Nama: Nisrina Alya Ramadina
Npm: 2513053185
Pada jurnal ini membahas perkembangan moral siswa SD usia 11–12 tahun berdasarkan teori Kohlberg. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memberikan soal berupa dilema moral kepada 10 siswa kelas VI. Dari penelitian tersebut, terlihat bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tahap pra-konvensional, yaitu cenderung melakukan sesuatu karena takut mendapat hukuman atau mendapat penilaian buruk dari orang lain. Hal yang menurut saya menarik adalah Kohlberg melihat perkembangan moral bukan hanya dari tindakan yang dilakukan seseorang, tetapi juga dari alasan di balik tindakan tersebut. Misalnya, seseorang bisa saja melakukan hal yang benar, tetapi alasannya berbeda. Dalam penelitian ini, sebagian besar siswa memilih untuk menepati janji karena takut disebut pembohong atau takut mendapat hukuman. Namun, ada satu siswa yaitu Khansa yang menunjukkan perkembangan moral lebih tinggi karena mempertimbangkan perasaan temannya dan adiknya. Jadi, yang membedakan tingkat perkembangan moral bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi bagaimana seseorang mempertimbangkan alasan dari tindakannya.
Menurut saya, jurnal ini menunjukkan bahwa perkembangan moral anak membutuhkan proses dan tidak bisa langsung terbentuk hanya melalui aturan atau nasihat. Anak perlu diberi kesempatan untuk menghadapi masalah, memahami akibat dari pilihannya, dan belajar mempertimbangkan kepentingan orang lain. Guru juga perlu memahami tahap perkembangan moral siswa agar pembelajaran karakter yang diberikan sesuai dengan kondisi mereka. Dengan begitu, siswa tidak hanya melakukan sesuatu karena takut dihukum, tetapi perlahan dapat memahami alasan mengapa suatu tindakan dianggap baik atau buruk.
Npm: 2513053185
Pada jurnal ini membahas perkembangan moral siswa SD usia 11–12 tahun berdasarkan teori Kohlberg. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memberikan soal berupa dilema moral kepada 10 siswa kelas VI. Dari penelitian tersebut, terlihat bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tahap pra-konvensional, yaitu cenderung melakukan sesuatu karena takut mendapat hukuman atau mendapat penilaian buruk dari orang lain. Hal yang menurut saya menarik adalah Kohlberg melihat perkembangan moral bukan hanya dari tindakan yang dilakukan seseorang, tetapi juga dari alasan di balik tindakan tersebut. Misalnya, seseorang bisa saja melakukan hal yang benar, tetapi alasannya berbeda. Dalam penelitian ini, sebagian besar siswa memilih untuk menepati janji karena takut disebut pembohong atau takut mendapat hukuman. Namun, ada satu siswa yaitu Khansa yang menunjukkan perkembangan moral lebih tinggi karena mempertimbangkan perasaan temannya dan adiknya. Jadi, yang membedakan tingkat perkembangan moral bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi bagaimana seseorang mempertimbangkan alasan dari tindakannya.
Menurut saya, jurnal ini menunjukkan bahwa perkembangan moral anak membutuhkan proses dan tidak bisa langsung terbentuk hanya melalui aturan atau nasihat. Anak perlu diberi kesempatan untuk menghadapi masalah, memahami akibat dari pilihannya, dan belajar mempertimbangkan kepentingan orang lain. Guru juga perlu memahami tahap perkembangan moral siswa agar pembelajaran karakter yang diberikan sesuai dengan kondisi mereka. Dengan begitu, siswa tidak hanya melakukan sesuatu karena takut dihukum, tetapi perlahan dapat memahami alasan mengapa suatu tindakan dianggap baik atau buruk.