TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

Number of replies: 20


Silakan dikaji artikel ilmiah mengenai model pembelajaran berikut. Selanjutnya lakukan  critical review model pembelajaran dengan mengacu kepada sumber bacaan mutakhir.

Redhana, I. W. (2013).
“Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa.”
Jurnal Cakrawala Pendidikan, No. 3.

DOI: 10.21831/cp.v0i3.1136


View of MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN PERTANYAAN SOCRATIK UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA

In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Keyza Maya Aurora -
Nama : Keyza Maya Aurora
NPM : 2513031089

Model ini berpusat pada siswa. Siswa aktif mencari informasi, berdiskusi, memecahkan masalah, dan menyampaikan pendapat. PBL dimulai dengan masalah, sedangkan pertanyaan Socratik membantu siswa berpikir lebih kritis dan mendalam.

Adapun Langkah-Langkah Pembelajarannya: 
Masalah → memahami materi → diskusi → pertanyaan Socratik → presentasi → evaluasi.

Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah. Guru memberikan pertanyaan untuk menggali alasan dan bukti dari jawaban siswa. Jadi, guru sebagai pembimbing dan siswa lebih aktif dalam belajar.
In reply to Keyza Maya Aurora

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Febiola salsabila -
Nama : Febiola Salsabila
NPM : 2513031022

Studi Redhana (2013) ini menarik karena berhasil membuktikan bahwa memadukan pembelajaran berbasis masalah dengan pertanyaan Socratik memang lebih ampuh dibanding metode ceramah biasa untuk mengasah kemampuan berpikir kritis siswa SMP, terlihat dari hasil uji Ancova yang cukup meyakinkan (p=0,000) dengan melibatkan ratusan siswa dari empat sekolah di Buleleng. Hanya saja, kalau ditelaah lebih dalam, ada beberapa celah yang bikin kesimpulannya tidak bisa ditelan mentah-mentah: karena kelasnya bukan hasil pengacakan murni (cuma memakai kelas yang sudah ada), selalu ada kemungkinan bahwa perbedaan hasil itu bukan semata-mata karena metodenya, melainkan karena karakter siswa di tiap kelas memang sudah berbeda sejak awal. Belum lagi, artikel ini tidak pernah menyebutkan apakah guru yang mengajar kelas eksperimen dan kelas kontrol itu orang yang sama atau berbeda padahal kalau gurunya beda, bisa saja yang terlihat "efektif" itu sebenarnya gaya mengajar gurunya, bukan modelnya. Peneliti juga tidak menunjukkan bukti konkret soal bagaimana pertanyaan Socratik itu benar-benar dipraktikkan di kelas, jadi sulit menilai apakah keberhasilannya murni dari kualitas pertanyaan atau sekadar karena siswa dapat perhatian dan waktu belajar lebih banyak. Kalau dibandingkan dengan riset-riset yang lebih baru dalam beberapa tahun terakhir, temuan Redhana ini sebenarnya cukup sejalan banyak meta-analisis terkini juga menunjukkan PBL memang berdampak besar pada kemampuan berpikir kritis. Namun riset terbaru juga mengingatkan bahwa keberhasilan pertanyaan Socratik itu sangat tergantung pada seberapa terampil gurunya bertanya dan seberapa siap siswa untuk berpikir abstrak, sesuatu yang tidak dibahas sama sekali oleh Redhana. Ditambah lagi, sekarang metode Socratik mulai dikombinasikan dengan teknologi seperti chatbot AI, sebuah arah yang jelas belum terpikirkan pada masa artikel ini ditulis. Jadi kesimpulannya, model ini tetap relevan untuk diterapkan, apalagi sangat cocok dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan kemampuan bernalar kritis, tapi hasil penelitiannya perlu dibaca dengan sedikit kehati-hatian mengingat keterbatasan desain penelitiannya.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Icha putri prasetia -







Nama Icha putri prasetia 

NPM 2513031078

Critical Review: Redhana (2013), "Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa"

Penelitian kuasi-eksperimen ini menguji efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) dibanding model pembelajaran langsung terhadap keterampilan berpikir kritis 273 siswa SMP IPA di Buleleng, Bali (nonequivalent control group design, analisis Ancova). Temuan menunjukkan MPBM-PS secara signifikan lebih efektif (p=0,000; partial eta squared 0,220). Model ini memodifikasi PBL murni dengan menambahkan dua unsur bimbingan: pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik (enam jenis menurut Paul, 1990), karena PBL murni dinilai terlalu sulit diterapkan pada level berpikir siswa SMP tanpa bimbingan.


Kekuatan Artikel

- Desain metodologis cukup ketat uji asumsi lengkap (normalitas, homogenitas varians, linieritas, homogenitas kemiringan regresi) sebelum Ancova praktik yang jarang dilaporkan lengkap dalam artikel serupa di jurnalnya.

- Kontribusi konseptual jelas bukan sekadar menerapkan PBL generik, tetapi merumuskan modifikasi eksplisit (penambahan pertanyaan konseptual + Socratik) sebagai respons terhadap keterbatasan kognitif siswa SMP ini poin orisinalitas yang kuat.

- Landasan teoretis eksplisit dikaitkan dengan empat pilar pendidikan UNESCO dan taksonomi pertanyaan Socratik Paul & Binker (1990), memberi kerangka pedagogis yang jelas bagi setiap tahap model.


Kelemahan dan Titik Kritis


1. Validitas internal desain quasi-eksperimen

Penggunaan intact class (kelas yang sudah ada) tanpa randomisasi individu berisiko selection bias perbedaan karakteristik kelas kontrol dan eksperimen (guru, iklim kelas, motivasi awal) bisa mengaburkan efek murni model. Meski Ancova mengontrol skor pretes, variabel pengganggu lain (kualitas guru pengajar, waktu pembelajaran) tidak dikontrol secara eksplisit.


2. Ancaman novelty effect dan bias guru

Tidak dijelaskan apakah guru kelompok eksperimen dan kontrol sama, dan tidak ada kontrol terhadap efek "kebaruan metode" yang bisa meningkatkan motivasi siswa terlepas dari kualitas pedagogis model itu sendiri.


