Risma Calista Putri 2513053179
Jurnal “Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg” membahas perkembangan moral siswa SD usia 11–12 tahun dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan moral siswa melalui kemampuan mereka dalam mengambil keputusan ketika menghadapi dilema moral. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan memberikan angket terbuka kepada 10 siswa kelas VI, kemudian jawaban mereka dianalisis berdasarkan tahap perkembangan moral Kohlberg.
Dalam teori Kohlberg, perkembangan moral dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tingkat pra-konvensional, khususnya tahap 1. Pada tahap ini, siswa cenderung menentukan benar atau salah berdasarkan hukuman dan konsekuensi yang akan diterima. Dari 10 responden, sebanyak 90% masih berada pada tingkat pra-konvensional, sedangkan satu siswa menunjukkan perkembangan moral yang lebih tinggi karena sudah mempertimbangkan kepentingan dan perasaan orang lain dalam mengambil keputusan.
Jurnal ini juga menunjukkan bahwa perkembangan moral tidak cukup dilihat dari tindakan yang dilakukan siswa, tetapi perlu dilihat dari alasan atau pertimbangan yang mendasari tindakan tersebut. Contohnya, beberapa siswa memilih menepati janji karena takut dianggap berbohong atau mendapat hukuman, sedangkan Khansa mempertimbangkan perasaan temannya dan keselamatan adiknya. Perbedaan alasan tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat penalaran moral meskipun tindakan yang dilakukan terlihat hampir sama.
Menurut saya, jurnal ini penting bagi guru SD karena menunjukkan bahwa perkembangan moral setiap siswa tidak selalu sama, meskipun berada pada usia dan kelas yang sama. Guru perlu memahami alasan di balik perilaku siswa dan memberikan pengalaman yang dapat melatih mereka untuk mempertimbangkan akibat, kepentingan orang lain, serta nilai yang benar dalam mengambil keputusan. Dengan begitu, perkembangan moral siswa tidak hanya didasarkan pada rasa takut terhadap hukuman, tetapi dapat berkembang menjadi kesadaran moral yang lebih baik.
Jurnal “Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg” membahas perkembangan moral siswa SD usia 11–12 tahun dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan moral siswa melalui kemampuan mereka dalam mengambil keputusan ketika menghadapi dilema moral. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan memberikan angket terbuka kepada 10 siswa kelas VI, kemudian jawaban mereka dianalisis berdasarkan tahap perkembangan moral Kohlberg.
Dalam teori Kohlberg, perkembangan moral dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tingkat pra-konvensional, khususnya tahap 1. Pada tahap ini, siswa cenderung menentukan benar atau salah berdasarkan hukuman dan konsekuensi yang akan diterima. Dari 10 responden, sebanyak 90% masih berada pada tingkat pra-konvensional, sedangkan satu siswa menunjukkan perkembangan moral yang lebih tinggi karena sudah mempertimbangkan kepentingan dan perasaan orang lain dalam mengambil keputusan.
Jurnal ini juga menunjukkan bahwa perkembangan moral tidak cukup dilihat dari tindakan yang dilakukan siswa, tetapi perlu dilihat dari alasan atau pertimbangan yang mendasari tindakan tersebut. Contohnya, beberapa siswa memilih menepati janji karena takut dianggap berbohong atau mendapat hukuman, sedangkan Khansa mempertimbangkan perasaan temannya dan keselamatan adiknya. Perbedaan alasan tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat penalaran moral meskipun tindakan yang dilakukan terlihat hampir sama.
Menurut saya, jurnal ini penting bagi guru SD karena menunjukkan bahwa perkembangan moral setiap siswa tidak selalu sama, meskipun berada pada usia dan kelas yang sama. Guru perlu memahami alasan di balik perilaku siswa dan memberikan pengalaman yang dapat melatih mereka untuk mempertimbangkan akibat, kepentingan orang lain, serta nilai yang benar dalam mengambil keputusan. Dengan begitu, perkembangan moral siswa tidak hanya didasarkan pada rasa takut terhadap hukuman, tetapi dapat berkembang menjadi kesadaran moral yang lebih baik.