གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Rizky Melatama

DMP2025 -> Tugas Individu

Rizky Melatama གིས-
Nama : Rizky Melatama
NPM : 2523031005

Kekuatan Model Desain Pembelajaran Dick & Carey
Model Dick & Careydikenal sebagai pendekatan sistematis dalam desain instruksional yang mencakup interaksi antara tujuan pembelajaran, aktivitas belajar, instruksi, dan evaluasi. Berikut adalah kekuatan utamanya:

1. Pendekatan Sistematis dan Terstruktur

Model ini menyediakan *alur langkah demi langkah* yang logis dari identifikasi tujuan hingga evaluasi akhir, membantu perancang pembelajaran memastikan setiap elemen instruksi diperhitungkan secara menyeluruh dan tidak terlewat. Struktur ini memudahkan perencana dalam mengorganisasi komponen instruksional secara konsisten dan koheren.

2. Penekanan pada Analisis Kebutuhan dan Karakteristik Peserta Didik

Salah satu kekuatan utama model ini adalah fokus pada analisis instruksional dan analisis peserta didik. Perancang harus memahami kebutuhan, latar belakang, serta konteks belajar siswa sehingga instruksi dapat disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat kemampuan mereka.

3. Penetapan Tujuan yang Jelas dan Terukur

Model ini menekankan penulisan tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur, kemudian memastikan keterkaitan antara tujuan, strategi instruksional, dan instrumen penilaian. Pendekatan ini membuat hasil pembelajaran lebih dapat diprediksi dan dievaluasi secara objektif.

4. Evaluasi Formatif dan Iteratif

Model Dick & Carey memasukkan evaluasi formatif sepanjang proses desain dan setelah pelaksanaan. Umpan balik dari evaluasi tersebut memungkinkan perbaikan berkelanjutan pada instruksi, sehingga kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan sebelum evaluasi sumatif akhir..

5. Kesesuaian untuk Beragam Konteks Pembelajaran
Walaupun sistematik, model ini fleksibel untuk diterapkan pada berbagai jenis konten, subjek, dan konteks pembelajaran, termasuk training profesional, pendidikan formal, maupun pengembangan kurikulum yang kompleks.

Keterbatasan Model Desain Pembelajaran Dick & Carey

Tidak ada model desain instruksional yang sempurna untuk semua situasi. Dick & Carey juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan:

1. Proses yang Kompleks dan Memakan Waktu

Karena terdiri dari banyak langkah yang terperinci — termasuk analisis kebutuhan yang mendalam, penulisan tujuan, desain strategi, serta evaluasi berulang — model ini dapat menjadi sangat *resource-intensive* (membutuhkan waktu, tenaga, dan sumber belajar yang cukup banyak). Hal ini dapat menjadi tantangan terutama ketika waktu atau sumber daya terbatas.

2. Terlalu Kaku atau Procedural

Pendekatan liniar dan proseduralnya yang ketat bisa menjadi kurang fleksibel terutama dalam konteks pembelajaran yang dinamis atau inovatif. Dalam situasi di mana kebutuhan pembelajaran berubah cepat atau memerlukan metode yang lebih kreatif, model ini dapat terasa kurang responsif terhadap perubahan.

3. Fokus pada Analisis dengan Tekanan yang Tinggi pada Struktur Formal

Pendekatan yang terlalu menekankan analisis dan perencanaan rinci dapat membuat desainer instruksional terjebak pada proses sebelum benar-benar melibatkan peserta didik dalam konteks belajar nyata. Hal ini juga bisa membatasi kreativitas perancang dan metode pembelajaran yang lebih fleksibel atau partisipatif.

4. Kurang Menjelaskan Integrasi Motivasi Siswa

Model ini lebih fokus pada tujuan, strategi, dan evaluasi daripada pada aspek motivasi atau keterlibatan emosional siswa dalam belajar. Meskipun motivasi merupakan faktor penting dalam proses belajar, model ini tidak memberikan panduan eksplisit bagaimana motivasi peserta didik diintegrasikan ke dalam desain instruksional.

5. Beban Evaluasi dan Uji Coba yang Berat

Tahapan evaluasi formatif dan sumatif dalam model ini memerlukan uji coba, pengumpulan data, dan revisi yang ekstensif. Dalam aplikasi nyata, terutama di sekolah atau organisasi dengan sumber daya terbatas, keterbatasan ini dapat menjadi hambatan praktis jika tidak direncanakan dengan baik.