3. Generalisasi terbatas

Sampel hanya dari satu kabupaten (Buleleng) dan dua topik IPA (sistem pencernaan/peredaran darah dan bahan kimia). Klaim keunggulan MPBM-PS sulit digeneralisasi lintas mata pelajaran, jenjang, atau konteks sosial-budaya lain tanpa replikasi.


4. Instrumen berpikir kritis

Artikel tidak memaparkan secara rinci validitas dan reliabilitas instrumen tes berpikir kritis yang dipakai aspek krusial mengingat konstruk berpikir kritis multidimensi dan sulit diukur secara valid hanya dengan satu instrumen berbasis konten IPA.


5. "Black box" mekanisme

Studi ini bersifat outcome-only mengonfirmasi bahwa MPBM-PS lebih baik, tetapi tidak menelusuri proses misalnya lewat analisis wacana/transkrip dialog Socratik bagaimana jenis pertanyaan Socratik tertentu berkontribusi pada perubahan kognitif siswa. Ini kelemahan umum penelitian kuantitatif-eksperimental era itu.

 Relevansi dengan Literatur Mutakhir


Temuan Redhana (2013) sejalan dan diperkuat oleh riset-riset terbaru:


- Meta-analisis terkini tentang PBL terhadap keterampilan berpikir kritis mengonfirmasi efek yang secara signifikan mengungguli metode konvensional, dengan ukuran efek keseluruhan sebesar 1,081 dalam model efek acak mendukung arah temuan Redhana meski dengan skala bukti yang jauh lebih besar.

- Riset mutakhir tentang pertanyaan Socratik menemukan bahwa metode ini memperkuat berpikir kritis, memperkaya pemahaman siswa, dan menumbuhkan budaya keingintahuan serta perenungan yang penting untuk menghadapi tantangan kompleks , serta terbukti meningkatkan keterlibatan dan kolaborasi siswa memperkuat argumen Redhana bahwa pertanyaan Socratik bukan sekadar tambahan, melainkan komponen fungsional yang signifikan.

- Perkembangan terbaru bahkan mengintegrasikan PBL dengan dialog Socratik dalam format e-modul, menunjukkan tren keberlanjutan gagasan modifikasi Redhana satu dekade kemudian bukan lagi sekadar LKS cetak, tapi platform digital.

- Kajian tentang kombinasi problem-solving otentik dan berpikir kritis dalam pembelajaran kolaboratif terbaru juga menegaskan bahwa tugas pemecahan masalah kolaboratif yang melibatkan masalah dunia nyata yang tidak terstruktur menghasilkan peningkatan substansial dalam berpikir kritis siswa  konsisten dengan penekanan Redhana pada masalah.


Poin kritis kebaruan Literatur pasca-2020 mulai bergerak ke arah integrasi teknologi AI chatbot berbasis prinsip Socratik sebagai bentuk mentoring personal arah yang sama sekali belum tersentuh dalam artikel Redhana (2013) karena keterbatasan zamannya. Ini menjadi celah riset yang relevan diangkat lagi hari ini.


 Implikasi untuk Pembelajaran Ekonomi

Model MPBM-PS sangat relevan diadaptasi untuk ekonomi karena materi ekonomi (inflasi, kebijakan fiskal, elastisitas) sering bersifat ill-structuredbdan kontekstual. Namun, calon guru ekonomi perlu mewaspadai keterbatasan metodologis di atas — misalnya tidak serta-merta mengklaim keunggulan mutlak MPBM-PS tanpa mempertimbangkan karakteristik kelas, kesiapan guru merumuskan pertanyaan Socratik yang tepat (yang menuntut penguasaan konten mendalam), dan kebutuhan instrumen asesmen berpikir kritis yang tervalidasi untuk konteks ekonomi, bukan sekadar meminjam instrumen dari bidang IPA.

In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by FAKHRANA PERMATASARI -
Nama:Fakhrana Permatasari
NPM: 2513031080

273 siswa dari empat SMP di Buleleng, Bali, menguji efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) dibandingkan model pembelajaran langsung dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis pada mata pelajaran IPA. MPBM-PS memodifikasi PBL "murni" dengan menambahkan dua unsur bimbingan: pertanyaan konseptual (untuk menguasai konsep esensial) dan pertanyaan Socratik enam jenis dari Paul & Binker (1990) — klarifikasi, penyelidikan asumsi, alasan/bukti, perspektif, implikasi, dan pertanyaan tentang pernyataan. Hasil uji Ancova menunjukkan MPBM-PS signifikan lebih unggul dibandingkan pembelajaran langsung.siswa lebih efektif dan aktif dalam pembelajaran
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Azello Al-zukhruf Sabil -
Nama: Azello Al-zukhruf Sabil
Npm: 2513031072

Artikel ini membahas model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik (MPBM-PS) untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dalam pembelajaran ini, siswa diberikan masalah yang berkaitan dengan situasi nyata, kemudian diarahkan dengan berbagai pertanyaan agar mereka aktif mencari informasi, berdiskusi, dan menemukan solusi.
Penelitian dilakukan pada 273 siswa SMP dengan membandingkan MPBM-PS dan pembelajaran langsung. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan MPBM-PS memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik. Menurut saya, kelebihan model ini adalah siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan tidak hanya menerima materi dari guru. Namun, guru tetap perlu memberikan arahan agar siswa tidak kesulitan dalam menyelesaikan masalah.
Secara keseluruhan, artikel ini menunjukkan bahwa MPBM-PS dapat digunakan sebagai model pembelajaran untuk membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Cornelius I Made Risky Dwi Anggara -
Nama: Cornelius I Made Risky Dwi Anggara
NPM: 2513031070

Menurut saya, Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis karena siswa tidak hanya mempelajari materi, tetapi juga harus mencari informasi, memecahkan masalah, dan mempertanggungjawabkan pendapatnya melalui pertanyaan Socratik. Dalam penelitian Redhana, yang melibatkan 273 siswa SMP, rata-rata nilai postes kelompok MPBM-PS mencapai 24,93, lebih tinggi daripada kelompok pembelajaran langsung sebesar 20,38. Hasil ANCOVA juga menunjukkan pengaruh yang signifikan (p < 0,001).

