DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd. -
Number of replies: 28

Melalui unggahan power point telah dinyisipkan empat pertanyaan kepada Anda yaitu:

1.How does it define the literary qualities of the literary text?

2.What relation does it propose between text and author?

3.What role does it ascribe to the reader?

4.What status does it give to the medium of the text, language?

Silakan keempat pertanyaan tadi Anda jawab dan diskusikan bersama. Perlu diingat, Anda bisa menjawab tanya yang saya berikan juga menyanggah pendapat rekan lainnya. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Terima kasih


In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Nur aria Pratanti -
1. Kualitas sastra
a.Mimetik, kualitas sastra diukur dari seberapa baik teks meniru/menggambarkan realitas.
b. Ekspresif, kualitas sastra terkait ekspresi penulis (emosi, pikiran).
c. Pragmatik, kualitas sastra diukur dari dampaknya pada pembaca.
d. Objektif, kualitas sastra dari struktur, bahasa, dan otonomi teks.

2. Hubungan teks dan penulis
a. Mimetik, penulis sebagai peniru realitas.
b. Ekspresif, penulis sebagai sumber ekspresi diri.
c. pragmatik, penulis sebagai pengarah efek pada pembaca.
d. Objektif, penulis kurang relevan, fokus pada teks.

3. Peran pembaca
a. Mimetik, pembaca menilai kebenaran representasi.
b. Ekspresif, pembaca memahami ekspresi penulis.
c. Pragmatik, pembaca sebagai target pengaruh.
d. Objektif, pembaca menganalisis struktur teks.

4. Status media teks (bahasa)
a. Mimetik, bahasa sebagai alat representasi.
b. Ekspresif, bahasa ekspresi penulis.
c. Pragmatik, bahasa sebagai alat pengaruh.
d. Objektif, bahasa sebagai objek analisis.
In reply to Nur aria Pratanti

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Amanda Suri Pratama -
1. Kualitas sastra didefinisikan melalui pendekatan objektif yang memandang teks atau karya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Kualitas sastra ditentukan oleh prinsip-prinsip internal teks itu sendiri bukan oleh faktor luar. Teori sastra menyediakan metode dan ide praktis untuk membedah kualitas tersebut dalam pembacaan teks.
2. Pengarang atau sastrawan adalah pihak yang mengirimkan teks sastra. Teks dipandang sebagai hasil ekspresi atau curahan hati dari pengarang kepada pembaca. Dalam kerangka ini karya merupakan cerminan dari pemikiran atau perasaan pengarang. Hubungan keduanya dijelaskan melalui kategori ekspresif yang berfokus pada pengarang.
3. Pembaca memegang peran dalam kategori pragmatik. Pembaca adalah tujuan akhir atau penerima teks sastra yang dibuat oleh pengarang. Sastra dipandang sebagai proses komunikasi tentang realitas yang disampaikan kepada pembaca. Efek atau dampak dari teks sastra tersebut terhadap pembaca menjadi fokus utama dalam peran ini.
4. Bahasa dipandang sebagai medium utama dalam keberadaan sastra titik sastra didefinisikan sebagai teks yang dibuat oleh sastrawan lalu dibaca oleh pembaca. Bahasa berfungsi untuk menyampaikan pesan mengenai realitas kepada pembaca, yang dalam kritik sastra berkaitan dengan pendekatan mimetik (hubungan karya sastra dengan realitas).
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Mutia Amelia -
1. a. Pendekatan Mimetik
Kualitas sastra ditentukan dari kemampuan teks meniru atau merepresentasikan realitas kehidupan. Karya sastra dianggap baik apabila mampu menggambarkan kenyataan sosial, moral, atau alam secara meyakinkan.
b. Pendekatan Ekspresif
Kualitas sastra terletak pada ungkapan perasaan, pikiran, dan pengalaman batin pengarang.
c. Pendekatan Pragmatik
Kualitas sastra dilihat dari dampaknya terhadap pembaca, seperti memberi hiburan, pendidikan moral, atau perubahan sikap.
d. Pendekatan Objektif
Kualitas sastra berada pada struktur internal teks itu sendiri, seperti tema, alur, tokoh, simbol, gaya bahasa, dan kesatuan unsur intrinsik tanpa bergantung pada pengarang maupun pembaca.

2. Hubungan teks dengan pengarang yaitu, pengarang sebagai pengamat realitas yang merefleksikan dunia ke dalam teks, teks sebagai cerminan jiwa pengarang, teks digunakan untuk membantu memahami karya, pengarang menyusun teks untuk memengaruhi pembaca.

3. Mimetik: Pembaca berfungsi menilai apakah representasi realitas dalam teks terasa masuk akal atau relevan dengan kehidupan nyata.
Ekspresif: Pembaca berusaha memahami perasaan dan maksud pengarang melalui karya.
Pragmatik: Pembaca menjadi pusat perhatian utama. Keberhasilan karya ditentukan oleh efeknya terhadap pembaca.
Objektif: Peran pembaca lebih sebagai analis teks, bukan penentu makna berdasarkan perasaan pribadi.

4. Bahasa menjadi alat untuk merepresentasikan realitas secara jelas dan meyakinkan, sebagai media ekspresi emosi pengarang, penggunaan gaya bahasa mencerminkan kepribadian penulis, sebagai alat persuasi, pengaruh terhadap pembaca, status paling penting karena menjadi unsur utama pembentuk struktur dan makna teks.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Dewi Lailatul Muazizah -
1. Dalam teori sastra klasik hingga modern, terdapat empat orientasi utama yang sering dibahas, sebagaimana dirumuskan oleh M. H. Abrams, yaitu mimetik, ekspresif, pragmatik, dan objektif. Masing-masing pendekatan memiliki kriteria berbeda dalam menentukan kualitas kesastraan suatu teks.

a. Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik menilai karya sastra sebagai tiruan atau representasi realitas. Kualitas sastra diukur dari sejauh mana teks mampu menggambarkan kehidupan secara meyakinkan, logis, dan relevan dengan kenyataan. Semakin kuat karya tersebut merepresentasikan kondisi sosial, moral, atau kemanusiaan secara autentik, semakin tinggi pula nilai kesastraannya. Dalam pandangan ini, sastra dianggap berkualitas apabila mampu menjadi cerminan realitas yang bermakna.

b. Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif memandang karya sastra sebagai luapan perasaan, pikiran, dan imajinasi pengarang. Kualitas kesastraan terletak pada kedalaman emosi, keaslian ekspresi, serta kekuatan subjektivitas yang disampaikan. Sebuah teks dinilai bermutu apabila mampu mencerminkan pengalaman batin penulis secara intens dan jujur. Fokus utamanya bukan pada realitas luar, melainkan pada dunia internal pengarang.

c. Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik menilai karya sastra berdasarkan dampaknya terhadap pembaca. Kualitas teks diukur dari kemampuannya memberikan pengaruh, baik berupa hiburan, pendidikan moral, maupun pencerahan intelektual. Dengan kata lain, karya dianggap bernilai apabila mampu menyentuh, menggerakkan, atau mengubah cara pandang pembacanya. Orientasi utamanya adalah efek atau respons yang ditimbulkan.

d. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif berfokus pada teks itu sendiri sebagai struktur yang otonom. Kualitas kesastraan ditentukan oleh keterpaduan unsur intrinsik, seperti tema, alur, gaya bahasa, simbol, dan irama. Dalam pendekatan ini, nilai sastra tidak bergantung pada pengarang, realitas luar, maupun pembaca, melainkan pada keselarasan dan kompleksitas internal teks. Semakin padu dan estetis strukturnya, semakin tinggi kualitas kesastraannya.

2. Hubungan antara teks dan pengarang dapat dipahami melalui berbagai perspektif. Dalam pendekatan biografis, karya sastra dipandang sebagai cerminan pengalaman hidup, latar sosial, maupun kondisi psikologis penulisnya. Oleh karena itu, memahami riwayat hidup pengarang dianggap membantu dalam menafsirkan makna teks.

