Afy Nurul Aini
2513031074
Menurut saya, kekuatan utama model ini terletak pada penggabungan dua pendekatan yang saling mendukung. Pembelajaran berbasis masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghadapi persoalan yang harus dianalisis dan diselesaikan, sedangkan pertanyaan Socratik mendorong siswa untuk tidak langsung menerima suatu jawaban, tetapi mempertanyakan alasan, bukti, asumsi, dan kesimpulan yang mereka buat. Dengan demikian, siswa tidak hanya dituntut untuk mendapatkan jawaban, tetapi juga memahami proses berpikir di balik jawaban tersebut.
Temuan Redhana juga masih relevan jika dibandingkan dengan penelitian yang lebih baru. Meta-analisis tahun 2022 yang mencakup 50 penelitian dengan 5.210 peserta menunjukkan bahwa Problem-Based Learning (PBL) memberikan pengaruh positif yang cukup kuat terhadap kemampuan dan disposisi berpikir kritis, meskipun tingkat pengaruhnya berbeda-beda berdasarkan karakteristik peserta didik, ukuran kelompok, metode pembelajaran, dan lamanya intervensi. Penelitian lain pada tahun 2023 yang melakukan systematic review terhadap penelitian PBL periode 2018–2022 juga menunjukkan bahwa PBL banyak digunakan sebagai pendekatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis.
Namun, menurut saya, model tersebut tidak dapat dianggap selalu efektif dalam semua kondisi. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda. Misalnya, meta-analisis Manuaba et al. (2022) pada mahasiswa kedokteran tahun pertama tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara PBL dan pembelajaran konvensional dalam kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, maupun pembelajaran mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan PBL tidak hanya bergantung pada penggunaan modelnya, tetapi juga pada bagaimana guru merancang masalah, memberikan arahan, membentuk kelompok, dan memberikan scaffolding kepada peserta didik.
Dari sisi penerapan, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik juga membutuhkan kesiapan guru yang cukup tinggi. Guru harus mampu membuat masalah yang relevan, menyusun pertanyaan yang mendorong pemikiran mendalam, serta mengelola
diskusi agar tidak keluar dari tujuan pembelajaran. Jika pertanyaan yang diberikan terlalu sederhana, siswa hanya akan memberikan jawaban singkat tanpa melakukan proses berpikir kritis. Sebaliknya, jika masalah terlalu kompleks tanpa pendampingan yang memadai, siswa dapat mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran.
Jika diterapkan dalam pembelajaran ekonomi, model ini menurut saya sangat potensial karena banyak materi ekonomi yang dapat dikaitkan dengan masalah nyata. Misalnya, guru dapat memberikan
kasus mengenai kenaikan harga bahan pokok, inflasi, pengangguran, atau kebijakan pemerintah. Setelah itu, siswa dapat diminta menganalisis penyebab dan dampaknya melalui
diskusi, kemudian guru menggunakan pertanyaan Socratik seperti: “Apa bukti yang mendukung pendapat tersebut?”, “Mengapa masalah tersebut dapat terjadi?”, “Apakah ada kemungkinan penyebab lain?”, atau “Apa dampaknya jika kebijakan tersebut diterapkan?” Dengan cara ini, siswa tidak hanya menghafal konsep ekonomi, tetapi belajar menggunakan konsep tersebut untuk menganalisis persoalan nyata.