Kelebihan model ini adalah mendorong siswa berpikir lebih mendalam, terutama melalui pertanyaan yang menggali alasan, bukti, asumsi, dan akibat suatu pendapat. Namun, model ini memiliki keterbatasan karena membutuhkan guru yang mampu memberikan pertanyaan dan bimbingan yang tepat, serta penelitian Redhana masih terbatas pada mata pelajaran IPA tingkat SMP, sehingga penerapannya pada ekonomi perlu disesuaikan.

Bagi pembelajaran ekonomi, model ini sangat relevan karena masalah ekonomi dalam kehidupan nyata bersifat kompleks. Misalnya, siswa dapat menganalisis penyebab kenaikan harga, kemudian diminta memberikan solusi berdasarkan data dan bukti. Jadi, menurut saya, MPBM-PS bukan hanya membuat siswa memahami teori ekonomi, tetapi juga melatih mereka berpikir kritis dan mengambil keputusan secara rasional.

Rujukan: Redhana (2013); Yu & Zin (2023); Zhao et al. (2022).
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Hendra Ihya Purnama -
Nama : Hendra Ihya Purnama
NPM : 2513031075

Saya berpendapat bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, sebab dalam model ini siswa tidak sekadar menyerap materi, melainkan dituntut mencari informasi sendiri, memecahkan masalah, serta mempertanggungjawabkan pendapatnya lewat rangkaian pertanyaan Socratik. Penelitian Redhana yang melibatkan 273 siswa dari empat SMP di Buleleng, Bali, menggunakan desain kuasi-eksperimen dengan kelompok kontrol yang diajar melalui pembelajaran langsung dan kelompok eksperimen yang diajar dengan MPBM-PS, kemudian data dianalisis menggunakan Ancova pada taraf signifikansi 5%. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok MPBM-PS mencatatkan rerata nilai postes 24,93, mengungguli kelompok pembelajaran langsung yang hanya mencapai 20,38, dengan pengaruh yang signifikan secara statistik (p < 0,001) (Redhana, 2013).
ResearchGate
Keunggulan model ini terletak pada kemampuannya mendorong siswa berpikir lebih dalam, khususnya melalui pertanyaan yang mengarahkan mereka menggali alasan, bukti, asumsi, dan konsekuensi dari suatu pendapat. Meski begitu, model ini punya keterbatasan: keberhasilannya sangat bergantung pada kepiawaian guru dalam menyusun pertanyaan dan memberikan bimbingan yang tepat. Selain itu, penelitian Redhana masih terbatas pada konteks IPA tingkat SMP, sehingga penerapannya di mata pelajaran ekonomi memerlukan penyesuaian tersendiri.
Dalam konteks pembelajaran ekonomi, model ini menurut saya sangat cocok diterapkan karena persoalan ekonomi di dunia nyata umumnya kompleks dan multidimensi. Sebagai contoh, siswa bisa diajak menganalisis faktor-faktor penyebab kenaikan harga suatu barang, lalu diminta merumuskan solusi yang didukung data dan bukti konkret. Dengan demikian, MPBM-PS tidak hanya membantu siswa memahami teori ekonomi secara konseptual, tetapi juga melatih mereka berpikir kritis dan mengambil keputusan secara rasional.
Rujukan terverifikasi:
Redhana, I. W. (2013). Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, (3), 351–365. https://doi.org/10.21831/cp.v0i3.1136
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Arya Wijaya -
Nama: Arya wijaya
Npm: 2513031090

Penelitian Redhana (2013) menguji model pembelajaran gabungan antara masalah (PBL) dan pertanyaan Socratik terhadap keterampilan berpikir kritis 273 siswa SMP di Buleleng, Bali. Hasilnya menunjukkan model ini terbukti lebih efektif dibanding pembelajaran langsung, dengan analisis statistik yang cukup rapi karena semua syarat uji (normalitas, homogenitas, linearitas) dicek lebih dahulu sebelum menarik kesimpulan. Idenya juga masuk akal secara pedagogis: siswa dihadapkan pada masalah, lalu dibimbing bertahap lewat pertanyaan agar tidak kebingungan, dan pendekatan semacam ini sejalan dengan penelitian-penelitian setelahnya yang menyatakan bahwa PBL biasa saja belum tentu efektif meningkatkan berpikir kritis kecuali dimodifikasi dengan tambahan bimbingan seperti yang dilakukan Redhana.

Namun demikian, penelitian ini juga punya sejumlah kelemahan yang perlu dicermati. Siswa dikelompokkan berdasarkan kelas utuh, bukan diacak satu per satu, sehingga hasilnya bisa saja dipengaruhi oleh faktor guru, bukan murni oleh model pembelajaran, apalagi artikel ini tidak menjelaskan apakah kelas eksperimen dan kontrol diajar oleh guru yang sama. Alat tes berpikir kritis yang digunakan juga tidak dijelaskan proses validasinya, sehingga sulit dipastikan keakuratannya. Selain itu, pengukuran hanya dilakukan sekali dalam jangka pendek sehingga tidak diketahui apakah efeknya bertahan lama, dan sampel penelitian hanya berasal dari satu daerah sehingga generalisasi ke wilayah lain masih terbatas.

