Nama : Rioga Kurniawan
Npm : 2515061097
Kelas : Psti C
Jurnal ini membahas bagaimana media massa sebenarnya bisa menjadi alat penting dalam mencegah kejahatan, bukan hanya sebagai penyampai informasi. Penulis menekankan bahwa media massa memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang masyarakat, sehingga apa yang disampaikan media seharusnya tidak hanya fokus pada berita, tetapi juga ikut menanamkan nilai-nilai Pancasila. Hal ini dianggap penting karena perkembangan teknologi membuat informasi menyebar sangat cepat, dan masyarakat mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat atau baca.
Dalam bagian pendahuluan, penulis menjelaskan bahwa perubahan sosial dan kemajuan teknologi membuat nilai-nilai masyarakat ikut berubah. Media massa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Karena itu, media tidak boleh hanya mengejar sensasi atau keuntungan, tetapi juga harus ikut menjaga tatanan sosial. Penulis menghubungkan hal ini dengan konsep hukum sebagai kontrol sosial. Hukum memang mengatur masyarakat, tetapi tidak cukup jika tidak didukung oleh kesadaran moral. Di sinilah nilai-nilai Pancasila dibutuhkan.
Penulis kemudian menjelaskan bahwa Pancasila memiliki nilai-nilai dasar yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa. Nilai-nilai seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan bukan hanya konsep abstrak, tetapi harus diterapkan dalam tindakan sehari-hari. Media massa sebagai penyampai informasi seharusnya ikut membantu menanamkan nilai-nilai tersebut. Namun, penulis menilai bahwa praktiknya belum berjalan baik. Masih banyak media yang menyebarkan berita tanpa verifikasi, bahkan berita yang dapat memicu konflik sosial.
Dalam pembahasan mengenai media massa, penulis menjelaskan sejarah dan perkembangan media di Indonesia. Media awalnya berfungsi sebagai alat perjuangan, tetapi kini lebih banyak berorientasi pada bisnis. Media massa memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi opini publik. Karena itu, media bisa menjadi alat kontrol sosial yang efektif jika digunakan dengan benar. Namun, jika tidak dikendalikan, media justru bisa menimbulkan masalah baru, seperti penyebaran hoaks, provokasi, dan polarisasi masyarakat.
Penulis juga mengutip beberapa teori tentang pengaruh media. Pada masa awal abad ke-20, media dianggap sangat kuat dalam mempengaruhi masyarakat. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa pengaruh media bisa berbeda-beda tergantung kondisi audiens. Meski begitu, penulis tetap menegaskan bahwa media memiliki peran penting dalam pencegahan kejahatan. Media bisa memberikan edukasi, memperingatkan masyarakat, dan membantu membangun kesadaran hukum.
Bagian akhir jurnal menyoroti bahwa peran media massa dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila masih jauh dari ideal. Banyak media hanya mengejar rating atau klik, tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya. Padahal, jika media mampu menyampaikan informasi yang benar, mendidik, dan sesuai nilai Pancasila, media bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk menekan angka kejahatan. Penulis menekankan bahwa pencegahan kejahatan tidak bisa hanya mengandalkan hukum pidana, tetapi juga harus melibatkan pendekatan non-penal seperti edukasi melalui media.
Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan gambaran bahwa media massa memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter masyarakat. Penulis mengajak pembaca untuk melihat media bukan hanya sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan nilai. Dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui media, diharapkan masyarakat lebih sadar hukum dan lebih mampu menjaga harmoni sosial. Jurnal ini cukup relevan dengan kondisi saat ini, di mana informasi sangat mudah diakses dan media memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat.
Npm : 2515061097
Kelas : Psti C
Jurnal ini membahas bagaimana media massa sebenarnya bisa menjadi alat penting dalam mencegah kejahatan, bukan hanya sebagai penyampai informasi. Penulis menekankan bahwa media massa memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang masyarakat, sehingga apa yang disampaikan media seharusnya tidak hanya fokus pada berita, tetapi juga ikut menanamkan nilai-nilai Pancasila. Hal ini dianggap penting karena perkembangan teknologi membuat informasi menyebar sangat cepat, dan masyarakat mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat atau baca.
Dalam bagian pendahuluan, penulis menjelaskan bahwa perubahan sosial dan kemajuan teknologi membuat nilai-nilai masyarakat ikut berubah. Media massa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut. Karena itu, media tidak boleh hanya mengejar sensasi atau keuntungan, tetapi juga harus ikut menjaga tatanan sosial. Penulis menghubungkan hal ini dengan konsep hukum sebagai kontrol sosial. Hukum memang mengatur masyarakat, tetapi tidak cukup jika tidak didukung oleh kesadaran moral. Di sinilah nilai-nilai Pancasila dibutuhkan.
Penulis kemudian menjelaskan bahwa Pancasila memiliki nilai-nilai dasar yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa. Nilai-nilai seperti ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan bukan hanya konsep abstrak, tetapi harus diterapkan dalam tindakan sehari-hari. Media massa sebagai penyampai informasi seharusnya ikut membantu menanamkan nilai-nilai tersebut. Namun, penulis menilai bahwa praktiknya belum berjalan baik. Masih banyak media yang menyebarkan berita tanpa verifikasi, bahkan berita yang dapat memicu konflik sosial.
Dalam pembahasan mengenai media massa, penulis menjelaskan sejarah dan perkembangan media di Indonesia. Media awalnya berfungsi sebagai alat perjuangan, tetapi kini lebih banyak berorientasi pada bisnis. Media massa memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi opini publik. Karena itu, media bisa menjadi alat kontrol sosial yang efektif jika digunakan dengan benar. Namun, jika tidak dikendalikan, media justru bisa menimbulkan masalah baru, seperti penyebaran hoaks, provokasi, dan polarisasi masyarakat.
Penulis juga mengutip beberapa teori tentang pengaruh media. Pada masa awal abad ke-20, media dianggap sangat kuat dalam mempengaruhi masyarakat. Namun, penelitian modern menunjukkan bahwa pengaruh media bisa berbeda-beda tergantung kondisi audiens. Meski begitu, penulis tetap menegaskan bahwa media memiliki peran penting dalam pencegahan kejahatan. Media bisa memberikan edukasi, memperingatkan masyarakat, dan membantu membangun kesadaran hukum.
Bagian akhir jurnal menyoroti bahwa peran media massa dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila masih jauh dari ideal. Banyak media hanya mengejar rating atau klik, tanpa mempertimbangkan dampak sosialnya. Padahal, jika media mampu menyampaikan informasi yang benar, mendidik, dan sesuai nilai Pancasila, media bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk menekan angka kejahatan. Penulis menekankan bahwa pencegahan kejahatan tidak bisa hanya mengandalkan hukum pidana, tetapi juga harus melibatkan pendekatan non-penal seperti edukasi melalui media.
Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan gambaran bahwa media massa memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter masyarakat. Penulis mengajak pembaca untuk melihat media bukan hanya sebagai sumber informasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan nilai. Dengan menanamkan nilai-nilai Pancasila melalui media, diharapkan masyarakat lebih sadar hukum dan lebih mampu menjaga harmoni sosial. Jurnal ini cukup relevan dengan kondisi saat ini, di mana informasi sangat mudah diakses dan media memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir masyarakat.