NAMA:SANDHIKA NANDHA PRASETYA
NPM:2405101011
Tanggapan terhadap artikel ini dapat dilihat dari beberapa sudut pandang: kesehatan, politik, dan kebebasan berekspresi.
1. Dari Sisi Kesehatan:
Demonstrasi besar di tengah pandemi memang meningkatkan risiko penularan Covid-19, sebagaimana yang disampaikan oleh pakar epidemiologi. Kerumunan massa tanpa jaga jarak dan protokol kesehatan yang kurang ketat akan mempercepat penyebaran virus. Namun, perlu dicatat bahwa penularan tidak hanya terjadi dalam aksi demo, tetapi juga dalam berbagai aktivitas lain seperti kampanye politik dan pertemuan besar lainnya. Sehingga, pemerintah semestinya konsisten dalam kebijakan pembatasan kegiatan massal, bukan hanya menyoroti demonstrasi mahasiswa.
2. Dari Sisi Politik dan Demokrasi:
Aspirasi masyarakat, termasuk mahasiswa, dalam menolak UU Cipta Kerja adalah bagian dari hak demokratis. Walaupun pemerintah mengimbau agar mahasiswa tidak turun ke jalan, imbauan ini tidak bisa dijadikan alat pembungkaman suara kritis. Jika ada kekhawatiran terkait penyebaran Covid-19, seharusnya pemerintah menciptakan ruang dialog yang lebih terbuka agar mahasiswa dapat menyampaikan kritik dan solusi secara aman tanpa harus turun ke jalan.
3. Dari Sisi Akademik:
Pernyataan Nizam yang menyarankan mahasiswa melakukan kajian akademis terhadap UU Cipta Kerja daripada turun ke jalan sebenarnya masuk akal. Namun, realitasnya, kajian akademis sering kali tidak cukup mendapat perhatian pemerintah jika tidak disertai dengan tekanan publik. Demonstrasi adalah salah satu cara efektif untuk menyuarakan ketidakpuasan, terutama jika jalur akademik dan diplomasi tidak cukup didengar.
Kesimpulan dan Pendapat
Demonstrasi di masa pandemi memang berisiko, tetapi menyalahkan mahasiswa saja tidak cukup adil. Pemerintah juga bertanggung jawab atas kondisi yang memicu unjuk rasa. Jika ada keterbukaan dalam pembahasan UU Cipta Kerja sejak awal, mungkin demonstrasi besar tidak akan terjadi. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk mencari keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan keselamatan publik dengan menyediakan ruang diskusi yang inklusif serta kebijakan yang tidak memicu keresahan di tengah situasi krisis seperti pandemi.
NPM:2405101011
Tanggapan terhadap artikel ini dapat dilihat dari beberapa sudut pandang: kesehatan, politik, dan kebebasan berekspresi.
1. Dari Sisi Kesehatan:
Demonstrasi besar di tengah pandemi memang meningkatkan risiko penularan Covid-19, sebagaimana yang disampaikan oleh pakar epidemiologi. Kerumunan massa tanpa jaga jarak dan protokol kesehatan yang kurang ketat akan mempercepat penyebaran virus. Namun, perlu dicatat bahwa penularan tidak hanya terjadi dalam aksi demo, tetapi juga dalam berbagai aktivitas lain seperti kampanye politik dan pertemuan besar lainnya. Sehingga, pemerintah semestinya konsisten dalam kebijakan pembatasan kegiatan massal, bukan hanya menyoroti demonstrasi mahasiswa.
2. Dari Sisi Politik dan Demokrasi:
Aspirasi masyarakat, termasuk mahasiswa, dalam menolak UU Cipta Kerja adalah bagian dari hak demokratis. Walaupun pemerintah mengimbau agar mahasiswa tidak turun ke jalan, imbauan ini tidak bisa dijadikan alat pembungkaman suara kritis. Jika ada kekhawatiran terkait penyebaran Covid-19, seharusnya pemerintah menciptakan ruang dialog yang lebih terbuka agar mahasiswa dapat menyampaikan kritik dan solusi secara aman tanpa harus turun ke jalan.
3. Dari Sisi Akademik:
Pernyataan Nizam yang menyarankan mahasiswa melakukan kajian akademis terhadap UU Cipta Kerja daripada turun ke jalan sebenarnya masuk akal. Namun, realitasnya, kajian akademis sering kali tidak cukup mendapat perhatian pemerintah jika tidak disertai dengan tekanan publik. Demonstrasi adalah salah satu cara efektif untuk menyuarakan ketidakpuasan, terutama jika jalur akademik dan diplomasi tidak cukup didengar.
Kesimpulan dan Pendapat
Demonstrasi di masa pandemi memang berisiko, tetapi menyalahkan mahasiswa saja tidak cukup adil. Pemerintah juga bertanggung jawab atas kondisi yang memicu unjuk rasa. Jika ada keterbukaan dalam pembahasan UU Cipta Kerja sejak awal, mungkin demonstrasi besar tidak akan terjadi. Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk mencari keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan keselamatan publik dengan menyediakan ruang diskusi yang inklusif serta kebijakan yang tidak memicu keresahan di tengah situasi krisis seperti pandemi.