Nama : Mega Veronica
NPM : 2513031083
Redhana (2013) menguji model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik (MPBM-PS), dibandingkan pembelajaran langsung, pada 273 siswa SMP. Hasilnya MPBM-PS terbukti lebih efektif meningkatkan berpikir kritis, dengan pengujian statistik yang cukup lengkap dan sampel yang cukup besar dari empat sekolah.
Meski begitu, ada beberapa kelemahan. Karena kelas tidak diacak, hasilnya rentan bias dari faktor guru atau karakteristik kelas, bukan murni dari modelnya. Tiga komponen model masalah, pertanyaan konseptual, dan pertanyaan Socratik juga digabung sekaligus, sehingga tidak jelas komponen mana yang paling berperan. Instrumen tesnya buatan sendiri tanpa penjelasan validitas yang memadai, dan tidak ada data soal apakah efeknya bertahan lama.
Dibanding literatur terbaru, hasilnya juga tidak sepenuhnya konsisten. Beberapa meta analisis terbaru (misalnya Aripin dkk., 2025) menemukan PBL memang efektif meningkatkan berpikir kritis dengan efek besar, sejalan dengan Redhana. Tapi meta-analisis lain (Vecolitha & Yudiarso, 2021) justru menemukan efek PBL yang kurang signifikan dengan variasi hasil antar-studi yang sangat tinggi, dan Liu & Pásztor (2022) mencatat perdebatan soal ini masih berlangsung.
Jadi, temuan Redhana sejalan dengan sebagian studi optimis, tapi efektivitas PBL tampaknya sangat bergantung pada kualitas bimbingan dan konteks penerapan, bukan efek yang otomatis berlaku di semua kondisi. Klaim bahwa pertanyaan Socratik secara khusus menambah manfaat di atas PBL biasa juga masih perlu dibuktikan dengan desain yang memisahkan efek tiap komponen.
NPM : 2513031083
Redhana (2013) menguji model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik (MPBM-PS), dibandingkan pembelajaran langsung, pada 273 siswa SMP. Hasilnya MPBM-PS terbukti lebih efektif meningkatkan berpikir kritis, dengan pengujian statistik yang cukup lengkap dan sampel yang cukup besar dari empat sekolah.
Meski begitu, ada beberapa kelemahan. Karena kelas tidak diacak, hasilnya rentan bias dari faktor guru atau karakteristik kelas, bukan murni dari modelnya. Tiga komponen model masalah, pertanyaan konseptual, dan pertanyaan Socratik juga digabung sekaligus, sehingga tidak jelas komponen mana yang paling berperan. Instrumen tesnya buatan sendiri tanpa penjelasan validitas yang memadai, dan tidak ada data soal apakah efeknya bertahan lama.
Dibanding literatur terbaru, hasilnya juga tidak sepenuhnya konsisten. Beberapa meta analisis terbaru (misalnya Aripin dkk., 2025) menemukan PBL memang efektif meningkatkan berpikir kritis dengan efek besar, sejalan dengan Redhana. Tapi meta-analisis lain (Vecolitha & Yudiarso, 2021) justru menemukan efek PBL yang kurang signifikan dengan variasi hasil antar-studi yang sangat tinggi, dan Liu & Pásztor (2022) mencatat perdebatan soal ini masih berlangsung.
Jadi, temuan Redhana sejalan dengan sebagian studi optimis, tapi efektivitas PBL tampaknya sangat bergantung pada kualitas bimbingan dan konteks penerapan, bukan efek yang otomatis berlaku di semua kondisi. Klaim bahwa pertanyaan Socratik secara khusus menambah manfaat di atas PBL biasa juga masih perlu dibuktikan dengan desain yang memisahkan efek tiap komponen.