Posts made by FEDIA ARIANTI

LEADERSHIP R25B 2026 -> RESPONSI 7 -> RESPONSI 7 -> Re: RESPONSI 7

by FEDIA ARIANTI -
Nama: Fedia Arianti
NPM: 2511011092

1. Kredibilitas kepemimpinan dibangun melalui dua hal, yaitu keahlian dan kepercayaan. Keahlian berarti pemimpin menguasai topik, memiliki kompetensi, serta memahami organisasi dan bidang yang dipimpinnya. Sementara itu, kepercayaan dibangun dengan memiliki prinsip yang kuat, menjaga informasi rahasia, berani menyampaikan keyakinan, serta menepati janji dan komitmen.

2. Caranya dengan fokus memahami pembicara, tidak memotong pembicaraan, merangkum kembali pesan dengan kata-kata sendiri, dan memperhatikan perilaku nonverbal. Perilaku nonverbal dapat dilihat dari volume dan nada suara, kecepatan berbicara, ekspresi wajah, postur, serta gerakan tubuh.

3. Pemimpin perlu memahami sudut pandang orang lain dan tidak langsung menyalahkan atau membela diri ketika menerima kritik. Keluhan harus dipahami terlebih dahulu sebelum memberikan penjelasan. Pemimpin juga sebaiknya menghindari respons seperti “Ya, tapi” karena dapat membuat dirinya terlihat defensif dan membuat anggota tim enggan menyampaikan kritik atau informasi yang tidak menyenangkan.

4. Prinsip Pareto berarti sekitar 80% hasil dapat berasal dari 20% aktivitas atau penyebab utama. Penerapannya dilakukan dengan mengidentifikasi pekerjaan yang memberikan dampak paling besar, mengurangi atau mendelegasikan pekerjaan yang berdampak rendah, kemudian memusatkan waktu dan energi pada pekerjaan yang paling penting.

5. Analisis dilakukan dengan terlebih dahulu mendefinisikan masalah secara tepat agar tidak salah menganggap gejala sebagai penyebab. Fishbone digunakan untuk melihat hubungan sebab-akibat dan menemukan penyebab masalah. Force Field digunakan untuk melihat faktor yang mendorong dan menghambat perubahan. Sedangkan NGT dilakukan dengan meminta anggota menuliskan ide secara mandiri sebelum dibahas bersama sehingga dapat menghasilkan solusi yang lebih terstruktur dan kreatif.

6. Kreativitas dapat ditingkatkan dengan melibatkan anggota dalam pemecahan masalah, menyediakan waktu dan sumber daya yang cukup, serta mengurangi tekanan waktu yang berlebihan. Selain itu, masalah dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda atau menggunakan analogi. Kreativitas juga dapat dikembangkan melalui perbaikan kecil yang dilakukan secara terus-menerus, bukan hanya menunggu ide besar.

7. Motivasi adalah dorongan yang memberikan arah, intensitas, dan ketekunan pada perilaku seseorang. Pemimpin berperan dalam meningkatkan motivasi dengan membangun hubungan dan memberikan perhatian, memberikan penghargaan atas pencapaian, menetapkan tujuan yang jelas, serta memberikan umpan balik yang konstruktif. Namun, motivasi yang tinggi tetap membutuhkan kemampuan, keterampilan, dan sumber daya yang memadai agar menghasilkan kinerja yang baik.

8. Ada lima pendekatan motivasi, yaitu pendekatan motif atau kebutuhan, orientasi pencapaian, penetapan tujuan, pendekatan operan, dan pemberdayaan. Pendekatan kebutuhan melihat kebutuhan individu sebagai pendorong kerja, orientasi pencapaian berfokus pada prestasi, penetapan tujuan memberikan target yang jelas, pendekatan operan menggunakan reward dan punishment, sedangkan pemberdayaan memberikan kepercayaan dan kebebasan dalam mengambil keputusan.