Secara keseluruhan, gagasan model ini tetap relevan hingga sekarang, bahkan konsep pertanyaan Socratik kini mulai diadopsi dalam chatbot berbasis AI untuk melatih siswa berpikir kritis. Meski begitu, dari sisi metode penelitian, studi ini masih memiliki keterbatasan terkait kontrol variabel guru, validitas alat ukur, dan generalisasi hasil, sehingga perlu diuji ulang dengan desain penelitian yang lebih ketat sebelum diterapkan secara luas.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Afy Nurul Aini -
Afy Nurul Aini
2513031074

Menurut saya, kekuatan utama model ini terletak pada penggabungan dua pendekatan yang saling mendukung. Pembelajaran berbasis masalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghadapi persoalan yang harus dianalisis dan diselesaikan, sedangkan pertanyaan Socratik mendorong siswa untuk tidak langsung menerima suatu jawaban, tetapi mempertanyakan alasan, bukti, asumsi, dan kesimpulan yang mereka buat. Dengan demikian, siswa tidak hanya dituntut untuk mendapatkan jawaban, tetapi juga memahami proses berpikir di balik jawaban tersebut.
Temuan Redhana juga masih relevan jika dibandingkan dengan penelitian yang lebih baru. Meta-analisis tahun 2022 yang mencakup 50 penelitian dengan 5.210 peserta menunjukkan bahwa Problem-Based Learning (PBL) memberikan pengaruh positif yang cukup kuat terhadap kemampuan dan disposisi berpikir kritis, meskipun tingkat pengaruhnya berbeda-beda berdasarkan karakteristik peserta didik, ukuran kelompok, metode pembelajaran, dan lamanya intervensi. Penelitian lain pada tahun 2023 yang melakukan systematic review terhadap penelitian PBL periode 2018–2022 juga menunjukkan bahwa PBL banyak digunakan sebagai pendekatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis.
Namun, menurut saya, model tersebut tidak dapat dianggap selalu efektif dalam semua kondisi. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda. Misalnya, meta-analisis Manuaba et al. (2022) pada mahasiswa kedokteran tahun pertama tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara PBL dan pembelajaran konvensional dalam kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, maupun pembelajaran mandiri. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan PBL tidak hanya bergantung pada penggunaan modelnya, tetapi juga pada bagaimana guru merancang masalah, memberikan arahan, membentuk kelompok, dan memberikan scaffolding kepada peserta didik.
Dari sisi penerapan, model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik juga membutuhkan kesiapan guru yang cukup tinggi. Guru harus mampu membuat masalah yang relevan, menyusun pertanyaan yang mendorong pemikiran mendalam, serta mengelola diskusi agar tidak keluar dari tujuan pembelajaran. Jika pertanyaan yang diberikan terlalu sederhana, siswa hanya akan memberikan jawaban singkat tanpa melakukan proses berpikir kritis. Sebaliknya, jika masalah terlalu kompleks tanpa pendampingan yang memadai, siswa dapat mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran.
Jika diterapkan dalam pembelajaran ekonomi, model ini menurut saya sangat potensial karena banyak materi ekonomi yang dapat dikaitkan dengan masalah nyata. Misalnya, guru dapat memberikan kasus mengenai kenaikan harga bahan pokok, inflasi, pengangguran, atau kebijakan pemerintah. Setelah itu, siswa dapat diminta menganalisis penyebab dan dampaknya melalui diskusi, kemudian guru menggunakan pertanyaan Socratik seperti: “Apa bukti yang mendukung pendapat tersebut?”, “Mengapa masalah tersebut dapat terjadi?”, “Apakah ada kemungkinan penyebab lain?”, atau “Apa dampaknya jika kebijakan tersebut diterapkan?” Dengan cara ini, siswa tidak hanya menghafal konsep ekonomi, tetapi belajar menggunakan konsep tersebut untuk menganalisis persoalan nyata.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Mega Veronica -
Nama : Mega Veronica
NPM : 2513031083
Redhana (2013) menguji model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik (MPBM-PS), dibandingkan pembelajaran langsung, pada 273 siswa SMP. Hasilnya MPBM-PS terbukti lebih efektif meningkatkan berpikir kritis, dengan pengujian statistik yang cukup lengkap dan sampel yang cukup besar dari empat sekolah.
Meski begitu, ada beberapa kelemahan. Karena kelas tidak diacak, hasilnya rentan bias dari faktor guru atau karakteristik kelas, bukan murni dari modelnya. Tiga komponen model masalah, pertanyaan konseptual, dan pertanyaan Socratik juga digabung sekaligus, sehingga tidak jelas komponen mana yang paling berperan. Instrumen tesnya buatan sendiri tanpa penjelasan validitas yang memadai, dan tidak ada data soal apakah efeknya bertahan lama.
Dibanding literatur terbaru, hasilnya juga tidak sepenuhnya konsisten. Beberapa meta analisis terbaru (misalnya Aripin dkk., 2025) menemukan PBL memang efektif meningkatkan berpikir kritis dengan efek besar, sejalan dengan Redhana. Tapi meta-analisis lain (Vecolitha & Yudiarso, 2021) justru menemukan efek PBL yang kurang signifikan dengan variasi hasil antar-studi yang sangat tinggi, dan Liu & Pásztor (2022) mencatat perdebatan soal ini masih berlangsung.
Jadi, temuan Redhana sejalan dengan sebagian studi optimis, tapi efektivitas PBL tampaknya sangat bergantung pada kualitas bimbingan dan konteks penerapan, bukan efek yang otomatis berlaku di semua kondisi. Klaim bahwa pertanyaan Socratik secara khusus menambah manfaat di atas PBL biasa juga masih perlu dibuktikan dengan desain yang memisahkan efek tiap komponen.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Ardhini Tsamara -
Nama : Ardhini Dwita Tsamara
Npm : 2513031024

Artikel Redhana (2013) membahas model Problem-Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model tersebut lebih efektif dibandingkan pembelajaran langsung karena mendorong peserta didik aktif mencari informasi, mengidentifikasi masalah, menghubungkan informasi, dan menyusun solusi. Pertanyaan Socratik juga membantu siswa mempertanyakan alasan, bukti, dan asumsi sehingga kemampuan berpikir kritis dapat berkembang. Temuan ini masih relevan dengan penelitian mutakhir yang menunjukkan bahwa PBL dapat meningkatkan kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan berpikir kritis.

