Posts made by Davy Dlorroah Anhar

ANGGOTA KELOMPOK 1:
1. Davy Dlorroah Anhar
2. Ilham Tri Gustama
3. Ahmad Ridho Syahputra

Makalah: https://docs.google.com/document/d/1ptAeMeP7005YCbcDgaQT1IG8_F2vWeLD/edit?usp=drive_link&ouid=107862144548971658534&rtpof=true&sd=true

PPT: https://drive.google.com/file/d/1UoKRjPoakabzZKkNTMZvmBSoLsUVa2qG/view?usp=drive_link

NOTULENSI

PEMBACA AYAT QURAN:
1. Muhammad Alfahrezy
2. M.Abdul Ghani M.C
3. Abdurahman Athalla
4. M.Izzul Muslimin

PEMBERI PERTANYAAN
1. Roesli Abdul Aziz

S1 INFORMATIKA MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

by Davy Dlorroah Anhar -
Jurnal “Urgensi Penegasan Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan IPTEK” membahas pentingnya menjadikan Pancasila sebagai landasan etis dan normatif dalam seluruh proses pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia. Penulis menegaskan bahwa Pancasila, sebagai kristalisasi nilai budaya dan agama bangsa, seharusnya menjadi pedoman dalam setiap aktivitas nasional, termasuk aktivitas ilmiah. Penekanan ini muncul karena arus globalisasi berpotensi melepaskan perkembangan IPTEK dari nilai kemanusiaan, sehingga dapat menimbulkan masalah sosial, merendahkan martabat manusia, dan memicu kerusakan lingkungan—fenomena yang telah terjadi di berbagai negara.

Penelitian tersebut menolak anggapan bahwa IPTEK merupakan bidang yang bebas nilai (value-free). Sebaliknya, pengembangan ilmu perlu diarahkan oleh nilai yang jelas demi mendukung tujuan nasional, yakni terciptanya masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dalam konteks ini, Pancasila berfungsi sebagai sumber motivasi, kekuatan dinamis, serta pedoman normatif yang memastikan bahwa perkembangan ilmiah tidak bertentangan dengan cita-cita bangsa. Dengan demikian, Pancasila menjadi filter etis agar IPTEK tidak menyimpang dari nilai kemanusiaan dan tetap mendorong terwujudnya masyarakat yang beradab.

Penegasan Pancasila sebagai dasar nilai IPTEK dijelaskan secara terperinci melalui fungsi normatif tiap sila. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengarahkan agar IPTEK dimanfaatkan secara bertanggung jawab dan memperhatikan dimensi spiritual. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab memastikan bahwa teknologi digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabat manusia. Sila Persatuan Indonesia menegaskan bahwa pengembangan IPTEK tidak boleh menciptakan disintegrasi. Sila Kerakyatan mendorong keterlibatan publik dan menjamin bahwa hasil IPTEK berpihak pada kepentingan bersama. Adapun Sila Keadilan Sosial bertujuan agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.

Secara keseluruhan, jurnal ini menilai bahwa penegasan Pancasila sebagai dasar nilai IPTEK merupakan langkah penting untuk menjaga identitas bangsa di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai orientasi utama, pengembangan ilmu di Indonesia dapat tetap terhubung dengan akar budaya dan nilai-nilai luhur bangsa. Pendekatan ini memastikan bahwa IPTEK tidak hanya maju dari segi teknis, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen pembangunan yang etis, relevan, dan bermanfaat bagi seluruh rakyat. Jika diabaikan, IPTEK justru berpotensi menjadi kekuatan destruktif yang mempercepat kemerosotan moral.

Kesimpulan:
Jurnal ini menegaskan adanya kebutuhan mendesak untuk menetapkan Pancasila sebagai dasar nilai dalam pengembangan IPTEK. Penegasan tersebut berfungsi sebagai kerangka filosofis dan pedoman normatif bagi seluruh kegiatan ilmiah, sehingga kemajuan teknologi berjalan selaras dengan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Tujuan akhirnya adalah memastikan IPTEK di Indonesia tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga bernilai etis dan mendukung pencapaian cita-cita nasional.

S1 INFORMATIKA MKU PANCASILA -> Forum Analisis Jurnal

by Davy Dlorroah Anhar -
Nama: Davy Dlorroah Anhar
NPM: 2515061007
Kelas: PSTI-D
Mata Kuliah: Pendidikan Pancasila

Perkembangan pesat era globalisasi serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah membawa perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Arus globalisasi yang mengaburkan batas ruang dan waktu membuat informasi tersebar dengan sangat cepat. Kondisi ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan, terutama bagi Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Pertanyaan utama yang muncul ialah bagaimana masyarakat—khususnya mahasiswa—dapat mengikuti perkembangan teknologi tanpa mengabaikan identitas nasional dan nilai-nilai Pancasila.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa umumnya memiliki pemahaman yang baik mengenai nilai-nilai Pancasila serta mampu membentuk karakter sesuai prinsip tersebut. Mereka menilai Pendidikan Pancasila sebagai aspek penting dalam kehidupan sosial, relevan untuk ditanamkan sejak dini, dan berkontribusi besar pada pembangunan bangsa. Nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, toleransi, serta penghormatan terhadap keragaman budaya dan agama dipandang penting, menandakan bahwa internalisasi Pancasila telah tercermin dalam perilaku keseharian mereka.
Dalam merespons perkembangan IPTEK, mahasiswa juga menunjukkan sikap yang positif. Teknologi dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar, transaksi digital, pencarian informasi, dan pengembangan minat personal. Mereka pun menyadari pentingnya menyaring informasi, menghindari konten negatif, dan menjaga etika berkomunikasi di ruang digital. Ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi disertai kesadaran moral yang selaras dengan nilai budaya bangsa.
Analisis regresi sederhana menghasilkan persamaan Ŷ = 12,525 + 0,616X dengan nilai signifikansi 0,000 (< 0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila berpengaruh signifikan terhadap kemampuan mahasiswa dalam menyikapi perkembangan teknologi. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,282 menunjukkan bahwa 28,2% sikap mahasiswa terhadap IPTEK dipengaruhi oleh mata kuliah tersebut, sementara 71,8% sisanya ditentukan oleh faktor lain di luar penelitian.
Secara keseluruhan, Pendidikan Pancasila memegang peran penting dalam membangun sikap mahasiswa agar mampu menghadapi perkembangan IPTEK tanpa kehilangan jati diri bangsa. Mahasiswa diharapkan terus menjaga karakter nasional, menyaring dampak negatif budaya asing, dan menjadikan Pancasila sebagai landasan dalam memanfaatkan teknologi untuk kemajuan bangsa. Penelitian ini juga merekomendasikan agar pemerintah dan institusi pendidikan terus memperkuat aktualisasi Pancasila melalui metode pembelajaran yang tidak bersifat doktriner serta meningkatkan sistem penyaringan informasi guna menghadapi tantangan globalisasi.