9. Pemimpin dapat menerapkannya dengan memastikan seluruh anggota memahami tujuan dan sasaran tim, memperjelas peran serta tanggung jawab masing-masing, menetapkan harapan kinerja yang tinggi, dan memberikan keleluasaan dalam mengambil keputusan. Selain itu, penghargaan dapat dikaitkan dengan pencapaian tujuan tim agar anggota terdorong meningkatkan kinerjanya.

10. Grit adalah kombinasi antara ketekunan dan semangat untuk terus berusaha mencapai tujuan jangka panjang meskipun menghadapi kesulitan dan hambatan. Grit penting karena membantu seseorang tetap berusaha dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah dalam mencapai tujuan.

LEADERSHIP R25B 2026 -> RESPONSI 6 -> RESPONSI 6 -> Re: RESPONSI 6

by FEDIA ARIANTI -
Nama: Fedia Arianti
NPM: 2511011092

1. Atribut kepemimpinan adalah karakteristik, sifat, nilai, dan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menjalankan peran sebagai pemimpin. Atribut tersebut meliputi percaya diri, kejujuran, tanggung jawab, integritas, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Atribut ini memengaruhi cara pemimpin bertindak, berinteraksi dengan anggota, dan mencapai tujuan organisasi.

2. Pemimpin yang efektif dapat dilihat dari sikap dan tindakannya. Percaya diri terlihat dari kemampuan mengambil keputusan dan menghadapi tantangan. Jujur berarti menyampaikan informasi sesuai fakta dan tidak menyalahgunakan kepercayaan. Bertanggung jawab berarti bersedia menjalankan tugas dan menerima konsekuensi dari keputusan yang dibuat. Integritas terlihat dari kesesuaian antara perkataan, nilai, dan tindakan.

3. Seorang pemimpin membutuhkan keterampilan komunikasi, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. Komunikasi diperlukan agar tujuan dan tugas dapat dipahami dengan jelas oleh anggota. Pengambilan keputusan diperlukan untuk menentukan tindakan yang tepat berdasarkan informasi dan kondisi yang ada. Sementara itu, pemecahan masalah diperlukan untuk menemukan solusi ketika organisasi menghadapi hambatan atau konflik.

4. Atribut kepemimpinan dapat memengaruhi kinerja melalui cara pemimpin memberikan arahan, membangun kepercayaan, dan menciptakan lingkungan kerja yang baik. Pemimpin yang bertanggung jawab dan berintegritas dapat meningkatkan kepercayaan anggota sehingga individu lebih terdorong menjalankan tugasnya. Dalam tim, hal tersebut dapat memperkuat kerja sama, sedangkan dalam organisasi dapat membantu pencapaian tujuan secara lebih efektif.

5. Pemimpin yang efektif mampu menyesuaikan atributnya dengan situasi yang dihadapi. Misalnya, dalam kondisi mendesak pemimpin perlu percaya diri dan tegas dalam mengambil keputusan, tetapi tetap mempertimbangkan informasi yang tersedia. Sebaliknya, pemimpin yang tidak efektif cenderung sulit mengambil keputusan, tidak bertanggung jawab, atau mengabaikan pendapat anggota. Jadi, efektivitas atribut kepemimpinan dapat dilihat dari kemampuan pemimpin menggunakan sifat dan kemampuannya sesuai kebutuhan situasi.

6. Atribut kepemimpinan positif dapat diterapkan dengan bertanggung jawab terhadap tugas, jujur dalam mengerjakan pekerjaan, percaya diri saat menyampaikan pendapat, dan menghargai anggota kelompok. Dalam kegiatan akademik maupun organisasi, sikap tersebut dapat diterapkan ketika membagi tugas, menyelesaikan masalah kelompok, mengambil keputusan bersama, dan menjaga kepercayaan antaranggota.

7. Perilaku kepemimpinan adalah tindakan atau cara seorang pemimpin dalam memengaruhi, mengarahkan, dan berinteraksi dengan anggota untuk mencapai tujuan organisasi. Konsep ini lebih menekankan pada apa yang dilakukan pemimpin, bukan hanya sifat atau karakter yang dimilikinya. Perilaku tersebut dapat berupa memberikan arahan, mengawasi pekerjaan, memberikan dukungan, dan melibatkan anggota dalam pengambilan keputusan.