3. a. Dalam pendekatan pragmatik, pembaca memiliki posisi sentral karena keberhasilan karya diukur dari dampaknya terhadap mereka. Pembaca menjadi tolok ukur nilai sastra.
b. Dalam pendekatan mimetik, pembaca berperan menilai apakah gambaran realitas dalam teks terasa logis dan dapat diterima.
c. Dalam pendekatan ekspresif, pembaca berfungsi memahami dan menghayati pengalaman batin pengarang yang tertuang dalam teks.
d. Sementara dalam pendekatan objektif, pembaca diarahkan untuk menganalisis struktur internal karya secara cermat, tanpa terlalu mempertimbangkan latar belakang pengarang atau respons emosional pribadi.

Dengan demikian, peran pembaca dapat bersifat aktif maupun analitis, tergantung kerangka teori yang dipakai.

4. Bahasa merupakan unsur paling fundamental dalam karya sastra. Ia bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medium pencipta makna dan estetika. Melalui bahasa, pengarang membangun suasana, karakter, konflik, dan simbolisme. Dalam kajian stilistika, bahasa dipahami sebagai pusat analisis karena setiap pilihan kata, struktur kalimat, dan gaya retorika memiliki fungsi tertentu. 
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Anindya Syifa Azzahra -
1.Bagaimana hal itu mendefinisikan kualitas sastra dari teks sastra tersebut?

Jawab :
1. Mimetik : teks berkualitas bila mampu memantulkan/ mengimitasi realitas dengan cara yang bermakna.
2. Pragmatis : kualitas teks yang dilihat dari efeknya pada pembaca (apakah teks mempengaruhi atau menginspirasi tindakan/pemikiran).
3. Ekspresif : teks berkualitas karena merefleksikan dunia batin atau keunikan kreatif penulis.
4. Tujuan/Kritik Baru : kualitas terletak pada keutuhan formal dan kohesi teks itu sendiri, bukan apa yang terjadi di luar teks.


2. . Apa hubungan yang diusulkan antara teks dan penulis?

Jawab :
1. Dalam Expressive Theories, penulis adalah pusat: teks adalah ekspresi batin penulis. Tafsiran yang baik harus menelusuri maksud dan pengalaman emosional penulis.
2. Dalam orientasi yang lain (mis. Mimetic dan Pragmatic), penulis kurang dipandang sebagai pusat; fokusnya pada realitas yang menyajikan teks atau dampaknya kepada pembaca.
3. Objektif/Kritik Baru bahkan menyisihkan keterkaitan langsung dengan penulis, melihat teks sebagai objek otonom yang berdiri sendiri


3. Peran apa yang diberikannya kepada pembaca?

Jawab :
1. Dalam Teori Pragmatik, pembaca adalah titik fokus — teks dinilai berdasarkan apa yang terjadi pada pembaca setelah dibaca (afektif, kognitif, praktis).
2. Dalam Ekspresif dan Mimetik, pembaca menafsirkan suatu konten, namun tetap dipandang sebagai agen yang membawa pengalaman dan latar belakangnya ke dalam teks.
3. Dalam Objective/New Criticism, peran pembaca adalah melakukan pembacaan yang teliti dan mandiri, tanpa bergantung pada biografi penulis atau efek eksternal — analisis struktur dan bahasa teks.

4. Status apa yang diberikannya kepada media teks, yaitu bahasa?

Jawab :
Dalam pendekatan ini, bahasa bukan sekadar alat transaksional, melainkan fenomena estetika dan struktural yang sangat menentukan kualitas sebuah teks:

1. Bhasaa memiliki otonomi dalam kritik tujuan: teks dipandang sebagai sistem tanda yang lengkap dan mandiri.
2. Bahasa yang menjelaskan penulis dan dunia batin dalam teori ekspresif — pilihan diksi, gaya, metafora menjadi ekspresi kreatif penulis.
3. Dalam teori mimetik, bahasa dipakai untuk merepresentasikan realitas, tetapi kualitasnya diukur melalui bagaimana ia menciptakan “citra dunia” bukan sekadar fakta literal.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Kirani Salsabila Rusmadevi -
1. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh M. H. Abrams, kualitas kesastraan tidak dipandang sebagai sekadar teks yang enak dibaca atau indah secara bahasa, tetapi sebagai teks yang memenuhi hubungan fungsional antara empat unsur utama, yaitu semesta (universe), pengarang (artist), karya (the work), dan pembaca (audience).
Dalam teori tersebut, kualitas karya dapat dipahami melalui empat pendekatan:
a. Pendekatan mimetik, yang melihat kualitas karya dari kemampuannya merepresentasikan atau menanggapi realitas kehidupan.
b. Pendekatan ekspresif, yang menilai karya sebagai bentuk ekspresi kreatif dan perwujudan gagasan pengarang.
c. Pendekatan pragmatik, yang menekankan dampak atau efek karya terhadap pembaca.
d. Pendekatan objektif, yang menilai kualitas berdasarkan struktur, kesatuan, dan unsur intrinsik karya itu sendiri.
Dengan demikian, kualitas sastra bersifat menyeluruh karena melibatkan hubungan antara realitas, pengarang, karya, dan pembaca.

2. Teks memiliki hubungan dengan pengarang karena karya merupakan hasil kreativitas dan ekspresi sastrawan. Hal ini sejalan dengan pendekatan ekspresif, yang menempatkan pengarang sebagai pusat penciptaan karya.
Namun, dalam pendekatan objektif, teks dipandang dapat berdiri sendiri sebagai objek kajian. Artinya, meskipun pengarang berperan penting dalam proses penciptaan, makna karya tidak selalu harus ditentukan oleh biografi atau niat pengarang. Teks dapat dianalisis melalui struktur dan unsur internalnya.
Dengan demikian, hubungan antara teks dan pengarang dapat dipahami berbeda sesuai pendekatan yang digunakan.

3. Pembaca memiliki peran penting dalam memahami dan memberi makna pada karya sastra. Hal ini berkaitan dengan pendekatan pragmatik, yang menekankan dampak karya terhadap pembaca. Dalam pendekatan ini, karya sastra dinilai dari efek yang ditimbulkan, seperti memberi hiburan, pendidikan, kesadaran moral, atau pengalaman emosional. Dengan demikian, pembaca tidak hanya menerima pesan secara pasif, tetapi juga menafsirkan, merespons, dan memberi penilaian terhadap karya. Efek yang timbul pada pembaca menjadi salah satu aspek penting dalam kajian sastra.

