Nama: Maximillian Marvel Philmatoro
NPM: 2515061105
Kelas: PSTI D
Jurnal ini menyoroti peran penting mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila dalam membentuk cara pandang mahasiswa ketika berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penulis menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar dokumen normatif negara, melainkan sumber nilai yang menuntun sikap, perilaku, dan pola pikir generasi muda agar mampu menyaring pengaruh kemajuan teknologi tanpa kehilangan identitas kebangsaannya. Melalui pendekatan deskriptif dan regresi, penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila memiliki kontribusi nyata terhadap cara mahasiswa merespons dinamika IPTEK, terutama dalam aspek moralitas, tanggung jawab, dan penggunaan teknologi secara bijaksana.
Dalam konteks historis dan sosiologis, penulis menggarisbawahi bahwa globalisasi menciptakan arus informasi yang cepat dan masif sehingga membuka peluang masuknya nilai-nilai asing yang tidak selalu selaras dengan karakter bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, pendidikan Pancasila dipandang sebagai instrumen yang mampu memperkuat kesadaran kebangsaan, menanamkan toleransi, serta meneguhkan jati diri di tengah penetrasi budaya global. Melalui pembelajaran nilai-nilai dasar, instrumental, dan praktis Pancasila, mahasiswa memperoleh kerangka etis yang dapat menjadi landasan dalam menentukan sikap terhadap fenomena teknologi modern seperti media sosial, informasi digital, dan gaya hidup berbasis internet.
Pada tingkat perilaku, hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung menggunakan teknologi secara positif: memanfaatkan internet untuk belajar, menyaring informasi, menghindari konten merusak, dan menjaga etika komunikasi di ruang digital. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembelajaran Pancasila berhasil membentuk sikap yang responsif dan bertanggung jawab dalam menghadapi IPTEK. Meskipun demikian, penulis juga mencatat bahwa hanya 28,2 persen variasi kemampuan mahasiswa dalam menyikapi teknologi dapat dijelaskan oleh variabel pengembangan kepribadian Pancasila. Artinya, terdapat faktor lain yang turut berpengaruh seperti lingkungan sosial, budaya kampus, dan perkembangan teknologi itu sendiri.
Kesimpulan jurnal menegaskan bahwa penguatan pendidikan Pancasila tetap relevan sebagai pedoman moral dan etis dalam era modern. Dengan menjadikan Pancasila sebagai fondasi nilai, pengembangan IPTEK diharapkan berjalan sejalan dengan prinsip kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Penulis menekankan pentingnya upaya kolektif antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menanamkan nilai kebangsaan sehingga mahasiswa mampu menyikapi perubahan teknologi secara cerdas sekaligus tetap menjaga karakter bangsa.
NPM: 2515061105
Kelas: PSTI D
Jurnal ini menyoroti peran penting mata kuliah Pengembangan Kepribadian Pancasila dalam membentuk cara pandang mahasiswa ketika berhadapan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penulis menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar dokumen normatif negara, melainkan sumber nilai yang menuntun sikap, perilaku, dan pola pikir generasi muda agar mampu menyaring pengaruh kemajuan teknologi tanpa kehilangan identitas kebangsaannya. Melalui pendekatan deskriptif dan regresi, penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila memiliki kontribusi nyata terhadap cara mahasiswa merespons dinamika IPTEK, terutama dalam aspek moralitas, tanggung jawab, dan penggunaan teknologi secara bijaksana.
Dalam konteks historis dan sosiologis, penulis menggarisbawahi bahwa globalisasi menciptakan arus informasi yang cepat dan masif sehingga membuka peluang masuknya nilai-nilai asing yang tidak selalu selaras dengan karakter bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, pendidikan Pancasila dipandang sebagai instrumen yang mampu memperkuat kesadaran kebangsaan, menanamkan toleransi, serta meneguhkan jati diri di tengah penetrasi budaya global. Melalui pembelajaran nilai-nilai dasar, instrumental, dan praktis Pancasila, mahasiswa memperoleh kerangka etis yang dapat menjadi landasan dalam menentukan sikap terhadap fenomena teknologi modern seperti media sosial, informasi digital, dan gaya hidup berbasis internet.
Pada tingkat perilaku, hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung menggunakan teknologi secara positif: memanfaatkan internet untuk belajar, menyaring informasi, menghindari konten merusak, dan menjaga etika komunikasi di ruang digital. Temuan ini memperlihatkan bahwa pembelajaran Pancasila berhasil membentuk sikap yang responsif dan bertanggung jawab dalam menghadapi IPTEK. Meskipun demikian, penulis juga mencatat bahwa hanya 28,2 persen variasi kemampuan mahasiswa dalam menyikapi teknologi dapat dijelaskan oleh variabel pengembangan kepribadian Pancasila. Artinya, terdapat faktor lain yang turut berpengaruh seperti lingkungan sosial, budaya kampus, dan perkembangan teknologi itu sendiri.
Kesimpulan jurnal menegaskan bahwa penguatan pendidikan Pancasila tetap relevan sebagai pedoman moral dan etis dalam era modern. Dengan menjadikan Pancasila sebagai fondasi nilai, pengembangan IPTEK diharapkan berjalan sejalan dengan prinsip kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial. Penulis menekankan pentingnya upaya kolektif antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menanamkan nilai kebangsaan sehingga mahasiswa mampu menyikapi perubahan teknologi secara cerdas sekaligus tetap menjaga karakter bangsa.