8. Secara umum, perilaku kepemimpinan dapat dibedakan menjadi perilaku yang berorientasi pada tugas dan berorientasi pada hubungan. Pemimpin yang berorientasi pada tugas lebih menekankan pembagian pekerjaan, pencapaian target, prosedur, dan penyelesaian tugas. Sementara itu, pemimpin yang berorientasi pada hubungan lebih memperhatikan komunikasi, kebutuhan, kepuasan, dan hubungan antaranggota. Keduanya dapat digunakan sesuai dengan kondisi organisasi.

9. Perilaku pemimpin dapat memengaruhi semangat dan kinerja anggota. Pemimpin yang memberikan arahan yang jelas, menghargai kontribusi anggota, memberikan dukungan, dan memberikan umpan balik dapat meningkatkan motivasi. Sebaliknya, perilaku yang tidak adil, komunikasi yang buruk, atau kurangnya penghargaan dapat menurunkan motivasi dan berdampak pada kinerja anggota.

10. Perilaku kepemimpinan yang efektif perlu disesuaikan dengan situasi, kondisi anggota, dan tujuan organisasi. Dalam kondisi yang membutuhkan penyelesaian cepat, pemimpin dapat memberikan arahan yang lebih tegas. Dalam kondisi yang membutuhkan ide dan kerja sama, pemimpin dapat melibatkan anggota dalam diskusi dan pengambilan keputusan. Dengan demikian, tidak ada satu perilaku yang selalu tepat untuk semua situasi.

11. Perilaku kepemimpinan yang efektif ditandai dengan komunikasi yang jelas, pemberian arahan yang sesuai, kemampuan mendengarkan anggota, keadilan, serta fokus pada pencapaian tujuan. Sebaliknya, perilaku yang tidak efektif dapat terlihat dari komunikasi yang buruk, tidak mau menerima masukan, tidak konsisten dalam mengambil keputusan, dan kurang memperhatikan anggota. Perbedaannya dapat dilihat dari dampak perilaku tersebut terhadap anggota dan pencapaian tujuan organisasi.

12. Perilaku kepemimpinan positif dapat diterapkan dengan membangun komunikasi yang terbuka, membagi tugas secara adil, mendengarkan pendapat anggota, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik secara baik. Selain itu, pemimpin perlu memberikan contoh melalui sikap disiplin dan bertanggung jawab. Dengan begitu, kerja sama tim menjadi lebih terarah dan tujuan organisasi lebih mudah dicapai.

LEADERSHIP R25B 2026 -> Responsi 5 -> Responsi 5 -> Re: Responsi 5

by FEDIA ARIANTI -
Nama: Fedia Arianti
NPM: 2511011092

1. Nilai adalah konstruk yang mewakili perilaku umum atau keadaan yang dianggap penting oleh individu. Nilai dipelajari melalui proses sosialisasi dan menjadi bagian dari diri seseorang. Etika berkaitan dengan prinsip-prinsip perilaku yang benar atau sistem nilai moral, sedangkan karakter berkaitan dengan kualitas moral seseorang yang tercermin dalam tindakannya. Dalam kepemimpinan, nilai, etika, dan karakter menjadi dasar bagi pemimpin dalam menentukan bagaimana menggunakan kekuasaan dan menghadapi persoalan moral.

2. Nilai pribadi berpengaruh terhadap perilaku dan pengambilan keputusan karena nilai dapat memengaruhi cara seseorang bertindak dalam berbagai situasi. Dalam lingkungan kerja, nilai dapat memengaruhi keputusan untuk bergabung dengan organisasi, komitmen, hubungan dengan rekan kerja, serta keputusan untuk meninggalkan organisasi. Perbedaan nilai juga dapat membuat pemimpin mengambil keputusan yang berbeda dalam situasi yang sama. Misalnya, seseorang yang lebih mengutamakan rasa tanggung jawab akan lebih cenderung menyampaikan pendapat yang menantang tetapi konstruktif dibandingkan orang yang lebih mengutamakan kemajuan pribadi.

