1. Dalam kajian sastra baik yang kuno maupun yang modern, ada empat orientasi utama yang sering diperbincangkan, sebagaimana dinyatakan oleh M. H. Abrams, yaitu mimetik, ekspresif, pragmatik, dan objektif. Tiap pendekatan memiliki kriteria yang berbeda untuk menilai mutu literatur suatu teks.
a. Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik menilai karya sastra sebagai tiruan atau representasi dari kenyataan. Kualitas sastra dievaluasi berdasarkan seberapa baik teks mampu mencerminkan kehidupan dengan cara yang meyakinkan, logis, dan sesuai dengan realitas. Semakin baik karya tersebut menggambarkan situasi sosial, moral, atau kemanusiaan dengan cara yang autentik, semakin tinggi nilai kesastraannya. Dalam pandangan ini, sastra dianggap bermutu jika bisa mencerminkan realitas yang berarti.
b. Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif melihat karya sastra sebagai ungkapan perasaan, pemikiran, dan imajinasi dari pengarang. Kualitas sastra terletak pada kedalaman emosi, keaslian ungkapan, serta kekuatan subjektivitas yang diungkapkan. Sebuah teks dinilai baik jika mampu mengekspresikan pengalaman batin penulis dengan intens dan jujur. Fokus utama tidak pada realitas di luar, tetapi lebih pada dunia internal dari pengarang itu sendiri.
c. Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik mengevaluasi karya sastra berdasarkan efeknya kepada pembaca. Kualitas teks diukur dari kemampuannya untuk memberikan pengaruh, baik dalam hal hiburan, pendidikan moral, maupun pencerahan intelektual. Dengan kata lain, sebuah karya dianggap memiliki nilai jika mampu menyentuh, menggerakkan, atau mengubah perspektif pembacanya. Orientasi utama adalah dampak atau reaksi yang muncul.
d. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif menekankan pada teks itu sendiri sebagai struktur yang mandiri. Kualitas sastra ditentukan oleh keselarasan unsur-unsur intrinsik seperti tema, alur, gaya bahasa, simbol, dan ritme. Dalam pendekatan ini, nilai sastra tidak tergantung pada pengarang, realitas eksternal, atau pembaca, melainkan pada keselarasan dan kompleksitas yang ada dalam teks. Semakin harmonis dan estetis strukturnya, semakin tinggi mutu kesastraannya.
2. Kaitan antara teks dan pengarang dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Dalam pendekatan biografis, karya sastra dianggap sebagai refleksi dari pengalaman hidup, latar sosial, serta kondisi psikologis penulisnya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai kehidupan pengarang dianggap penting untuk menafsirkan makna teks.
3. a. Dalam pendekatan pragmatik, pembaca memiliki posisi sentral karena keberhasilan sebuah karya diukur dari dampaknya terhadap mereka. Pembaca menjadi ukuran untuk menilai nilai sastra.
b. Dalam pendekatan mimetik, pembaca berperan dalam menilai apakah gambaran realitas dalam teks terasa logis dan dapat diterima.
c. Dalam pendekatan ekspresif, pembaca bertugas untuk memahami dan merasakan pengalaman batin pengarang yang terungkap dalam teks.
d. Di sisi lain, dalam pendekatan objektif, pembaca diarahkan untuk menganalisis struktur internal dari karya dengan teliti, tanpa terlalu mempertimbangkan latar belakang pengarang atau reaksi emosional pribadi.
Dengan demikian, peran pembaca dapat bersifat aktif maupun analitis, tergantung pada teori yang digunakan.
4. Bahasa adalah elemen paling dasar dalam karya sastra. Ia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media untuk menciptakan makna dan estetika. Melalui bahasa, pengarang menciptakan suasana, karakter, konflik, dan simbolisme. Dalam studi stilistika, bahasa diperlakukan sebagai fokus utama analisis karena setiap pilihan kata, struktur kalimat, dan gaya retoris memiliki tujuan tertentu.