4. Bahasa memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi medium utama penyampaian karya sastra. Seperti yang tercantum dalam definisi pada slide:
“The author sends a literary text about reality to the reader in language.”
Artinya, bahasa adalah sarana yang menghubungkan realitas, sastrawan, dan pembaca. Tanpa bahasa, karya sastra tidak dapat diwujudkan. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana estetik yang membentuk makna dan keindahan karya.
Bahasa menjadi sarana yang menghubungkan realitas, pengarang, dan pembaca. Dalam pendekatan objektif, bahasa bahkan dipandang sebagai unsur utama pembentuk struktur dan makna karya. Pilihan kata, gaya bahasa, dan susunan kalimat membentuk keindahan sekaligus kedalaman makna teks.
Dengan demikian, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medium estetik yang menentukan kualitas sebuah karya sastra.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Faina Nuraini -
1. Menurut Abrams, kualitas sebuah teks sastra tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal, melainkan bergantung pada sudut pandang teori yang digunakan, sama seperti menilai buah matang tergantung kacamata yang dipakai. Dalam teori Objektif, kualitas literer terletak pada keutuhan struktur internal teks itu sendiri seperti mesin yang semua bagiannya cocok dan bekerja sendiri tanpa bantuan luar. Dalam teori Mimetik, kualitas ditentukan oleh seberapa akurat atau kebenarannya dalam mencerminkan kenyataan seperti foto yang gambarnya tajam dan sesuai dengan aslinya. Dalam teori Ekspresif, kualitas dilihat dari kedalaman emosi dan orisinalitas imajinasi yang tertuang.
2. Kemudian Abrams menjelaskan hubungan antara teks dan penulis melalui teori Ekspresif, teks dianggap sebagai curahan perasaan atau produk dari imajinasi kreatif penulis, dan penulis adalah subjek utama sehingga teks merupakan cerminan dari pikiran, watak, dan kondisi emosional penciptanya, bahkan dalam metafora Abrams penulis bukan lagi sekadar cermin yang memantulkan dunia melainkan lampu yang menyinari dan memberi warna pada realitas melalui persepsinya sendiri.
3. Peran pembaca paling ditekankan dalam teori Pragmatik, teks dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu pada pembaca seperti estetika, pengajaran moral, atau hiburan, sehingga pembaca adalah target utama dan keberhasilan sebuah karya sastra diukur dari sejauh mana teks tersebut mampu memengaruhi, mendidik, atau memuaskan audiensnya, sastra dalam hal ini bersifat fungsional atau didaktis.
4. Abrams melihat bahasa sebagai medium yang dinamis dengan tiga fungsi, yaitu sebagai cermin dalam teori Mimetik bahasa berfungsi sebagai alat representasi untuk menggambarkan dunia fisik atau sosial secara transparan seperti jendela yang memungkinkan kita melihat ke luar, sebagai simbol ekspresi dalam teori Ekspresif bahasa bukan sekadar penunjuk benda melainkan sarana untuk membungkus emosi subjektif dan metafora unik dari penulis seperti obat yang dibungkus agar tidak pahit, dan sebagai material otonom dalam teori Objektif bahasa adalah unsur pembentuk organisasi internal karya seperti ritme, diksi, dan sintaksis yang harus dianalisis tanpa perlu merujuk pada hal-hal di luar teks seperti batu bata yang membentuk rumah bisa dianalisis tanpa perlu tahu siapa arsiteknya.
Secara keseluruhan Abrams merangkum keempat elemen ini yaitu Semesta, Penulis, Pembaca, dan Karya dalam sebuah diagram yang disebut Koordinat Kritis, jadi intinya untuk menilai buku kita harus lihat dari empat arah yaitu dunia atau apa yang digambar, penulis atau siapa yang buat, pembaca atau untuk siapa, dan teks itu sendiri atau bagaimana bentuknya, seperti melihat satu objek dari empat sudut yang berbeda.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Fiola Fiola -
1. Bagaimana hal itu mendefinisikan kualitas sastra dari teks sastra?
Menurut Abrams, kualitas karya sastra bergantung pada sudut pandang yang digunakan. Secara objektif, kualitas terdapat pada keterpaduan unsur dan struktur teks. Secara ekspresif, kualitas terlihat pada kemampuan karya menyampaikan dunia batin pengarang. Secara pragmatik, kualitas diukur dari pengaruh yang ditimbulkan pada pembaca. Secara mimetik, kualitas terlihat dari kemampuannya menghadirkan gambaran kehidupan.

2. Hubungan apa yang diusulkan antara teks dan pengarang?
Dalam orientasi ekspresif, teks dipahami sebagai hasil langsung dari diri pengarang. Karya mencerminkan gagasan, perasaan, dan pengalaman hidup penulis.

3. Peran apa yang diberikan kepada pembaca?
Melalui orientasi pragmatik, pembaca menempati posisi penting karena makna dan nilai karya berkaitan dengan tanggapan serta dampak yang diterimanya.

4. Status apa yang diberikan kepada media teks, yaitu bahasa?
Dalam orientasi objektif, bahasa menjadi dasar pembentuk karya. Bahasa dipandang sebagai sistem yang berdiri sendiri dan mengandung nilai keindahan di dalam teks.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Fitra Saputra -
1. Bagaimana hal tersebut mendefinisikan kualitas sastra dari teks sastra tersebut?
A. Mimetik
Teks berkualitas apabila mampu menirukan atau merepresentasikan realitas secara bermakna dan meyakinkan.
B. Pragmatik
Kualitas teks dilihat dari efeknya terhadap pembaca, apakah mampu memengaruhi, menggugah, atau memberi inspirasi.
C. Ekspresif
Teks berkualitas karena merefleksikan dunia batin, gagasan, serta keunikan kreatif pengarang.
D. Objektif
Kualitas terletak pada keutuhan struktur, kohesi, dan unsur intrinsik teks itu sendiri.

2. Apa hubungan yang diajukan antara teks dan pengarang?
A. Mimetik
Pengarang dianggap sebagai pengamat realitas ayang merepresentasikan kehidupan kedalam teks.
B. Pragmatik
Pengarang dianggap sebagai pihak yang sengaja menyusun teks untuk memberi pengaruh tertentu.
C. Ekspresif
Teks adalah ekspresi diri pengarang
D. Objektif
Teks berdiri sendiri dan terlepas dari pengarang.

3. Apa peran pembaca?
A. Mimetik
Pembaca berperan memahami representasi realitas dalam teks
B. Pragmatik
Pembaca menjadi pusat perhatian karena kualitas teks ditentukan oleh dampaknya terhadap pembaca.
C. Ekspresif
Pembaca bertugas menganalisis struktur dan unsur intrinsik teks secara objektif.
D. Objektif
Pembaca bertugas menganalisis struktur dan unsur instrinsik teks secara objektif.

4. Status apa yang diberikan kepada medium teks, yaitu bahasa?
A.mimetjk
Bahasa berfungsi sebagau alat untuk merepresentasikan realitas.
B. Pragmatik
Bahasa digunakan untuk memengaruhi dan membentuk respons pembaca.
C. Ekspresif
Bahsa menjadi sarana pengungkapan perasaan dan gagasan pengarang.
D. Objektif
Bahasa dipandang sebagaj unsur utama yang membangun keindahan dan kekuatan struktur teks.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Salsa Relanita -
1. Kualitas dari kesastraan suatu teks dapat didefinisikan melalui empat unsur utama yang saling berkaitan, yakni realitas, karya itu sendiri, pengarang, dan pembaca. Maka dari itu, suatu teks dapat disebut memiliki kualitas sastra apa bila mampu merepresentasikan realitas sebagai isi yang disampaikan (fungsi mimetik), memiliki bentuk dan struktur sebagai karya yang utuh (fungsi objektif), menjadi ungkapan gagasan dan pengalaman pengarang (fungsi ekspresif), serta menimbulkan tanggapan atau efek pada pembaca (fungsi pragmatik). Dengan demikian, kualitas kesastraan tidak hanya dilihat dari isi teksnya saja, tetapi dari bagaimana teks menjalankan keempat fungsi tersebut dalam proses komunikasi antara pengarang, karya, dan pembaca melalui bahasa.

2. Hubungan antara teks dan pengarang menunjukkan bahwa teks merupakan karya yang dihasilkan dan dikirimkan oleh pengarang kepada pembaca. Teks menjadi hasil karya dari gagasan, pengalaman, dan pandangan pengarang tentang realitas yang disampaikan melalui bahasa. Dalam hal ini, pengarang berperan sebagai pencipta yang menghasilkan karya, sedangkan teks menjadi media yang memuat ekspresi dari pengarang tersebut.

3. Pembaca berperan sebagai penerima teks yang ditujukan oleh pengarang. Melalui proses membaca, pembaca memberikan tanggapan dan pemaknaan terhadap teks yang disampaikan dalam bahasa. Tanpa adanya pembaca, proses komunikasi sastra tidak terjadi secara utuh, karena makna karya baru muncul ketika teks diterima dan dipahami oleh pembaca. Oleh sebab itu, pembaca menjadi salah satu unsur yang menentukan keberlangsungan makna dalam suatu karya sastra.

4. Bahasa memiliki kedudukan sebagai medium yang digunakan pengarang untuk menyampaikan teks kepada pembaca. Bahasa menjadi sarana yang menghubungkan pengarang, realitas, dan pembaca dalam bentuk karya sastra. Melalui bahasa, realitas diolah menjadi bentuk sebuah teks, kemudian disampaikan kepada pembaca untuk dipahami. Dengan demikian, bahasa bukan hanya alat atau media yang digunakan pengarang, tetapi bahasa merupakan unsur penting yang memungkinkan karya sastra dapat berfungsi sebagai bentuk komunikasi antara pengarang dan pembaca.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Mulan Nayala -
1. Terdapat empat orientasi utama
a. Pendekatan Mimetik
Memandang karya sastra sebagai tiruan, cerminan, atau representasi dari dunia nyata dan kehidupan manusia.
b. Pendekatan Ekspresif
Memahami jiwa, gagasan, atau emosi yang ingin disampaikan pengarang melalui karyanya.
c. Pendekatan Objektif
Menganalisis struktur karya secara utuh tanpa melibatkan faktor eksternal.
d. Pendekatan Pragmatik
Memandang karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu, seperti memberikan pendidikan atau kesenangan kepada pembaca.