Secara umum, Model Dick & Carey merupakan salah satu framework desain instruksional yang kuat dan kaya substansi karena pendekatannya yang sistematis, terstruktur, berfokus pada kebutuhan peserta didik, serta memperkuat keselarasan antara tujuan pembelajaran dan evaluasi. Model ini sangat bermanfaat untuk merancang program pembelajaran yang kompleks dan berorientasi hasil. Namun demikian, kompleksitas, kebutuhan sumber daya, serta keterbatasan dalam fleksibilitas dan aspek motivasi menjadi catatan penting yang harus dipertimbangkan oleh perancang instruksional saat memilih model ini untuk konteks tertentu.

DMP2025 -> Summary Video

Rizky Melatama གིས-
Nama : Rizky Melatama
NPM : 2523031005

Model ADDIE merupakan salah satu kerangka kerja utama dalam desain instruksional yang banyak digunakan di bidang pendidikan, pelatihan, dan pengembangan pembelajaran karena sifatnya yang sistematis, terstruktur, dan komprehensif. ADDIE sendiri merupakan akronim dari lima fase penting: Analysis (analisis), Design (desain), Development (pengembangan), Implementation (implementasi), dan Evaluation (evaluasi). Setiap fase memiliki fungsi tertentu yang saling berhubungan dan membentuk satu siklus proses desain pembelajaran yang mendasar.

Fase Analysis dimulai dengan identifikasi kebutuhan pembelajaran, tujuan, karakteristik peserta didik serta konteks lingkungan belajar sehingga dapat mengklarifikasi “masalah belajar” yang ingin diatasi dan menetapkan kompetensi yang akan dicapai. Pada fase Design, perancang pembelajaran merumuskan tujuan pembelajaran yang terukur, memilih strategi, metode dan media yang sesuai serta merencanakan asesmen untuk mengukur pencapaian kompetensi. Development merupakan tahap di mana bahan ajar, media dan sumber belajar benar-benar dibuat atau dikembangkan berdasarkan rencana desain. Dalam fase Implementation, materi dan media yang telah disiapkan diintegrasikan ke dalam pembelajaran sehingga siswa dapat mengalaminya secara nyata.Fase terakhir, Evaluation, mencakup penilaian baik secara formatif maupun sumatif terhadap efektivitas pembelajaran, yakni apakah tujuan pembelajaran tercapai dan bagaimana proses dapat diperbaiki.

Model ADDIE unggul karena memberikan alur logis dan teratur untuk merancang pembelajaran, memastikan setiap komponen disiapkan secara matang sehingga risiko kekurangan dalam perencanaan dapat diminimalkan. Pendekatan ini juga membantu mendukung pengembangan pembelajaran yang selaras dengan kebutuhan peserta didik, tujuan instruksional, serta konteks pendidikan yang spesifik.Meskipun sering dipandang sebagai liniaris, dalam praktiknya ADDIE dapat diadaptasi secara fleksibel—misalnya dengan menerapkan umpan balik atau evaluasi di berbagai tahap sehingga bukan sekadar proses kaku.

Secara keseluruhan, ADDIE tetap menjadi **kerangka kerja penting dalam desain pembelajaran** karena kesederhanaannya, keteraturannya, dan aplikabilitasnya di berbagai konteks pendidikan, termasuk pembelajaran IPS yang memerlukan keterkaitan antara tujuan pembelajaran dan pengalaman nyata siswa di lingkungan mereka.

PKDIPS2025 -> Diskusi

Rizky Melatama གིས-
Nama: Rizky Melatama
NPM : 2523031005

Menurut saya, sebagai guru kita harus selalu mengikuti perkembangan zaman karena akan berdampak dengan cara mengajar, proses mengajar dan pola pikir yang akan kita sampaikan ke murid- murid kita. Karena mengikuti perkembangan zaman menurut saya adalah sebuah keharusan selain menambah wawasan pembaharuan yang terjadi namun juga membuat kita lebih dapat menggunakannya sebagai bahan ajar yang bisa kita sampaikan kepada murid- murid di kelas. Selain perkembangan teknologi yang semakin pesat yang kita perlu mengikutinya juga tidak lupa melihat fenomena murid murid kita yang memiliki perubahan milai-nilai atau moralitas dalam kehidupan sehari- hari yang perlu kita sampaikan kepada mereka agar menjadi penerus bangsa yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.