Kiriman dibuat oleh Afita Nurmala Sari

AKM C2025 -> CASE STUDY

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm :2453031006


1. - Saham Dividen menawarkan rata-rata return sekitar 11% per tahun, yang merupakan return tertinggi dibanding instrumen lainnya. Namun risikonya juga paling tinggi karena harga saham sangat dipengaruhi kondisi pasar, ekonomi makro, dan sentimen investor. Keunggulannya adalah likuiditas yang sangat tinggi sehingga mudah diperjualbelikan, dan perusahaan konsumer serta perbankan cenderung membagikan dividen rutin. Kelemahannya adalah volatilitas yang besar, sehingga nilainya dapat turun tajam dalam masa krisis. Untuk dana pensiun, saham cocok sebagai pendorong pertumbuhan jangka panjang, tetapi tidak boleh menjadi instrumen utama.

- Obligasi Pemerintah (ORI/SBN) memberikan kupon tetap sekitar 6,5% per tahun. Instrumen ini memiliki risiko sangat rendah karena dijamin pemerintah dan memberikan arus kas stabil. Likuiditasnya cukup baik, meskipun harga dapat naik atau turun mengikuti perubahan suku bunga pasar. Instrumen ini sangat cocok untuk dana pensiun karena stabil, aman, dan memberikan cash flow jangka panjang. Kelemahannya adalah potensi kerugian nilai pasar jika suku bunga naik, dan return tidak setinggi saham.

- Deposito Berjangka memberikan bunga sekitar 4,25% per tahun setelah pajak. Risiko sangat kecil karena dijamin oleh lembaga penjamin simpanan hingga batas tertentu. Likuiditasnya rendah karena ada penalti jika dicairkan sebelum jatuh tempo, sehingga kurang fleksibel. Instrumen ini cocok digunakan sebagai dana cadangan atau penyangga likuiditas, tetapi return-nya paling rendah sehingga tidak cocok menjadi bagian utama portofolio.

2. Karena dana pensiun memiliki profil risiko konservatif–moderat, tujuannya adalah menjaga stabilitas sambil tetap mendapatkan pertumbuhan nilai jangka panjang. Oleh karena itu, alokasi portofolio perlu menyeimbangkan instrumen aman dan instrumen bertumbuh.

Alokasi yang direkomendasikan:

- Obligasi Pemerintah (55% atau Rp5,5 miliar)
Instrumen ini diprioritaskan karena paling aman, memberikan kupon tetap, dan cocok untuk kebutuhan pembayaran manfaat dalam jangka 20 tahun. Arus kas dari kupon sangat membantu pendanaan jangka panjang.

- Saham Dividen (30% atau Rp3 miliar)
Proporsi ini cukup untuk memberikan potensi pertumbuhan yang mampu mengimbangi inflasi tanpa membuat portofolio terlalu berisiko. Saham dividen biasanya lebih stabil dibanding saham non-dividen.

- Deposito Berjangka (15% atau Rp1,5 miliar)
Digunakan sebagai cadangan likuiditas untuk kebutuhan manfaat pensiun jangka pendek sehingga tidak perlu menjual saham atau obligasi pada kondisi pasar yang buruk.

3. a. Dampak terhadap portofolio

Jika terjadi krisis ekonomi, misalnya inflasi tinggi dan IHSG turun 20%, maka nilai saham dividen dalam portofolio akan turun cukup signifikan. Dengan porsi 30%, penurunan 20% menghasilkan kerugian sekitar Rp600 juta dari aset saham.

Obligasi pemerintah juga akan terpengaruh jika suku bunga naik. Ketika suku bunga naik, harga obligasi turun. Penurunan nilai pasar obligasi bisa berkisar 3–7% tergantung durasinya. Dengan asumsi penurunan 5%, nilai portofolio obligasi dapat berkurang sekitar Rp275 juta.

Deposito tidak akan terkena dampak langsung dari krisis, sehingga bagian ini tetap aman dan memberikan bunga.

Secara keseluruhan, portofolio dapat mengalami penurunan nilai sekitar Rp875 juta atau sekitar 8–9% dari total dana.

b. Langkah mitigasi risiko

Beberapa strategi mitigasi yang dapat dilakukan manajer investasi antara lain:

1). Melakukan rebalancing ketika saham turun agar alokasi kembali pada proporsi yang direncanakan, sekaligus memanfaatkan harga saham yang lebih murah.
2). Menambah porsi instrumen aman, seperti obligasi atau deposito, hingga kondisi pasar stabil kembali.
3). Diversifikasi lebih luas, misalnya menambah saham sektor defensif seperti telekomunikasi atau kesehatan.
4). Mengatur cash flow sehingga pembayaran manfaat pensiun dapat dipenuhi dari kupon obligasi dan bunga deposito, sehingga tidak perlu menjual saham di saat pasar jatuh.
5). Memperpendek durasi obligasi pada kondisi kenaikan bunga untuk mengurangi risiko penurunan harga.