2. Penulis adalah kreator, dan teks adalah mediator yang menghubungkan pikiran penulis dengan pembaca dan dunia nyata. Penulis merupakan pencipta ide, sementara teks adalah manifestasi fisik dari gagasan, perasaan, dan konteks sosial-budaya pengarangnya.

3. Pembaca berperan aktif sebagai pemberi makna, penafsir, dan penikmat yang menghidupkan karya sastra melalui pengalaman pribadi dan konteks budaya mereka. Pembaca bukan sekadar penerima pasif, melainkan subjek yang mengisi kekosongan teks, memberikan penilaian, dan menentukan keberhasilan karya tersebut.

4. Bahasa menjadi dasar pembentuk karya, bahasa berfungsi sebagai sarana utama, tempat untuk berekspresi, dan bahan dasar dalam karya sastra. Karya sastra tidak bisa ada tanpa bahasa, karena bahasa adalah cara yang digunakan penulis untuk menciptakan dunia cerita, menyampaikan ide, emosi, serta pengalaman kreatifnya.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Risma Ananda -
1. Bagaimana mendefinisikan kualitas kesastraan teks sastra?
Menurut Abrams, kualitas kesastraan dapat dipahami berbeda tergantung pada orientasi kritik yang digunakan. Dalam pendekatan mimetik, kualitas sastra terletak pada kemampuannya merepresentasikan atau meniru realitas (semesta). Dalam pendekatan ekspresif, nilai sastra terletak pada kemampuannya mengekspresikan perasaan, pikiran, dan imajinasi pengarang. Dalam pendekatan pragmatik, kualitas sastra diukur dari dampaknya terhadap pembaca, misalnya memberi efek emosional atau moral. Sedangkan dalam pendekatan objektif, kesastraan dipandang berada di dalam struktur dan unsur intrinsik teks itu sendiri, seperti gaya bahasa, simbol, dan hubungan antarunsur.

2. Hubungan antara teks dan pengarang menurut Abrams
Dalam orientasi ekspresif, teks dipandang sebagai cerminan atau pancaran jiwa pengarang. Karya sastra merupakan ekspresi pengalaman batin, emosi, dan imajinasi penulis. Namun dalam orientasi objektif, hubungan tersebut tidak terlalu ditekankan karena teks dianggap berdiri sendiri, terlepas dari latar belakang pengarangnya.

3. Peran pembaca
Dalam pragmatik, pembaca memiliki peran penting karena karya sastra dinilai dari efeknya terhadap pembaca, seperti memberi hiburan, pengajaran moral, atau pengaruh emosional. Artinya, makna dan nilai karya dapat dilihat dari bagaimana pembaca meresponsnya.

4. Status bahasa sebagai medium teks
Dalam orientasi objektif, bahasa menjadi pusat perhatian karena unsur kebahasaan (diksi, gaya, struktur) membangun makna secara internal dalam teks. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi sarana artistik untuk menciptakan efek estetis.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Alia Rahmawati -
1. Kualitas sastra dapat dinilai dari empat pendekatan, yaitu pendekatan mimetik yang artinya menggambarkan realitas sosial, pendekatan ekspresif yang artinya menggambarkan ekspresi pengarang, pendekatan pragmatik yang artinya memberikan dampak bagi pembaca, dan pendekatan objektif yang artinya menilai kualitas dari karyanya itu sendiri (unsur intrinsik).

2. Hubungan teks karya sastra dan pengarangnya adalah teks karya sastra merupakan hasil dari apa yang telah disalurkan oleh si pengarang berdasarkan apa yang ada di dalam pikiran dan perasaannya dalam bentuk bahasa. Sehingga, secara tidak langsung teks karya sastra dan pengarang memiliki hubungan yang erat. Namun, setelah teks karya sastra diterbitkan, penafsiran bergantung pada pembaca, sehingga penafsirannya pasti berbeda-beda dan mungkin saja penafsirannya berbeda dengan apa yang dimaksud oleh si pengarang.

3. Pembaca merupakan salah satu dari empat syarat keberadaan suatu kesusastraan, sehingga pembaca memiliki peranan penting. Pembaca juga memiliki peranan dalam memaknai teks tersebut karena setiap pembaca pasti memiliki pendapat yang berbeda-beda dan mungkin saja berbeda dengan apa yang dimaksud si pengarang.

4. Bahasa disebut dengan mediumnya karena bahasa merupakan alat untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikiran pengarang. Bahasa juga sebagai bentuk estetika dari suatu teks karya sastra.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Ridho Anugrah Tama -
1. Abrams mendefinisikan bahwa kualitas kesastraan pada teks sastra dapat dinilai berdasarkan empat pendekatan. Pertama, pendekatan mimetik yang menekankan representasi realitas (kenyataan). Kedua, pendekatan ekspresif merujuk pada pancaran emosi dan imajinasi pengarang. Ketiga, pendekatan pragmatik yang menilai kesastraan dari dampak emosional karya sastra terhadap pembaca. Keempat, pendekatan objektif yang menekankan unsur internal seperti tema, karakter, plot, diksi, dan struktur yang membentuk kebulatan makna.

2. Pada orientasi ekspresif, teks merupakan cerminan jiwa pengarang, mencerminkan pengalaman pribadinya. Sebaliknya, orientasi objektif mendefinisikan bahwa teks dapat berdiri sendiri yang minim dipengaruhi biografi pengarang.

3. Dalam pendekatan pragmatik, pembaca memiliki peran yang penting yang bukan hanya menjadi penikmat teks sastra saja tetapi juga sebagai pihak yang menilai teks karys sastra tersebut. nilai kesastraan teks sastra bergantung pada efek seperti hiburan atau pengajaran moral yang diterima oleh pembaca. Respons pembaca menjadi ukuran utama makna karya.

4. Bahasa bukan semata-mata sebagai media untuk berkomunikasi saja, tetapi juga sarana artistik yang menciptakan estetika sebuah karya sastra. Orientasi objektif memposisikan bahasa sebagai elemen inti. Unsur instrinsik seperti diksi, gaya, dan struktur menciptakan makna estetis secara mandiri. Bahasa juga memiliki peranan penting, karena relasi antarunsur bahasa menciptakan nilai sastra.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by ULFARA DZIKRI -
1. Kualitas sebuah teks sastra bisa dilihat dari bagaimana teks tersebut menghubungkan empat unsur penting, yaitu realitas, pengarang, karya, dan pembaca. Suatu karya dapat dikatakan memiliki nilai sastra jika mampu menggambarkan kenyataan hidup sebagai isi cerita, memiliki susunan yang runtut dan padu sebagai sebuah karya, menjadi sarana pengungkapan gagasan serta pengalaman pengarang, dan memberi dampak tertentu bagi pembacanya. Jadi, kualitas sastra tidak hanya soal isi atau cerita yang disampaikan, tetapi juga tentang bagaimana teks itu berfungsi dalam hubungan antara pengarang, karya, dan pembaca melalui bahasa.

2. Teks pada dasarnya merupakan hasil dari proses kreatif pengarang. Ide, pengalaman, dan cara pandang pengarang terhadap kehidupan dituangkan ke dalam bentuk bahasa dan kemudian menjadi sebuah karya. Karena itu, teks bisa dipahami sebagai wujud ekspresi dari pengarang. Meskipun demikian, setelah karya tersebut dipublikasikan, teks juga dapat dibaca dan dianalisis tanpa selalu mengaitkannya langsung dengan kehidupan pribadi penulisnya.

3. Pembaca memiliki peran penting dalam menentukan makna sebuah karya sastra. Melalui kegiatan membaca, pembaca menafsirkan isi teks sesuai dengan pengalaman dan pemahamannya masing-masing. Makna karya tidak langsung muncul begitu saja, tetapi terbentuk ketika pembaca berinteraksi dengan teks. Oleh sebab itu, pembaca tidak hanya menjadi penerima, melainkan juga ikut berperan dalam membangun makna karya sastra.

