Posts made by Indri Mutiara

DMP2025 -> Summary Video

by Indri Mutiara -
Izin memperkenalkan diri
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Model ADDIE merupakan salah satu model desain pembelajaran yang paling banyak digunakan karena memberikan kerangka kerja sistematis dalam merancang, mengembangkan, dan mengevaluasi proses pembelajaran. ADDIE sendiri merupakan akronim dari lima tahapan utama, yaitu Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation.
Tahap pertama, Analysis, berfokus pada analisis kebutuhan belajar, karakteristik peserta didik, serta tujuan yang ingin dicapai. Pada tahap ini, guru atau perancang pembelajaran perlu memahami latar belakang siswa, kesenjangan kompetensi, serta konteks pembelajaran agar rancangan yang dibuat benar-benar sesuai dengan kebutuhan.
Tahap kedua, Design, adalah proses merancang strategi pembelajaran yang meliputi pemilihan metode, media, sumber belajar, dan instrumen evaluasi. Desain harus disusun sedemikian rupa agar mendukung pencapaian tujuan belajar serta sesuai dengan karakteristik siswa.
Tahap ketiga, Development, merupakan proses pengembangan perangkat pembelajaran berdasarkan rancangan yang telah dibuat. Misalnya, menyusun modul, membuat media digital, atau menyiapkan bahan ajar. Pada tahap ini, produk pembelajaran mulai diwujudkan agar dapat diimplementasikan. Tahap pengembangan melibatkan pembuatan materi pembelajaran yang telah dirancang. Ini bisa berupa pembuatan modul, presentasi, video, atau konten pembelajaran lainnya yang siap untuk diimplementasikan.
Tahap keempat, Implementation, yaitu tahap pelaksanaan pembelajaran sesuai rancangan dan perangkat yang telah dikembangkan. Guru mengajar dengan menggunakan strategi dan media yang telah dipilih, sementara siswa berpartisipasi aktif dalam proses belajar.
Tahap terakhir, Evaluation, dilakukan untuk menilai efektivitas pembelajaran. Evaluasi mencakup dua jenis, yaitu formative evaluation yang dilakukan selama proses untuk perbaikan, serta summative evaluation setelah pembelajaran selesai untuk mengetahui tingkat keberhasilan tujuan belajar.
Model ADDIE bersifat fleksibel dan dapat digunakan dalam berbagai konteks pembelajaran, baik tatap muka maupun berbasis teknologi. Dengan penerapan yang tepat, model ini membantu memastikan bahwa setiap langkah pembelajaran terstruktur, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

PKDIPS2025 -> Diskusi

by Indri Mutiara -
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Pengembangan keterampilan sangatlah penting di era sekarang, mengingat bahwa pengetahuan harus ditunjang dengan keterampilan. Keterampilan akademik semata tidak lagi cukup untuk menghadapi dunia kerja dan kehidupan sosial yang semakin kompleks. Justru kemampuan berkolaborasi, berkomunikasi, berempati, serta mengelola konflik menjadi modal utama agar seseorang mampu bertahan dan berkembang. Di tengah derasnya arus teknologi, manusia dituntut tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cakap dalam menjalin relasi sosial, sebab kemajuan teknologi tidak bisa menggantikan nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, solidaritas, dan etika. Tanpa keterampilan sosial, generasi muda berisiko terjebak dalam individualisme digital, sulit bekerja sama, dan tidak siap menghadapi realitas kehidupan bermasyarakat yang sarat perbedaan.
Untuk itu, pembelajaran di sekolah seharusnya tidak hanya dikemas dalam bentuk transfer pengetahuan, tetapi juga diarahkan pada pembentukan kompetensi sosial. Model pembelajaran yang bersifat kolaboratif, partisipatif, dan berbasis proyek perlu dikedepankan agar siswa terbiasa bekerja sama, bernegosiasi, dan mengambil keputusan bersama. Guru dapat mengintegrasikan isu-isu nyata dalam masyarakat, seperti lingkungan, keberagaman budaya, dan tanggung jawab sosial, ke dalam kegiatan belajar sehingga siswa berlatih mengaitkan ilmu dengan kehidupan. Selain itu, teknologi digital yang menjadi ciri era 4.0 dapat dimanfaatkan sebagai media kolaborasi lintas kelas atau lintas sekolah, bukan hanya sekadar sarana individual. Dengan demikian, pembelajaran di persekolahan mampu mengantisipasi kehidupan yang dinamis sekaligus melahirkan generasi yang bukan hanya unggul secara akademis, tetapi juga tangguh secara sosial dan moral.

PKDIPS2025 -> Diskusi

by Indri Mutiara -
Izin memperkenalkan diri
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Social Studies pada awalnya dikenal di Amerika Serikat mulai awal tahun 1900-an dalam bentuk studi sejarah, pemerintahan, dan geografi. Pada awal-awal tahun tersebut terdapat keterbatasan sumberdaya kurikulum dan pasokan buku-buku teks materi ajar social studies hampir di setiap negara bagian. Sosial Studies di Amerika merupakan mata pelajaran yang bersifat dasar yang ada mulai kurikulum TK, Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah. Tujuannya berkaitan erat dengan hakikat kewarganegaraan ialah mempersiapkan warga negara untuk hidup dalam masyarakat demokratis dan dapat berhubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke20, social studies telah dijadikan sebagai istilah resmi dalam kurikulum pendidikan, khususnya di Amerika Serikat. Konsep tersebut kemudian dijadikan dasar pemikiran perlunya social studies seperti terdapat di dalam dokumen “Statement of the Chairman of Committe on Social Studies”- Thomas Jesse Jones yang dikeluarkan oleh Committe on Social Studies (CSS) tahun 1913.

