Kiriman dibuat oleh 2515061115 Fahra Naisyla Putri Nurina

Jurnal tersebut menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya berperan sebagai dasar negara, tetapi juga harus dijadikan landasan utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Ilmu pengetahuan memang sangat penting bagi kemajuan bangsa, namun apabila tidak dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila, kemajuan tersebut berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti kerusakan lingkungan, pengabaian nilai kemanusiaan, serta munculnya ketidakadilan sosial.

Oleh karena itu, setiap perkembangan IPTEK di Indonesia harus senantiasa diselaraskan dengan nilai-nilai Pancasila, yaitu berketuhanan, menjunjung tinggi kemanusiaan, memperkokoh persatuan, menerapkan prinsip demokrasi, dan mewujudkan keadilan sosial. Dalam hal ini, Pancasila berfungsi sebagai penyaring agar IPTEK tidak berkembang secara bebas tanpa arah, melainkan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat serta mempertahankan jati diri bangsa.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena globalisasi serta pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat, termasuk di bidang pendidikan. Globalisasi menyebabkan batas ruang dan waktu antarnegara semakin sempit sehingga arus informasi bergerak dengan sangat cepat. Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan, khususnya bagi bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Permasalahan utama yang muncul adalah bagaimana masyarakat, terutama mahasiswa, dapat menyikapi perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri bangsa dan nilai-nilai luhur Pancasila.

Mata kuliah Pendidikan Pancasila di perguruan tinggi dipandang sebagai sarana strategis dalam membentuk kepribadian mahasiswa. Secara filosofis, Pancasila berfungsi sebagai ideologi pemersatu di tengah berbagai pertentangan ideologi dunia. Secara sosiologis, Pancasila menjadi perekat dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Sementara itu, secara yuridis, kedudukan Pancasila sebagai norma dasar negara tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Melalui mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu menghayati nilai-nilai Pancasila, mengkaji permasalahan bangsa, serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum mahasiswa memiliki pengembangan kepribadian Pancasila yang tergolong baik. Mereka menilai bahwa Pendidikan Pancasila memiliki peran penting dalam kehidupan bermasyarakat, perlu ditanamkan sejak usia dini, serta sangat berpengaruh terhadap pembangunan nasional. Mahasiswa juga menekankan pentingnya sikap jujur, disiplin, toleransi, serta menghargai perbedaan budaya dan agama. Sikap-sikap tersebut mencerminkan telah terinternalisasinya nilai-nilai Pancasila dalam diri generasi muda.

Dalam menghadapi perkembangan IPTEK, para responden menunjukkan sikap yang positif. Mereka memanfaatkan teknologi untuk menunjang kegiatan belajar, melakukan transaksi, memperoleh informasi, serta mengembangkan minat dan hobi. Selain itu, mahasiswa juga menyadari pentingnya melakukan penyaringan informasi, memblokir konten negatif, dan menjaga etika dalam berkomunikasi di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga disesuaikan dengan nilai moral dan budaya bangsa.

Hasil analisis regresi sederhana menghasilkan persamaan Ŷ = 12,525 + 0,616X dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 (< 0,05). Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila terhadap kemampuan mahasiswa dalam menyikapi perkembangan IPTEK. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,282 menandakan bahwa 28,2% sikap mahasiswa terhadap IPTEK dipengaruhi oleh mata kuliah tersebut, sedangkan 71,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian.

Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa Pendidikan Pancasila memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk sikap mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan perkembangan teknologi dengan tetap berlandaskan nilai-nilai dasar bangsa. Mahasiswa sebagai generasi penerus diharapkan mampu menjaga kepribadian bangsa, menyeleksi dampak negatif budaya asing, serta menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam pemanfaatan IPTEK untuk kepentingan pembangunan nasional. Penulis juga merekomendasikan agar pemerintah dan lembaga pendidikan terus mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila melalui metode pembelajaran yang tidak bersifat indoktrinatif, serta memperkuat sistem penyaringan informasi guna menghadapi arus globalisasi yang berpotensi merusak nilai-nilai bangsa.

Jurnal berjudul “Penanaman Nilai-Nilai Pancasila Melalui Kontrol Sosial oleh Media Massa untuk Menekan Kejahatan di Indonesia” karya Ariesta Wibisono Anditya (2020) mengkaji peran media massa dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial guna mencegah terjadinya kejahatan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keresahan mengenai sejauh mana media benar-benar berfungsi sebagai sarana pendidikan moral dan normatif, atau justru hanya berperan sebagai penyampai informasi yang bersifat konsumtif semata.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode normatif dengan pendekatan hukum dan sosial. Penulis menganalisis berbagai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan media, nilai-nilai Pancasila, serta teori-teori tentang kontrol sosial. Analisis dilakukan secara deskriptif-eksplanatoris untuk menjelaskan keterkaitan antara media massa dan proses penanaman nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik pengamalan nilai-nilai Pancasila oleh media massa masih tergolong lemah. Banyak pemberitaan yang kurang akurat, cenderung sensasional, dan tidak memberikan nilai edukasi yang memadai. Media lebih menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan informasi dan sensasi dibandingkan upaya pembentukan moral publik. Padahal, media memiliki peran strategis dalam pencegahan kejahatan melalui penyampaian informasi yang mendidik, berimbang, serta menjalankan fungsi pengawasan terhadap pemerintah. Namun, potensi tersebut belum dimaksimalkan karena media lebih berorientasi pada rating dan popularitas.

Selain itu, kemajuan teknologi dan arus globalisasi mempercepat penyebaran informasi, tetapi juga meningkatkan risiko munculnya hoaks, propaganda, serta bias pemberitaan. Masyarakat menjadi semakin konsumtif terhadap informasi, namun tidak diiringi dengan penguatan pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini juga menyoroti kecenderungan media yang mengejar sensasi, khususnya dalam pemberitaan hukum yang sering menggunakan judul provokatif, menampilkan foto pelaku atau korban, serta menyajikan narasi emosional yang melanggar etika. Praktik tersebut jelas tidak sejalan dengan nilai moral Pancasila.

Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa media massa belum mampu secara optimal menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui fungsi kontrol sosialnya. Masih banyak berita yang tidak melalui proses verifikasi yang baik dan bersifat sensasional sehingga berpotensi merusak tatanan sosial. Media dinilai belum berhasil menjadi sarana pembentukan karakter bangsa karena lebih memprioritaskan kebutuhan informasi jangka pendek dibandingkan penanaman nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan.

Secara kritis, jurnal ini memiliki keunggulan pada kejelasan landasan teori, kekuatan аргumen, serta relevansinya dengan kondisi media digital masa kini. Namun, kelemahannya terletak pada keterbatasan data empiris karena penelitian hanya bersifat normatif, serta kurangnya contoh kasus konkret dan solusi yang aplikatif. Oleh sebab itu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan metode lapangan seperti survei atau observasi terhadap media, serta memperdalam kajian mengenai etika pemberitaan di era digital.