Namun, model ini memiliki keterbatasan karena penelitian Redhana dilakukan pada mata pelajaran IPA tingkat SMP, sehingga penerapannya pada Ekonomi SMA perlu disesuaikan. PBL juga tidak otomatis meningkatkan berpikir kritis tanpa bimbingan guru, pertanyaan yang tepat, dan penggunaan data yang relevan. Oleh karena itu, model PBL dan pertanyaan Socratik dapat diterapkan dalam pembelajaran Ekonomi melalui kasus seperti inflasi, suku bunga, atau pengangguran. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya memahami konsep ekonomi, tetapi juga mampu menganalisis masalah, menggunakan data, dan memberikan argumentasi berdasarkan bukti.
In reply to Ardhini Tsamara

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Lioni Debora Sibarani -
Nama : Lioni Debora Sibarani
NPM : 2513031082
Artikel ini membahas penelitian yang menguji efektivitas model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian dilakukan pada mata pelajaran IPA di tingkat SMP, dengan melibatkan 273 siswa dari empat sekolah di Buleleng, Bali. Peneliti membandingkan dua kelompok: kelompok kontrol yang diajar dengan model pembelajaran langsung (direct teaching), dan kelompok eksperimen yang diajar menggunakan model berbasis masalah dipadu pertanyaan Socratik. Hasil analisis data menggunakan Ancova menunjukkan bahwa kelompok eksperimen memiliki peningkatan keterampilan berpikir kritis yang lebih baik dibanding kelompok kontrol.

Kelebihan
Menurut saya, kekuatan utama penelitian ini terletak pada desainnya yang cukup kuat secara metodologis, karena melibatkan sampel yang cukup besar (273 siswa dari empat sekolah berbeda), sehingga hasilnya lebih bisa digeneralisasi dibanding penelitian dengan sampel kecil di satu kelas saja. Penggabungan dua strategi, yaitu problem-based learning dan pertanyaan Socratik, juga menarik karena keduanya sama-sama berorientasi pada penguatan proses berpikir siswa, bukan sekadar transfer informasi. Pertanyaan Socratik berfungsi memancing siswa untuk terus menggali alasan di balik jawabannya sendiri, sehingga cocok dipadukan dengan pembelajaran berbasis masalah yang memang menuntut siswa aktif menganalisis suatu kasus.

Kekurangan atau Catatan Kritis
Di sisi lain, ada beberapa hal yang menurut saya masih perlu dipertanyakan. Pertama, penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan nonequivalent control group, artinya kelompok kontrol dan eksperimen tidak dipilih secara acak murni. Ini membuka kemungkinan adanya faktor luar (seperti perbedaan karakteristik awal siswa antar sekolah) yang turut memengaruhi hasil, bukan murni karena perlakuan model pembelajarannya. Kedua, penelitian ini terbatas pada konteks IPA di jenjang SMP, sehingga generalisasi ke mata pelajaran lain (misalnya ekonomi atau ilmu sosial) perlu dilakukan dengan hati-hati karena karakteristik materi dan cara berpikir kritis di tiap bidang bisa berbeda. Ketiga, artikel ini (setidaknya dari abstraknya) belum secara detail menjelaskan bagaimana instrumen keterampilan berpikir kritis diukur, apakah menggunakan indikator standar seperti Facione atau indikator buatan peneliti sendiri, sehingga sulit menilai validitas alat ukurnya secara mendalam.
Relevansi dengan Pembelajaran Ekonomi
Meskipun konteks penelitiannya IPA, saya rasa temuan ini tetap relevan untuk diterapkan di pembelajaran ekonomi, terutama pada materi-materi yang menuntut analisis, seperti permintaan-penawaran atau kebijakan ekonomi. Pertanyaan Socratik bisa dipakai guru untuk terus mendorong siswa berpikir "mengapa" dan "bagaimana jika", sementara pembelajaran berbasis masalah bisa dikemas lewat studi kasus ekonomi nyata di sekitar siswa.

Kesimpulan
Secara umum, penelitian Redhana (2013) memberikan bukti empiris yang cukup meyakinkan bahwa perpaduan model berbasis masalah dan pertanyaan Socratik dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dibanding pembelajaran langsung. Namun, keterbatasan pada desain penelitian dan konteks mata pelajaran membuat hasil ini perlu diuji lebih lanjut, khususnya bila ingin diterapkan pada bidang studi lain seperti ekonomi
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Asta Mahardika -
Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik (MPBM-PS) secara signifikan mengungguli metode pengajaran langsung dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Model inovatif ini tidak membiarkan siswa kebingungan mencari jawaban sendiri, tetapi menggabungkan tiga komponen utama yang saling menguatkan. Sebagai langkah awal, guru mengawali pelajaran dengan memberikan masalah terbuka (ill-structured) untuk memancing rasa ingin tahu dan memotivasi siswa mencari informasi. Karena siswa SMP umumnya masih kesulitan memecahkan masalah tanpa panduan, guru menyertakan pertanyaan konseptual sebagai komponen pendukung. Pertanyaan ini berfungsi sebagai jembatan yang menuntun siswa memahami teori dasar sebelum mereka merumuskan solusi dari masalah utama.

Selanjutnya, guru menggunakan pertanyaan Socratik sebagai bentuk bimbingan mental tingkat lanjut yang mengasah logika. Guru tidak sekadar menyalahkan atau membenarkan jawaban siswa, melainkan melontarkan pertanyaan kritis yang menuntut siswa mengklarifikasi ide, menjelaskan asumsi, menyajikan bukti rasional, dan memikirkan akibat dari pendapat mereka. Guru selalu menyesuaikan arah pertanyaan secara langsung dengan respon siswa saat diskusi berlangsung, sehingga pendekatan ini menjadi sangat dinamis. Proses tanya-jawab ini mengorek pemahaman siswa secara mendalam dan memaksa nalar mereka berkembang maksimal. Pengujian ketat pada ratusan siswa SMP membuktikan bahwa ketiga komponen tersebut berhasil mendorong siswa menemukan pengetahuan secara kolaboratif. Hasil analisis data statistik juga mengonfirmasi bahwa penerapan MPBM-PS secara langsung menghasilkan lonjakan kemampuan berpikir kritis, sekaligus sukses mengubah siswa menjadi pemikir aktif yang terlatih mengambil keputusan secara logis.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Dea Saputri -

Nama : Dea Saputri

NPM : 2513031073

Artikel Redhana (2013) membahas penggunaan pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Dari hasil penelitian, model ini menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan pembelajaran langsung. Menurut saya, hal yang menarik dari model ini adalah siswa tidak langsung diberi jawaban oleh guru. Mereka diberi masalah dan diarahkan dengan pertanyaan sehingga harus mencari alasan dan memikirkan jawabannya sendiri.