4. Bahasa menjadi unsur utama dalam karya sastra karena melalui bahasa pengarang menyampaikan gagasannya kepada pembaca. Realitas yang ada di luar diri pengarang diolah dan disusun dalam bentuk teks menggunakan bahasa. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga memiliki fungsi estetik karena pilihan kata dan susunan kalimat dapat memengaruhi keindahan serta kedalaman makna karya. Dengan demikian, bahasa memiliki posisi yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan sebuah teks sastra.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by RISA AULIA -
1. Bagaimana teori ini mendefinisikan kualitas kesastraan teks?
Menurut pendekatan Abrams, kualitas kesastraan suatu teks dapat dipahami melalui empat orientasi kritik sastra, yaitu:
1. Orientasi mimetik yaitu karya sebagai tiruan atau representasi dunia (universe).
2. Orientasi ekspresif yaitu karya sebagai ekspresi perasaan dan imajinasi pengarang.
3. Orientasi objektif yaitu karya sebagai struktur otonom yang memiliki koherensi internal.
4. Orientasi pragmatik yaitu karya sebagai sarana yang memberi efek kepada pembaca.
Dengan demikian, kualitas sastra tidak hanya terletak pada isi, tetapi pada bagaimana teks merepresentasikan realitas, mengekspresikan subjektivitas pengarang, membangun struktur yang padu, serta menghasilkan dampak estetik dan emosional pada pembaca. Kualitas kesastraan muncul dari perpaduan antara unsur bentuk, makna, dan efek.

2. Apa hubungan antara teks dan pengarang?
Dalam orientasi ekspresif, teks dipandang sebagai pancaran jiwa, imajinasi, dan pengalaman batin pengarang. Karya sastra adalah “lampu” (lamp) yang memancarkan cahaya dari dalam diri pengarang, bukan sekadar “cermin” (mirror) yang memantulkan dunia.
Artinya:
a. Pengarang memiliki posisi penting.
b. Memahami latar belakang psikologis dan historis pengarang dapat membantu memahami karya.
Namun, Abrams juga menunjukkan bahwa tidak semua pendekatan menempatkan pengarang sebagai pusat. Dalam orientasi objektif, teks dapat dianalisis tanpa merujuk pada biografi pengarang.

3. Apa peran yang dikaitkan dengan pembaca?
Dalam orientasi pragmatik, pembaca memiliki peran penting karena karya sastra dinilai dari efeknya terhadap pembaca.
Artinya:
a. Sastra bertujuan memberi pengaruh: hiburan, pendidikan moral, atau pengalaman estetik.
b. Makna tidak hanya berada dalam teks, tetapi juga muncul dalam proses penerimaan pembaca.
Dengan demikian, pembaca bukan sekadar penerima pasif, melainkan pihak yang mengalami dan mengaktualisasikan makna karya.

4. Apa status bahasa dalam teori ini?
Bahasa merupakan medium utama karya sastra. Dalam orientasi objektif, bahasa dipandang sebagai sistem yang membangun struktur internal karya.
Bahasa dalam sastra:
a. tidak digunakan secara biasa,
b. bersifat konotatif dan simbolik,
c. mengandung ambiguitas dan makna ganda.
Karena itu, bahasa bukan sekadar alat penyampai pesan, melainkan unsur pembentuk estetika dan makna itu sendiri.
In reply to RISA AULIA

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Nadya Ramadhani -
1. Bagaimana teori tersebut mendefinisikan kualitas kesastraan sebuah teks?
Kualitas kesastraan suatu teks ditentukan oleh prinsip dan perangkat konseptual yang digunakan untuk membacanya. Dalam kerangka M.H. Abrams, kualitas tersebut dapat dilihat melalui orientasi mimetik (hubungan teks dengan realitas), ekspresif (hubungan teks dengan pengarang), objektif (teks sebagai entitas otonom), dan pragmatik (hubungan teks dengan pembaca). Artinya, kesastraan tidak hanya terletak pada cerita atau isi, tetapi pada cara teks merepresentasikan realitas, mengekspresikan pengalaman batin, membangun struktur internalnya, serta menghasilkan efek tertentu bagi pembaca.

2. Bagaimana hubungan antara teks dan pengarang menurut teori tersebut?
Relasi antara teks dan pengarang bergantung pada pendekatan yang digunakan. Dalam orientasi ekspresif, teks dipahami sebagai cerminan pikiran, perasaan, dan pengalaman pengarang. Teks menjadi medium ekspresi diri. Namun dalam orientasi objektif, teks diperlakukan sebagai karya yang otonom, terlepas dari intensi atau biografi pengarang. Dengan demikian, teori sastra membuka kemungkinan bahwa teks dapat dibaca baik sebagai representasi subjektivitas pengarang maupun sebagai struktur yang berdiri sendiri.

3. Apa peran pembaca dalam teori tersebut?
Pembaca memiliki peran penting dalam proses pemaknaan. Dalam orientasi pragmatik, teks hadir untuk menghasilkan dampak tertentu pada pembaca baik secara emosional, moral, maupun intelektual. Pembaca bukan sekadar penerima pasif, melainkan pihak yang mengaktualisasikan makna melalui proses interpretasi. Tanpa pembaca, teks belum sepenuhnya hidup sebagai karya sastra.

4. Bagaimana kedudukan bahasa dalam teks sastra?
Bahasa diposisikan sebagai medium utama yang memungkinkan realitas, gagasan, dan pengalaman disampaikan. Seperti yang dikutip dalam definisi Jefferson dan Robey, pengarang mengirimkan teks sastra tentang realitas kepada pembaca melalui bahasa. Artinya, bahasa bukan sekadar alat teknis, melainkan ruang tempat makna dibangun. Pilihan diksi, gaya, struktur, dan simbol menjadi unsur penting yang menentukan bagaimana teks dipahami dan dinilai sebagai karya sastra.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Rosinta Helen Grasia Ompusunggu -
1. Kualitas Sastra
Menurut M. H. Abrams dalam The Mirror and the Lamp, kualitas sastra bergantung pada sudut pandang untuk menilainya.

A. Pendekatan mimetik, melihat kualitas karya sastra sebagai tiruan yang mencerminkan kehidupan nyata.

B. Pendekatan ekspresif, melihat kualitas karya sastra sebagai bagian dari emosi, pikiran dan perasaan dari penulis.

C. Pendekatan pragmatik, melihat kualitas berdasarkan dampaknya terhadap pembaca, yang dapat mempengaruhi atau menghibur pembaca.

D. Pendekatan objektif menilai karya sastra dari struktur intrinsiknya seperti tema, alur, tokoh, gaya bahasa, dan kesatuan makna.


2. Hubungan Teks dan Penulis
Hubungan antara teks dan penulis juga berbeda menurut tiap pendekatan.

A. Pendekatan ekspresif, hubungan teks dan penulis sangat erat, teks dilihat sebagai produk yang dianggap untuk merefleksikan kepribadian atau pengalaman hidup penulis.

B. Pendekatan mimetik, penulis dilihat sebagai pengamat realitas yang menjadikan karya sastra sebagai kehidupan dalam bentuk cerita, yang mencerminkan dunia nyata.

C. Pendekatan pragmatik, penulis berperan sebagai penyampai pesan untuk memberi pengaruh kepada pembaca.

D. Pendekatan objektif, fokus utama berada pada teks itu sendiri, tanpa harus melihat latar belakang atau niat penulis.


3. Peran Pembaca
Peran pembaca ditekankan dalam pendekatan pragmatik. Dalam pendekatan pragmatik, Teks dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu yang keberhasilannya diukur dari reaksi pembaca. Jika pembaca merasa terhibur, atau mendapatkan pelajaran maka karya tersebut dianggap berhasil. Pendekatan pragmatik memiliki fungsi sosial yang kuat.


4. Status Media Teks atau Bahasa
Bahasa sebagai media sastra memiliki fungsi yang berbeda sesuai pendekatannya.

A. Pendekatan mimetik, bahasa berfungsi untuk menggambarkan realita dan meyakinkan secara jelas, yang berfokus pada kejelasan deskripsi.

B. Pendekatan ekspresif, bahasa menjadi sarana untuk mengekspresikan emosi dan imajinasi penulis, melalui gaya bahasa yang menunjukkan keunikan pribadi penulis.