4. Menurut PSAK 71 dan standar terkait instrumen keuangan:

- Saham Dividen dicatat sebesar nilai wajar saat perolehan. Untuk dana pensiun yang berorientasi jangka panjang, saham biasanya diklasifikasikan sebagai “nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain” (FVOCI). Perubahan nilai wajar dicatat pada komponen ekuitas (OCI), bukan laba rugi. Dividen yang diterima diakui sebagai pendapatan pada laporan laba rugi.

- Obligasi Pemerintah dapat diakui sebagai aset keuangan pada biaya perolehan diamortisasi (amortised cost) jika dimaksudkan untuk ditahan hingga jatuh tempo. Jika obligasi bisa dijual sebelum jatuh tempo, maka diklasifikasikan sebagai FVOCI. Pendapatan kupon diakui sebagai pendapatan bunga menggunakan metode suku bunga efektif. Jika FVOCI, perubahan nilai wajar dicatat pada OCI.

- Deposito Berjangka dicatat pada biaya perolehan diamortisasi. Pendapatan bunga diakui secara akrual menggunakan suku bunga efektif. Tidak ada penyesuaian nilai wajar karena deposito ditahan hingga jatuh tempo.

Dalam pelaporan, dana pensiun harus mengungkapkan komposisi portofolio, risiko pasar, risiko kredit, metode pengukuran nilai wajar, dan kebijakan manajemen risiko berdasarkan PSAK 1 dan PSAK 24.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006

Perbedaan utama antara aset tetap (berdasarkan PSAK 16) dan properti investasi (berdasarkan PSAK 13) terletak pada tujuan kepemilikannya; aset tetap adalah aset berwujud yang digunakan secara aktif oleh entitas untuk tujuan operasional seperti produksi, penyediaan jasa, atau administrasi, dan wajib disusutkan (didepresiasi) karena digunakan dalam menghasilkan pendapatan. Sebaliknya, properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan) yang dimiliki untuk tujuan menghasilkan pendapatan sewa atau apresiasi modal (kenaikan nilai), dan bukan untuk digunakan sendiri dalam operasi inti. Perbedaan krusial lainnya adalah dalam pengukuran setelah perolehan: aset tetap menggunakan Model Biaya atau Revaluasi, sedangkan properti investasi dapat memilih Model Nilai Wajar, di mana setiap perubahan nilai diakui langsung dalam laba rugi, mencerminkan tujuan investasi pasifnya.

Saya akan memilih untuk membeli aset tetap. Ini didasarkan pada asumsi bahwa fokus utama entitas adalah pertumbuhan operasional inti dan efisiensi produksi, yang sangat relevan bagi perusahaan agribisnis seperti PT Sumber Hijau. Investasi pada aset tetap (misalnya, mesin baru atau infrastruktur pabrik) secara langsung meningkatkan kapasitas produksi dan menciptakan nilai guna yang selaras dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), menjadikannya pendorong utama pendapatan. Sementara properti investasi hanya bersifat pasif dan bergantung pada pergerakan pasar properti, aset tetap memberikan kontrol operasional penuh dan kontribusi yang terukur pada rantai nilai perusahaan, sesuai dengan prinsip PSAK 16 dan fundamental bisnis.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006

Pencatatan, Penilaian, dan Penyajian Aset Tak Berwujud dalam Laporan Keuangan

Aset tak berwujud merupakan aset nonfisik yang memberikan manfaat ekonomi di masa depan bagi perusahaan. Menurut PSAK 19 (Revisi 2010), aset tak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi, tidak mempunyai bentuk fisik, dan dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif. Contohnya meliputi hak paten, merek dagang, lisensi, hak cipta, perangkat lunak (software), dan goodwill.

1. Pencatatan
Aset tak berwujud diakui dalam laporan keuangan jika dua kriteria utama terpenuhi:
1. Kemungkinan besar manfaat ekonomis masa depan akan mengalir ke entitas, dan
2. Biayanya dapat diukur secara andal.

Apabila aset tak berwujud diperoleh melalui pembelian, maka dicatat sebesar biaya perolehan, termasuk harga beli dan biaya lain yang langsung dapat diatribusikan. Namun jika diperoleh secara internal, misalnya dari hasil penelitian dan pengembangan, maka hanya biaya pengembangan (development) yang boleh diakui sebagai aset, sedangkan biaya penelitian (research) harus dibebankan langsung sebagai beban pada periode terjadinya.

2. Penilaian
Setelah diakui, aset tak berwujud dapat diukur dengan dua pendekatan:
• Model biaya (cost model): aset dicatat sebesar harga perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan penurunan nilai (impairment).
• Model revaluasi (revaluation model): aset dinilai kembali berdasarkan nilai wajar pada tanggal revaluasi, dikurangi akumulasi amortisasi dan penurunan nilai sesudah revaluasi.
Namun, model revaluasi hanya dapat digunakan jika terdapat pasar aktif untuk aset tak berwujud tersebut, yang dalam praktiknya jarang terjadi.

