Posts made by Khaura Putri Balqis

  1. Do you usually study in the library after class?
  2. Is your English teacher in the classroom now?
  3. Do your classmates enjoy working on group assignments?
  4. Does your teacher give you feedback on your assignments?
  5. Are you and your classmates ready for the presentation?
  6. Does your friend usually sit next to you in class?
  7. Are you interested in learning English?
  8. Do your classmates often discuss the lesson after class?
  9. Is your teacher available after class?
  10. Do your group members understand the assignment?
  11. Where do you usually study with your classmates? 
  12. Who is your favorite lecturer at college 
  13. What do you usually do when you do not understand the lesson?
  14. When does your teacher give you an assignment?
  15. How many students are there in your class?
  16. Where do you usually discuss with your classmates after class?
  17. Who helps you when you have difficulty with your homework?
  18. Which do you prefer, individual work or group work?
  19. Why do you think students should participate actively in class?
  20. What kind of activities does your English teacher usually give in class?
1. Menurut klasifikasi M. H. Abrams, kualitas kesastraan berbeda-beda tergantung orientasi pendekatannya. Pendekatan mimetik mendefinisikan nilai sastra berdasarkan kemampuan teks merepresentasikan realitas secara meyakinkan. Pendekatan pragmatik melihat kualitas sastra dari efek yang ditimbulkan pada pembaca, seperti memberikan hiburan, pendidikan, atau pengaruh moral. Pendekatan ekspresif menempatkan kualitas sastra pada kedalaman ekspresi batin dan imajinasi pengarang yang tercermin dalam teks. Sementara itu, pendekatan objektif memandang kualitas sastra terletak pada struktur internal teks itu sendiri, seperti hubungan antarunsur intrinsik yang membentuk kesatuan makna.

2. Dalam pendekatan mimetik, pengarang dipandang sebagai peniru realitas yang dituangkan ke dalam teks. Dalam pendekatan pragmatik, pengarang berperan sebagai komunikator yang menyusun teks dengan tujuan tertentu untuk memengaruhi pembaca. Pada pendekatan ekspresif, hubungan antara teks dan pengarang sangat erat karena teks dianggap sebagai cerminan perasaan, pengalaman, dan kepribadian penulis. Sebaliknya, pendekatan objektif memisahkan teks dari pengarang; karya sastra dipandang otonom dan tidak bergantung pada niat atau biografi penulis.

3. Pendekatan mimetik menempatkan pembaca sebagai pihak yang menilai kesesuaian karya dengan realitas. Pendekatan pragmatik memberikan peran sentral kepada pembaca karena makna dan nilai karya ditentukan oleh dampaknya terhadap audiens. Dalam pendekatan ekspresif, pembaca berperan memahami dan menafsirkan ekspresi batin pengarang yang tertuang dalam teks. Sementara itu, pendekatan objektif memandang pembaca sebagai analis yang bertugas mengkaji struktur teks secara objektif tanpa melibatkan respons emosional atau konteks eksternal.

4. Dalam pendekatan mimetik, bahasa dipandang sebagai alat untuk merepresentasikan realitas. Dalam pendekatan pragmatik, bahasa berfungsi sebagai sarana untuk memengaruhi dan membangun respons pembaca. Pendekatan ekspresif melihat bahasa sebagai medium ekspresi diri pengarang. Sedangkan dalam pendekatan objektif, bahasa dianggap sebagai sistem otonom yang membangun makna melalui hubungan internal antarunsurnya dalam teks.

A. Menurut saya berita tersebut menyoroti hubungan erat antara kemerdekaan Indonesia dan pancasila sebagai dasar Negara. Dari berita itu terlihat bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak hanya berhenti saat proklamasi kemerdekaan, tetapi juga dilanjutkan dengan perjuangan untuk menjaga dan mengaktualisasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

B. Proses penanaman nilai pancasila pada generasi muda saat ini cenderung belum tegas seperti yang dijelaskan di dalam artikel tersebut. Padahal fungsi pancasila begitu penting  bagi bangsa Indonesia  seperti falsafah, dasar Negara, pandangan hidup bangsa, dan sumber dari segala sumber hukum. Apalagi pada masa sekarang ini tidak ada lagi mata pelajaran wajib pancasila di sekolah-sekolah, hal ini tentunya membuat pancasila akan menjadi sesuatu yang asing bagi generasi muda. Hal ini dapat mengakibatkan ideologi transnasional lainnya dapat bekerja secara sistematis di Indonesia, misalnya ideologi ekstrimis keagamaan.

Karena itu perlu diperbaiki supaya pancasila dapan bertahan menjadi ideologi di Indonesia, caranya seperti dengan memanfaatkan teknologi informasi yang canggih untuk menyajikan materi pancasila dengan menarik, memahami konstruksi berpikir masyarakat supaya menyesuaikan konteks di lapangan, lalu metode dalam penyampaiannya.

C. Peran pancasila dalam pencegahan tindakan intoleransi dan tidak menghargai keberagaman mengatasnamakan agama tentunya sebagai pedoman dalam bersikap di masyarakat sehingga menjadi benteng moral di tengah masyarakat majemuk. Pada sila pertama yaitu ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ yang menegaskan bahwa bangsa Indonesia bebas untuk memeluk agama sesuai kepercayaan masing masing dan menghormati perbedaan agama, lalu pada sila kedua yaitu ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’ menekankan bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk dihormati dan diperlakukan secara adil tanpa memandang SARA, yang selanjutnya ada sila ketiga yaitu ‘Persatuan Indonesia’ yang mengajarkan bahwa masyarakat perlu mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa sehingga perbedaan bukanlah alasan untuk terjadinya perpecahan melainkan sebagai kekuatan.

D.  Menurut saya, harmonisasi pancasila dan agama sebenarnya sudah selaras dan saling menguatkan satu sama lain. Pancasila tidak bertentangan dengan agama apapun dan membuka ruang bagi semua agama untuk berkembang dan diamalkan secara damai karena nilai-nilai pancasila berasal dari moral dan ajaran ketuhanan yang ada di setiap agama. Sehingga, pancasila menjadi paying pemersatu semua agama yang ada.

Kasus terorisme yang muncul dapat menjadi ancaman bagi eksistensi ideologi pancasila di Indonesia. Terorisme yang mengatasnamakan agama itu justru menyimpang dari ajaran agama itu sendiri dan bertentangan dengan pancasila. Terorisme muncul karena adanya paham radikal yang menolak nilai-nilai pancasila, karena itu perlu pemahaman dan penanaman nilai-nilai pancasila yang kuat, menanamkan pendidikan agama yang moderat, juga mengajarkan tentang toleransi.

E. Gaya konsumerisme yang melanda kehidupan masyarakat memang bertentangan dengan nilai-nilai ideologi pancasila. Konsumerisme membuat seseorang cenderung memiliki gaya hidup yang boros, mementingkan gengsi, dan terpengaruh pada budaya materialistic yang menilai kebahagiaan dari harta dan barang bukan kesederhanaan dan kemanusiaan.

Cara untuk menanggulangi gaya hidup konsumerisme ini yaitu dengan menanamkan kesadaran akan kebahagiaan yang bukan berpatokan dari materi melainkan rasa syukur, menanamkan nilai kesederhanaan, gotong royong, dan tanggung jawab dan juga bijak dalam bersosial media karena dari konten-konten yang bermunculan itulah yang menjadikan masyarakat memiliki rasa keinginan yang tidak ada habisnya.