C. Pendekatan pragmatik, bahasa digunakan untuk memengaruhi dan menyentuh emosi pembaca.

D. Pendekatan objektif, bahasa dipandang sebagai unsur penting dalam struktur dan dianalisis untuk menemukan makna yang terkandung di dalam teks.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by mutiara nur hidayahni -
1. Dalam kajian sastra baik yang kuno maupun yang modern, ada empat orientasi utama yang sering diperbincangkan, sebagaimana dinyatakan oleh M. H. Abrams, yaitu mimetik, ekspresif, pragmatik, dan objektif. Tiap pendekatan memiliki kriteria yang berbeda untuk menilai mutu literatur suatu teks.

a. Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik menilai karya sastra sebagai tiruan atau representasi dari kenyataan. Kualitas sastra dievaluasi berdasarkan seberapa baik teks mampu mencerminkan kehidupan dengan cara yang meyakinkan, logis, dan sesuai dengan realitas. Semakin baik karya tersebut menggambarkan situasi sosial, moral, atau kemanusiaan dengan cara yang autentik, semakin tinggi nilai kesastraannya. Dalam pandangan ini, sastra dianggap bermutu jika bisa mencerminkan realitas yang berarti.

b. Pendekatan Ekspresif
Pendekatan ekspresif melihat karya sastra sebagai ungkapan perasaan, pemikiran, dan imajinasi dari pengarang. Kualitas sastra terletak pada kedalaman emosi, keaslian ungkapan, serta kekuatan subjektivitas yang diungkapkan. Sebuah teks dinilai baik jika mampu mengekspresikan pengalaman batin penulis dengan intens dan jujur. Fokus utama tidak pada realitas di luar, tetapi lebih pada dunia internal dari pengarang itu sendiri.

c. Pendekatan Pragmatik
Pendekatan pragmatik mengevaluasi karya sastra berdasarkan efeknya kepada pembaca. Kualitas teks diukur dari kemampuannya untuk memberikan pengaruh, baik dalam hal hiburan, pendidikan moral, maupun pencerahan intelektual. Dengan kata lain, sebuah karya dianggap memiliki nilai jika mampu menyentuh, menggerakkan, atau mengubah perspektif pembacanya. Orientasi utama adalah dampak atau reaksi yang muncul.

d. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif menekankan pada teks itu sendiri sebagai struktur yang mandiri. Kualitas sastra ditentukan oleh keselarasan unsur-unsur intrinsik seperti tema, alur, gaya bahasa, simbol, dan ritme. Dalam pendekatan ini, nilai sastra tidak tergantung pada pengarang, realitas eksternal, atau pembaca, melainkan pada keselarasan dan kompleksitas yang ada dalam teks. Semakin harmonis dan estetis strukturnya, semakin tinggi mutu kesastraannya.

2. Kaitan antara teks dan pengarang dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Dalam pendekatan biografis, karya sastra dianggap sebagai refleksi dari pengalaman hidup, latar sosial, serta kondisi psikologis penulisnya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai kehidupan pengarang dianggap penting untuk menafsirkan makna teks.

3. a. Dalam pendekatan pragmatik, pembaca memiliki posisi sentral karena keberhasilan sebuah karya diukur dari dampaknya terhadap mereka. Pembaca menjadi ukuran untuk menilai nilai sastra.
b. Dalam pendekatan mimetik, pembaca berperan dalam menilai apakah gambaran realitas dalam teks terasa logis dan dapat diterima.
c. Dalam pendekatan ekspresif, pembaca bertugas untuk memahami dan merasakan pengalaman batin pengarang yang terungkap dalam teks.
d. Di sisi lain, dalam pendekatan objektif, pembaca diarahkan untuk menganalisis struktur internal dari karya dengan teliti, tanpa terlalu mempertimbangkan latar belakang pengarang atau reaksi emosional pribadi.

Dengan demikian, peran pembaca dapat bersifat aktif maupun analitis, tergantung pada teori yang digunakan.

4. Bahasa adalah elemen paling dasar dalam karya sastra. Ia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media untuk menciptakan makna dan estetika. Melalui bahasa, pengarang menciptakan suasana, karakter, konflik, dan simbolisme. Dalam studi stilistika, bahasa diperlakukan sebagai fokus utama analisis karena setiap pilihan kata, struktur kalimat, dan gaya retoris memiliki tujuan tertentu.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Carel lando Peranggi -
1. Kualitas Sastra
a. Mimetik.
Kualitas sastra dinilai dari seberapa baik karya tersebut merepresentasikan atau meniru realitas. Teks dianggap bermutu jika mampu menggambarkan kehidupan, masyarakat, dan pengalaman manusia secara meyakinkan dan logis.
b. Ekspresif.
Kualitas sastra terletak pada kedalaman ekspresi penulis. Karya sastra dipandang sebagai luapan emosi, pikiran, dan pengalaman batin pengarang. Semakin autentik dan kuat ekspresinya, semakin tinggi nilainya.
c. Pragmatik.
Kualitas sastra diukur dari dampaknya terhadap pembaca. Karya dinilai berhasil jika mampu menggerakkan, memengaruhi, mendidik, atau mengubah cara pandang pembacanya.
d. Objektif.
Kualitas sastra dinilai dari unsur internal teks itu sendiri. Fokusnya pada struktur, gaya bahasa, simbol, alur, dan kesatuan bentuk. Teks dipandang sebagai karya otonom yang berdiri sendiri.

2. Hubungan Teks dan Penulis
a. Mimetik.
Penulis berperan sebagai peniru realitas. Ia mengamati dunia lalu merekonstruksinya dalam bentuk karya sastra.
b. Ekspresif.
Penulis adalah pusat dan sumber utama makna. Karya menjadi cerminan jiwa dan pengalaman personalnya.
c. Pragmatik.
Penulis berfungsi sebagai pengarah efek. Ia sengaja menyusun karya untuk menghasilkan respons tertentu pada pembaca.
d. Objektif.
Penulis dianggap kurang relevan dalam penafsiran. Fokus utama adalah teks, bukan biografi atau niat pengarang.

3. Peran Pembaca
a. Mimetik.
Pembaca bertugas menilai kebenaran dan kewajaran representasi realitas dalam teks.
b. Ekspresif.
Pembaca mencoba memahami emosi dan maksud batin penulis yang tersirat dalam karya.
c. Pragmatik.
Pembaca menjadi sasaran pengaruh. Keberhasilan karya diukur dari respons emosional atau intelektual pembaca.
d. Objektif.
Pembaca berperan sebagai analis teks, menelaah struktur, pola bahasa, dan hubungan antarunsur dalam karya.

4. Status Media Teks (Bahasa)
a. Mimetik.
Bahasa adalah alat representasi untuk menggambarkan realitas.
b. Ekspresif.
Bahasa menjadi media ekspresi diri penulis.
c. Pragmatik.
Bahasa adalah alat untuk memengaruhi dan membentuk respons pembaca.
d. Objektif.
Bahasa dipandang sebagai objek analisis utama. Fokusnya pada pola, struktur, dan sistem internal bahasa dalam teks.
In reply to Carel lando Peranggi

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Aulia Syifa Ramadhani -
1. Menurut dalam bukunya The Mirror and the Lamp, kualitas kesastraan teks dapat dipahami melalui empat pendekatan. Dalam pendekatan mimetik, karya sastra dinilai dari kemampuannya mencerminkan kenyataan atau dunia nyata. Dalam pendekatan ekspresif, kualitas sastra dilihat sebagai ungkapan perasaan dan pikiran pengarang. Dalam pendekatan pragmatik, karya dinilai dari pengaruhnya terhadap pembaca. Sedangkan dalam pendekatan objektif, kualitas sastra terletak pada unsur-unsur dalam teks itu sendiri, seperti struktur, tema, dan gaya bahasa.

2. Hubungan antara teks dan pengarang dijelaskan terutama dalam pendekatan ekspresif. Abrams menyatakan bahwa karya sastra adalah cerminan jiwa, pengalaman, dan imajinasi pengarang. Namun, dalam pendekatan objektif, hubungan dengan pengarang tidak terlalu diperhatikan karena teks dianggap berdiri sendiri tanpa harus dikaitkan dengan kehidupan penulisnya.