3. Penalaran moral adalah cara seseorang membuat penilaian moral atau etis dan memecahkan masalah moral. Nilai memiliki peran penting karena perbedaan nilai dapat menghasilkan penilaian yang berbeda mengenai perilaku etis dan tidak etis. Menurut Kohlberg, perkembangan penalaran moral terdiri dari tingkat prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional. Dalam kepemimpinan, dilema etika sering terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua hal yang sama-sama memiliki nilai, seperti kebenaran versus kesetiaan, individu versus komunitas, jangka pendek versus jangka panjang, serta keadilan versus belas kasihan. Untuk menghadapi dilema tersebut, dapat digunakan pemikiran berbasis hasil, berbasis aturan, dan berbasis kepedulian.

4. Kepemimpinan etis memiliki dua komponen utama, yaitu orang bermoral dan manajer moral. Orang bermoral ditunjukkan melalui keputusan yang berprinsip, peduli terhadap orang lain, jujur, adil, dan terbuka. Manajer moral menjadikan etika sebagai bagian dari kepemimpinan dengan mengkomunikasikan nilai-nilai etika dan secara sengaja memberikan contoh perilaku etis. Kepemimpinan autentik menekankan konsistensi antara nilai, keyakinan, dan tindakan pemimpin. Sementara itu, kepemimpinan pelayan menekankan perhatian terhadap kebutuhan dan kepentingan orang lain dalam menjalankan kepemimpinannya.

5. Keteladanan pemimpin penting karena pemimpin menjadi contoh moral bagi anggota dan dapat menjadi model bagi kelompok atau organisasi. Panutan etis umumnya menunjukkan kepedulian terhadap orang lain, memperlakukan orang secara adil dan hormat, memegang standar etika yang tinggi, menerima tanggung jawab atas kesalahan, serta mengkomunikasikan standar etika secara jelas. Ketika perilaku etis dikomunikasikan dan ditegakkan melalui perkataan maupun teladan pemimpin, hal tersebut membantu membangun iklim etis dalam organisasi. Sebaliknya, iklim yang tidak etis dapat muncul ketika perilaku yang tidak etis dibiarkan atau ditoleransi.

6. Integritas dapat diterapkan dengan memegang teguh standar etika dan menjaga konsistensi antara nilai, perkataan, dan tindakan. Tanggung jawab diterapkan dengan menerima tanggung jawab atas keputusan dan kesalahan yang dilakukan. Keadilan diterapkan dengan memperlakukan orang lain secara hormat, terbuka terhadap masukan, serta memberikan penjelasan atas keputusan. Kepedulian diterapkan dengan memperhatikan dan membantu orang lain serta menjaga hubungan yang baik. Keempat nilai tersebut perlu diwujudkan secara konsisten dalam tindakan pemimpin, bukan hanya disampaikan sebagai prinsip.

LEADERSHIP R25B 2026 -> Responsi sesi 4 -> Responsi sesi 4 -> Re: Responsi sesi 4

by FEDIA ARIANTI -
Nama: Fedia Arianti
NPM: 2511011092

1. Kekuasaan (power), pengaruh (influence), dan wewenang (authority) merupakan hal yang berbeda. Kekuasaan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain agar melakukan sesuatu sesuai dengan yang diinginkan. Pengaruh adalah proses yang dilakukan untuk memengaruhi sikap atau perilaku orang lain. Sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang dimiliki seseorang karena adanya jabatan atau posisi resmi dalam suatu organisasi. Jadi, kekuasaan lebih berkaitan dengan kemampuan, pengaruh berkaitan dengan cara memengaruhi, sedangkan wewenang berasal dari jabatan yang dimiliki.

