Nama : Hafizd Adi Rosyid
NPM : 2511011061
1. Pengembangan seorang pemimpin sebenarnya lebih berfokus pada bagaimana individu bisa terus menjadi lebih baik, dan ini paling banyak dibentuk dari pengalaman langsung di lapangan. Pengalaman ini bernilai tinggi karena memberikan tantangan dan pelajaran yang berbeda beda, terutama lewat tugas sehari-hari atau proyek khusus. Namun, sekadar mengalami saja tidak cukup, kita harus aktif menerapkan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses belajar seumur hidup.
2. - Action, Praktik langsung saat menghadapi suatu situasi, dengan fokus pada "Apa yang kita lakukan?".
- Observation, Melihat hasil dan dampaknya terhadap orang lain, atau menelaah "Apa yang terjadi?".
- Reflection, Mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dengan menanyakan ulang bagaimana pandangan dan perasaan kita mengenai pengalaman itu sekarang.
3. Persepsi sangat memengaruhi seluruh siklus AOR tadi dan menentukan pelajaran apa yang sebenarnya kita ambil. Saat melakukan observasi, kita sering kali menyeleksi informasi berdasarkan perasaan atau harapan kita saja, sehingga rentan memunculkan bias dan distorsi saat mengambil keputusan. Saat masuk ke tahap refleksi, bias ini juga bisa membuat kita salah menilai (seperti terjebak kesalahan atribusi fundamental atau sikap mementingkan diri sendiri). Ujung-ujungnya, persepsi yang bias ini akan langsung memengaruhi tindakan kita, misalnya jadi lebih mudah menghukum bawahan, dll.
4. Agar kemampuan memimpin semakin matang, refleksi ini harus benar-benar dipraktikkan. Caranya antara lain:
- Membiasakan siklus AOR tadi secara aktif di setiap situasi kepemimpinan.
- Melakukan After Event Review (AER), yaitu evaluasi atau tinjauan kembali secara spesifik setelah sebuah kejadian atau event selesai.
- Berani menerapkan Double Loop Learning. Artinya, kita tidak hanya mengubah tindakan sekadar agar target tercapai, tapi berani mempertanyakan asumsi, nilai, dan cara pikir yang selama ini mendasari tindakan tersebut agar bisa menemukan solusi yang lebih efektif.
- Menyadari keyakinan. Refleksi membantu kita sadar gaya kepemimpinan seperti apa yang menempel di alam bawah sadar kita (misalnya arketipe Guru, Ayah, Pejuang, atau Revolusioner) dan bagaimana hal itu secara tidak sadar memengaruhi gaya kita memimpin orang lain.
5. Untuk bisa membangun growth mindset itu sendiri, kita harus mengubah cara pandang bahwa kemampuan dan kecerdasan itu tidak tetap, melainkan bisa terus dikembangkan lewat usaha dan belajar. Kegagalan jangan lagi dilihat sebagai kelemahan, melainkan kesempatan mutlak untuk evaluasi. Terkait umpan balik, seorang pemimpin harus melatih dirinya untuk terbuka terhadap berbagai perspektif, menerima masukan dengan lapang dada, dan punya keberanian sungguhan untuk memperbaiki diri. Hal hal inilah yang pada akhirnya membentuk seseorang menjadi pemimpin yang adaptif dan memberikan dampak nyata bagi timnya.
NPM : 2511011061
1. Pengembangan seorang pemimpin sebenarnya lebih berfokus pada bagaimana individu bisa terus menjadi lebih baik, dan ini paling banyak dibentuk dari pengalaman langsung di lapangan. Pengalaman ini bernilai tinggi karena memberikan tantangan dan pelajaran yang berbeda beda, terutama lewat tugas sehari-hari atau proyek khusus. Namun, sekadar mengalami saja tidak cukup, kita harus aktif menerapkan pengalaman tersebut sebagai bagian dari proses belajar seumur hidup.
2. - Action, Praktik langsung saat menghadapi suatu situasi, dengan fokus pada "Apa yang kita lakukan?".
- Observation, Melihat hasil dan dampaknya terhadap orang lain, atau menelaah "Apa yang terjadi?".
- Reflection, Mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dengan menanyakan ulang bagaimana pandangan dan perasaan kita mengenai pengalaman itu sekarang.
3. Persepsi sangat memengaruhi seluruh siklus AOR tadi dan menentukan pelajaran apa yang sebenarnya kita ambil. Saat melakukan observasi, kita sering kali menyeleksi informasi berdasarkan perasaan atau harapan kita saja, sehingga rentan memunculkan bias dan distorsi saat mengambil keputusan. Saat masuk ke tahap refleksi, bias ini juga bisa membuat kita salah menilai (seperti terjebak kesalahan atribusi fundamental atau sikap mementingkan diri sendiri). Ujung-ujungnya, persepsi yang bias ini akan langsung memengaruhi tindakan kita, misalnya jadi lebih mudah menghukum bawahan, dll.
4. Agar kemampuan memimpin semakin matang, refleksi ini harus benar-benar dipraktikkan. Caranya antara lain:
- Membiasakan siklus AOR tadi secara aktif di setiap situasi kepemimpinan.
- Melakukan After Event Review (AER), yaitu evaluasi atau tinjauan kembali secara spesifik setelah sebuah kejadian atau event selesai.
- Berani menerapkan Double Loop Learning. Artinya, kita tidak hanya mengubah tindakan sekadar agar target tercapai, tapi berani mempertanyakan asumsi, nilai, dan cara pikir yang selama ini mendasari tindakan tersebut agar bisa menemukan solusi yang lebih efektif.
- Menyadari keyakinan. Refleksi membantu kita sadar gaya kepemimpinan seperti apa yang menempel di alam bawah sadar kita (misalnya arketipe Guru, Ayah, Pejuang, atau Revolusioner) dan bagaimana hal itu secara tidak sadar memengaruhi gaya kita memimpin orang lain.
5. Untuk bisa membangun growth mindset itu sendiri, kita harus mengubah cara pandang bahwa kemampuan dan kecerdasan itu tidak tetap, melainkan bisa terus dikembangkan lewat usaha dan belajar. Kegagalan jangan lagi dilihat sebagai kelemahan, melainkan kesempatan mutlak untuk evaluasi. Terkait umpan balik, seorang pemimpin harus melatih dirinya untuk terbuka terhadap berbagai perspektif, menerima masukan dengan lapang dada, dan punya keberanian sungguhan untuk memperbaiki diri. Hal hal inilah yang pada akhirnya membentuk seseorang menjadi pemimpin yang adaptif dan memberikan dampak nyata bagi timnya.