3. Peran pembaca terlihat jelas dalam pendekatan pragmatik. Karya sastra dianggap memiliki tujuan untuk memberi pengaruh kepada pembaca, baik berupa hiburan, emosi, maupun pesan moral. Jadi, pembaca adalah pihak yang menerima dan merasakan dampak dari karya sastra tersebut.

4. Bahasa sebagai medium teks memiliki kedudukan yang sangat penting. Terutama dalam pendekatan objektif, bahasa menjadi pusat perhatian karena melalui bahasa lah makna, keindahan, dan gagasan dibangun. Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana artistik yang membentuk keseluruhan karya sastra.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Puja Maulia Fatah -
1. Kualitas kesastraan suatu teks ditentukan oleh bagaimana teks tersebut dipahami dalam hubungannya dengan empat unsur utama, yaitu karya, pengarang, pembaca, dan realitas. Menurut M.H. Abrams dalam The Mirror and the Lamp, terdapat empat pendekatan utama dalam melihat karya sastra, yaitu mimetik (hubungan karya dengan realitas), ekspresif (hubungan karya dengan pengarang), pragmatik (hubungan karya dengan pembaca), dan objektif (karya sebagai struktur yang berdiri sendiri). Dengan demikian, kualitas sastra tidak hanya terletak pada isi cerita, tetapi juga pada cara teks menggambarkan realitas, mengekspresikan perasaan pengarang, memengaruhi pembaca, serta menyusun bahasa secara indah dan terstruktur.

2. Berdasarkan definisi sastra dari Ann Jefferson dan David Robey, sastra adalah proses komunikasi: pengarang menyampaikan teks tentang realitas kepada pembaca melalui bahasa. Dalam pendekatan ekspresif, teks dipandang sebagai ungkapan pikiran, perasaan, dan pengalaman pengarang. Artinya, karya sastra dianggap mencerminkan diri sastrawan. Namun, dalam pendekatan objektif, teks dipahami sebagai karya yang berdiri sendiri dan tidak selalu harus dikaitkan dengan kehidupan pribadi pengarang.

3. Pembaca memiliki peran penting dalam memahami dan memberi makna pada teks. Dalam pendekatan pragmatik, karya sastra dinilai dari dampaknya terhadap pembaca, seperti memberikan pemahaman, pengalaman estetik, atau pengaruh emosional. Tanpa pembaca, teks tidak akan memiliki makna yang utuh. Oleh karena itu, pembaca berperan sebagai penafsir yang aktif dalam proses memahami karya sastra.

4. Bahasa merupakan unsur utama dalam karya sastra. Melalui bahasa, pengarang menyampaikan gagasan, perasaan, dan gambaran tentang realitas kepada pembaca. Bahasa dalam sastra tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana artistik yang menciptakan keindahan dan makna. Oleh karena itu, bahasa memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menentukan nilai dan kualitas suatu karya sastra.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Isabela Nindia C -
1. Kualitas sastra biasanya ditentukan dari cara teks tersebut mengolah bahasa secara khas dan estetik. Teks sastra dinilai bukan hanya dari isi ceritanya, tetapi dari keindahan bahasa, gaya penulisan, kedalaman makna, simbol, serta kemampuannya membangkitkan emosi dan pemikiran pembaca. Jadi, kualitas sastra terletak pada kekuatan ekspresi dan nilai artistiknya, bukan sekadar pada informasi yang disampaikan.
2. ⁠Hubungan antara teks dan penulis dapat dipahami dalam beberapa cara. Seperti pandangan yang melihat teks sebagai cerminan gagasan, pengalaman, dan latar belakang penulis. Namun, ada juga pendekatan yang menekankan bahwa setelah teks dipublikasikan, ia berdiri sendiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada maksud penulis. Artinya, teks bisa memiliki makna yang melebihi niat awal pengarangnya.
3. ⁠Pembaca dipandang memiliki peran aktif dalam memberi makna pada teks. Makna tidak sepenuhnya sudah “jadi” di dalam teks, melainkan terbentuk melalui interaksi antara teks dan pembaca. Latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang pembaca akan memengaruhi bagaimana teks dipahami. Dengan demikian, pembaca ikut berperan dalam proses penciptaan makna.
4. ⁠Bahasa dalam teks sastra tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai medium artistik. Bahasa diperlakukan sebagai bahan utama yang dibentuk dan dimainkan untuk menciptakan efek tertentu. Dalam sastra, bahasa memiliki kedudukan yang sangat penting karena melalui bahasa itulah makna, suasana, dan nilai estetika bisa dibangun.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Rheny Angelia -
1. Menurut teori yang dikemukakan oleh M. H. Abrams, kesastraan tidak dinilai hanya dari keindahan bahasa melainkan ditentukan oleh semesta (univers), pengarang (artist), teks sastra (the work), dan pembaca (audiens). Dalam teori tersebut, kualitas karya sastra dilihat melalui empat pendekatan.
A. Pendekatan mimetik : kualitas karya dilihat melalui kemampuannya merepresentasikan realitas kehidupan.
B. Pendekatan ekspresif : kualitas karya dilihat sebagai bentuk ekspresi kreatif pengarang.
C. Pendekatan pragmatik : kualitas karya dilihat dari penekanan dampak terhadap pembaca.
D. Pendekatan objektif : kualitas karya dilihat berdasarkan unsur intrinsiknya .

2. Teks sastra merupakan hasil berpikir kreatif pengarang dalam menyampaikan pikiran dan perasaannya melalui bahasa sebagai mediumnya. Sehingga, teks karya sastra dan pengarang memiliki hubungan yang erat. Pengarang memang menciptakan teks sastra, tetapi setelah teks sastra lahir, maknanya tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pengarang, melainkan terbuka untuk ditafsirkan oleh pembaca karya sastra.

3. Pembaca diposisikan sebagai penafsir sekaligus pengkritik sastra. Pembaca tidak hanya menerima makna secara pasif, tetapi terlibat dalam memahami dan menafsirkan makna yang terkandung di dalam teks sastra. Sementara sebagai pengkritik, pembaca memberikan tanggapan dan penilaian berdasarkan sudut pandang kritis terhadap teks sastra.

4. Bahasa dipandang sebagai unsur utama dalam teks sastra. Bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan cerita, tetapi menjadi medium artistik yang membentuk makna dan keindahan kata dalam teks sastra.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Latifa Sahida -
1. a. Pendekatan Mimetik
Kualitas sastra ditentukan oleh kemampuan teks merepresentasikan realitas kehidupan secara meyakinkan.
b. Pendekatan Ekspresif
Kualitas sastra terletak pada kemampuan karya mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman batin pengarang.
c. Pendekatan Pragmatik
Kualitas sastra dilihat dari dampaknya terhadap pembaca, seperti memberi hiburan, pendidikan moral, atau pengaruh emosional.
d. Pendekatan Objektif
Kualitas sastra berada pada struktur internal teks, seperti tema, alur, tokoh, gaya bahasa, simbol, dan kesatuan unsur intrinsik.

2. Hubungan teks dan pengarang dapat dipahami dari posisi pengarang sebagai pencipta karya. Dalam teori mimetik, pengarang merepresentasikan realitas ke dalam teks. Dalam teori ekspresif, teks merupakan cerminan jiwa dan pengalaman batin pengarang. Namun dalam pendekatan objektif, teks dipandang otonom dan tidak bergantung pada latar belakang atau niat pengarang. Dengan demikian, hubungan keduanya bergantung pada sudut pandang teori yang digunakan.

3. Pembaca merupakan unsur penting dalam keberadaan karya sastra karena karya ditujukan kepada audiens. Dalam pendekatan pragmatik, pembaca menjadi pusat perhatian karena nilai karya diukur dari efeknya terhadap pembaca. Sementara itu, dalam pendekatan lain, pembaca berperan memahami, menafsirkan, dan mengapresiasi struktur maupun makna yang terkandung dalam teks.