2. Menurut French dan Raven, terdapat lima basis kekuasaan, yaitu reward power, coercive power, legitimate power, expert power, dan referent power. Reward power berasal dari kemampuan memberikan penghargaan atau imbalan, sedangkan coercive power berasal dari kemampuan memberikan hukuman atau sanksi. Legitimate power berasal dari jabatan atau posisi resmi seseorang. Expert power muncul karena seseorang memiliki pengetahuan atau keahlian tertentu, sedangkan referent power berasal dari rasa hormat, kekaguman, atau ketertarikan orang lain terhadap dirinya. Kelima basis kekuasaan tersebut dapat dilihat dari sumber kekuasaan yang dimiliki seseorang dan bagaimana kekuasaan itu digunakan dalam organisasi.

3. Kekuasaan dapat diperoleh dari berbagai hal, seperti jabatan, keahlian, pengalaman, informasi, maupun hubungan dengan orang lain. Untuk mempertahankan kekuasaan, seseorang perlu menjaga kepercayaan, menunjukkan kemampuan, memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, dan tetap memberikan kontribusi dalam organisasi. Jadi, kekuasaan tidak hanya diperoleh, tetapi juga perlu dipertahankan dengan cara yang tepat agar tetap mendapatkan dukungan dari orang lain.

4. Taktik pengaruh adalah cara yang digunakan seseorang untuk memengaruhi orang lain. Beberapa contohnya adalah memberikan alasan atau bukti yang logis, memberikan motivasi, melibatkan orang lain dalam pengambilan keputusan, memberikan pujian, menawarkan pertukaran, mencari dukungan dari pihak lain, menggunakan tekanan, serta menggunakan aturan atau kewenangan yang berlaku. Penggunaan taktik tersebut biasanya disesuaikan dengan kondisi dan orang yang ingin dipengaruhi.

5. Kekuasaan dapat memengaruhi bagaimana bawahan merespons perintah atau permintaan dari atasan. Bawahan dapat menunjukkan komitmen, kepatuhan, atau bahkan penolakan. Komitmen terjadi ketika bawahan menerima dan menjalankan sesuatu karena memang mau dan mendukungnya. Kepatuhan terjadi ketika bawahan menjalankan perintah karena adanya tuntutan dari atasan, meskipun belum tentu benar-benar setuju. Sementara itu, penolakan dapat terjadi jika bawahan merasa tidak setuju atau tidak nyaman dengan cara kekuasaan tersebut digunakan. Karena itu, penggunaan kekuasaan yang tepat dapat membantu membangun komitmen, sedangkan penggunaan tekanan secara berlebihan dapat menimbulkan penolakan.

6. Kekuasaan dan taktik pengaruh dapat diterapkan secara etis dengan menggunakannya secara jujur, adil, dan tidak merugikan orang lain. Seorang pemimpin sebaiknya memberikan alasan yang jelas, menghargai pendapat bawahan, memberikan penghargaan secara adil, dan menggunakan wewenangnya sesuai dengan aturan. Selain itu, pemimpin juga perlu menghindari ancaman, manipulasi, atau penyalahgunaan jabatan. Dengan penggunaan yang etis, kekuasaan dan pengaruh dapat membantu menciptakan kerja sama, kepercayaan, dan pencapaian tujuan organisasi.

LEADERSHIP R25B 2026 -> responsi sesi 3 -> Responsi sesi 3 -> Re: Responsi sesi 3

by FEDIA ARIANTI -
Nama: Fedia Arianti
NPM: 2511011092

1. Sebelum memulai posisi baru, seorang pemimpin perlu mempelajari organisasi secara mendalam, mencakup sejarah, budaya kerja, kondisi tim, hingga permasalahan yang sedang dihadapi. Informasi tersebut dapat diperoleh melalui wawancara dengan pihak internal organisasi maupun permintaan data kepada atasan baru. Selain itu, rencana kegiatan untuk dua minggu pertama juga perlu disusun sejak awal.

2. Pada hari pertama, pemimpin sebaiknya bertemu dengan atasan sekaligus seluruh anggota tim. Bersama atasan, hal yang dibahas meliputi tujuan utama, metrik keberhasilan, proyek-proyek penting, kekuatan dan kelemahan tim, serta gaya komunikasi yang diharapkan. Sementara kepada tim, pemimpin perlu menyampaikan latar belakang dirinya, nilai-nilai yang dianut, ekspektasi, kebiasaan kerja, cara berinteraksi, serta rencana untuk beberapa minggu ke depan.