Menurut saya, pendekatan seperti ini cocok dengan pembelajaran ekonomi karena banyak materi ekonomi yang sebenarnya dekat dengan masalah sehari-hari. Misalnya ketika harga bahan pokok naik, siswa tidak hanya diminta menghafal pengertian inflasi, tetapi bisa diajak berpikir tentang apa penyebabnya, siapa yang terdampak, dan apa yang mungkin dilakukan untuk mengatasinya. Pertanyaan seperti “Mengapa harga bisa naik?” atau “Apa akibatnya bagi masyarakat?” dapat membuat siswa lebih aktif dalam berpikir.

Namun, model ini tidak berarti selalu mudah diterapkan. Guru harus mampu membuat pertanyaan yang benar-benar mengarahkan siswa untuk berpikir, bukan malah memberikan jawaban secara tidak langsung. Selain itu, pembelajaran berbasis masalah biasanya membutuhkan waktu lebih banyak karena siswa perlu memahami masalah, berdiskusi, dan menyampaikan hasil pemikirannya. Tidak semua siswa juga langsung berani mengemukakan pendapat.

Jika dikaitkan dengan pembelajaran saat ini, model Problem-Based Learning masih relevan untuk melatih berpikir kritis. Kajian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa PBL dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, terutama jika kegiatan belajarnya memang dirancang untuk membuat siswa menganalisis dan memberikan alasan, bukan hanya menyelesaikan masalah.

Jadi, menurut saya model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan Socratik masih layak diterapkan dalam pembelajaran ekonomi. Tetapi guru tidak perlu menggunakannya secara kaku. Model tersebut perlu disesuaikan dengan materi, kondisi kelas, dan kemampuan siswa. Yang paling penting bukan mengikuti model yang dianggap bagus, tetapi bagaimana model tersebut membuat siswa benar-benar berpikir dan memahami materi.


In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Muhammad Ronaldo -
Nama : Muhammad Ronaldo Ilham
Npm :2553031001

Menurut saya, artikel Redhana (2013) menunjukkan bahwa model **Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik** dapat membantu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Kelebihan model ini adalah siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi ikut mencari solusi dari masalah, berdiskusi, memberikan alasan, dan mempertimbangkan kembali jawabannya. Namun, model ini juga memiliki kekurangan karena membutuhkan waktu yang cukup, kesiapan guru dalam membuat masalah dan pertanyaan yang tepat, serta kemampuan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Jika diterapkan dalam pembelajaran ekonomi, misalnya pada materi inflasi, guru dapat memberikan kasus kenaikan harga kebutuhan pokok dan mengajak siswa menganalisis penyebab serta dampaknya melalui pertanyaan-pertanyaan Socratik. Menurut saya, model ini masih relevan digunakan saat ini, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik materi, dan kondisi peserta didik agar benar-benar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Sherly Nur Afifah -
Nama : Sherly Nur Afifah
NPM : 2513031028


menurut saya idenya cukup masuk akal untuk siswa SMP. Penulis melihat PBL "murni" terlalu berat karena minim bimbingan, makanya ditambahkan pertanyaan konseptual dan pertanyaan Socratik (enam jenis dari Paul, 1990) supaya siswa tidak bingung menghadapi masalah ill-structured. Hasilnya pun terlihat meyakinkan, uji Ancova terhadap 273 siswa di Buleleng menunjukkan MPBM-PS lebih unggul dari pembelajaran langsung, dengan signifikansi 0,000 dan effect size yang tergolong besar.
Tapi kalau ditelaah lebih kritis, ada beberapa kelemahan yang cukup terasa. Penulis menggabungkan tiga komponen sekaligus (masalah, pertanyaan konseptual, pertanyaan Socratik) tanpa menguji mana yang sebenarnya paling berkontribusi, hanya disebut "efek kumulatif" tanpa desain pembanding yang bisa memastikannya. Reliabilitas dan validitas instrumen tes berpikir kritis juga tidak dilaporkan, dan tidak ada data proses yang menunjukkan bagaimana pertanyaan Socratik itu sebenarnya dipraktikkan di kelas.
Menariknya, kalau dibandingkan riset yang lebih baru, temuan Redhana ini masih relevan. Meta-analisis Hafizah dkk. (2024) terhadap 20 studi 2020–2024 juga menemukan efek besar PBL terhadap berpikir kritis, jadi temuan lama ini bukan berarti sudah usang. Bahkan sekarang muncul riset yang mengembangkan chatbot AI untuk mengajukan pertanyaan Socratik ke siswa, arah menarik untuk melihat apakah peran guru di sini bisa dibantu teknologi.
Dikaitkan dengan Kurikulum Merdeka sekarang, semangat MPBM-PS ini sebenarnya cukup relevan karena sama-sama menempatkan siswa sebagai pihak aktif memecahkan masalah nyata. Hanya saja, studi implementasi terbaru mengingatkan bahwa keberhasilan seperti di Buleleng tidak mudah terulang tanpa kesiapan guru yang matang, sebab merancang pertanyaan Socratik yang baik butuh keterampilan pedagogik tersendiri. Jadi kesimpulannya, MPBM-PS layak diapresiasi sebagai model yang cukup maju untuk zamannya, tapi perlu penelitian lanjutan yang memisahkan peran pertanyaan Socratik secara lebih tegas dan mengujinya di konteks pembelajaran yang sekarang jauh lebih kompleks.
In reply to Sherly Nur Afifah

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Mita Amelia -

Mita Amelia

2513031085


Artikel Redhana (2013) membahas model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Menurut saya, model ini menarik karena siswa tidak hanya diberikan materi lalu diminta menghafalnya, tetapi mereka diajak menghadapi suatu masalah dan mencari tahu sendiri bagaimana cara menyelesaikannya. Jadi, proses belajarnya lebih banyak melibatkan siswa, sedangkan guru berperan sebagai pembimbing.