3. Penyajian dalam Laporan Keuangan
Dalam laporan posisi keuangan (neraca), aset tak berwujud disajikan pada bagian aset tidak lancar, setelah aset tetap. Nilainya ditampilkan sebesar nilai tercatat (carrying amount) setelah amortisasi dan penurunan nilai.
Selain itu, dalam catatan atas laporan keuangan (CALK), perusahaan wajib mengungkapkan:
• Jenis aset tak berwujud yang dimiliki,
• Metode amortisasi dan umur manfaatnya,
• Nilai tercatat awal dan akhir periode,
• Penurunan nilai yang diakui (jika ada).

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 2

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006

Dalam sistem akuntansi persediaan, metode FIFO (First In, First Out) dan LIFO (Last In, First Out) memiliki pengaruh yang berbeda terhadap besarnya laba bersih, terutama ketika terjadi perubahan harga barang. Pada saat harga-harga meningkat, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan metode FIFO. Hal ini terjadi karena LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli — dengan harga yang lebih tinggi — dijual terlebih dahulu. Akibatnya, harga pokok penjualan (HPP) menjadi lebih besar, sehingga laba bersih perusahaan berkurang.
Sebaliknya, metode FIFO mengasumsikan bahwa barang yang dibeli lebih dulu — dengan harga yang lebih rendah — dijual terlebih dahulu. Karena HPP lebih kecil, laba bersih yang dihasilkan menjadi lebih besar. Dengan demikian, saat periode inflasi atau kenaikan harga, metode FIFO akan memberikan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan LIFO.

Namun, kondisi ini akan berbalik ketika harga menurun. Dalam periode penurunan harga, LIFO menggunakan harga perolehan terbaru yang lebih rendah untuk menghitung HPP, sehingga laba bersih yang dihasilkan menjadi lebih tinggi dibandingkan FIFO. Sebaliknya, FIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena masih menggunakan harga lama yang lebih mahal.
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa metode LIFO menghasilkan laba bersih lebih rendah saat harga meningkat dan lebih tinggi saat harga menurun, sedangkan FIFO menunjukkan pola yang berlawanan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pilihan metode penilaian persediaan dapat memengaruhi laporan laba perusahaan secara signifikan tergantung pada kondisi perubahan harga pasar.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 1

oleh Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006

Perbandingan antara FIFO (First-in, First Out) dan rata rata tertimbang (weighted everage)
Pada FIFO , kenapa FIFO sering digunakan dibandingkan metode identifikasi khusus bagi tujuan penilaian persedian karena, arus biaya mirip arus fisik dimana sering mencerminkan arus fisik aktual yang meningkatkan relevansi biaya. Kemudian penilaian aktiva relevan dimana persediaan akhir dinilai berdasarkan biaya terbaru yang cenderung mendekati nilai pasar saat ini, menjadikannya lebih relevan untuk tujjuan penilaian asset yaitu asset di neraca. Kemudian dampak pada laba dan penilaian aktiva asset, laba saat infasi menghasilkan HPP yang lebih rendah dan laba kotor yang lebih tinggi. Ini menciptakan masalah karena laba yang dilaporkan mungkin tidak didasarkkan pada biaya penggantian saat ini, mengurangi kualitas pendapatan. Aktiva pada persediaan akhir menghasilkan nilai persedian akhir yang tinggi dan lebih mendekati nilai sekarang, sehingga lebih relevan untuk tujuan penilaian asset.

Rata rata tertimbang atau weighted average pada kelayakannya bisa dibilang layak karena memberikan pandangan yang lebih konservatif dan stabil terhadap biaya. Metode ini beraamsumsi bahwa semua persediaan, baik yang terjual maupun yang tersisa, memiliki biaya yang sama. Cocok untuk barang homogen di mana sulit atau tidak praktis untuk membedakan satu batch pambelian dengan batch lainnya. Kemudiaan pada aktiva persediaan akhir, nilai persediaan akhir mencerminkan biaya rata rata yang kurang relevan dibandingkan dengan FIFO karena tidak mencerminkan biaya perolehan terbaru, tetapi lebih stabil dan kurang dipengaruhi oleh fluktuassi pembelian sesaat.

Dan kesimpulannya kenapa FIFO dan rata rata tertimbang sering dipakai, karena kedua metode ini memiliki kepraktisan dan efisiensi, identifikasi khusus membutuhkan pelacakan biaya yang sangat detail untuk setiap unit, yang tidak praktis untuk perusahaan dengan volume transaksi tinggi atau barang yang homogen. Keterbatasan identifikasi khusus, identifikasi khusus hanya dapat diterapkan pada barang barang yang unik, bernilai tinggi, atau tidak dapat dipertukarkan, misalnya perhiaasan, karya seni, proyek besar. Sementara itu, Sebagian besar perusahaan menjual barang standar yang dapat dipertukarkan. Kemudian terdapat keterandalan biaya, meskipun identifikasi khusus paling akurat, ia rentan terhadap menipulasi laba karena manajemen dapat memilih unit mana yang akan dijual dan fifo serta rata rrata tertimbang lebih sulit dimmanipulasi setelah sumsi arus biaya ditetapkan. Oleh karena itulah metode FIFO dan rata rata tertimbang (weighted avarge) sering digunakan.