedangkan Piaget lebih berfokus pada usia anak hingga remaja.

DKPM PPKn 2025A -> Analisis Video

Rianti Maharani གིས-
Nama : Rianti Maharani
NPM : 2513032011

•Analisis Video

Tahap Tahap Perkembangan Moral Menurut Teori Lawrence Kohlberg

1. Prakonvesional
Pada tahap ini seseorang bertindak demi kepentingan sendiri. Dibagi menjadi 2 tahap yaitu: 1. Orientasi Hukuman dan Kepatuhan (Menilai baik buruk suatu perilaku berdasarkan rasa takut pada hukuman, pemahaman moral didasarkan pada kesadaran) 2. Orientasi Realitivis Instrumental (Melakukan perbuatan baik karena mengharapkan imbalan)

2. Konvesional
Pada tahap ini seseorang mulai keluar dari egoisme pribadi, dibagi menjadi 2 tahap yaitu: 1. Tahap anak manis (Menganut prinsip anak manis, melakukan perilaku yang baik seperti membantu orang lain) 2. Hukum dan Ketertiban (Sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat, menaati hukum)

3. Pascakonvensional
Pada tahap ini hidup baik adalah tanggung jawab pribadi, dibagi menjadi 2 tahap yaitu: 1. Kontrak sosial legalistis (Menyadari suatu hukum belum tentu bisa diterapkan dalam kehidupan sosial, sehingga dibutuhkan kontrak sosial) 2. Prinsip etika universal (Prinsip hati nurani universal, menjunjung nilai kemanusiaan seperti keadilan)

•Membandingkan Teori Piaget dan Teori Kohlberg

Persamaan Teori Piaget dan  Teori Kohlberg
Kedua teori ini sama-sama menjelaskan perkembangan anak secara bertahap, dimana proses perkembangan anak berlangsung melalui beberapa tahap, tidak terjadi sekaligus. Tetapi, bertahap sesuai usia dan pengalaman anak. Dimana proses perkembangan anak akan semakin kompleks seiring dengan bertambahnya usia dan tahapan perkembangan yang dilaluinya. Selain itu, keduanya sama-sama menekankan pentingnya interaksi sosial dengan lingkungan sekitar sebagai faktor utama dalam proses perkembangan anak.

Perbedaan Teori Piaget dan Teori  Kohlberg 
Piaget lebih berfokus pada perkembangan kognitif yaitu kemampuan berpikir dan memahami dunia berkembang, sejak masa anak-anak hingga remaja. Sementara itu, Teori Kohlberg lebih berfokus pada perkembangan moral, bagaimana seseorang memahami konsep benar dan salah serta membentuk penalaran moralnya. Piaget mengemukakan empat tahap perkembangan kognitif, sedangkan Kohlberg mengidentifikasi enam tahap perkembangan moral yang dikelompokkan ke dalam tiga tingkat. Selain itu, Kohlberg mengembangkan tahap moral yang lebih kompleks, bahkan sampai tahap dewasa, sedangkan Piaget lebih berfokus pada usia anak hingga remaja.