Dalam model PBL, pembelajaran biasanya dimulai dari suatu masalah yang dekat dengan kehidupan siswa. Misalnya dalam pelajaran Ekonomi tentang inflasi, guru tidak langsung memberikan definisi inflasi dan rumusnya. Guru bisa memulai dengan pertanyaan seperti, “Mengapa harga makanan di kantin sekarang lebih mahal dibandingkan sebelumnya?” Dari masalah tersebut, siswa kemudian mencari penyebabnya, menghubungkannya dengan materi inflasi, dan mencoba memahami dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Yang membuat model dalam artikel Redhana menjadi lebih menarik adalah adanya pertanyaan Socratik. Pertanyaan Socratik merupakan pertanyaan yang diberikan secara bertahap untuk membuat siswa berpikir lebih dalam. Jadi, guru tidak langsung memberikan jawaban, tetapi terus mengarahkan siswa melalui pertanyaan. Misalnya, ketika siswa mengatakan bahwa harga naik karena inflasi, guru bisa bertanya lagi, “Apakah setiap kenaikan harga berarti inflasi?”, kemudian “Apa yang menyebabkan harga barang naik?”, dan “Bagaimana kenaikan harga tersebut memengaruhi daya beli masyarakat?” Dengan cara seperti ini, siswa tidak hanya menghafal jawaban, tetapi belajar memberikan alasan dan mempertimbangkan suatu masalah dari beberapa sisi.

Kelebihan dari model ini adalah siswa menjadi lebih aktif dalam pembelajaran. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi harus mencari informasi, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan memberikan alasan atas jawabannya. Hal ini sesuai dengan tujuan berpikir kritis karena siswa dilatih untuk tidak langsung menerima informasi, tetapi mencoba memahami dan mempertanyakan informasi tersebut.

Namun, menurut saya model ini juga memiliki beberapa kekurangan. PBL membutuhkan waktu yang lebih banyak dibandingkan pembelajaran dengan metode ceramah. Guru juga harus mampu membuat masalah yang benar-benar sesuai dengan kemampuan siswa. Selain itu, pertanyaan Socratik tidak bisa dilakukan secara asal. Guru harus mampu memberikan pertanyaan lanjutan yang membuat siswa berpikir lebih dalam. Kalau pertanyaannya terlalu sulit atau tidak terarah, siswa justru bisa bingung.

Jika dikaitkan dengan penelitian yang lebih baru, penggunaan PBL untuk meningkatkan berpikir kritis masih relevan. Penelitian dan kajian terbaru menunjukkan bahwa PBL dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, tetapi hasilnya sangat bergantung pada bagaimana masalah, aktivitas siswa, diskusi, dan pertanyaan guru dirancang. Artinya, PBL saja tidak otomatis membuat siswa berpikir kritis. Guru tetap memiliki peran penting dalam mengarahkan proses pembelajaran.

Menurut saya, model pembelajaran dalam artikel Redhana juga cocok diterapkan dalam pembelajaran Ekonomi. Banyak materi Ekonomi yang sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti inflasi, pengangguran, pajak, kemiskinan, dan kebijakan pemerintah. Karena itu, guru bisa mengambil masalah nyata yang sering ditemui siswa sebagai awal pembelajaran. Dengan begitu, siswa tidak merasa bahwa Ekonomi hanya berisi definisi dan rumus yang harus dihafalkan.

Jadi, secara keseluruhan, artikel Redhana menunjukkan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna ketika siswa diberikan masalah untuk dipikirkan dan diarahkan dengan pertanyaan yang tepat. Menurut saya, kekuatan utama model ini bukan hanya pada PBL-nya, tetapi pada bagaimana guru menggunakan pertanyaan untuk membuat siswa berpikir lebih kritis. Model ini memang membutuhkan persiapan dan keterampilan guru, tetapi jika diterapkan dengan baik, siswa dapat menjadi lebih aktif, mampu memberikan alasan, dan lebih terbiasa menghubungkan materi pelajaran dengan masalah yang ada di kehidupan nyata.


In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by Faradila Mutiara Sari -
Nama : Faradila Mutiara Sari
NPM : 2513031023

Artikel karya I. W. Redhana (2013) yang berjudul “Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Pertanyaan Socratik untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa” membahas penerapan Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik. Model ini bertujuan untuk melatih siswa agar lebih aktif dalam memahami dan menyelesaikan suatu masalah. Siswa tidak hanya menerima materi dari guru, tetapi juga diarahkan untuk mencari informasi, menganalisis masalah, memberikan alasan, dan menarik kesimpulan. Pertanyaan Socratik digunakan untuk mendorong siswa agar lebih kritis dalam menyampaikan pendapat dan tidak langsung menerima suatu informasi tanpa mempertimbangkannya.

Menurut saya, model pembelajaran dalam artikel tersebut memiliki kelebihan karena dapat membuat siswa lebih aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran. PBL memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui masalah yang harus mereka selesaikan, sedangkan pertanyaan Socratik membantu siswa mengembangkan cara berpikir yang lebih mendalam. Namun, penerapan model ini juga membutuhkan kemampuan guru dalam memberikan masalah dan pertanyaan yang sesuai dengan kemampuan siswa. Jika pertanyaan yang diberikan terlalu sederhana, kemampuan berpikir kritis siswa kurang berkembang, sedangkan pertanyaan yang terlalu sulit dapat membuat siswa kesulitan mengikuti pembelajaran.