S1 INFORMATIKA MKU PANCASILA -> Forum Analisis Soal

by Davy Dlorroah Anhar -
A. Sistem Etika Perilaku Politik Saat Ini dan Kesesuaiannya dengan Nilai-Nilai Pancasila
Etika politik Indonesia saat ini masih menunjukkan jarak yang lebar dari nilai-nilai Pancasila. Reformasi memang membawa perubahan struktural, namun pola pikir politik dan birokrasi tetap didominasi budaya feodal, paternalistik, dan berorientasi kekuasaan. Akibatnya, muncul ketidaksinkronan antara idealitas Pancasila dan praktik politik sehari-hari.
Penyimpangan terlihat pada setiap sila.
Sila pertama dilemahkan oleh praktik korupsi dan runtuhnya integritas moral.
Sila kedua tergerus diskriminasi, pelayanan publik yang tidak setara, dan praktik favoritisme.
Sila ketiga terganggu oleh politik identitas, polarisasi sosial, serta kepentingan kelompok yang semakin dominan.
Sila keempat tidak berjalan optimal karena proses pengambilan keputusan bersifat elitis, tertutup, dan dipengaruhi oligarki.
Sila kelima gagal terwujud akibat ketimpangan sosial-ekonomi yang kian membesar.
Prinsip-prinsip etika pemerintahan—mulai dari independensi, ketidakberpihakan, integritas, transparansi, efisiensi, profesionalisme, hingga orientasi pelayanan—juga belum tercapai. Akar masalahnya terletak pada paradigma lama yang melihat kekuasaan sebagai privilese, bukan amanah. Pancasila akhirnya hanya dijadikan simbol formal, belum menjadi nilai yang benar-benar dihidupi. Karena itu, transformasi budaya politik, karakter birokrasi, dan sistem regulasi menjadi kebutuhan mendesak agar Pancasila kembali berfungsi sebagai pedoman etika politik yang nyata.
B. Etika Generasi Muda di Lingkungan Tempat Tinggal dan Solusi Dekadensi Moral
Di Bandar Lampung, etika generasi muda menunjukkan kondisi paradoks. Mereka lebih terhubung dengan informasi dan memiliki kemampuan berpikir kritis, tetapi secara moral justru mengalami kemunduran. Nilai sopan santun, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, dan kejujuran tampak semakin memudar di tengah arus globalisasi, konsumerisme, dan penetrasi media sosial.
Dalam perspektif Pancasila, situasi ini bersifat ambivalen.
Pada sila pertama, sebagian pemuda masih aktif beragama, namun banyak pula yang mengalami krisis spiritual.
Pada sila kedua, mereka lebih terbuka terhadap keberagaman tetapi tetap rentan terhadap hoaks dan intoleransi di media digital.
Sila ketiga menunjukkan gejala melemahnya nasionalisme dan berkurangnya apresiasi terhadap budaya lokal.
Pada sila keempat, mereka vokal dalam menyampaikan pendapat, namun kurang terampil dalam berdialog dan berempati.
Sila kelima juga tampak tidak merata: ada yang peduli isu sosial, tetapi tidak sedikit yang konsumtif dan kurang sensitif terhadap lingkungan sosialnya.
Dekadensi moral ini diperkuat oleh lemahnya pendidikan karakter, minimnya pengawasan keluarga, paparan konten negatif, kurangnya keteladanan publik, serta tekanan ekonomi yang memengaruhi orientasi nilai.
Upaya mengatasi persoalan ini memerlukan pendekatan komprehensif. Langkah yang diperlukan antara lain revitalisasi pendidikan karakter berbasis Pancasila, penguatan peran keluarga, peningkatan literasi digital, serta penyediaan ruang kreatif dan positif bagi pemuda. Keteladanan tokoh publik harus diperbaiki, diikuti penegakan etika yang konsisten. Nilai kearifan lokal, seperti Piil Pesenggiri, perlu diintegrasikan dalam pendidikan karakter. Program peer education dan leadership pemuda juga penting untuk menumbuhkan agen perubahan di tingkat komunitas. Selain itu, sistem penghargaan dan sanksi yang konsisten, dialog antar generasi, dan pendekatan spiritual yang substansial harus diperkuat.
Pada akhirnya, dekadensi moral generasi muda adalah tantangan serius, namun bukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Perubahan hanya bisa terjadi melalui kerja bersama seluruh elemen masyarakat dan penanaman nilai-nilai Pancasila secara konsisten serta berkelanjutan.