Nama : Prya Mitra
NPM : 2515061059
Kelas : PSTI C
Jurnal karya Ika Setyorini dari Fakultas Syari'ah dan Hukum UNSIQ Jawa Tengah ini membahas krusialnya peran Pancasila sebagai pedoman normatif dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia. Penulis berargumen bahwa Pancasila, sebagai kristalisasi nilai budaya dan agama bangsa, harus mengakomodasi seluruh aktivitas kehidupan, termasuk aktivitas ilmiah. Hal ini didasari kekhawatiran bahwa pengembangan ilmu yang terlepas dari ideologi bangsa dapat menyebabkan sekularisme atau kehilangan orientasi yang jelas, seperti yang pernah terjadi pada masa Renaissance di Eropa. Selain itu, kemajuan IPTEK yang bersifat kumulatif perlu diselaraskan dengan kebenaran nilai yang sering kali bersifat non-kumulatif agar tidak terjadi percampuradukan yang merugikan.
Dalam analisisnya, jurnal ini merumuskan empat pemahaman utama mengenai Pancasila sebagai dasar pengembangan ilmu: IPTEK tidak boleh bertentangan dengan nilai Pancasila, nilai Pancasila harus menjadi faktor internal pengembangan, Pancasila berperan sebagai rambu normatif, dan pengembangan IPTEK harus berakar dari budaya bangsa sendiri (indigenisasi ilmu). Secara rinci, setiap sila Pancasila memberikan landasan etika: Sila pertama menempatkan manusia sebagai bagian dari alam semesta yang harus diolah secara rasional namun tetap religius; Sila kedua menekankan tujuan IPTEK untuk kesejahteraan bersama; Sila ketiga mendorong nasionalisme dan persaudaraan melalui kemajuan teknologi; Sila keempat menuntut adanya kebebasan ilmiah yang demokratis dan terbuka terhadap kritik ; serta Sila kelima menjaga keseimbangan keadilan antara manusia dengan Tuhannya, sesamanya, dan lingkungannya.
Landasan urgensi ini juga ditinjau dari tiga aspek: historis, sosiologis, dan politis. Secara historis, amanat mencerdaskan kehidupan bangsa dalam Pembukaan UUD 1945 harus didasarkan pada nilai Ketuhanan dan kemanusiaan, meskipun diskusi spesifik mengenai Pancasila sebagai dasar ilmu baru menguat sekitar tahun 1980-an di perguruan tinggi. Secara sosiologis, masyarakat menuntut agar pengembangan IPTEK (seperti isu nuklir atau limbah industri) memperhatikan dampak kemanusiaan dan lingkungan. Sementara secara politis, para pemimpin negara dari Soekarno hingga era reformasi telah memberikan dorongan, meskipun implementasinya masih bersifat apologis atau berupa himbauan moral.
Kesimpulan
Kesimpulan dari jurnal ini menegaskan bahwa kehadiran IPTEK memiliki dua sisi mata uang: memberikan kemudahan hidup namun juga berpotensi mengancam eksistensi nilai kemanusiaan, sebagaimana dicontohkan oleh dampak bom atom. Oleh karena itu, penegasan Pancasila sebagai dasar nilai menjadi sangat mendesak untuk menghadapi pluralisme nilai dan dominasi teknologi negara barat yang dapat mengikis kepribadian bangsa. Pancasila mutlak diperlukan sebagai penyaring (filter) dan rambu normatif agar pengembangan IPTEK di Indonesia tetap terkendali, menghormati martabat manusia, dan tidak keluar dari akar budaya bangsa Indonesia.