4. Bahasa merupakan medium utama dalam karya sastra. Melalui bahasa, pengarang merepresentasikan realitas, mengekspresikan perasaan, dan memengaruhi pembaca. Dalam pendekatan objektif, bahasa dipandang sebagai unsur pembentuk struktur internal karya yang menentukan makna dan nilai estetik teks.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Citra Ayu -
1. kualitas kesastraan tidak hanya diukur dari keindahan bahasa atau kenyamanan teks saat dibaca. Sebuah karya sastra dinilai berkualitas apabila menunjukkan keterkaitan yang fungsional antara empat unsur utama, yaitu semesta atau realitas (universe), pengarang (artist), karya itu sendiri (the work), dan pembaca (audience).

Dalam kerangka tersebut, kualitas karya dapat melalui empat pendekatan utama.
pendekatan mimetik, yang menilai karya berdasarkan kemampuannya menggambarkan atau merespons realitas kehidupan.
pendekatan ekspresif, yang memandang karya sastra sebagai wujud ungkapan kreativitas serta gagasan pengarang.
pendekatan pragmatik, yang menekankan pengaruh atau dampak karya terhadap pembacanya.
Dengan demikian, kualitas karya sastra bersifat komprehensif karena melibatkan hubungan antara realitas, pengarang, karya, dan pembaca secara bersamaan.

2.ya, karena sastra memiliki kaitannya dengan pengarang hal itu karena karya lahir dari proses kreatif serta ekspresi seorang sastrawan.
Namun, dalam pendekatan objektif, teks dipahami sebagai karya yang memiliki kemandirian. Artinya, meskipun pengarang berperan dalam proses penciptaan, pemaknaan karya tidak selalu harus bergantung pada latar belakang kehidupan ataupun maksud pribadi pengarang.
Oleh karena itu, hubungan antara teks dan pengarang dapat dipahami secara berbeda, tergantung pada perspektif teori yang digunakan.

3. Pembaca mempunya peranpenting dalam proses paham nya sebuah karya sastra karena makna karya turut terbentuk melalui respons pembaca. Sehingga sebuah karya dapat dilihat dari efek yang dihasilkan, seperti memberikan hiburan, menumbuhkan wawasan, membangun kesadaran moral, ataupun menghadirkan pengalaman emosional tertentu.

4. Bahasa sangat memiliki posisi yang sangat mendasar dalam karya sastra karena menjadi media utama penyampaian gagasan dan makna. Seperti tercantum dalam definisi pada slide, penulis menyampaikan teks sastra mengenai realitas kepada pembaca melalui bahasa.
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai penghubung antara realitas, pengarang, dan pembaca. Tanpa bahasa, karya sastra tidak dapat diwujudkan. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana estetis yang membentuk makna serta keindahan karya.
Dalam pendekatan objektif, bahasa dianggap sebagai unsur utama pembangun struktur dan makna teks. Pemilihan kata, penggunaan gaya bahasa, serta susunan kalimat berperan dalam menciptakan nilai artistik sekaligus kedalaman makna karya sastra.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Nisa Ramadhani -
1. Kualitas Sastra
A. Pendekatan mimetik
yaitu melihat kualitas karya sastra sebagai tiruan yang dapat mencerminkan kehidupan nyata.

B. Pendekatan ekspresif
yaitu melihat kualitas karya sastra sebagai bagian dari emosi, pikiran dan perasaan dari penulisnya.

C. Pendekatan pragmatik
adalah melihat kualitas berdasarkan dampaknya terhadap para pembaca yang dapat mempengaruhi atau pun menghibur pembaca.

D. Pendekatan objektif
yaitu menilai karya sastra dari struktur intrinsiknya seperti tema, alur, tokoh, gaya bahasa, dan kesatuan dari makna sendiri.


2. Hubungan Teks dan Penulis
Hubungan antara kedua nya memiliki perbedaan menurut tiap pendekatan.

A. Pendekatan ekspresif adalah hubungan antara teks dan penulis yang sangat erat, teks dapat dilihat sebagai produk yang dianggap dapat merefleksikan kepribadian atau pengalaman hidup sang penulis.

B. Pendekatan mimetik yaitu penulis dilihat sebagai pengamat realitas yang menjadikan karya sastra sebagai kehidupan dalam bentuk cerita, yang mencerminkan dunia nyata.

C. Pendekatan pragmatik, si penulis berperan untuk menyampaikan pesan untuk memberi pengaruh kepada pembaca.

D. Pendekatan objektif, fokus utamanya ada pada teks itu sendiri, tanpa harus melihat latar belakang atau niat penulis.


3. Peran Pembaca
Peran pembaca sendiri ditekankan pada pendekatan pragmatik. Dalam pendekata itu, teks dapat dilihat sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan tertentu, yang keberhasilannya dapat diukur dari reaksi pembaca. Karya dapat dianggap berhasi apabila pembaca merasa terhibur Jika pembaca merasa terhibur. Pendekatan pragmatik juga memiliki fungsi sosial yang kuat.


4. Status Media Teks atau Bahasa
Bahasa sebagai media sastra memiliki fungsi yang berbeda, sesuai dengan pendekatannya.

A. Pendekatan mimetik
Bahasa sendiri berfungsi yang menggambarkan sebuah realita yang dapat meyakinkan secara jelas, dan berfokus pada kejelasan deskripsi.

B. Pendekatan ekspresif
Bahasa dapat menjadi sebuah sarana untuk mengekspresikan suatu emosi dan imajinasi dari penulis, hal ini dapat dilihat melalui gaya bahasa yang menunjukkan keunikan pribadi penulis.

C. Pendekatan pragmatik
Bahasa dapat digunakan untuk memengaruhi dan juga dapat menyentuh emosi dari si pembaca tersebut.

D. Pendekatan objektif
Bahasa dipandang sebagai unsur yang penting dalam sebuah struktur dan dapat dianalisis untuk menemukan makna yang terkandung di dalam teks.
In reply to Heru Prasetyo, S.Hum., M.Pd.

Re: DISKUSI II: Syarat Keberadaan Suatu Kesusastraan

by Khaura Putri Balqis -
1. Menurut klasifikasi M. H. Abrams, kualitas kesastraan berbeda-beda tergantung orientasi pendekatannya. Pendekatan mimetik mendefinisikan nilai sastra berdasarkan kemampuan teks merepresentasikan realitas secara meyakinkan. Pendekatan pragmatik melihat kualitas sastra dari efek yang ditimbulkan pada pembaca, seperti memberikan hiburan, pendidikan, atau pengaruh moral. Pendekatan ekspresif menempatkan kualitas sastra pada kedalaman ekspresi batin dan imajinasi pengarang yang tercermin dalam teks. Sementara itu, pendekatan objektif memandang kualitas sastra terletak pada struktur internal teks itu sendiri, seperti hubungan antarunsur intrinsik yang membentuk kesatuan makna.

2. Dalam pendekatan mimetik, pengarang dipandang sebagai peniru realitas yang dituangkan ke dalam teks. Dalam pendekatan pragmatik, pengarang berperan sebagai komunikator yang menyusun teks dengan tujuan tertentu untuk memengaruhi pembaca. Pada pendekatan ekspresif, hubungan antara teks dan pengarang sangat erat karena teks dianggap sebagai cerminan perasaan, pengalaman, dan kepribadian penulis. Sebaliknya, pendekatan objektif memisahkan teks dari pengarang; karya sastra dipandang otonom dan tidak bergantung pada niat atau biografi penulis.

3. Pendekatan mimetik menempatkan pembaca sebagai pihak yang menilai kesesuaian karya dengan realitas. Pendekatan pragmatik memberikan peran sentral kepada pembaca karena makna dan nilai karya ditentukan oleh dampaknya terhadap audiens. Dalam pendekatan ekspresif, pembaca berperan memahami dan menafsirkan ekspresi batin pengarang yang tertuang dalam teks. Sementara itu, pendekatan objektif memandang pembaca sebagai analis yang bertugas mengkaji struktur teks secara objektif tanpa melibatkan respons emosional atau konteks eksternal.

4. Dalam pendekatan mimetik, bahasa dipandang sebagai alat untuk merepresentasikan realitas. Dalam pendekatan pragmatik, bahasa berfungsi sebagai sarana untuk memengaruhi dan membangun respons pembaca. Pendekatan ekspresif melihat bahasa sebagai medium ekspresi diri pengarang. Sedangkan dalam pendekatan objektif, bahasa dianggap sebagai sistem otonom yang membangun makna melalui hubungan internal antarunsurnya dalam teks.