Istilah IPS belum dikenal di awal kemerdekaan 1945 sampai tahun 1968. Pada tahun 1970 tepatnya 1972 istilah IPS mulai dibicarakan dalam forum ilmiah yaitu Seminar Nasional tentang Civic Education di Tawang Mangu Solo. Menurut Winataputra (2001) IPS sebagai mata pelajaran pertama kali masuk dalam dunia persekolahan di uji cobakan pada tahun 1972-1973 dalam kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. IPS belum masuk dalam kurikulum nasional, di jenjang SD, SMP, maupun SMA. IPS sebagai mata pelajaran baru masuk dalam kurikulum 1975 diberikan untuk jenjang SD, SMP, dan SMA menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan karakteristik. Selanjutnya pengajaran IPS pada kurikulum 1984 di sekolah khususnya pada jenjang sekolah menengah diuraikan berdasarkan disiplin ilmu sosial untuk masingmasing mata pelajaran atau ada pembahasan tersendiri secara terpisah. Lalu mata pelajaran IPS di kurikulum 1994 mengalami perubahan. Hal ini terjadi setelah diberlakunya undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dan pada akhirnya era abad 21 yang ditandai adanya perubahan mendasar dalam setiap lini kehidupan termasuk perubahan dalam bidang politik, hukum, dan ekonomi telah menimbulkan perubahan yang sangat signifikan dalam Sistem Pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2003 disahkan Undang- undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang tersebut menimbulkan dampak yang signifikan terhadap perubahan sistem kurikulum Indonesia. Implikasi adanya Undang-undang no 20 tahun 2003 adalah lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Musyarofah., dkk. 2021. Konsep Dasar IPS. Depok: Komojoyo Press

PKDIPS2025 -> Diskusi

by Indri Mutiara -
Izin memperkenalkan diri
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Izin menjawab, pendidik IPS di masa depan seharusnya dipersiapkan sebagai "agen perubahan sosial" yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kehidupan nyata, mengajarkan siswa berpikir kritis, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan abad 21 (4C: critical thinking, creativity, collaboration, communication). Guru IPS tidak hanya dituntut menguasai substansi keilmuan yang mencakup sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, politik, dan antropologi, tetapi juga harus mampu mengintegrasikan konsep-konsep tersebut dengan fenomena sosial yang aktual baik di tingkat lokal maupun global. Selain itu, kompetensi pedagogik yang inovatif juga menjadi kunci, di mana pendidik perlu menguasai strategi pembelajaran berbasis inquiry, project-based learning, dan pemanfaatan teknologi digital agar pembelajaran lebih kontekstual serta relevan dengan kebutuhan peserta didik yang hidup di era digital. Guru IPS juga harus memiliki literasi digital yang memadai, seperti pemanfaatan big data, peta digital, media interaktif, dan platform kolaboratif yang mampu membuka ruang belajar lebih luas dan menarik.

Tidak kalah penting, pendidik IPS dituntut memiliki kepekaan sosial dan sikap multikultural, karena keberagaman masyarakat Indonesia membutuhkan guru yang mampu menumbuhkan toleransi, empati, dan semangat demokratis dalam diri peserta didik. Isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, green economy, pembangunan berkelanjutan, globalisasi, migrasi, urbanisasi, hingga etika digital harus terintegrasi dalam pembelajaran sehingga siswa dapat memahami realitas dunia dan siap berperan sebagai warga global. Profesionalisme guru IPS juga harus didukung dengan pengembangan diri berkelanjutan melalui pelatihan, penelitian, publikasi ilmiah, maupun kolaborasi dengan komunitas akademik.

DMP2025 -> Brainstorming

by Indri Mutiara -
Izin memperkenalkan diri
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Izin menjawab mengenai teori-teori belajar yang mendasari model dan pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, terdapat beberapa teori yang menjadi dasar, yaitu teori behavioristik, kognitif, konstruktivistik, dan humanistik.
1. Teori behavioristik memandang bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang dapat diamati sebagai hasil dari stimulus eksternal. Dalam pendekatan ini, pembelajaran difokuskan pada latihan berulang, penguatan (reinforcement), dan tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur. Model seperti drill and practice sering digunakan, terutama dalam pembelajaran yang menekankan hafalan.
2. Teori kognitif menekankan bahwa belajar adalah proses mental yang aktif, di mana individu mengolah, menyimpan, dan mengambil informasi. Dalam praktiknya, desain pembelajaran berbasis teori ini menekankan pentingnya struktur materi, penggunaan strategi berpikir, dan bantuan visual seperti peta konsep untuk membantu pemahaman siswa.
3. Teori konstruktivistik melihat belajar sebagai proses aktif dalam membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman dan interaksi sosial. Dalam pendekatan ini, guru berperan sebagai fasilitator, dan pembelajaran bersifat kontekstual serta kolaboratif. Model seperti Problem-Based Learning dan Collaborative Learning merupakan contoh penerapan dari teori ini.
4. Teori humanistik menekankan bahwa proses belajar harus mencakup pengembangan potensi manusia secara utuh, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas tekanan sangat ditekankan dalam teori ini, dengan guru berperan sebagai pembimbing yang mendukung pertumbuhan pribadi siswa. Pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered learning) dan kegiatan reflektif merupakan bentuk penerapannya.