3. Dua minggu pertama digunakan untuk mempelajari banyak hal, menjalin hubungan, serta mengidentifikasi calon sekutu di masa mendatang. Pemimpin perlu menemui anggota tim, rekan sejawat, individu berprestasi tinggi, maupun mantan anggota tim, guna memahami pekerjaan, tujuan, kendala, dan potensi masing-masing anggota.

4. Dalam dua bulan pertama, pemimpin mengumpulkan informasi tambahan dari berbagai sumber (organisasi lain, pelanggan, pemasok, atasan, rekan sejawat, maupun anggota tim) untuk merumuskan arah atau visi. Visi tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan struktur, dan struktur pada gilirannya menjadi acuan dalam pengambilan keputusan penempatan staf.

5. Pada bulan ketiga, pemimpin mengomunikasikan visi, perubahan, struktur baru, penempatan staf, dan ekspektasi kepada seluruh tim. Jika tim berukuran besar, diperlukan pula pertemuan khusus dengan bawahan langsung untuk menyepakati nilai bersama, merumuskan target yang konkret, menetapkan ritme operasional, serta membentuk tim tugas guna menangani perubahan-perubahan utama.

6. Proses ini dapat ditempuh dengan menciptakan peluang mendapatkan umpan balik, mengambil tantangan di luar zona nyaman, belajar dari orang lain, menulis jurnal reflektif, serta menyusun rencana pengembangan diri.

7. Pemimpin harus secara aktif meminta masukan, terutama dari bawahannya. Sekadar mengklaim menerapkan kebijakan pintu terbuka tidak cukup, diperlukan sikap yang benar-benar mudah didekati dan ketulusan dalam menerima kritik. Umpan balik juga dapat diperoleh melalui survei, kuesioner, atau evaluasi berkala.

8. Tantangan tambahan dilakukan dengan menerapkan “10 persen stretch" yang diterapkan dengan secara sukarela memperluas perilaku sedikit di luar zona nyaman, misalnya lebih aktif berbicara, bersedia memimpin suatu kegiatan, atau mencoba bersikap lebih tenang maupun lebih tegas dalam rapat. Hal ini membantu mengurangi kecemasan, memperluas keterampilan, dan meningkatkan efektivitas kepemimpinan.

9. Belajar dari orang lain dilakukan dengan mengamati, bertanya, berbagi pengalaman, dan belajar dari orang yang memiliki kemampuan atau pengalaman lebih baik.

10. Jurnal menjadi wadah refleksi atas pengalaman memimpin. Isinya dapat berupa catatan interaksi dengan atasan, bawahan, atau rekan kerja, komentar terhadap bacaan kepemimpinan, maupun pengamatan atas cara orang lain menyikapi suatu situasi. Jurnal membantu melihat suatu peristiwa dari sudut pandang berbeda, mengevaluasi perkembangan pemikiran, dan menyimpan gagasan untuk digunakan kembali.

11. Rencana disusun secara sistematis dengan menetapkan tujuan pengembangan, mengidentifikasi kemampuan dan kebutuhan yang perlu ditingkatkan, serta menentukan strategi pencapaiannya. Rencana ini berfungsi sebagai peta jalan agar peluang pengembangan dapat dimanfaatkan secara optimal.

12. Kompetensi teknis dapat dibangun melalui pendidikan dan pelatihan formal, pelatihan di tempat kerja, pengalaman, observasi terhadap orang lain, pengajuan pertanyaan, serta mengajarkan pekerjaan kepada pihak lain.

13. Langkah pertama adalah menentukan kontribusi pekerjaan terhadap keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Selanjutnya, identifikasi pengetahuan dan perilaku teknis yang paling relevan dengan keberhasilan tersebut, kemudian evaluasi kemampuan diri melalui umpan balik atasan dan rekan kerja, penilaian kinerja, atau data kinerja objektif.