Walaupun artikel ini diterbitkan pada tahun 2013, konsep yang dibahas masih relevan dengan pembelajaran saat ini. Penelitian-penelitian yang lebih baru juga masih menunjukkan bahwa PBL dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Akan tetapi, penerapannya perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi, karakteristik siswa, materi pembelajaran, dan kondisi kelas. Jadi, keberhasilan model pembelajaran tidak hanya bergantung pada model yang digunakan, tetapi juga pada bagaimana guru menerapkannya dalam proses pembelajaran.

Secara keseluruhan, artikel Redhana memberikan gambaran bahwa perpaduan PBL dan pertanyaan Socratik dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa didorong untuk tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga memahami alasan dan proses dalam mendapatkan jawaban tersebut. Dengan beberapa penyesuaian sesuai kebutuhan pembelajaran sekarang, model ini masih dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk membuat pembelajaran lebih aktif dan mendorong siswa berpikir secara kritis.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by 2513031088 2513031088 -
Nama: Sani Maharani
NPM: 2513031088

Dalam artikel membahas model pembelajaran berbasis masalah yang dipadukan dengan pertanyaan Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Model ini menarik karena siswa tidak hanya diberikan materi, tetapi juga dihadapkan pada suatu masalah dan diarahkan melalui pertanyaan yang membuat mereka mencari alasan, menganalisis informasi, serta mempertanggungjawabkan jawabannya. Kelebihan model ini terletak pada keterlibatan siswa yang lebih aktif dalam proses pembelajaran, sehingga kemampuan berpikir kritis tidak hanya dilatih melalui teori, tetapi melalui proses menyelesaikan masalah. Namun, penerapannya membutuhkan persiapan guru yang cukup matang, terutama dalam menentukan masalah dan menyusun pertanyaan yang sesuai, serta membutuhkan waktu pembelajaran yang relatif lebih panjang. Hal ini menjadi pertimbangan karena tidak semua materi dan kondisi kelas dapat menggunakan model tersebut dengan cara yang sama.

Jika dikaitkan dengan penelitian yang lebih mutakhir, model pembelajaran berbasis masalah masih relevan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Hasil systematic review Yu dan Zin (2023) menunjukkan bahwa Problem Based Learning dapat mendukung perkembangan berpikir kritis, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada bagaimana kegiatan pembelajaran dirancang dan diterapkan. Artinya, penggunaan PBL tidak secara otomatis membuat siswa berpikir kritis tanpa adanya masalah yang sesuai, aktivitas analisis, serta pertanyaan yang mendorong siswa untuk mengevaluasi pemikirannya. Dalam pembelajaran ekonomi, model ini dapat diterapkan melalui permasalahan nyata seperti kenaikan harga, inflasi, pengangguran, atau perubahan kondisi pasar, kemudian siswa diarahkan untuk menganalisis penyebab dan dampaknya melalui pertanyaan Socratik. Dengan demikian, model Redhana masih dapat digunakan, tetapi perlu disesuaikan dengan karakteristik materi, kemampuan siswa, waktu pembelajaran, serta perkembangan media dan strategi pembelajaran saat ini.
In reply to First post

Re: TUGAS 1 Critical Review Model Pembelajaran

by LINA SEPTIANA -
NAMA; LINA SEPTIANA
NPM: 2513031076

Artikel ilmiah karya I Wayan Redhana (2012) mengkaji efektivitas penerapan model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) yang dimodifikasi dengan penambahan unsur pertanyaan konseptual dan pertanyaan Sokratik yang kemudian disebut sebagai model MPBM-PS untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Penelitian kuasi-eksperimen ini dilatarbelakangi oleh tuntutan pendidikan abad ke-21 yang mengharuskan reformasi proses pembelajaran dari sekadar transfer pengetahuan tingkat rendah menuju pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Melibatkan sebanyak 273 siswa kelas VIII dari empat SMP di Kabupaten Buleleng, Bali, penelitian ini menggunakan rancangan nonequivalent control group design dengan membandingkan kelompok eksperimen yang diajar menggunakan MPBM-PS dan kelompok kontrol yang menggunakan model pembelajaran langsung. Data skor pretest dan posttest keterampilan berpikir kritis kemudian dianalisis menggunakan uji statistik ANAKOVA satu jalur pada taraf signifikansi 5% setelah melalui berbagai uji prasyarat normalitas, homogenitas varians, linearitas, dan homogenitas kemiringan regresi. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa model MPBM-PS terbukti secara signifikan lebih efektif dibandingkan model pembelajaran langsung dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA. Peneliti menjelaskan bahwa peningkatan ini merupakan hasil dari efek kumulatif tiga komponen utama yang saling memperkuat, yaitu masalah yang tidak terstruktur (ill-structured problems) yang membangkitkan keingintahuan di awal pembelajaran, pertanyaan konseptual yang membimbing siswa memahami materi esensial secara bertahap, serta pertanyaan Sokratik yang berfungsi secara mendalam untuk menguji ide, asumsi, alasan, bukti, dan implikasi dari pemikiran peserta didik. Melalui modifikasi ini, kelemahan dari PBL murni yang sering kali membuat siswa tingkat menengah mengalami kebingungan atau disorientasi dapat diatasi dengan baik melalui bimbingan terstruktur yang diintegrasikan ke dalam lembar kerja siswa. Secara konseptual, model ini juga sangat selaras dengan empat pilar pendidikan UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together, di mana siswa tidak hanya menggali konsep secara mandiri dan melakukan penyelidikan, tetapi juga belajar bekerja sama secara kolaboratif dalam kelompok. Implikasi dari temuan artikel ini menegaskan bahwa pengembangan keterampilan berpikir kritis tidak akan terjadi secara otomatis tanpa rancangan pembelajaran yang disengaja dan sistematis. Oleh karena itu, modifikasi model pembelajaran berbasis masalah yang dilengkapi dengan unsur scaffolding berupa pertanyaan konseptual dan Sokratik memberikan kontribusi teoretis maupun praktis yang sangat berharga bagi dunia pendidikan dalam mencetak peserta didik yang visioner, berpikir terbuka, dan cakap dalam memecahkan masalah kompleks.