14. Keahlian dapat dicapai melalui pendidikan dan pelatihan, observasi terhadap orang lain, pengajuan pertanyaan, serta mengajarkan pekerjaan kepada pihak lain. Selain memahami apa yang dilakukan orang lain, penting pula memahami alasan di baliknya agar pemahaman menjadi lebih mendalam.

15. Caranya antara lain dengan mengambil tugas yang berkaitan dengan posisi lain, mengunjungi bagian lain dalam organisasi, mengikuti proyek tim, serta mengikuti kegiatan pengembangan keterampilan. Dengan demikian, seseorang dapat memahami kontribusi bagian lain terhadap keberhasilan organisasi sekaligus memperoleh keterampilan baru.

16. Hubungan efektif dengan atasan dibangun melalui sikap aktif dalam mendukung atasan dan organisasi, bukan bersikap pasif. Kesuksesan diri sendiri dan atasan perlu dipandang saling berkaitan, sehingga penting untuk memberikan informasi relevan, membantu mengatasi kelemahan atasan, serta menjaga kejujuran dan keandalan.

17. Dunia atasan dipahami dengan mengetahui tujuan pribadi dan organisasi atasan, nilai-nilai, preferensi, kepribadian, kelebihan, kelemahan, serta kendala yang dihadapinya. Dengan memahami hal tersebut, bawahan dapat memberikan dukungan yang tepat dan membantu melengkapi kelemahan atasan.

18. Bawahan harus menyesuaikan/beradaptasi diri dengan gaya atasannya, bukan mengharapkan atasan yang menyesuaikan diri. Penyesuaiannya mencakup cara berkomunikasi, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, dan interaksi. Bawahan juga perlu memahami ekspektasi perannya serta bersikap jujur dan dapat diandalkan.

19. Hubungan ini dibangun melalui komunikasi yang baik, pencarian kesamaan kepentingan, pemahaman terhadap pekerjaan rekan, bantuan saat menghadapi kesulitan, serta pemeliharaan hubungan secara berkelanjutan. Kegiatan di luar konteks kerja, seperti acara sosial atau makan bersama, turut memperkuat hubungan tersebut.

20. Caranya dengan memahami tujuan, nilai, kebutuhan, dan minat rekan sejawat. Komunikasi informal dapat membantu menemukan kesamaan tersebut, sementara keterbukaan mengenai tujuan pribadi serta kesediaan mendengarkan aspirasi orang lain juga diperlukan.

21. Memahami tugas, masalah, dan imbalan rekan kerja berarti memahami jenis pekerjaan yang mereka lakukan, masalah yang mereka hadapi, serta imbalan yang mereka terima. Hal ini membantu membangun rasa hormat dan hubungan kerja sama. Selain itu, pemimpin perlu membantu rekan kerja ketika menghadapi masalah dan memahami faktor yang mendorong perilaku positif maupun negatif mereka. Dorongan yang dapat dilakukan seperti ucapan terima kasih, dan apresiasi yang tulus turut memengaruhi perilaku rekan kerja secara positif.

22. Proses ini terdiri atas lima tahap: mengidentifikasi kebutuhan pengembangan, menganalisis dan memprioritaskan kebutuhan, menyusun rencana, meninjau serta memodifikasi rencana, dan menerapkan pembelajaran di lingkungan baru. Salah satu alat yang digunakan adalah analisis GAPS, yang mencakup tujuan (goals), kemampuan (abilities), persepsi (perceptions), dan standar (standards).

23. Rencana pengembangan perlu direfleksikan secara berkala untuk menilai kemajuan, memastikan tujuan masih sesuai, serta memodifikasi atau memperbarui rencana berdasarkan pembelajaran, umpan balik, keterampilan, dan kebutuhan yang berkembang.

24. Hasil belajar diterapkan di lingkungan baru dengan terus memperbarui rencana pengembangan, mempraktikkan keterampilan yang telah diperoleh, serta membimbing orang lain dalam menggunakan keterampilan tersebut.